Home > Belajar Reksa Dana, Obligasi, Riset Reksa Dana, Saham > Pahami Korelasi Dahulu, Lakukan Aset Alokasi Kemudian

Pahami Korelasi Dahulu, Lakukan Aset Alokasi Kemudian

Korelasi dan Aset Alokasi

Sifat dasar seorang investor adalah cenderung risk averse atau menghindari risiko. Cara orang menghindari risiko ada bermacam-macam, ada yang menetapkan tujuan investasi jangka panjang sehingga tidak peduli dengan fluktuasi jangka pendek; ada yang mempelajari kondisi pasar dengan seksama dan melakukan market timing; ada pula yang membagi investasinya ke dalam beberapa jenis aset supaya ketika harga suatu aset sedang turun, diharapkan ada aset lain yang harganya naik. Masing-masing cara memiliki keuntungan dan kelemahannya tersendiri

Tindakan melakukan diversifikas investasi ke dalam beberapa jenis aset sekaligus dikenal dengan aset alokasi. Modern Portfolio Theory (MPT) juga membahas cara melakukan aset alokasi dengan pendekatan berbasis kuantitatif. Salah satu indikator yang dijadikan sebagai dasar dalam aset alokasi adalah tingkat korelasi antar aset.

Korelasi adalah istilah statistik untuk suatu indikator yang menunjukkan hubungan antara kedua aset. Nilai korelasi bisa “kuat” atau “lemah” yang ditunjukkan oleh angka yang berkisar antara 0 untuk hubungan yang sangat lemah dan 1 untuk hubungan yang sangat kuat. Nilai korelasi juga bisa bertanda “positif” apabila pergerakan kedua aset cenderung searah atau “negatif” apabila pergerakan kedua aset cenderung berlawanan arah. Apabila nilainya sama dengan 0, artinya tidak ada hubungan sama sekali.

Korelasi

 

Dalam melakukan aset alokasi, yang perlu dihindari adalah berinvestasi pada 2 jenis aset yang memiliki korelasi yang kuat. Jika korelasinya “Kuat Positif”, artinya jika naik sama-sama naik dan jika turun sama-sama turun. Efek Risk Averse yang diinginkan jadi tidak begitu dirasakan. Sementara jika punya 2 aset yang korelasi “Kuat Negatif” juga kurang begitu baik. Karena jika diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana, ketika ada 1 aset naik 10%, pada saat yang bersamaan aset satunya lagi turun 10%. Jadinya tidak ada keuntungan yang didapat.

Oleh karena itu, idealnya dalam melakukan aset alokasi, tingkat korelasi antar aset yang dipilih adalah sebaiknya “Lemah”. Bisa “Lemah Positif” artinya jika naik kedua aset sama-sama naik tapi yang satu naiknya lebih kecil, sebaliknya ketika turun, persentase penurunannya lebih sedikit. Bisa juga “Lemah Negatif” artinya ketika ada satu aset yang positif, ada satu lagi yang sedikit negatif, sebaliknya ketika sedang turun, aset yang satu bisa positif.

Secara umum, ada 2 jenis instrumen investasi pasar modal yang dikenal oleh investor yaitu saham dan obligasi. Saham memiliki karakteristik yang pergerakan yang fluktuatif dan obligasi memiliki karakteristik pergerakan yang lebih stabil karena membagikan kupon. Dengan melakukan aset alokasi pada kedua instrumen tersebut, diharapkan target daripada aset alokasi yaitu untuk menghindari risiko dapat tercapai.

Pergerakan saham memang selalu fluktuatif, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya harga obligasi juga tidak selalu stabil. Ada tahun-tahun dimana ketika kondisi suku bunga dan inflasi sedang mengalami perubahan, kinerjanya bisa lebih baik atau lebih buruk dibandingkan saham. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah aset alokasi pada saham dan obligasi sudah tepat?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengukur tingkat korelasi antara kedua aset tersebut. Dengan menggunakan IHSG sebagai indikator untuk saham dan Infovesta Government Bond Index (IGBI) sebagai indikator untuk obligasi, korelasi kedua aset secara historis adalah sebagai berikut : (klik untuk memperbesar)

IHSG dan IGBI 2006 - 2016Sumber: Infovesta, diolah

Penjelasan gambar :

  • IHSG digambarkan dengan grafik berwarna biru
  • IGBI digambarkan dengan grafik berwarna orange
  • Korelasi antar kedua aset dilambangkan dengan kode r
  • Return IGBI dan IHSG setiap tahun ditampilkan dari 2006 – 2016

Berdasarkan tabel di atas, kesimpulan yang bisa saya berikan :

  1. Korelasi antara IGBI dan IHSG berkisar antara 0.20 – 0.38 dari tahun 2006 – 2016 menunjukkan hubungan antara keduanya adalah “Lemah Positif” sehingga memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai 2 instrumen investasi yang dimiliki untuk melakukan aset alokasi
  2. Tingkat korelasi yang positif membuat investor walaupun sudah melakukan diversifikasi, masih memungkinkan untuk rugi di kedua aset seperti yang terjadi tahun 2008 dan 2013
  3. Selama 2006 – 2016,
    1. Hanya tercatat 1 kali IHSG dan IGBI bergerak tidak searah yaitu pada tahun 2015 dimana IHSG turun -12.13% sementara IGBI naik 3.77%
    2. Selain 2015, IGBI juga mengalahkan IHSG di tahun 2008 (saat IHSG sedang rugi) dan 2011 (saat IHSG sedang untung walaupun kecil)
    3. Pada tahun 2013, penurunan IGBI yang sebesar -5.15% lebih dalam dibandingkan penurunan IHSG yang hanya -0.98%

Jika anda seorang investor yang sedang menghindari risiko dengan melakukan aset alokasi pada saham dan obligasi, maka tindakan anda sudah bisa dikatakan tepat. Hanya saja perlu disadari bahwa dengan melakukan hal tersebut sekalipun tidak menghindarkan kita dari risiko tidak rugi sama sekali. Dan sekali-kali kita juga harus bersiap apabila penurunan harga obligasi lebih dalam dibandingkan reksa dana.

Demikian artikel ini. Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istock Photo

Sumber Data : Infovesta

  1. No comments yet.

 


%d bloggers like this: