Archive

Author Archive

Berapa Price Earning Ratio Yang Wajar Untuk IHSG ?

May 15th, 2018 No comments

Value and price / Blackboard concept (Click for more)

Pada saat artikel ini ditulis, IHSG berada pada level 5947. Secara angka, tentu lebih “murah” dibandingkan rekor baru tertinggi yang pernah tercapai pada Februari 2018 ini yaitu 6690. Investor pasar modal yang berpengalaman tentu tidak hanya menggunakan angka IHSG sebagai patokan, tetapi juga valuasinya.

Salah satu indikator valuasi yang sering digunakan yaitu Price Earning Ratio (PE Ratio) yang menghitung berdasarkan pembagian antara harga dengan laba bersih. Secara sederhana, PE Ratio 10 kali berarti harga pasar saat ini setara dengan 10 tahun laba bersih perusahaan. Perusahaan dengan PE Ratio 10 kali dikatakan “lebih murah” dibandingkan perusahaan dengan PE ratio 15 kali.

Semakin tinggi PE Ratio maka semakin mahal valuasi suatu perusahaan dan sebaliknya semakin rendah PE Ratio maka semakin murah valuasi suatu perusahaan.

Yang menjadi pertanyaan adalah berapa PE Ratio yang wajar untuk IHSG di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada 2 bagian yang harus terjawab yaitu sumber data PE Ratio dan metode untuk menilai kewajarannya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Fluktuasi Rupiah dan Dampaknya Terhadap Kinerja Reksa Dana

April 27th, 2018 No comments

Gambar Kompas

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga obligasi selama beberapa ini menjadi perhatian media dan masyarakat. Penurunan ini berdampak pada menurunnya Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan (NAB per UP) kinerja reksa dana baik yang berbasis saham maupun pendapatan tetap.

Entah kebetulan atau tidak, penurunan ini berbarengan dengan menguat nilai tukar USD terhadap Rp, dimana beberapa kali sempat mendekati Rp 14.000 / USD. Apakah penguatan nilai tukar ini menjadi penyebab menurunnya kinerja reksa dana sehingga perlu diwaspadai ke depannya?

Untuk mengetahui hal tersebut, perlu dilakukan penelitian terhadap data historis untuk nilai tukar, kinerja saham dan kinerja obligasi pemerintah dari tahun 2002 hingga 25 April 2018. Hasilnya sebagai berikut : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Ini 11 Hal yang Dilarang (Wakil) Agen Penjual Efek Reksa Dana

April 23rd, 2018 No comments

Gambar Kompas

Industri pasar modal, terutama reksa dana, mengalami perkembangan yang pesat selama beberapa tahun terakhir. Selain jumlah investor, jumlah Agen Penjual Efek Reksa Dana atau disingkat APERD dan tenaga pemasarnya yang disebut Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD) juga terus bertambah.

APERD adalah sebutan untuk institusi / perusahaan yang melakukan pemasaran reksa dana. Bentuknya bisa berupa perusahaan Manajer Investasi, Bank, Perusahaan Efek atau Sekuritas, dan yang belakangan ini mulai berkembang yaitu Perusahaan Finansial Teknologi atau disebut Fintech.

WAPERD adalah sebutan untuk perorangan yang telah mendapatkan sertifikasi dari OJK untuk menjalankan kegiatan pemasaran reksa dana. Izin WAPERD melekat pada perorangan dan memiliki masa berlaku 2 tahun yang dapat diperpanjang dengan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Lanjutan (PPL) yang diselenggarakan oleh asosiasi terkait.

Di Indonesia, izin WAPERD secara perorangan tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pemasaran reksa dana. Izin tersebut baru berlaku apabila perorangan yang memiliki izin WAPERD, bekerja di perusahaan yang mendapat izin sebagai APERD.

Masyarakat perlu berhati-hati apabila ada perorangan yang melakukan pemasaran reksa dana berbekal izin WAPERD perseorangan namun tidak bekerja di perusahaan APERD. Jika dianggap perlu, masyarakat juga bisa meminta surat penugasan perusahaan kepada tenaga pemasar dan melakukan pengecekan ke pihak perusahaan langsung untuk menghindari potensi investasi bodong.

Hal-hal yang dilarang bagi APERD dalam kegiatan usahanya secara spesifik juga telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 39/POJK.04/2014 pasal 37 Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Menguji Akurasi Strategy Sell in May and Go Away

April 13th, 2018 No comments

Uji Statistik

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Mei. Dalam dunia pasar modal, ada suatu teori atau strategi investasi yang dikenal dengan nama Sell in May and Go Away. Jika hanya membaca namanya, sering sekali strategi tersebut diterjemahkan sebagai menjual kepemilikan sahamnya pada bulan Mei. Apakah benar demikian? Dan apakah strategi tersebut cukup akurat ?

Mengacu ke Wikipedia, sebenarnya Sell in May and Go Away adalah suatu strategi investasi saham berdasarkan teori bahwa pada periode November hingga April, kinerja saham lebih baik dibandingkan rata-rata pertumbuhan bulan lainnya. Dalam strategi ini, saham dijual pada awal Mei dan hasil penjualannya disimpan dalam bentuk kas atau reksa dana pasar uang.Dengan demikian, daripada melakukan strategy Buy and Hold dalam jangka panjang, sebaiknya investor melakukan perubahan alokasi setiap 6 bulan.

Saya sendiri menginterprestasikan teori ini sebagai strategi investasi dimana investor berinvestasi saham pada bulan November – April dan berinvestasi pada obligasi pada bulan Mei – Oktober. Jadi memang ada sedikit perbedaan jika anda mengacu pada teori yang ada, terutama pada investasi bulan Mei – Oktober yang menggunakan reksa dana pasar uang atau deposito.

Untuk mengetahui apakah strategi ini cukup akurat atau tidak, saya melakukan penelitian berdasarkan data historis dari tahun 2001 – 2018. Langkah-langkah dan hasilnya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Riset Reksa Dana Tags:

Apa Efek Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) Terhadap IHSG ?

March 14th, 2018 No comments

Rising interest rates

Jika tidak ada perubahan yang signifikan, seharusnya Suku Bunga Acuan Amerika Serikat atau dikenal dengan Fed Fund Rate (FFR) akan dinaikkan dari level 1.25% – 1.50% menjadi 1.50% – 1.75% pada tanggal 22 Maret 2018 nanti. Kebetulan atau tidak, menjelang kenaikan ini, Indeks Harga Saham Gabungan mengalami fluktuasi yang cukup signifikan selama bulan Februari dan Maret 2018. Bagaimana efek kenaikan FFR ini terhadap IHSG?

Efek perubahan FFR terhadap IHSG dapat dibagi dalam periode jangka panjang dan jangka pendek. Dalam jangka panjang, saya berpendapat kenaikan FFR ini positif bagi perekonomian Global dan Indonesia karena alasan untuk mengendalikan agar tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi tidak terlalu tinggi. Kenapa tinggi itu tidak baik? Pertumbuhan dan inflasi yang terlalu tinggi bisa menyebabkan bubble pada ekonomi sehingga rentan dengan penurunan. Dengan menaikkan suku bunga, tingkat pertumbuhan akan relatif lebih terjaga. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka seharusnya kenaikan FFR ini akan lebih banyak memberikan manfaat daripada mudarat bagi Indonesia.

Dalam jangka pendek agak berbeda. Sebab masih ada pandangan bahwa kenaikan FFR akan menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia, harga saham dan obligasi akan terkoreksi dan sebagainya. Pandangan tersebut tidak bisa dikatakan salah, karena dalam jangka pendek memang terkadang penurunan di saham, obligasi dan nilai tukar memang terjadi. Hanya saja belum jelas apakah penyebabnya kenaikan FFR atau penyebab lainnya. Terkadang hanya dikait-kaitkan saja dan tidak konsisten. Artinya dalam kenaikan kali ini berdampak, tapi pada kondisi serupa di waktu lain belum tentu sama.

Dalam tulisan ini, saya bermaksud untuk mencari dalam jangka pendek, apakah ada efek kenaikan FFR terhadap IHSG? Jika terjadi koreksi, berapa % koreksi yang mungkin terjadi. Periode jangka pendek yang saya maksud adalah 1 bulan sebelum dan sesudah kenaikan FFR. Data, penelitian dan hasilnya sebagai berikut Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Pelaporan Aset Keuangan dan Investasi Dalam SPT Perpajakan

March 7th, 2018 23 comments

t

Batas waktu untuk penyampaian SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) Wajib Pajak (WP) Orang Pribadi adalah 31 Maret 2018. Penyampaian SPT Tahunan merupakan kewajiban setiap WP. Bagian utama dalam pelaporan SPT yaitu Penghasilan, Harta dan Kewajiban.

Bagaimana tata cara pelaporan aset keuangan dan investasi seperti tabungan, deposito, obligasi, reksa dana, dan unit link dalam SPT Pajak ? Sesuai dengan bagian utama dalam SPT, aset keuangan dan investasi dilaporkan pada bagian Penghasilan, Harta dan Kewajiban (apabila ada).

Secara umum ada 3 jenis SPT yaitu :

  • Formulir SPT 1770 (untuk wajib pajak dalam negeri dengan penghasilan dari kegiatan usaha dan melakukan pekerjaan bebas)
  • Formulir SPT 1770-S (untuk wajib pajak dalam negeri yang bekerja dengan penghasilan per tahun di atas Rp 60 juta)
  • Formulir SPT 1770-SS (untuk wajib pajak dalam negeri yang bekerja dengan penghasilan per tahun di bawah Rp 60 juta)

Format untuk Formulir SPT 1770-SS (Sangat Sederhana) terlalu sederhana dan tidak ada perinciannnya, sementara untuk SPT 1770 cukup kompleks karena diperuntukkan bagi WP yang telah memiliki kegiatan usaha. Untuk itu, contoh pelaporan dalam SPT pajak menggunakan contoh 1770-S (Sederhana). Agar lebih mudah, pelaporan bisa secara E-Filling di djponline.pajak.go.id yang sudah ada versi panduannya. Read more…

Mengelola Investasi Reksa Dana Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

February 28th, 2018 No comments

finance and economy

Berinvestasi ke beberapa jenis reksa dana yang berbeda merupakan salah satu upaya untuk diversifikasi (membagi) risiko. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana pembagian ke masing-masing jenis reksa dana?

Dalam bahasa keuangan, investasi ke beberapa jenis reksa dana juga dikenal juga dengan istilah Aset Alokasi (Asset Allocation). Secara umum ada 4 jenis reksa dana yaitu pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.

Aset alokasi adalah suatu strategi investasi yang membagi keranjang investasi reksa dana ke beberapa jenis yang berbeda. Dasar pembagian bisa berdasarkan tujuan keuangan, kondisi keuangan, dan atau profil risiko.

Dalam artikel sebelumnya, saya pernah membahas prinsip 10–20–30–40 yang digunakan dalam pengelolaan penghasilan.
(Baca: Mengelola Penghasilan dengan Prinsip 10-20-30-40)

Dengan sedikit modifikasi, prinsip ini juga dapat digunakan dalam melakukan aset alokasi di reksa dana. Secara sederhana, apabila investor memiliki dana Rp 100 juta, maka dana tersebut dibagi ke 4 jenis reksa dana dengan menyesuaikan profil risikonya.  Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Mengelola Penghasilan dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

February 2nd, 2018 No comments
Penghasilan - Gambar Kompas

Sumber : Kompas Online (Thinkstockphotos.com)

Mengelola penghasilan merupakan salah satu bagian yang sangat penting sebelum memulai investasi di reksa dana. Sederhana saja, kalau tidak ada dana, tentu tidak bisa menjadi investor reksa dana. Pertanyaannya, bagaimana cara mengelola penghasilan yang baik ?

Untuk menjadi investor reksa dana, tidak dibutuhkan dana yang besar. Saat ini sudah banyak manajer investasi dan agen penjual yang menetapkan Rp 100.000 sebagai minimum investasi. Mulai ada juga yang menetapkan Rp 10.000 sebagai minimum untuk membuka rekening reksa dana.

Yang menjadi permasalahan bukanlah Rp 10.000, Rp 100.000 atau bahkan Rp 10 juta yang menjadi minimum pembukaan. Sebab untuk yang penghasilannya besar sekalipun, jika semuanya dihabiskan untuk pengeluaran konsumtif tentu tidak ada sisa yang bisa diinvestasikan atau bahkan harus berhutang.

Mengelola penghasilan juga bukan berarti harus hidup berhemat dan tidak menikmati hidup sama sekali. Sepanjang direncanakan dengan baik, tetap ada porsi yang bisa digunakan untuk menikmati hidup dalam batasan yang wajar.

Salah satu referensi yang bisa digunakan dalam melakukan perencanaan bagaimana menghabiskan penghasilan adalah prinsip 10 – 20 – 30 – 40. Penjumlahan dari 10 + 20 + 30 + 40 adalah 100. Angka tersebut menunjukkan berapa persen dari penghasilan yang sebaiknya dialokasikan.

Prinsip 10 - 20 - 30 - 40

Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
%d bloggers like this: