Archive

Archive for the ‘Matematika Investasi’ Category

Memprediksi Return Investasi Saham (IHSG) Dengan Price Earning Ratio

January 24th, 2018 7 comments

Growth of P/E

Dalam berinvestasi ada salah satu kutipan yang sangat terkenal dari Warren Buffet “Be Fearful When Others are Greedy and Be Greedy When Others Are Fearful”.

Berdasarkan kutipan tersebut, investor disarankan untuk berinvestasi ketika pasar sedang “greedy” yang salah satu indikatornya ditandai dengan valuasi yang sudah mahal dan diminta menjauhinya ketika pasar sedang “fearful” yang ditandai dengan valuasi yang murah. Secara tidak langsung, ingin mengatakan juga bahwa ketika valuasi sudah mahal maka potensi keuntungan akan kecil atau negatif, sebaliknya ketika valuasi murah, maka potensi keuntungannya akan besar.

Mahal atau murahnya tidak ditentukan dari besaran “harga” tapi menggunakan valuasi. Ada berbagai indikator valuasi yang dipergunakan seperti Price Earning Ratio (PE Ratio), Price Book Value (PBV), PE to Growth Ratio dan sebagainya. Dari semua indikator tersebut, rasio yang paling sering digunakan adalah Price Earning Ratio atau disingkat PER.

Referensi : valuasi saham bisa dibaca pada artikel Panduan Mencari dan Menghitung Valuasi Saham

Apakah benar bahwa mahal murahnya valuasi saham dengan menggunakan PE Ratio menentukan kinerja dalam jangka panjang? Dan bagaimana menggunakan PE Ratio untuk memprediksi return investasi saham?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya melakukan penelitian. Sumber data, pengolahanĀ dan interprestasinya adalah sebagai berikut Read more…

Categories: Matematika Investasi Tags:

Panduan Mencari dan Mengolah Data Return Saham (Bag. 2)

May 19th, 2017 35 comments

Proses Data

Setelah mengetahui bagaimana cara mendapatkan data harga saham yang tersistematis, langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut untuk mendapat informasi yang diinginkan. Dengan melanjutkan contoh sebelumnya, data saham yang sudah diambil akan diolah untuk menghitung return, rata-rata aritmatik, rata-rata geometrik, return disetahunkan, total return, standar deviasi dan beta.

Khusus untuk bagian Beta, kita memerlukan data pasar. Karena contoh yang diambil menggunakan saham BBCA, maka pasar yang digunakan adalah IHSG. Untuk mengambil data IHSG, caranya sama persis seperti pada artikel yang lalu. Kode yang digunakan adalah ^JKSE.

Langkah perhitungannya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Matematika Investasi Tags:

Panduan Menghitung Yield dan Harga Wajar Obligasi Melalui Microsoft Excel

December 11th, 2016 1 comment

Laptop showing a spreadsheet and a paper

Dalam investasi obligasi, dikenal dengan istilah Yield to Maturity (YTM). Secara sederhana, YTM adalah tingkat keuntungan tahunan yang diperoleh investor obligasi dari kupon yang dibagikan ditambahkan dengan selisih harga apabila memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo. Rumus untuk menghitung besaran YTM obligasi bisa ditemui dengan mudah di berbagai buku tentang investasi dan manajemen keuangan, namun permasalahannya rumus tersebut mengasumsikan kita berinvestasi pada tanggal perdana atau tanggal pembagian kupon.

Apabila pembelian dilakukan di antara tengah-tengah pembagian kupon, menurut saya perlu dilakukan penyesuaian terhadap rumus yang digunakan. Sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan buku yang membahas tentang hal tersebut sehingga adalah lebih praktis untuk menghitung YTM obligasi menggunakan rumus yang tersedia dalam program Microsoft Excel. Selain menghitung YTM, Microsoft Excel juga dapat membantu penggunanya untuk menghitung harga obligasi berdasarkan tingkat keuntungan yang diharapkan.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menghitung YTM dan Harga Obligasi menggunakan Excel. Read more…

Bagaimana Cara Manajer Investasi Melakukan Asset Allocation ?

May 5th, 2016 8 comments

Aset Alokasi Saham

Lebih dari 20 tahun yang lalu, 3 orang akademisi yaitu Gary P. Brinson, L. Randolph Hood dan Gilbert L. Beebower (BHB) menerbitkan suatu publikasi manajemen portofolio yang dijadikan sebagai rujukan dalam berbagai buku keuangan hingga sekarang. Judul publikasi tersebut yaitu “Determinant of Portfolio Performance”.

Dalam publikasi itu disebutkan bahwa secara umum para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan dana menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menentukan jenis kelas aset (asset class) yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dalam portofolio
  2. Menentukan apakah akan normal, over atau underweight pada masing-masing kelas dalam portofolio*, proses ini disebut dengan Policy atau Asset Allocation
  3. Secara strategis melakukan penyesuaian dalam pengelolaan portofolio dibandingkan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencoba mendapatkan excess return dari fluktuasi harga jangka pendek atau dikenal dengan sebutan Market Timing
  4. Memilih secara selektif saham atau obligasi dalam masing-masing kelas aset untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang superior, proses ini disebut dengan Security Selection.

*Yang dimaksud dengan normal, over dan underweight adalah komposisi saham / obligasi dari portofolio investasi terhadap pasar. Misalkan dalam IHSG, komposisi dari saham Astra adalah 10%, maka suatu reksa dana dikatakan normal weighted apabila komposisi Astra dalam portofolionya adalah 10%, jika di atas 10% disebut overweight dan jika dibawah 10% disebut underweight.

Penelitian tersebut bermaksud untuk mencari tahu, dalam konteks melakukan pengelolaan dana, langkah manakah yang paling berpengaruh terhadap kinerja manajer investasi? Apakah Asset Allocation, Market Timing atau Security Selection ? Berdasarkan yang dilakukan oleh BHB, disebutkan bahwa 93.6% kinerja pengelolaan ditentukan oleh Asset Allocation, sisanya yaitu 6.4% ditentukan oleh Market Timing, Security Selection dan Lainnya (Faktor lainnya atau other, biasanya selalu terdapat dalam perhitungan statistik).

Dalam perjalanannya, riset ini mendapat banyak tanggapan baik yang bersifat pro dan kontra. Ada juga penelitian serupa yang dilakukan terhadap reksa dana saham dan mendapatkan hasil dimana ternyata pengaruhnya tidak sampai sebesar 93%, tapi berkisar antara 30 – 70an%. Terlepas dari benar atau salahnya penelitian tersebut, Asset Allocation memang menjadi faktor penting bagi Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana.

Tulisan kali ini tidak bermaksud mereproduksi penelitian di atas di Indonesia. Sebab ketika saya membaca jurnal aslinya, ada beberapa tahapan yang terus terang tidak begitu dimengerti. Selain itu, fokus dalam tulisan ini adalah memberikan gambaran kepada anda bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana. Dengan demikian, investor bisa lebih memahami proses yang terjadi dalam pengelolaan reksa dana. Read more…

Yesterday Champion = Tomorrow Winner ?

February 10th, 2016 5 comments

Yesterday Champion Tomorrow Winner

Setiap tahun, perusahaan riset dan media seperti Infovesta, Kontan, Investor Daily, Bloomberg dan bahkan sekarang Asosiasi Perencana Keuangan mengeluarkan daftar reksa dana terbaik. Tujuan dari publikasi tersebut biasanya ada 2, pertama memberikan apresiasi kepada para Manajer Investasi yang telah berkinerja baik. Kedua, memberikan referensi kepada investor produk reksa dana yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan.

Dalam semua publikasi tersebut, biasanya selalu dicantumkan disclaimer bahwa kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang di masa mendatang. Meski demikian, karena dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki dianggap memiliki kredibilitas dan basis pembaca yang luas, biasanya daftar tersebut selalu dijadikan pertimbangan utama oleh para investor.

Pembahasan dalam artikel ini tidak dalam posisi memperdebatkan apakah urutan juara atau cara yang digunakan sudah tepat atau kurang tepat. Sebab saya yakin mereka sudah mengusahakan yang terbaik dengan mempertimbangkan semua aspek yang ada. Selain itu, ada juga konflik kepentingan karena dulu saya juga bekerja di Infovesta sehingga ikut merumuskan metode penilaian terhadap reksa dana :-D .

Tujuan dari pembahasan artikel saya kali ini adalah untuk menguji apakah misalkan suatu reksa dana bagus pada tahun ini selanjutnya juga akan bagus pada tahun berikutnya. Ibaratnya Yesterday Champion juga akan menjadi Tomorrow Winner. Jika ternyata hasil ini teruji maka ibaratnya dalam memilih reksa dana cukup memilih yang tahun lalu paling bagus karena selanjutnya dia juga akan menjadi reksa dana paling bagus tahun depan.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada 2 pengujian yang dilakukan. Oh ya, sebagai informasi, pengujiannya difokuskan pada reksa dana saham. Langkah-langkahnya sebagai berikut : Read more…

Window Dressing Saham dan Reksa Dana

November 30th, 2015 6 comments

Window DressingSumber : Koran Kontan Harian Edisi 30 November 2015

Window Dressing adalah salah satu fenomena di pasar modal, dimana menjelang akhir tahun atau tepatnya pada bulan Desember harga saham cenderung naik. Penyebab kenaikan saham ini bisa dari emiten (perusahaan) yang menggenjot target penjualan agar pelaporan akhir tahun terlihat bagus. Window Dressing bisa juga berasal aksi manajer investasi yang memborong saham dengan harapan harga bisa naik. Karena aksi memborong saham ini dilakukan juga oleh banyak manajer investasi lainnya, maka permintaan meningkat dan harga saham naik.

Window Dressing sendiri adalah anomali, karena harga saham yang benar adalah yang mencerminkan kinerja fundamental perusahaan. Tidak ada ketentuan harus naik atau turun di bulan apa, tapi karena terjadi secara terus menerus makanya disebut anomali (keanehan).

Apakah Window Dressing terjadi pada saham di Indonesia? Berapakah besaran returnnya? Apakah hal yang sama juga terjadi pada reksa dana? Berikut statistiknya Read more…

Kapan Sebaiknya Investor Melakukan Rebalancing ?

October 16th, 2015 2 comments

Weigh

 

Bagi investor yang melakukan investasi dengan strategi asset allocation, beberapa periode sekali disarankan untuk menata ulang portofolionya. Hal ini disebabkan karena seiring dengan berjalannya waktu, nilaiĀ investasi mengalami perubahan bisa naik bisa juga turun. Akibatnya bobot yang sudah ditetapkan sejak awal bisa berubah. Ketika nilai bobot tersebut menyimpang dari rencana, investor perlu melakukan penyesuaian pada portofolio investasi agar portofolio investasi bisa sama dengan rencana awalnya, tindakan ini disebut dengan Rebalancing. Yang menjadi pertanyaan, kapan sebaiknya investor melakukan rebalancing ?

Periode kapan yang saya maksud tidak sama dengan market timing, artinya periode rebalancing tidak berdasarkan prediksi apakah IHSG akan naik atau turun pada masa mendatang. Rebalancing yang saya maksud adalah berapa lama sekali dilakukan penataan ulang terhadap portofolio investasi, apakah 3 bulan sekali, 6 bulan sekali, tahunan atau tidak perlu ada rebalancing sama sekali. Yang paling baik tentunya adalah periode rebalancing dengan hasil investasi paling maksimal dan risiko paling minimal.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya melakukan simulasi dan riset terhadap data historis reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap dan deposito dari tahun 2001 – 2015. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut Read more…

Sell In May and Go Away – Update 2015

September 17th, 2015 22 comments

Sell in May and Go Away

Pada tahun 2012 yang lalu, saya pernah menulis tentang salah satu strategy market timing yang dikenal dengan sebutan Sell in May and Go Away. Sesuai dengan namanya, strategi investasi ini menganjurkan investor untuk membeli berinvestasi saham pada bulan November – April kemudian mengalihkan semuanya ke obligasi selama periode Mei – Oktober. Kini 3 tahun sudah berlalu, apakah strategi ini masih efektif ?

Sell in May and Go Away menggunakan asumsi bahwa periode November hingga April merupakan periode terbaik bagi saham karena pada bulan tersebut ada Window Dressing pada akhir tahun dan publikasi laporan keuangan tahunan pada awal tahun berikutnya.

Dalam kondisi ekonomi normal, umumnya perusahaan membukukan kenaikan penjualan dan laba sehingga harga saham cenderung positif pada saat laporan keuangan dipublikasikan. Sebaliknya pada periode Mei – Oktober, dianggap sebagai periode yang kurang baik bagi saham karena berita positif lebih minim dan inflasi cenderung tinggi. Pada periode ini, investasi ditempatkan pada obligasi.

Untuk membuktikan apakah strategi tersebut benar efektif atau tidak, langkah yang paling sederhana adalah melakukan pengujian berdasarkan data historis. Sebagai referensi, ditambahkan juga perbandingannya dengan strategy Buy and Hold di IHSG dan Panin Dana Maksima. Hasilnya adalah sebagai berikut. Read more…

%d bloggers like this: