Archive

Archive for the ‘Belajar Reksa Dana’ Category

Prediksi Return Reksa Dana Pendapatan Tetap Dengan Yield Obligasi

January 2nd, 2019 No comments

Prediksi untuk return reksa dana berbasis saham biasanya lebih mudah ditemui karena menggunakan IHSG sebagai acuan. Bagaimana dengan reksa dana pendapatan tetap yang aset dasarnya obligasi?

Jika anda seorang analis, dosen, atau peneliti di universitas, tidak sulit untuk menemukan literatur atau buku yang membahas tentang prediksi harga / return saham. Ada yang menggunakan rata-rata statistik, fundamental berdasarkan rasio keuangan, dan atau data-data makro ekonomi seperti nilai tukar, GDP dan sebagainya.

Namun untuk mencari literatur yang membahas tentang prediksi return obligasi amat jarang. Mengapa? Sebab secara prinsip obligasi memiliki besaran kupon yang tetap dan tanggal jatuh tempo yang sudah pasti. Return obligasi sederhananya sudah tidak perlu diprediksikan lagi, cukup menjadikan kupon sebagai tingkat return dan sudah pasti (kecuali perusahaan gagal bayar).

Dalam kasus jika obligasi dibeli pada harga pasar yang bisa di atas atau di bawah nilai nominal (par value) ada metode Yield to Maturity (YTM) yang menghitung besaran tingkat keuntungan obligasi dari kupon dan selisih harga jika dipegang sampai jatuh tempo.

Secara matematis, jika obligasi dibeli pada nilai nominal, maka besaran YTM akan sama dengan kupon. Jika di atas nilai nominal (at premium) maka YTM lebih kecil dari kupon dan sebaliknya jika di bawah nilai nominal (at discount) maka YTM lebih besar dari kupon.

Jadi yang namanya return obligasi itu sebetulnya tidak perlu lagi diprediksikan karena sudah bisa dipastikan. Risiko paling besar adalah jika perusahaan ternyata gagal bayar meskipun secara persentase, jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan yang melunasi kewajibannya.

Yang menjadi permasalahan adalah ketika instrumen obligasi tersebut dijadikan aset dasar reksa dana terutama jenisnya reksa dana pendapatan tetap.

Karakter dari reksa dana dan saham pada dasarnya sama yaitu tidak ada jatuh tempo. Investor bebas melakukan pembelian dan penjualan reksa dana.

Jika terjadi pembelian reksa dana, maka manajer investasi harus membeli obligasi baru untuk dijadikan aset dasar, sebaliknya ketika ada penjualan reksa dana, manajer investasi harus menjual isi obligasinya. Alhasil isi obligasi dalam reksa dana pendapatan tetap bisa berubah dari waktu ke waktu.

Kupon dan Yield to Maturity bisa dijadikan sebagai tingkat return, jika dan hanya jika investor memegang obligasi hingga jatuh tempo. Namun mengingat karakteristik reksa dana yang tidak memungkinkan untuk hal tersebut, maka kedua metode ini tidak dapat digunakan untuk memprediksikan kinerja reksa dana pendapatan tetap.

Secara historis, dengan kupon yang tetap sekalipun, reksa dana pendapatan tetap juga bisa membukukan kinerja return negatif. Sebagaimana pada tabel di bawah ini, kinerja negatif terjadi pada tahun 2005, 2013 dan 2018.

Tahun Rata-rata Reksa Dana Pendapatan Tetap
2005 -1.67%
2006 17.73%
2007 7.98%
2008 4.12%
2009 12.51%
2010 13.00%
2011 12.32%
2012 7.72%
2013 -4.53%
2014 7.85%
2015 3.00%
2016 8.02%
2017 10.72%
2018 -2.20%

Sumber: Infovesta.com, diolah

Dari data tabel di atas, juga menunjukkan tahun-tahun dimana return reksa dana pendapatan tetap sempat mencapai dua digit atau belasan persen. Memang pada waktu itu, kupon obligasi juga sempat dua digit, namun tidak sampai sebesar itu.

Dari data return yang positif dan negatif, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh perubahan harga obligasi terhadap return reksa dana pendapatan tetap juga cukup dominan. Bahkan terkadang, penurunan harga bisa menghilangkan efek dari kupon obligasi.

Untuk itu, dalam memprediksi return reksa dana pendapatan tetap, sangat penting untuk bisa mencari tahu terlebih dahulu faktor yang dapat mempengaruhi perubahan harga obligasi.

Bagaimana caranya ? Untuk pembahasan lebih lengkap silakan baca dalam blog saya di https://rudiyanto.blog/2019/01/02/prediksi-return-reksa-dana-pendapatan-tetap-dengan-yield-obligasi/

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

New Blog : Rudiyanto.Blog

December 1st, 2018 No comments

Typewriter with words time for new content

Per 1 Desember 2018, saya akan memulai blog baru dengan alamat Rudiyanto.Blog. Semua post dan comment yang ada di blog Kontan ini juga terdapat disana.

Saat ini content edukasi telah berkembang dari tulisan menjadi video, sementara melalui blog ini masih ada keterbatasan terutama ketika mau melakukan upload materi video dan link ke sosial media. Tampilan pada Blog Baru juga lebih mobile friendly.

Semua content yang ada di rudiyanto.blog.kontan.co.id masih akan tetap ada dan tulisan juga akan terus di update. Namun untuk sharing dalam bentuk video atau link ke sosial media bisa dilihat pada blog baru.

Terima kasih

Typewriter with words time for new content

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Membandingkan Kinerja Dollar dan Reksa Dana Berbasis Dollar

October 7th, 2018 No comments

Dollar dan Reksa Dana Dollar

Dengan nilai tukar Rp terhadap USD yang menembus level psikologis Rp 15.000, ada investor yang mulai memikirkan reksa dana USD sebagai salah satu alternatif investasinya. Yang menjadi pertanyaan, apakah ketika USD menguat terhadap Rp, reksa dana dollar juga menunjukkan kinerja yang positif ?

Jumlah reksa dana USD telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal mulanya jenis reksa dana dengan denominasi USD hanya terdapat di jenis reksa dana pendapatan tetap, namun saat ini sudah bervariasi dan bisa dijumpai juga pada reksa dana pasar uang, campuran, saham, terproteksi dan Syariah Efek Global.

Meski menggunakan USD sebagai mata uang, tidak berarti reksa dana USD berinvestasi di luar Indonesia. Sebaliknya, hal yang sama berlaku juga untuk reksa dana dengan mata uang Rp, ada juga yang berinvestasi di luar negeri. Untuk itu, mari kita pahami dulu karakteristik reksa dana USD dan peraturan OJK untuk investasi di luar negeri. Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Mengenal Industri Pengelolaan Investasi di Indonesia

October 4th, 2018 3 comments
Ilustrasi rupiah.(THINKSTOCKS/FITRIYANTOANDI) - Kompas.com

Ilustrasi rupiah.(THINKSTOCKS/FITRIYANTOANDI) – Kompas.com

Salah satu indikator suatu industri sedang berkembang adalah adanya Asosiasi yang menaungi industri tersebut. Industri reksa dana merupakan industri yang berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Seperti apa asosiasi yang menaungi industri ini?

Keberadaan asosiasi tentang bisnis yang umumnya dikenal oleh masyarakat sebagai contoh seperti KADIN (Kamar Dagang dan Industri), Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Bankir Indonesia, Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), HIMBARA (Himpunan Bank Milik Negara), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia dan lain sebagainya.

Selain berfungsi sebagai wadah yang menampung para anggotanya, asosiasi juga memiliki banyak fungsi penting seperti sebagai perwakilan pada saat diskusi dengan regulator, memberikan izin sertifikasi, pendidikan dan pelatihan lanjutan, hingga menangani kode etik dan atau menyelenggarakan mediasi apabila terjadi sengketa.

Ciri-ciri asosiasi yang kredibel adalah memiliki akte pembentukan yang disahkan oleh notaris, pembentukannya memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam peraturan dan perundangan, terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, memiliki susunan ketua dan kepengurusan, menyelenggarakan Rapat Umum Anggota secara reguler, diakui oleh regulator yang mengawasi dan memberikan nilai tambah bagi anggotanya dalam bentuk seperti penyelenggaran pelatihan.

Untuk menunjang kegiatan operasional dan melakukan pengembangan, sumber pendanaan asosiasi dapat berasal dari iuran para anggota, biaya penyelenggaraan latihan, dan sumbangan dari anggota maupun pihak luar. Untuk itu, asosiasi yang profesional biasanya diaudit dan hasilnya disampaikan kepada para anggota.

Sejak reksa dana pertama kali terbentuk pada tahun 1997, dana kelolaan industri reksa dana pada bulan September di sekitar Rp 500 Triliun, dengan 90 perusahaan manajer investasi, 37 perusahaan agen penjual, 20 perusahaan Bank Kustodian, sekitar 2000an perorangan untuk pemegang izin Wakil Manajer Investasi dan lebih dari 20.000an perorangan pemegang izin Wakil Agen Penjual Reksa Dana.

Dengan industri yang semakin berkembang dengan segala kompleksitasnya, apalagi reksa dana termasuk dalam industri keuangan yang mendapat regulasi secara ketat, keberadaan asosiasi sangatlah penting. Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Mengenal Reksa Dana Terproteksi

May 23rd, 2018 No comments

Reksa Dana Terproteksi Kompas

Reksa Dana Terproteksi atau dikenal dengan Capital Protected Fund (CPF) merupakan jenis reksa dana yang memberikan proteksi atas nilai investasi awal, apabila pemegang unit penyertaan memegang reksa dana tersebut hingga tanggal jatuh tempo melalui mekanisme pengelolaan portofolio investasi. Secara periodik reksa dana terproteksi juga melakukan pembagian hasil investasi dalam bentuk dividen.

Meski terkesan aman dan karakternya menyerupai deposito, reksa dana ini tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Calon investor jenis reksa dana ini perlu memahami lebih lanjut sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Secara kebijakan, reksa dana terproteksi pada dasarnya hampir sama dengan reksa dana pendapatan tetap, yaitu menempatkan sebagian besar portofolio investasinya pada instrumen surat hutang. Perbedaannya terletak pada cara mekanisme pengelolaannya.

Investor reksa dana terproteksi membeli surat hutang dan menahannya hingga jatuh tempo (hold to maturity), sementara reksa dana pendapatan tetap mengelola secara aktif dan jika diperlukan, bisa melakukan jual beli (trading).

Karena mekanisme pengelolaan dengan cara membeli surat hutang dan memegangnya hingga jatuh tempo itulah, maka “proteksi” terhadap investasi awal dapat dilakukan. Tentu saja dengan catatan bahwa perusahaan yang menerbitkan surat hutang tersebut tidak mengalami gagal bayar.

Namun jika skenario terburuk terjadi, di mana perusahaan penerbit surat hutang mengalami gagal bayar, maka investor tetap bisa kehilangan pendapatan dividen dan atau nilai awal investasinya. Untuk itu, investor perlu lebih memahami karakteristik dan risiko daripada reksa dana terproteksi.  Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Berapa Price Earning Ratio Yang Wajar Untuk IHSG ?

May 15th, 2018 No comments

Value and price / Blackboard concept (Click for more)

Pada saat artikel ini ditulis, IHSG berada pada level 5947. Secara angka, tentu lebih “murah” dibandingkan rekor baru tertinggi yang pernah tercapai pada Februari 2018 ini yaitu 6690. Investor pasar modal yang berpengalaman tentu tidak hanya menggunakan angka IHSG sebagai patokan, tetapi juga valuasinya.

Salah satu indikator valuasi yang sering digunakan yaitu Price Earning Ratio (PE Ratio) yang menghitung berdasarkan pembagian antara harga dengan laba bersih. Secara sederhana, PE Ratio 10 kali berarti harga pasar saat ini setara dengan 10 tahun laba bersih perusahaan. Perusahaan dengan PE Ratio 10 kali dikatakan “lebih murah” dibandingkan perusahaan dengan PE ratio 15 kali.

Semakin tinggi PE Ratio maka semakin mahal valuasi suatu perusahaan dan sebaliknya semakin rendah PE Ratio maka semakin murah valuasi suatu perusahaan.

Yang menjadi pertanyaan adalah berapa PE Ratio yang wajar untuk IHSG di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada 2 bagian yang harus terjawab yaitu sumber data PE Ratio dan metode untuk menilai kewajarannya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Ini 11 Hal yang Dilarang (Wakil) Agen Penjual Efek Reksa Dana

April 23rd, 2018 No comments

Gambar Kompas

Industri pasar modal, terutama reksa dana, mengalami perkembangan yang pesat selama beberapa tahun terakhir. Selain jumlah investor, jumlah Agen Penjual Efek Reksa Dana atau disingkat APERD dan tenaga pemasarnya yang disebut Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD) juga terus bertambah.

APERD adalah sebutan untuk institusi / perusahaan yang melakukan pemasaran reksa dana. Bentuknya bisa berupa perusahaan Manajer Investasi, Bank, Perusahaan Efek atau Sekuritas, dan yang belakangan ini mulai berkembang yaitu Perusahaan Finansial Teknologi atau disebut Fintech.

WAPERD adalah sebutan untuk perorangan yang telah mendapatkan sertifikasi dari OJK untuk menjalankan kegiatan pemasaran reksa dana. Izin WAPERD melekat pada perorangan dan memiliki masa berlaku 2 tahun yang dapat diperpanjang dengan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Lanjutan (PPL) yang diselenggarakan oleh asosiasi terkait.

Di Indonesia, izin WAPERD secara perorangan tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pemasaran reksa dana. Izin tersebut baru berlaku apabila perorangan yang memiliki izin WAPERD, bekerja di perusahaan yang mendapat izin sebagai APERD.

Masyarakat perlu berhati-hati apabila ada perorangan yang melakukan pemasaran reksa dana berbekal izin WAPERD perseorangan namun tidak bekerja di perusahaan APERD. Jika dianggap perlu, masyarakat juga bisa meminta surat penugasan perusahaan kepada tenaga pemasar dan melakukan pengecekan ke pihak perusahaan langsung untuk menghindari potensi investasi bodong.

Hal-hal yang dilarang bagi APERD dalam kegiatan usahanya secara spesifik juga telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 39/POJK.04/2014 pasal 37 Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Mengelola Investasi Reksa Dana Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

February 28th, 2018 No comments

finance and economy

Berinvestasi ke beberapa jenis reksa dana yang berbeda merupakan salah satu upaya untuk diversifikasi (membagi) risiko. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana pembagian ke masing-masing jenis reksa dana?

Dalam bahasa keuangan, investasi ke beberapa jenis reksa dana juga dikenal juga dengan istilah Aset Alokasi (Asset Allocation). Secara umum ada 4 jenis reksa dana yaitu pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.

Aset alokasi adalah suatu strategi investasi yang membagi keranjang investasi reksa dana ke beberapa jenis yang berbeda. Dasar pembagian bisa berdasarkan tujuan keuangan, kondisi keuangan, dan atau profil risiko.

Dalam artikel sebelumnya, saya pernah membahas prinsip 10–20–30–40 yang digunakan dalam pengelolaan penghasilan.
(Baca: Mengelola Penghasilan dengan Prinsip 10-20-30-40)

Dengan sedikit modifikasi, prinsip ini juga dapat digunakan dalam melakukan aset alokasi di reksa dana. Secara sederhana, apabila investor memiliki dana Rp 100 juta, maka dana tersebut dibagi ke 4 jenis reksa dana dengan menyesuaikan profil risikonya.  Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
%d bloggers like this: