Archive

Archive for the ‘Aset Alokasi’ Category

Mana Yang Lebih Baik: Saham Blue Chip atau Second Liner?

June 16th, 2014 9 comments

Blue Chip dan Second Liner

Dalam investasi saham, terkadang investor, marketing bahkan analis dan manajer investasi sekalipun suka menyebut istilah blue chip dan second liner. Istilah blue chip mengarah kepada perusahaan yang fundamentalnya bagus dan besar sementara second liner adalah perusahaan yang fundamental dan ukurannya perusahaannya tidak sebaik dan sebesar kategori yang pertama namun memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi dibandingkan perusahaan blue chip yang relatif stabil. Terkadang ada yang bertanya, mana yang lebih baik? apakah saham blue chip atau second liner?

Sayapun tertarik untuk mencari tahu sebenarnya asal mula blue chip itu darimana? Sebab kalau saham bagus disebut blue chip kenapa tidak ada istilah red, white, orange, yellow, green chip untuk saham yang tidak blue chip? Dari penelusuran di wikipedia, akhirnya saya menemukannya.

Berdasarkan New York Stock Exchange, Blue Chip adalah saham dari perusahaan dengan reputasi nasional untuk kualitas, kehandalan dan kemampuannya untuk beroperasi secara menguntungkan dalam situasi perekonomian yang baik ataupun buruk. Indeks yang merepresentasikan saham Blue Chip di AS adalah DJIA (Dow Jones Industrial Average) yang terdiri dari 30 saham yang merupakan pemimpin pada industri masing-masing.

Asal mula Blue Chip berasal dari permainan poker. Dimana pada pertaruhan poker, ada keping-keping taruhan yang warnanya putih, merah dan biru. Umumnya nilai keping yang paling besar adalah yang berwarna biru. Pertama kali istilah ini dikemukan oleh Oliver Gingold antara tahun 1923 – 1924. Pada waktu itu, dia berdiri di bursa menyaksikan perdagangan saham.

Ada beberapa transaksi yang menarik perhatian dia karena saham-saham tersebut harganya berkisar antara $200 – $250 per lembarnya. Sekembalinya ke kantor, dia berkata kepada rekannya untuk menulis tentang saham-saham keping biru tersebut (blue chip stocks). Istilah tersebut digunakan terus hingga saat ini.

Apakah saham Blue Chip dan Second Liner ada di Indonesia? Read more…

Antara Cost Averaging, Lump Sum dan Asset Allocation

December 18th, 2013 10 comments

Kadang-kadang saya mendapat pertanyaan seperti ini:

  • Menurut anda, kalau usia saya sudah memasuki masa pensiun, sebaiknya berapa persen dari dana saya yang diinvestasikan?
  • Kalau profil risiko saya moderat apakah sebaiknya saya memiliki 50% (reksa dana) saham dan 50% obligasi?
  • Dengan kondisi market yang demikian volatil, apakah sebaiknya alokasi aset investor disesuaikan dengan memperbanyak porsi reksa dana pasar uang?

Yang saya simpulkan dari pertanyaan di atas adalah bahwa ternyata Aset Alokasi masih menjadi perhatian daripada investor sebelum melakukan investasi. Dan untuk membuat aset alokasi tersebut, investor sering menghubungkannya dengan tahapan kehidupan yang dia alami (life cycle), profil risiko, atau terkadang situasi ekonomi yang sedang berlaku. Menjelang awal tahun, sering dipublikasikan juga di media massa, aset alokasi yang direkomendasikan untuk investor dengan berbagai profil risiko tertentu. Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimanakah menerapkan aset alokasi tersebut jika kita juga melakukan investasi secara cost averaging atau lump sum?

Sebagai contoh, saat ini seorang investor sedang membuat perencanaan pensiun melalui investasi reksa dana. Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, dia harus menginvestasikan kurang lebih sekitar Rp 2 juta setiap bulan agar gaya hidupnya dapat dipertahankan pada masa pensiun nanti. Namun karena profil risikonya moderat, maka idealnya harus berinvestasi di reksa dana campuran atau memiliki aset alokasi yang berimbang antara reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

Namun berdasarkan asumsi return yang moderat, maka setiap bulan setidaknya investor harus menyisihkan Rp 3 juta di reksa dana campuran atau gabungan antara Rp 1,5 juta pada masing-masing reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap. Permasalahannya kemampuan dia hanya sebesar Rp 2 juta setiap bulan. Dalam konteks seperti ini apakah aset alokasi masih relavan?

Apakah sebaiknya investor berinvestasi sesuai dengan profil risikonya akan tetapi mengalami risiko tidak mencapai tujuan keuangan atau berinvestasi pada instrumen yang diluar profilnya, namun tujuan dia kemungkinan besar akan lebih bisa tercapai?

Asset Allocation Read more…

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:

Efek Penguatan Dolar Terhadap Emas, Properti dan Reksa Dana (1)

September 18th, 2013 5 comments

Akhir-akhir ini saya sering keliling ke beberapa tempat membawakan seminar dengan topik Emas, Properti dan Reksa Dana. Mumpung sering dipakai, saya gunakan sekali lagi dalam artikel terbaru dalam posting kali ini. Bedanya hanya saya tambahkan kata Efek Penguatan Dolar di depannya saja.

Kata Penguatan Dollar tersebut juga sebenarnya masih dalam statuisasi perdebatan. Hal ini karena ada sebagian yang berpendapat bahwa Rupiah tidak sedang mengalami pelemahan, akan tetapi Dolar yang justru mengalami penguatan. Sebelum ada Harmonisasi pada Statuisasi penggunaan Istilah Kemakmuran Ekonomi ini, maka saya menggunakan istilah Penguatan Dollar. Mohon kondisi labil kosa kata ini bisa dimengerti oleh teman2 pembaca disini mengingat still young my age.

DollarMata uang Rupiah sendiri, jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di Asia, merupakan mata uang dengan koreksi yang paling dalam. Jika setiap hari anda membaca koran yang isinya demikian, tentu sedikit banyak kita merasa khawatir juga. Bagaimana kira2 efeknya terhadap instrumen yang selama ini kita kenal yaitu emas, properti dan reksa dana? Saya akan mencoba membahasnya dari sudut pandang saya. Read more…

Saatnya Beli Emas?

April 20th, 2013 50 comments

Salah satu kutipan bapak Warren Buffet yang sangat terkenal dan masih digunakan hingga sekarang adalah sebagai berikut:

“Be Fearful When Others Are Greedy

 

and Be Greedy When Others Are Fearful”

 

Melihat harga emas yang sudah turun dalam seperti sekarang ini, apakah tepat untuk menerapkan konsep di atas? Lebih sederhananya, apakah sekarang saatnya beli emas? Apakah Mr. Warren Buffet sendiri juga menerapkan konsep tersebut dalam emas?

Read more…

Mengenal Kelemahan Konsep Beta Dalam Investasi

April 17th, 2013 6 comments

Beta adalah konsep yang sangat umum dalam investasi. Bisa digunakan pada investasi saham begitu pula juga dengan investasi reksa dana. Kegunaannya juga banyak, mulai dari menilai seberapa berisiko suatu saham / reksa dana, mengevaluasi apakah reksa dana tersebut bagus atau tidak, sampai pada memprediksi berapa return yang akan dihasilkan oleh instrumen tersebut pada masa yang akan datang. Capital Asset Pricing Model (CAPM) adalah konsep yang menggunakan beta dalam perumusannya.

Tidak ada yang berbeda dari cara perhitungan beta saham dan beta reksa dana. Pembahasan mengenai beta juga pernah saya bahas dalam artikel terdahulu. Meski demikian, tidak ada teori yang sempurna, demikian pula dengan teori beta. Oleh karena itu, sebelum menggunakan menggunakan beta, sebaiknya kita memahami kelemahannya.

Read more…

Mempersiapkan Pendidikan Anak Luar Negeri, Sudah Siap?

December 11th, 2012 12 comments

Menyekolahkan anak hingga ke universitas terbaik di luar negeri merupakan impian setiap keluarga. Dengan mendapatkan pendidikan terbaik, sang anak dapat mempersiapkan diri menghadapi era persaingan dan globalisasi. Namun tentu saja, untuk bisa menempuh pendidikan luar negeri tidak mudah juga tidak murah. Persiapan perlu dilakukan sejak dini agar bisa berhasil. Apakah anda sudah Siap?

Read more…

Apakah Prinsip Low Risk Low Return dan High Risk High Return Masih Berlaku Di Reksa Dana?

December 5th, 2012 8 comments

Selama ini ada semacam kepercayaan, bahwa untuk investor reksa dana jangka panjang, maka  reksa dana yang cocok adalah reksa dana saham. Jangka menengah cocoknya reksa dana campuran dan jangka pendek bisa ke reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang. Khusus untuk reksa dana saham, jangka panjang didefinisikan sebagai horison investasi minimum 5 tahun. Dengan perkembangan industri reksa dana yang amat pesat dalam beberapa tahun ini, tentu sudah banyak dari para investor sekalian yang sudah “berpengalaman” 5 tahun menjadi investor reksa dana. Tentu sudah banyak pula asam garam dan madu coklat yang dialami seperti crash pada 2008, bullish pada 2009 – 2010, serta market yang bisa dikatakan sideways untuk 2 tahun terakhir ini.

Pertanyaannya, Apakah selama ini acuan yang digunakan untuk memilih reksa dana sudah memberikan hasil yang sesuai dengan ekpektasi anda? Apakah benar asumsi return 10% pada pendapatan tetap, 15% pada campuran dan 20% pada saham per tahun yang UMUMNYA digunakan oleh perencana keuangan benar2 terjadi dalam 5 tahun terakhir ini? Apakah prinsip Low Risk Low Return dan High Risk High Return yang diajarkan dalam berbagai literatur dan seminar investasi masih berlaku?

Read more…

Human Capital Asset Allocation

September 19th, 2012 7 comments

Dewasa ini, pertanyaan investor dan calon investor semakin berkembang pesat. Ketika investasi masih merupakan hal baru, umumnya pertanyaan investor berkisar pada apa itu investasi dan bagaimana cara melakukan investasinya. Ketika sudah masuk ke dunia investasi, para investor dan calon investor mencoba memaksimalkan keuntungan investasi dengan cara market timing kemudian bertanya Kapan waktu yang tepat untuk melakukan investasi. Ketika menyadari bahwa market timing sangat sulit untuk dilakukan dan jumlah uang yang diinvestasikan juga semakin besar, pertanyaan mulai mengarah bagaimana cara mengalokasikan aset dengan benar? Hal inilah yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Read more…

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:
%d bloggers like this: