Archive

Archive for the ‘Belajar Investasi’ Category

Bagaimana Membandingkan Investasi Dengan Mata Uang Berbeda ?

March 13th, 2017 No comments

Close up of Indonesia Rupiah currency note against US Dollar

Artikel ini berawal dari pertanyaan seorang peserta pada saat priority gathering di Surabaya beberapa waktu lalu. Antara investasi di instrumen Rupiah yang bunganya lebih tinggi dengan investasi USD yang bunganya lebih rendah, mana yang sebaiknya menjadi pilihan?

Dalam keseharian, investor memang menerima banyak penawaran investasi. Mulai dari reksa dana yang bisa naik turun, hingga produk “fixed income” mulai dari obligasi hingga produk surat hutang korporasi yang bisa memberikan net hingga double digit tapi ada risiko gagal bayar. Dari sekian banyak instrumen tersebut, ada yang mata uangnya Rp maupun USD.

Dan umumnya yang berbentuk USD pasti lebih rendah dibandingkan yang berbentuk Rupiah. Sebagai investor bagaimana cara kita membandingkan investasi dengan 2 mata uang berbeda ini ? Read more…

Sekolah Investor Reksa Dana APRDI – Investor Ready

February 1st, 2016 19 comments

Logo

Pada tanggal 27 Januari 2016, bersamaan dengan kegiatan Pesta Reksa Dana yang diselenggarakan oleh IDX, APRDI meluncurkan program yang disebut dengan Sekolah Reksa Dana APRDI atau program Investor Ready.

Program ini merupakan salah satu program edukasi APRDI untuk meningkatkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap investasi khususnya tentang reksa dana.

Sesuai dengan namanya – Investor Ready, harapan dari APRDI adalah agar masyarakat tidak hanya berinvestasi saja, akan tetapi sudah “SIAP” untuk menjadi investor reksa dana.

Menjadi investor reksa dana itu pada dasarnya mudah dan murah karena hanya butuh KTP dan modal Rp 100.000.

Namun menjadi investor yang tetap tenang ketika melihat nilai investasinya menurun, tetap melanjutkan program autodebet meskipun sudah melakukan 2 tahun dan hasilnya belum kelihatan, tetap tenang membaca berbagai berita ekonomi yang buruk, hal ini sangat membutuhkan kesiapan. Untuk itulah, APRDI menyelenggarakan Program Investor Ready untuk mempersiapkan investor reksa dana yang tangguh dan fokus pada tujuan keuangannya.

APRDI – Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia adalah asosiasi yang menaungi seluruh pelaku industri reksa dana mulai dari Manajer Investasi, Bank Kustodian hingga Agen Penjual. Dengan demikian, materi ini akan dibawakan oleh personel yang ditunjuk oleh APRDI dan memang pakar di bidangnya.

Keterangan lebih lanjut mengenai Program Investor Ready ini sebagai berikut : Read more…

Bagaimana Cara Memprediksi Harga Reksa Dana ?

April 4th, 2015 19 comments

Prediksi Harga Reksa Dana

 

Tenang, saya tidak mengajarkan bagaimana memprediksi menggunakan bola kristal. Selain tidak punya keahlian soal ilmu perbolakristalan, saya juga tidak yakin dengan tingkat kekurasiannya.

Sebenarnya inspirasi topik ini muncul ketika saya berkeliling di daerah. Berbeda dengan investor Jakarta yang sudah canggih, investor di daerah masih sangat dasar dalam hal pemahamannya terhadap investasi. Meski sederhana, tapi ketika saya pikir kembali ternyata jika saya mengambil dari sudut pandang mereka, pertanyaannya sangat masuk akal.

Sebagai gambaran, produk investasi di daerah masih sangat minim. Umumnya masyarakat lebih mengenal bisnis riil dan valas. Dalam bisnis riil cukup sederhana, misalkan beli beras satu karung Rp 100.000 dijual Rp 110.000 maka untungnya 10%. Harga beli beras sudah jelas sejak awal dari distributor. Harga jualnya tentu tergantung kemampuan pemilik toko, persaingan dengan toko sebelah dan daya beli masyarakat. Umumnya pebisnis yang sudah berpengalaman sudah tahu berapa harga jual yang wajar sehingga ketika beli beras dia sudah bisa prediksi keuntungannya.

Contoh lain adalah valas. Di Batam, kepemilikan Singapore Dollar (SGD) sangat umum. Tidak hanya sebagai uang saku saat jalan-jalan ke Singapore, tidak sedikit pula masyarakat Batam yang menyimpan SGD sebagai investasi di bawah bantal. Dilihat dari historisnya juga cukup menguntungkan. Jika 10 tahun yang lalu, 1 SGD bisa dapat Rp 5000-an, sekarang sudah hampir Rp 10.000. Proses beli SGD juga mudah, tinggal datang ke money changer, lihat kurs nilai tukarnya berapa dan lakukan negosiasi, deal tinggal beli sesuai isi kantong anda.

Nah ketika mau beli reksa dana, para calon investor tersebut tidak terbiasa. Sebab sebagai pembeli beras dan valas, ketika mau beli mereka tahu dengan jelas harga belinya. Sama juga ketika mau dijual harganya juga sudah jelas. Tapi ketika mau beli dan jual reksa dana, mereka bingung. Sebab dijelaskan bahwa harga transaksi hari ini baru diketahui besok pagi. Jadi ibaratnya mereka menyetorkan uang untuk membeli barang tanpa tahu harganya berapa. Rasanya tentu seperti membeli kucing dalam karung..

Sumber : https://dyahsujiati.wordpress.com

Mekanisme tersebut memang tidak bisa dihindarkan karena cara kerja reksa dana memang demikian. Untuk itu, dalam kesempatan kali ini saya ingin berbagi bagaimana cara untuk “memperkirakan” harga reksa dana pada hari ini. Namanya memperkirakan, tentu bisa meleset. Harapannya setelah lengkap, anda tidak hanya bisa “memperkirakan” harga reksa dana saham tetapi juga reksa dana pendapatan tetap atau yang berbasis obligasi. Read more…

Panduan Cara Membuat Perencanaan Investasi Sederhana

August 10th, 2014 33 comments

Pertanyaan Newbie

Membuat perencanaan investasi itu gampang-gampang susah. Gampang, kalau anda mengerti tentang perencanaan keuangan dan fungsi Time Value of Money pada Microsoft Excel. Susah, kalau dua hal tersebut tidak ada yang anda mengerti sama sekali. Dalam kesempatan ini, saya akan sharing bagaimana cara membuat perencanaan investasi sederhana menggunakan alat-alat yang tersedia secara gratis di website Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual.

Untuk menggunakan kalkulator tersebut, juga tidak perlu menjadi nasabah. Umumnya untuk kalkulator perhitungan yang sederhana disediakan secara gratis. Meski demikian, saya perhatikan banyak investor yang jarang menggunakannya. 2 kendala utama yang dihadapi adalah tidak mengetahui cara kerja dan tidak tahu berapa angka asumsi yang harus dimasukkan. Ada juga yang meskipun sudah tahu, namun tidak bisa merumuskan permasalahan keuangannya untuk diselesaikan melalui kalkulator yang tersedia.

Untuk itu, pembahasan penggunaan kalkulator untuk perencanaan investasi akan menggunakan contoh kasus yang umumnya dihadapi investor awam sehari-hari. Sebagai contoh adalah pertanyaan di bawah ini :

Pertanyaan 2Sumber : http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/forum-diskusi/

Read more…

Mengenal Kinerja Value Investor Dari Berbagai Belahan Dunia

July 16th, 2014 4 comments

Ronald W Chan

Artikel kali ini merupakan ringkasan sekaligus pengembangan pemahaman saya dari buku The Value Investor yang baru saya baca sampai habis kemarin malam. Buku yang sangat baik menurut saya, namun sayangnya kualitas terjemahannya kurang. Apabila ada versi original dengan bahasa inggris, seharusnya pesan dalam buku akan lebih tersampaikan. Pengarang buku yaitu bapak Ronald W Chan, juga pernah kami undang dalam acara yang diselenggarakan oleh Internasional Seminar Panin Asset Management pada bulan April lalu. Foto-foto acaranya bisa dilihat pada website Panin AM. Satu lagi orang yang duduk disebelahnya adalah bapak Indra Mawira yang merupakan Fund Manager dari Panin Dana Syariah Saham, Panin Dana Syariah Berimbang dan Panin Dana Ultima.

Sebagai informasi, pak Ronald adalah salah satu Manajer Investasi yang menggunakan strategi Value Investing yang berbasis di Hong Kong. Bersama dengan rekan-rekannya mereka mendirikan Chartwell Capital Limited untuk melayani kebutuhan High Net Worth Individual yang berminat untuk melakukan investasi secara value investing pada saham-saham global.

Dari diskusi pribadi saya cukup impress bahwa dia benar2 sudah tatap muka langsung dengan bapak Warren Buffett, dan beliau memberikan rekomendasi kepada teman2nya agar bisa diwawancara. Sebagai informasi, referensi yang diberikan dan orang yang ditemuinya bukanlah orang sembarangan. Sebagai contoh Mark Mobius yang merupakan Executive Chairman dari Templeton Emerging Markets Group. Beliau bergabung pada tahun 1987. Pada akhir tahun 2011, jumlah dana yang dikelola sekitar USD 50 Milliar. Dengan kurs 12.000, angka ini setara dengan Rp 600 Triliun. Hampir 3 kali lipat dari gabungan jumlah dana kelolaan reksa dana dari seluruh Manajer Investasi di Indonesia.

Ada juga nama2, yang mungkin tidak begitu familiar bagi kita namun merupakan “legenda” di Industri pengelolaan dana internasional seperti Shuhei Abe dari Jepang, Francisco Parames dari Spanyol, V-Nee Yeh dari Hong Kong, Teng Ngiek Lian dari Singapore dan lainnya yang berasal dari Amerika Serikat. Total ada 12 Investor Value kelas dunia yang di wawancara dalam buku tersebut. Jadi setelah membaca buku ini, kita bisa memahami bagaimana penerapan value investing di berbagai belahan di dunia. Buku ini tidak membahas secara detail tentang bagaimana proses investasi dan rumus keuangan apa yang digunakan, tapi lebih berfokus pada filosofi dan perjalanan hidup dari masing-masing value investor tersebut.

Langsung saja. Selama ini, strategi value investing identik dengan bapak Warren Buffet. Salah satu orang terkaya di dunia yang berasal dari kegiatan investasi sahamnya. Berbagai kutipan dan filosofi yang dijalankan oleh beliau seolah-olah menjadi ciri khas dari strategi value investing seperti:

  • “Warren started investing at age 11 but he still thinks he was to late” –> Investor Value selalu mulai dari usia belia
  • “If you don’t feel comfortable owning something for 10 years, then don’t own it for 10 minutes” –> Investor Value harus jangka panjang
  • “Diversification is a protection against ignorance. It makes very little sense for those who know what they’re doing” –> Investor value cenderung lebih terkonsentrasi portofolio investasinya
  • “I will tell you how to become rich. Close the doors. Be fearful when others are greedy. Be greedy when others are fearful” –> Investor value hanya melakukan buy and hold saja
  • “The first rule is not to lose. The second rule is not to forget the first rule” –> Investor value tidak rugi karena tidak cut loss atau membeli saham yang membuat mereka harus cut loss, sehingga identik dengan buy and hold.
  • Dan quote2 lainnya yang bisa anda baca di http://www.minterest.org/best-warren-buffett-quotes-on-investing/

Kutipan-kutipan di atas tidak salah, bahkan sangat bijaksana dan memberikan manfaat bagi kita baik dalam investasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun setelah saya membaca buku tersebut, ternyata yang namanya value investor legendaris tersebut memiliki latar belakang dan gaya investasi yang berlainan. Dan tidak semuanya cocok 100% dengan kutipan2 yang biasanya dibaca di atas. Sebagai contoh : Read more…

Mana Yang Lebih Baik: Saham Blue Chip atau Second Liner?

June 16th, 2014 9 comments

Blue Chip dan Second Liner

Dalam investasi saham, terkadang investor, marketing bahkan analis dan manajer investasi sekalipun suka menyebut istilah blue chip dan second liner. Istilah blue chip mengarah kepada perusahaan yang fundamentalnya bagus dan besar sementara second liner adalah perusahaan yang fundamental dan ukurannya perusahaannya tidak sebaik dan sebesar kategori yang pertama namun memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi dibandingkan perusahaan blue chip yang relatif stabil. Terkadang ada yang bertanya, mana yang lebih baik? apakah saham blue chip atau second liner?

Sayapun tertarik untuk mencari tahu sebenarnya asal mula blue chip itu darimana? Sebab kalau saham bagus disebut blue chip kenapa tidak ada istilah red, white, orange, yellow, green chip untuk saham yang tidak blue chip? Dari penelusuran di wikipedia, akhirnya saya menemukannya.

Berdasarkan New York Stock Exchange, Blue Chip adalah saham dari perusahaan dengan reputasi nasional untuk kualitas, kehandalan dan kemampuannya untuk beroperasi secara menguntungkan dalam situasi perekonomian yang baik ataupun buruk. Indeks yang merepresentasikan saham Blue Chip di AS adalah DJIA (Dow Jones Industrial Average) yang terdiri dari 30 saham yang merupakan pemimpin pada industri masing-masing.

Asal mula Blue Chip berasal dari permainan poker. Dimana pada pertaruhan poker, ada keping-keping taruhan yang warnanya putih, merah dan biru. Umumnya nilai keping yang paling besar adalah yang berwarna biru. Pertama kali istilah ini dikemukan oleh Oliver Gingold antara tahun 1923 – 1924. Pada waktu itu, dia berdiri di bursa menyaksikan perdagangan saham.

Ada beberapa transaksi yang menarik perhatian dia karena saham-saham tersebut harganya berkisar antara $200 – $250 per lembarnya. Sekembalinya ke kantor, dia berkata kepada rekannya untuk menulis tentang saham-saham keping biru tersebut (blue chip stocks). Istilah tersebut digunakan terus hingga saat ini.

Apakah saham Blue Chip dan Second Liner ada di Indonesia? Read more…

Buy and Hold Vs Market Timing : Studi Kasus Relative Strength Index

April 23rd, 2014 9 comments

Money Multiple sign

Pada bulan Maret Lalu, saya membuat tulisan tentang studi kasus Buy and Hold Vs Market Timing menggunakan metode Simple Moving Average. Sebagai informasi, Simple Moving Average adalah salah satu dari metode analisa teknikal.

Dan metode analisa teknikal merupakan salah satu cara yang digunakan oleh investor untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk masuk dan keluar. Dengan kata lain, bagi investor yang melakukan market timing, momentum jual beli salah satunya ditentukan dengan analisa teknikal.

Kesimpulannya, dengan menggunakan 2 kombinasi yang dipergunakan dalam artikel tersebut, hasil daripada buy and hold ternyata masih jauh lebih baik daripada menggunakan metode SMA. Meski demikian, banyak orang masih tetap menyukai market timing.

Argumennya banyak, mulai dari tidak sabar untuk investasi jangka panjang, keyakinan bahwa market timing tetap lebih baik, rasa “puas” karena berhasil menebak pasar, ada juga yang beranggapan masih ada banyak metode market timing lainnya yang diyakini lebih baik dibandingkan strategi buy and hold. Fokus saya adalah pada metode lainnya tersebut. Apakah dengan metode lain, strategi investasi Market Timing akan lebih baik daripada Buy and Hold?

Dalam studi kasus kali ini, metode yang saya pergunakan adalah metode Relative Strength Index (RSI) yang merupakan salah satu metode analisa teknikal modern. Mari kita buktikan apakah metode ini akan lebih baik daripada metode sebelumnya atau tidak.

Read more…

Berapa Asumsi Return Investasi Saham Yang Wajar?

February 20th, 2014 12 comments

Thinking Number

Berapa asumsi return saham yang wajar? Hal ini menjadi pertanyaan banyak investor. Baik yang masih awam, ataupun yang sudah veteran. Besar kecilnya prediksi return bisa mempengaruhi keputusan investasi. Namun pada kenyataannya memprediksikan return saham sangatlah sulit.

Jika prediksi returnnya terlalu tinggi, investor bisa kecewa karena return tidak tercapai. Seperti halnya return IHSG 3 tahun terakhir dari 2011 – 2013 yang sebesar 3.20%, 12.94% dan -0.98%. Terlalu rendah, investor bisa kehilangan minat karena hasil yang diperoleh tidak setara dengan risiko yang ditanggung.

Pada prakteknya, para perencanaan keuangan, agen penjual dan bahkan manajer investasi sekalipun tidak ada yang bisa mengetahui dengan pasti berapa return saham dalam 1 tahun. Namun ada kesepakatan tidak tertulis yang menyatakan bahwa prediksi return saham biasanya berkisar antara 15% – 25% per tahun. Namun data historis 3 tahun terakhir sudah membuktikan bahwa hal tersebut tidak terjadi dalam 3 tahun terakhir.

Penentuan asumsi return yang salah dalam perencanaan keuangan, bisa berdampak fatal. Jika terlalu tinggi, investor ibarat diberi “angin surga”, dengan modal minimal bisa mencapai hasil maksimal. Tujuan keuangan bisa buyar kalau seandainya angka yang ditargetkan tidak tercapai.

Sementara jika terlalu rendah, jumlah investasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keuangan menjadi terlalu besar sehingga investor harus menerima kenyataan bahwa tujuan dia tidak realistis karena besaran investasi di luar kemampuannya.

Permasalahannya, dalam investasi apalagi investasi saham, tidak bisa menjanjikan return pasti. Sepanjang sejarah pasar modal Indonesia, return saham secara umum yang dicerminkan oleh IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) bisa berkisar dari kerugian puluhan persen hingga keuntungan puluhan persen per tahunnya.

Return IHSG juga dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari data makro ekonomi seperti inflasi, suku bunga, cadangan devisa, ekspor impor, kemudian data lain kinerja perusahaan, harga komoditas, kondisi politik dan ekonomi di dalam dan luar negeri, hingga aliran dana asing. Kebanyakan dari indikator tersebut, juga menggunakan angka asumsi yang rentan berubah sesuai dengan kondisi dan situasi.

Untuk itu, adanya acuan atau paling tidak informasi mengenai rentang potensi kerugian / keuntungan yang mungkin ditanggung akan membuat investor lebih siap dalam berinvestasi saham dan menghadapi risiko fluktuasi di bursa. Read more…

%d bloggers like this: