Archive

Author Archive

Apakah Ada Reksa Dana Saham Yang (Konsisten) Mengalahkan IHSG ?

January 16th, 2014 45 comments

Konsistensi Kinerja

Membeli produk reksa dana yang “Terbaik” adalah Keinginan dari banyak investor. Walaupun pada kenyataannya lebih banyak investor yang berinvestasi pada produk yang mereka “Percaya” dan mudah untuk diakses,  tetap ada “harapan” bahwa investasinya bisa menjadi produk dengan kinerja terbaik.

Untuk itu, investor biasanya akan mencari tahu produk reksa dana mana yang menjadi jawara pada tahun sebelumnya. Jika kebetulan produk yang menjadi jawara tersebut adalah produk dari perusahaan yang mereka percaya dan akses untuk membeli produk ini juga mudah, maka bukan tidak mungkin reksa dana ini menjadi incaran para investor.

Perilaku di atas juga sebenarnya terjadi dalam investasi saham. Dimana investor beramai-ramai berinvestasi pada saham tertentu yang “Hot”. Tingginya minat masyarakat akan membuat harga saham semakin melambung tinggi. Perilaku ini, dalam teori keuangan disebut dengan Herding Behaviour.

Efek negatif dari Herding Behaviour adalah ketika harapan positif yang terdapat pada saham berubah menjadi negatif, maka investor akan beramai-ramai menjual saham tersebut. Harganya akan turun jauh di bawah harga yang seharusnya karena tekanan jual yang begitu besar. Untungnya efek negatif dari Herding Behaviour ini tidak terjadi di reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena harga reksa dana saham tidak ditentukan oleh banyaknya investor yang menjual atau membeli saham tersebut.

Harga reksa dana saham ditentukan oleh isi portofolio dan kinerja Manajer Investasi yang menjadi pengelola reksa dana tersebut. Satu-satunya efek negatif dari Herding Behaviour pada reksa dana saham ini adalah investor mungkin akan sangat kecewa jika ternyata reksa dana yang dijagokan ternyata tidak berhasil mengulangi kejayaan pada tahun sebelumnya. Hal ini tidak akan sampai menyebabkan investor rugi, namun karena kecewa, maka reksa dana tersebut sudah dijual setelah investasi 1 tahun. Padahal idealnya investasi saham di atas 5 tahun sehingga tujuan keuangannya tidak tercapai.

Nah, tentu sangat menarik, apabila bisa dibuktikan bahwa jika suatu reksa dana saham bisa menjadi jawara pada suatu tahun, maka reksa dana tersebut akan kembali menjadi jawara pada tahun berikutnya. Kita tidak perlu pusing-pusing memilih reksa dana, cukup pilih reksa dana yang jadi jawara pada tahun sebelumnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya melakukan penelitian terhadap seluruh reksa dana saham dengan menggunakan data 10 tahun terakhir. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan… Tertarik? silakan baca terus artikel ini. Read more…

Feedback : Apakah Strategi / Cara Investasi Terbaik Menurut Anda?

January 16th, 2014 19 comments

Umpan BalikDengan berlalunya 2013 dan masuk ke 2014, saya percaya kebanyakan dari pembaca di blog ini sudah pernah mencicipi bagaimana rasanya menjadi investor reksa dana dan ikut mengalami pahit manis dalam berinvestasi. Selama ini kita juga banyak belajar hal-hal baru terkait investasi dan makro ekonomi seperti pemulihan dan krisis hutang eropa, berbagai aksi the Fed seperti quantitative easing, operation twist, dan terakhir ini tapering, kemudian beralih ke kondisi perekonomian Indonesia, kita mengenal istilah cadangan devisa, rasio PDB terhadap hutang, dan lain sebagainya.

Kalau berfokus pada kenaikan dan penurunan, perjalanan IHSG di tahun 2013 juga ibarat roller coaster. Di semester I 2013 IHSG mencetak rekor baru dengan menembus angka 5200, kemudian dalam waktu 6 bulan terus menurun bahkan sempat lebih rendah dari nilai pembukaan pada awal tahun sekitar 3800 meski kembali ke level 4200 an pada akhir tahun. Dalam kurun waktu tersebut ternyata harga obligasi juga turun. Sehingga reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi, harganya juga ikut turun.

Dalam situasi demikian, sebagai orang yang sudah menjalani periode tersebut, apakah strategi investasi yang terbaik menurut anda?

  1. Saya percaya kunci sukses untuk dalam berinvestasi adalah dengan melakukan diversifikasi. Jadi saya sudah membagi uang saya dalam berbagai reksa dana yaitu saham, campuran, obligasi dan pasar uang. Ketika kinerja saham, campuran dan obligasi kurang baik, reksa dana pasar uang saya masih bisa memberikan keuntungan. Jadi Diversifikasi adalah strategi yang terbaik. Apalagi jika dikombinasikan dengan investasi properti.
  2. Yang namanya investasi itu, harus jangka panjang. Dan karena status saya yang karyawan, maka setiap bulan saya melakukan cost averaging. Memang untungnya masih belum terlalu kelihatan sekarang dan ada beberapa kali investasi yang masih merugi, tapi saya yakin dengan prospek jangka panjang investasi Indonesia dan lumayan dengan strategi ini saya sempat masuk ketika IHSG di level 3800an. Jadi Cost Averaging adalah yang terbaik.
  3. Saya lebih memilih strategi Rebalancing. Artinya saya sudah menentukan di awal komposisi investasi yang ideal untuk saya adalah (misalnya) 50 untuk reksa dana saham dan 50 untuk reksa dana obligasi. Ketika komposisinya timpang, saya segera melakukan rebalancing agar komposisinya sesuai keinginan.
  4. Swing Trading adalah strategi terbaik. Dengan menggunakan beberapa indikator analisa teknikal, saya selalu masuk di titik terendah dan keluar ketika mencapai titik tertinggi. Ini strategi yang paling tokcer (kalau benar2 ada yang melakukan ini di 2013, silakan memberikan testimoni)
  5. Boro-boro pakai strategi pak, kapan ada uang lebih ya diinvestasikan dan kapan butuh uang ya terpaksa dananya ditarik. Ga pakai strategi dan analisi
  6. Atau ada strategi lain, silakan sharing disini.
Categories: Feedback Tags:

Event : Workshop Reksa Dana dan Market Outlook 2014

January 6th, 2014 24 comments

Teman2 mau menginformasikan bahwa, Panin Asset Management bekerjasama dengan Toko Buku Gramedia dan Elex Media Komputindo menyelenggarakan Workshop Reksa Dana dan Market Outlook 2014 di Jakarta

Informasi lebih lanjut silakan lihat brosur di bawah ini

Gramedia Public Class 8 Februari 2014

Categories: Talkshow dan Seminar Tags:

5 Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2014

January 2nd, 2014 22 comments

Dalam investasi reksa dana, dikenal prinsip Pahami, Nikmati. Pahami potensi risikonya, Nikmati hasil investasinya. Kalimat tersebut mengandung himbauan kepada seluruh investor reksa dana untuk memahami seluruh potensi risiko reksa dana baru kemudian bisa dengan nyaman menikmati hasil investasinya.

Investasi di reksa dana merupakan kegiatan yang mengandung risiko. Salah satu bentuk yang paling umum adalah risiko penurunan nilai investasi. Kondisi harga saham dan obligasi yang kurang bersahabat di tahun 2013 ini telah membuat sebagian besar investor mengalami yang namanya risiko penurunan ini.

Risiko penurunan sama halnya dengan potensi kenaikan akan selalu ada. Sebagai investor reksa dana, pemahaman terhadap risiko sangat penting. Semakin kita paham akan konsep risiko dalam investasi, semakin siap kita dalam menghadapinya dan semakin bisa juga kita mendapatkan keuntungan daripadanya karena penurunan di bursa saham bisa jadi merupakan kesempatan untuk membeli di harga yang lebih rendah.

2014 Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Mengenal Literasi Keuangan

December 24th, 2013 8 comments

Klik untuk melihat video pendek 20131225-112820.mov

Sebelumnya saya ingin mengucapkan”

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2014

Semoga Tahun 2014

Menjadi Tahun Yang Penuh Dengan Kesuksesan,

Berkat dan Rahmat Bagi Kita Semua

Tahun Baru 2014

Apakah anda pernah mendengar istilah “Literasi Keuangan” ? Atau Jika belum pernah, apakah anda:

  • Tahu bahwa kredit kita di bank yang satu juga akan terlihat di bank lainnya?
  • Tahu bahwa ketika kita memiliki KPR dan KPM, secara langsung juga sudah diikutkan pada asuransi jiwa?
  • Tahu bahwa barang yang sudah digadaikan di pegadaian, masa gadainya dapat diperpanjang apabila kondisi keuangan kita tidak memungkinkan untuk melunasinya?
  • Tahu bahwa kalau mobil rusak karena kelalaian kita sendiri tidak bisa diklaim di asuransi?
  • Tahu bahwa ada skema manfaat pasti dan iuran pasti dalam persiapan dana pensiun di perusahaan?
  • Tahu bahwa Manajer Investasi berhak menolak redemption anda ketika dalam hari yang sama terjadi redemption dalam jumlah besar?

Jika ada lebih dari 3 point yang tidak anda ketahui, maka bisa dibilang anda belum “Literate” secara keuangan. Dan jika belum jangan khawatir, anda bukan orang satu-satunya. Masih banyak sekali orang-orang di Indonesia yang kondisinya sama dengan anda. Untuk itulah, bulan lalu dan bulan Desember ini, dimana ketika anda melihat artikel di blog “kosong” cukup lama, ini bukan berarti saya lagi malas (he he..) tapi karena saya berpartisipasi dalam Kelompok Kerja (POKJA) peningkatkan Literasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Anggota POKJA ini terdiri dari pelaku berbagai industri yaitu dari Perbankan, Asuransi, Pasar Modal, Pembiayaan (Multi Finance), Pegadaian, Dana Pensiun dan tentu juga Otoritas Jasa Keuangan sendiri. Ada 2 pekerjaan utama dari POKJA ini, yang pertama yaitu menyusun cetak biru Strategi Literasi Keuangan Nasional dan kemudian mendukung pelaksanaan cetak biru tersebut. Adapun tujuan dari pekerjaan utama adalah bagaimana pada waktu yang tidak terlalu lama di masa depan, kita maupun anak2 kita bisa menjawab pertanyaan di atas. Tidak hanya Tahu, tapi juga yakin dengan produk keuangan dan terampil menggunakan produk keuangan.

Hal ini sesuai dengan definisi Literasi Keuangan yaitu Tahu, Yakin dan Terampil terhadap Produk dan Jasa Keuangan. Mau tahu apa saja hasil kerja POKJA sejauh ini? silakan baca lebih lanjut

Read more…

Categories: Literasi Keuangan Tags:

Upcoming Event : Seminar Market Outlook Medan

December 18th, 2013 No comments

Bagi teman2 yang berdomisili di Medan, mau saya informasikan bahwa Panin Sekuritas dan Panin Asset Management kembali bekerja sama menyelenggarakan seminar dengan tema Market Outlook 2014.

Informasi lebih lengkap silakan lihat di bawah ini

Read more…

Categories: Talkshow dan Seminar Tags:

Antara Cost Averaging, Lump Sum dan Asset Allocation

December 18th, 2013 10 comments

Kadang-kadang saya mendapat pertanyaan seperti ini:

  • Menurut anda, kalau usia saya sudah memasuki masa pensiun, sebaiknya berapa persen dari dana saya yang diinvestasikan?
  • Kalau profil risiko saya moderat apakah sebaiknya saya memiliki 50% (reksa dana) saham dan 50% obligasi?
  • Dengan kondisi market yang demikian volatil, apakah sebaiknya alokasi aset investor disesuaikan dengan memperbanyak porsi reksa dana pasar uang?

Yang saya simpulkan dari pertanyaan di atas adalah bahwa ternyata Aset Alokasi masih menjadi perhatian daripada investor sebelum melakukan investasi. Dan untuk membuat aset alokasi tersebut, investor sering menghubungkannya dengan tahapan kehidupan yang dia alami (life cycle), profil risiko, atau terkadang situasi ekonomi yang sedang berlaku. Menjelang awal tahun, sering dipublikasikan juga di media massa, aset alokasi yang direkomendasikan untuk investor dengan berbagai profil risiko tertentu. Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimanakah menerapkan aset alokasi tersebut jika kita juga melakukan investasi secara cost averaging atau lump sum?

Sebagai contoh, saat ini seorang investor sedang membuat perencanaan pensiun melalui investasi reksa dana. Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, dia harus menginvestasikan kurang lebih sekitar Rp 2 juta setiap bulan agar gaya hidupnya dapat dipertahankan pada masa pensiun nanti. Namun karena profil risikonya moderat, maka idealnya harus berinvestasi di reksa dana campuran atau memiliki aset alokasi yang berimbang antara reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

Namun berdasarkan asumsi return yang moderat, maka setiap bulan setidaknya investor harus menyisihkan Rp 3 juta di reksa dana campuran atau gabungan antara Rp 1,5 juta pada masing-masing reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap. Permasalahannya kemampuan dia hanya sebesar Rp 2 juta setiap bulan. Dalam konteks seperti ini apakah aset alokasi masih relavan?

Apakah sebaiknya investor berinvestasi sesuai dengan profil risikonya akan tetapi mengalami risiko tidak mencapai tujuan keuangan atau berinvestasi pada instrumen yang diluar profilnya, namun tujuan dia kemungkinan besar akan lebih bisa tercapai?

Asset Allocation Read more…

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:

Analisa Fundamental Melalui Laporan Keuangan (3) – Value Investing

December 6th, 2013 22 comments

Kalau diperhatikan, update di blog ini sudah absen sejak pertengahan November lalu. He he.. Mohon maaf sebelumnya, bukannya malas, tapi ada banyak sekali kegiatan baik dengan perusahaan, asosiasi dan Otoritas Jasa Keuangan sehingga saya tidak sempat menulis. Nanti akan saya sharing foto-foto kegiatan tersebut dalam kesempatan berikutnya.

Pada 2 artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang dasar laporan keuangan dan cara membaca laporan arus kas. Kali ini, saya akan membahas analisa laporan keuangan menggunakan rasio keuangan. Lebih dalam lagi, bagaimana menggunakan rasio keuangan tersebut untuk menemukan perusahaan yang bagus. Strategi investasi Value Investing mengembangkan konsep tersebut lebih jauh, bagaimana membeli perusahaan bagus pada harga diskon.

Laporan Keuangan

Berikut ini ada kutipan yang teramat bagus dari Warren Buffet tentang Value Investing:

 

Our goal is to find an “Outstanding” business

at a “Sensible Price”,

not a “Mediocre” business at a “Bargain Price”

Warren Buffett

Pertanyaannya, bagaimana cara untuk membedakan perusahaan yang “Outstanding” dan “Mediocre” ? Dan bagaimana caranya untuk mengetahui harganya “Sensible” atau tidak? Apakah penurunan harga saham yang terjadi beberapa waktu ini sudah membuat perusahaan Outstanding dijual di harga Sensible atau bahkan Bargain?

Analisa Fundamental dengan laporan keuangan dapat membantu kita menjawab pertanyaan tersebut. Jika anda tertarik, silakan membaca terus blog ini. Read more…

%d bloggers like this: