Archive

Archive for the ‘Strategi Investasi’ Category

Update Pasar Panin Asset Management Agustus 2016

August 12th, 2016 7 comments

Investasi Semester II 2016

Selama bulan Juni, Juli dan Agustus 2016, IHSG mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Faktor pendorongnya bermacam-macam mulai dari disahkannya UU Pengampunan Pajak,  suku bunga The Fed yang tidak jadi naik, hingga reshuffle kabinet yang susunan menterinya lebih diterima oleh pasar. Yang menjadi pertanyaan investor adalah apakah tren ini akan terus berlanjut ? Apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan oleh investor?

Berikut ini update market dari Panin Asset Management untuk Agustus 2016.

Screen Shot 2016-08-11 at 11.11.06 PM

Sumber: Yahoo Finance

Read more…

Mengenal Reksa Dana Saham Panin Asset Management

July 31st, 2016 5 comments

Coins with small plants growing symbolizes investmentsPertanyaan mengenai perbedaan reksa dana saham di Panin Asset Management memang tidak pernah berhenti. Apalagi saat ini sudah ada total 6 reksa dana saham di Panin Asset Management yaitu Panin Dana Maksima, Panin Dana Prima, Panin Dana Syariah Saham, Panin Dana Ultima, Panin Dana Teladan dan Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh. Seiring dengan berjalannya waktu, investor juga bisa merasakan bahwa ternyata kinerja dari reksa dana tersebut tidak sama dari waktu ke waktu.

Mengenai perbedaan antar kinerja reksa dana saham di Panin Asset Management, kecuali Panin Dana Teladan, sebenarnya sudah pernah dijelaskan 2 kali dalam dalam tulisan Panin Dana Maksima, Prima, Ultima, dan Syariah Saham dan Mengenal Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh. Untuk Panin Dana Teladan sendiri, tadinya merupakan reksa dana saham yang dikhususkan untuk 1 investor institusi. Seiring dengan perkembangan, reksa dana ini kemudian dibuka untuk umum. Sama-sama dijalankan oleh manajer investasi di Panin Asset Management, bedanya di Panin Dana Teladan adalah sebagian dari management fee reksa dana tersebut didedikasikan untuk pengembangan dunia pendidikan. Jadi Panin Dana Teladan bisa dimasukkan dalam kategori endowment fund atau reksa dana yang bertujuan sosial.

Mengapa sama-sama reksa dana saham dari Manajer Investasi yang sama namun kinerjanya berbeda? Mengapa reksa dana yang tadinya bagus di tahun lalu menjadi tidak bagus di tahun ini?

Sebagai gambaran, berikut ini adalah perbandingan kinerja reksa dana saham di tahun 2015 dan year to date hingga 29 Juli 2016.

Kinerja Reksa Dana Saham 2015 dan YTD Juli 2016 Read more…

Outlook Investasi Semester II 2016

July 5th, 2016 8 comments

Chart

Secara umum, kinerja saham dan obligasi serta reksa dana selama semester I 2016 bisa dikatakan cukup baik. Rata-rata kenaikan harganya mencapai 7% – 9%, beberapa reksa dana bahkan tercatat mampu membukukan tingkat return di atas 10% selama 6 bulan pertama di 2016 ini. Bagaimana dengan kinerja semester II 2016 ? Apa yang kira-kira akan menjadi pendorong dan apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan ?

Berikut ini adalah kinerja saham, obligasi dan rata-rata reksa dana selama semester I 2016

Kinerja Investasi Semester I 2016

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Read more…

Bagaimana Cara Manajer Investasi Melakukan Asset Allocation ?

May 5th, 2016 8 comments

Aset Alokasi Saham

Lebih dari 20 tahun yang lalu, 3 orang akademisi yaitu Gary P. Brinson, L. Randolph Hood dan Gilbert L. Beebower (BHB) menerbitkan suatu publikasi manajemen portofolio yang dijadikan sebagai rujukan dalam berbagai buku keuangan hingga sekarang. Judul publikasi tersebut yaitu “Determinant of Portfolio Performance”.

Dalam publikasi itu disebutkan bahwa secara umum para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan dana menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menentukan jenis kelas aset (asset class) yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dalam portofolio
  2. Menentukan apakah akan normal, over atau underweight pada masing-masing kelas dalam portofolio*, proses ini disebut dengan Policy atau Asset Allocation
  3. Secara strategis melakukan penyesuaian dalam pengelolaan portofolio dibandingkan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencoba mendapatkan excess return dari fluktuasi harga jangka pendek atau dikenal dengan sebutan Market Timing
  4. Memilih secara selektif saham atau obligasi dalam masing-masing kelas aset untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang superior, proses ini disebut dengan Security Selection.

*Yang dimaksud dengan normal, over dan underweight adalah komposisi saham / obligasi dari portofolio investasi terhadap pasar. Misalkan dalam IHSG, komposisi dari saham Astra adalah 10%, maka suatu reksa dana dikatakan normal weighted apabila komposisi Astra dalam portofolionya adalah 10%, jika di atas 10% disebut overweight dan jika dibawah 10% disebut underweight.

Penelitian tersebut bermaksud untuk mencari tahu, dalam konteks melakukan pengelolaan dana, langkah manakah yang paling berpengaruh terhadap kinerja manajer investasi? Apakah Asset Allocation, Market Timing atau Security Selection ? Berdasarkan yang dilakukan oleh BHB, disebutkan bahwa 93.6% kinerja pengelolaan ditentukan oleh Asset Allocation, sisanya yaitu 6.4% ditentukan oleh Market Timing, Security Selection dan Lainnya (Faktor lainnya atau other, biasanya selalu terdapat dalam perhitungan statistik).

Dalam perjalanannya, riset ini mendapat banyak tanggapan baik yang bersifat pro dan kontra. Ada juga penelitian serupa yang dilakukan terhadap reksa dana saham dan mendapatkan hasil dimana ternyata pengaruhnya tidak sampai sebesar 93%, tapi berkisar antara 30 – 70an%. Terlepas dari benar atau salahnya penelitian tersebut, Asset Allocation memang menjadi faktor penting bagi Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana.

Tulisan kali ini tidak bermaksud mereproduksi penelitian di atas di Indonesia. Sebab ketika saya membaca jurnal aslinya, ada beberapa tahapan yang terus terang tidak begitu dimengerti. Selain itu, fokus dalam tulisan ini adalah memberikan gambaran kepada anda bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana. Dengan demikian, investor bisa lebih memahami proses yang terjadi dalam pengelolaan reksa dana. Read more…

Seberapa Sulitkah Mencari Reksa Dana Saham Yang Mengalahkan IHSG di Indonesia ?

April 13th, 2016 8 comments

Unicorn Stag

Ketika melihat gambar di atas mungkin anda bingung, apa hubungan antara reksa dana saham yang mengalahkan IHSG dengan gambar kuda bertanduk (unicorn) ? Apabila anda membaca buku “Money, Master The Game : 7 Simple Steps To Financial Freedom” yang dibuat oleh motivator kelas dunia bapak Tony Robbins, dalam salah satu babnya, dia membahas tentang investasi reksa dana. Menurut dia, 96% daripada reksa dana aktif – reksa dana yang dikelola dengan strategi aktif dengan tujuan mengalahkan indeks, di Amerika Serikat tidak lebih baik dibandingkan dengan indeks yang menjadi acuannya.

Kutipan aslinya seperti ini :

An incredible 96% of actively managed mutual fund fail to beat the market over any sustained period of time!

Saking sulitnya untuk mencari reksa dana yang mampu mengalahkan indeks, dia menjuluki reksa dana tersebut dengan sebutan Unicorn. Analoginya, untuk mencari reksa dana yang mampu mengalahkan indeks itu sama sulitnya dengan mencari kuda bertanduk. Tidak ada jaminan pula bahwa reksa dana “unicorn” yang mengalahkan indeks tahun ini akan sama dengan reksa dana yang mengalahkan indeks tahun depan. Jadi konsistensi kinerja reksa dana dalam jangka panjang juga dipertanyakan.

Terus bagaimana? Apakah itu berarti di Amerika Serikat orang tidak berinvestasi di reksa dana? Sebenarnya tidak juga, riset serupa sebenarnya juga sudah dikemukakan sejak lama dan hal ini menjadi pemicu timbulnya reksa dana indeks. Reksa dana indeks adalah reksa dana yang dikelola secara pasif dengan tujuan menyamakan kinerja dengan indeks yang menjadi acuannya. Karena pasif, umumnya biaya pengelolaan relatif lebih rendah. Warren Buffet sendiri, dalam bukunya memberikan saran kepada investor pemula yang mau berinvestasi di pasar modal utk memulainya dengan reksa dana indeks.

Saya tidak menyangsikan pendapat tokoh2 tersebut karena mereka mendasarkan argumentasinya berdasarkan data dan riset yang komprehensif. Namun apakah hal tersebut juga berlaku di Indonesia? Sebab saya sering memperhatikan bahwa terkadang orang membaca hasil riset di luar, itupun datanya sudah jadul puluhan tahun yang lalu, dan dengan mudahnya menyamakan dengan Indonesia. Apalagi kebetulan ada satu atau dua reksa dana yang mendukung argumentasinya.

Pada kesempatan ini, saya ingin mencoba membuktikan apakah benar bahwa sangat sulit untuk mencari reksa dana yang mengalahkan benchmark di Indonesia. Pembuktiannya akan dilakukan dengan menggunakan Reksa Dana Saham dan IHSG sebagai pembanding dari tahun 2001 – 2015. Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut : Read more…

Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh

March 23rd, 2016 No comments

Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh

Pada tanggal 1 April 2016, Panin Asset Management akan meluncurkan produk reksa dana saham yaitu Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh (PDIB). Sesuai namanya, reksa dana ini akan menggunakan sebagian besar dana kelolaannya pada sektor terkait infrastruktur. Sebelum produk ini diluncurkan, saya juga sudah sempat melakukan sosialisasi kepada kalangan nasabah secara terbatas dan kepada para agen penjual.

Dari interaksi yang ada, ternyata memang ada ketertarikan terhadap produk. Namun di satu sisi, terdapat juga pertanyaan-pertanyaan yang cukup kritis mulai dari profil, latar belakang mengapa produk ini diterbitkan hingga strategi pengelolaannya. Berikut saya rangkum pertanyaan tersebut dalam tulisan ini.

 

Mengapa memilih sektor infrastruktur? Dan mengapa baru tahun 2016 ini Read more…

Mungkin Ga Sih? Punya Rp 200 Juta Di Usia 30 Dengan Gaji Awal UMR…

March 4th, 2016 16 comments

Financial Freedom

 

Apakah punya Rp 200 juta lantas kita sudah bebas secara finansial alias Financial Freedom? Tidak.. Tapi dengan memiliki Rp 200 juta setidaknya kita akan memiliki modal yang cukup, apakah mau mempersiapkan pernikahan, DP rumah / apartement yang sederhana, atau bahkan modal membuka usaha yang baru. Pertanyaannya kalau baru bekerja dan mendapat gaji UMR apakah target dana tersebut bisa tercapai ?

Jika anda bertanya mengapa Rp 200 juta? Mengapa bukan Rp 1 M, Rp 500 juta atau Rp 100 juta? Terus terang artikel yang saya baca di Straits Times Singapore berikut ini memberikan inspirasi bagi saya. Judulnya “is it possible to have 100k by 30?” http://www.straitstimes.com/singapore/is-it-possible-to-have-100k-by-30

Artikel ini membahas kegalauan penduduk Singapura akan kondisi finansial mereka di masa mendatang. Pada dasarnya, ada semacam pandangan bahwa untuk bisa mencapai angka tersebut, hanya mereka yang bekerja di investment banking atau dunia keuangan saja yang mampu mencapai angka ini. Bagi penduduk kebanyakan adalah hampir tidak mungkin.

Saya tertarik untuk membuat penelitian serupa di Indonesia, namun karena kondisi penghasilan yang jauh berbeda antara Indonesia dan Singapura, maka angkanya akan saya sesuaikan. Untuk Indonesia, khususnya Jakarta menurut saya perbandingan dengan Singapore adalah 1 : 5. Jadi jika di sana SGD 100.000 atau Rp 1 M, maka kurang lebih setara dengan Rp 200 juta disini. Read more…

Categories: Lain-lain, Strategi Investasi Tags:

Evaluasi Strategi Investasi 2015 : Sekaligus vs Berkala vs Aset Alokasi

December 21st, 2015 No comments

Alternatif Strategi Investasi

Tidak terasa dalam hitungan hari kita sudah mau memasuki tahun 2016. Tahun ini bisa dibilang merupakan tahun yang tidak menyenangkan bagi para investor reksa dana. Tercatat dari awal tahun hingga 18 Desember, rata-rata reksa dana saham dan reksa dana campuran secara nasional masing-masing rugi -17% dan -8%. Rata-rata reksa dana pendapatan tetap memang menguntungkan tapi kurang dari 3%, hanya rata-rata reksa dana pasar uang yang kinerjanya sesuai dengan harapan karena rata-rata return-nya di atas 6%. Dalam kondisi demikian, saya yakin banyak dari nilai investasi teman-teman yang nilainya negatif.

Jika kinerja rata-rata reksa dana sudah demikian, maka kinerja reksa dana tentu tidak berbeda jauh. Ada yang returnnya di atas rata-rata dalam artiannya rugi tapi ruginya lebih sedikit, ada pula yang ruginya sama atau bahkan lebih dalam dibandingkan rata-rata yang ditunjukkan di atas. Perbedaan kinerja ini disebabkan karena masing-masing reksa dana memiliki kebijakan dan strategi investasi yang berbeda-beda

Kinerja investor, meski berinvestasi pada reksa dana yang sama juga bisa berbeda antara investor yang satu dengan investor lainnya. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan strategi investasi yang digunakan oleh masing-masing investor. Sebagaimana dalam pembahasan Memilih Strategi Investasi, strategi investasi konvensional yang umumnya digunakan adalah Investasi Sekaligus (Lump Sum), Investasi Berkala (Autodebet) dan Aset Alokasi (Asset Allocation). Bagaimana evaluasi kinerja investor pada tahun 2015 menggunakan ketiga strategi di atas? Read more…

%d bloggers like this: