Home > Perencanaan Investasi, Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Analisa Aliran Dana Asing dan IHSG 2017

Analisa Aliran Dana Asing dan IHSG 2017

Cash (money on white background)

Dalam ilmu perencanaan keuangan atau investasi pada umumnya, periode atau horison investasi pada instrumen saham dan reksa dana saham adalah jangka panjang. Bisa 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun bahkan lebih. Namun apakah pakem ini juga berlaku untuk investor asing? Rasanya tidak. Jika anda rajin mengikuti perkembangan, berita tentang dana asing masuk dan keluar dari bursa saham Indonesia bisa berubah secara bulanan, mingguan, bahkan harian. Bagaimana dengan tahun 2017 ini, Apakah dana asing akan net buy atau net sell dari saham Indonesia?

Definisi Aliran Dana Asing

Dalam bursa saham, investor diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu Lokal dan Asing. Transaksi di sekuritas asing tidak menjadikan investor tersebut dikategorikan sebagai asing karena tetap mengacu ke identitas investor tersebut. Transaksi bisa dibagi dalam kategori Beli dan Jual. Pembelian dan penjualan bisa terjadi antara investor asing dengan investor lokal, investor asing dengan investor asing, dan investor lokal dengan investor lokal. Setiap harinya di Koran Kontan, transaksi investor asing yang beli dan jual dipisahkan sehingga diperoleh net buy dan net sell asing.

Contoh tampilan transaksi net buy dan net sell asing adalah sebagai berikut :

Net Buy dan Sell Asing Kontan 18 Januari 2017Sumber : Kontan, 18 Januari 2017

Dari data di atas, bisa dilihat dari tanggal 11 Januari hingga 17 Januari 2017, asing setiap hari melakukan penjualan saham. Total penjualan selama 5 hari adalah net sell Rp 941.56 milliar. Jika dihitung dari awal tahun sudah net sell sekitar Rp 1.4 Triliun.

Tentu saja, asing tidak melulu jual, ada waktunya juga mereka melakukan net buy. Sebagai contoh, saya kutip dari Kontan 30 Desember 2016.

Net Buy dan Sell Asing Kontan 30 Desember 2016Sumber : Kontan, 30 Desember 2016

Aliran Dana Asing dan IHSG Dalam Jangka Panjang

Dari gambar di atas diketahui bahwa dana asing di saham memang cenderung keluar dan masuk. Bagaimana trennya dari tahun ke tahun ? Jika digambarkan akumulasi net buy sell asing dari tahun 2006 hingga 2017 adalah sebagai berikut :

Net Buy Sell Asing 2006 - 2016Sumber: Infovesta, diolah

Dari tahun 2006 – 2010 Asing selalu net buy setiap tahunnya. Kemudian pada tahun 2011 – 2016, asing tidak selalu net buy setiap tahunnya. Tahun 2011, 2013 dan 2015, asing melakukan net sell

Jika diingat-ingat kembali, 2011 adalah tahun dimulainya krisis utang Eropa yang dimulai dari Yunani. Kemudian krisis utang juga merambat di negara Eropa lainnya yang dikenal dengan PIGS (Portugal, Ireland, Greece, and Spain). Meskipun ekspos perekonomian Eropa terhadap Indonesia terbilang minim, berita tentang krisis hutang tersebut mendominasi pemberitaan di media massa.

Kemudian pada tahun 2013, isu krisis hutang Eropa mulai agak mereda tapi kemudian datang isu dari Amerika Serikat yaitu Fiscal Cliff dan Shut Down. Jika dijelaskan dalam bahasa yang sederhana, antara eksekutif dan legislatif di Amerika Serikat tidak mencapai kesepakatan soal anggaran (fiskal) sehingga roda pemerintahan AS terancam lumpuh (shut down). Istilah Tapering (pengurangan stimulus) juga mulai didengungkan tapi tidak begitu kedengaran.

Pada tahun 2015, net sell disebabkan karena adanya Tapering hingga stimulus dari suku bunga bank sentral benar-benar dihentikan dan berita devaluasi Yuan dari China.

Jika membandingkan kinerja aliran dana asing dengan IHSG selama 2006 – 2016, ada beberapa point menarik.

  1. Net buy asing secara absolut (angka) tidak memiliki efek yang konsisten terhadap kinerja IHSG. Sebagai contoh, net buy 17,6 Triliun pada tahun 2006 mampu mengangkat IHSG menguat 55%. Sementara net buy yang lebih besar pada 2007 yaitu 32 Triliun hanya bisa menaikkan 52%. Malahan pada tahun 2009, dengan net buy hanya  13,9 Triliun mampu meningkatkan IHSG hingga 86%
  2. Ketika net sell asing terjadi, IHSG memang mengalami penurunan. Namun angkanya tidak simetris (sama) dengan ketika asing melakukan net buy. Sebagai contoh net buy 32 Triliun di tahun 2007 membuat IHSG naik 52%, sementara net sell dengan nilai yang hampir serupa di tahun 2015 yang sebesar 38 Triliun “hanya” membuat IHSG turun 12.13%
  3. Pada tahun 2008 dimana IHSG mengalami penurunan hingga 50%, asing malah melakukan net buy.

Berdasarkan statistik di atas, saya berkesimpulan bahwa agar IHSG naik dengan persentase yang lumayan, memang butuh dana asing. Namun ketika dana asing keluar, penurunan IHSG memang terjadi, tapi tidak sebesar ketika naik. Perkiraan saya, hal ini disebabkan investor lokal yang mulai unjuk gigi.

Saat ini sudah terdapat investor institusi besar lokal di Indonesia seperti BPJS, Dana Pensiun dan Asuransi dengan dana kelolaan mulai dari ratusan milliar hingga ratusan triliun. Secara SDM, kualitas para pengelola juga terus membaik sehingga pada saat pasar mengalami penurunan signifikan, mereka bisa masuk dan menstabilkan pasar. Hanya saja untuk “mengangkat” IHSG tetap dibutuhkan partisipasi dari investor asing.

Jika kita mengikuti perkembangan pasar, aliran dana asing bisa berubah dengan cepat dalam hitungan bulan. Sebagai contoh, untuk 2016 adalah sebagai berikut : (klik untuk memperbesar)

Aliran Dana Asing 2016Sumber: Infovesta, diolah

Bagaimana dengan pergerakan IHSG ketika terjadi pola perubahan dana asing di atas? Setelah menyandingkan gamber tersebut dengan IHSG saya menemukan hal yang cukup menarik

Dana Asing dan IHSG 2016

Sumber: Infovesta, diolah

Ternyata ketika dana asing masih cenderung stagnan di awal tahun, IHSG sudah hampir naik sekitar 10% dari level 4500 ke 4900an (1). Dan ketika dana asing mulai gencar masuk dan net buy mencapai 40 Triliun, kenaikannya juga kurang lebih sama yaitu sekitar 10%an dari 4900 ke 5500 (2). Jadi angka net buy secara absolut yang tinggi tidak menjamin persentase kenaikan harga yang tinggi.

Setelah UU Amnesti Pajak disahkan, IHSG sempat bergerak fluktuatif turun dalam dan kemudian naik tinggi (3) meskipun asing dalam tren net sell. Paska terpilihnya Donald Trump, net sell semakin  deras dan pada minggu ke 4 Desember agak net buy sedikit (4). Hanya dengan net buy yang sedikit ini, IHSG berhasil kembali ke level 5300an.

Logikanya jika dana asing kembali ke posisi seperti Juli 2016, seharusnya IHSG bisa turun di bawah 5000, kenyataannya tidak. Hal inilah yang saya sebut dengan partisipasi investor lokal yang semakin besar dan juga berkualitas. Investor lokal tidak hanya lagi mengikuti asing dan tren, akan tetapi dalam tingkatan tertentu bisa menciptakan tren sendiri.

Hal ini merupakan indikasi positif bahwa pasar modal Indonesia semakin “dalam”. Sebab hingga 2013, menurut saya pasar modal Indonesia masih sangat tergantung oleh asing. Sebagai gambaran antara IHSG dan Aliran Dana Asing dalam jangka panjang sebagai berikut :

Aliran Dana Asing dan IHSG Jangka Panjang Sumber: Infovesta, diolah

Bagaimana dengan 2017 ?

Dengan mempertimbangkan faktor negatif seperti kebijakan Donald Trump yang tidak dapat diprediksi, potensi kenaikan suku bunga the Fed yang bisa 2 sampai 3 kali, perlambatan perekonomian China, dan juga faktor positif seperti membaiknya harga komoditas dan kinerja perusahaan, potensi kenaikan rating dari S&P, sepertinya dana asing yang keluar masuk dalam waktu cepat masih akan terjadi di 2017 ini.

Dalam kondisi demikian, bagi investor ada beberapa strategi investasi yang bisa diterapkan :

  • Market timing dengan mempertimbangkan aliran dana asing dan valuasi. Ada kalanya net sell masih terus terjadi ketika valuasi sudah murah, pada saat tersebut bisa digunakan sebagai momentum untuk masuk. Sebaliknya ada kalanya juga net buy masih terus terjadi walaupun valuasi sudah mahal. Pada saat itu, investor bisa menggunakan momentum tersebut untuk merealisasikan keuntungan
  • Asset Allocation ke jenis reksa dana yang lebih konservatif seperti reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Pada tahun 2016 yang lalu, kinerja kedua reksa dana tersebut mengalahkan rata-rata reksa dana saham. Bagi anda yang tidak sempat melakukan timing, Asset Allocation bisa dipertimbangkan
  • Investasi Berkala secara rutin. Dengan berfokus pada tujuan investasi jangka panjang, pembelian secara berkala bisa mengurangi risiko karena memungkinkan investor untuk tetap berinvestasi ketika harga sedang turun.

Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istock Photo

Sumber Data : Infovesta dan Kontan

 

  1. malih lontong
    January 22nd, 2017 at 04:04 | #1

    Tolong analisa tendency gold up, dollar down di 2017 dan pengaruh di paper asset

  2. Erwin
    January 29th, 2017 at 14:38 | #2

    Hi pak Rudi,
    Sebenarnya apa definisi asing di bursa? Apakah benar2 orang dengan id WNA?
    Lalu sering kita dengar istilah aseng (asing palsu) .. apa pendapat pak Rudi tentang hal ini? apakah memang bisa identitas asing bisa diakali?
    Terimakasih

  3. Rudiyanto
    January 31st, 2017 at 12:39 | #3

    @malih lontong
    Salam,

    Saya kurang begitu ahli soal dollar dan emas. Bisa ditanyakan dengan pakar lain yang lebih ahli soal hal tersebut.

    Terima kasih

  4. Rudiyanto
    January 31st, 2017 at 12:42 | #4

    @Erwin
    Salam Pak Erwin,

    Sepengetahuan saya, asing itu adalah perusahaan dan perorangan yang bukan WNI.

    Kalau Aseng itu mungkin WNI yang bertransaksi menggunakan perusahaan yang terdaftar di luar negeri. Untuk proses ini, biasanya ada yang namanya analisa UBO – Ultimate Beneficial Owner, dimana pemilik asli atau penerima manfaat terakhir harus diketahui oleh perusahaan keuangan.

    Setelah diketahui, adalah kebijakan perusahaan untuk mencatatkannya sebagai WNI atau WNA.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: