Home > Matematika Investasi > Memprediksi Return Investasi Saham (IHSG) Dengan Price Earning Ratio

Memprediksi Return Investasi Saham (IHSG) Dengan Price Earning Ratio

Growth of P/E

Dalam berinvestasi ada salah satu kutipan yang sangat terkenal dari Warren Buffet “Be Fearful When Others are Greedy and Be Greedy When Others Are Fearful”.

Berdasarkan kutipan tersebut, investor disarankan untuk berinvestasi ketika pasar sedang “greedy” yang salah satu indikatornya ditandai dengan valuasi yang sudah mahal dan diminta menjauhinya ketika pasar sedang “fearful” yang ditandai dengan valuasi yang murah. Secara tidak langsung, ingin mengatakan juga bahwa ketika valuasi sudah mahal maka potensi keuntungan akan kecil atau negatif, sebaliknya ketika valuasi murah, maka potensi keuntungannya akan besar.

Mahal atau murahnya tidak ditentukan dari besaran “harga” tapi menggunakan valuasi. Ada berbagai indikator valuasi yang dipergunakan seperti Price Earning Ratio (PE Ratio), Price Book Value (PBV), PE to Growth Ratio dan sebagainya. Dari semua indikator tersebut, rasio yang paling sering digunakan adalah Price Earning Ratio atau disingkat PER.

Referensi : valuasi saham bisa dibaca pada artikel Panduan Mencari dan Menghitung Valuasi Saham

Apakah benar bahwa mahal murahnya valuasi saham dengan menggunakan PE Ratio menentukan kinerja dalam jangka panjang? Dan bagaimana menggunakan PE Ratio untuk memprediksi return investasi saham?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya melakukan penelitian. Sumber data, pengolahan dan interprestasinya adalah sebagai berikut

 Sumber Data

2 Sumber data yang penting untuk melakukan penelitian ini adalah data IHSG dan PE Ratio historis. Data IHSG dapat diperoleh dengan mudah di Yahoo Finance. Yang sulit adalah PE Ratio Historisnya.

Dulu di homepage www.infovesta.com tersedia data valuasi saham, namun saat ini sudah tidak tersedia. Di fitur statistik website IDX juga ada, namun terus terang angkanya agak meragukan karena jika dihitung manual angkanya lebih tinggi daripada saat ini. Di CEIC juga menyediakan data PE Ratio IHSG, namun sepertinya itu bersumber dari IDX yang perhitungannya masih agak diragukan.

Sumber yang perhitungan PE Rationya menurut saya lebih tepat adalah di Bloomberg dan Infovesta, namun untuk masyarakat umum, data historisnya tidak bisa dilihat karena merupakan fitur berbayar. Kebetulan di tempat kerja saya saat ini, data tersebut bisa saya akses.

Untuk data PE Ratio Historis walaupun datanya tidak tersedia, Bloomberg melalui Appsnya menyediakan data PE Ratio IHSG saat ini. Kode IHSG adalah JCI:IND.

Tampilan data PE Ratio di aplikasi Bloomberg adalah sebagai berikut :

PE Ratio IHSG Bloomberg

Berdasarkan informasi di atas, diketahui bahwa PE Ratio daripada IHSG adalah 24.494 kali. Angka ini bisa dikatakan cukup tinggi karena secara historis di bawah level 20an.

Data yang saya gunakan untuk penelitian adalah data PE Ratio dan IHSG bulanan dari Desember 2002 – Desember 2017 (15 tahun)

Pengolahan Data

Dengan asumsi bahwa PE Ratio saat ini menentukan hasil investasi di masa depan, maka pengolahan data dilakukan sebagai berikut :

1. Menghitung Return IHSG di masa depan untuk periode investasi 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun dan 10 tahun.

Sebagai contoh, per Desember 2002, maka return masa depan untuk 1 bulan adalah dihitung dari Desember 2002 ke Januari 2003, untuk return 1 tahun dihitung dari Desember 2002 ke Desember 2003, untuk return 5 tahun dari Desember 2002 ke Desember 2007 dan seterusnya sesuai periode investasi yang ditentukan di atas.

Data Return IHSG Masa Mendatang

Perhitungan ini dilakukan dengan menggunakan data hingga Desember 2017. Tentu saja, untuk data tahun 2017, data 1, 3, 5, 7 dan 10 tahun yang akan datang tidak bisa dihitung karena IHSG pada masa akan datangnya belum diketahui.

2. Membandingkan PE Ratio dengan return masa depan

Sebagai contoh, per Desember 2002 diketahui besarnya PE Ratio IHSG adalah 6.57 kali. Data tersebut disandingkan dengan data return yang akan datang dari IHSG. Proses ini diteruskan hingga periode Desember 2017. Hasil pengolahan akan menghasilkan data sebagai berikut

Data PE Ratio dan Return Masa Depan

Dari data tersebut dapat kita lihat ketika PE Ratio 6.57 kali di Desember 2002, investor beli IHSG, maka 1 bulan kemudian hasil yang diperolehnya adalah -8.59%, untuk periode investasi 3 bulan -6.34%, untuk 6 bulan +18.96% dan seterusnya. Dengan kisaran PE Ratio yang tidak berbeda jauh, misakan Maret 2003 dengan PE 6.90 kali, ternyata hasil investasi 1 tahun kemudian adalah 84,84% lebih tinggi dibandingkan ketika PE 6.57 kali.

Dengan mengambil contoh periode yang lain:

Data PE Ratio dan IHSG 2007

Ternyata dengan contoh data per Desember 2007, dengan PE 19.04 kali, investasi di IHSG 1, 3, 6 bulan dan 1 tahun kemudian ternyata mengalami kerugian. Meski demikian, dengan menggunakan data November 2007 dimana nilai PE tidak berbeda jauh, untuk periode 1 bulan dan 3 bulan ternyata masih untung. Menariknya, jika dibandingkan data Oktober dan november 2007, ternyata data 3 bulan menunjukkan hasil yang berlawanan.

Hal ini menunjukkan bahwa PE ratio ternyata bisa memberikan hasil yang berbeda untuk periode yang sama. Dan terkadang terdapat kondisi dimana PE Ratio yang lebih tinggi justru memberikan hasil investasi masa depan yang lebih tinggi jika kita menggunakan data return 7 dan 10 tahun sebagai referensi.

3. Membuat grafik dengan PE Ratio sebagai sumbu X dan return masa depan sebagai sumbu Y berdasarkan periode

Untuk mempermudah, data return yang negatif menggunakan warna merah dan data return positif menggunakan warna biru. Hasilnya adalah sebagai berikut:

PE Ratio Vs Return 1 Bulan Mendatang

PE vs Return 1 Bulan

 

Cara membaca grafik di atas adalah sebagai berikut, misalkan kita fokus pada area antara 5-10 untuk sumbu X (horisontal). Pada area tersebut kita bisa melihat bahwa titik-titik tersebar ada yang di atas berwarna biru (return positif) dan 3 titik berwarna merah di bawah (return negatif). Total data yang ada di area PE 5-10 adalah 11 data.

Dengan demikian, ketika anda cek di Bloomberg, nilai PE Ratio menunjukkan angka sekitar 5-10 kali, anda memutuskan untuk investasi di saham (IHSG) dan mendiamkan selama 1 bulan, maka kemungkinan anda rugi adalah 3/11 = 27% dan kemungkinan anda untung adalah 73%. Jika untung, dengan asumsi kinerja masa lalu bisa berulang, bisa berkisar hingga belasan persen sementara jika rugi paling maksimal kurang dari -10%.

Melihat persebaran yang merata antara untung dan rugi, bisa dikatakan jika anda mau investasi di saham untuk periode 1 bulan, PE Ratio doesn’t matter at all. Sebab dengan PE antara 30-35 kali sekalipun masih memberikan keuntungan untuk periode investasi 1 bulan. Sebaliknya ketika PE Relatif murah di 10-15 kali investor juga bisa tetap rugi dalam 1 bulan yang ditunjukkan dengan adanya titik merah.

Untuk periode investasi yang lebih panjang, hasil nya sebagai berikut :

PE Ratio Vs Return 3 Bulan Mendatang

PE vs 3 bulan

Untuk data 3 bulan, persebarannya juga kurang lebih mirip 1 bulan. Malahan yang menarik, ketika PE Ratio di kisaran 10-15 kali, secara historis potensi kerugian setelah 3 bulan lebih tinggi dibandingkan ketika PE Ratio berkisar antara 15-30 kali. Malahan untuk PE ratio 30-35, investasi 3 bulan kemudian tidak pernah rugi. Dalam istilah statistik, kondisi seperti ini bisa disebut outlier sehingga bisa dikesampingkan. Datanya sendiri juga tidak banyak.

Berturut-turut untuk data 6 bulan hingga 10 tahun adalah sebagai berikut

PE Ratio Vs Return 6 Bulan

PE Ratio vs 6 bulan

PE Ratio Vs Return 1 Tahun

PE Ratio Vs 1 Tahun

PE Ratio Vs Return 3 Tahun

PE Ratio Vs 3 Tahun

PE Ratio Vs Return 5 Tahun

PE Ratio Vs 5 Tahun

PE Ratio Vs Return 7 Tahun

PE Ratio vs 7 Tahun

PE Ratio Vs Return 10 Tahun

PE Ratio vs 10 Tahun

Berdasarkan data di atas, hingga periode 3 tahun masih ada titik merah. Sementara untuk periode 5 tahun ke atas sudah tidak ada titik merah sama sekali. Hal ini menandakan untuk investasi dengan jangka waktu 5 tahun ke atas, potensi untuk mengalami kerugian sangat kecil. Sebenarnya hal ini juga disebabkan karena data yang digunakan adalah bulanan, jika harian, saya yakin untuk data 5 tahun masih ada kemungkinan rugi. Baru 7 tahun yang secara historis rugi tidak ada.

Kemudian jika dilihat untuk grafik 3, 5, 7 dan 10 tahun ada pola yang terbentuk. Dimana hasil investasi dalam jangka waktu tersebut cenderung tinggi jika titik masuknya PE Ratio yang kecil (antara 5 – 15 kali) dan semakin kecil jika PE Rationya di atas 15 kali. Meski mengecil, namun dalam jangka panjang tetap memberikan keuntungan. Sebagai contoh untuk periode investasi 10 tahun, PE antara 15 – 25 kali menghasilan return sekitar 150 – 200% atau setara dengan annualized return 9.6% – 11.6% per tahun.

4. Mencari Persamaan untuk menghitung hasil investasi masa depan berdasarkan PE Ratio

Dengan PE Ratio sebagai sumbu X dan Return sebagai sumbu Y, maka secara matematika bisa dibuat persamaan (equation). Lebih lanjut persamaan ini dapat dipakai untuk membuat peramalan. Misalkan jika diketahui saat ini besarnya PE Ratio adalah sebesar xx, maka return jangka panjang adalah sebesar xx%.

Yang namanya persamaan, tentu ada kemungkinan terjadi error. Hal ini disebabkan karena yang mempengaruhi return di masa mendatang tidak hanya semata-mata PE Ratio juga tapi ada faktor lainnya. Untuk mengetahui seberapa besar return di masa mendatang dipengaruhi oleh PE Ratio, bisa dihitung R Square-nya. Secara matematika R-Square adalah kuadrat dari angka korelasi.

Di Microsoft Excel, persamaan dan perhitungan R-Square dapat dilakukan dengan sangat mudah. Cukup klik kanan pada titik2 data yang tersebar kemudian add trend line dan pilih display Equation dan R Squared. Untuk trend line, yang saya pilih adalah metode Logaritmatik. Jika ada preferensi lain silakan, intinya bisa metode apa saja sepanjang R-Squarenya paling mendekati 1

Add Trendline MS Excel

Selanjutnya pilih Logaritmatic, Display Equation dan R-Square.

Setting TrendLine

Dengan menggunakan data 1, 5 dan 10 tahun sebagai contoh, tampilannya sebagai berikut :

Persamaan PE Ratio 1 Tahun

Persamaan PE 1 Tahun

Dengan menggunakan Persamaan Y = -0.401 Ln (X) + 1.3842, maka jika saat ini PE Ratio IHSG sebesar 20, maka potensi keuntungan untuk investasi 1 tahun yang akan datang adalah

Potensi Return 1 Tahun = – 0.401 Ln (20) + 1.3842 = 0.1829 atau setara 18.29%.
Jika melihat angka R-Square = 0.1952 artinya sebesar 19.52% dari potensi return 1 tahun dipengaruhi oleh PE Ratio saat ini. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya.
Dengan angka yang demikian kecil, maka secara statistik, bisa dikatakan kemungkinan ramalan potensi return 1 tahun berdasarkan PE Ratio tersebut tepat sasaran juga sangat kecil.

Persamaan PE Ratio 5 Tahun

Persamaan PE 5 TahunDengan menggunakan Persamaan Y = -2.326 Ln (X) + 7.8288, maka jika saat ini PE Ratio IHSG sebesar 20, maka potensi keuntungan untuk investasi 5 tahun yang akan datang adalah

Potensi Return 5 Tahun = -2.326 Ln (20) + 7.8288 = 0.8607 atau setara 86.07%.
Jika melihat angka R-Square = 0.4603 artinya sebesar 46.03% dari potensi return 5 tahun dipengaruhi oleh PE Ratio saat ini. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya.
Dengan angka tersebut, maka secara statistik, bisa dikatakan kemungkinan ramalan potensi return 5 tahun berdasarkan PE Ratio tersebut tepat sasaran sekitar fifty-fifty.

Persamaan PE Ratio 10 Tahun

Persamaan PE 10 Tahun

Dengan menggunakan Persamaan Y = – 7.989 Ln (X) + 25.365, maka jika saat ini PE Ratio IHSG sebesar 20, maka potensi keuntungan untuk investasi 10 tahun yang akan datang adalah

Potensi Return 10 Tahun =  – 7.989 Ln (20) + 25.365 = 1.4320 atau setara 143.20%.
Jika melihat angka R-Square = 0.9273 artinya sebesar 92.73% dari potensi return 10 tahun dipengaruhi oleh PE Ratio saat ini. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya.
Dengan angka tersebut, maka secara statistik, bisa dikatakan kemungkinan ramalan potensi return 10 tahun berdasarkan PE Ratio tersebut tepat sasaran cukup besar karena sangat mendekati 100%.

Lebih lengkapnya persamaan untuk setiap periode adalah sebagai berikut :

1 Bulan y = -0.009 ln(x) + 0.0417
R² = 0.0022
3 Bulan y = -0.057 ln(x) + 0.2188
R² = 0.0245
6 Bulan y = -0.168 ln(x) + 0.598
R² = 0.0788
1 Tahun y = -0.401 ln(x) + 1.3842
R² = 0.1952
3 Tahun y = -1.396 ln(x) + 4.6612
R² = 0.4496
5 Tahun y = -2.326 ln(x) + 7.8288
R² = 0.4603
7 Tahun y = -3.01 ln(x) + 10.656
R² = 0.577
10 Tahun y = -7.989 ln(x) + 25.365
R² = 0.9273

Kesimpulan dari penelitian di atas :

  1. Untuk jangka pendek 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan pada dasarnya tidak ada pola yang pasti. Baik ketika PE Ratio murah ataupun mahal, hasil investasi bisa positif ataupun negatif untuk periode tersebut
  2. Untuk jangka panjang mulai dari 1 tahun hingga 10 tahun, pola semakin terbentuk dimana ketika PE murah, hasil investasi lebih tinggi dan lebih banyak positif dibandingkan ketika PE sedang mahal
  3. Persamaan untuk memprediksi return berdasarkan PE ratio tersedia untuk semua periode, nilai R-Square relatif kecil kecuali untuk periode investasi 10 tahun. Untuk itu, penggunaan PE Ratio cocok untuk menentukan return investasi 10 tahun, namun jika mau digunakan untuk periode yang lebih pendek, pengguna wajib mengetahui ada kemungkinan yang bisa membuat prediksinya meleset.
  4. Untuk investasi dengan minimum jangka waktu 1 tahun ke atas, PE Ratio antara 5 – 10 kali adalah waktu yang paling tepat untuk memulai karena memberikan tingkat return yang paling tinggi

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat bagi anda dalam investasi saham dan reksa dana saham.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Belajar Reksa Dana : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber gambar : IstockPhoto

Sumber data : Bloomberg

Categories: Matematika Investasi Tags:
  1. January 25th, 2018 at 08:41 | #1

    Selamat Pagi…
    Pak,
    Saya akan melakukan penelitian event study saya butuh pencerahan Untuk mencari abnormal return pakai rumus apa ya ? datanya apakah bisa menggunakan harga saham harian atau cukup IHSG saja….?
    Terima kasih dan salam

  2. January 26th, 2018 at 01:26 | #2

    Pak, saya bingung mengenai pernyataan bapak pada bagian No.3 di akhir, mengatakan “hal ini karena data yg digunakan bulanan, kalau harian pasti masih banyak yg mengalami kerugian”. Bukankah tidak terpengaruh pak datanya bulanan atau harian, krn imbal hasilnya kan mengikuti periode penelitian? Mohon pencerahannya.

  3. Rudiyanto
    January 26th, 2018 at 12:03 | #3

    @Agung
    Selamat siang pak Agung,

    Bisa ditanyakan dengan dosen pembimbing, mencari di perpustakaan tempat kampus anda berada atau mengecek jurnal finansial melalui Google.

    Semoga bermanfaat

  4. Rudiyanto
    January 26th, 2018 at 12:08 | #4

    @Fajar Dwi Alfian
    Salam pak Fajar,

    Saya tidak menemukan kutipan yang anda maksud dalam artikel di atas. Boleh tolong di copy paste kalimat lengkapnya?

    Terima kasih

  5. Aldi
    January 27th, 2018 at 01:45 | #5

    @Rudiyanto
    Saya coba bantu copy. ‘Sebenarnya hal ini juga disebabkan karena data yang digunakan adalah bulanan, jika harian, saya yakin untuk data 5 tahun masih ada kemungkinan rugi.’ Ada di paragraf setelah plot PE vs return 10 tahun pak.

    Sekalian mau tanya pak, cara hitung return 3 bulan. Data harga mulai dari desember akhir, maka harga akhir maret tahun berikutnya yang jadi harga untuk menghitung return. Nah untuk return 3 bulan berikutnya itu kita mulai darimana? Januari-april, atau maret-juni? Dan dengan cara menghitung return tersebut apakah berlaku juga untuk menghitung statistik yg lain. Misal std deviasi atau beta 3bulan, 1 tahun. Mohon pencerahannya pak.

  6. Rudiyanto
    January 27th, 2018 at 16:54 | #6

    @Aldi
    Selamat siang pak Aldi,

    Perlu dibedakan antara “masih ada kemungkinan rugi” dengan “banyak yang mengalami kerugian”. Banyak dan mungkin itu berbeda.

    Cara pengambilan data bulanan adalah misalkan antara Akhir Desember dengan Akhir Maret, Akhir Januari dengan Akhir April dan seterusnya. Kalau harian berarti 1 Desember sampai 1 Maret, 2 Desember sampai 2 Maret.

    Pengambilan data harian akan membuat data lebih riil namun proses pengolahan data akan luar biasa sulit karena tidak setiap tanggal merupakan hari kerja sehingga perlu ada penyesuaian secara manual.

    Jika waktu luangnya banyak atau memang ada software yang bisa mengolah data tersebut, silakan saja menggunakan data harian.

    Dari set data yang sudah diperoleh bisa diolah dengan metode statistik seperti beta atau standar deviasi.

    Semoga bermanfaat

  7. Aldi
    January 28th, 2018 at 14:22 | #7

    @Fajar Dwi Alfian
    Sudah terjawab diatas oleh pak Rudi. Cara menghitung return bulanan akan berbeda jika data harga harian. Itu bisa dijelaskan di pertanyaan saya diatas kepada pak Rudi. Yang saya tangkep dari pertanyaan pak Fajar, asumsi kita mulai 31 desember 31 maret. Maka untuk menghitung return 3 bulanan berikutnya, di mulai dari 31 maret sd 31 juni dst. Pak Rudi memulai return berikutnya dari 2 januari ke 2 april dst. Maka akan berbeda hasilnya jika data harga bulanan dengan data harga harian. CMIW

    Terimakasih banyak atas penjelasannya pak Rudi, sangant bermanfaat sekali. Ditinggu artikel berikutnya.
    Salam :)

  8. Alvi Yunika
    July 6th, 2018 at 13:29 | #8

    selamat siang pak, saya ingin menanyakan apa yang mempengaruhi pengumuman dividen tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return. terimakasih

  9. Rudiyanto
    July 6th, 2018 at 13:32 | #9

    @Alvi Yunika
    Selamat siang bu Alvi,

    Hal tersebut tergantung pada banyak hal. Referensi buku dan teori yang digunakan, definisi signifikan, definisi abnormal return, saham apa yang diteliti, dan periode waktu penelitiannya.

    Semoga bermanfaat

  10. Raihan
    July 6th, 2018 at 14:24 | #10

    Pak, kalau boleh tau data IHSG (PER, PBV) selama periode 2006 kebawah bisa didapat darimana ya? Kalau yang ada di situs idxnya cuma sampai 2006 soalnya..
    Thanks..

  11. Raihan
    July 6th, 2018 at 14:33 | #11

    Sekalian mau nambahin pak, bahwa sejak 2006 PE IHSG ga pernah di bawah 10 lagi, dengan rata-rata 15,37x kalau saya itung..
    Jadi jika mengacu kepada saran bapak “Untuk investasi dengan minimum jangka waktu 1 tahun ke atas, PE Ratio antara 5 – 10 kali adalah waktu yang paling tepat untuk memulai karena memberikan tingkat return yang paling tinggi” maka udah 10 taun lebih kita tidak pernah menemukan waktu yang paling tepat tersebut ;D

  12. Rudiyanto
    July 6th, 2018 at 18:34 | #12

    @Raihan
    Salam Pak Raihan,

    Untuk data PER dan PBV itu bisa diperoleh di Bloomberg, tapi versi yang berlangganan tentunya.

    Perlu saya informasikan bahwa data di Bloomberg dan IDX untuk PE amat berbeda jauh.

    Kemudian terkait komentar kedua, itu untuk jangka waktu investasi 1 tahun.

    Jadi kalau mau beli saham dan harus pasti untung 1 tahun ke depan, ya belinya ketika PE antara 5-10 kali. Dan memang benar, sudah tidak terjadi selama 10 tahun terakhir.

    Kalau jangka waktunya lebih panjang, ya masih ada sih.

    Semoga bermanfaat

  13. Ahmad Raihan
    July 7th, 2018 at 17:12 | #13

    @Rudiyanto

    Wah, emang pak Ruidyanto ini fast response kali dari dulu, salut salut..
    Untuk PER perbedaan karena ada yang menggunakan annualized ada juga yang menggunakan eps pada kuartal yang bersamaan pada tahun lalu ya pak.. Safenya kita pake per tertinggi aja mungkin ya..

    Okeoke pak, PER 5-10 masih banyak sih di saham second ama third liner, tapi untuk bluechip masih agak susah nyarinya walaupun pasar sedang terkoreksi seperti ini, pertanda bahwa kemarin-kemarin IHSG sudah tidak murah lagi juga memang berarti ya..

  14. Rudiyanto
    July 8th, 2018 at 21:00 | #14

    @Ahmad Raihan
    Selamat malam,

    Sehubungan dengan PE, menurut saya yang penting menggunakan 1 sumber dan digunakan secara konsisten.

    Terkait saham di second dan thirdliner, menurut saya faktor likuiditas sangat penting. Saham yang likuiditasnya rendah sulit untuk merealisasikan potensinya. Sebagai contoh, yang PE Rendah sudah untuk naik, atau PE tinggi susah untuk turun. Yang lebih parah lagi, ketika mau dijual, tidak ada yang mau beli.

    Faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam pemilihan saham.

    Semoga bermanfaat


%d bloggers like this: