Forum Diskusi

February 14th, 2013 Leave a comment Go to comments

Halaman ini saya buat bagi anda yang mau menanyakan sesuatu namun tidak menemukan artikel yang berkaitan. Namanya juga forum diskusi. Jadi, jika ada rekan pembaca lain yang mau memberikan jawaban atau sharing atas pertanyaan juga bisa di bagian ini.

  1. March 4th, 2017 at 00:42 | #1

    Dear pak Rudi.

    Saya menyukai tulisan tulisan bapak selama ini, dan saya memiliki beberapa rencana investasi, saat ini saya sudah berinvestasi dalam bentuk rumah dari rumah saya mendapat sewa
    rp 30jt/thn, dan sebuah apartemen disewakan Rp 40 jt/thn, saya memiliki ORi senilai Rp 755 jt imbal hasil senilai Rp 44 jt/th ,usia saya 40 thn Ada rencana pensiun 10 tahun lagi saya ingin 10 tahun lagi ingin mendapatkan uang pensiun kurang lebih 25 jt/perbln dan saat ini saya masih bekerja dari gaji Setelah di potong biaya hidup saya masih bisa menabung senilai rp 130 jt/pertahun minim, saat ini tanggungan saya hanyalah hutang apartemen senilai Rp 94 jt di bank Niaga dimana perbulan angsuran saya Rp 1,335.000′-selama 9 thn lagi sampai saat ini saya tidak lunasi karena sertifikat belum jadi dari developer, saya lagi berpikir untuk pendapatan saya dari ORi,rumah ,sewa apartemen dan gaji setiap tahunnya ingin saya investasikan ke reksadana dan beli saham, kira kira reksadana apa yang cocok dan juga investasi saham yang cocok, atau adakah saran lain dari bapak untuk mencapai target 25 jt/perbln atau bahkan mungkin lebih untuk pensiun saya 10 tahun kedepan, terima kasih sebel├║mnya

  2. Rudiyanto
    March 5th, 2017 at 22:46 | #2

    @Santi
    Selamat malam ibu Santi,

    Terima atas apresiasinya terhadap blog ini.

    Melihat dari kondisi keuangan anda, sebetulnya bisa dikatakan sangat bagus. Dari pendapatan ORI, sewa Rumah dan Apartemen anda mendapatkan passive income Rp 114 juta setahun. Namun harus diingat, bahwa yang namanya pendapatan sewa merupakan objek pajak Pph final dengan tarif 10%.

    Jadi dari Rp 70 juta penghasilan sewa yang anda terima, sebagai warga negara yang baik anda perlu melaporkannya sebagai penghasilan dan terkena pajak Rp 7 juta.

    Dengan asumsi anda bayar pajak, maka total pendapatan tahunan anda yang bisa diinvestasikan adalah Rp 107 juta + Rp 130 juta = Rp 237 juta. Angka yang sangat besar menurut saya bahkan untuk ukuran kota besar di Indonesia.

    Sampai disini saya bisa ucapkan selamat karena selain pengelolaan keuangan yang bagus, anda pasti juga seorang high achiever karena memiliki penghasilan yang sangat bagus dari tempat anda bekerja saat ini.

    Untuk memaksimalkan uang yang pendapatan yang sudah, untuk porsi dana yang ada di ORI, apabila sudah jatuh tempo, bisa dipertimbangkan untuk ditempatkan di Panin Dana Likuid. Sebagai informasi, memang tingkat returnnya bervariasi. Dengan asumsi dana yang sama yaitu Rp 755 juta, kurang lebih bisa mendapatkan :
    Tahun 2013 – 5.50% : Rp 41.52 juta
    Tahun 2014 – 5.72% : Rp 43.16 juta
    Tahun 2015 – 6.57% : Rp 49.60 juta
    Tahun 2016 – 6.24% : Rp 47.12 juta

    Untuk perkiraan ke depan, seharusnya akan berkisar antara 5.5% – 6% dalam jangka panjang meskipun tidak ada jaminan kepastian. Dalam angka, kurang lebih setara dengan Rp 41.52 juta – Rp 45.3 juta.

    Risiko untuk reksa dana pasar uang dalam hal ini Panin Dana Likuid sangat kecil walaupun tetap ada. Kelebihannya bisa dicairkan kapan saja dan sangat mudah jika mau dialihkan ke reksa dana jenis lain. Selain itu secara perpajakan juga mudah karena masuk kategori bukan objek pajak. Untuk ORI memang sudah final tapi tetap harus dilaporkan.

    Untuk perhitungan pensiun anda saya buat secara sederhana.
    Kebutuhan pensiun Rp 25 juta = Rp 300 juta per tahun.
    Dengan inflasi 6% per tahun, maka pada tahun ke 10 setara dengan Rp 537 juta per tahun.
    Dengan asumsi masa pensiun 20 tahun maka Rp 537 juta x 25 = Rp 10.74 M
    Angka ini menjadi kebutuhan pensiun. Mengapa tidak diperhitungkan inflasi lagi?

    Saya asumsikan anda sudah mendapatkan dana pensiun dari kantor dan atau pencairan JHT dari iuran BPJS Ketenagakerjaan yang selama ini sudah ditabung. Dengan demikian, kenaikan biaya hidup setelah pensiun saya anggap dipenuhi dari situ. Referensi : http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/11/17/mempersiapkan-pensiun-via-dplk-atau-reksa-dana-langsung/

    Jika mau detail dengan memperhitungkan inflasi, anda bisa mencoba menggunakanhttp://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/04/21/perencanaan-investasi-dengan-reksa-dana-do-it-yourself/

    Kemudian anda berencana mempersiapkan pensiun dengan pendapatan Rp 237 juta per tahun atau hampir Rp 20 juta per bulan. Tepatnya Rp 19.750.000. Dengan pendekatan paling konservatif, misalkan jumlah dana tersebut diinvestasi ke reksa dana yang paling aman yaitu Panin Dana Likuid dengan asumsi 6% maka setelah 10 tahun kurang lebih akan menjadi Rp 3.2 M

    Kemudian jika tingkat risiko ditingkatkan dengan mengambil risiko yang lebih agresif mulai dari pendapatan tetap, campuran dan saham adalah sebagai berikut :
    RD Pendapatan Tetap asumsi 8% = Rp 3.6 M
    RD Campuran asumsi 12% = Rp 4.58 M
    RD Saham asumsi 17% = Rp 6.2 M

    Angka ini ternyata masih belum cukup bagi anda untuk pensiun 10 tahun mendatang karena dengan saham sekalipun, itu hanya sekitar 60% dari kebutuhan pensiun yang sebesar Rp 10.74 M
    Dengan asumsi 17%, diperlukan investasi sekitar 36-37 juta per bulan.

    Mengapa bisa demikian?
    Hal ini disebabkan karena pensiunnya mau 10 tahun lagi, sementara untuk masa pensiun saya asumsikan 20 tahun (usia harapan hidup hingga 70). Jadi ibaratnya menabung 10 tahun untuk dipakai 20 tahun memang berat.

    Ada beberapa alternatif yang bisa saya sarankan :
    1. Lifestyle diturunkan jadi 15 juta per bulan. Dengan skenario ini, harusnya total kebutuhan akan berkisar antara 6.4 M sehingga dengan investasi reksa dana saham cukup
    2. Pensiunnya dimundurkan 5 tahun. Karena usia pensiun pada umumnya adalah 55 atau 56 tahun. Dengan demikian, masa persiapannya 15 tahun dan kebutuhan pensiunnya juga 15 tahun. Dengan skenario ini, nilai kebutuhan pensiun akan menjadi Rp 10.78 M
    Sementara hasil dari berinvestasi Rp 19.750.000 per bulan akan menghasilkan :
    RD Pasar Uang = Rp 5.7 M
    RD Pendapatan Tetap = Rp 6.9 M
    RD Campuran = Rp 9.9 M
    RD Saham = Rp 16.37 M

    Dengan memundurkan waktu pensiun anda bisa berinvestasi pada reksa dana campuran. Atau mengambil risiko dengan berinvestasi di reksa dana saham, tapi tidak sampai 15 tahun. Mungkin sekitar 10 tahun sudah bisa.

    Namun tentu saja, yang namanya investasi tidak ada kepastian. Asumsi 17% yang dipergunakan di atas juga bukan merupakan jaminan bisa dicapai oleh reksa dana. Pada tahun-tahun yang bagus, angka ini bisa dicapai atau dilewati dengan mudah, tapi pada tahun yang kurang bagus, bukan hanya tidak tercapai tapi bisa juga rugi.

    Jadi bisa didiversikasikan antara reksa dana saham dengan campuran, atau jika mau cari aman, bisa juga dengan reksa dana campuran. Atau bisa juga kombinasi antara reksa dana saham dengan pendapatan tetap atau pasar uang.

    Untuk detailnya, memang perlu didiskusikan dengan perencana keuangan atau tenaga marketing yang bisa membantu melakukan perencanaan keuangan.

    Demikian tanggapan dari saya, semoga bermanfaat

  3. Echa Kartika
    April 19th, 2017 at 16:25 | #3

    selamat sore pak Rudiyanto… saya mahasiswa tingkat akhir dan kebetulan mendapatkan dosbing yang sangat detail, saya harus mencantumkan sumber utama pada skripsi saya, apakah bapak mengetahui tentang link-link atau aplikasi untuk membaca dan mendapatkan buku online tentang, akuntansi, audit dan PSAK lengka di seluruh dunia kalau bisa??? soalny untuk ke perpustakaan saya sedikit putus asa karena selalu tidak ada. saya sudah mencari lewat internet tapi tetap tidak ada…hanya toko online… yang saya butuhkan seperti perpustakaan online ..berbayar keanggotaanpun tdk apa-apa yg pntg sy bisa membaca online semua buku yang saya butuhkan. terima kasih, mohon bantuannya pak.

  4. Rudiyanto
    April 25th, 2017 at 00:57 | #4

    @Echa Kartika
    Selamat malam Ibu Echa,

    Mohon maaf sekali saya tidak ahli tentang topik yang anda tanyakan maupun dasar teorinya yang terkait. Rasanya kalau mau mencari secara online, apalagi acuan buku online seperti rasanya pasti ada. Mungkin mencarinya bisa lebih maksimal lagi.

    Semoga bermanfaat dan sukses dengan tugas akhirnya.

  5. Novi
    May 19th, 2017 at 21:59 | #5

    Selamat malam pak, kalau saya ingin menanyakan soal strategi pemasaran produk reksadana syariah di panin-am kepada bapak, apakah bisa?

  6. Rudiyanto
    May 22nd, 2017 at 02:38 | #6

    @Novi
    Selamat malam Ibu Novi,

    Boleh tahu, pertanyaan ini dalam kapasitas sebagai apa dan tujuannya untuk apa?

  7. annisa
    June 5th, 2017 at 17:57 | #7

    Selamat sore pak, saya ingin bertanya. Apa saja kelemahan dari Metode M-square dan informantion ratio? Terimakasih, pak

  8. Rudiyanto
    June 9th, 2017 at 18:22 | #8

    @annisa
    Selamat sore Ibu Annisa,

    Pertanyaan tersebut bisa ditanyakan dengan dosen pembimbing atau membaca buku teorinya.

    Terima kasih

  9. Benny
    August 5th, 2017 at 19:36 | #9

    Halo, pak Rudi.
    Terima kasih atas artikel-artikel yang bapak tuliskan di blog ini.
    Dari beberapa buku investasi yang telah saya baca, return reksadana saham selalu lebih rendah dari indeks.
    Dan juga dari artikel “Apakah Ada Reksa Dana Saham Yang (Konsisten) Mengalahkan IHSG?”, disimpulkan bahwa tidak ada reksadana saham yang secara konsisten dapat mengalahkan IHSG.

    Sya ingin tanya, kenapa di Indonesia belum ada reksadana indeks yang mengikuti IHSG?
    Sejauh ini yang saya dapatkan hanya reksadana indeks yang mengikuti LQ45, idx30, SMInfra18.
    Dan rata-rata reksadana indeks mematok management fee sebesar 1,5%-3% (hampir sama dengan reksadana saham).

    Apakah lebih baik jika saya langsung invest saham mengikuti indeks daripada invest di reksadana indeks?

    Terima kasih sebelumnya.

  10. Rudiyanto
    August 7th, 2017 at 19:30 | #10

    @Benny
    Salam Pak Benny,

    Tampaknya anda sudah melakukan riset yang mendalam sebelum menulis komentar di atas. Salut untuk anda.

    Terkait kinerja reksa dana saham yang kalah dibandingkan indeks, memang harus diakui bahwa untuk tahun 2016 dan 2017 ini sangat benar. Secara persentase, yang mengalahkan IHSG mungkin tidak sampai 10% dari jumlah yang beredar. Namun dalam perspektif jangka panjang, tidak selalu demikian. Bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/04/13/seberapa-sulitkah-mencari-reksa-dana-saham-yang-mengalahkan-ihsg-di-indonesia/

    Kalau perihal di Indonesia tidak ada reksa dana indeks IHSG hal ini karena reksa dana indeks mewajibkan untuk membeli minimal 80% anggota IHSG. Kalau IHSG sendiri sudah ada lebih dari 550 saham. Berarti reksa dana harus beli minimal 440 saham.

    Secara praktek memang dimungkinkan tapi yang terjadi adalah saham yang likuid di Indonesia paling sekitar 100an. Jika dipaksakan membeli hingga 440 saham, maka kemungkinan besar reksa dana akan “nyangkut” pada saham yang tidak likuid.

    Hal inilah yang membuat reksa dana mengikuti indeks yang anggotanya lebih sedikit. Kalau perihal management fee, memang boleh anda jadikan sebagai salah satu pertimbangan, namun mungkin bisa melihat kinerjanya juga.

    Sepanjang kinerja reksa dana masih sesuai dengan indeks acuannya, mungkin management fee bisa dijadikan sebagai pertimbangan kedua.

    Terkait dengan mengelola sendiri secara langsung atau beli reksa dana indeks, itu soal preferensi. Hanya saja perlu saya ingatkan bahwa dalam pengelolaan saham langsung, tidak ada jasa bank kustodian yang menghitung “NAB” anda. Jadi apakah jika dikelola langsung hasilnya sama dengan indeks atau bukan, itu bukan perkara mudah apalagi didalamnya ada arus uang keluar masuk. Kalau cuma taroh sekali dan invest masih bisa dihitung. Tapi ketika ada penarikan atau penambahan uang, perhitungannya sudah cukup sulit.

    Semoga sharing ini bermanfaat dan semoga sukses dengan eksperimentnya.

    Terima kasih

  11. Benny
    August 11th, 2017 at 14:38 | #11

    @Rudiyanto
    Terima kasih atas penjelasannya, Pak Rudi.

    Baru tau bahwa untuk membuat indeks IHSG harus mempunyai 80% dari total saham tercatat.
    Dimana saham indonesia masih banyak saham tidur dan saham gorengan.

    Saya akan jadikan kinerja sebagai bahan pertimbangan juga dalam pemilihan reksadana.
    Memang benar untuk mengelola sendiri tidak mudah, banyak yang perlu dilakukan sebelum menginventasikan uang. Bagi orang awam, mungkin kelola sendiri bukan solusi yang tepat.

    Ada 1 pertanyaan baru,
    Apakah ETF lebih baik daripada reksadana indeks yang mempunyai acuan yang sama ?
    Dari hasil yang saya dapat, ETF lebih mendekati ke indeks acuan daripada Reksadana Indeks. Dan ETF mempunyai Management fee yang rendah, hanya saja terdapat resiko pada spread pembelian saham ETF.

    Dan hingga hari ini ETF ada sekitar 10. Apakah kedepannya ETF di Indonesia akan semakin berkembang?

  12. Rudiyanto
    August 15th, 2017 at 14:50 | #12

    @Benny
    Siang pak Benny,

    ETF adalah reksa dana indeks, tapi ditambah fitur bisa ditransaksikan di bursa layaknya saham. Jadinya dia ada 2 NAB, 1 NAB harian yang dipublikasikan pada hari kerja berikutnya dan NAB live yang merupakan hasil transaksi antara pembeli dan penjual di pasar.

    Kalau ETF LQ-45 dan Reksa Dana Indeks LQ-45, ya acuannya sama yaitu LQ-45.

    Perihal management fee rendah atau tidak itu masih perlu diteliti lagi. Risikonya tidak hanya spread tapi juga transaksi di pasar sekunder yang tidak likuid. Jumlahnya juga sudah lebih dari 10, bisa di cek di Infovesta

    Perihal akan berkembang atau tidak, mari kita sama-sama lihat.

    Semoga bermanfaat

  13. Benny
    August 17th, 2017 at 10:33 | #13

    @Rudiyanto
    Terima kasih atas jawabannya, pak.
    Masih banyak hal yang perlu saya ketahui mengenai keuangan dan investasi.
    Dan artikel yang bapak tulis sangat bermanfaat.

    Terima kasih lagi.

  14. Abigael
    August 17th, 2017 at 11:38 | #14

    Dear Pak Rudi,

    Saya merupakan salah satu pembaca setia blog Bapak. Saya sangat berterimakasih dan mengapresiasi kebaikan Bapak dalam membantu mengedukasi masyarakat (termasuk saya) tentang investasi dan keuangan. Berkat salah satunya, blog Bapak, saya kini mulai “melek” investasi dan telah mulai pula berinvestasi reksadana di Panin. Ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan, Pak:

    1. Menurut Bapak, apakah setiap produk reksadana perlu membatasi jumlah aset yang dikelolanya? Baru-baru ini saya membaca buku The Intelligent Investor oleh Benjamin Graham, dan ada salah satu bagian commentary-nya yang memperingatkan tentang bahaya aset kelolaan di reksadana yang terlalu besar yang dikhawatirkan dapat menimbulkan “asset elephantiasis”.

    2. Kira-kira juga menurut hemat Bapak, berapa banyak aset kelolaan yang dapat dikategorikan sebagai terlalu besar?

    3. Apakah dari Panin sendiri mungkin ada kebijakan kelak untuk membatasi aset kelolaan (sejauh ini (mohon dikoreksi) saya baru melihat Panin Beta One yang secara gamblang dalam Fund Fact Sheet membatasi jumlah UP hingga 10 miliar unit, apakah ini berarti salah satu cara untuk membatasi jumlah dana kelolaan)?

    Terima kasih sebelumnya atas bantuan Bapak.

  15. Anas
    August 18th, 2017 at 19:32 | #15

    Selamat malam Pak Rudiyanto. Maaf, saya ingin bertanya tentang investasi mata uang virtual (digital) yang 3 tahun ini gencar. Setahu saya BI belum mengakuinya sebagai alat tukar dan OJK belum memberi legalitas.

    Namun dunia maya harus diakui sudah merasuk pada setiap orang tanpa melihat usia, jenis kelamin, tempat maupun waktu asalkan yang bersangkutan memegang gadget atau perangkat yang terkoneksi dengan internet. Termasuk halnya mata uang virtual. Bahkan beberapa produsen terkenal menggunakannya sebagai alat pembayaran.

    Mohon maaf bukan sok pintar, namun jujur saya agak terusik karena menurut saya ini tidak ada aset dasarnya. Di lain pihak, kecepatan dunia digital tak terbendung sehingga yang berbau virtual bisa merasuk ke sendi kehidupan.

    Mohon penjelasan dari Pak Rudiyanto mengenai investasi ini. Lebih konkrit nya, jika Pak Rudiyanto memilih investasi ini karena apa dan demikian sebaliknya. Semoga Pak Rudiyanto paham dengan maksud saya.
    Terimakasih.

  16. Rudiyanto
    August 22nd, 2017 at 11:23 | #16

    @Abigael
    Salam Pak Abigael,

    Terima kasih atas apresiasinya terhadap blog ini dan menjadi investor reksa dana Panin Asset Management. Sehubungan dengan pertanyaan anda :

    1. Secara peraturan, memang jumlah investasi di reksa dana telah dibatasi dengan maksimal unit penyertaan yang bisa ditawarkan. Nilai tersebut dicantumkan dalam prospektus dan ketika telah tercapai, maka Manajer Investasi tidak bisa lagi menawarkan reksa dananya. Namun angka ini bisa diubah melalui perubahan Kontrak Investasi Kolektif.

    Definisi aset terlalu besar memang mungkin benar adanya, tapi yang menjadi pertanyaan, besar itu berapa ? Di negara dengan kapitalisasi pasar saham Rp 100 T, maka reksa dana dengan dana kelolaan Rp 10 T mungkin sudah raksasa karena bisa beli 10% dari seluruh saham yang ada di negara tersebut. Tapi ketika di negara dengan kapitalisasi saham Rp 10.000 T, maka reksa dana dengan dana kelolaan Rp 10 T masih terbilang mini karena hanya bisa beli 1% dari saham yang ada.

    Saat ini, kapitalisasi pasar saham Indonesia adalah sekitar Rp 6450 T (per 22 Agustus 2017). Semakin banyak yang IPO dan harga saham yang naik, maka angka ini akan semakin bertambah besar pula. Sebaliknya jika ada perusahaan yang delisting dan harga saham turun maka nilai ini juga akan turun.

    Sesuai dengan peraturan OJK, reksa dana saham dilarang memiliki suatu perusahaan hingga 5% dari keseluruhan sahamnya. Kemudian dalam praktek, banyak juga saham yang tidak likuid. Untuk itu, menurut saya reksa dana saham yang nilainya kurang dari 0.5% kapitalisasi pasar masih bisa beroperasi dengan normal.

    Angka 0.5% dikalikan market caps adalah sekitar Rp 32 T. Jadi selama 1 reksa dana saham belum mencapai angka Rp 32 T, maka menurut saya masih bisa beroperasi dengan normal walaupun tentu pilihan sahamnya akan lebih sedikit dibandingkan saham dengan dana kelolaan Rp 32 M.

    Saat ini, reksa dana saham dengan dana kelolaan terbesar ada di Schroders yang kalau saya tidak salah sekitar Rp 16 – 17 T. Sisanya masih di bawah angka tersebut. Di Panin Asset Management, per Juli 2017, dana kelolaan dari Panin Dana Maksima yang merupakan reksa dana saham terbesar di Panin AM adalah Rp 3.4 T.

    Jadi bisa dikatakan bahwa “asset elephantiasis” yang disebutkan tersebut mungkin masih belum terjadi di Indonesia. Tidak tahu, kalau 5-10 tahun yang akan datang. Tapi pada saat itu, kapitalisasi pasar seharusnya akan bertambah besar pula.

    2. Sudah saya respon di nomor 1

    3. Pembatasan jumlah dana kelolaan akan disesuaikan dengan kapitalisasi pasar dan ketersediaan instrumen investasi. Sepanjang saham2nya yang investable tersedia, seharusnya tidak ada alasan bagi manajer investasi untuk membatasi dana kelolaannya. Menurut saya kemungkinan besar, hal ini juga berlaku di reksa dana yang lain.

    Semoga bermanfaat

  17. Rudiyanto
    August 22nd, 2017 at 11:38 | #17

    @Anas
    Selamat siang Pak Anas,

    Perkembangan mata uang virtual seperti Etherium dan Bitcoin memang menjadi perhatian. Kalau tidak salah, pernah juga dibahas dalam Tabloid Kontan beberapa saat yang lalu.

    Saya sendiri pernah bertemu dengan penyedia market place (atau tempat transaksi, saya lupa namanya apa) Bitcoin beberapa bulan yang lalu. Ada semacam penjajakan agar reksa dana diupayakan bisa berinvestasi pada instrumen tersebut.

    Secara peraturan reksa dana tidak bisa berinvestasi pada bitcoin karena mesti tercantum dalam peraturan OJK terlebih dahulu.

    Kemudian saya juga banyak bertanya mengenai mekanisme transaksi dan penyimpanan bitcoin ini, apa yang membedakan antara market place bitcoin yang satu dengan market place bitcoin yang lain serta mengapa bisa ada kasus kehilangan bitcoin di Jepang.

    Dari jawaban yang dipaparkan, berdasarkan sudut pandang kacamata orang yang bekerja di dunia keuangan, menurut saya masih ada yang harus diregulasi. Jika di analogikan dengan saham, transaksi bitcoin itu tidak ada KPEI dan KSEI yang menyimpan dan mengatur lalu lintas dana dan aset. Penyimpanan dan pengaturan uang dilakukan di perusahaan penyedia market place.

    Ibarat menyimpan uang di travel sambil menunggu pemberangkatan, uang itu ternyata berpotensi dipakai sama yang punya travel untuk kepentingan pribadi.

    Hal ini tidak terjadi di KPEI dan KSEI karena uang dan barang serta lalu lintasnya sudah ada yang monitor. Tidak terjadi juga di reksa dana karena sudah ada bank kustodian.

    Dan sudah pasti juga tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

    Jadi kalaupun ada yang berminat mencoba karena melihat tingkat keuntungan yang tinggi, ya silakan saja. Namun bagi yang berminat mencoba, sebainya sudah siap mental seperti mau memulai usaha baru atau membeli franchaise. Dimana jika sukses bisa untung besar, tapi jika gagal, yang harus siap modalnya hilang juga.

    Semoga bermanfaat

  18. Dion
    August 23rd, 2017 at 12:15 | #18

    Pak Rudi, dalam beberapa web asuransi, saya menemukan artikel kinerja investasi. Contohnya ada di web sbb:
    http://www.takaful.co.id/kinerja-investasi
    https://www.axa-mandiri.co.id/kinerja-bulanan/

    Setelah saya baca, sepertinya ini adalah produk reksadana untuk investasi dari unit-link asuransi yang mereka tawarkan. Kemudian saya coba mencari salah satu produk reksadana tersebut di website penjual reksadana seperti ipot dan bareksa namun tidak menemukan produk maupun manajer investasi di kedua agen penjual tersebut.

    Pertanyaan saya, apa berarti produk-produk tersebut hanya tersedia dibeli khusus u/ nasabah asuransi unit-link saja? Dengan kata lain, investor umum tidak bisa membeli secara terpisah reksadana tersebut.

    Kemudian muncul lagi pertanyaan lain, apa berarti untuk produk unit-link hanya bisa diinvestasikan di reksadana saja dan produk reksadana tersebut juga merupakan produk yang dikelola sendiri (tidak bisa membeli produk reksadana dari MI yang lain)?

  19. Rudiyanto
    August 25th, 2017 at 17:16 | #19

    @Dion
    Salam pak Dion,

    Produk yang anda berikan referensi itu, disebut dengan Unit Link atau Investment Link.

    Linknya dengan produk asuransi, oleh karena itu memang belinya dengan perusahaan asuransi yang bersangkutan. Setahu saya, hingga saat ini belum bagian investasinya secara langsung karena harus dibeli bersamaan dengan produk asuransinya.

    Unit link tersebut ada yang mengelola sendiri dengan membeli saham obligasi langsung, menempatkan di reksa dana, ataupun kombinasi dari keduanya. Reksa dana yang menjadi tujuan penempatan juga boleh lebih dari 1 manajer investasi.

    Semoga bermanfaat

  20. nyx
    September 4th, 2017 at 23:10 | #20

    Dear Pak Rudi,
    saya baca beberapa buku dan dianjurkan untuk diversifikasi portofolio secara global tidak hanya di 1 Negara saja.. lalu sejak tahun lalu mulai banyak reksadana global sharia yg portofolio asetnya adalah saham2 luar negeri (tapi Panin gak keluarin yah pak hehe), menurut bapak apakah reksadana2 global ini bagus untuk dibeli?

  21. Rudiyanto
    September 5th, 2017 at 14:57 | #21

    @nyx
    Salam pak Nyx,

    Untuk keperluan diversifikasi, memang bisa melakukan pembagian ke beberapa produk termasuk yang ada di global.

    Perihal buku yang anda baca, memang ditulis oleh penulis yang mungkin di negaranya sangat memungkinkan untuk melakukan investasi ke berbagai negara. Jadi di sana sangat umum untuk investasi yang bersifat global.

    Perihal mengapa Panin AM belum mengeluarkan, pada waktu itu kita memang mau lebih berfokus di dalam negeri dan masih mempelajari peluang investasi di luar negeri. Selain itu, adanya kewajiban harus Syariah membuat perusahaan yang bisa menjadi tujuan investasi menjadi lebih terbatas.

    Saat ini, dalam pengetahuan saya, sedang ada kajian untuk menerbitkan peraturan baru reksa dana efek global namun untuk yang umum, dengan demikian instrumen yang bisa menjadi tujuan investasi lebih banyak. Pada saat itu, ada kemungkinan Panin AM bisa menerbitkan instrumen global.

    Kalau perihal bagus atau tidak tergantung timing juga ya. Kalau pas kinerja saham di Singapore, Malaysia, Hong Kong, US atau negara lain yang menjadi kinerja investasi bagus, maka hasilnya akan bagus dan sebaliknya.

    Semoga bermanfaat

  22. nyx
    September 5th, 2017 at 15:11 | #22

    iya betul pak, salah 1 buku yg saya baca itu Anthony Robbins – Unshakeable
    kalau di Indonesia utk berinvestasi saham luar negeri secara langsung memang masih susah yah

    lalu 1 pertanyaan lagi pak, kalau bapak disuruh memilih saham yg dibeli untuk di hold selamanya, kira-kira bapak bakal pilih saham apaan?

    terima kasih jawabannya pak..

  23. Rudiyanto
    September 20th, 2017 at 13:25 | #23

    @nyx
    Salam pak,

    Perihal susah atau tidaknya investasi ke luar negeri itu tergantung banyaknya nol di rekening pak (sudah bukan pakai tebal dompet lagi karena orang kaya tidak simpan semua uangnya di dompet).

    Kalau sudah masuk kategori investor dengan dana siap investasi di atas USD 1 juta, rasanya tidak sulit untuk mengakses investasi dari dalam dan luar negeri. Tidak perlu mencaripun, para banker akan mendatangi anda.

    Kalau beli saham dan hold selamanya mungkin saya akan pilih saham perusahaan milik sendiri. Kalau beli saham perusahaan tbk sudah pasti akan diperjualbelikan suatu saat nanti.

    Semoga bermanfaat

  24. Arief
    September 29th, 2017 at 13:30 | #24

    Salam kenal pak rudi. Sy baru sekali ini liat blog yg isinya bermutu. Apakah bole tanya kalau lumpsum investasi itu sbenernya seperti apa? Misalnya sy punya dana di rdpu untuk full invest. Apakah sembarang saja saya cairin lgs beli ga usa liat 10-20 thn atau sperti apa? Selama ini dana dr rdpu sy cairin sedikit2 saat saya liat ada peluang masuk saham yang bagus atau kalau dana rdpu sudah besar sy cairin sedikit2 untuk beli saham. Sy cairin sedikit2 mengingat ihsg lg cenderung tingi2nya. Andai anjlok pasti sy beli semua. Apa cr sy tms lump sum ato gmn ya?

  25. Rudiyanto
    October 2nd, 2017 at 04:35 | #25

    @Arief
    Salam pak Aries,

    Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya ke blog ini.

    Yang dimaksud dengan lump sum adalah investasi yang dilakukan sekaligus. Investasinya bisa dilakukan ke jenis reksa dana apa saja, mulai dari reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham.

    Yang anda lakukan sekarang menurut saya mendekati yang disebut dengan cost averaging. Hanya saja, waktu pembeliannya tidak dilakukan secara terjadwal tapi berdasarkan analisa anda. Cara ini juga ok sepanjang anda memiliki waktu untuk memantau dan analisa.

    Kalau dirasakan waktu dan keahlian untuk analisa kurang, maka bisa dibuat secara berkala misalkan setiap tanggal berapa setiap bulan.

    Semoga bermanfaat

  26. Anas
    October 3rd, 2017 at 09:54 | #26

    Selamat pagi Pak Rudi.
    Maaf, saya sudah lama tidak mengikuti perkembangan peraturan investasi pasar modal. Yang saya tahu dulu ada syarat tatap muka sebelum buka akun investasi pasar modal (akun virtual reksa dana termasuk juga?).

    Lalu suatu hari saya menemukan menu “bukareksa” disalah satu situs e-commerce. Apakah ini termasuk virtual account?

    Diakui, memang aktivitas sehari-hari banyak yg bergeser ke dalam jaringan (online). Apakah syarat buka akun reksa dana sekarang lebih mudah tanpa perlu tatap muka?

    Terimakasih atas perhatiannya

  27. Rudiyanto
    October 13th, 2017 at 15:57 | #27

    @Anas
    Selamat sore pak Anas,

    Berdasarkan peraturan OJK Nomor 12 tahun 2017 Tentang APU PPT, pasal 17 ayat 4

    4) Proses verifikasi melalui pertemuan langsung (face to face) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dikecualikan dengan ketentuan sebagai berikut:
    a. verifikasi dilakukan melalui proses dan sarana elektronik milik PJK dan/atau milik Calon Nasabah; dan
    b. verifikasi wajib memanfaatkan data kependudukan yang memenuhi 2 (dua) faktor otentikasi.

    Semoga bisa menjadi referensi.

    Terima kasih

  28. Terry Atmajaya
    October 17th, 2017 at 15:04 | #28

    Dear Pak Rudi,

    Pak, saya mau tanya. untuk menganalisa saham sektor konstruksi dan properti parameternya apa aja ya? kebanyakan mereka kan punya hutang di bank tuh, pinjem sana sini. selama ini saya analisanya pake metode Rule #1. cuma free cash flow sama rasio hutang jangka panjang thd current fress cash flownya pada hancur. saya masih newbie pak. hehe. mohon penjelasanya.

    terima kasih

Comment pages
1 4 5 6 2579

 


%d bloggers like this: