Archive

Archive for the ‘Pendapat Tentang Makro Ekonomi’ Category

IHSG di Tahun Politik 2004 – 2009 – 2014

September 10th, 2018 3 comments

What's Next?

Pergerakan nilai tukar Rp terhadap USD yang beberapa kali sempat menyentuh Rp 15.000 dan harga saham obligasi yang menurun di tahun 2019 (sampai dengan awal September ini) menjadi perhatian bagi investor reksa dana. Banyak pertanyaan seperti sampai di level berapa IHSG dan Rp akan melemah, apakah sebaiknya dilakukan cutloss atau malah masuk kembali, dan berapa target IHSG di akhir tahun.

Terus terang, sampai di level berapa IHSG dan Rp dan kira-kira di akhir tahun nanti IHSG bisa ada di berapa, saya tidak tahu. Faktor-faktor yang memberikan sentimen negatif seperti rencana kenaikan suku bunga, perang dagang antara US dengan China,  harga minyak yang tinggi (sehingga menyebabkan kebutuhan USD semakin besar), dan krisis mata uang yang menimpa negara berkembang lain seperti Turki, Argentina, Iran, dan terakhir Afrika Selatan kelihatannya masih belum akan berubah dalam waktu dekat.

Namun yang jelas, saya melihat adanya kehadiran dan upaya yang sangat keras dari pemerintah untuk menjaga situasi perekonomian. Mulai dari kenaikan suku bunga BI Rate, menurunnya cadangan devisa yang dipergunakan untuk intervensi nilai tukar, penggunaan biodiesel untuk bahan bakar solar, penetapan tarif impor untuk barang tertentu, dan berbagai himbauan untuk menukarkan USD dan menggunakan produk dalam negeri telah dilakukan.

Meskipun tidak serta merta dapat mengangkat nilai tukar, paling tidak bisa menahan agar nilainya tidak turun secara signifikan dibandingkan dengan negara lain. Nilai tukar mata uang yang melemah biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga saham dan obligasi, sehingga berdampak pula terhadap kinerja reksa dana.

Bagi investor yang merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi yang ada, sebagai pemilik dana adalah hak mutlak untuk melakukan pengalihan (switching) ke jenis reksa dana yang lebih konservatif seperti reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. Namun untuk investor yang masih sabar dan berorientasi jangka panjang, biasanya pada tahun politik dimana pemilihan Presiden dilakukan, kinerja IHSG selalu positif. Hal ini terlihat dari statistik IHSG di tahun 2004, 2009 dan 2014 yang masing-masing positif sebesar 44.56%, 86.98% dan 22.29%.

Yang menjadi pertanyaan, pada saat kapan kenaikan di IHSG terjadi? Apakah sebelum, pada saat atau sesudah pemilihan dilakukan? Bagaimana pula analisanya untuk tahun 2019 ini ? Berikut hasil data dan analisanya. Read more…

Jamu Pahit, Jamu Manis…

July 6th, 2018 5 comments

Jamu

Jangan salah paham, blog ini masih fokus dengan pembahasan seputar dunia keuangan dan investasi. Saat ini saya belum berniat banting setir ke industri obat tradisional 8-) . Judul ini terinspirasi dari kutipan wawancara dengan Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Dalam penjelasan terkait pengumuman kenaikan BI Rate dan relaksasi moneter yang lalu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengibaratkan bank sentral memberi jamu pahit dan jamu manis dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan pertumbuhan. (Referensi : Perry Warjiyo: ‘Jamu Pahit’ BI Akan Terasa 9 Bulan Lagi)

Kenaikan BI Rate diibaratkan sebagai “Jamu Pahit”. Sebab secara teori ekonomi, kenaikan suku bunga BI Rate akan diikuti dengan penyesuaian suku bunga deposito dan suku bunga kredit di perbankan walaupun tidak serta merta. Kenaikan suku bunga kredit akan menyebabkan biaya pinjaman meningkat sehingga dikhawatirkan memperlambat pertumbuhan.

Namun dari sudut pandang finansial, kenaikan BI Rate akan membuat daya tarik surat utang Indonesia menjadi semakin menarik  sehingga investor asing membeli atau minimal berhenti keluar dari Indonesia. Hal ini diharapkan akan membuat nilai tukar Rp bisa menguat terhadap USD.

Sementara relaksasi yang diibaratkan sebagai “Jamu Manis” adalah kebijakan tentang :

  1. Pemberian kewenangan kepada Bank yang memenuhi syarat untuk menentukan besaran DP untuk rumah pertama dari sebelumnya minimal 10-15%
  2. Menyesuaikan pengaturan tahapan dan besaran pencairan kredit/ pembiayaan properti inden, dimana sebelumnya rumah / hunian mesti sudah dibangun pondasi dulu baru 40% dari pinjaman dicairkan dari pihak bank ke developer menjadi sudah dicairkan 30% pada saat akad kredit

Dengan DP yang lebih rendah, tentu berpotensi meningkatkan jumlah pembeli rumah. Walaupun dalam pendapat saya pribadi, selama ini kebijakan DP rendah atau bahkan 0 sebenarnya sudah  diterapkan oleh berupa cicilan DP ke developer. Yang lebih mengena adalah percepatan pencairan ke pihak developer.

Berdasarkan aturan yang lama, apabila pembeli menggunakan pilihan KPR, maka developer baru mendapat 40% pada saat pondasi selesai. Artinya sebelum pondasi selesai, developer harus memutar otak untuk membiayai pembangunan rumah. Bagi developer yang tidak memiliki modal yang cukup atau nilai penjualannya tidak mencapai target, bisa jadi properti yang dijanjikan gagal terbangun.

Dengan adanya percepatan dimana developer sudah mendapat 30% pada saat akad kredit disetujui, maka kebutuhan akan pembiayaan akan lebih ringan sehingga proyek bisa langsung dijalankan. Tentu, kemampuan developer dalam membangun sesuai rencana, mencapai target penjualan dan mengelola keuangan juga penting.

Sektor properti merupakan sektor yang banyak turunannya. Mulai dari bahan baku seperti semen, baja, cat, dan kaca; penyerapan pekerja dan tukang serta konsumsinya selama pembangunan; mebel dan desain interior; agen properti; kredit perbankan dan sebagainya.

Sektor properti yang tumbuh secara sehat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Yang dimaksud dengan sehat adalah properti berkembang, namun harganya tidak terlalu tinggi sehingga masih terjangkau oleh masyarakat.

Bagaimana efek dari kebijakan ini terhadap investasi saham dan obligasi ? Mengapa setelah kebijakan ini dilakukan nilai tukar Rp masih bergerak “liar” ? Analisis saya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Fluktuasi Rupiah dan Dampaknya Terhadap Kinerja Reksa Dana

April 27th, 2018 No comments

Gambar Kompas

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga obligasi selama beberapa ini menjadi perhatian media dan masyarakat. Penurunan ini berdampak pada menurunnya Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan (NAB per UP) kinerja reksa dana baik yang berbasis saham maupun pendapatan tetap.

Entah kebetulan atau tidak, penurunan ini berbarengan dengan menguat nilai tukar USD terhadap Rp, dimana beberapa kali sempat mendekati Rp 14.000 / USD. Apakah penguatan nilai tukar ini menjadi penyebab menurunnya kinerja reksa dana sehingga perlu diwaspadai ke depannya?

Untuk mengetahui hal tersebut, perlu dilakukan penelitian terhadap data historis untuk nilai tukar, kinerja saham dan kinerja obligasi pemerintah dari tahun 2002 hingga 25 April 2018. Hasilnya sebagai berikut : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Apa Efek Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) Terhadap IHSG ?

March 14th, 2018 No comments

Rising interest rates

Jika tidak ada perubahan yang signifikan, seharusnya Suku Bunga Acuan Amerika Serikat atau dikenal dengan Fed Fund Rate (FFR) akan dinaikkan dari level 1.25% – 1.50% menjadi 1.50% – 1.75% pada tanggal 22 Maret 2018 nanti. Kebetulan atau tidak, menjelang kenaikan ini, Indeks Harga Saham Gabungan mengalami fluktuasi yang cukup signifikan selama bulan Februari dan Maret 2018. Bagaimana efek kenaikan FFR ini terhadap IHSG?

Efek perubahan FFR terhadap IHSG dapat dibagi dalam periode jangka panjang dan jangka pendek. Dalam jangka panjang, saya berpendapat kenaikan FFR ini positif bagi perekonomian Global dan Indonesia karena alasan untuk mengendalikan agar tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi tidak terlalu tinggi. Kenapa tinggi itu tidak baik? Pertumbuhan dan inflasi yang terlalu tinggi bisa menyebabkan bubble pada ekonomi sehingga rentan dengan penurunan. Dengan menaikkan suku bunga, tingkat pertumbuhan akan relatif lebih terjaga. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka seharusnya kenaikan FFR ini akan lebih banyak memberikan manfaat daripada mudarat bagi Indonesia.

Dalam jangka pendek agak berbeda. Sebab masih ada pandangan bahwa kenaikan FFR akan menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia, harga saham dan obligasi akan terkoreksi dan sebagainya. Pandangan tersebut tidak bisa dikatakan salah, karena dalam jangka pendek memang terkadang penurunan di saham, obligasi dan nilai tukar memang terjadi. Hanya saja belum jelas apakah penyebabnya kenaikan FFR atau penyebab lainnya. Terkadang hanya dikait-kaitkan saja dan tidak konsisten. Artinya dalam kenaikan kali ini berdampak, tapi pada kondisi serupa di waktu lain belum tentu sama.

Dalam tulisan ini, saya bermaksud untuk mencari dalam jangka pendek, apakah ada efek kenaikan FFR terhadap IHSG? Jika terjadi koreksi, berapa % koreksi yang mungkin terjadi. Periode jangka pendek yang saya maksud adalah 1 bulan sebelum dan sesudah kenaikan FFR. Data, penelitian dan hasilnya sebagai berikut Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2018

January 14th, 2018 2 comments

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2018

Penyelenggaraan Pilkada secara serentak di 171 daerah dan persiapan untuk PEMILU dan Pilpres tahun depan menjadikan tahun 2018 dikenal sebagai “ tahun politik”.

Bagaimana persiapan untuk menjadi investor reksa dana pada tahun 2018 ini?

Sebenarnya, selain tahun politik ada cukup banyak event berskala besar yang juga akan diselenggarakan pada tahun 2018.

Secara urutan, jadwal kampanye Pilkada akan dilakukan dari bulan Februari hingga Juni dengan pemungutan suara pada tanggal 27 Juni 2018. Piala Dunia 2018 di Rusia akan diselenggarakan pada 14 Juni hingga 15 Juli kemudian disambung dengan pergelaran Asian Games yang akan diselenggarakan pada bulan Agustus – September di Jakarta dan Palembang.

Ada juga pergantian pimpinan Bank Sentral AS pada bulan Februari tahun ini beserta kebijakannya akan menjadi perhatian para pemangku kepentingan di seluruh dunia tahun ini.

Jika mengacu ke data historis, selama tahun politik yang mengacu ke tahun diselenggarakannya PEMILU dan Pilpres, kinerja investasi pada tahun tersebut sebenarnya cukup baik.

Sebagai contoh berturut-turut kinerja IHSG pada tahun 1999, 2004, 2009 dan 2014 adalah sebagai berikut 70,06 persen, 44,56 persen, 86,98 persen, dan 22,29 persen. Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Apakah Siklus Krisis Keuangan 10 Tahun Akan Terjadi di 2018 ?

April 25th, 2017 11 comments

Krisis Finansial

Dalam conference call bulanan beberapa waktu yang lalu, ada pertanyaan mengenai siklus krisis keuangan 10 tahunan. Untuk mengingatkan kembali pada tahun 1997-1998 ada krisis keuangan di Asia yang menimpa berbagai negara di Asia. Kemudian pada tahun 2008, krisis keuangan global yang berawal dari Amerika mempengaruhi perekonomian di seluruh dunia. Apakah pada tahun 2018 nanti, siklus krisis keuangan 10 tahunan akan kembali terulang ?

Sebetulnya definisi krisis keuangan sendiri juga masih belum terlalu jelas. Masyarakat secara umum mungkin akan menganggap nilai mata uang yang melemah dan suku bunga di bank yang tinggi sebagai indikator krisis, kalangan pekerja akan mengganggap hilangnya lapangan pekerjaan sebagai tanda telah terjadi krisis, investor saham dan reksa dana akan mengganggap nilai saham dan NAB/Up reksa dana yang turun sebagai tanda telah terjadinya krisis, sementara ada juga ekonom yang mengganggap krisis adalah kondisi dimana pertumbuhan ekonomi domestik (GDP) tumbuh negatif selama 2 kuartal berturut-turut.

Perbedaan akan definisi krisis itu sendiri membuat terkadang sulit untuk mendefinisikan apakah suatu kondisi bisa digolongkan sebagai krisis atau tidak. Dengan kondisi setiap negara dan perekonomian yang berbeda-beda, belum tentu ketika krisis terjadi di suatu negara, negara lain mengalami kesulitan yang sama. Dan dimanapun, jika ada pihak yang dirugikan secara ekonomi, tentu ada pula pihak yang diuntungkan.

Sebagai contoh, dalam kondisi ketika mata uang Rupiah sedang melemah, perusahaan yang berbisnis ekspor akan diuntungkan karena harga jual menjadi lebih murah dan pendapatan meningkat karena diterima dalam mata uang asing. Sementara dalam kondisi mata uang Rupiah sedang menguat, perusahaan yang berbisnis impor akan diuntungkan karena harga barang yang didatangkan dari luar negeri menjadi lebih murah.

Karena luasnya definisi krisis, sebetulnya entah disadari atau tidak, jika semua definisi krisis diterima, siklus krisis keuangan tidak lagi terjadi 10 tahunan. Bahkan siklus krisis semakin pendek dan terjadi dari waktu ke waktu. Read more…

Suku Bunga The Fed Naik, Harusnya IHSG Naik Atau Turun ?

March 17th, 2017 6 comments

Federal Reserve Bank

Biasanya kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang dikenal dengan suku bunga Federal Reserve Rate (Fed Fund Rate) diasosiakan sebagai sesuatu yang negatif untuk pasar modal Indonesia. Logikanya jika suku bunga di Amerika Serikat naik, maka investasi dalam bentuk USD akan memberikan imbal hasil yang menarik, akibatnya dana ditarik dari Indonesia dan pindah ke luar negeri. Akibatnya saham dan obligasi dijual sehingga harganya juga turun, demikian pula kinerja reksa dana.

Pada tanggal 15 Maret 2017 yang lalu, Bank Sentral AS mengumumkan kenaikan suku bunga the Fed. Namun bukannya turun, malahan harga saham dan obligasi pada tanggal 16 Maret 2017 meningkat cukup signifikan sebesar 1.58%. Mengapa fenomena ini bisa terjadi ? Dan apakah penurunan ini akan terus berlanjut atau hanya bersifat sementara saja?

Kenaikan IHSG 16 Maret 2017

Read more…

Evaluasi Kinerja 2016 dan Prediksi Kinerja Investasi 2017

January 2nd, 2017 19 comments

Success business in new year

Secara umum, meski seluruh jenis reksa dana membukukan kinerja yang positif, tahun 2016 juga bisa dikatakan sebagai tahun yang penuh dengan gejolak ekonomi dan politik. Untuk 3 bulan terakhir di tahun 2016, gejolak dari sisi politik memang lebih terasa baik dari Pemilihan Presiden di Amerika Serikat maupun kampanye Pilkada Jakarta yang sudah serasa seperti Pemilihan Presiden. Bagaimana dengan tahun 2017 ? Apakah reksa dana masih akan memberikan kinerja yang positif seperti tahun 2016? Apa saja sentimen positif dan potensi risiko yang akan dihadapi ?

Sebelum membahas lebih jauh, berikut ini adalah hasil evaluasi terhadap kinerja berbagai instrumen investasi pada tahun 2016  Read more…

%d bloggers like this: