Home > Belajar Reksa Dana > Bursa Turun, Investor (Masih) Bisa Tidur Nyenyak?

Bursa Turun, Investor (Masih) Bisa Tidur Nyenyak?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan signifikan terutama 1 minggu terakhir di Februari 2020 membuat sebagian investor merasa resah. Banyak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan.

Penyebab utama dari penurunan IHSG adalah kekhawatiran akan meluasnya (outbreak) virus COVID-19. Harga saham tidak hanya turun di Indonesia, nasib serupa juga terjadi pada indeks saham di negara Asia, Eropa dan Amerika Serikat.

Jika wabah meluas, dampaknya tidak hanya sentimen sesaat saja tapi juga langsung ke sektor riil. Sebut saja sektor pariwisata yang mulai sepi pengunjung, perjalanan umrah yang dibatalkan, harga komoditas yang diekspor ke China mengalami penurunan seperti batu bara dan timah, pertemuan bisnis yang ditunda dan sebagainya.

Apakah ada kaitannya dengan gagal bayar investasi dan rekening diblokir? Sampai berapa lama wabah virus ini akan berlangsung? Apa yang sebaiknya dilakukan investor? Untuk info lebih lengkap bisa di baca di https://rudiyanto.blog/2020/03/02/bursa-turun-investor-masih-bisa-tidur-nyenyak/#more-7790

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Heri
    April 11th, 2020 at 13:34 | #1

    Pak, mau konfirmasi data ini valid benar g?
    INVESTOR & PASAR UANG MENILAI

    By : Babo EJB

    Kita akan baik-baik saja…

    Pertengahan Januari, saya dapat informasi dari Singapore bahwa pasar uang dan modal akan dihajar oleh pemain.

    Apa pasal? menurutnya pemerintah Indonesia engga punya uang untuk menghadapi Virus Corona. Apalagi defisit APBN sudah melebar mendekati pagu yang ditetapkan UU. Engga ada tanda tanda solusi konkrit dari Jakarta.

    Makanya walau BI berusaha intervensi pasar, tetap engga ada pengaruh positipnya terhadapat Rupiah. Sebagai catatan, sampai dengan akhir Maret BI tekor USD 7 miliar untuk menjaga stabilitas rupiah.

    Namun bulan februari saya dapat info dari teman di Jerman yang bekerja sebagai analis investasi. Menurutnya pemerintah Indonesia sedang berusaha mendapatkan dana melalui pasar the fed dengan menerbitkan global Bond bermata uang dollar Amerika. Rencana akan masuk ke bursa Frankfurt dan Singapore.

    Apakah itu mungkin? Bukankah pasar sedang kering likuiditas akibat pandemi COVID-19.

    Engga ada satupun negara yang berpikir terbitkan global bond lewat bursa. Mengapa? Kalau sampai gagal atau yield tinggi, itu bisa menjatuhkan reputasi negara. Itu akan jadi benchmark terhadap surat utang lainnya.

    Belakangan saya dapat informasi bahwa Deutsche Bank, Goldman Sachs, HSBC dan Citigroup, ikut terlibat mendukung penerbitan bond ini. Ada apa?

    Logika sederhana saja. Kalau sampai bank papan atas mau mendukung dan global bond bisa dijual, ada dua kemungkinan alasannya.

    Pertama, Yield tinggi. Kedua, ada informasi valid yang membuat pasar confidence luar biasa kepada Indonesia. Ini bukan hanya data dan informasi formal.

    Tetapi pasti ada informasi yang tidak diketahui publik, namun sangat menentukan sukesnya penjualan bond. Kalau alasan pertama tadi, jelas itu engga sehat. Kalau karena alasan kedua, apa? informasi apa?

    Faktanya apa yang terjadi? ternyata global bond sukses diserap pasar. Itu bukan karena alasan pertama. Karena terbukti pricing atau yield yang lebih favorable atau lebih rendah dari rata rata bond yang ada di pasar.

    Nah pasti karena alasan kedua. Karena mana ada investor mau beli Global bond dengan harga murah dan bertenor 50 tahun serta berkatagori unsesure. Padahal banyak pilihan yang lebih bagus. Tetapi apa?

    Teman saya di Frankfurt mengatakan bahwa resiko COVID-19 bagi Indonesia itu sangat rendah sekali bila dibandingkan dengan negara lain.

    Ini bukan informasi abal abal. Pasti dasarnya sangat kuat. Kalau engga mana mungkin sampai mempengaruhi orang berduit beli global bond. Apalagi sejak januari sampai maret tidak ada negara yang terbitkan global bond kecuali indonesia.

    Daya tahan ekonomi Indonesia dianggap mampu untuk mengatasi sampai COVID 19 berakhir. Ini akan cepat berakhir dan ekonomi akan cepat recovery.

    Keyakinan semakin tinggi ketika Jokowi berani mengeluarkan PERPPU stabilitas ekonom dan moneter. Artinya dukungan politik Jokowi sangat besar. Di tambah lagi komite Fed dalam vote of confidence menetapkan Indonesia sebagai mitra global untuk fasilitas REPO line. Ini menandakan pemain pasar berskala global sangat confidence, dan itu pasti ada informasi yang mereka kuasai sehingga sampai bersikap positip terhadap indonesia di tengah covid 19.

    Kedepan kalau rupiah stabil sesuai dengan asumsi perubahan APBN maka, itu menandakan apa yang diperkirakan oleh IMF ada benarnya. Bahwa indonesia termasuk salah satu dari tiga negara di dunia yang kuat di tengah krisis ekonomi dunia dan COVID19.

    Yang menilai pasar, bukan politisi atau pengamat.

    Pemain pasar engga pernah salah menentukan sikap. Karena mereka bukan kumpulan orang bokek yang ngayalnya tinggi.

    ( Babo Erizeli Bandaro adalah pelaku di dunia financial market )

  2. Rudiyanto
    April 13th, 2020 at 09:34 | #2

    @Heri
    Selamat pagi pak Heri,

    Jika yang dimaksud dengan BI Tekor adalah cadangan devisa, bisa di cek datanya di https://pusatdata.kontan.co.id/makroekonomi/devisa

    Berhubung datanya belum update sampai Maret / April, tidak bisa dicek secara live benar atau tidak.

    Untuk penerbitan obligasi global bisa dibaca di https://www.cnbcindonesia.com/news/20200407122802-4-150286/total-us-1091-m-global-bond-ri-oversubscribed-lebih-dari-2x

    Terkait berita / sharing di sosial media, terlepas dari benar atau salah, terkadang muatan politiknya sangat kental. Sayangnya terkadang terlalu ekstrem, terlalu mendukung atau terlalu menentang.

    Berita bahwa penerbitan obligasi yang berhasil tersebut bisa dideskripsikan sebagai bahwa pemerintah mendapat dukungan buat yang pro, dan pemerintah selalu menambah hutang yang buat yang kontra.

    Jadi kalau untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif, maka fokuslah sama datanya saja.

    Saya pribadi adalah pendukung program pemerintahan. Meski demikian, dari sudut pandang pengamat, ada baiknya tetap objektif dan independen.

    Semoga bermanfaat


%d bloggers like this: