Forum Diskusi

February 14th, 2013 Leave a comment Go to comments

Halaman ini saya buat bagi anda yang mau menanyakan sesuatu namun tidak menemukan artikel yang berkaitan. Namanya juga forum diskusi. Jadi, jika ada rekan pembaca lain yang mau memberikan jawaban atau sharing atas pertanyaan juga bisa di bagian ini.

  1. erric
    February 11th, 2013 at 14:06 | #1

    selamat siang pak rudiyanto, saya ingin bertanya dimana saya bisa mendapatkan laporan keuangan reksadana utk tahun 2000 – 2011, apakah tersedia atau tidak terima kasih

  2. Rudiyanto
    February 13th, 2013 at 08:37 | #2

    @erric
    Salam Eric,

    Itu sudah seperti Mission Imposible. Kalau laporan keuangan 1 tahun terakhir masih bisa, tapi kalau sudah 10 tahun kayaknya udah susah.

    Laporan keuangan bisa diakses di website masing2 MI. Kalau untuk Panin Asset Management bisa di http://www.panin-am.co.id/ViewForms.aspx?id=prospectus

  3. February 14th, 2013 at 22:15 | #3

    Halo Pak Rudi,

    perkenalkan saya William, baru pulang selesai kuliah Master di Amerika. Di sana saya mulai belajar tentang peluang mutual funds dan baru di Indonesia melihat sudah ada produk investasi ekivalennya yaitu reksa dana. Ada satu yang saya agak bingung ketika melihat fund performance dari bank HSBC:
    https://www.hsbc.co.id/1/2/miscellaneous_en_US/others/hsbc-premier-promo/fund-flash

    Secara umum, performance fund yang US Dollars terlihat lebih rendah daripada fund yang dananya di Rupiah. Ini terlihat jelas terutama sekali di bagian equity. Apakah ini berarti sebaiknya kita tidak usah menanam investasi kita di produk reksadana yang US Dollar? Ataukah investasi yang di Rupiah memang kenyataannya lebih baik returnnya selama ini? Mohon penjelasan Pak Rudi akan untung ruginya investasi reksa dana yang berada di Rupiah dan US Dollar jika melihat di fund flash dari HSBC di atas. Terima kasih atas penjelasannya.

  4. Rudiyanto
    February 14th, 2013 at 22:44 | #4

    @William Mamudi
    Malam William,

    Senang sekali, ada satu lagi putra-putri terbaik yang mengenyam pendidikan di luar negeri dan kembali ke Indonesia untuk membangun negeri ini. Mudah2an, pengalaman dan pengetahuan anda di sana bisa bermanfaat negeri ini.

    Terkait pertanyaan anda, terutama yang Equity Fund, apakah boleh saya simpulkan bahwa yang anda soroti hanya satu reksa dana yang berbasis USD yaitu Manulife Greater Indonesia Fund? Jika benar, kalau boleh tahu berdasarkan return periode berapa lama anda menyimpulkan bahwa kinerja yang USD lebih rendah dari Rupiah? apakah dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun atau YTD?

    Kemudian, baik buruk itu relatif. Misalkan hasil investasi 6 bulan terakhir adalah 5.46%. Memang jika dibandingkan dengan reksa dana yang sejenis kelihatannya agak rendah. Namun yang harus anda lihat itu adalah bahwa hasil investasinya bukan dalam Rupiah namun dalam bentuk USD. Apakah return 5.46% dalam USD itu tinggi? buat yang tahu deposito USD hanya memberikan bunga seupil, bisa dikatakan angka ini relatif tinggi.

    Kemudian, katakan anda membeli reksa dana Rupiah yang return 6 bulannya paling tinggi berdasarkan fund flash tersebut, yaitu BNP Paribas Pesonah Amanah yang returnnya 11.53%. Anggaplah 6 bulan yang lalu anda punya uang 10.000 USD dan ketika itu USD (misalnya) Rp 9500 per 1 USD. Berarti anda membeli reksa dana tersebut senilai Rp 95 juta dan kemudian untung 11.53% berarti uang anda menjadi Rp 105,95 juta. Kemudian anda mau menguangkan kembali ke USD, eh pas mau diuangkan Rupiah lagi loyo seperti sekarang sehingga dapatnya Rp 10.000 per 1 USD. Alhasil, Rp 105,95 juta yang anda punya hanya menjadi 10.595 USD. Dari modal anda yang 10.000 menjadi 10.595 anda hanya untung 5.95%. Bandingkan dengan 5.46% di atas, apakah masih bisa disebut rendah?

    Ketika melihat reksa dana dalam kacamata USD dan Rupiah, kita tidak bisa hanya melihat % keuntungan saja namun juga memperhatikan risiko nilai tukar. Buat orang Indonesia yang memegang Rupiah dan mengakui keuntungan dalam bentuk Rupiah memang lebih menguntungkan dalam bentuk reksa dana Rupiah, namun buat investor asing misalnya dari USA, maka perbedaan kurs tersebut merupakan hal penting yang wajib diperhatikan karena mereka mengukur keuntungan dari USD yang dikeluarkan vs USD yang diterima. Untungnya buat mereka, ketika membeli USD maka hasilnya juga dalam USD, sehingga dia tidak perlu khawatir sulit menukarkan uangnya kembali lagi.

    Demikian masukan dari saya. Ingat, saya tidak mengatakan bahwa reksa dana di atas bagus atau tidak bagus, saya hanya memberikan gambaran bahwa hasil keuntungan reksa dana dalam Rupiah dan USD tidak bisa dibandingkan head to head begitu saja. Semoga bermanfaat

  5. William Mamudi
    February 15th, 2013 at 00:06 | #5

    @Rudiyanto
    Ah, ya memang Amerika banyak peluang investasi mutual funds kalau ingin serius dipelajari. Saya banyak belajar tentang itu di sela2 waktu kuliah karena saya tidak ingin terbawa2 gaya hidup konsumtif ala Amerika. Saya perhatikan orang Amerika umumnya tidak begitu melek finansial dan lebih suka hidup konsumtif dengan mengandalkan kredit dan hutang walaupun tidak akan pernah lunas dibayar sampai tua(!). Dulu bank saya di Amerika (PNC) yang menjelaskan peluang investasi dengan mutual funds:
    http://pncfunds.com/Funds_Performance/Performance_Summary/Show_All/default.fs

    , tetapi tidak saya ambil karena hukum pajak di Amerika lumayan rumit untuk pelajar internasional dan bikin pusing. Saya agak menyesal juga, karena Mutual Funds yang equity di Amerika memberikan return yang cukup besar beberapa tahun terakhir ini, bisa sampai double digit.

    Ya2, saya fokus ke reksa dana untuk Manulife Greater Indonesia Fund. Saya perhatikan performanya dari 1 bulan (-2.38%), 3 bulan (0.99%), 6 bulan (5.46%), 1 tahun (2.95%) atau YTD (2.95%) bisa dibilang memang relatif tidak ada yang sebesar reksadana dalam rupiah untuk equity. Tapi sekarang saya jadi tertarik setelah melihat performance reksadana US Dollar di Balanced dan Fixed Income karena mereka ini justru performance-nya lebih baik dari pada yang equity untuk US Dollars. Untuk Batavia USD Balanced Asia, Schroeder USD Bond Fund, BNP Paribas Prima USD, dan BNP Paribas Prima Asia USD semuanya memberikan return yang lebih tinggi daripada Manulife Greater Indonesia Fund. Apakah ini karena investor dengan US Dollar lebih suka bermain aman di Fixed Income daripada Equity? Menarik juga, karena biasanya kita berharap equity yang akan memberikan return lebih besar untuk jangka panjang.

    Saya lupa kalau nilai tukar dollar-rupiah harus diperhitungkan juga, tentunya 5.95% versus 5.46% dari contoh Pak Rudi memberikan sudut pandang baru akan kalkulasinya. Walaupun bisa jadi beberapa investor (domestik maupun asing) tetap mengincar keuntungan yang lebih tinggi walaupun hanya berbeda beberapa ratus dollar saja.

  6. William Mamudi
    February 22nd, 2013 at 15:30 | #6

    @Rudiyanto

    Pak, pas saya baca2 artikel tentang strategi investasi di investopedia, saya tertarik dengan strategi ‘Dogs of the Dow’ yang terdengar sangat sederhana sekali:
    http://www.investopedia.com/university/stockpicking/stockpicking8.asp#axzz2LUL6QiLX

    Menurut Bapak apakah strategi ini bisa diterapkan di dunia investasi Indonesia (misal mengacu pada IHSG, atau apa yang menurut Pak RUdi lebih pas selain IHSG di Indonesia), dan apa saja kelebihan dan kekurangannya jika diterapkan pada IHSG? Mungkin Pak Rudi bisa membuat artikel tentang ini jika taktik ‘Dogs of the Dow’ (atau jadinya ‘Dogs of IHSG’ dong kalau mengacunya pada IHSG dan bukan Dow Jones, hehehehe…) ini diadaptasikan untuk investasi di IHSG beserta tabel perbandingan Average Returnnya dari tahun 80′an sampai sekarang? Terima kasih atas penjelasannya.

  7. Rudiyanto
    February 23rd, 2013 at 11:28 | #7

    @William Mamudi
    Salam William,

    Kalau bisa pertanyaan yang sama, apalagi yang ada linknya jangan ditanyakan sekaligus di berbagai artikel. Sebab oleh antivirus di blog ini dianggap sebagai SPAM.

    Artikel yang agak2 menjawab pertanyaan tersebut sudah pernah saya bahas di strategi income investing. Anda bisa coba2 baca di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/26/dividendinvesting/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/06/20/strategi-investasi-income-investing-2-mengenal-dividend-yield/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/06/28/strategi-income-investing-3-mencari-saham-dengan-dividend-yield-setara-deposito/

    Coba anda pelajari dahulu. Dan sebetulnya kalau investasinya adalah reksa dana, biarlah Manajer Investasi yang memikirkan strategi investasinya. Kita tinggal duduk manis melihat hasil saja.

  8. William Mamudi
    February 25th, 2013 at 19:22 | #8

    @Rudiyanto
    Halo Pak Rudi,

    wah maaf agak merepotkan Pak. Soalnya dulu Pak Rudi pernah bilang kalau blog ini ada sedikit gangguan karena sedang migrasi sistemnya oleh pengelola website kontan, jadi seringkali komentar yang diupload tidak bisa muncul dan Pak Rudi sendiri yang pesan agar kita terus mencoba sampai komentar yang ditulis bisa muncul. Saya sendiri bingung kenapa komentar saya tidak muncul2, dan ternyata Pak Rudi bisa terima semuanya. Saya sendiri tidak bermaksud spam, tapi ya susah juga kalau komentar yang kita tulis menghilang begitu saja setelah kita ‘submit comment’.

  9. Rudiyanto
    February 26th, 2013 at 08:39 | #9

    @William Mamudi
    Salam William,

    Ganggan memang pernah terjadi dulu, namun tidak sering. Pada saat terjadi gangguan, saya memang meminta untuk mencoba kembali, namun setelah itu, bagusnya sudah tidak ada gangguan lagi.

    Memang sistem komentar disini menggunakan moderasi, karena kalau tidak, setiap hari bisa ada ribuan komentar spam. Karena sudah kebanyakan spam, akhirnya saya minta tolong kepada pihak Kontan untuk memasang antivirus di blog ini, untunglah setelah itu, saya tidak perlu memoderasi ribuan komentar2 spam lagi. Namun efeknya, komentar yang bukan spam, harus ada approval secara manual baru bisa ditampilkan. Namun saya selalu mengusahakan mengecek pada waktu istirahat sehingga komentar yang disubmit tidak harus menunggu terlalu lama.

    Terima kasih

  10. selvi
    March 2nd, 2013 at 19:29 | #10

    salam kenal,pak….

    saya temannya voni :)

    saya masih pemula soal reksadana,ada beli bbrp produk tp msh jmlh kecil. mohon masukkan, produk apa yg return nya bgs??
    apa akan berpengaruh dgn pajak tahunan saya jika saya beli dlm jmlh besar? –>saya pun belum mengerti soal pajak tahunan:(

    makasih sebelomnya:)

  11. Rudiyanto
    March 4th, 2013 at 09:40 | #11

    @selvi
    Salam Kenal juga Selvi,

    Untuk produk apa yang returnnya bagus, kamu bisa melihatnya di website infovesta.com. Semua hasil investasi yang kamu peroleh dari reksa dana itu bukan objek pajak. Reksa dana dala laporan pajak tahunan dilaporkan sebagai aset, sama seperti kamu punya kendaraan, rumah, atau perhiasan. Dan aset, itu tidak dikenakan pajak penghasilan.

    Semoga bermanfaat.

  12. kurniawan
    March 6th, 2013 at 08:00 | #12

    Pak Rudy,

    Saya baca di kontan , ada RDPT yg bebasiskan proyek (note:mungkin maksudnya memberikan hutang untuk pelaksanaan proyek) dgn imbal hasil 25% per tahun.

    Batavia Prosperindo akan rilis RDPT
    http://investasi.kontan.co.id/news/batavia-prosperindo-akan-rilis-rdpt/2013/03/05

    Bukankah ini berarti RDPT berbasikan proyek lebih beresiko daripada RDS ?
    Karna menurut saya RDPT seharusnya berisi obligasi korporat dengan peringkat tinggi bukan obligasi untuk pendanaan proyek baru .

    Bagaimana pendapat pak rudy ?

  13. Rudiyanto
    March 7th, 2013 at 18:15 | #13

    @kurniawan
    Pak Kurniawan,

    Reksa Dana Penyertaan Terbatas itu berbeda dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap karena tidak harus berinvestasi pada Obligasi. RD Penyertaan Terbatas, berinvestasi pada Proyek. Proyek itu bentuknya bisa saham, bisa pula hutang (obligasi).

    Risiko daripada Proyek berbeda dengan Risiko Reksa Dana Saham, karena reksa dana saham lebih mayoritas pada risiko fluktuasi harga, sementara proyek lebih kepada keberhasilan bisa selesai tidaknya proyek tersebut dan cashflow yang bisa dihasilkan. Kalau saya menyebutnya Risiko Kredit. Lebih berisiko atau tidak sangat sulit dikatakan karena saya tidak tahu risiko apa yang anda maksud.

    Kalau Risiko Fluktuasi harga jelas RDS, namun kalau risiko Kredit, lebih tinggi RD Penyertaan Terbatas karena proyek yang ada bukan perusahaan dengan kinerja fundamental bertahun-tahun yang bisa dianalisa seperti emiten saham.

    Semoga bermanfaat.

  14. Yasin Fadil
    March 15th, 2013 at 08:20 | #14

    Salam Pak Rudi,

    Saya ingin tanya, bagaimana prosedur untuk mengundang bapak sebagai pembicara di Seminar Pasar Modal?

    Terima Kasih.

  15. Rudiyanto
    March 15th, 2013 at 10:47 | #15

    @Yasin Fadil
    Salam Pak Yasin Fadil,

    Kalau boleh, dikirim ke email saya di rudiyanto.zh@gmail.com
    Mengenai informasi seminar yang akan anda lakukan. Seperti dari mana? Universitas, umum atau perusahaan? Perkiraan jumlah peserta? dan informasi2 lainnya.

    Terima kasih.

  16. Gratia Atanka Barus
    March 16th, 2013 at 22:46 | #16

    selamat malam bapak, saya mau nanya untuk kinerja reksa dana dengan metode sharpe dan treynor mana yang lebih baik pak? dan apa kekurangan dan kelebihan tiap metode pak? terima kasih :)

  17. Rudiyanto
    March 18th, 2013 at 00:37 | #17

    @Gratia Atanka Barus
    Dear Gratia,

    Silakan baca2 link di artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/?s=sharpe

    Semoga bermanfaat.

  18. Gratia Atanka Barus
    March 23rd, 2013 at 19:52 | #18

    selamat malam bapak saya sedang dalam proses revisi skripsi. saya akan mengajukan 3 hipotesis penelitian :
    H1: Reksa dana saham memiliki kinerja yang lebih baik daripada kinerja pasarnya dengan menggunakan metode Sharpe
    H2: Reksa dana saham memiliki kinerja yang lebih baik daripada kinerja pasarnya dengan menggunakan metode Treynor.
    H3: Terdapat perbedaan tingkat peringkat kinerja hasil penelitian antara metode Sharpe dengan metode Treynor
    apakah bapak bisa membantu teori apa dan bagaimana dalam hipotesis tersebut? saya binggung sekali pak apa dasar teori hipotesis2 tersebut,mohon bantuannya ya pak

  19. Rudiyanto
    March 25th, 2013 at 13:15 | #19

    @Gratia Atanka Barus
    Salam Gratia,

    Sudah coba membaca buku investasi di kampus yang membahas tentang ketiga metode tersebut? Seingat saya di pembahasan teori tentang perbedaan peringkat berdasarkan masing-masing metode sudah pernah dibahas juga. Tapi topik pembahasannya memang lebih ditujukan kondisi digunakannya metode tersebut daripada perbedaan peringkatnya.

    Semoga bermanfaat.

  20. Setiawan
    April 8th, 2013 at 13:46 | #20

    Selamat siang Pak Rudiyanto,

    Saya ingin bertanya, surat konfirmasi transaksi pembelian/penjualan reksadana dan laporan akun bulanan reksadana yang dikirim ke alamat nasabah, apa dikirim langsung oleh bank kustodian atau dikirim melalui manajer investasi? Soalnya saya menerima surat konfirmasi transaksi/laporan akun bulanan, ada yang kop suratnya bank kustodian. Ada yang kop suratnya manajer investasi untuk produk reksadana yang lain. Jika surat konfirmasi transaksi/laporan akun bulanan pengirimannya melalui manajer investasi, cukup mengkhawatirkan akan terjadinya penyelewengan. Demikian pertanyaan dari saya Pak. Terima kasih.

  21. Rudiyanto
    April 8th, 2013 at 17:45 | #21

    @Setiawan
    Yth Pak Setiawan,

    Secara peraturan, yang berhak mengirimkan surat konfirmasi transaksi dan laporan bulanan akun reksa dana adalah Bank Kustodian.

    Meski demikian, dalam aturan tersebut tidak di atur seperti apa format surat konfirmasinya. Jadi bisa saja, surat konfirmasi dibuat dalam format yang diinginkan oleh Manajer Investasi sehingga terdapat kop suratnya. Bagi surat konfirmasi yang tidak ada kop surat dari Manajer Investasi, bisa saja MI yang bersangkutan tidak mensyaratkan seperti apa bentuk surat tersebut sehingga Bank Kustodian menggunakan format dia sendiri.

    Sebelumnya pengiriman surat konfirmasi dilakukan dengan cara Bank Kustodian mengirim ke MI kemudian MI mengirimkan ke Nasabah. Namun belakangan peraturan tersebut diubah, sehingga pengiriman surat dilakukan langsung oleh Bank Kustodian kepada nasabah. Memang secara prosedur lebih aman dari tindakan penyelewengan, namun pada prakteknya ada juga Bank Kustodian yang tidak siap sehingga ada investor yang mengeluhkan lama atau tidak diterima sama sekali surat konfirmasi.

    Hal ini menjadi PR bersama bagi pelaku pasar dan regulator untuk mencarikan solusi yang lebih baik. Andai saja, surat konfirmasi bisa dikirimkan secara elektronik melalui email seperti di bank tentu akan lebih baik lagi. Tapi kita lihat saja perkembangan di masa yang akan datang.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  22. Setiawan
    April 9th, 2013 at 13:23 | #22

    Terima kasih atas jawabannya Pak Rudi.

  23. moko
    April 23rd, 2013 at 14:32 | #23

    selamat siang pak rudiyanto.
    maaf salah tempat kemarin.

    saya ampir 6 bulan ini jadi investor reksadana saham. saat ini ihsg berada di sekitar 5000 dan PER kira2 19,4 (menurut bloomberg). tampaknya ihsg susah naik walopun sentimen global positif.

    apakah ini menunjukkan ihsg sudah “terlalu mahal” sehingga sensitif terhadap berita negatif ?

    berapa kira2 PER max sebelum terjadi koreksi besar ?

    bila federal reserve menghentikan program quantitatif easing dan saham2 amerika turun apa pula efeknya thd ihsg ?

    terima kasih sebelumnya.

  24. Rudiyanto
    April 24th, 2013 at 11:04 | #24

    @moko
    Selamat siang Moko,

    Pertama-tama, investasi saham memang ditujukan untuk tujuan jangka panjang (diatas 1 tahun) dan akan jauh lebih baik lagi jika anda punya tujuan investasi yang spesifik (misalnya untung berapa %). Sebab jika sudah punya konsen anda bukan IHSG sudah tinggi atau bukan akan tetapi tujuan anda sudah tercapai atau belum.

    Yang namanya “tampaknya2″ itu, selalu berubah setiap saat. Tahun lalu IHSG 4200 dibilang tampaknya sudah susah naik. Kemudian IHSG 4500 sudah dibilang tampaknya sudah mahal juga. Kemudian tahun berubah, yang tampaknya mahal sekarang sudah jadi murah? Tidak percaya? coba kalau sekarang IHSG 4500, pasti investor yang masuk akan berbondong2, terutama yang ketinggalan kereta.

    Kemudian, saya belum pernah melakukan penelitian terhadap PE Ratio Bloomberg, yang pernah dengan PE Ratio yang tersedia di website infovesta.com jadi saya tidak tahu apakah angka yang disebutkan di atas sudah “terlalu mahal” atau tidak. Definisi mahal dan murah juga relatif, salah satu artikel yang pernah saya bahas ada di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/06/apa-yang-sebaiknya-dilakukan-investor-saat-ini-agustus-2011/

    Kemudian PE Ratio juga punya kelemahan karena tidak memperhitungkan faktor pertumbuhan laba bersih perusahaan. Misalkan anda investasi pada PE Ratio maksimal di 2008 dimana IHSG sempat 2800, meskipun jatuh ke 1300, namun kalau horizon investasi anda 5 tahun, dimana baru anda tarik di 2013, IHSG sudah 5000 bukan?

    Quantitative Easing sendiri, pada hakikatnya merupakan kebijakan “gawat darurat” untuk menanggapi suatu situasi krisis. Ibarat, BBM mau naik, rakyat diberikan Bantuan Langsung Tunai. Kalau Quantitative Easing dihapus, bukankah itu berarti hal yang baik karena kondisi ekonomi bagus, rakyat makmur jadi tidak perlu diberikan BLT lagi.

    Orang2 yang mengharapkan saham akan terus naik karena QE, tidak bedanya dengan orang yang melihat kondisi ekonomi akan terus memburuk. Jadi kalau QE terus-terusan malah tidak bagus. Pada kenyataannya pun, ekonomi sudah mulai masuk masa pemulihan.

    Kira2 begitu logika saya, semoga bermanfaat dan menjawab pertanyaan anda.

  25. May 14th, 2013 at 10:32 | #25

    Selamat Pagi, Pak Rudy.
    Walaupun blog ini membahas tentang reksadana, jika boleh, saya ingin bertanya sedikit tentang saham.

    Ketika ada saham baru IPO, misalnya: “Perusahaan distributor motor PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPM)” mengeluarkan saham sejumlah 1 milyar saham, dengan harga Rp. 1500 per lembar. total dana yang diterima perusahaan = Rp 1,5 triliun. (Dalam hal ini ada tiga pelaku yang terlihat secara langsung yaitu perusahaan, sekuritas, dan investor) http://investasi.kontan.co.id/news/harga-ipo-mitra-pinasthika-di-rp-1.500/2013/05/14

    Karena saya bukan orang ekonomi, saya ingin bertanya secara umum dan minta wawasannya :

    1. Ketika proses IPO selesai, maka perusahaan akan mendapatkan dana sejumlah nilai dari hasil penjualan saham dari investor melalui sekuritas yang ditunjuk sebelumnya. Apakah setelah perusahaan menerima dana dan sahamnya masuk ke bursa/pasar saham, perusahaan akan melimpahkan sepenuhnya terhadap perkembangan saham2nya yang ada di bursa kepada sekuritas tsb selamanya (dalam bahasa saya sendiri, perusahaan lepas tanggung jawab / tidak peduli dengan naik-turunnya harga saham di bursa, jual-belinya, laku dan tidaknya di bursa, karena itu sudah tanggung jawab sekuritas dan juga perusahaan sudah mendapat dana sejumlah Rp. 1,5 triliun ketika IPO)?

    2. Apakah dana yang sudah diterima perusahaan ketika IPO yaitu sejumlah Rp. 1,5 triliun itu akan bisa berubah lagi (bertambah atau berkurang) dikarenakan perubahan dari naik turunnya harga sesuai harga sahamnya di bursa?

    3. Dalam pembagian dana dividen, apakah perusahaan membagikan dana dividennya kepada investor melalui sekuritas? Dan bagaimana “investor publik” tahu bahwa deviden sudah diterima atau belum?

    4. Pak, dalam kepemilikan saham perusahaan, kan ada yang 56%, 20%, 1% dll. Bagaimana caranya investor “menengah” yang biasanya punya saham sekitar 1-5% dalam menjual saham yang sudah dimiliki? Apakah juga melalui bursa atau apa melalui cara khusus berbeda dengan kita?

    5. Pak, walaupun saya sudah inves di reksadana, tapi saya juga ingin coba invest di saham langsung (trading OL, walau kecil-kecilan). Sementara, menurut pandangan saya, kalau kita investasi kecil-kecilan di saham, kalau kita tidak sering melalukan trading, percuma juga ya pak, walaupun untuk jangka panjang. Karena kalau saham kita biarkan saja, jumlah saham kita tidak akan pernah bisa bertambah, misalnya saat ini membeli 2 lot, jika tidak digunakan trading selama ya tetap 2 lot. Ini berbeda sekali kalau investasi di reksadana, kelebihan dari reksadana, walaupun kita tidak melakukan jual-beli, dan dana investasi tetap kita biarkan saja, jumlah UPnya bisa bertambah setiap bulan, dan juga harga UPnya terus naik (data dari reksadana saya sendiri). Kalau menurut Bapak bagaimana?

    6. Pak, untuk website kontan.co.id, kenapa ya tidak ada RSS feednya, yang fungsinya untuk memasang text berita secara terupdate di situs/blog lain itu lho, padahal itu sangat bermanfaat sekali ?

    Sebenarnya masih ada banyak lagi pertanyaan dan wawasan yang ingin saya tanyakan. Tapi sementara, ini dulu aja.
    Sebelumnya terimakasih atas wawasannya.

  26. Rudiyanto
    May 14th, 2013 at 13:30 | #26

    @HERMAWAN
    Yth Pak Hermawan,

    Terima kasih atas pertanyaan dan partisipasi yang aktif dalam blog ini. Saya apresiasi sekali dengan sikap anda yang mau belajar banyak hal baru, namun menurut saya semua pelajaran itu baru ada gunanya jika bisa dipraktekkan. Sebab kalau tidak bisa saja kita dikatakan hanya berteori, untuk itu, untuk beberapa pertanyaan anda, saran saya anda bisa mengetahuinya dengan mencoba langsung.

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Tugas perusahaan sekuritas sebagai penjamin emisi sudah selesai ketika saham tersebut IPO. Sebagai perusahaan yang mengemisikan IPO saham suatu perusahaan, maka, maka tentu ketika publik memutuskan untuk berinvestasi, track record dari sekuritas tersebut menjadi pertimbangan. Apabila saham2 yang dia IPOkan sebelumnya harganya selalu jatuh di bawah harga IPO, apakah ada publik yang mau mempercayai dia lagi? Begitu pula dengan emiten, buat emiten, memang duitnya sudah dia dapat, tapi harus diingat juga, orang yang membeli saham dia kan jadi pemegang saham. Dan tugas dari manajemen adalah memaksimalkan kepentingan pemegang saham. Di Indonesia mungkin masih tidak seperti di US, dimana direktur diangkat dan diberhentikan oleh pemegang saham. Di Indonesia, memang juga demikian, namun meskipun sudah IPO, tidak jarang pendiri awal masih memiliki pengaruh yang kuat pada manejemen sehingga intervensi publik pada kebijakan perusahaan masih tidak kuat. Biasanya, saham milik keluarga pendiri masih > 50%. Kalau di luar negeri, saham yang dimiliki pendiri biasanya jauh lebih kecil.

    Ada plus minusnya, seperti facebook, yang meskipun sudah IPO, pendirinya masih tetap mau memegang peranan manajemen. Sementara di Apple, kalau anda baca sejarahnya, si Steve Jobs saja pernah diberhentikan, meskipun pada akhirnya diangkat kembali.

    2. Tidak
    3. Coba beli saham dan tunggu pas pembagian dividennya. Tidak mahal, saham Astra 1 lot cuman sekitar 3,5 juta.
    4. Ada yang namanya pasar reguler, pasar tunai dan pasar negosiasi (kalau saya tidak salah), tanyakanlah ke broker tempat anda bertransaksi.

    5. Misalkan anda beli reksa dana 1 juta dapat 1000 unit, terus kalau anda diamkan selama 2 bulan, apakah akan naik jadi 1200 unit? Kalau benar demikian, maka ajaib sekali reksa dana yang kamu beli. Saya malah khawatir itu produk bodong. Sebab hanya reksa dana pasar uang yang demikian, dan sejak 2013, sudah tidak berlaku lagi.

    6. Tanyakanlah kepada Kontan.

    Saran saya, berhenti bertanya tapi langsung coba praktek. Kebanyakan bertanya tapi tidak dipraktekkan cuman jadi pendekar jago teori saja. Dan untuk mencoba hal di atas sebetulnya tidak mahal juga.

    Terima kasih

  27. HERMAWAN
    May 15th, 2013 at 01:33 | #27

    Revisi pertanyaan yang no. 5:

    Maksud saya, yang bertambah naik NAV dan Balance (nilai rupiahnya). Kalau UPnya tetap. (maaf Pak, salah pasang istilah).

    Saat ini saya punya 3 jenis RD yang berbeda. Di salah satu RD saya memang UPnya ada yang naik terus setiap bulan, tapi itu ternyata disebabkan karena jenis RD saya itu ada yang autoinvest (autodebet dari rekening tabungan).
    Dan dari semua RD tersebut, beberapa bulan ini kenaikan NAV dan Balance-nya lumayan bagus. Yang pasti bukan RD bodong.

    Mengenai beli saham, memang itu keinginan saya. Rencananya sih untuk jangka panjang, tapi karena dana kecil, pilih yang online trading aja dan konfirmasinya di sekuritas terdekat. Dan sesekali saja untuk melalukan trading jangka pendek. Makanya, sebelum masuk saya perlu bekal sebagian wawasan untuk menganalisa resiko-resiko apa yang mungkin bisa terjadi.

    Enggak juga. Tapi, terima kasih jika dianggap cukup aktif di blog Bapak. Karena saya suka artikel/analisa/tulisan yang Pak Rudi tulis, sangat menarik. Selain itu, dalam penggunaan kalimat/tata bahasanya pun sangat bagus dan mudah dipahami pembaca, ini bila saya bandingkan dengan blog-blog lain yang sejenis. Kalau boleh saya bilang, blog ini bukan sekedar blog pribadi, tapi lebih dari itu, dapat bersaing dengan situs-situs berita resmi.

  28. Rudiyanto
    May 15th, 2013 at 09:24 | #28

    @HERMAWAN
    Pagi Pak Hermawan,

    Terima kasih untuk klarifikasinya. Kalau sistemnya UP tetap dan harga bisa naik, saham juga demikian. Tidak jarang malah, ada saham yang kenaikannya jauh lebih tinggi daripada reksa dana saham dengan performa terbaik sekalipun dan sebaliknya. Jadi buat yang sudah merasa jago dan bisa mendapatkan keuntungan di pasar modal, berinvestasi sendiri juga merupakan salah satu opsi.

    Saya sendiri juga yakin bahwa saya tidak sepenuhnya 100% benar, kadang2 setelah ditulis, kemudian setelah membaca buku, diskusi dengan teman lain atau mempraktekkannya saya baru sadar ternyata apa yang pernah saya kemukakan ternyata ada yang kurang tepat. Jadi saya percaya lapangan adalah tempat belajar terbaik. Ada istilah Chinese “Daripada membaca puluhan ribu buku, lebih baik menempuh perjalanan puluhan ribu mil”

    Semoga bermanfaat, salam sejahtera dan selamat pagi.

  29. chkp rassa
    May 16th, 2013 at 14:04 | #29

    Dear Bung Rudiyanto,

    Melalui FD ini ada hal yang mengganngu benak sya terkait dengan return produk RD yang mengalami penurunan dalam jangka 1 hari, 1bln, bahkan 1 tahun. Data Infovesta menyajikan return RD dalam warna merah dan NABnya dibawah 1000.

    Pertanyaan sya;
    1. Bagaimanakah kinerja sebuah produk RD ke depannya? sebagai produk yang dijual RD ini akan mengalami sedikit permasalahan untuk dipasarkan ke investor. Jika demikian halnya yang terjadi bagaimana nasib produk ini selanjuatnya?
    2. Langkah apa yang akan diambil oleh MI bila dalam menjual produknya mengalami penurunan NAB dibawah 1000, secara persepsi investor RD ini kurang menarik dan prospeknya kurang menjanjikan? Apakah masih layak RD tsb dipasarkan, namun kalau tidak, apakah ada jurus lain untuk menyelamatkan, sehingga dapat memberikan perasaan tenang pada investor?

    Demikian pertanyaan sya Bung Rudi, mohon penjelasannya bila ada contoh kasus seperti yang sya singgung di atas, sehingga investor dapat antisipatif dan mengambil langkah yang relatif bisa memberikan perasaan tenang dalam investasi.
    Terima kasih atas perhatiannya.

    Salam,
    chkp rassa.

    • Rudiyanto
      May 16th, 2013 at 18:13 | #30

      Yth rassa, boleh tahu nama reksa dana yg dimaksud apa?

  30. chkp rassa
    May 17th, 2013 at 06:58 | #31

    @Rudiyanto
    Selamat pagi Bung Rudiyanto,

    Terkait dengan pertanyaan sya, baiklah saya sebutkan saja contoh kasus produk RD yang dimaksud, yaitu RDS Danareksa Mawar Komoditas 10, dan Mandiri Komoditas Syariah PLus (sumber Infovesta, 15 Mei 2013, dan hari ini). Dengan memberikan detail produk yang sya sebutkan, semoga dapat memperjelas apa yang masih mengganggu dalam benak saya karena bagaimanapun dalam investasi perlu kehati-hatian bila menemui hal serupa.

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Salam,
    chkp rassa.

  31. Rudiyanto
    May 18th, 2013 at 18:32 | #32

    @chkp rassa
    Baik Rassa, terima kasih untuk informasinya. Terus terang untuk kasus return reksa dana negatif dan NAB/Up di bawah 1000 itu bisa terjadi di reksa dana apa saja. Kalau anda baca prospektus, ini disebut dengan Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan. Para praktisi keuangan menyebutnya risiko pasar (Market Risk).

    Dan sesuai dengan prinsip investasi, bahwa masa lalu tidak bisa menjadi cerminan kinerja tersebut akan berulang di masa yang akan datang. Jika bisa disebutkan pada reksa dana yang kinerjanya bagus, tentu bisa juga berlaku di reksa dana yang kinerjanya kurang bagus.

    Jadi jika anda bertanya bagaimana kinerja produk tersebut ke depannya, saya tidak tahu. Kemudian apakah produk tersebut bisa mengalami kesulitan jika dipasarkan ke investor, tergantung sama pihak yang jualan. Kalau memang jago sekali, saya percaya masih bisa mendapatkan dana kelolaan.

    Kalau anda bertanya langkah apa yang akan dilakukan oleh Manajer Investasi bersangkutan, saya tidak tahu. Tapi kalau saya yang jadi MInya maka langkah awal adalah memperbaiki kinerja. Jika karena kinerja produk kurang laku, maka ketika kinerjanya baik, maka produk diharapkan bisa lebih diterima oleh investor.

    Untuk para investor yang terlanjur menanamkan dananya, maka sebaiknya diadakan komunikasi. Karena reksa dana adalah bisnis kepercayaan, maka kepercayaan itu perlu dipulihkan. Salah satu langkahnya adalah menjelaskan mengapa penurunan tersebut bisa terjadi.

    Alasan disampaikan dengan jujur, apa adanya tanpa embel2 untuk menyalahkan orang / pihak lain, kemudian menjelaskan kebijakan, strategi dan langkah selanjutnya untuk memperbaiki kondisi yang sudah terlanjur terjadi. Cara ngecap yang tidak saya sarankan adalah mengatakan bahwa investasi reksa dana saham adalah jangka panjang minimal 5 tahun.

    Terkadang ada pihak yang bisa menerima hal di atas, ada pula yang tidak. Akan tetapi paling tidak hal ini bisa disampaikan dengan baik agar kepercayaan investor bisa tetap ada.

    Namun perlu diketahui bahwa reksa dana yang berfokus pada sektor tertentu memang ibarat pisau bermata dua. Ketika sektor tersebut baik, maka bisa saja kinerja reksa dana tersebut jauh di atas rata-rata dan sebaliknya kinerja sektor tersebut kurang baik, kinerja reksa dana tersebut bisa anjlok. Sebagai investor, ketika pertama kali berinvestasi pada jenis reksa dana ini sudah tentu harus menyadari risikonya.

    Dalam hal sektor komoditas, dalam periode 1-2 tahun terakhir sektor ini memang agak tertekan akibat lemahnya harga komoditas, berkurangnya permintaan akibat perlambatan ekonomi global dan pada akhirnya berpengaruh pada kinerja sektor saham komoditas secara umum. Akibatnya harga saham di sektor ini juga tertekan.

    Jika anda atau Manajer Investasi bahwa sektor ini akan kembali berjaya, maka tidak ada masalah untuk terus berinvestasi pada sektor ini.

    Ketika seorang investor perorangan memilih reksa dana sektoral, secara tidak langsung prinsip reksa dana yang mempercayakan kepada profesional sudah agak dilanggar. Sebab investor sendiri sudah melakukan co-managed karena ikut menentukan sektor apa yang menurut dia akan bagus ke depannya.

    Kalau benar2 dipercayakan, biarlah Manajer Investasi menentukan sektor apa yang bagus dan melakukan perubahan ketika kondisi ikut berubah. Jadi ketika prediksi meleset, ya itu memang risiko yang harus ditanggung oleh investor. (Tanpa bermaksud menyalahkan investor).

    Pada akhirnya ketenangan investor didapat dari seberapa dia mengetahui hal yang dia lakukan. Dalam bahasa saya Justifikasi. Ketika Warren Buffet membeli suatu saham dan harga saham tersebut turun, apakah dia panik? Saya tidak tahu, tapi saya yakin sekali dia tidak panik. Sebab sebelum membeli dia sudah mengetahui bisnis tersebut luar dalam.

    Kesimpulannya rasa tenang itu didapat sebelum berinvestasi, bukan sesudahnya.

    Semoga dapat menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  32. chkp rassa
    May 19th, 2013 at 07:53 | #33

    @Rudiyanto
    Penjelasan yang sangat berharga dan membantu pada kita sebagai investor khususnya dalam instrumen RD. Dengan FD ini kita bisa sharing pengalaman dan berbagi pengetahuan bila menjumpai hal-hal yang sifatnya dapat mempengaruhi arah tujuan berinvestasi. Disinilah betapa pentingnya dan begitu berharganya sebuah diskusi dalam memberikan solusi terbaik bagi seorang investor.

    Barang kali tidak banyak masyarakat awam termasuk saya mengetahui secara detail bagaimana mengenali dan memahami karakter RD yang akan menjadi tujuan investasi. Atas penjelasan Anda yang gamblang dan sangat obyektif telah membuka mata dan mencerahkan pikiran saya bahwa apapun keadaan yang menghadang di depan dalam berinvestasi adalah risiko yang harus diambil dan mencari solusi terbaik agar dapat mencapai hasil investasi yang diharapkan. Terus terang sebelum follow di blog Anda pengetahuan saya tentang RD nol sama sekali dan masih buta dalam hal bagaimana investasi RD.

    Tak berlebihan bila dalam FD ini menjadi sebuah media yang menjembatani para investor yang ingin menimba banyak pengetahuan dalam menentukan RD yang akan dipilih sbagai instrumen investasinya.
    Terima kasih banyak Bung Rudiyanto atas penjelasan dan waktu dalam sharing di FD yang berharga ini, dan sukses selalu.

    Salam,
    chkp rassa.

  33. didi
    May 24th, 2013 at 16:11 | #34

    Surat Konfirmasi pembelian dan Laporan bulanan dari RD yang saya beli selalu dikirimkan oleh MI. dan ini selalu terlambat, pernah tidak dikirm selama 2-3 bulan. Setelah di komplen baru kemudian dikirimkan.
    Denagnkasus seperti ini apakah saya harus mengganti MI ?

    Tolong pencerahannya Pak
    Terimakasih/didi

  34. adi
    May 24th, 2013 at 22:28 | #35

    selamat malam pak rudi ,

    pak minta tolong dibahas maksudnya saham dengan “sektor defensif” itu apa sih pak

    terima kasih

  35. Rudiyanto
    May 25th, 2013 at 13:54 | #36

    @didi
    Yth Pak Didi,

    Surat konfirmasi merupakan bagian dari Service atas transaksi reksa dana. Service utama dari reksa dana adalah kinerja, sementara surat konfirmasi, layanan pelanggan, kehandalan pemasar dalam menjelaskan dan memberikan rekomendasi adalah service tambahan.

    Ada yang menitikberatkan pada service utama, ada pula yang beranggapan service tambahan merupakan titik berat. Kinerja memang satu hal, tapi service juga penting.

    Surat konfirmasi yang tidak terkirim memang masalah, tapi apakah anda diberikan fasilitas untuk mengecek seperti fasilitas online? Apakah pada saat menelepon bagian layanan pelanggan, informasi pembelian dan saldo anda sesuai dengan transaksi yang terakhir? Kalau sudah sesuai harusnya tidak apa2. Tinggal anda rajin2 komplain saja. Namun jika buat anda service itu penting dan tidak ada perubahan yang berarti dari pihak Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual, maka ada hak anda untuk memilih Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual yang lain.

    Demikian pak Didi, semoga bermanfaat.

  36. Rudiyanto
    May 25th, 2013 at 14:01 | #37

    @adi
    Selamat Sore Adi,

    Biasanya yang dimaksud dengan defensif itu ada beberapa istilah. Ada yang menggunakan saham dengan nilai Beta < 1. Artikel tentang beta bisa anda cari http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Namun menurut saya, definisi yang lebih tepat untuk sektor defensif adalah sektor yang bidang usahanya tetap akan bertahan, sekalipun terjadi krisis. Biasanya sektor yang disebut defensif adalah sektor konsumsi, dengan logika, mau krisis atau tidak orang tetap perlu makan dan mandi. Sehingga laba perusahaan tetap dapat dipertahankan.

    Kadang2 saham sektor yang defensif tersebut akan menghasilan beta di bawah 1 namun tidak selalu dan tidak semua sahamnya demikian.

    Demikian, semoga bermanfaat.

  37. Anas Malik
    May 26th, 2013 at 13:50 | #38

    Selamat pagi Pak Rudi,

    Ada beerapa hal yg saya mohon bantuannya:
    1. Bagaimana menghitung rerata geometri pake kalkulator biasa (non scientific)? Pangkat 1/n saya googling di internet belum ketemu..
    2. Apakah menghitung variance harus pake rerata aritmatik? Karena saya liat di buku yg saya punya, pembahasannya begitu. Walaupun pertanyaan sebelumnya menanyakan juga rerata geometrik..

    Saya sedang belajar lagi utk persiapan ujian ulang WMI (6 Juli mendatang). Terima kasih bantuaannya.

  38. Rudiyanto
    May 26th, 2013 at 17:30 | #39

    @Anas Malik
    Salam Anas,

    1. Memang tidak bisa
    2. Sesuai buku pak

    Semoga beruntung

  39. Anas Malik
    May 27th, 2013 at 08:57 | #40

    Begitu ya..
    Ada saran atau tips/trik dalam pengerjaan ujian WMI agar bisa lulus?
    Terima kasih

    • Rudiyanto
      May 27th, 2013 at 10:02 | #41

      Jangan nyontek

  40. adit
    May 27th, 2013 at 21:14 | #42

    selamat malam pa rudi,
    saya tinggal di bandung, sy berniat membeli reksadana panin dana maksima, panin dana prima sama panin dana bersama plus, masing – masing rp2000000 jika transaksi seperti itu apakah bisa di bandung?? sy sudah tanya ke panin sekuritas di jl juanda no 2a bandung katanya minimal investasi 25 juta. kalau sy beli lewat panin sekuritas itu termasuk pembelian langsung ke manajer investasi atau dianggap pembelian melalui agen penjual?? setahu sy jika melalui agen penjual beli minimal memang boleh tidak sesuai prospektus, kalau lewat manajer investasi langsung, mk sesuai prospektus. jadi bagaimana menurut pa rudi?? kalau cabang panin aset management di bandung kan tidak ada?? jadi kalau begitu sy tidak bisa beli reksadana sesuai prospektus (minimal 250000)?? atau memang beli minmal 25 juta bukan 250rb seperti di prospektus??? tolong koreksi jika sy salah, mohon penjelasannya. terimakasih.

  41. Rudiyanto
    May 28th, 2013 at 13:39 | #43

    @adit
    Selamat Siang Adit,

    Sebagai informasi, Cabang langsung dari Panin Asset Management hanya ada di Jakarta, tepatnya di Cabang Cakrawala (Skyline) di Sarinah, Cabang PLuit, Puri, Pondok Indah dan Kelapa Gading dan Surabaya. Selain Cabang Cakrawala, yang anda lihat adalah cabang Panin Sekuritas, ketika anda datang ke cabang tersebut anda harus naik ke lantai 3 atau meminta mereka turun ke lantai 1 karena di lantai 1 dan 2 biasanya adalah Cabang dari Panin Sekuritas.

    Mereka memang juga menawarkan reksa dana tapi fokusnya lebih ke transaksi saham. Sementara buat anda yang butuh layanan yang lebih fokus pada reksa dana sebaiknya menghubungi orang Panin Asset Management.

    Di luar cabang tersebut, Panin Asset Management bekerjasama dengan Panin Sekuritas. Meskipun Panin Sekuritas adalah induk dari Panin Asset Management, dalam hal penjualan reksa dana status mereka adalah Agen Penjual.

    Sama seperti reksa dana, misalkan dari Manajer Investasi yang dijual melalui bank, dimana Bank berperan sebagai Agen Penjual, Panin Sekuritas juga berperan sebagai Agen Penjual.

    Ketentuan penjualan yang dilakukan via Agen Penjual memang diserahkan kembali ke masing-masing agen penjual. Sama seperti halnya ketika kita datang ke bank agen penjual yang berbeda terkadang kita akan menerima ketentuan yang berbeda karena masing-masing bank memiliki kebijakan sendiri. Tapi terkadang bisa juga sama.

    Untuk pembelian reksa dana, ketentuan yang berlaku adalah minimal Rp 250.000 sama seperti prospektus. Akan tetapi jika ada yang menetapkan lebih tinggi, maka itu adalah kebijakan dari masing-masing Agen Penjualnya. Saya tidak menyalahkan mereka karena terkadang, untuk nilai investasi yang kecil, juga agak sulit bagi para penjual karena mereka juga ada minimum nilai target yang ditentukan oleh atasan.

    Saya sudah menghubungi kepala cabang di Bandung dan menyampaikan hal tersebut, coba kamu hubungi lagi, atau apabila kamu sudah meninggalkan nomor telepon bisa menunggu dihubungi kembali. Siapa tahu, ada solusi yang bisa diberikan.

    Demikian, semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  42. Henry
    May 28th, 2013 at 15:08 | #44

    Selamat siang Pak Adit

    Perkenalkan saya Henry, kepala cabang Panin Sekuritas di Bandung.
    Seperti yang dijelaskan oleh pak Rudiyanto, cabang kami adalah agen penjual untuk produk reksadana Panin Asset Management (PAM). Jadi pak Adit bisa membeli reksadana PAM melalui cabang kami di Bandung.

    Sebelumnya mohon maaf untuk ketidaknyamanan pak Adit ketika akan membeli reksadana kami. Dalam menjual produk reksadana, kami mengikuti ketentuan sesuai dengan yang tercantum dalam prospektus. Termasuk untuk minimal transaksi di reksadana, akan sama dengan yang diterapkan oleh kantor Pusat PAM.

    Kami mohon maaf jika ada kesalahan informasi yang disampaikan oleh agen penjual kami yang mengatakan minimal transaksi adalah Rp 25 juta. Kalau tidak keberatan, pak Adit bisa menghubungi kami di 022 7321434 atau 022 4268127 untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Atau pak Adit juga bisa memberikan nomor telpon sehingga kita bisa menghubungi bapak.

    Terima kasih

  43. adit
    May 28th, 2013 at 20:15 | #45

    @Henry
    terima kasih kepada pa rudyanto sama pa henry atas penjelasannya.

  44. Teguh Wijayanto
    May 31st, 2013 at 17:25 | #46

    Salam Pak Rudi..
    Menyambung pertanyaan saya sebelumnya tentang portofolio yang optimal di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/05/25/feedback-berapakah-level-entry-ihsg-yang-anda-tunggu/#comment-128662

    1.Yang saya maksud optimal adalah hasil terbaik/ maksimal/ return tertinggi yang bisa diraih secara total dari portfolio yang dibentuk..

    2. Tujuan Investasi saya kira-kira 7-15 tahun kedepan…Saya melihat di http://www.infovesta.com , beberapa RD Saham Syariah memberikan return lebih dari 90% selama 3 tahun…Saya bingung apakah harus membeli beberapa reksadana itu sekaligus atau satu/dua RD sudah cukup…& Jika harus membeli lebih dari satu berapa porsinya..?
    Mohon pencerahannya Pak Rudi…Terima Kasih..

  45. Rudiyanto
    May 31st, 2013 at 18:27 | #47

    @Teguh Wijayanto
    Yth Pak Teguh,

    Terkait pertanyaan anda,
    1. Kalau return paling tinggi cukup beli satu reksa dana yang returnnya paling tinggi saja. Kalau beli dua, misalkan yang satu memberikan 10%, yang satu 20%, bukankah rata-rata anda jadi 15%. Kalau mau paling maksimal, beli saja yang returnnya 20%. Yang harus diperhatikan adalah kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang di masa mendatang. Kebanyakan orang membeli lebih dari satu reksa dana, menurut saya karena memang sifat dasar manusia yang suka membagi aset-asetnya ke dalam beberapa tempat. Terutama bagi mereka yang memiliki aset berkecukupan. Secara psikologis, membagi aset ke beberapa tempat membuat orang merasa nyaman. Tapi apakah bisa memperoleh return maksimal, ya tidak. Jawaban saya sesuai di atas, kalau memang mau cari maksimal ya harus di satu aset saja dengan asumsi returnnya nanti paling tinggi.

    2. Sudah membaca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ atau http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/12/11/mempersiapkan-pendidikan-anak-luar-negeri-sudah-siap/ ?

  46. atut
    July 16th, 2013 at 21:46 | #48

    Pak Rudiyanto, saya ingin tanya.

    Apakah ada reksadana saham yang pencairannya bisa langsung tanpa menunggu misalnya T+5?
    Soalnya jika ada tempo pencairan T+5, kita sangat susah untuk menentukan target NAB berapa yang kita akan keluar. Misalnya hari ini kita melihat IHSG -2.21% pada poin 4.401, kita mau cairkan reksadana saham kita dengan NAB yang berpatokan pada penutupan IHSG hari ini, itu tidak akan bisa, jika kita cairkan hari ini pasti mengikuti NAB besok yang belum kita ketahui pergerakan IHSG besok bagaimana.

    Jadi, pertanyaan saya apakah ada reksadana saham yang bisa dicairkan tanpa harus menunggu T+5?
    Kalau ada, reksadana saham dari sekuritas apa?

    Demikian juga reksadana obligasi, apakah ada yang tanpa menunggu pencairan T+2?
    Kalau ada, reksadana obligasi dari sekuritas apa?

  47. Rudiyanto
    July 17th, 2013 at 09:41 | #49

    @atut
    Dear Atut,

    Sebelum menjawab pertanyaan anda, boleh tahu apakah anda sudah pernah membeli reksa dana dan melakukan redemption?

  48. atut
    July 17th, 2013 at 12:35 | #50

    @Rudiyanto

    Sudah Pak Rudi, sudah ada 8 tahun saya membeli reksadana, namun untuk saat ini saya sudah redempt semua reksadana saya untuk sementara. Berhubung saya melihat pasar ada kemungkinan masuk ke zona bahaya.

    Jadi saya lagi persiapan apabila pasar ini sudah aman (kira-kira 2 tahun depan), saya akan mengincar dan membeli reksadana yang tidak kena tempo redemption T+X, tentu juga dari sekuritas yang ternama kalau ada.

  49. Rudiyanto
    July 17th, 2013 at 13:38 | #51

    @atut
    Kalau boleh tahu juga, apakah pada saat anda melakukan redemption, harga yang anda dapatkan itu adalah harga pada tanggal perintah transaksi dijalankan tapi terima duitnya bisa T+2 atau lebih, atau harga yang anda dapatkan tersebut itu harga yang t+2 dan terima duitnya lebih lama lagi?

  50. atut
    July 17th, 2013 at 14:17 | #52

    T+2 adalah harga yang saya dapatkan dari perintah transaksi. Artinya transaksi hari ini, kemudian terima duit nya T+2. Apakah ada yang bisa instant terima duit nya?

    Seperti deposito, dulu saya mencari alternatif investasi yang rate bunganya sama seperti deposito tapi redeem nya bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu jatuh tempo dan tanpa kena penalti. Sekarang sudah ada tabungan dengan rate bunga deposito yang bisa cair kapan saja.

    Karena saya sedang cari alternatif investasi yang cocok dengan kriteria dibawah ini:
    1. bisa dicairkan dalam waktu tersingkat
    2. bank/sekuritas ternama
    3. bunga tinggi
    4. kenaikan/bunga yang stabil
    5. aman

    Apakah ada instrumen investasi yang lain?
    Apakah ada investasi yang bunganya seperti obligasi korporate 9% tetapi bisa dicairkan kapan saja tanpa harus menunggu T+2?

  51. Rudiyanto
    July 17th, 2013 at 15:52 | #53

    @atut
    Kalau begitu, sudah jelas, berarti permasalahan anda adalah pada periode penerimaan dana.
    Sebagai informasi, proses T+2 itu dilakukan karena ada proses konfirmasi transaksi berhasil dan internal di masing-masing perusahaan yang tidak mungkin selesai dalam H+0.

    Dari kriteria yang anda sebutkan tersebut, berdasarkan pengetahuan saya, hanya deposito yang cocok dengan permintaan anda. Untuk obligasi korporasi, proses penjualan sama seperti reksa dana yaitu harus dijual dulu, bedanya bisa saja tidak ada yang beli, sementara kalau di reksa dana, Manajer Investasi harus membeli berapapun reksa dana yang anda jual.

    Pertanyaan saya, mengapa anda membutuhkan likuiditas yang sedemikian tingginya? apakah anda menggunakan dana operasional usaha untuk investasi? jika benar demikian, rasa-rasanya kurang cocok karena dana untuk investasi seharusnya dana menganggur / dana yang tidak mengganggu operasional sehari-hari.

    Apabila untuk market timing, maka juga tidak cocok dilakukan di reksa dana, karena sebaiknya market timing dilakukan di transaksi saham langsung saja.

    Jadi mungkin deposito yang bisa dicairkan sewaktu2 paling cocok untuk anda, tinggal berapa besar bunga yang anda minta. Tapi biasanya bank yang bersedia deposito breakable dengan bunga tinggi biasanya juga meminta nasabah menempatkan dalam jangka waktu tertentu.

    Semoga bermanfaat.

  52. atut
    July 17th, 2013 at 16:08 | #54

    Wah jawaban Pak Rudi benar2 bermanfaat, thanks banyak Pak Rudi sudah mau dengan sangat sabar menjawab saya.

    Sebelumnya saya memang suka di reksadana dengan menempatkan dana nganggur saya, tetapi belakangan ini kondisi market sangat tidak menentu, jadi saya redeem semua reksadana saya untuk bisa ditempatkan di instrumen yang likuiditas tinggi dengan bunga yang termasuk tinggi juga. Untuk berjaga-jaga apabila ada kesempatan yang bagus bisa saya langsung masuk ke sana.

    Contohnya saat ini saya redeem reksadana obligasi saya yang sedang anjlok dan saya masukin ke tabungan yang bunganya setara dengan deposito. Jadi saya tidak perlu menunggu tanggal jatuh tempo untuk redeem dan tidak kena penalti. Sebagian saya juga masuk ke USD, berhubung USD juga mempunyai likuiditas tinggi, nantinya saya bisa switch ke silver jika nanti GOLD memang turun ke 800. Sampai saatnya market sudah membaik, saya akan masuk kembali ke reksadana.

    Tetapi itu hanya pendapat saya. Jadi saat ini saya membutuhkan instrumen investasi yang likuiditas tinggi dengan bunga yang termasuk tinggi. Berarti tindakan saya sudah pas dengan jawaban Pak Rudi yaitu di sejenis deposito.

    Terima kasih, Pak Rudi.

  53. atut
    July 17th, 2013 at 20:33 | #55

    Pak Rudi, saya ingin tanya lagi. Apakah RD Pasar Uang bunganya selalu lebih tinggi dari Deposito?

  54. Rudiyanto
    July 18th, 2013 at 08:38 | #56

    @atut
    Tergantung juga. Kalau anda nasabah prioritas, biasanya bunga yang didapat sudah kurang lebih sama dengan reksa dana. Pada dasarnya banyak penempatan reksa dana pasar uang juga di deposito. Kemudian, jika berbasis obligasi, harganya bisa naik turun. Jadi kombinasinya bisa menyebabkan hasilnya di atas deposito tapi bisa juga di bawah.

    Semoga bermanfaat.

  55. atut
    July 18th, 2013 at 09:34 | #57

    I see, thank you Pak Rudi. Saya sudah mendapatkan pengetahuan baru dari Pak Rudi.

  56. Nadia Ratna
    July 31st, 2013 at 12:01 | #58

    Selamat siang,

    Perkenalkan nama saya Nadia Ratna, mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. Saat ini saya sedang mengerjakan skripsi dengan topik konsumen produk Reksa Dana. Melalui e-mail ini saya bermaksud untuk memohon bantuan menyebarkan kuesioner online. Link kuesioner dapat ditemukan di http://bit.ly/surveyreksadana .

    Dua responden yang beruntung akan mendapat hadiah buku “33 Strategi Reksa Dana” dan “Menyambut Pagi di Bromo, Melepas Penat di Raja Ampat”.

    Kiranya sekian yang dapat saya sampaikan. Bantuan Anda akan sangat bermanfaat bagi penyelesaian skripsi saya.

    Terima kasih banyak.

    Salam

  57. Rudiyanto
    July 31st, 2013 at 13:44 | #59

    @Nadia Ratna
    Udah saya bantu tweet ya..

    Ngomong2 ketika skripsinya sudah jadi, apakah Nadia berkenan jika saya mengundang kamu ke Panin Asset Management untuk mempresentasikan hasil tersebut?

  58. Windu
    August 14th, 2013 at 17:24 | #60

    Dear Pak Rudi,

    Mohon bantuannya, saya ingin menata kembali keuangan saya.
    Saya seoarang karyawan swasta dengan THP 12 Juta, usia 28 tahun, sudah menikah (belum memiliki anak) dan belum memiliki rumah.
    Pengeluaran rutin saya perbulannya adalah :
    Pengeluaran rumah tangga : 5 Juta
    Biaya adik kuliah : 1.2 Juta rupiah
    Internet, Telpon dan Tv Kabel : 1 Juta
    Tagihan CC : 1 juta
    Asuransi : 500 rb

    Tabungan saya pada saat ini 50 Juta rupiah dengan utang 8 juta (Credit Card).

    Mohon advicenya bagaimana kira2 agar saya bisa memiliki rumah sendiri dalam waktu 7 tahun ke depan, dan tetap bisa berinvestasi untuk mempersiapkan masa tua saya :)

    Mohon masukannya pak :)

  59. alex
    August 16th, 2013 at 11:47 | #61

    Salam Pak Rudi,

    Menurut bapak, bagaimana prospek untuk RDPT obligasi mengingat saat ini rd yg saya punya jg sedang turun sekitar 10-12 % dari pertama kali beli. Mohon pendapat Bapak sebagai pertimbangan untuk saya alihkan atau hold. Thanks

  60. Rudiyanto
    August 19th, 2013 at 16:48 | #62

    @Windu
    Salam Windu,

    Terus terang saya kagum, ternyata anak muda sekarang gajinya besar2. Tapi itu baguslah, artinya perkembangan kelas menengah yang selalu kita baca di koran benar2 terjadi pada hidup kita sehari-hari.

    Untuk menjawab pertanyaan anda tentunya harus dihitung terlebih dahulu berapa harga rumah 7 tahun ke depan dan berapa dana yang anda butuhkan untuk bisa pensiun.

    Katakanlah 7 tahun lagi anda mau memiliki 500 juta agar bisa membeli rumah seharga Rp 2 M dengan cara KPR. Maka dengan asumsi return 20%, anda perlu berinvestasi setiap bulan setidaknya 3 juta. Setelah itu, anda perlu membuat perencanaan bagaimana membayar KPR rumah tersebut setiap bulannya.

    Untuk pensiun katakanlah anda membutuhkan dana Rp 10 M di usia 55 atau 27 tahun dari sekarang, maka anda harus berinvestasi setidaknya Rp 1,2 juta per bulan.

    Saran saya kamu lunasi tagihan kartu kredit dan nanti kalau mau menikah jangan buat pesta yang terlalu mahal. Sisihkan sedikit juga untuk zakat.

    Semoga bermanfaat.
    Sebelumnya mohon maaf, saya mendapat teguran dari Pemimpin Redaksi langsung yaitu istri saya. Tegurannya saya tidak membaca dengan detail. Saya mohon maaf, untuk kalimat “kalau mau menikah jangan buat pesta yang terlalu mahal” waktu baca pertanyaan anda, saya bacanya akan mau menikah dalam waktu dekat. Saya mohon maaf atas kesalahan tersebut. Semoga rencana dana yang saya sebutkan buat pesta itu bisa menambah DP Rumah, he he.

  61. Rudiyanto
    August 19th, 2013 at 16:51 | #63

    @alex
    Salam Alex,

    Penurunan ini disebabkan karena inflasi yang di luar dugaan. Inflasi di luar dugaan ini karena timing kenaikan BBM yang terlambat. Namun nasi sudah menjadi bubur.

    Oleh karena itu, saran saya sebaiknya fokus pada tujuan investasi kamu pada awalnya, misalkan kamu ingin berinvestasi selama 2-3 tahun, ya ditunggu sampai waktu tersebut. Sebab momen kenaikan harga obligasi baru akan terjadi ketika inflasi sudah mulai mereda dan suku bunga bank turun.

    Pindah ke saham memang bisa membuat naik lebih cepat, tapi itu dengan catatan harganya naik. Bisa saja setelah kamu alihkan malah harga saham turun seperti yang terjadi hari ini di mana saham turun hingga 5%.

    Anda bisa juga averaging down atau mencoba berinvestasi di saham karena valuasi saham sudah agak murah. Semoga bermanfaat.

  62. Muha
    August 20th, 2013 at 09:28 | #64

    Salam Pak Rudiyanto,

    Kemarin Orang tua saya ditawari dari salah satu koperasi yang sdh berdiri sejak th 2008, yaitu Investasi dengan program simpanan berjangka. Dengan suku bunga 25% pertahun atau 2% perbulan. saya cek via online koperasi tersebut sudah punya legalitas; seperti Badan Hukum, izin dari Dinas koperasi Ukm dan perindustrian perdagangan, Izin Nasional unit simpan pinjam, SIUP,TDP,NPWP,HO semua ada…ketika saya tanya tentang kok berani koperasi bisa dan berani membayar 2% perbulan atau 25% pertahun? perwakilan koperasi menjawab; ” koperasi mengalokasikan dana dari nasabah untuk progam pinjaman kepada pelaku ukm/umkm dengan bunga 10-20% dengan sistem harian/mingguan..apakah investasi dengan program tersebut baik untuk orang tua, dan apakah koperasi tersebut bisa dikatan koperasi yang legal dengan program investasinya…dan Mohon ditambahi untuk resiko ketika bergabung menjadi nasabah koperasi tersebut…Terimakasih

  63. wahyu
    August 21st, 2013 at 04:17 | #65

    Pak Rudi, data sebagian besar saham pada tanggal 19 agustus kemarin menunjukkan sedikit koreksi. apakah menurut bapak ini adalah saat yang tepat untuk top up reksadana ? dan analisa bapak kapan titik terendahnya akan tercapai ? terimakasih

  64. Rudiyanto
    August 29th, 2013 at 11:36 | #66

    @Muha
    Salam Muha,

    Untuk legalitas sebaiknya bisa ditanyakan ke OJK di call center 021 500 655 atau http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/06/17/bagaimana-mengecek-legalitas-reksa-dana/

    Untuk koperasi sendiri sebetulnya saya tidak terlalu mengerti, sebab sepengetahuan saya, sistem koperasi itu bagi hasil. Artinya dia ambil dana dari anggota, kemudian dipinjamkan dengan bunga tertentu, hasilnya dipotong biaya operasional selanjutnya dibagi lagi kepada anggota sesuai proporsi keuntungannya.

    Koperasi sendiri juga sebetulnya masih bersifat sosial karena dari anggota untuk anggota. Jadi kalaupun dipinjamkan ke anggota, pasti dengan bunga yang bersahabat. Namanya juga koperasi.

    Tapi koperasi yang anda sebut, sudah seperti bank, karena dana diambil dari anggota kemudian dipinjamkan ke orang lain (saya tidak tahu anggota atau tidak) tapi kalau anggota sudah pasti tidak 10-20% per hari / per minggu karena itu sudah tidak sosial lagi. Memang harus diakui, meski bunganya tinggi, karena tidak bankable, masih banyak orang yang bersedia meminjam.

    Bank juga meminjamkan ke orang dengan bunga 30 – 40% per tahun untuk kartu kredit. Tapi pertanyaannya apakah bank memberikan bunga hingga 25% per tahun?

    Demikian pak Muha tanggapan saya, terus terang saya bukan ahli koperasi sehingga tidak tahu soal legalitasnya. Mengenai model bisnisnya, memang sangat menguntungkan tapi menurut saya agak kurang sosial.

    Demikian, semoga bermanfaat.

  65. Rudiyanto
    August 29th, 2013 at 11:36 | #67

    @wahyu
    Salam Pak Wahyu,

    Sudah saya jawab di posting terbaru, silakan di baca, terima kasih

  66. Windu
    September 9th, 2013 at 09:29 | #68

    Dear Pak Rudi,

    Terima Kasih atas sarannya,

    Kira-kira jika saya harus berinvestasi 3 juta perbulannya, instrumen investasi apa yang bapak sarankan?
    Dan investasi jangkan panjang untuk persiapan pensiun kira-kira yang paling tepat apa ya pak?

    Terima Kasih,

  67. Rudiyanto
    September 9th, 2013 at 09:38 | #69

    @Windu
    Salam Windu,

    Kalau anda tanya sama yang jualan reksa dana, jawabannya pasti di reksa dana.
    Kalau anda tanya sama financial planner, maka saran saya investasikanlah di sesuatu yang anda pahami. Sepanjang anda yakin bisa menghasilkan 20% per tahun, maka sudah cukup. Berbisnis sendiri juga termasuk berinvestasi. Yang penting menghindari investasi bodong.

    Semoga bermanfaat.

  68. Louice
    September 10th, 2013 at 11:04 | #70

    Pak. tolong tanya, dalam persamaan kinerja reksa dana:
    LnY=a+b1LnX1+b2LnX2+…
    mengapa dlm persamaan tersebut harus di Ln. kan?
    makasih pak..

  69. Rudiyanto
    September 11th, 2013 at 12:32 | #71

    @Louice
    Salam Louice,

    Sudah tanya sama yang buat rumus itu? atau sudah mencoba membaca buku teori dimana rumus tersebut ada? Coba baca juga di buku statistik atau buku forecasting yang membahas tentang penggunaan Ln. Semoga bermanfaat.

  70. Juli
    September 17th, 2013 at 08:18 | #72

    Alow pak

    Apakah bank diperbolehkan untuk membeli reksadana ?

    Pernah ada agen asuransi yg menunjukkan fund fact sheet unit link nya yg katanya dikelola oleh salah satu manajer investasi asing. Apakah perhitungan nab unit link dan nab reksadana sama perhitungannya? dan bagaimana mekanisme pengelolaan dana nsbh via unit link?

    thanks

  71. Rudiyanto
    September 18th, 2013 at 01:10 | #73

    @Juli
    Alow juga Juli,

    Setahu saya ada bank yang membeli reksa dana. Jadi seharusnya Bank diperbolehkan.

    Unit Link pada dasarnya sama dengan reksa dana. Bedanya reksa dana hanya berinvestasi di saham, obligasi dan pasar uang, unit link isinya bisa saham, obligasi, pasar uang dan reksa dana. Ada unit link yang dikelola sendiri sehingga sama seperti halnya reksa dana, ada juga unit link yang isinya reksa dana saja. Ada juga yang campuran dari reksa dana dan portofolio investasi langsung.

    Dalam kasus unit link yang isinya reksa dana, cara menghitung harganya sama saja dengan cara perhitungan NAB/Up reksa dana. Hanya isinya saja yang berbeda. Mekanisme pengelolaannya juga sama. Ada perusahaan asuransi yang rajin dan punya dukungan riset tangguh sehingga mengelola sendiri. Ada juga perusahaan asuransi yang lebih praktis dengan meng -outsource pekerjaan pengelolaan ke Manajer Investasi dengan berinvestasi di reksa dana dan hanya fokus pada penjualan saja.

    Demikian, semoga bermanfaat.

  72. Effendi
    September 28th, 2013 at 12:18 | #74

    dear pak Rudi,

    Saya sedang menyusun tulisan mengenai derajat diversifikasi. Menurut pak Rudi model pengukuran apa yang paling tepat untuk melihat derajat diversifikasi pada reksadana, dan apakah data yang diperlukan utk bisa didapatkan?

    Terima kasih sebelumnya utk masukan yang diberikan.

    • Rudiyanto
      September 28th, 2013 at 12:55 | #75

      Salam Effendi,

      Boleh dijabarkan seperti apa skripsi yang mau anda susun tersebut?

  73. Hasan Halim
    September 30th, 2013 at 15:00 | #76

    Dear Pak Rudi,

    Saya melihat Trimegah KAS (TKAS) pada tanggal 27 September 2013 mengalami kelonjakan yang sangat signifikan yaitu +92,97%. Kenapa hal ini bisa terjadi menurut Pak Rudi? Setahu saya untuk Reksadana Pasar Uang biasanya hanya berjalan di kisaran 4.5% pa.

    Kalau mau dibilang sangat disayangkan saya tidak masuk Trimegah KAS (TKAS) karena pada awal September saya sudah meminta form dari broker Trimegah untuk masuk TKAS tetapi saya tidak tanda tangani dan tidak saya kirim balik. Padahal jika saya tanda tangani dan kirim balik, tunggu hanya 20 hari saja saya sudah gain +92%, sangat disayangkan.

  74. Hasan Halim
    September 30th, 2013 at 15:35 | #77

    @Hasan Halim
    http://www.trimegah-am.com

    Produk 26 Sep 2013 27 Sep 2013 %
    DMKP 7,440.9555 7,449.0431 0.11
    TKAP 2,756.9109 2,757.6839 0.03
    TSYAS 1,374.6800 1,375.6300 0.07
    TKOM2 1,653.0300 1,653.2700 0.01
    TSYAB 1,976.7000 1,976.4200 -0.01
    TDAT2 1,604.3207 1,604.4525 0.01
    RTDS 2,004.3636 2,004.5284 0.01
    TKAS 1,038.7736 2,004.5284 92.97
    TCOP 1,171.9200 1,177.1800 0.45
    TPTUSD 1.0157 1.0133 -0.24
    TREF 1,171.5417 1,172.1717 0.05
    TPRIM6 1,201.9300 1,200.7100 -0.10
    TRRI 985.5800 984.5700 -0.10
    TRSF 1,025.2200 1,018.2600 -0.68
    TPRIM7 1,013.1600 1,013.5700 0.04
    TRIP 985.5800 1,026.4600 4.15
    TLES2 975.7600 969.2600 -0.67
    TALP 917.7900 918.8700 0.12
    TPRIMV 1,023.2900 1,023.5100 0.02
    TRAMASA 914.8500 915.0000 0.02

  75. Dedi Wahyudi
    September 30th, 2013 at 16:22 | #78

    Salam sejahtera pak Rudi,
    tanggal 30 agustus lalu saya membeli reksadana panin dana prima di kantor panin aset management yg di kelapa gading tapi sampai hari ini saya belum mendapat surat konfirmasinya dan user name dan pasword untuk login di website panin AM yg katanya akan di kirim melalui email juga saya belum terima, bisa kah pak Rudi membantu? Terima kasih pak dan jika pertanyaan saya ini tidak tepat di tulis di sini silakan di hapus saja. Satu lagi pak, selamat atas buku barunya, saya sudah beli langsung di gramedia.

  76. rezky reza pratama
    September 30th, 2013 at 17:29 | #79

    salam pak rudi,

    saya coba melihat prediksi pergerakan pasar modal pada 2014 yang akan berhadapan dengan pemilu 2014 sesuai tulisan bapak (PEMILU, Pilpres 2014 dan Pasar Modal Indonesia). tapi apakah ada potensi lain terjadi diluar pemilu 2014 dimana rupiah yang belum stabil, rencana bank sentral AS yaitu The Fed mengurangi program stimulusnya karena ekonomi AS membaik dan rencana revisi UU pasar modal. dari beberapa indikator tersebut bagaimana pandangan pak rudi untuk pasar modal indonesia di 2014?

  77. Rudiyanto
    October 1st, 2013 at 11:01 | #80

    @Hasan Halim
    Salam Pak Hasan,

    Kemungkinan ada kesalahan dalam penginputan data. Coba dibandingkan dengan http://www.infovesta.com. Semoga bermanfaat.

  78. Rudiyanto
    October 1st, 2013 at 11:02 | #81

    @Dedi Wahyudi
    Yth Pak Dedi Wahyudi,

    Sebelumnya saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Saya sudah sampaikan keluhan anda kepada marketing yang menangani anda langsung yaitu Ibu Evi dan Customer Service. Mudah2an bisa ditangani secepatnya.

    Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

  79. Rudiyanto
    October 1st, 2013 at 11:05 | #82

    @rezky reza pratama
    Salam Rezky,

    Selalu ada berita buruk yang berpotensi mengancam kestabilan perekonomian dunia. Sebab boom dan bust adalah satu kesatuan dari siklus yang tidak terpisahkan. Untuk itu, dalam berinvestasi dibutuhkan KEPERCAYAAN dan KEYAKINAN bahwa perusahaan2 yang kita beli tersebut masih tetap eksis dan memberikan keuntungan meskipun the Fed mau mengurangi stimulus, pasar modal mau merevisi UU dan lain2 serta KESABARAN bahwa pada akhirnya perusahaan yang menguntungkan tersebut akan tercermin pada harga sahamnya.

    Untuk 2014, mungkin nanti baru saya buat menjelang itu. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

  80. Rosa
    October 2nd, 2013 at 15:30 | #83

    Selamat sore dan salam kenal Pak Rudi,
    Sy rosa.. Saya adlh mahasiswa tgkat akhir dan sdang dlm proses penyusunan skripsi, tp sy masih bingung unk menentukan judul penelitian. Menurut bpk, permasalahan apakah di sekitar dunia pasar modal yg layak unk diteliti dan akan memberikan manfaat unk perkembangan dunia pasar modal? Sblmnya sy sdh mengajukan judul yg mengukur efektivitas rasio2 dlm analisis fundamental thdp return prshaan tertentu, tp kemudian sy ragu krn sy lihat sdh lmyan banyak penelitian sejenis, walaupun variabel dan alat ukurnya beda.. Sy mulai berpikir bahwa ini akan kurang berkontribusi unk bidang yg saya teliti.. Bagaimana menurut Bpk? Apakah dr pengalaman bpk di dunia pasar modal, kiranya ada suatu permasalahan yg layak unk diteliti??
    Terima ksh sblmnya pak….

  81. Rudiyanto
    October 3rd, 2013 at 14:14 | #84

    @Rosa
    Salam Rosa,

    Usul saya, Bagaimana cara membuat orang tertarik menjadi investor pasar modal? Atau bagaimana cara meningkatkan jumlah investor pasar modal 10 x lipat dalam 5 tahun.

    Semoga bermanfaat

  82. Rosa
    October 3rd, 2013 at 14:51 | #85

    @Rudiyanto
    Terima ksh banyak sebelumnya atas sarannya pak..
    Akan sy cari coba referensinya dulu.. :)

  83. Hasan Halim
    October 6th, 2013 at 19:01 | #86

    Selamat malam Pak Rudi,

    Sebelumnya mohon maaf jika pertanyaan saya tidak relevan dengan topik pembahasan di forum ini.

    Seperti yang kita ketahui bahwa investasi perak tidak kalah menariknya dengan emas. Di mana saat emas naik 20%, perak berpotensial naik hingga 35%. Namun sayangnya market perak di Indonesia masih belum terbuka padahal di luar negeri perak sudah diperjual belikan selayaknya emas.

    Apakah Pak Rudi tahu di mana di Indonesia saya bisa mendapatkan perak batangan merek internasional atau impor? Sudah lama (5 tahun) saya mencari perusahaan di Indonesia yang menjual perak batangan impor tetapi tidak ada satupun. Belakangan ini ada perusahaan baru di Jakarta, PT. Straits Bullion, yang menjual precious metals impor merek PAMP tetap saya sangat kecewa bahwa yang dijual hanya emas, tidak ada perak. Saya sudah desperate mencari informasi di mana saya dapat membeli perak batangan merek internasional di Indonesia untuk investasi.

    Apakah mungkin Pak Rudi mengetahuinya dan boleh memberikan saya informasi tersebut?

    Sekali lagi, mohon maaf jika pertanyaan saya tidak relevan dengan Pak Rudi. Terima kasih.

    Salam,
    Hasan Halim

  84. Dedi wahyudi
    October 7th, 2013 at 16:28 | #87

    Terima kasih Pak Rudi atas bantuannya, mohon maaf sudah merepotkan.

  85. Rudiyanto
    October 8th, 2013 at 11:07 | #88

    @Hasan Halim
    Salam Pak Hasan,

    Terus terang saya bukan ahli soal investasi komoditas seperti emas dan perak yang anda sebutkan. Dan saya yakin kalau anda sudah cari 5 tahun saja masih belum dapat, apalagi saya yang mungkin akan habiskan waktu sekitar 5 menit untuk cari di google.

    Dan mungkin masukan saya, jika untuk membelinya saja sudah sedemikian susah, apakah anda tidak membayangkan hal yang sama ketika anda menjualnya? Jika investasi sedemikian tidak likuidnya, apakah hal ini memang sesuatu yang kamu cari?

    Demikian pak Hasan, semoga masukan saya bermanfaat.

  86. Hasan Halim
    October 8th, 2013 at 16:14 | #89

    @Rudiyanto

    Betul juga Pak Rudi, ini menjadi dilemma juga bagi saya. Investasi perak di Indonesia memang tidak liquid, saat ingin menjualnya sangat susah mencari pembelinya. Tetapi bagaimana jika investasi perak ini bisa memberikan gain 3000% dalam 10 tahun? Tentu kita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Kalaupun tidak 10 tahun, katakan 15 tahun untuk gain 3000% juga merupakan gain yang fantastis.

    • Rudiyanto
      October 8th, 2013 at 17:17 | #90

      Salam Pak Hasan,

      Gain 3000% itu kan kalau kita beli Rp 1000 dan jual di Rp 31.000. Kalau misalnya tidak dijual ya namanya bukan gain pak, tapi unrealized gain.
      Kalau di reksa dana, dalam 15 tahun ada yang gain sampai 6500% apakah ini juga cukup fantastis bagi anda?

      Tapi sekali lagi, saya selalu menyarankan orang untuk investasi di tempat yang dia mengerti, jadi jika perak adalah passion anda silakan terus mencari pak.

  87. Hasan Halim
    October 8th, 2013 at 22:07 | #91

    @Rudiyanto

    Wah Pak Rudi, saya pertama kali mendengar nih reksa dana yang 6500% dalam 15 tahun? Kalau boleh tahu Pak Rudi, itu reksa dana apa, sekuritas apa dan periode dari tahun berapa sampai tahun berapa?

    Wah, 6500%, itu benar-benar super fantastis bagi saya. Bayangkan jika beli 100 juta, jadi 6,5 milyar dalam 15 tahun.

  88. Rudiyanto
    October 9th, 2013 at 13:54 | #92

    @Hasan Halim
    Salam Pak Hasan,

    Di http://www.infovesta.com adalah data harga dan return reksa dana di seluruh Indonesia. Pada tabel reksa dana, kamu bisa lihat berapa harga dan return masing2 reksa dana berdasarkan jenisnya.

    Semua reksa dana yang konvensional dimulai selalu dari harga Rp 1000. Jadi jika ada reksa dana yang harganya Rp 11.000 berarti dia sudah untung 10.000 atau 1000%. Silakan di cek saja pak.

    Semoga bermanfaat

  89. Hasan Halim
    October 9th, 2013 at 16:10 | #93

    @Rudiyanto

    Wah Pak Rudi, tidak sangka rupanya Panin Dana Maksima sudah 62.000an, gila banget. Apakah bisa split atau ada rencana split? Apakah akan berlanjut terus atau stop kemudian luncurin produk reksadana saham yang lain tapi serupa dengan Panin Dana Maksima?

  90. Teguh Wijayanto
    October 9th, 2013 at 23:13 | #94

    Salam Pak Rudi…

    Pak saya baru saja membeli buku “Sukses Finansial Dengan Reksadana ” milik Bapak…

    saya sudah baca halaman 205 dst, yang mau saya tanyakan adalah : data indeks reksadana saham mulai tahun 2006-2010 itu data asli yang memang benar-benar terjadi atau data fiktif yang hanya untuk simulasi saja Pak…??
    Karena jika data itu benar mau saya pakai utk bahan skripsi saya Pak…

    Terima Kasih…

  91. Rudiyanto
    October 10th, 2013 at 13:33 | #95

    @Hasan Halim
    Salam Pak Hasan,

    Pertanyaannya saya untuk apa reksa dana di split?

  92. Rudiyanto
    October 10th, 2013 at 13:34 | #96

    @Teguh Wijayanto
    Salam Pak Teguh,

    Terima kasih untuk dukungannya.
    Data indeks reksa dana adalah data asli yang diambil dari http://www.infovesta.com.
    Harap ditulis sumber yang benar ketika menggunakannya.

  93. Teguh Wijayanto
    October 10th, 2013 at 15:25 | #97

    Yth Pak Rudi…
    Untuk Indeks Reksa Dana tiap bulan di buku Bapak itu dihitungnya secara rata-rata selama satu bulan atau bagaimana Pak..

    Misal utk bulan Nov 2010 (tgl 1 – 30 Nov 2010) saya ambil data dari http://www.infovesta.com/ , indeks reksadana saham adalah :
    6607.7763 ; 6575.0085 ; 6518.8196 ; 6580.9413 ; 6646.8924 ; 6730.4824 dst

    Jika dijumlah = 139179.986 lalu dibagi jumlah data 21 hasilnya 6627.618

    Tapi di buku Bapak data indeks reksadana saham bulan Nov 2010 = 6354.73

    Mohon Pencerahannya Pak Rudi…Terima Kasih Banyak…

  94. Rudiyanto
    October 10th, 2013 at 15:46 | #98

    @Teguh Wijayanto
    Yth Pak Teguh,

    Indeks yang saya pakai adalah indeks pada akhir bulan november. Jadi bukan di rata-ratakan. Untuk informasi lebih lanjut silakan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/03/07/mengenal-benchmark-reksa-dana-yang-apple-to-apple/ Atau ditanyakan langsung dengan infovesta karena saya sudah tidak bekerja di situ.

    Semoga bermanfaat.

  95. Hasan Halim
    October 12th, 2013 at 08:34 | #99

    Dear Pak Rudi,

    Apakah ada reksadana yang investasinya ke semua jenis efek:
    - efek ekuitas
    - efek utang
    - efek pasar uang
    - efek pendapatan tetap
    - efek obligasi
    - efek deposito
    - efek lain-lain yang tidak disebutkan diatas

    Besarnya persentasi pada efek tertentu adalah tergantung padandangan dan cara Manager Investasi alokasi berdasarkan situasi dan kondisi ekonomi pada saat itu.

    Contoh misalnya begini:
    - Pada minggu pertama, saham semua pada turun, Manager Investasi mengalokasi dengan porsi efek ekuitas 5%, deposito 10%, pasar uang 10%, obligasi 10%, pendapatan tetap 65%
    - Pada minggu kedua, saham kelihatan mulai membaik, Manager Investasi mengalokasi dengan porsi efek ekuitas 30%, pendapatan tetap 50%, efek lain-lain 20%
    - Pada minggu ketiga, saham mulai bullish, Manager Investasi mengalokasi dengan porsi efek ekuitas 70%, pendapatan tetap 10%, efek pasar uang 5%, efek obligasi 5%, efek lain-lain 10%
    - Pada minggu keempat, saham menunjukkan bullish, Manager Investasi mengalokasi dengan porsi ekuitas 95%, pendapatan tetap 5%

    Jadi porsi alokasi efek nya sangat fleksibel tergantung situasi dan kondisi ekonomi. Apakah ada reksadana yang begitu?

  96. Rudiyanto
    October 12th, 2013 at 11:49 | #100

    @Hasan Halim
    Dear Pak Hasan,

    Pertanyaan saya, kalau konteks pertanyaan anda adalah reksa dana dengan tindakan di atas akan menghasilkan kinerja yang baik mengapa anda tidak melihat dari besaran return yang dihasilkan setiap tahunnya?

    Sebab bisa saja semua orang mengklaim seperti di atas, sehingga logikanya pada saat saham turun dia tidak rugi, atau bahkan untung dan ketika saham naik, kenaikannya yang paling tinggi. Tapi tentu hasil yang menentukan apakah benar demikian atau tidak. Dan jika memang pernah terjadi apakah konsisten setiap tahunnya.

    Sebagai informasi instrumen investasi reksa dana adalah saham, obligasi dan deposito. Semua jenis reksa dana konvensional yaitu saham, pendapatan tetap dan campuran diperbolehkan berinvestasi di ketiga instrumen tersebut, yang berbeda hanya batasan maksimal dan minimalnya.

    Semoga bermanfaat

  97. redha
    October 19th, 2013 at 13:21 | #101

    saya tertarik ikut, panin saham syariah .. kemn saya harus mencari Manajer Investasi
    PT Panin Asset Management untuk mendapatkn formulir dan mendaftar di daerah banjarmasin – banjarbaru. tks

  98. Rudiyanto
    October 20th, 2013 at 23:44 | #102

    @redha
    Malam Redha,

    Terima kasih atas kepercayaan anda, namun sangat disayangkan pada saat ini kami masih belum memiliki cabang pada kota tersebut.

    Mungkin anda bisa menghubungi agen penjual kami di Pontianak dengan informasi sebagai berikut:
    Pontianak
    Komp.Villa Gama Blok D No.26
    Jl. Budi Karya
    Pontianak 78121 – Indonesia
    Tel.: (62-561) 748 888
    Fax: (62-561) 767 300
    E-mail: pontianak@pans.co.id

    Semoga beruntung.

  99. Antung Febby
    October 21st, 2013 at 20:26 | #103

    Pak rudy saya ingin membeli reksadana (secara berkala)
    adapun tujuan investasi saya adalah jangka panjang (untuk dana pensiun) saya pengusaha saat ini usia 28 tahun.
    untuk kesehatan keuangan saya sudah monitoring masih aman, tidak ada hutang konsumtif dan sudah ada asuransi untuk keluarga kecil saya.
    saya bingung memilih apakah membeli PDM (yg mnrt saya NAB nya sudah tinggi) atau pilih Panin Dana Prima (meskipun sama2 rd saham tetapi NAB masih di 5rb an)
    rencana investasi saya adalah 2jt perbulan dengan niat akan top up setiap akhir tahun jika ada laba usaha lebih.
    menurut pak rudi mana yg lebih cocok saya pilih apakah PDM atau PDP,
    apakah lebih baik saya membeli reksadana yg sudah punya ctatan kinerja yang oke meskipun NAB nya sudah tinggi? kalau dari kacamata saya yang awam ini maka saya akan memilih rd yang nab nya masih cukup murah karena peluang untuk meningkat nya tinggi (itu mnrt saya)
    jangka investasi saya adalah lebih dari lebih dari 20 tahun.
    semoga pak rudy berkenan menjawab pertanyaan saya.. dan semoga kebaikan pak rudy berbagi ilmu melalui blog ini mendapatkan balasan yang terbaik dari Nya. terima kasih

  100. Fikar
    October 22nd, 2013 at 09:30 | #104

    Salam,

    Baru saja saya membaca artikel di Kontan yang bertajuk “Aturan Ases Dasar di RDPT Di perketat”
    (http://investasi.kontan.co.id/news/aturan-aset-dasar-rdpt-diperketat)

    Ada beberapa hal yang kurang saya fahami, terkait berita tersebut.
    1. Jenis – jenis reksadana yang selama ini saya fahami terdiri dari Reksadana Pasar uang, Pendapatan Tetap, terproteksi, Campuran, dan Saham. Meskipun saya pernah baca ada tapi tidak terlalu faham untuk reksadana Index, Berdominasi Dolar dan ETF. Untuk Reksadana.Penyertaan Terbatas (RDPT) masuk dalam kategori Reksadana yang mana, atau RDPT ini memang merupakan salah satu jenis reksadana seperti yang saya sebut diatas ?

    2. “Beleid tentang reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif……. “(alenea ke dua) — bukankah semua RD saat ini bentuknya adalah KIK ? Kalau begitu apakah maksudnya semua RD hanya boleh di putar di sektor Riil?

    3. “RDPT hanya boleh ditawarkan ke pada pemodal profesional…..”(alenea ke-5) — kenapa masyarakat biasa tidak boleh memiliki RDPT?

    4. Saat kita membeli suatu produk RD, unit penyertaan yang diperoleh adalah sebesar nilai investasi dibagi NAB, kalau NAB awal ditetapkan sebesar 5 milayar untuk RDPT berdenominasi mata uang asing, apakah hal ini berlaku untuk semua jenis RD juga?

    5. Kalau sekiranya yang dimaksud dengan RDPT itu adalah semua jenis RD yang sudah ada saat ini, apakah mereka yang saat ini memegang RD tertentu harus keluar (redempt)?

    Terima kasih atas penjelasan bapak

Comment pages
1 2 3 6 2579

 


%d bloggers like this: