Archive

Archive for the ‘Literasi Keuangan’ Category

Dapat Bonus, Mending Buat Investasi Reksa Dana atau Bayar KPR ?

September 12th, 2016 10 comments

KPR atau Investasi Reksa Dana

Alkisah di kota metropolitan di Jakarta ada cerita sebagai berikut :

Sepasang suami istri, sama-sama bekerja, memiliki penghasilan gabungan Rp 25 juta per bulan. Setelah menabung selama bertahun-tahun, akhirnya mereka berhasil mengumpulkan uang DP untuk membeli satu unit apartemen dan membulatkan tekadnya untuk pindah dari Pondok Mertua Indah. Apartemen tersebut seharga Rp 1 M dan dibeli menggunakan fasilitas KPR dengan jangka waktu 15 tahun. Besarnya cicilan per bulan adalah Rp 8.4 juta.

Dengan susah payah mereka juga menyisihkan lagi gajinya untuk berbagai keperluan seperti kebutuhan sehari-hari, biaya air listrik dan maintenance, kiriman uang untuk orang tua dan adik di kampung, asuransi jiwa, investasi reksa dana dan juga persiapan biaya pendidikan anaknya kelak.

Selama 2 tahun berjalan, cicilan berjalan lancar tanpa ada kendala apapun. Hasil investasi reksa dananya juga sudah memberikan keuntungan setelah sebelumnya sempat rugi pada tahun 2015, namun komitmen mereka memang investasi jangka panjang. Suami istri tersebut sama-sama bekerja keras sehingga mendapat promosi dan peningkatan gaji. Karena kinerja perusahaan bagus, keduanya mendapat bonus dari perusahaan dengan total senilai Rp 80 juta.

Tentu saja mereka sangat senang, tapi muncul pertanyaan, bagaimana caranya memanfaatkan uang bonus ini? Apakah dipakai untuk mengurangi pokok KPR? Ataukah dipakai untuk menambah investasi di reksa dana karena mumpung kondisi pasarnya sedang baik?

Dengan kondisi yang ada, pasangan suami istri tersebut mampu membayar cicilan apartemen dengan penghasilan bulanan yang ada. Alokasi investasi bulanannya telah dihitung sesuai kebutuhan sehingga Rp 80 juta bonus yang di dapat bener-benar merupakan rezeki nomplok di luar perkiraan…

Apakah anda pernah mengalami situasi yang mirip-mirip seperti yang disebutkan di atas? Jika anda menjadi seorang perencana keuangan atau bahkan menjadi pasangan suami istri tersebut, kira-kira apa yang akan anda lakukan ?

Read more…

Antisipasi Risiko Kematian, Asuransi Komersial atau BPJS Ketenagakerjaan ?

May 20th, 2016 18 comments

Construction accident

Kematian itu pasti, yang tidak pasti itu kapan datangnya. baik ketika sedang bekerja, sedang istirahat, dalam masa pensiun, setiap saat kita bisa “dipanggil” Yang Maha Kuasa. Yang menjadi kekhawatiran adalah bagaimana dengan kondisi keluarga yang ditinggalkan? Secara fisik dan kehadiran, tentu saja kehilangan seseorang adalah tidak bisa digantikan. Namun secara finansial sebenarnya bisa yaitu dengan asuransi. Bagi masyarakat yang membeli asuransi jiwa, apabila terjadi risiko kematian maka perusahaan asuransi akan memberikan uang pertanggungan dengan nilai tertentu sesuai premi yang dibayarkan.

Uang pertanggungan asuransi selanjutnya akan dianggap sebagai pengganti dari kehadiran sang pencari nafkah yang sudah meninggal. Harapannya, uang itu cukup sampai anggota keluarga yang tersisa mampu bangkit kembali secara finansial sehingga bisa hidup mandiri. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa orang membeli asuransi. Namun tahukah anda? bahwa jika anda seorang karyawan dimana perusahaan tempat anda bekerja mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan, sebenarnya anda sudah memiliki asuransi jiwa yang disebut program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan program Jaminan Kematian (JKM).

Yang menjadi pertanyaan, apabila sudah terlindung asuransi jiwa dari BPJS Ketenagakerjaan, apakah masih harus memiliki asuransi jiwa komersial? Read more…

Categories: Asuransi, Lain-lain, Literasi Keuangan Tags:

Bagaimana Cara Menjadi Kaya?

July 27th, 2015 1 comment

Mimpi Ingin Kaya

Terus terang judul di atas bukanlah asli pemikiran saya. Ceritanya beberapa hari yang lalu saya datang ke suatu acara, kebetulan salah satu topik yang dibawakan oleh pembicara tersebut sangat menarik bagi saya. Pertanyaannya kepada peserta waktu itu, bagaimana cara menjadi kaya?

Yang membuat menarik, pembicara yang bersangkutan bukanlah seorang ahli ekonomi atau pengusaha sukses, tapi seorang pendeta. Cara pembahasannya yang menarik itulah memberikan inspirasi bagi saya untuk membagikan kembali kepada para pembaca blog ini.

Meskipun sudah lama berkecimpung di dunia investasi, bagi saya, investasi bukanlah cara untuk menjadi kaya. Investasi adalah cara untuk mengembangkan kekayaan. Jadi dibandingkan berinvestasi, saya punya jawaban yang lain. Nah Kebetulan pembahasan pada waktu itu sesuai dengan pemikiran saya. Read more…

Categories: Literasi Keuangan Tags:

Evaluasi Reksa Dana Syariah Semester 1 – 2015

July 22nd, 2015 24 comments

Sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dianggap sebagai pasar yang potensial untuk perkembangan produk syariah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Pasar Modal Syariah. Dalam beberapa tahun belakangan, semakin banyak Manajer Investasi yang menawarkan produk reksa dana syariah. Bagaimana perkembangan reksa dana ini dan seperti apa perbandingan kinerjanya dengan reksa dana konvensional?

Pada dasarnya reksa dana syariah adalah reksa dana yang dikelola mengikuti prinsip syariah. Jadi secara produk, variasinya sama dengan reksa dana konvensional. Anda bisa menemukan reksa dana pasar uang syariah, pendapatan tetap syariah, campuran syariah, saham syariah, terproteksi syariah dan bahkan reksa dana indeks syariah. Bagi anda yang ingin mengetahui secara jelas prinsip pengelolaan yang sesuai syariah dapat membaca artikel Apa Itu Reksa Dana Syariah

Fokus pada artikel ini adalah perbandingan dana kelolaan dan kinerja reksa dana syariah dengan reksa dana konvensional..

Read more…

Autodebet Sudah Jalan 3 Tahun Tapi Belum Untung, Stop atau Lanjut?

July 10th, 2015 8 comments

Judul di atas mungkin relevan buat bapak ibu investor reksa dana yg memulai investasi reksa dana sejak 3 tahun yg lalu, melakukan autodebet, dan belum pernah melakukan redemption sekalipun sejak saat itu.

Kalau melihat pada gambar di atas, ibarat baru invest sudah untung dan naik terus menerus. Pas lagi mau diambil eehh, malah turun dan nilainya ga beda jauh ama nilain investasi pertama kali..

Memang sih, investasi reksa dana itu katanya jangka panjang, baru 2-3 tahun kok udah nyerah?? Katanya kalau lagi turun berarti saatnya utk beli krn dapat di harga murah. Katanya, pak Presiden sudah marah2 ke jajarannya sehingga semester II nanti akan lebih baik.. Katanya…. Katanya… Dan katanya lagi.

Tapi terus terang saja sebagai investor awam, siapasih yg tidak ngebet melihat hasil investasi sudah jalan tiga tahun dan masih belum berkembang? Siapa yg tidak menyesal tidak menjual mumpung IHSG sudah 2 kali cetak rekor tertinggi dan sekarang sudah turun lagi? Bukankah sudah melakukan autodebet, jadi logikanya harga tinggi dapat, harga rendah juga dapat, kok masih rugi?

Adalah sangat bisa diterima di akal sehat jika anda punya pikiran seperti itu. Namun nasi sudah jadi bubur, karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu maka fokus kita adalah ke masa depan.

Bagaimana dgn investasi yg sudah berjalan apakah terus atau stop? Apakah dana yg sudah ada juga dipindahkan ke instrumen yg lebih aman seperti RD Pasar Uang dan RD Pendapatan Tetap? Read more…

My Experience With Unit Link 2

June 4th, 2015 50 comments

Memahami Lebih Dalam Tentang Unit Link

Sebelum membaca lebih lanjut tentang artikel ini, saya mau mempertegas disclaimer yang biasanya dipasang pada bagian akhir artikel. Tulisan ini bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau tidak membeli produk tertentu. Jadi ketika saya menggunakan contoh produk nyata sebagai materi pembahasan, bukan berarti saya merekomendasikan untuk membeli produk tersebut ataupun untuk tidak membelinya. Semua contoh yang saya lampirkan adalah fakta untuk mendukung tulisan.

Untuk memulai artikel ini saya ingin memulainya dengan contoh nyata dengan sebuah unit link yang keluarga saya miliki. Tulisan ini juga merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul My Experience With Unit Link.

Ilustrasi Asuransi

Pada bulan Maret 2013 saya mengambil unit link untuk istri saya dengan keterangan sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 6 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 148 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 400 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 35 juta
    • Pru Waiver Rp 6 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran saya agak lupa, tapi mungkin sekitar tanggal 15 an. IHSG waktu itu di 4819

Kemudian karena suatu hal, saya mengubah uang pertanggungan. Alasan lengkapnya bisa dibaca di buku kedua saya dengan data yang lebih update daripada blog di Fit Focus Finish.

Setelah perubahan, asuransi saya menjadi sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 4.2 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 102 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 280 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 36 juta
    • Pru Waiver Rp 4.2 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran sudah berjalan 2 kali yaitu 21 Maret 2014 dan 11 Maret 2015. IHSG pada waktu itu masing-masing 4700 dan 5419
  • Total pembayaran yang sudah saya lakukan selama 3 tahun adalah Rp 14.4 juta ( 6 juta + 4,2 juta +4,2 juta)

*Yang dimaksud dengan Pru Waiver adalah jika terdeteksi mengalami penyakit kritis, maka pembayaran premi dibebaskan hingga usia 65 tahun. Asuransi ini mirip seperti KPR. Misalkan anda mengambil KPR dengan pembayaran cicilan hingga usia 65 tahun, jika meninggal di tengah jalan, maka cicilannya dianggap lunas. Jadi manfaat asuransinya semakin menurun sesuai dengan jangka waktu.

Orang yang meninggal di usia 42 akan mendapat uang pertanggungan yang lebih besar dibandingkan uang pertanggungan orang yang meninggal di usia 62 tahun. Meskipun demikian, manfaat itu tidak diterima uang tunainya karena hanya berupa cicilan rumah yang tidak perlu dibayar lagi alias lunas jika yang berutang meninggal dunia.

Konsep Pru Waiver ini juga sama, anda “seharusnya” membayar asuransi hingga usia tertentu jika ingin terus menikmati manfaat asuransinya. Namun jika terdeteksi, maka nilai Rp 4.2 juta atau Rp 6 juta sesuai premi akan dibayarkan ke Unit Link anda sampai usia 65.

Manfaat waiver juga tidak berupa uang tunai yang dinikmati langsung, akan tetapi dibayarkan ke dalam asuransi anda. Ketika sudah masuk ke asuransi, berarti ketika ditarik tentu akan dipotong biaya dan kewajiban (jika ada)

Nah, yang menarik disini. Pada tanggal 15 Mei 2015 (IHSG di angka 5227) saya bertanya kepada petugas customer service berapa Nilai Tunai yang saya miliki. Pertanyaan ini saya lakukan via phone, tapi karena kurang jelas saya meminta informasi tersebut dikirimkan secara tertulis.

Yang dimaksud dengan nilai tunai adalah porsi uang kita yang diinvestasikan. Atau buat anda yang awam, pada saat ditawarkan produk asuransi pastinya ditunjukkan bahwa di usia sekian nanti uang anda akan ada sekian ratus juta, milliar atau puluhan milliar. Uang tersebut, oleh tenaga pemasar biasanya dijelaskan bahwa bisa digunakan untuk pensiun dan lain-lain. Uang inilah yang dimaksud dengan nilai tunai.

Silakan tebak, berapa kira-kira nilai tunai pada polis asuransi tersebut? Mohon diingat bahwa total premi yang saya bayarkan adalah Rp 14,4 juta selama 3 tahun dan tidak ada klaim apapun. Untuk mempermudah, saya berikan pilihan sebagai berikut :

  1. Rp 3 juta – Rp 5 juta
  2. Rp 5 juta – Rp 6 juta
  3. Rp 6 juta – Rp 14,4 juta
  4. > Rp 14,4 juta
  5. < Rp 3 juta

Sebagai data pendukung, berikut saya lampirkan juga data sebagai berikut :

Informasi Biaya Akuisisi dan Porsi Investasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.07.31 PM

Informasi Biaya Administrasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.12.04 PM

Sudah menebak?? Kalau mau melihat jawabannya silakan membaca lebih lanjut. Read more…

Saatnya Uang Bekerja Untuk Anda – Pontianak

March 24th, 2015 6 comments

Bagi teman2 yg di Pontianak, tanggal 28 ini saya ada event di sana. Silakan mendaftar ya
Informasi mengenai Contact personnya sebagai berikut :

 

Mengenal Literasi Keuangan

December 24th, 2013 8 comments

Klik untuk melihat video pendek 20131225-112820.mov

Sebelumnya saya ingin mengucapkan”

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2014

Semoga Tahun 2014

Menjadi Tahun Yang Penuh Dengan Kesuksesan,

Berkat dan Rahmat Bagi Kita Semua

Tahun Baru 2014

Apakah anda pernah mendengar istilah “Literasi Keuangan” ? Atau Jika belum pernah, apakah anda:

  • Tahu bahwa kredit kita di bank yang satu juga akan terlihat di bank lainnya?
  • Tahu bahwa ketika kita memiliki KPR dan KPM, secara langsung juga sudah diikutkan pada asuransi jiwa?
  • Tahu bahwa barang yang sudah digadaikan di pegadaian, masa gadainya dapat diperpanjang apabila kondisi keuangan kita tidak memungkinkan untuk melunasinya?
  • Tahu bahwa kalau mobil rusak karena kelalaian kita sendiri tidak bisa diklaim di asuransi?
  • Tahu bahwa ada skema manfaat pasti dan iuran pasti dalam persiapan dana pensiun di perusahaan?
  • Tahu bahwa Manajer Investasi berhak menolak redemption anda ketika dalam hari yang sama terjadi redemption dalam jumlah besar?

Jika ada lebih dari 3 point yang tidak anda ketahui, maka bisa dibilang anda belum “Literate” secara keuangan. Dan jika belum jangan khawatir, anda bukan orang satu-satunya. Masih banyak sekali orang-orang di Indonesia yang kondisinya sama dengan anda. Untuk itulah, bulan lalu dan bulan Desember ini, dimana ketika anda melihat artikel di blog “kosong” cukup lama, ini bukan berarti saya lagi malas (he he..) tapi karena saya berpartisipasi dalam Kelompok Kerja (POKJA) peningkatkan Literasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Anggota POKJA ini terdiri dari pelaku berbagai industri yaitu dari Perbankan, Asuransi, Pasar Modal, Pembiayaan (Multi Finance), Pegadaian, Dana Pensiun dan tentu juga Otoritas Jasa Keuangan sendiri. Ada 2 pekerjaan utama dari POKJA ini, yang pertama yaitu menyusun cetak biru Strategi Literasi Keuangan Nasional dan kemudian mendukung pelaksanaan cetak biru tersebut. Adapun tujuan dari pekerjaan utama adalah bagaimana pada waktu yang tidak terlalu lama di masa depan, kita maupun anak2 kita bisa menjawab pertanyaan di atas. Tidak hanya Tahu, tapi juga yakin dengan produk keuangan dan terampil menggunakan produk keuangan.

Hal ini sesuai dengan definisi Literasi Keuangan yaitu Tahu, Yakin dan Terampil terhadap Produk dan Jasa Keuangan. Mau tahu apa saja hasil kerja POKJA sejauh ini? silakan baca lebih lanjut

Read more…

Categories: Literasi Keuangan Tags:
%d bloggers like this: