Home > Belajar Reksa Dana > Apa Dampak Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana?

Apa Dampak Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana?

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar beberapa waktu belakangan ke level 13.500an menjadi perhatian karena sejak awal tahun selalu bertahan di 13.100 – 13.300.

Apa kira-kira penyebab fluktuasi nilai tukar ini dan seberapa jauh dampaknya terhadap kinerja reksa dana?

Menguat dan melemahnya nilai tukar mengikuti prinsip permintaan dan penawaran. Semakin banyak permintaan terhadap rupiah, maka nilai tukar akan menguat. Sebaliknya, apabila semakin banyak permintaan terhadap dollar AS, maka nilai tukar rupiah akan melemah.

Pemicu dari permintaan penawaran ini amat beragam mulai kebutuhan untuk membayar dividen dan bunga hutang luar negeri, ekspor impor barang dan jasa, transfer devisa, kegiatan investasi dari investor asing ke sektor riil dan instrumen pasar modal seperti saham dan obligasi, kebijakan suku bunga di Indonesia dan Amerika Serikat, keyakinan terhadap kondisi perekonomian hingga intervensi dari bank sentral negara setempat.

Umumnya, penyebab dari fluktuasi nilai tukar merupakan kombinasi dari faktor-faktor di atas, namun terkadang ada pula satu isu tertentu yang perannya lebih dominan.

Untuk fluktuasi nilai tukar di bulan Oktober ini, kebijakan suku bunga kemungkinan menjadi penyebab yang dominan.

Kebijakan Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga memang sangat beralasan mengingat tingkat inflasi yang rendah dan terkendali selama 2017 ini. Namun pada saat yang sama, di bank sentral Amerika Serikat sedang berencana untuk melanjutkan penguatan tingkat suku bunga. Hal ini menjadi pemicu melemahnya nilai tukar rupiah.

Apakah fenomena ini bersifat sementara atau permanen?

Fluktuasi nilai tukar dari waktu ke waktu merupakan kejadian yang biasa dalam perekonomian. Namun mengingat pada tahun 2018 dan 2019 akan diselenggarakan Pilkada Serentak, Pemilu dan Pilpres, perihal nilai tukar akan menjadi isu yang cukup sensitif.

Dengan mempertimbangkan rating Indonesia yang semakin membaik, cadangan devisa yang menembus rekor tertinggi dalam sejarah, tingkat pertumbuhan ekonomi yang bertahan di level 5 persen, tingkat inflasi yang diperkirakan rendah dan terkendali selama 2-3 tahun ke depan karena adanya pembangunan infrastruktur, kemungkinan mata uang melemah secara signifikan seharusnya kecil.

Pada saat diperlukan, intervensi untuk menjaga nilai tukar dapat dilakukan mengingat besarnya cadangan devisa Indonesia.

Dampak terhadap kinerja reksa dana

Jenis reksa dana beragam tergantung pada portofolio instrumen investasinya. Ada jenis reksa dana yang terkena dampak langsung dari aspek pelemahan nilai tukar ini, ada pula yang tidak terlalu berdampak.

Jenis reksa dana yang terkena dampak langsung adalah reksa dana berbasis dollar AS yang berinvestasi pada saham Indonesia. Umumnya jenis ini terdapat pada reksa dana saham dan reksa dana campuran dengan mata uang dollar AS.

Meskipun namanya reksa dana dollar AS, investasinya tidak selalu di luar negeri. Jenis reksa dana yang diperbolehkan 100 persen berinvestasi di luar negeri adalah reksa dana syariah efek global.

Meski demikian, tidak semua reksa dana dollar AS merupakan jenis di atas sehingga mayoritas investasinya masih ditempatkan di dalam negeri.

Untuk dalam negeri, instrumen investasi berbasis USD yang tersedia hanya obligasi saja, sementara yang saham masih dalam mata uang Rupiah. Jadi umumnya portofolio reksa dana saham dan campuran dollar AS tersebut terdiri dari obligasi dengan mata uang dollar AS dan saham dengan mata uang rupiah.

Untuk porsi saham rupiah tersebut, karena Nilai Aktiva Bersih reksa dana menggunakan mata uang dollar AS, maka setiap hari selalu dihitung kembali dengan menggunakan nilai tukar terbaru. Ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah, nilai NAB juga menurun sehingga berpengaruh negatif terhadap kinerja reksa dana.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak berdampak terhadap kinerja reksa dana dollar AS apabila sejak awal investasinya telah dilakukan pada instrumen dengan mata uang dollar AS seperti saham di luar negeri. Sebab jika sudah berbasis dollar AS, maka tidak perlu dihitung ulang lagi dengan kurs nilai tukar.

Jenis reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang yang berinvestasi pada saham, obligasi, dan deposito bermata uang rupiah umumnya tidak terkena dampak langsung atau terkadang tidak berdampak sama sekali.

Untuk reksa dana pasar uang yang berinvestasi pada deposito dan obligasi jangka pendek, dampak dari pelemahan nilai tukar bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Kinerja jenis reksa dana ini lebih dipengaruhi oleh besarnya bunga deposito dank upon obligasi yang dibagikan.

Untuk reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi pada obligasi, kinerja obligasi lebih banyak ditentukan kebijakan suku bunga dalam negeri, inflasi dan valuasi dari obligasi. Fluktuasi nilai tukar terkadang memang berdampak terhadap pergerakan harga obligasi, namun umumnya hanya dalam jangka pendek.

Untuk reksa dana saham yang berinvestasi pada saham, fluktuasi nilai tukar terhadap saham terhadap kinerja saham amat beragam. Ada saham yang perusahaannya berorientasi ekspor sehingga diuntungkan dari pelemahan nilai tukar, ada pula yang karena bahan bakunya berorientasi impor menjadi dirugikan.

Kinerja saham amat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor. Fluktuasi nilai tukar memang menjadi salah satu sebab. Namun, terdapat juga faktor lainnya seperti valuasi dan fundamental perusahaan, kondisi perekonomian secara umum, permintaan dan penawaran pasar hingga aspek psikoliogis investor.

Investasi reksa dana merupakan investasi berbasis jangka panjang. Sebagai instrumen investasi, tentu selalu ada risiko yang menyertai. Sangat penting bagi investor untuk memahami aspek risiko, terutama risiko yang memang berdampak signifikan terhadap kinerja dan risiko yang hanya berdampak sementara saja.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

Artikel ini dimuat di Kompas Online 24 Oktober 2017

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Belajar Reksa Dana : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. adinugroho
    October 26th, 2017 at 04:18 | #1

    Pagi P Rudy,, saya ada pertanyaan tapi diluar dari ulasan diatas.. yaitu tentang kinerja RD Panin Dana Maksima.. yaitu 1. Minta tolong kinerja nya diperbaiki, sangat jauh dari IHSG, pun dengan pesaing2 nya yg sejenis… Berkali-kali IHSG cetak rekor tp PDM malah turun… Terimakasih …

  2. Rudiyanto
    October 31st, 2017 at 15:46 | #2

    @adinugroho
    Selamat sore pak Adi Nugroho,

    Pertama-tama saya berterima kasih atas kritik yang diberikan. Harus diakui pada tahun 2017 ini, kinerja reksa dana di bawah kinerja pasar. Memang terkadang strategi yang digunakan oleh manajer investasi bertentangan dengan pasar (contrarian) sehingga terjadi kondisi dimana IHSG secara umum naik tapi kinerja reksa dana turun

    Secara internal, manajer investasi sepenuhnya sadar akan hal tersebut dan berupaya untuk memperbaiki kinerja secepatnya. Keluhan anda akan saya bantu sampaikan langsung juga ke divisi pengelolaan dana.

    Atas nama perusahaan, saya juga mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan. Semoga upaya perbaikan kinerja yang dilakukan dapat memberikan hasil yang sesuai ekspektasi.

    Terima kasih

 


%d bloggers like this: