Archive

Archive for the ‘Perencanaan Investasi’ Category

Reksa Dana Baru : Panin Dana Pendapatan Berkala

January 26th, 2016 7 comments

Panin Dana Pendapatan Berkala

Panin Asset Management akan melakukan launching produk reksa dana pendapatan tetap yaitu Panin Dana Pendapatan Berkala pada tanggal 19 Februari 2016. Agak berbeda dengan reksa dana pendapatan tetap pada umumnya, Panin Dana Pendapatan Berkala menargetkan akan ada pembayaran dividen secara berkala setiap bulannya.

Press Conference Peluncuran Produk di Bursa Efek Indonesia

Press Conference Panin Dana Pendapatan Berkala

Seperti apa latar belakang penerbitan reksa dana ini dan seperti apa fitur2nya? Bagaimana dengan outlook untuk pasar obligasi di tahun 2016 ini? Bagaimana pula pengelolaan reksa dana ini ? Berikut penjelasannya Read more…

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2016

January 2nd, 2016 7 comments

Investasi 2016

Secara umum, tahun 2015 bisa dikatakan sebagai tahun yang tidak menyenangkan bagi investor pasar modal. Apalagi penyebabnya jika bukan karena kinerja saham dan reksa dana saham yang negatif pada tahun tersebut. Penyebabnya? Sepanjang tahun 2015 memang penuh dengan kegaduhan, akibatnya penyerapan anggaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketidakpastian juga mempengaruhi keyakinan investor swasta sehingga cenderung menunda ekspansi investasinya.

Dari sisi eksternal, perlambatan ekonomi China dan persaingan Arab Saudi untuk tetap menjadi penghasil minyak utama di tengah penemuan teknologi shale gas membuat harga komoditas sulit naik. Kemudian ketidakjelasan akibat suku bunga The Fed yang baru bisa diputuskan pada akhir tahun lalu membuat pasar dihinggap ketidakpastian.

Kombinasi dari semua hal di atas menyebabkan laba bersih perusahaan menurun, bahkan ada juga yang mengalami kerugian. Prinsip dari pasar modal, harga saham mencerminkan fundamental perusahaan. Jika laba bersih (fundamental) turun, maka adalah wajar jika harga sahamnya juga ikut turun.

Berikut ini adalah rekapitulasi kinerja pasar modal dan juga komoditas sepanjang 2015. Read more…

Memilih Strategi Investasi : Konvensional atau Market Timing ?

November 7th, 2015 4 comments

businessman looking to graph

Secara umum, strategi investasi reksa dana yang bisa digunakan investor pada umumnya ada 3 yaitu Strategi Investasi Sekaligus (Lump Sum), Strategi Investasi Berkala (Cost Averaging) dan Strategi Aset Alokasi (Asset Allocation). Namun untuk anda yang sering mengikuti blog ini, tentu sudah banyak membaca juga berbagai studi historis tentang strategi market timing yang pernah saya lakukan.

Yang dimaksud dengan market timing adalah metode untuk menentukan kapan untuk membeli dan menjual yang paling tepat sehingga bisa didapatkan profit yang maksimal. Berbagai metode market timing mulai dari Window Dressing, Sell In May and Go Away, Chasing Return, hingga yang menggunakan analisa teknikal modern seperti MACD dan RSI pernah saya tulis. Beberapa dari cara tersebut, secara historis ada yang mampu mengalahkan metode buy and hold di IHSG, ada pula yang tidak.

Bagi investor atau pembaca yang awam, terkadang yang namanya metode market timing kelihatannya lebih menarik. Tidak bisa disalahkan memang, sebab kinerja pasar dalam 3 tahun terakhir ini memang kurang memuaskan. Jika membeli pada harga yang tinggi, bisa jadi sudah 3 tahun masih ada investor yang belum balik modal. Strategi market timing menjadi pilihan yang menarik karena dengan mengelola secara aktif, seolah-olah investor tidak pasrah bongkok-an menerima situasi pasar yang tidak bersahabat ini. Setidaknya mereka mencoba melakukan sesuatu daripada hanya buy and hold jangka panjang.

Yang menjadi pertanyaan apakah investor menggunakan strategi investasi yang konvensional atau menggunakan metode market timing? Menurut saya, penggunaan strategi investasi tergantung pada 2 hal. Read more…

Kapan Sebaiknya Investor Melakukan Rebalancing ?

October 16th, 2015 2 comments

Weigh

 

Bagi investor yang melakukan investasi dengan strategi asset allocation, beberapa periode sekali disarankan untuk menata ulang portofolionya. Hal ini disebabkan karena seiring dengan berjalannya waktu, nilai investasi mengalami perubahan bisa naik bisa juga turun. Akibatnya bobot yang sudah ditetapkan sejak awal bisa berubah. Ketika nilai bobot tersebut menyimpang dari rencana, investor perlu melakukan penyesuaian pada portofolio investasi agar portofolio investasi bisa sama dengan rencana awalnya, tindakan ini disebut dengan Rebalancing. Yang menjadi pertanyaan, kapan sebaiknya investor melakukan rebalancing ?

Periode kapan yang saya maksud tidak sama dengan market timing, artinya periode rebalancing tidak berdasarkan prediksi apakah IHSG akan naik atau turun pada masa mendatang. Rebalancing yang saya maksud adalah berapa lama sekali dilakukan penataan ulang terhadap portofolio investasi, apakah 3 bulan sekali, 6 bulan sekali, tahunan atau tidak perlu ada rebalancing sama sekali. Yang paling baik tentunya adalah periode rebalancing dengan hasil investasi paling maksimal dan risiko paling minimal.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya melakukan simulasi dan riset terhadap data historis reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap dan deposito dari tahun 2001 – 2015. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut Read more…

Sell In May and Go Away – Update 2015

September 17th, 2015 20 comments

Sell in May and Go Away

Pada tahun 2012 yang lalu, saya pernah menulis tentang salah satu strategy market timing yang dikenal dengan sebutan Sell in May and Go Away. Sesuai dengan namanya, strategi investasi ini menganjurkan investor untuk membeli berinvestasi saham pada bulan November – April kemudian mengalihkan semuanya ke obligasi selama periode Mei – Oktober. Kini 3 tahun sudah berlalu, apakah strategi ini masih efektif ?

Sell in May and Go Away menggunakan asumsi bahwa periode November hingga April merupakan periode terbaik bagi saham karena pada bulan tersebut ada Window Dressing pada akhir tahun dan publikasi laporan keuangan tahunan pada awal tahun berikutnya.

Dalam kondisi ekonomi normal, umumnya perusahaan membukukan kenaikan penjualan dan laba sehingga harga saham cenderung positif pada saat laporan keuangan dipublikasikan. Sebaliknya pada periode Mei – Oktober, dianggap sebagai periode yang kurang baik bagi saham karena berita positif lebih minim dan inflasi cenderung tinggi. Pada periode ini, investasi ditempatkan pada obligasi.

Untuk membuktikan apakah strategi tersebut benar efektif atau tidak, langkah yang paling sederhana adalah melakukan pengujian berdasarkan data historis. Sebagai referensi, ditambahkan juga perbandingannya dengan strategy Buy and Hold di IHSG dan Panin Dana Maksima. Hasilnya adalah sebagai berikut. Read more…

Apakah Investasi US Dollar Menarik Dalam Jangka Panjang ?

August 6th, 2015 11 comments

Tahun 2015 ini merupakan tahun yang berat untuk investasi berbasis saham, baik untuk saham langsung maupun reksa dana saham. Tercatat, sejak awal tahun hingga 5 Agustus 2015, IHSG turun 7.2%. Reksa dana saham bahkan lebih dalam yaitu turun 10.74%. Pada waktu yang sama, berita penguatan mata uang USD terus menerus bermunculan di media. Bahkan disebut-sebut bahwa level Rupiah sudah mendekati level ketika krisis ekonomi tahun 1997 – 98 yang lalu.

Menurut saya, penguatan Dolar atau pelemahan Rupiah ini adalah fenomena global yang disebabkan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Penguatan USD terhadap mata uang tidak hanya terjadi pada Rupiah saja tapi juga berbagai mata uang dunia. Bahkan secara persentase yang melemah lebih dalam dari Indonesia juga ada. Salah satu contoh di antaranya adalah Brazil, Rusia dan Jepang. Sebagai analis, Rupiah yang ke level 13.500an merupakan fenomena normal. Bukan tanda-tanda mau menuju krisis atau bahkan kebangkrutan seperti yang saya baca pada berita-berita hoax yang disebarkan via social media, WA dan BBM.

Tapi sebagai investor, muncul pertanyaan. Jika mata uang USD terus menerus menguat, sebagaimana secara historis memang demikian. Apakah mata uang tersebut menarik untuk dijadikan investasi jangka panjang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya melakukan penelitian data historis terhadap IHSG dan US Dollar dari tahun 2002 – 2014. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Read more…

Autodebet Sudah Jalan 3 Tahun Tapi Belum Untung, Stop atau Lanjut?

July 10th, 2015 8 comments

Judul di atas mungkin relevan buat bapak ibu investor reksa dana yg memulai investasi reksa dana sejak 3 tahun yg lalu, melakukan autodebet, dan belum pernah melakukan redemption sekalipun sejak saat itu.

Kalau melihat pada gambar di atas, ibarat baru invest sudah untung dan naik terus menerus. Pas lagi mau diambil eehh, malah turun dan nilainya ga beda jauh ama nilain investasi pertama kali..

Memang sih, investasi reksa dana itu katanya jangka panjang, baru 2-3 tahun kok udah nyerah?? Katanya kalau lagi turun berarti saatnya utk beli krn dapat di harga murah. Katanya, pak Presiden sudah marah2 ke jajarannya sehingga semester II nanti akan lebih baik.. Katanya…. Katanya… Dan katanya lagi.

Tapi terus terang saja sebagai investor awam, siapasih yg tidak ngebet melihat hasil investasi sudah jalan tiga tahun dan masih belum berkembang? Siapa yg tidak menyesal tidak menjual mumpung IHSG sudah 2 kali cetak rekor tertinggi dan sekarang sudah turun lagi? Bukankah sudah melakukan autodebet, jadi logikanya harga tinggi dapat, harga rendah juga dapat, kok masih rugi?

Adalah sangat bisa diterima di akal sehat jika anda punya pikiran seperti itu. Namun nasi sudah jadi bubur, karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu maka fokus kita adalah ke masa depan.

Bagaimana dgn investasi yg sudah berjalan apakah terus atau stop? Apakah dana yg sudah ada juga dipindahkan ke instrumen yg lebih aman seperti RD Pasar Uang dan RD Pendapatan Tetap? Read more…

Strategi Investasi Reksa Dana : Asset Allocation

June 21st, 2015 6 comments

Pie Chart

Dalam investasi dikenal strategi yang disebut dengan Asset Allocation, atau secara sederhana membagi investasi ke beberapa jenis investasi agar memperoleh portofolio investasi yang sesuai dengan profil risikonya. Sebagai contoh, investor dengan profil risiko yang agresif akan memiliki alokasi yang lebih besar pada saham atau reksa dana saham, sebaliknya investor yang memiliki profil risiko konservatif akan mengalokasikan uangnya lebih banyak pada obligasi atau reksa dana pendapatan tetap.

Terus terang, menurut saya strategi di atas bukanlah strategi investasi yang relevan untuk semua orang. Argumennya, dalam investasi setiap orang memiliki tujuan. Katakanlah tujuannya untuk pensiun dan waktunya masih sangat lama lagi, apakah perlu kita menyisihkan sekian puluh persen dari dana kelolaan ke instrumen yang konservatif seperti deposito dan reksa dana pendapatan tetap? Sebaliknya ketika tujuan keuangannya sudah sangat dekat waktu dana dibutuhkan yaitu tahun depan, apakah karena agresif kita harus menempatkan dana di reksa dana saham?

Menurut saya tidak, sebaiknya memang investasi reksa dana disesuaikan dengan tujuan keuangan. Reksa dana jangka pendek untuk tujuan jangka pendek, reksa dana jangka panjang untuk tujuan jangka panjang. Bagaimana dengan risiko? Semakin lama periode investasi, maka risiko fluktuasi pada reksa dana saham akan semakin dapat diminimalkan. Tidak menjamin pasti untung memang, tapi kemungkinan untuk mengalami kerugian semakin kecil. Jadi, cara untuk mengurangi risiko adalah dengan berinvestasi jangka panjang.

Konsep dan strategi ini cocok jika anda masih berada dalam tahapan Wealth Accumulation. Dalam bahasa perencanaan keuangan, tahapan ini adalah untuk orang-orang yang masih dalam tahap awal karir / usaha sehingga belum memiliki penghasilan yang mapan. Pada tahap ini, investasi dilakukan dengan berusaha menyisihkan sebagian dari penghasilannya setiap bulan. Ada juga yang dilakukan dengan cara mengurangi gaya hidup konsumtif.

Apakah strategi asset allocation tersebut memang tidak aplikatif ? Tentu tidak, strategi ini tetap bisa diterapkan bahkan jika anda membaca buku-buku berkaitan dengan investasi di luar negeri ataupun menggunakan aplikasi finansialnya, semuanya adalah tentang bagaimana mengalokasikan investasi dengan baik. Dengan catatan, bahwa cara ini baru cocok untuk anda berada dalam tahapan Wealth Preservation.

Dalam bahasa perencanaan keuangan, Wealth Preservation adalah tahapan bagaimana investor mempertahankan dan mengembangkan nilai aset yang dimilikinya. Tujuan keuangan seperti liburan ke luar negeri, pendidikan anak, dan bahkan pensiun mungkin sudah bukan menjadi persoalan bagi orang-orang yang berada dalam tahapan ini karena sudah memiliki sejumlah aset atau pendapatan yang nilainya signifikan. Sebagian dari anda mengenalnya dengan istilah High Net Worth Individual (HNWI).

Pertanyaannya, bagaimana cara melakukan investasi reksa dana dengan strategi Asset Allocation ? Read more…

%d bloggers like this: