Archive

Archive for the ‘Pendapat Tentang Makro Ekonomi’ Category

Jika Hal Ini Benar, Maka IHSG Siap-Siap Terbang Tinggi…

August 13th, 2016 No comments

Berita Kontan Tentang Rencana Perubahan PPh

Pada tanggal 12 Agustus 2016 yang lalu, Kontan Online merilis berita di atas. Isi lengkapnya saya kutip sebagai berikut :

Jakarta. Wacana pemerintah untuk memangkas tarif pajak penghasilan / PPh Badan terus bergulir. Tidak hanya turun dari 25% saat ini menjadi 17% seperti keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Ken Dwijugiasetiadi bahkan mengatakan PPh badan bisa menjadi 10%. 

Ken bilang, tarif PPH badan bisa turun menjadi 10% jika jumlah wajib pajak yang menjadi basis pajak meningkat. Dengan tarif 10%, tarif PPh badan akan sama dengan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). “Kita sesuaikan dengan tarif pajak di negara tetangga,” kata Ken, Kamis (11/8). 

Ken berharap, program pengampunan pajak atau tax amnesty akan mendongkrak basis pajak.  Program ini diharapkan tidak hanya akan menambah jumlah wajib pajak yang patuh, namun juga menambah jumlah wajib pajak baru.  Namun Ken belum bisa menjelaskan berapa kenaikan basis pajak yang diperlukan agar tarif PPh badan bisa turun dari 25% menjadi 10%. 

Yang pasti sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, penurunan PPh badan dari 25% menjadi 17% bisa dilakukan bertahap atau secara langsung. Jika bertahap, tarif akan diturunkan ke 20%, sebelum turun menjadi 17%. 

Rencana penurunan tarif PPh badan ini akan dimasukkan dalam  revisi Undang-Undang (UU) tentang PPh dan UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Jokowi berharap dengan tarif 17%,  Indonesia mampu bersaing dengan Singapura. 

Tak bisa bersaing

Sebenarnya wacana penurunan tarif PPh badan bukan kali ini saja diungkapkan pemerintah. Sebelumnya pemerintah berwacana akan menurunkan tarif PPh badan menjadi 18%. Penurunan tarif itu diharapkan bisa  membuat Indonesia bersaing dengan negara tetangga, seperti Filipina yang menerapkan tarif PPh badan 30%,  Malaysia 25%, Vietnam 22%, Thailand 20%. 

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, penurunan PPh badan mungkin dilakukan jika pemerintah sudah memiliki data wajib pajak yang baik. “Artinya harus melakukan reformasi kelembagaan dan sistem perpajakan lebih dahulu. Jika dengan kondisi saat ini, sulit dilakukan,” katanya. 

Yustinus bilang, pemerintah sadar, meskipun tarif pajak, belum tentu rasio pajak akan naik. “Lebih baik bertahap ke 22% dulu,” katanya. 

Pengamat Pajak Universitas Indonesia Darussalam menjelaskan, tren dunia saat ini memang menurunkan tarif PPh badan. Malaysia berencana memangkas tarif PPh badan menjadi 24%. Begitu juga Vietnam dari 22% menjadi 20% pada tahun ini. “Ada kecenderungan di dunia menurunkan tarif PPh badan,” katanya. 

Dia menambahkan, penurunan tarif PPh bertujuan mencegah profit shifting dan meningkatkan investasi ke dalam negeri. Meski pun begitu, Darussalam mengingatkan, Indonesia sulit berkompetisi dengan Singapura dalam memberikan fasilitas pajak. “Karena itu Indonesia jangan terjebak perang tarif dengan Singapura,” kata Darussalam. 

Pengamat pajak Ronny Bako mengatakan, peningkatan basis pajak saat ini dapat dilakukan. Pertama, menetapkan semua orang dewasa di Indonesia, mulai usia 21 tahun, menjadi wajib pajak. 

Saat ini, hanya disebut telah memiliki penghasilan. Kedua, semua usaha barang dan jasa, apakah berbadan hukum atau tidak, menjadi wajib pajak. 

Ketentuan saat ini, hanya usaha yang berbadan hukum yang membayar pajak. Ketiga, memperjelas apa saja struktur biaya yang dapat dihitung sebagai pengurang pajak. Cara ini meniru penetapan biaya di industri migas yang menerapkan skema cost recovery.   

Sumber : http://nasional.kontan.co.id/news/asyik-pph-di-ri-bisa-lebih-murah-dari-singapura 

Terus terang saya sangat senang dengan berita ini karena jika terjadi berpotensi membuat IHSG terbang tinggi.

Mengapa ?? Read more…

Update Pasar Panin Asset Management Agustus 2016

August 12th, 2016 7 comments

Investasi Semester II 2016

Selama bulan Juni, Juli dan Agustus 2016, IHSG mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Faktor pendorongnya bermacam-macam mulai dari disahkannya UU Pengampunan Pajak,  suku bunga The Fed yang tidak jadi naik, hingga reshuffle kabinet yang susunan menterinya lebih diterima oleh pasar. Yang menjadi pertanyaan investor adalah apakah tren ini akan terus berlanjut ? Apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan oleh investor?

Berikut ini update market dari Panin Asset Management untuk Agustus 2016.

Screen Shot 2016-08-11 at 11.11.06 PM

Sumber: Yahoo Finance

Read more…

Outlook Investasi Semester II 2016

July 5th, 2016 8 comments

Chart

Secara umum, kinerja saham dan obligasi serta reksa dana selama semester I 2016 bisa dikatakan cukup baik. Rata-rata kenaikan harganya mencapai 7% – 9%, beberapa reksa dana bahkan tercatat mampu membukukan tingkat return di atas 10% selama 6 bulan pertama di 2016 ini. Bagaimana dengan kinerja semester II 2016 ? Apa yang kira-kira akan menjadi pendorong dan apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan ?

Berikut ini adalah kinerja saham, obligasi dan rata-rata reksa dana selama semester I 2016

Kinerja Investasi Semester I 2016

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Read more…

Dampak Brexit dan Tax Amnesty Terhadap Pasar Modal Indonesia – Update 29 Juni

June 29th, 2016 18 comments

Brexit Puzzle Pieces

Bulan Juni ini, tepatnya hari Jumat tanggal 24 Juni 2016, terdapat 2 kejadian yang berdampak besar bagi pasar modal Indonesia. 1 Kejadian yang berdampak negatif adalah tentang Brexit (British Exit) yang diberitakan oleh berbagai media nasional maupun internasional. Saking banyaknya pemberitaan tersebut, 1 kejadian yang berdampak positif menjadi kurang diperhatikan atau bahkan tidak disadari masyarakat.

Kejadian yang berdampak positif tersebut adalah disepakatinya tarif tebusan tax amnesty dan periode pengajuan yang terdiri dari 3 kuartal hingga Maret 2017. Berita ini dimuat di CNN Indonesia hari Jumat sekitar jam 12.48 dan menurut saya menjadi pemicu menguatnya IHSG di sesi 2. Hal ini juga menjadi penyebab mengapa pasar modal Indonesia turunnya relatif lebih kecil dibandingkan pasar modal Amerika Serikat, Eropa dan pasar modal Asia lainnya yang mencapai rata-rata di atas 3%.

Referensi berita : Tim Perumus RUU Tax Amnesty Sepakati Besaran Tarif Tebusan

IHSG Dampak Brexit dan Tax Amnesty

Meski belum resmi menjadi Undang-Undang, pembahasan tentang RUU Tax Amnesty sepertinya sudah menunjukkan titik terang. Hal ini menjadi positive surprise yang telah ditunggu-tunggu sejak awal tahun sehingga berdampak positif terhadap bursa saham Indonesia.

Dengan 2 kejadian yaitu Brexit dan RUU Tax Amnesty, bagaimana dampaknya terhadap investasi reksa dana di semester 2 tahun ini ? Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Bagaimana Kinerja Perusahaan di Kuartal 1 – 2016 ?

May 14th, 2016 17 comments

Economic Growth 2016

Pada artikel Menanti Potensi “Positive Surprise” Di Tahun 2016, saya menyebutkan ada 4 potensi yang mungkin saja bisa membuat kinerja saham meningkat. Salah satu di antaranya adalah publikasi laporan keuangan perusahaan pada kuartal 1 – 2016. Asumsi yang digunakan adalah bahwa kinerja perusahaan sudah mulai memasuki masa pemulihan sehingga diharapkan penjualan dan laba bisa meningkat.

Dengan menggunakan teori bahwa harga saham mencerminkan fundamental perusahaan, jika penjualan dan laba bersih meningkat maka akan meningkatkan nilai fundamental perusahaan. Selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan harga pasar saham juga. Berapa persen peningkatan yang dianggap bagus? Sebenarnya bagi perusahaan tentu yang diharapkan adalah yang setinggi-tingginya. Namun sebenarnya yang lebih penting adalah konsistensi dalam jangka panjang.

Dalam buku Phil Town #1 Rule yang mengadopsi teori Value Investing, disebutkan bahwa salah satu kriteria bagi “Outstanding Company” adalah perusahaan dengan rata-rata pertumbuhan penjualan dan laba bersih di atas 10% per tahun selama 10 tahun. Dengan inflasi yang lebih tinggi, seharusnya di Indonesia angka yang wajar adalah mungkin sekitar 15%. Namun angka 10 – 15% bisa dijadikan sebagai referensi angka pertumbuhan yang bagus.

Pertanyaannya, apakah laporan keuangan pada kuartal 1 – 2016 juga sudah mencerminkan hal tersebut? Mari kita lihat analisa sebagai berikut Read more…

Menanti Potensi “Positive Surprise” Di Tahun 2016

April 4th, 2016 5 comments

Positive Surprise

Sampai dengan kuartal I 2016, kinerja investasi reksa dana cukup menggembirakan. Secara rata-rata, reksa dana saham mencatatkan kenaikan paling tinggi yaitu 5.41% diikuti oleh reksa dana campuran 5.13%. Reksa dana pendapatan tetap juga mencatatkan kinerja yang sangat tinggi mengingat dengan karakternya yang konservatif mampu membukukan return 5.12%. Bahkan selama awal tahun, return reksa dana pendapatan tetap sempat mengalahkan reksa dana campuran dan saham. Hal ini tidak terlepas dari dampak penurunan BI Rate yang dilakukan oleh pemerintah sejak awal tahun.

Untuk reksa dana pasar uang, rata-rata selama kuartal 1 – 2016 adalah 1.44%. Penurunan BI Rate memang sedikit banyak mempengaruhi kinerja reksa dana ini, namun di satu sisi reksa dana pasar uang juga berinvestasi pada obligasi sehingga bisa tetap mendapatkan keuntungan dari penurunan BI Rate. Kinerja dari keempat jenis reksa dana berdasarkan grafik Infovesta di bawah adalah sebagai berikut:

Kinerja Reksa Dana Q1 2016

Meski menunjukkan perkembangan yang positif, namun akibat kinerja saham yang negatif pada tahun 2015 dan “kegaduhan” politik yang terus berulang, investor reksa dana khususnya saham secara umum masih cenderung wait and see. Pembangunan infrastruktur pemerintah yang sudah mulai menunjukkan hasil memang berdampak positif, namun masih ada keraguan bahwa kenaikan bursa saham ini dapat terus bertahan. Alhasil dana yang masuk ke saham dan reksa dana saham Indonesia, meski positif, tapi masih “nanggung” baik dari investor lokal, institusi ataupun investor asing.

Apa kira-kira potensi positive surprise yang dapat membuat pasar saham menggeliat di sisa tahun 2016 ini? Berikut analisa dan prediksi dari saya : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Apa Dampak MEA Terhadap Pasar Modal Indonesia ?

January 11th, 2016 6 comments

 

Screen Shot 2016-01-11 at 12.30.10 AM

Tahun 2016 adalah tahun berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN atau dikenal dengan istilah MEA. Memang, hingga saat ini belum ada perubahan besar yang dirasakan terkait dengan pemberlakuan MEA ini. Bahkan apa itu MEA saja, saya rasa banyak dari masyarakat Indonesia yang belum mengetahuinya. Kemudian, dari berbagai kesempatan saya juga sering mendapat pertanyaan tentang dampak pemberlakukan MEA terhadap Indonesia khususnya untuk bidang pasar modal.

Secara umum, Masyarakat Ekonomi ASEAN diartikan sebagai sebuah masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain (maksudnya antara negara yang satu dengan negara yang lain dalam linhgkup ASEAN) dimana adanya perdagangan bebas diantara negara-negara anggota ASEAN yang telah disepaki bersama antara pemimpin-pemimpin negara-negara ASEAN untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang lebih stabil, makmur dan kompetitif dalam pembangunan ekonomi.

Halaman resmi organisasi internasional ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan tujuan dari integrasi ekomoni regional kawasan Asia Tenggara yang diberlakukan pada tahun 2015. Karakteristik MEA sendiri meliputi: (1) berbasis pada pasar tunggal dan produksi, (2) kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, (3) wilayah pembangunan ekonomi yang adil, dan (4) kawasan yang begitu terintegrasi dalam hal ekonomi global.

Informasi lebih lengkap tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN ini bisa dibaca pada situs resmi www.asean.org. Pembahasan saya akan difokuskan tentang dampaknya terhadap pasar modal terutama dari sisi tenaga kerja, perusahaan dan produk serta kinerja pasar modal dari sudut pandang pribadi saya sebagai praktisi.

Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2016

January 2nd, 2016 7 comments

Investasi 2016

Secara umum, tahun 2015 bisa dikatakan sebagai tahun yang tidak menyenangkan bagi investor pasar modal. Apalagi penyebabnya jika bukan karena kinerja saham dan reksa dana saham yang negatif pada tahun tersebut. Penyebabnya? Sepanjang tahun 2015 memang penuh dengan kegaduhan, akibatnya penyerapan anggaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketidakpastian juga mempengaruhi keyakinan investor swasta sehingga cenderung menunda ekspansi investasinya.

Dari sisi eksternal, perlambatan ekonomi China dan persaingan Arab Saudi untuk tetap menjadi penghasil minyak utama di tengah penemuan teknologi shale gas membuat harga komoditas sulit naik. Kemudian ketidakjelasan akibat suku bunga The Fed yang baru bisa diputuskan pada akhir tahun lalu membuat pasar dihinggap ketidakpastian.

Kombinasi dari semua hal di atas menyebabkan laba bersih perusahaan menurun, bahkan ada juga yang mengalami kerugian. Prinsip dari pasar modal, harga saham mencerminkan fundamental perusahaan. Jika laba bersih (fundamental) turun, maka adalah wajar jika harga sahamnya juga ikut turun.

Berikut ini adalah rekapitulasi kinerja pasar modal dan juga komoditas sepanjang 2015. Read more…

%d bloggers like this: