Archive

Archive for the ‘Strategi Investasi’ Category

Apa Dampak Pilpres AS dan Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap IHSG ?

November 2nd, 2016 2 comments

Wall Street and Election

Akhir-akhir ini pergerakan bursa saham dan obligasi agak stagnan bahkan cenderung turun. Walaupun pada akhir tahun ada yang namanya Window Dressing (kecenderungan IHSG meningkat di akhir tahun), namun sepertinya perhatian investor lebih tertuju pada isu-isu di US seperti Pemilihan Presiden yang akan diselenggarakan pada 8 November 2016 dan suku bunga The Fed yang (rencananya) akan dinaikkan pada bulan Desember tahun ini.

Beredar juga Whatapps yang dikalangan nasabah yang memelintir wawancara sebuah media asing dengan Jim Rogers, dimana topiknya hanya pada denda yang menimpa salah satu bank di Jerman menjadi isu gagal bayar. Padahal dalam wawancara tersebut, tidak disinggung sama sekali gagal bayar dan bahkan angka yang di dalam WA juga sangat berbeda dengan angka dalam wawancara. Bisa jadi tren mengedit berita resmi menjadi berita hoax yang heboh yang terjadi di Indonesia juga dipelajari oleh luar negeri. Ditambah dengan rencana demo besar tanggal 4 November nanti, sedikit banyak membuat investor menjadi lebih wait and see.

Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang dampak Pilpres AS dan (rencana) kenaikan suku bunga The Fed, sebenarnya ada statistik return bulanan IHSG yang cukup menarik untuk kita cermati. Berikut statistiknya selama hampir 16 tahun terakhir.

Statistik Return Bulanan IHSG

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Dari statistik di atas, terlihat bulan Desember adalah bulan yang tidak pernah rugi selama 15 tahun terakhir dari 2001 sampai dengan 2015. Tingkat returnnya bervariasi antara 0.42% hingga 12.12% dalam 1 bulan. Untuk investor yang menunggu IHSG dibawah harga fundamental, sebagaimana yang sering saya kemukakan untuk tahun 2016 antara 5300 – 5500, kalau misalkan tidak dapat-dapat juga dan percaya dengan statistik ini, bisa mencoba untuk masuk selambat-lambatnya akhir November. Namun dalam perjalanan, jika ternyata sempat dibawah 5300, bisa menjadi pertimbangan untuk menambah investasinya di saham.

Kembali ke topik utama, bagaimana dampak kedua isu tersebut terhadap Indonesia, khususnya terhadap IHSG ? Read more…

(Potensi) Rating Upgrade, Apakah Positif untuk Investasi Reksa Dana?

October 19th, 2016 3 comments

Potensi Rating Upgrade IndonesiaSumber : Kontan Harian

Beberapa waktu yang lalu, Ibu Sri Mulyani Indrawati melobi perusahaan pemeringkat S&P untuk mengevaluasi kembali rating Indonesia. Sebagaimana diketahui, hanya S&P saja yang belum memberikan rating Investment Grade kepada Indonesia.

Berdasarkan data historis, biasanya pemeringkatan dilakukan setiap tahun pada sekitar bulan April – Juni. Namun dalam kondisi khusus, bisa saja perusahaan pemeringkat melalukan perubahan yang diperlukan. Sebagai contoh, pada tahun 2001 dan 2003 terdapat 2 kali perubahan rating. Sebelum tahun 2000 pada saat krisis menimpa negara-negara asia, bahkan perubahannya lebih sering.

Historis Rating Indonesia Oleh S&P

Penjelasan Bintang Pada RatingSumber : Bank Indonesia

Berita tentang peringkat ini sempat mendapat porsi sebagai headline ada pemberitaan Kontan beberapa waktu yang lalu sebagaimana saya kutip di atas dan sangat disambut positif oleh pasar modal. Bagi orang awam, pertanyaannya adalah seandainya revisi rating ini terjadi, bagaimana dampaknya terhadap kinerja reksa dana? Read more…

Apa Dampak Kebijakan Bank Sentral AS Terhadap Investasi Pasar Modal Indonesia?

August 31st, 2016 4 comments

FED desicions

Beberapa waktu yang lalu, dalam pidato Ibu Janet Yellen, Gubernur Bank Sentral AS disebutkan terdapat potensi dinaikkannya tingkat suku bunga the Fed pada tahun 2016. Praktis, kenaikan suku bunga bank sentral AS dipandang sebagai sentimen negatif bagi pasar modal dan menimbulkan penurunan harga saham meskipun hanya 1 hari saja. Bagaimana sebenarnya dampak kebijakan ini terhadap pasar modal Indonesia ?

Kalau anda membaca media dari luar negeri tentang kebijakan suku bunga bank sentral AS, mereka suka menggunakan istilah Dovish (merpati) dan Hawkish (elang). Dovish adalah analogi untuk kebijakan bank sentral yang “bersahabat” dengan pasar seperti penurunan suku bunga dan kebijakan pembelian aset atau dikenal dengan Quantitative Easing. Sebaliknya Hawkish digunakan untuk menganalogikan kebijakan yang kurang bersahabt dengan pasar seperti kenaikan suku bunga dan penghentian pembelian aset.

Rencana kenaikan suku bunga ini tentu bisa disebut kebijakan yang Hawkish. Spekulasi tentang periode kenaikannya juga bermunculan, ada yang mengatakan September, ada pula yang mengatakan setelahnya. Namun terdapat berita nasional mengutip kemungkinan dinaikkan pada bulan September 2016 ini

Berikut ini adalah Pandangan Panin Asset Management terhadap pidato Bank Sentral AS tentang potensi kenaikan suku bunga The Fed di bulan September : Read more…

Jika Hal Ini Benar, Maka IHSG Siap-Siap Terbang Tinggi…

August 13th, 2016 No comments

Berita Kontan Tentang Rencana Perubahan PPh

Pada tanggal 12 Agustus 2016 yang lalu, Kontan Online merilis berita di atas. Isi lengkapnya saya kutip sebagai berikut :

Jakarta. Wacana pemerintah untuk memangkas tarif pajak penghasilan / PPh Badan terus bergulir. Tidak hanya turun dari 25% saat ini menjadi 17% seperti keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Ken Dwijugiasetiadi bahkan mengatakan PPh badan bisa menjadi 10%. 

Ken bilang, tarif PPH badan bisa turun menjadi 10% jika jumlah wajib pajak yang menjadi basis pajak meningkat. Dengan tarif 10%, tarif PPh badan akan sama dengan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). “Kita sesuaikan dengan tarif pajak di negara tetangga,” kata Ken, Kamis (11/8). 

Ken berharap, program pengampunan pajak atau tax amnesty akan mendongkrak basis pajak.  Program ini diharapkan tidak hanya akan menambah jumlah wajib pajak yang patuh, namun juga menambah jumlah wajib pajak baru.  Namun Ken belum bisa menjelaskan berapa kenaikan basis pajak yang diperlukan agar tarif PPh badan bisa turun dari 25% menjadi 10%. 

Yang pasti sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, penurunan PPh badan dari 25% menjadi 17% bisa dilakukan bertahap atau secara langsung. Jika bertahap, tarif akan diturunkan ke 20%, sebelum turun menjadi 17%. 

Rencana penurunan tarif PPh badan ini akan dimasukkan dalam  revisi Undang-Undang (UU) tentang PPh dan UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Jokowi berharap dengan tarif 17%,  Indonesia mampu bersaing dengan Singapura. 

Tak bisa bersaing

Sebenarnya wacana penurunan tarif PPh badan bukan kali ini saja diungkapkan pemerintah. Sebelumnya pemerintah berwacana akan menurunkan tarif PPh badan menjadi 18%. Penurunan tarif itu diharapkan bisa  membuat Indonesia bersaing dengan negara tetangga, seperti Filipina yang menerapkan tarif PPh badan 30%,  Malaysia 25%, Vietnam 22%, Thailand 20%. 

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, penurunan PPh badan mungkin dilakukan jika pemerintah sudah memiliki data wajib pajak yang baik. “Artinya harus melakukan reformasi kelembagaan dan sistem perpajakan lebih dahulu. Jika dengan kondisi saat ini, sulit dilakukan,” katanya. 

Yustinus bilang, pemerintah sadar, meskipun tarif pajak, belum tentu rasio pajak akan naik. “Lebih baik bertahap ke 22% dulu,” katanya. 

Pengamat Pajak Universitas Indonesia Darussalam menjelaskan, tren dunia saat ini memang menurunkan tarif PPh badan. Malaysia berencana memangkas tarif PPh badan menjadi 24%. Begitu juga Vietnam dari 22% menjadi 20% pada tahun ini. “Ada kecenderungan di dunia menurunkan tarif PPh badan,” katanya. 

Dia menambahkan, penurunan tarif PPh bertujuan mencegah profit shifting dan meningkatkan investasi ke dalam negeri. Meski pun begitu, Darussalam mengingatkan, Indonesia sulit berkompetisi dengan Singapura dalam memberikan fasilitas pajak. “Karena itu Indonesia jangan terjebak perang tarif dengan Singapura,” kata Darussalam. 

Pengamat pajak Ronny Bako mengatakan, peningkatan basis pajak saat ini dapat dilakukan. Pertama, menetapkan semua orang dewasa di Indonesia, mulai usia 21 tahun, menjadi wajib pajak. 

Saat ini, hanya disebut telah memiliki penghasilan. Kedua, semua usaha barang dan jasa, apakah berbadan hukum atau tidak, menjadi wajib pajak. 

Ketentuan saat ini, hanya usaha yang berbadan hukum yang membayar pajak. Ketiga, memperjelas apa saja struktur biaya yang dapat dihitung sebagai pengurang pajak. Cara ini meniru penetapan biaya di industri migas yang menerapkan skema cost recovery.   

Sumber : http://nasional.kontan.co.id/news/asyik-pph-di-ri-bisa-lebih-murah-dari-singapura 

Terus terang saya sangat senang dengan berita ini karena jika terjadi berpotensi membuat IHSG terbang tinggi.

Mengapa ?? Read more…

Update Pasar Panin Asset Management Agustus 2016

August 12th, 2016 7 comments

Investasi Semester II 2016

Selama bulan Juni, Juli dan Agustus 2016, IHSG mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Faktor pendorongnya bermacam-macam mulai dari disahkannya UU Pengampunan Pajak,  suku bunga The Fed yang tidak jadi naik, hingga reshuffle kabinet yang susunan menterinya lebih diterima oleh pasar. Yang menjadi pertanyaan investor adalah apakah tren ini akan terus berlanjut ? Apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan oleh investor?

Berikut ini update market dari Panin Asset Management untuk Agustus 2016.

Screen Shot 2016-08-11 at 11.11.06 PM

Sumber: Yahoo Finance

Read more…

Mengenal Reksa Dana Saham Panin Asset Management

July 31st, 2016 5 comments

Coins with small plants growing symbolizes investmentsPertanyaan mengenai perbedaan reksa dana saham di Panin Asset Management memang tidak pernah berhenti. Apalagi saat ini sudah ada total 6 reksa dana saham di Panin Asset Management yaitu Panin Dana Maksima, Panin Dana Prima, Panin Dana Syariah Saham, Panin Dana Ultima, Panin Dana Teladan dan Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh. Seiring dengan berjalannya waktu, investor juga bisa merasakan bahwa ternyata kinerja dari reksa dana tersebut tidak sama dari waktu ke waktu.

Mengenai perbedaan antar kinerja reksa dana saham di Panin Asset Management, kecuali Panin Dana Teladan, sebenarnya sudah pernah dijelaskan 2 kali dalam dalam tulisan Panin Dana Maksima, Prima, Ultima, dan Syariah Saham dan Mengenal Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh. Untuk Panin Dana Teladan sendiri, tadinya merupakan reksa dana saham yang dikhususkan untuk 1 investor institusi. Seiring dengan perkembangan, reksa dana ini kemudian dibuka untuk umum. Sama-sama dijalankan oleh manajer investasi di Panin Asset Management, bedanya di Panin Dana Teladan adalah sebagian dari management fee reksa dana tersebut didedikasikan untuk pengembangan dunia pendidikan. Jadi Panin Dana Teladan bisa dimasukkan dalam kategori endowment fund atau reksa dana yang bertujuan sosial.

Mengapa sama-sama reksa dana saham dari Manajer Investasi yang sama namun kinerjanya berbeda? Mengapa reksa dana yang tadinya bagus di tahun lalu menjadi tidak bagus di tahun ini?

Sebagai gambaran, berikut ini adalah perbandingan kinerja reksa dana saham di tahun 2015 dan year to date hingga 29 Juli 2016.

Kinerja Reksa Dana Saham 2015 dan YTD Juli 2016 Read more…

Outlook Investasi Semester II 2016

July 5th, 2016 8 comments

Chart

Secara umum, kinerja saham dan obligasi serta reksa dana selama semester I 2016 bisa dikatakan cukup baik. Rata-rata kenaikan harganya mencapai 7% – 9%, beberapa reksa dana bahkan tercatat mampu membukukan tingkat return di atas 10% selama 6 bulan pertama di 2016 ini. Bagaimana dengan kinerja semester II 2016 ? Apa yang kira-kira akan menjadi pendorong dan apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan ?

Berikut ini adalah kinerja saham, obligasi dan rata-rata reksa dana selama semester I 2016

Kinerja Investasi Semester I 2016

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Read more…

Bagaimana Cara Manajer Investasi Melakukan Asset Allocation ?

May 5th, 2016 8 comments

Aset Alokasi Saham

Lebih dari 20 tahun yang lalu, 3 orang akademisi yaitu Gary P. Brinson, L. Randolph Hood dan Gilbert L. Beebower (BHB) menerbitkan suatu publikasi manajemen portofolio yang dijadikan sebagai rujukan dalam berbagai buku keuangan hingga sekarang. Judul publikasi tersebut yaitu “Determinant of Portfolio Performance”.

Dalam publikasi itu disebutkan bahwa secara umum para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan dana menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menentukan jenis kelas aset (asset class) yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dalam portofolio
  2. Menentukan apakah akan normal, over atau underweight pada masing-masing kelas dalam portofolio*, proses ini disebut dengan Policy atau Asset Allocation
  3. Secara strategis melakukan penyesuaian dalam pengelolaan portofolio dibandingkan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencoba mendapatkan excess return dari fluktuasi harga jangka pendek atau dikenal dengan sebutan Market Timing
  4. Memilih secara selektif saham atau obligasi dalam masing-masing kelas aset untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang superior, proses ini disebut dengan Security Selection.

*Yang dimaksud dengan normal, over dan underweight adalah komposisi saham / obligasi dari portofolio investasi terhadap pasar. Misalkan dalam IHSG, komposisi dari saham Astra adalah 10%, maka suatu reksa dana dikatakan normal weighted apabila komposisi Astra dalam portofolionya adalah 10%, jika di atas 10% disebut overweight dan jika dibawah 10% disebut underweight.

Penelitian tersebut bermaksud untuk mencari tahu, dalam konteks melakukan pengelolaan dana, langkah manakah yang paling berpengaruh terhadap kinerja manajer investasi? Apakah Asset Allocation, Market Timing atau Security Selection ? Berdasarkan yang dilakukan oleh BHB, disebutkan bahwa 93.6% kinerja pengelolaan ditentukan oleh Asset Allocation, sisanya yaitu 6.4% ditentukan oleh Market Timing, Security Selection dan Lainnya (Faktor lainnya atau other, biasanya selalu terdapat dalam perhitungan statistik).

Dalam perjalanannya, riset ini mendapat banyak tanggapan baik yang bersifat pro dan kontra. Ada juga penelitian serupa yang dilakukan terhadap reksa dana saham dan mendapatkan hasil dimana ternyata pengaruhnya tidak sampai sebesar 93%, tapi berkisar antara 30 – 70an%. Terlepas dari benar atau salahnya penelitian tersebut, Asset Allocation memang menjadi faktor penting bagi Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana.

Tulisan kali ini tidak bermaksud mereproduksi penelitian di atas di Indonesia. Sebab ketika saya membaca jurnal aslinya, ada beberapa tahapan yang terus terang tidak begitu dimengerti. Selain itu, fokus dalam tulisan ini adalah memberikan gambaran kepada anda bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana. Dengan demikian, investor bisa lebih memahami proses yang terjadi dalam pengelolaan reksa dana. Read more…

%d bloggers like this: