Archive

Archive for the ‘Pendapat Tentang Makro Ekonomi’ Category

Update Pasar Panin Asset Management Agustus 2016

August 12th, 2016 7 comments

Investasi Semester II 2016

Selama bulan Juni, Juli dan Agustus 2016, IHSG mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Faktor pendorongnya bermacam-macam mulai dari disahkannya UU Pengampunan Pajak,  suku bunga The Fed yang tidak jadi naik, hingga reshuffle kabinet yang susunan menterinya lebih diterima oleh pasar. Yang menjadi pertanyaan investor adalah apakah tren ini akan terus berlanjut ? Apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan oleh investor?

Berikut ini update market dari Panin Asset Management untuk Agustus 2016.

Screen Shot 2016-08-11 at 11.11.06 PM

Sumber: Yahoo Finance

Read more…

Outlook Investasi Semester II 2016

July 5th, 2016 8 comments

Chart

Secara umum, kinerja saham dan obligasi serta reksa dana selama semester I 2016 bisa dikatakan cukup baik. Rata-rata kenaikan harganya mencapai 7% – 9%, beberapa reksa dana bahkan tercatat mampu membukukan tingkat return di atas 10% selama 6 bulan pertama di 2016 ini. Bagaimana dengan kinerja semester II 2016 ? Apa yang kira-kira akan menjadi pendorong dan apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan ?

Berikut ini adalah kinerja saham, obligasi dan rata-rata reksa dana selama semester I 2016

Kinerja Investasi Semester I 2016

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Read more…

Dampak Brexit dan Tax Amnesty Terhadap Pasar Modal Indonesia – Update 29 Juni

June 29th, 2016 18 comments

Brexit Puzzle Pieces

Bulan Juni ini, tepatnya hari Jumat tanggal 24 Juni 2016, terdapat 2 kejadian yang berdampak besar bagi pasar modal Indonesia. 1 Kejadian yang berdampak negatif adalah tentang Brexit (British Exit) yang diberitakan oleh berbagai media nasional maupun internasional. Saking banyaknya pemberitaan tersebut, 1 kejadian yang berdampak positif menjadi kurang diperhatikan atau bahkan tidak disadari masyarakat.

Kejadian yang berdampak positif tersebut adalah disepakatinya tarif tebusan tax amnesty dan periode pengajuan yang terdiri dari 3 kuartal hingga Maret 2017. Berita ini dimuat di CNN Indonesia hari Jumat sekitar jam 12.48 dan menurut saya menjadi pemicu menguatnya IHSG di sesi 2. Hal ini juga menjadi penyebab mengapa pasar modal Indonesia turunnya relatif lebih kecil dibandingkan pasar modal Amerika Serikat, Eropa dan pasar modal Asia lainnya yang mencapai rata-rata di atas 3%.

Referensi berita : Tim Perumus RUU Tax Amnesty Sepakati Besaran Tarif Tebusan

IHSG Dampak Brexit dan Tax Amnesty

Meski belum resmi menjadi Undang-Undang, pembahasan tentang RUU Tax Amnesty sepertinya sudah menunjukkan titik terang. Hal ini menjadi positive surprise yang telah ditunggu-tunggu sejak awal tahun sehingga berdampak positif terhadap bursa saham Indonesia.

Dengan 2 kejadian yaitu Brexit dan RUU Tax Amnesty, bagaimana dampaknya terhadap investasi reksa dana di semester 2 tahun ini ? Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Bagaimana Kinerja Perusahaan di Kuartal 1 – 2016 ?

May 14th, 2016 17 comments

Economic Growth 2016

Pada artikel Menanti Potensi “Positive Surprise” Di Tahun 2016, saya menyebutkan ada 4 potensi yang mungkin saja bisa membuat kinerja saham meningkat. Salah satu di antaranya adalah publikasi laporan keuangan perusahaan pada kuartal 1 – 2016. Asumsi yang digunakan adalah bahwa kinerja perusahaan sudah mulai memasuki masa pemulihan sehingga diharapkan penjualan dan laba bisa meningkat.

Dengan menggunakan teori bahwa harga saham mencerminkan fundamental perusahaan, jika penjualan dan laba bersih meningkat maka akan meningkatkan nilai fundamental perusahaan. Selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan harga pasar saham juga. Berapa persen peningkatan yang dianggap bagus? Sebenarnya bagi perusahaan tentu yang diharapkan adalah yang setinggi-tingginya. Namun sebenarnya yang lebih penting adalah konsistensi dalam jangka panjang.

Dalam buku Phil Town #1 Rule yang mengadopsi teori Value Investing, disebutkan bahwa salah satu kriteria bagi “Outstanding Company” adalah perusahaan dengan rata-rata pertumbuhan penjualan dan laba bersih di atas 10% per tahun selama 10 tahun. Dengan inflasi yang lebih tinggi, seharusnya di Indonesia angka yang wajar adalah mungkin sekitar 15%. Namun angka 10 – 15% bisa dijadikan sebagai referensi angka pertumbuhan yang bagus.

Pertanyaannya, apakah laporan keuangan pada kuartal 1 – 2016 juga sudah mencerminkan hal tersebut? Mari kita lihat analisa sebagai berikut Read more…

Menanti Potensi “Positive Surprise” Di Tahun 2016

April 4th, 2016 5 comments

Positive Surprise

Sampai dengan kuartal I 2016, kinerja investasi reksa dana cukup menggembirakan. Secara rata-rata, reksa dana saham mencatatkan kenaikan paling tinggi yaitu 5.41% diikuti oleh reksa dana campuran 5.13%. Reksa dana pendapatan tetap juga mencatatkan kinerja yang sangat tinggi mengingat dengan karakternya yang konservatif mampu membukukan return 5.12%. Bahkan selama awal tahun, return reksa dana pendapatan tetap sempat mengalahkan reksa dana campuran dan saham. Hal ini tidak terlepas dari dampak penurunan BI Rate yang dilakukan oleh pemerintah sejak awal tahun.

Untuk reksa dana pasar uang, rata-rata selama kuartal 1 – 2016 adalah 1.44%. Penurunan BI Rate memang sedikit banyak mempengaruhi kinerja reksa dana ini, namun di satu sisi reksa dana pasar uang juga berinvestasi pada obligasi sehingga bisa tetap mendapatkan keuntungan dari penurunan BI Rate. Kinerja dari keempat jenis reksa dana berdasarkan grafik Infovesta di bawah adalah sebagai berikut:

Kinerja Reksa Dana Q1 2016

Meski menunjukkan perkembangan yang positif, namun akibat kinerja saham yang negatif pada tahun 2015 dan “kegaduhan” politik yang terus berulang, investor reksa dana khususnya saham secara umum masih cenderung wait and see. Pembangunan infrastruktur pemerintah yang sudah mulai menunjukkan hasil memang berdampak positif, namun masih ada keraguan bahwa kenaikan bursa saham ini dapat terus bertahan. Alhasil dana yang masuk ke saham dan reksa dana saham Indonesia, meski positif, tapi masih “nanggung” baik dari investor lokal, institusi ataupun investor asing.

Apa kira-kira potensi positive surprise yang dapat membuat pasar saham menggeliat di sisa tahun 2016 ini? Berikut analisa dan prediksi dari saya : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Apa Dampak MEA Terhadap Pasar Modal Indonesia ?

January 11th, 2016 6 comments

 

Screen Shot 2016-01-11 at 12.30.10 AM

Tahun 2016 adalah tahun berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN atau dikenal dengan istilah MEA. Memang, hingga saat ini belum ada perubahan besar yang dirasakan terkait dengan pemberlakuan MEA ini. Bahkan apa itu MEA saja, saya rasa banyak dari masyarakat Indonesia yang belum mengetahuinya. Kemudian, dari berbagai kesempatan saya juga sering mendapat pertanyaan tentang dampak pemberlakukan MEA terhadap Indonesia khususnya untuk bidang pasar modal.

Secara umum, Masyarakat Ekonomi ASEAN diartikan sebagai sebuah masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain (maksudnya antara negara yang satu dengan negara yang lain dalam linhgkup ASEAN) dimana adanya perdagangan bebas diantara negara-negara anggota ASEAN yang telah disepaki bersama antara pemimpin-pemimpin negara-negara ASEAN untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang lebih stabil, makmur dan kompetitif dalam pembangunan ekonomi.

Halaman resmi organisasi internasional ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan tujuan dari integrasi ekomoni regional kawasan Asia Tenggara yang diberlakukan pada tahun 2015. Karakteristik MEA sendiri meliputi: (1) berbasis pada pasar tunggal dan produksi, (2) kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, (3) wilayah pembangunan ekonomi yang adil, dan (4) kawasan yang begitu terintegrasi dalam hal ekonomi global.

Informasi lebih lengkap tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN ini bisa dibaca pada situs resmi www.asean.org. Pembahasan saya akan difokuskan tentang dampaknya terhadap pasar modal terutama dari sisi tenaga kerja, perusahaan dan produk serta kinerja pasar modal dari sudut pandang pribadi saya sebagai praktisi.

Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2016

January 2nd, 2016 7 comments

Investasi 2016

Secara umum, tahun 2015 bisa dikatakan sebagai tahun yang tidak menyenangkan bagi investor pasar modal. Apalagi penyebabnya jika bukan karena kinerja saham dan reksa dana saham yang negatif pada tahun tersebut. Penyebabnya? Sepanjang tahun 2015 memang penuh dengan kegaduhan, akibatnya penyerapan anggaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketidakpastian juga mempengaruhi keyakinan investor swasta sehingga cenderung menunda ekspansi investasinya.

Dari sisi eksternal, perlambatan ekonomi China dan persaingan Arab Saudi untuk tetap menjadi penghasil minyak utama di tengah penemuan teknologi shale gas membuat harga komoditas sulit naik. Kemudian ketidakjelasan akibat suku bunga The Fed yang baru bisa diputuskan pada akhir tahun lalu membuat pasar dihinggap ketidakpastian.

Kombinasi dari semua hal di atas menyebabkan laba bersih perusahaan menurun, bahkan ada juga yang mengalami kerugian. Prinsip dari pasar modal, harga saham mencerminkan fundamental perusahaan. Jika laba bersih (fundamental) turun, maka adalah wajar jika harga sahamnya juga ikut turun.

Berikut ini adalah rekapitulasi kinerja pasar modal dan juga komoditas sepanjang 2015. Read more…

Apakah Investasi Obligasi Menarik Untuk Jangka Panjang ?

September 9th, 2015 7 comments

Uptrend stacks coins, dices cube with the word GO and calculator

Beberapa waktu yang lalu saya datang bersama tenaga pemasar bertemu dengan pengurus yayasan sebuah lembaga pendidikan yang berminat untuk investasi reksa dana. Karena berbentuk yayasan serta dana yang ada akan digunakan untuk membiayai usaha di bawah naugannya, kebijakan investasi dari yayasan tersebut sangat konservatif. Plus ada masukan dari komite investasi agar tidak boleh rugi.

Terus terang, jika ada kebijakan tidak boleh rugi, sebetulnya investasi reksa dana sudah tidak cocok lagi karena bahkan reksa dana pasar uang yang paling aman sekalipun masih bisa mengalami penurunan harga. Bersama team pemasar dan klien tersebut, kami berdiskusi tentang berbagai produk investasi hingga akhirnya sampai pada obligasi. Sebab dengan target bisa mendapatkan hasil di atas deposito dan tidak boleh rugi, maka pilihan hanya tinggal obligasi pemerintah saja.

Secara teori, investor pada umumnya percaya bahwa investasi obligasi dalam jangka panjang akan kalah dengan hasil investasi saham. Demikian juga reksa dana yang berinvestasi pada obligasi juga diyakini akan kalah dengan reksa dana saham dalam jangka panjang. Namun jika kita berbicara pengelolaan dana perusahaan seperti yayasan, dana pensiun, asuransi dan lembaga pengelola dana besar lainnya, penempatan dana paling besar justru selalu pada obligasi terutama obligasi pemerintah.

Apa yang membuat institusi tersebut menempatkan sebagian besar dananya di obligasi pemerintah? Apakah investasi obligasi menarik untuk jangka panjang ? Apakah dalam kondisi pasar seperti sekarang, berinvestasi di obligasi menjadi salah satu pilihan ? Read more…

%d bloggers like this: