Archive

Archive for the ‘Belajar Reksa Dana’ Category

Ini Cara Untuk Mengukur Saham (IHSG) Sudah Mahal atau Masih Murah?

January 29th, 2018 No comments

Ilustrasi Pergerakan Harga SahamIndeks Harga Saham Gabungan atau sering disebut IHSG yang terus menerus mencetak rekor baru merupakan berita positif bagi investor. Meski demikian, ada yang berpendapat bahwa saat ini IHSG sudah terlalu tinggi, sehingga memilih melakukan profit taking atau menunda rencana investasi sambil menunggu koreksi pasar.

Selain “tinggi dan rendah”, ada juga yang menyebutkan dengan istilah “mahal dan murah”. Dalam konteks pasar modal, istilah yang lebih tepat adalah “mahal dan murah”. Bagaimaan cara untuk mengukur mahal dan murahnya saham?

Istilah mahal dan murah bagi orang awam mengacu pada harga. Namun bagi pelaku di pasar modal, istilah mahal dan murah tidak mengacu pada harga melainkan pada valuasi. Valuasi daripada IHSG dihitung dengan membandingkan antara harga dengan laba bersihnya.

Misalkan saat ini IHSG di level 6600, kemudian total dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menghasilkan laba bersih setara dengan 300, maka valuasi daripada IHSG adalah 6600 dibagi 300 = 22 kali.

Angka 22 kali ini dalam istilah pasar modal ini disebut dengan Price Earning Ratio (PE Ratio) sering juga disingkat dengan PER. Angka PER inilah yang selanjutnya digunakan oleh investor di pasar modal untuk menentukan mahal murahnya saham ataupun IHSG secara keseluruhan.

Semakin tinggi PER, maka semakin mahal valuasi saham, sebaliknya semakin rendah PER, maka semakin murah valuasi saham. Dalam bahasa awam, PER juga bisa diistilahkan waktu kembali modal. Misalkan suatu perusahaan memiliki PER 20 kali, maka bisa dianalogikan jika perusahaan mengembalikan semua laba bersihnya kepada pemegang saham, maka 20 tahun lagi semua investasi yang ditanamkan akan terbayarkan sepenuhnya.

Harga saham bisa naik dan turun setiap hari mengikuti dinamika permintaan dan penawaran di bursa. Laba bersih juga bisa naik turun namun periodenya tidak setiap hari melainkan 3 bulanan sesuai dengan publikasi laporan keuangan.

Angka IHSG sendiri tidak cocok untuk digunakan untuk menyatakan mahal murah karena bersifat sangat relatif. Sebagai contoh, dengan IHSG saat ini di level 6600an, maka angka 6000 akan dianggap sebagai level yang murah dan memicu banyak investor untuk melakukan investasi.

Padahal, seandainya angka 6000 terjadi di tahun 2017 atau bahkan 2016 sudah dianggap tinggi dimana pada titik tersebut, akan banyak investor yang melakukan realisasi keuntungan (profit taking). Jadi sekali lagi angka IHSG adalah relatif, tergantung pada tahun berapa angka tersebut terjadi. Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Ingin Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap? Ini yang Harus Dipahami

November 28th, 2017 2 comments

Selama 2016 dan 2017, jenis reksa dana pendapatan tetap menunjukkan kinerja yang sangat baik, bahkan lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Meski demikian, investor tetap perlu memahami risiko dan cara kerja reksa dana ini.

Reksa dana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang kebijakan investasinya minimal 80 persen ditempatkan ke obligasi. Obligasi memiliki karakteristik yang berbeda dengan saham sehingga diperlukan analisa yang berbeda pula.

Berikut hal-hal yang harus investor pahami sebelum berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap: Read more…

Apa Dampak Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana?

October 25th, 2017 2 comments

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar beberapa waktu belakangan ke level 13.500an menjadi perhatian karena sejak awal tahun selalu bertahan di 13.100 – 13.300.

Apa kira-kira penyebab fluktuasi nilai tukar ini dan seberapa jauh dampaknya terhadap kinerja reksa dana?

Menguat dan melemahnya nilai tukar mengikuti prinsip permintaan dan penawaran. Semakin banyak permintaan terhadap rupiah, maka nilai tukar akan menguat. Sebaliknya, apabila semakin banyak permintaan terhadap dollar AS, maka nilai tukar rupiah akan melemah.

Pemicu dari permintaan penawaran ini amat beragam mulai kebutuhan untuk membayar dividen dan bunga hutang luar negeri, ekspor impor barang dan jasa, transfer devisa, kegiatan investasi dari investor asing ke sektor riil dan instrumen pasar modal seperti saham dan obligasi, kebijakan suku bunga di Indonesia dan Amerika Serikat, keyakinan terhadap kondisi perekonomian hingga intervensi dari bank sentral negara setempat.

Umumnya, penyebab dari fluktuasi nilai tukar merupakan kombinasi dari faktor-faktor di atas, namun terkadang ada pula satu isu tertentu yang perannya lebih dominan. Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Penurunan BI Rate, Apa Artinya untuk Investasi Reksa Dana?

September 26th, 2017 1 comment

Cutting interest rates

Efektif per tanggal 25 September 2017, suku bunga acuan Bank Indonesia atau dikenal juga dengan BI Reverse Repo Rate diturunkan dari 4,5 persen menjadi 4,25 persen. Apakah penurunan tersebut memiliki dampak terhadap investasi reksa dana?

Disebut suku bunga acuan, karena informasi tersebut dijadikan oleh perbankan di Indonesia dalam menentukan tingkat suku bunga, mulai dari bunga simpanan seperti tabungan, giro, deposito hingga pinjaman seperti kredit modal kerja, kredit kepemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan, hingga kredit tanpa agunan (KTA).

Bagaimana efeknya terhadap reksa dana? Jenis reksa dana apa saja yang terdampak dan apakah positif atau negatif. Secara umum, jenis reksa dana terkena dampak langsung terhadap perubahan suku bunga acuan adalah reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran. Read more…

Ini Beda Investasi Langsung pada Saham vs Reksa Dana Saham

September 20th, 2017 4 comments

Businessman trader working in the office.

Reksa dana saham adalah reksa dana yang kebijakan investasinya minimum 80 persen ditempatkan pada efek saham.

Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan. Dalam konteks pasar modal, saham perusahaan yang telah go public dapat diperjualbelikan. Investor bisa membeli langsung saham perusahaan yang go public ataupun tidak langsung melalui reksa dana saham yang dikelola manajer investasi.

Baik saham maupun reksa dana saham, dikenal sebagai instrumen investasi yang high risk high return. Untuk itu investor perlu memahami perbedaan antara kedua instrumen ini sebelum melakukan kegiatan berinvestasi. Read more…

Ini Beda Investasi Langsung pada Obligasi Vs Reksa Dana Pendapatan Tetap

September 5th, 2017 No comments

Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah reksa dana yang kebijakan investasinya minimal 80 persen pada surat berharga dalam bentuk hutang atau obligasi.

Obligasi adalah surat pernyataan hutang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi yang berisi janji untuk membayar kembali pokok dan atau bunga pada tanggal jatuh tempo.

Salah satu produk pasar obligasi yang dikenal umum adalah ORI (Obligasi Ritel Indonesia) dan Sukuk Ritel (Obligasi ritel berbasis syariah) yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Selain pemerintah, obligasi juga banyak diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan swasta. Perbedaan utama antara obligasi yang diterbitkan swasta dengan pemerintah adalah pada risiko gagal bayarnya.

Obligasi pemerintah hampir pasti tidak akan gagal bayar sementara obligasi swasta memiliki potensi gagal bayar. Kemampuan penerbit obligasi dalam melakukan pembayaran hutang dinilai dalam bentuk rating yang dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat.

Fitur lain dari obligasi adalah adanya kupon atau bunga yang dibayarkan setiap periodenya. Umumnya obligasi pemerintah membagikan kupon setiap 6 bulan dan khusus untuk ORI dan Sukuk Ritel setiap bulan, sementara obligasi swasta membagikan kupon setiap 3 bulan.

Dalam rangka pemenuhan terhadap prinsip syariah, terdapat juga obligasi syariah yang dikenal dengan istilah Sukuk.

Ada 2 jenis sukuk, yaitu Sukuk Ijarah dengan sistem sewa yang memiliki imbal hasil tetap, dan Sukuk Mudharabah dengan sistem bagi hasil yang imbal hasilnya tidak tetap. Fitur ini mirip dengan sistem Kupon Tetap dan Kupon Variabel pada obligasi konvensional.

Obligasi biasanya dijual kepada umum di pasar perdana melalui penawaran umum (Initial Public Offering – IPO) kepada masyarakat luas. Meski demikian, investor juga dapat memperolehnya di pasar sekunder dengan membeli obligasi yang dimiliki oleh investor lainnya.

Sebagai investor, tentu kita bisa berinvestasi langsung pada obligasi ataupun secara tidak langsung melalui reksa dana pendapatan tetap. Berikut ini adalah perbedaan dari kedua cara tersebut : Read more…

Asumsi Inflasi dan Return Reksa Dana dalam Perencanaan Keuangan (1)

July 31st, 2017 No comments

Cakupan dalam ilmu perencanaan keuangan amat luas. Mulai dari pengaturan pemasukan dan pengeluaran, dana darurat, asuransi, investasi, pensiun, pajak, hingga warisan.

Dari semua ilmu tersebut, menurut saya, bagian yang paling sulit adalah investasi karena menggunakan asumsi yang belum diketahui kepastiannya pada masa depan.

Dua asumsi yang dibutuhkan adalah asumsi inflasi dan asumsi imbal hasil investasi. Asumsi inflasi dibutuhkan untuk memprediksi berapa nilai kebutuhan pada masa mendatang seperti biaya pensiun dan biaya pendidikan anak, sementara asumsi hasil investasi dibutuhkan untuk menghitung besaran nilai yang yang harus diinvestasikan mulai dari sekarang.

Tingkat inflasi di negara berkembang seperti Indonesia umumnya lebih fluktuatif dibandingkan tingkat inflasi di negara maju. Tingkat inflasi umumnya dipengaruhi oleh harga komoditas, permintaan dan penawaran, serta ketersediaan infrastruktur. Read more…

Kelas Investor Ready – Juli 2017

July 16th, 2017 No comments

Investor Ready Juli 2017

 

Buat yg mau belajar perencana keuangan dan reksa dana yg dibawakan langsung dari ahlinya silakan berpartisipasi pada Sekolah Reksa Dana Dewan APRDI – Investor Ready yg diselenggarakan pada
29 Juli 2017 jam 8.00 WIB – 13.00 WIB

Untuk pendaftaran silakan hubungi Sekretariat APRDI di 021 5150488 dan 0812 8730 1087
Email investor.ready@aprdi.co.id

Bagi komunitas atau kelompok mahasiswa dengan minimum 20 peserta, juga dapat mengundang APRDI untuk kelas khusus

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
%d bloggers like this: