Archive

Author Archive

Market Update Panin Asset Management – 31 Maret 2020

March 31st, 2020 No comments

Positive Surprise

Bagaimana pandangan Panin AM terhadap penanganan pandemic COVID-19 saat ini?
Dalam konteks pasar modal, yang akan menjadi perhatian utama dari investor adalah penanganan oleh Amerika Serikat karena masih merupakan ekonomi utama di dunia. Saat ini AS sudah menjadi Negara dengan pasien COVID-19 terbanyak di dunia.

Dari sudut pandang kami, pesatnya test dan pertambahan pasien dikarenakan AS memiliki sumber daya dan teknologi untuk melakukan uji secara massal. Hal ini menjadi pertanda yang bagus karena upaya pengendalian dalam bentuk isolasi diri dan perawatan dapat dilakukan dengan lebih baik jika datanya lengkap.

Saat ini jumlah pasien baru memang masih bertambah banyak, namun mulai terlihat tanda tanda melandai. Untuk itu, Panin AM cukup optimis bahwa puncak wabah di AS akan terjadi dalam waktu 2-4 minggu ini.

Untuk Indonesia sendiri, kami berharap dapat mengikuti tren di AS sehubungan dengan tindakan-tindakan yang sudah dan akan dilakukan pemerintah pusat dan daerah saat ini.

Mana yang lebih menjadi acuan dalam konteks investasi pasar modal? Penanganan di AS atau Indonesia?
Saat ini pergerakan harga saham di Negara Asia dan Eropa cenderung mengikuti pergerakan saham US. Untuk itu, dalam konteks pasar modal keberhasilan AS dalam menangani pandemic COVID-19 akan menjadi sentimen positif bagi pasar modal di dunia.

Apakah IHSG bisa turun lagi? mengingat minggu lalu ada rally belasan persen dalam 2 hari (26-27 Maret 2020) sehingga bisa saja efek stimulus sudah selesai?
Berdasarkan data perkembangan penanganan wabah di AS dan stimulus yang sudah diluncurkan, kemungkinan turun dalam jangka pendek memang masih ada.

Namun dalam pandangan kami, lHSG di level 4.000 merupakan level support yang sangat kuat. Karena pada level tersebut Short Seller cenderung berhati-hati, investor lokal baik institusi ataupun High Net Worth dengan dana besar sudah lebih berani untuk masuk.

Bagaimana pandangan Panin AM tentang pemulihan ekonomi dan pasar modal pasca COVID-19, apakah berbentuk V-shape atau U-shape ?
(V-Shape pemulihan secara cepat, U-shape pemulihan secara perlahan)

Ada 2 pandangan tentang hal tersebut. Untuk masing-masing Negara memang tidak sama juga tergantung struktur perekonomian, kesiapan infrastruktur, tingkat keparahan akibat dampak pandemic dan sebagainya.

Dalam pandangan Panin AM, untuk pemulihan pasca COVID-19 untuk AS berpotensi berbentuk V-Shape. Dasar pemikiran kami sebagai berikut :

Krisis ekonomi kali ini berbeda dengan krisis ekonomi pada tahun 2008 lalu. Krisis 2008 disebabkan adalah adanya spekulasi yang berlebihan pada sektor property sehingga terjadi krisis subprime mortgage. Apabila pemerintah mau melakukan bail out, masih ada pertentangan karena pertanyaan mengapa pihak yang bersalah karena melakukan spekulasi tersebut harus diselamatkan.

Untuk 2020, krisis kali ini bersifat force majeure. Tidak ada pihak yang bisa disalahkan selain virus itu sendiri. Untuk itu, proses pemberian stimulus akan lebih mudah dan merata ke masyarakat dan perusahaan yang dianggap terdampak.

Hal ini membuat ekonomi tumbuh lebih cepat sehingga potensi kenaikan pada saat virus ini berakhir bisa lebih cepat sehingga cenderung berbentuk V-Shape daripada U-Shape.

Untuk pasar modal, diharapkan juga demikian. Sebagaimana dari pengamatan beberapa hari terakhir, mulai ada riset yang menyarankan untuk membeli saham-saham dengan valuasi murah. Selain itu, pergerakan saham AS juga tidak terlalu fluktuatif meskipun pertambahan pasien baru masih banyak. Ada kemungkinan investor sudah mulai memperkirakan akhir dari pandemic semakin dekat.

Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia dan juga Negara Asia lainnya, cenderung akan mengikuti tren di Amerika Serikat. Jadi diharapkan pemulihan pasca COVID-19 juga mendekati V-Shape

Darimana negara memiliki dana untuk menyalurkan stimulus dalam jumlah besar tersebut? Mengingat pendapatan negara tentu sudah turun karena aktivitas ekonomi juga ikut menurun?

Untuk AS, sebagaimana yang sudah dilakukan dari masa-masa sebelumnya, stimulus ini akan berasal dari hutang. Sebab AS memiliki privilege sebagai negara adidaya sehingga kekurangan anggaran negara dapat diperoleh dengan cara pemerintah AS menerbitkan surat hutang kemudian dibeli oleh Bank Sentral dengan mencetak uang.

Privilege seperti itu, tentunya belum dimiliki oleh negara lain seperti Indonesia. Untuk itu, bisa melalui realokasi anggaran atau relaksaksi aturan dimana jika sebelumnya defisit adalah maksimal 3% dari APBN, maka dengan adanya kondisi ini bisa menjadi 5-6%.

Anggaran yang lebih longgar ini juga berpotensi membuat pemerintah lebih fleksibel di masa mendatang sehingga mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi.

Apakah harga minyak yang sangat rendah (level 20 USD/Barrel), bisa menjadi risiko baru seperti perusahaan minyak di AS yang bangkrut sehingga harga saham ikut turun?
Sebagaimana pendapat di atas, bahwa stimulus di AS bernilai sangat besar dan ada kemungkinan juga akan masuk ke sektor energy seperti minyak juga. Sehingga risiko daripada kebangkrutan perusahaan minyak dapat dihindari.

Untuk harga, jika nantinya kondisi sudah membaik dan permintaan meningkat, maka harga minyak berpotensi kembali naik.

Apakah ada perkiraan untuk harga wajar IHSG di 2020?
Berikut ini perkiraan harga wajar IHSG oleh Panin AM berdasarkan kondisi terbaru

Skenario Terbaik : IHSG di level 6400 dengan catatan puncak kurva pasien baru di AS terjadi dalam 2 minggu (pertengahan April) baru kemudian menunjukkan tren penurunan dan stimulus di AS berjalan (saat ini sudah disetujui)

Skenario Dasar : IHSG di level 6000 dengan catatan puncak kurva pasien baru di AS terjadi dalam waktu 2-4 minggu (akhir April) baru kemudian menunjukkan tren penurunan dan stimulus di AS berjalan

Skenario Terburuk : IHSG di level 5000 dengan catatan puncak kurva pasien baru di AS masih belum tercapai setelah 1 bulan (setelah Mei) dan stimulus di AS berjalan.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Aplikasi Theory Black Swan Event Di Pasar Saham Indonesia

March 28th, 2020 No comments

 

Teori Peristiwa Angsa Hitam / Black Swan Event Theory merujuk pada peristiwa langka yang berdampak besar, sulit diprediksi dan di luar perkiraan biasa.

Pandemi COVID-19 yang menyebabkan kejatuhan bursa saham dan obligasi (yang belakangan naik lagi), stimulus terbesar dalam sejarah dunia, serta aturan physical distancing, dan berbagai perubahan lainnya sudah pasti bisa dikategorikan peristiwa Teori Angsa Hitam.

Dalam dunia pasar modal, jika terjadi peristiwa Black Swan Event, dapat dimanfaatkan
+ Melakukan realisasi keuntungan jika naik pesat (Profit Taking)
+ Melakukan investasi jika turun dalam (Time to Buy)

Penurunan IHSG akibat pandemi COVID-19 yang dalam tentu sudah diketahui oleh semua orang, pertanyaannya berapa “dalam” persentase penurunan yang bisa dikategorikan sebagai Black Swan Event ? Apakah turun 10%, 20%, 30%? Kemudian berapa lama waktunya? Apakah 1, 3, 6 bulan atau 1 tahun?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, berikut langkah dan hasil penelitiannya Black Swan Event pada pasar saham (IHSG) Indonesia.

Untuk lebih lengkapnya silakan baca Black Swan Event

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Tanya Jawab Seputar Kondisi Pasar dengan Panin Asset Management

March 26th, 2020 No comments

 

Sehubungan dengan kondisi pasar yang amat fluktuatif dan juga rebound di hari ini, berikut ini adalah tanya jawab saya dengan tim Manajer Investasi Panin Asset Management di 26 Maret 2020

Tanya : Secara singkat, mengapa IHSG dan kurs nilai tukar terus mengalami pelemahan sejak awal tahun?

Menurut Panin AM, hal ini disebabkan meluasnya wabah COVID-19 membuat investor di seluruh dunia beralih ke aset safe haven yaitu USD. Akibatnya aset dari emerging market seperti saham dan obligasi dijual dan dialihkan ke US langsung. Hal ini juga yang menyebabkan mengapa nilai tukar USD sempat menguat mendekati Rp 17.000 / USD

Tanya : Dalam seminggu terakhir sempat terjadi IHSG turun sendiri padahal negara asia lain naik. Apa yang sebenarnya terjadi ?

Sejak awal tahun, investor domestik masih dlm suasana sangat berhati2, sejak kasus Jiwasraya. Baik investor retail maupun institusi. Sehingga walaupun ada sedikit rebound di pasar LN, investor lokal tidak berani masuk. Dipihak lain, ada tekanan jual terus menerus dari short seller asing, yang menjual saat ini untuk membeli kembali di harga bawah.

Tanya : bukankah saham US juga turun (sebelum kenaikan 1-2 hari terakhir)?

Perilaku investor beralih dari aset berisiko seperti saham dan obligasi ke cash juga terjadi di US sendiri. Makanya harga saham di sana ikut turun.

Tanya : Amerika Serikat, China, Indonesia dan banyak negara lainnya menyelenggarakan stimulus besar yang sebelumnya tidak pernah ada dalam sejarah. Stimulus dari US sendiri mendapat perhatian besar. Bagaimana pendapat anda?

Saat ini US masih menjadi ekonomi terbesar di dunia dan juga dianggap sebagai aset safe haven bagi investor di seluruh dunia. US sendiri juga mengalami kekurangan likuiditas akibat krisis ini sehingga banyak aset dari negara berkembang (Emerging Market) yang pindah ke US

Begitu ada tanda-tanda stimulus akan mendapat persetujuan, nilai tukar US melemah. Arus capital outflow dari negara berkembang ke US juga agak berkurang.

Tanya : Apakah hal ini akan membuat net sell asing berkurang?

Panin AM memiliki keyakinan kuat bahwa jika stimulus AS disetujui dan nantinya jika pertumbuhan case baru COVID-19 di AS menurun, maka tekanan jual asing akan semakin berkurang bahkan bisa berbalik menjadi net buy

Tanya : Bagaimana pendapat anda tentang rally IHSG hari ini (26 Maret 2020) yang sampai dengan siang ini sempat mendekati 10% dan asing yang melakukan net buy?

Rally hari ini membuat short seller menjadi lebih berhati-hati. Di sisi lain, investor Indonesia baik perorangan dan institusi yang punya cash besar mulai berani untuk masuk

Pembelian hari ini adalah gabungan antara short covering dari short-seller (Asing beli saham untuk menutup posisinya) dan lokal investor yang mulai berani.

Tanya : Apakah menurut anda, IHSG sudah bottom?

Panin AM punya keyakinan bahwa dalam hitungan hari, US akan berhasil menurunkan pertumbuhan case COVID-19. Jika skenario itu terjadi, maka level 4000 merupakan strong support IHSG.

Semoga tanya jawab ini bisa menjawab pertanyaan anda seputar kondisi pasar terakhir.

Sehat selalu dan ikuti anjuran pemerintah.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Webinar : Pengisian Aset Keuangan dan Investasi Pada SPT

March 25th, 2020 No comments

pajak webinar

Bagi yang belum mengisi SPT Pajak atau sudah mengisi SPT Pajak tapi masih bingung dengan pelaporan terkait harta berbentuk aset keuangan dan investasi tidak perlu khawatir. Sebab Ditjen Pajak telah memberikan kelonggaran pelaporan hingga 30 April 2020.

Bagi yang sudah terlanjur lapor, tapi masih ada kekurangan juga bisa melakukan pembetulan SPT. Pengisian SPT secara elektronik teramat praktis karena bisa dilakukan pembetulan kapan saja.

Saat ini aset keuangan dan investasi telah semakin dikenal masyarakat. Sebut saja Tabungan, Deposito, Saham, Obligasi, Reksa Dana, Unit Link, P2P Lending dan sebagainya. Dengan kemudahan untuk memulai dan minimum investasi yang relatif kecil, peminatnya juga semakin banyak.

Namun masih banyak yang bingung tentang bagaimana harta-harta tersebut dilaporkan dalam SPT. Begitu pula ketika menerima penghasilan dari aset tersebut. Artikel saya tentang topik tersebut juga merupakan salah satu artikel yang mendapat komentar paling banyak dibandingkan artikel lainnya.

Dalam kesempatan ini, Panin Asset Management menyelenggarakan Webinar dengan keterangan sebagai berikut :

Tema : Menyusun SPT Pajak, Aset Keuangan dan Investasi
Tanggal : 27 Maret 2020 Jam 09.00 – 11.30
Biaya : Gratis
Cara mendaftar : Melalui aplikasi Zoom dengan klik link Daftar Seminar

Seminar ini diselenggarakan secara online, untuk itu akan dimulai tepat waktu. Disarankan untuk diakses melalui komputer atau laptop yang memiliki fasilitas kamera dan mic untuk memudahkan interaksi.

Ditunggu kehadiran anda di webinar ini.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Ini Cara Mengatur Aset Alokasi Reksa Dana Dalam Segala Situasi Pasar

March 12th, 2020 No comments

Kondisi pasar modal yang fluktuatif belakangan merupakan salah satu kesempatan yang tepat untuk mengevaluasi kembali portofolio investasi. Apakah investor masih bisa tidur nyenyak dengan penurunan yang terjadi? Bagaimana sebaiknya mengatur aset alokasi yang ideal?

Bisa tidur dengan nyenyak pada saat hasil investasi negatif merupakan indikator paling nyata seseorang bisa menerima risiko pasar modal. Sebaliknya jika sudah tidak bisa tidur nyenyak berarti memang sebaiknya beralih ke instrumen yang lebih konservatif.

Pertanyaan mengenai toleransi risiko memang menjadi salah satu pertanyaan standar dalam formulir pembukaan rekening reksa dana, namun ironisnya terkadang investor harus merasakan dulu penurunan 15-20% baru bisa menjawab dengan jujur apakah dia benar siap atau tidak.

Investor yang tidak siap, ketika mendapatkan kenyataan bahwa hasil investasi telah turun 15%, 20% atau bahkan lebih, biasanya akan mengambil keputusan seperti menghentikan investasi berkala, ada juga yang melakukan cutloss karena khawatir kerugian bertambah banyak.

Apakah tindakan di atas salah? Tentu tidak. Semua orang bisa memutuskan apa yang terbaik dan nyaman bagi dirinya sendiri. Namun untuk kategori investor ini, sangat disarankan untuk tidak masuk lagi ke jenis reksa dana saham pada saat pasar sudah membaik.

Sebab yang namanya pasar saham memang fluktuatif. Sekalipun sudah naik nanti, situasi penurunan seperti ini berpotensi kembali berulang. Untuk itu, jika nantinya memutuskan untuk berinvestasi kembali, bisa memilih jenis reksa dana yang lebih konservatif seperti pasar uang, pendapatan tetap dan terproteksi dengan tetap memperhatikan risikonya.

Bagaimana dengan investor yang siap? Reaksinya juga beragam. Ada yang tetap cutloss karena kerugian telah mencapai batas risiko yang ditetapkan sejak awal. Namun tidak sedikit juga yang tetap melanjutkan investasi berkala atau bahkan melakukan pembelian dalam jumlah besar karena saat ini harga reksa dana saham memang sedang terdiskon.

Terdapat juga sebagian investor tetap berinvestasi di reksa dana saham karena percaya akan prospek jangka panjang, namun pada saat yang sama melakukan diversifikasi ke reksa dana pendapatan tetap karena kinerja yang baik dalam beberapa tahun terakhir.

Apakah diversifikasi ke jenis ini memberikan hasil yang bagus secara historis? Bagaimana dengan emas? Apakah ada alternatifnya? Bagaimana pula aset alokasi yang ideal?

Untuk lebih lengkap silakan baca Ini Cara Mengatur Aset Alokasi Reksa Dana Dalam Segala Situasi Pasar

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Begini Tata Cara Pelaporan Harta “Pasar Modal” Dalam SPT Pajak

March 6th, 2020 No comments

Pasar modal saat ini semakin dikenal masyarakat. Istilah saham, obligasi, dan reksa dana tidak lagi asing di telinga masyarakat. Bahkan jumlah investor meningkat pesat dalam 2 tahun terakhir. Karena masih baru, banyak yang belum tahu bahwa harta pasar modal ini juga perlu dilaporkan dalam SPT Pajak. Seperti apa tata cara pelaporannya.

Salah satu keunggulan dari produk pasar modal adalah dari sisi perpajakannya. Sebagai contoh, jika anda membeli emas batangan atau emas perhiasan 5 tahun yang lalu dan kemudian menjualnya saat ini yang harganya sudah naik, maka atas keuntungan dari emas tersebut anda perlu membayar pajak.

Besaran pajak atas keuntungan dari penjualan emas bersifat progresif. Jika anda adalah wajib pajak perorangan, maka besarannya pajaknya adalah maksimal 30% jika total Penghasilan Kena Pajak (PKP) anda dalam 1 tahun lebih dari Rp 500 juta.

PKP dihitung dari semua penghasilan yang bersifat progresif seperti gaji, bonus, THR, komisi, royalti, honor, termasuk di dalamnya keuntungan dari penjualan aset seperti emas. Begitu anda tambahkan keuntungan dari penjualan emas, biasanya akan muncul keterangan kurang bayar dalam E-Filling SPT Elektronik anda.

Mungkin sebagian besar dari anda tidak pernah sadar atau melaporkan hal tersebut dan selama ini juga baik-baik juga alias tidak ditagih. Namun jika sesuai aturan, terdapat kolom pada pengisian SPT Elektronik dengan nama Keuntungan dari Penjualan / Pengalihan Harta.

Pada kolom inilah, jika ada keuntungan dari penjualan harta, termasuk di dalamnya emas, dimasukkan besaran keuntungannya.

Dari aspek pajak, produk investasi pasar modal memiliki keunggulan karena pajaknya ada bersifat final seperti saham dan obligasi dan ada yang bersifat bukan objek pajak seperti produk pengelolaan investasi dengan bentuk hukum kontrak investasi kolektif (KIK) salah satunya reksa dana.

Untuk yang bersifat final, biasanya sudah ditetapkan besarannya dalam persentase tertentu dan tidak naik seperti halnya pajak pada penghasilan gaji. Untuk yang bukan objek pajak, lebih bagus lagi karena kita tidak perlu membayar pajak atas keuntungan dari produk investasi tersebut.

Contoh penghasilan yang bersifat final, bukan objek pajak, besaran tarif, dan tata cara pelaporan penghasilannya adalah sebagai berikut. Untuk baca lebih lanjut, silakan klik Tata Cara Pelaporan Harta Pasar Modal dalam SPT Pajak

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Bursa Turun, Investor (Masih) Bisa Tidur Nyenyak?

March 2nd, 2020 No comments

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan signifikan terutama 1 minggu terakhir di Februari 2020 membuat sebagian investor merasa resah. Banyak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan.

Penyebab utama dari penurunan IHSG adalah kekhawatiran akan meluasnya (outbreak) virus COVID-19. Harga saham tidak hanya turun di Indonesia, nasib serupa juga terjadi pada indeks saham di negara Asia, Eropa dan Amerika Serikat.

Jika wabah meluas, dampaknya tidak hanya sentimen sesaat saja tapi juga langsung ke sektor riil. Sebut saja sektor pariwisata yang mulai sepi pengunjung, perjalanan umrah yang dibatalkan, harga komoditas yang diekspor ke China mengalami penurunan seperti batu bara dan timah, pertemuan bisnis yang ditunda dan sebagainya.

Apakah ada kaitannya dengan gagal bayar investasi dan rekening diblokir? Sampai berapa lama wabah virus ini akan berlangsung? Apa yang sebaiknya dilakukan investor? Untuk info lebih lengkap bisa di baca di https://rudiyanto.blog/2020/03/02/bursa-turun-investor-masih-bisa-tidur-nyenyak/#more-7790

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Ini Cara Menghindari Reksa Dana “Saham Gorengan”

February 19th, 2020 2 comments

Sehubungan dengan perkembangan kasus investasi yang menimpa beberapa perusahaan manajer investasi dan asuransi, belakangan ini muncul istilah reksa dana saham gorengan. Tidak hanya Nilai Aktiva Bersih per unit yang turun drastis, investor bahkan tidak bisa melakukan pencairan. Bagaimana caranya agar terhindar dari jenis reksa dana ini?

Yang dimaksud dengan reksa dana saham gorengan adalah reksa dana yang menginvestasikan portofolio efeknya pada saham-saham gorengan. Jenisnya bisa reksa dana saham, bisa juga reksa dana campuran. Tapi kebanyakan memang reksa dana saham.

Ciri-Ciri Saham Gorengan

Beberapa ciri saham gorengan antara lain seperti memiliki fluktuasi harga yang besar, kinerja harga saham tidak sesuai dengan kinerja laporan keuangan perusahaan, dan memiliki volume transaksi jual beli yang tidak wajar.

Fluktuasi harga yang besar dapat dilihat seringnya suatu saham digolongkan dalam UMA (Unusual Market Activity) karena harganya sering menyentuh batas tertinggi kenaikan atau batas terendah penurunan harga yang diperbolehkan dalam satu hari. Saham yang masuk golongan UMA berpotensi dihentikan perdagangannya (di suspend) oleh pihak bursa untuk dilakukan investigasi.

Dalam proses investigasi tersebut, biasanya pihak perusahaan diminta untuk memberikan penjelasan apakah memiliki rencana aksi korporasi atau rencana bisnis yang berpotensi menyebabkan perubahan secara signifikan pada perusahaan.

Jika misalkan perusahaan memiliki rencana bisnis atau aksi korporasi yang berpengaruh signifikan seperti membagikan dividen dalam jumlah besar, melakukan akusisi, menerbitkan saham atau hutang baru, mengubah arah bisnis, merombak manajemen dan sebagainya, bisa menjadi penjelasan pada lonjakan naik turunnya harga saham.

Sebagai contoh jika harga saham perusahaan mengalami kenaikan 50% hanya dalam waktu 2 minggu, rupanya hal ini untuk antisipasi laporan keuangan akan datang yang akan diterbitkan dalam waktu dekat yang menyebutkan adanya kenaikan penjualan dan laba bersih yang sebesar 70% dibandingkan periode sebelumnya. Jika skenario ini yang terjadi, maka lonjakan harga bisa dijustifikasi.

Namun dalam banyak kasus saham gorengan, kenyataannya tidak ada. Dalam keterbukaan informasi yang dikeluarkan perusahaan, biasanya berisi pernyataan standar bahwa perusahaan tidak memiliki rencana bisnis atau aksi korporasi yang berpengaruh signifikan.

Informasi mengenai apakah suatu saham masuk dalam kategori UMA dan keterbukaan informasinya merupakan informasi publik yang bisa diakses pada website perusahaan, bursa efek, aplikasi trading perusahaan sekuritas atau situs penyedia data saham seperti RTI.

Kenaikan atau penurunan harga secara signifikan biasanya disebabkan dari volume transaksi yang tidak wajar. Untuk bisa melihat wajar atau tidaknya volume transaksi, memang harus punya pengalaman. Orang awam atau investor pemula biasanya juga tidak mengerti cara melihatnya.

Bagaimana dengan reksa dana saham gorengan? Bagaimana ciri-cirinya dan bagaimana cara untuk menghindarinya? Untuk lebih lengkap silakan baca Ini Cara Untuk Menghindari Reksa Dana “Saham Gorengan”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
%d bloggers like this: