Archive

Archive for the ‘Saham’ Category

Review Semester I 2013 : Dana Asing dan Saham

July 10th, 2013 No comments

Setelah mereview tentang obligasi sebelumnya, dalam artikel ini saya ingin melakukan review terhadap saham. Tidak dapat dipungkiri, berita tentang aliran dana asing, terutama yang keluar dari Indonesia mendominasi pemberitaan media beberapa bulan ini. Hal ini tidak terlepas dari IHSG yang sudah turun dengan cukup signifikan dari titik tertingginya dan asing yang terus menerus melakukan net sell.

Penelitian terhadap dana asing sudah pernah saya lakukan sebelumnya di Mitos dan Fakta Seputar Aliran Dana Asing. Dalam kesempatan kali ini saya ingin membahas perihal aliran dana asing dan korelasinya dengan harga saham dari sudut yang agak berbeda. Mudah-mudahan setelah ini, kita memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap aliran dana asing ini.

Read more…

Mengenal Kelemahan Konsep Beta Dalam Investasi

April 17th, 2013 6 comments

Beta adalah konsep yang sangat umum dalam investasi. Bisa digunakan pada investasi saham begitu pula juga dengan investasi reksa dana. Kegunaannya juga banyak, mulai dari menilai seberapa berisiko suatu saham / reksa dana, mengevaluasi apakah reksa dana tersebut bagus atau tidak, sampai pada memprediksi berapa return yang akan dihasilkan oleh instrumen tersebut pada masa yang akan datang. Capital Asset Pricing Model (CAPM) adalah konsep yang menggunakan beta dalam perumusannya.

Tidak ada yang berbeda dari cara perhitungan beta saham dan beta reksa dana. Pembahasan mengenai beta juga pernah saya bahas dalam artikel terdahulu. Meski demikian, tidak ada teori yang sempurna, demikian pula dengan teori beta. Oleh karena itu, sebelum menggunakan menggunakan beta, sebaiknya kita memahami kelemahannya.

Read more…

Pasar (Asing) Selalu Benar?

August 31st, 2012 9 comments

Hingga akhir Agustus ini, pergerakan pasar amat sangat sulit untuk diduga. Di potong oleh liburan dan cuti panjang karena lebaran, sempat gagalnya sistem feeding data di bursa, anggapan dari salah satu riset sekuritas asing bahwa perekonomian Indonesia Overheating, tunggu menunggu pernyataan dari Ben Bernake, IHSG bergerak dalam rentang antara  4025 hingga 4162. Hari ini (31 Agustus 2012) bahkan IHSG sempat kembali ke bawah level 4000 sebelum akhirnya rebound kembali di sesi 2. Mengapa di tengah2 positifnya data perekonomian Indonesia yaitu 6.4% pada Q2 2012 di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi dunia, inflasi terkendali, berita bahwa banyak investor asing yang berkomitmen untuk membangun infrastruktur dan pabrik di Indonesia, tidak didukung oleh pertumbuhan IHSG? Seperti dalam artikel yang sebelumnya, saya pernah menyebutkan bahwa Uang tidak pernah Bohong, oleh karena itu, saya menyarankan agar investor juga memperhatikan aliran uang dalam keputusan investasinya. Kali ini saya ingin memperkenalkan konsep yang baru yaitu “Pasar (Asing) Selalu Benar”

Mungkin saja konsep ini bisa menjawab pertanyaan di atas.

Read more…

Strategi Income Investing 3 : Dividend Yield Saham Setara Deposito

June 28th, 2012 19 comments

Ketika bursa mengalami penurunan, sebetulnya waktu tersebut adalah waktu yang tepat untuk membeli saham atau reksa dana saham. Permasalahannya, terkadang investor sudah ketakutan terlebih dahulu. Ketakutan yang umum adalah kekhawatiran bahwa harga masih akan terus terun sehingga menunda melakukan investasi. Dalam konteks investasi saham, sebetulnya ada strategi investasi alternatif untuk mengatasi ketakutan tersebut. Caranya adalah dengan membeli saham tersebut ketika dividend yield sudah mencapai tingkat yang sama atau kalau bisa lebih tinggi daripada deposito.

Asumsinya kalaupun harga saham terus turun, besaran dividend yield sudah setara dengan deposito, Jadi didiamkan saja sudah seperti investasi deposito. Kalau misalnya di masa mendatang harga naik karena siklus berbalik, keuntungannya dobel, dari dividen dan kenaikan harga. Jika investasi diibaratkan berenang mengarungi lautan ketidakpastian, strategi income investing mempersiapkan pelampung bagi investor. Pelampung ini memberikan pengamanan karena memberikan tingkat returnnya minimal deposito.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara menemukan saham dengan kriteria tersebut? Pada artikel bagian ketiga ini, saya akan mengkombinasikan pengetahuan yang sudah kita dapatkan dari Strategi Income Investing 1 dan Strategi Income Investing 2 beserta contoh nyatanya. Read more…

Categories: Saham, Strategi Investasi Tags:

Strategi Investasi Income Investing (2)… Mengenal Dividend Yield

June 20th, 2012 1 comment

Pada artikel sebelumnya tentang income investing, dijelaskan bahwa ada salah satu alternatif strategi yang bisa digunakan oleh investor saham untuk berinvestasi secara konservatif di bursa saham. Caranya adalah dengan membeli saham yang secara konsisten membagi dividen dan berharap dari pendapatan dividen tersebut. Fluktuasi harga dianggap sebagai faktor sampingan. Artinya jika turun, kita tidak perlu pusing karena yang diharapkan adalah dividennya, jika harganya naik anggap saja sebagai bonus tambahan. Dengan demikian, kecuali perusahaan tersebut bangkrut, kita tidak perlu lagi khawatir dengan fluktuasi harga di bursa. Sebab terkadang harga saham di bursa bisa bergerak amat berbeda dengan kinerja fundamental perusahaan maupun ekonomi makro suatu negara.

Nah, jika anda tertarik untuk melakukan strategi ini, maka ada satu istilah yang harus anda ketahui yaitu dividend yield. Dengan mengetahui dividend yield ini, anda bisa menentukan saham apa yang cocok untuk menjalankan strategi investasi ini. Jika Investasi dianggap sebagai pohon duit, maka Dividend Yield adalah berapa persen bunga yang dihasilkan setiap tahunnya. Dalam tulisan kali ini, saya menggunakan contoh saham Astra Internasional (ASII), melanjutkan contoh pada tulisan saya sebelumnya. Seperti apakah hasilnya? Dan apakah strategi ini cukup menguntungkan untuk dijalankan?

Read more…

Categories: Analisis Instrumen Saham, Saham Tags:

Strategi Investasi Income Investing….(1)

May 26th, 2012 4 comments

Bagi anda yang sudah lama berkecimpung di dunia investasi. Tentu mengenal bahwa ada satu aksi korporasi yang dinamakan pembagian dividen saham. Dividen adalah sebagian dari laba bersih yang disisihkan oleh perusahaan untuk dibagikan kepada pemegang saham. Dalam membagikan dividen, perusahaan dengan manajemen yang baik akan pertama-tama menghitung kebutuhan ekspansi perusahaan di masa datang. Setelah itu, memperkirakan apakah akan memenuhi kebutuhan tersebut dengan dana internal dan laba bersih yang terakumulasi dan menyiapkan sejumlah cadangan dana untuk kebutuhan darurat, baru kemudian jika masih ada sisa dibagikan kepada para pemegang saham.

Bagi pemegang saham, pendapatan dalam bentuk dividen bisa dinilai sebagai sesuatu yang positif, karena perusahaan tempat mereka berinvestasi mampu memberikan penghasilan kepada mereka. Namun bagi suatu perusahaan yang sudah cukup besar dan memiliki banyak pemegang saham dengan beragam kepentingan dan cara pandang, pembagian dividen yang terlalu besar terkadang tidak selalu dipandang sebagai hal yang positif. Sebab jika dividen yang dibagikan terlalu banyak, berarti mengindikasikan bahwa perusahaan tidak punya rencana lagi untuk ekspansi pengembangan usaha di masa mendatang. Efeknya malah bisa menurunkan harga saham itu sendiri di pasar.

Nah, namun dari sudut pandang kita sebagai investor perorangan yang saat ini sedang pusing dengan kondisi pasar yang ada, saham yang membagikan dividen secara konsisten bisa saja menjadi alternatif investasi yang menarik. Sebab, meski harganya naik turun, asalkan terus membagikan dividen, kita bisa menganggap seperti berinvestasi di deposito atau obligasi. Syukur-syukur jika harganya naik, kita bisa untung 2 kali, dari dividen dan dari kenaikan harga saham itu sendiri. Bandingkan dengan obligasi yang mesti harganya naik, namun akan tetap kembali ke 100 pada saat jatuh temponya. Pertanyaannya, apakah strategi investasi yang mengandalkan dividen tersebut cukup menguntungkan jika diterapkan di Indonesia?

Read more…

Mana Yang Lebih Mahal? Saham atau Obligasi?

March 5th, 2012 11 comments

Masih tentang mahal dan murah, kali ini saya akan membahas tentang konsep Mahal Murah pada Saham dan Obligasi. Dalam teori investasi, umumnya dipelajari berbagai cara untuk menentukan suatu instrumen investasi, apakah suatu saham atau obligasi, terlalu mahal (overvalued) atau terlalu murah (undervalued). Meski demikian, membandingkan antara Obligasi dan Saham yang sejak awal memiliki karakteristik yang berbeda serta menentukan mana yang lebih mahal itu ibarat membandingkan “Apel Malang” dengan “Apel Washington“. Sama-sama rasanya apel, tapi yang satu belinya pakai Rupiah, satunya lagi menggunakan Dollar. Tentu anda bisa bilang, kalau gitu, tinggal dikalikan kurs saja pak? Benar sekali, namun bagaimana membuat obligasi dan saham memiliki “kurs” yang sama sehingga bisa dibandingkan satu sama lain?

Read more…

%d bloggers like this: