Home > Strategi Investasi > Aliran Dana Asing dan IHSG : Januari – Juli 2017

Aliran Dana Asing dan IHSG : Januari – Juli 2017

IHSG dan Aliran Dana Asing

Apabila kita mencermati aliran dana asing di saham selama beberapa bulan terakhir, investor pasti menyadari bahwa tren dana asing sekarang cenderung sedang keluar dari pasar saham Indonesia. Hal ini menjadi anomali karena belum lama ini lembaga pemeringkat hutang Indonesia yaitu Standard & Poors (S&P) menyematkan peringkat BBB- dengan outlook positif yang merupakan kategori Investment Grade (layak investasi).

Logikanya dengan rating investment grade, investor asing seharusnya akan lebih banyak membeli dibandingkan menjual sehingga yang terjadi adalah net buy bukan net sell. Namun kenyataannya net sell asing sudah berjalan selama 2 bulan terakhir. Seberapa banyak net sell telah terjadi dibandingkan posisi awal tahun? Apakah net sell masih akan terus terjadi? Dan bagaimana dampaknya terhadap IHSG?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya membuat grafik aliran dana asing di saham dan IHSG dari Januari hingga 13 Juli 2017. Dari grafik tersebut, terlihat dengan jelas bahwa ada 3 pola aliran dana asing di Indonesia yaitu wait and see, buy dan sell. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut

IHSG dan Aliran dana Asing Jan - Jul 17

Periode “Wait and See”

Terjadi dari awal tahun hingga pertengahan Maret 2017. Dala periode ini, investor asing seperti tidak memiliki “arah” yang pasti mengenai investasi ke depan dan mungkin juga masih dalam penyesuaian strategi investasi paska terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yang di luar dugaan.

Posisi net buy dan net sell dengan jumlah yang tidak terlalu signifikan terjadi silih berganti demikian pula dengan pergerakan IHSGnya. Dari awal Januari hingga 15 Maret 2017, asing tercatat hanya total melakukan net buy di saham sekitar Rp 56 Milliar.

Pergerakan IHSG juga cenderung stagnan antara 5300 – 5400. Per 15 Maret 2017, IHSG ditutup di posisi 5432.

Periode “Buy”

Pembelian dana oleh dana asing dalam jumlah besar terjadi sejak 15 Maret hingga 26 Mei 2017. Akumulasi aliran dana asing di saham tertinggi di tahun 2017 tercatat sebesar Rp 31,9 Triliun. Angka ini cukup besar mengingat masuknya dana asing hingga sekitar Rp 32 Triliun ini terjadi dalam waktu hanya sekitar 2 bulan.

Kejadian net sell ini juga sepertinya di luar dugaan karena pada periode tersebut terjadi hiruk pikuk Pilkada Jakarta yang menyita perhatian nasional dan internasional. Namun hal ini menunjukkan bahwa politik tidak dapat dijadikan sebagai indikator dalam memperkirakan aliran dana asing.

IHSG juga mengalami penguatan akibat aksi net buy oleh investor asing ini. Tercatat IHSG menembus rekor tertinggi dalam sejarah yaitu 5791. Jika dihitung secara persentase dari posisi per 15 Maret yaitu 5432 ke 5791, kenaikannya adalah 6.6%. Memang angka yang bagus, tapi rasanya tidak terlalu tinggi karena tidak sampai double digit.

Periode “Sell”

Periode ini terjadi sejak 26 Mei 2017 hingga sekarang. Pada tanggal 29 Mei 2017 sempat terjadi net sell dalam jumlah yang amat besar yaitu Rp 6.5 Triliun. Sekitar Rp 6 Triliun dari transaksi net sell ini dikontribusikan oleh transaksi crossing DMAS untuk keperluan restrukturisasi internal perusahaan. Jika transaksi tersebut tidak dimasukkan dalam hitungan, berarti net sell pada tanggal 29 Mei adalah sekitar Rp 500 M.

Referensi : Transaksi Crossing DMAS

Akumulasi aliran dana asing di saham yang tercatat net buy sekitar Rp 31.9 Triliun pada 26 Mei 2017 turun menjadi Rp 16.7 T pada 13 Juli 2017. Jika dihitung berarti dalam periode ini, asing telah melakukan net sell sebesar Rp 15.2 T. Jika dikurangi dengan transaksi crossing saham DMAS, berarti terjadi net sell sekitar Rp 9 Triliun dalam kurun waktu 2 bulan.

Yang menjadi anomali dalam periode “Sell” ini adalah ketika asing terus menerus melakukan net sell, IHSG bukannya turun dan bahkan kembali mencetak rekor baru tertinggi dalam sejarah yaitu 5910 pada 3 Juli 2017. Meskipun sekarang sudah menurun, jika dilihat hari ke hari, terkadang ketika terjadi net sell pada saham, IHSG tidak selalu turun namun cenderung stagnan dan bahkan beberapa kali naik.

Perkiraan Aliran Dana Asing Ke Depan

Dari pengalaman mengamati aliran dana asing selama karier saya di pasar modal, biasanya masuk dan keluarnya dana asing cenderung mendahului berita. Ketika berita baik belum keluar, dana asing sudah bersiap membeli dulu. Sama juga ketika berita kurang baik belum keluar, biasanya dana asing juga sudah jual duluan.

Dengan asumsi asing melalui net buy sampai Rp 32 T dan baru net sell sekitar Rp 9 T, perkiraan saya asing masih akan melakukan penjualan setidaknya Rp 5 – Rp 15 Triliun lagi dalam beberapa bulan ke depan sebelum melakukan pembelian kembali.

Terdapat banyak “berita” yang digunakan oleh asing dalam melakukan pembelian / penjualan mulai dari politik dalam negeri, politik luar negeri, perkembangan harga komoditas, kebijakan suku bunga di dalam dan luar negeri, kinerja emiten, hingga isu-isu jangka pendek seperti Brexit, kasus gagal bayar obligasi di luar negeri, dan sebagainya.

Meski demikian, penggunaan berita tersebut selalu tidak konsisten. Artinya berita yang menjadi dasar beli / jual hari ini, ketika terjadi lagi di masa mendatang, tiba-tiba menjadi tidak berdampak sama sekali. Hanya kinerja emiten, yang umumnya memiliki efek yang konsisten dalam jangka panjang karena pada akhirnya harga saham selalu mencerminkan fundamental perusahaan.

Sejak akhir 2016, saya juga melihat ada yang berbeda dari aliran dana asing terhadap IHSG. Jika sebelumnya IHSG selalu terkesan bergerak “searah” dengan aliran dana asing, dalam arti ketika asing net buy IHSG naik dan ketika net sell IHSG turun, kali ini tampaknya tidak lagi demikian.

Pola baru yang terjadi adalah ketika asing net buy, IHSG cenderung naik, namun ketika asing net sell IHSG memang melemah namun ketika mencapai titik tertentu mengalami rebound yang signifikan walaupun asing masih tetap melakukan net sell.

Hal ini terjadi karena peranan investor lokal yang semakin besar pada bursa saham Indonesia. Ketika IHSG sudah mencapai level yang menarik, mereka mulai berani masuk dan membeli di harga yang dianggap murah. Hal ini menjadi penahan penurunan di IHSG.

Kesimpulan

Aliran dana asing diperkirakan masih akan terus mengalami net sell selama 1-2 bulan ke depan. Namun dengan semakin besarnya peranan investor domestik, walaupun IHSG diperkirakan terdampak, penurunan yang terjadi seharusnya tidak terlalu dalam.

Dengan asumsi harga wajar IHSG pada tahun 2017 adalah 6200, ketika IHSG terdiskon 8-10% dari harga wajar, yaitu sekitar 5580 – 5702, mungkin bisa menjadi entry level yang menarik. Level ini bisa terjadi bisa juga tidak. Bisa saja, tiba-tiba net sell asing berhenti dan tiba-tiba terus melakukan net buy karena rating investment grade pemerintah.

Untuk anda yang memiliki orientasi investasi jangka panjang 5-10 tahun ke depan atau melakukan investasi dengan cara berkala, silakan diteruskan tanpa harus terlalu memperhatikan berapa valuasi IHSG yang wajar.

Demikian semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Belajar Reksa Dana : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Categories: Strategi Investasi Tags:
  1. Dwikky
    August 2nd, 2017 at 17:12 | #1

    Yth Pak Rudiyanto,

    Mohon insightnya, kira-kira kisruh down nya ekonomi venezuela, serta memanasnya situasi korea utara dan USA bisa memberikan dampak yang signifikan atau tidak terhadap aliran dana asing dan ihsg pada umumnya? Apakah ada hal yang perlu dilakukan dalam menangkap sinyal-sinyal yang mungkin menjadi pertanda apabila pasar menjadi tidak kondusif pak?

    Terima Kasih

  2. Rudiyanto
    August 7th, 2017 at 19:02 | #2

    @Dwikky
    Salam Pak Dwikky,

    Menurut saya kondisi ekonomi Venezuela, situasi Korea Utara – US dan masih banyak lagi kejadian di luar negeri seperti diskusi Brexit dan sebagainya, saat ini sudah menjadi “new normal”. Artinya, setiap hari kita bisa menjumpai berbagai headline dari luar negeri dan sudah bukan lagi sesuatu yang aneh.

    Dalam pandangan saya, keluar masuknya dana asing umumnya tidak begitu memperhatikan hal tersebut. Sebab Brexit yang menjadi headline tahun lalu, sekarang sudah bukan lagi. Sama juga seperti krisis ekonomi di Yunani, dan juga kejadian2 sebelumnya.

    Pola buy dan kemudian sell sudah terjadi dalam 5 tahun terakhir. Dan semakin lama temponya semakin pendek. Jika pada tahun-tahun sebelumnya bisa net buy satu tahun dan seterusnya tahun depan net sell, sekarang net buy dan sell bisa terjadi dalam tempo beberapa bulan saja.

    Penyebab net sell juga terkadang bukan sesuatu yang “heboh” sedang terjadi di luar negeri atau Indonesia. Simple hanya melakukan profit taking setelah mengalami kenaikan dan sebaliknya net buy terjadi karena belum mengambil posisi sebelumnya.

    Ketika sedang net buy bukan berarti situasi sedang kondusif, sebaliknya ketika net sell juga bukan berarti kondisi sedang tidak baik. Bagi investor, ada beberapa pilihan, pertama mengikuti aliran dana asing tersebut. Walaupun terkadang tidak selalu benar karena ketika asing net sell IHSG justru naik. Atau kedua, fokus pada fundamental. Sepanjang perusahaan membukukan kenaikan laba, pembelian dapat terus dilakukan walaupun juga memperhatikan apakah valuasi saham sudah terlalu mahal atau tidak.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: