Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Riset Reksa Dana > Evaluasi Kinerja 2016 dan Prediksi Kinerja Investasi 2017

Evaluasi Kinerja 2016 dan Prediksi Kinerja Investasi 2017

Success business in new year

Secara umum, meski seluruh jenis reksa dana membukukan kinerja yang positif, tahun 2016 juga bisa dikatakan sebagai tahun yang penuh dengan gejolak ekonomi dan politik. Untuk 3 bulan terakhir di tahun 2016, gejolak dari sisi politik memang lebih terasa baik dari Pemilihan Presiden di Amerika Serikat maupun kampanye Pilkada Jakarta yang sudah serasa seperti Pemilihan Presiden. Bagaimana dengan tahun 2017 ? Apakah reksa dana masih akan memberikan kinerja yang positif seperti tahun 2016? Apa saja sentimen positif dan potensi risiko yang akan dihadapi ?

Sebelum membahas lebih jauh, berikut ini adalah hasil evaluasi terhadap kinerja berbagai instrumen investasi pada tahun 2016 

Kinerja Saham, Obligasi dan Reksa Dana

Grafik Kinerja Pasar Modal Tabel Return Saham, Obligasi dan Reksa DanaBerdasarkan data yang diperoleh dari Infovesta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Infovesta Government Bond Index (IGBI) yang menjadi underlying utama investasi reksa dana saham, campuran dan pendapatan tetap masing-masing membukukan tingkat kenaikan 15.32% dan 10.36%. Namun jika dibandingkan dengan indeks reksa dana infovesta, terlihat bahwa secara umum kinerja reksa dana saham, campuran dan pendapatan tetap pada tahun ini secara rata-rata gagal mengalahkan indeks acuannya.

Meskipun ada reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap yang mampu mengalahkan IHSG dan IGBI, namun untuk tahun 2017 ini jumlah yang kalah lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan rata-rata kinerja reksa dana tidak sebaik indeks acuannya.

Jika melihat grafik perbandingan antara IHSG dengan reksa dana saham (Grafik Biru vs Grafik Hitam) dan IGBI dengan reksa dana pendapatan tetap (Grafik Pink vs Grafik Hijau), hingga bulan Agustus 2016 sebenarnya antara kinerja reksa dana dengan indeks acuan tidak begitu berbeda jauh. Namun memasuki bulan September 2016 dimana net sell asing mulai terjadi, kinerja reksa dana mulai tertinggal dengan indeks acuan dan pada saat pasar mengalami kenaikan, kinerja reksa dana tidak mampu mengejar sehingga semakin ketinggalan.

Dana asing yang mulai net sell sejak bulan Agustus – September tersebut, diperkirakan terjadi untuk mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate dan Pilpres di Amerika Serikat. Namun rupanya risiko ini tidak mampu diantisipasi dengan baik oleh para manajer investasi karena pada waktu itu mayoritas survey dan media memperkirakan Pilpres ini akan dimenangkan oleh Hillary Clinton.

Sebenarnya sebagaimana yang pernah saya bahas dalam tulisan Apa Dampak Pilpres AS dan Suku Bunga The Fed Terhadap IHSG, sebenarnya dampak dari suku bunga AS dan Pilpres di Amerika Terhadap IHSG adalah bersifat sementara dan jangka pendek saja. Dalam jangka panjang, IHSG naik atau turun, tetap tergantung pada fundamental IHSG itu sendiri. Saya yakin kebanyakan manajer investasi juga memiliki pendapat yang sama.

Jika demikian, mengapa seolah-olah paska terpilihnya Donald Trump dan suku bunga the Fed naik, para manajer investasi tertinggal ? Menurut saya adalah soal keyakinan terhadap stabilitas politik dalam negeri.

Demo besar pada bulan November dan Desember yang diikuti dengan penetapan status hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta turut menciptakan persepsi yang kurang baik terhadap stabilitas politik di Indonesia. Meski berhasil ditangani oleh Presiden dan jajarannya dengan sangat baik, hal ini sempat membuat para investor dan manajer investasi menjadi agak pesimis.

Ada kemungkinan hal ini membuat investor cenderung lebih defensif dalam posisi wait and see atau bahkan memilih melakukan redemption sampai kondisi lebih jelas dan manajer investasi juga lebih konservatif dalam melakukan pengelolaan sehingga semakin tertinggal dari kinerja IHSG.

Tentu saja, selain kemungkinan di atas, tertinggalnya kinerja reksa dana juga bisa disebabkan karena pemilihan saham dan obligasi yang kurang cermat dari manajer investasi sehingga tertinggal dari kinerja IHSG. Terkadang ada saham-saham yang diyakini manajer investasi akan naik, namun ternyata kenyataan di pasar berkata lain. Hal ini tidak berarti manajer investasi salah memilih saham, tapi bisa juga karena memang terkadang pasar modal itu tidak selalu bergerak dengan rasional. Memang disitulah seni dalam melakukan pengelolaan dana.

Kinerja Unit Link

Kinerja Unit Link 2016 Tabel Kinerja Unit Link 2016

Sama seperti reksa dana, ternyata unit link juga kalah dengan IHSG dan IGBI yang menjadi portofolio investasi. Tingkat return antara ketiga jenis unit link juga tidak berbeda jauh di kisaran 7 – 7.4%. Pada prakteknya, pengelolaan investasi di unit link ada yang dikelola langsung oleh divisi investasi pada asuransi, ada juga yang di outsource ke manajer investasi.

Cara outsource juga ada 2, pertama melalui skema pengelolaan yaitu KPD (Kontrak Pengelolaan Dana) atau dikenal dengan discretionary fund dan yang kedua melalui reksa dana. Jadi porsi investasi pada unit link langsung diinvestasikan pada reksa dana. Ada yang hanya menggunakan 1 reksa dana, ada pula yang menggunakan kombinasi dari beberapa jenis reksa dana yang berbeda.

Sekalipun dikelola langsung oleh divisi investasi pada perusahaan yang bersangkutan, umumnya personel pengelola merupakan orang yang berpengalaman atau bahkan pernah bekerja di manajer investasi. Oleh karena sebab itulah umumnya kinerja unit link dan reksa dana tidak begitu berbeda jauh.

Kinerja Emas ANTAM

Kinerja Emas ANTAM 2016

Sumber : Kontan

Berdasarkan data Emas ANTAM yang ada di website Kontan, harga emas per gram ANTAM (dengan patokan harga 1 Kg) pada akhir 2015 adalah :

  • Harga Jual : 505.000
  • Harga Beli Kembali : 470.000

Pada akhir 2016, harganya naik menjadi :

  • Harga Jual : 548.000 (naik 8.5% dibandingkan harga akhir 2015)
  • Harga Beli Kembali : 501.000 (naik 6.59% dibandingkan harga akhir 2015)

Meski demikian dalam investasi emas, praktek yang berlaku adalah orang membeli pada harga jual Rp 505.000 dan menjual pada harga beli kembali Rp 501.000. Dengan menggunakan angka tersebut maka investasi emas pada tahun 2016 adalah mengalami kerugian -0.79%.

Jika diperhatikan, selisih antara harga jual dan harga beli ANTAM juga cukup menarik. Sampai dengan bulan September, selisihnya masih relatif kecil antara Rp 10 – 20 ribu. Namun pada kuartal terakhir selisihnya tiba-tiba membesar dengan selisih Rp 30 – 50 ribu. Patokan harga ini menggunakan emas dengan berat 1 KG. Jika pecahannya lebih kecil, maka selisihnya bisa lebih besar.

Kinerja Properti Residential (Developer -> Konsumen) Berdasarkan Survei BI

Indeks Properti Residential Indeks Properti Residential Tipe Kecil Indeks Residential Properti Tipe Menengah Indeks Properti Residential Tipe Besar

Sumber : Survei Bank Indonesia

Untuk anda yang kesulitan membaca grafik di atas, berdasarkan prediksi dan survei dari BI, kenaikan harga properti residensial dari level developer untuk 2016 adalah sebagai berikut :

  • Secara keseluruhan 2.75%
  • Tipe Kecil 3.76%
  • Tipe Menengah 3.20%
  • Tipe Besar 1.32%

Ternyata kinerja dari sisi properti juga tidak terlalu baik meskipun tumbuh, persentase pertumbuhannya lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk segmen rumah tipe besar, ada kemungkinan disebabkan kondisi perekonomian yang masih belum pulih, politik yang kurang stabil, dan fokus pada amnesti pajak. Untuk tipe kecil dan menengah, tingkat permintaan masih tetap ada sehingga masih dimungkinkan untuk bertumbuh walaupun juga terjadi perlambatan.

Jika diurutkan, kinerja berbagai instrumen investasi dari tingkat return yang paling tinggi hingga paling rendah untuk tahun 2016 adalah sebagai berikut :

Peringkat Return Investasi 2016

Sumber : BI, Infovesta dan Kontan, diolah

Bagaimana dengan prediksi kinerja investasi 2017 ?

Untuk kinerja reksa dana dan unit link, sangat tergantung pada kinerja obligasi dan saham yang menjadi portofolio investasi ditambah dengan keahlian dalam melakukan pengelolaan dana.

Investasi Obligasi

Untuk investasi obligasi, faktor utama adalah inflasi dan suku bunga. Inflasi pada tahun 2017 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan inflasi pada tahun 2016 karena naiknya harga komoditas, harga pangan, dan kenaikan tarif listrik 900 Watt. Untuk itu, secara umum target inflasi yang ditetapkan pemerintah naik dari 3% plus minus 1 di tahun 2016 menjadi 4% plus minus 1 di tahun 2017.

Ditambah dengan antisipasi kenaikan suku bunga the Fed pada tahun 2017, maka diperkirakan ruang untuk menurunkan suku bunga BI sangat terbatas. Meski demikian, tingkat BI Rate sekarang masih terbilang kompetitif sehingga sekalipun inflasi meningkat dan suku bunga the Fed naik, suku bunga BI masih bisa tetap dipertahankan. Kalaupun ada kenaikan, kemungkinan hanya akan 1 kali saja sehingga perkiraan suku bunga BI pada tahun 2017 adalah 4.75% – 5%.

Kondisi ini menyerupai situasi pada tahun 2011 dan 2012, dimana pada tahun 2011 inflasi mengalami penurunan sehingga BI Rate turun. Pada tahun 2012, inflasi mengalami kenaikan namun masih terkendali sehingga BI Rate tetap. Kondisi ini berdampak positif terhadap kinerja obligasi pemerintah meskipun kinerjanya lebih baik pada saat BI rate turun (2011) dibandingkan pada saat BI Rate tetap (2012).

Untuk itu, proyeksi return untuk Indeks Obligasi Pemerintah (IGBI) pada tahun 2017 seharusnya akan berkisar antara 7 – 9%.

Inflasi, BI Rate dan Kinerja IGBI 2011 – 2016

Inflasi, BI Rate dan IGBI

Investasi Saham

Kinerja investasi saham relatif lebih sulit untuk diprediksi karena selain faktor fundamental juga dipengaruhi faktor sentimen baik yang berasal dari dalam ataupun luar negeri. Secara fundamental, yang menjadi perhatian adalah apakah perusahaan dapat membukukan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2016. Sebagai gambaran, untuk kinerja Kuartal III 2016 adalah sebagai berikut :

Rekapitulasi Laporan Keuangan Kuartal III 2016

Secara umum laba bersih dari 472 perusahaan yang naik 35% pada kuartal III 2016 adalah berita yang bagus. Namun disisi lain, penggerak IHSG yang 80 – 90% didominasi oleh saham LQ-45 hanya naik 6.93%. Sektor keuangan yang menyumbangkan porsi terbesar dari laba LQ-45 hanya naik 3.44%. Hal ini menyebabkan kenaikan IHSG tahun ini seolah “kurang angin”, sebab memang sektor keuangan tidak hanya mendominasi laba bersih tapi juga kapitalisasi di bursa saham.

Mengapa laba perbankan kurang baik? Penyebab adalah perekonomian yang lesu dan meningkatnya potensi kredit macet (NPL). Dari beberapa riset yang saya baca, perekonomian akan memasuki pemulihan pada tahun 2017 seiring dengan membaiknya harga komoditas, demikian pula dengan tingkat kredit macet di perbankan akan membaik, meskipun di satu sisi ekspor ke China akan terkendala perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Untuk itu, secara fundamental laba bersih perusahaan tetap dapat meningkat di tahun 2017 namun penggeraknya kali ini akan lebih banyak ditopang dari sektor keuangan. Kenaikan laba bersih di sektor keuangan diharapkan dapat meningkatkan laba bersih IHSG dan LQ-45 secara keseluruhan sehingga secara fundamental kinerja IHSG diharapkan dapat lebih baik.

Jika skenario ini yang terjadi, kenaikan IHSG tahun depan akan “sehat” karena lebih banyak ditopang oleh faktor fundamental dibandingkan faktor sentimen. Adapun faktor risiko yang harus diwaspadai adalah kenaikan Fed Fund Rate, perkembangan kasus hukum Gubernur DKI dan Pilkada yang dapat mempengaruhi pandangan investor terhadap stabilitas politik Indonesia dan potensi kenaikan BI Rate (bila ada).

Selain sentimen yang bersifat negatif, terdapat pula sentimen yang bersifat positif seperti potensi revisi peringkat surat hutang Indonesia dari S&P (bila ada). Rencana revisi KUP Perpajakan dimana salah satu agendanya adalah untuk menurunkan tarif pajak korporasi sepertinya belum akan terwujud di tahun ini karena pertambahan basis pajak belum seperti yang diharapkan pemerintah.

Dengan hanya mempertimbangkan faktor fundamental yaitu dari laporan keuangan perusahaan, diperkirakan IHSG pada tahun 2017 berpotensi mengalami kenaikan 15-18% atau dengan penutupan akhir tahun 2016 di 5296, maka diperkirakan harga IHSG yang wajar secara fundamental adalah 6090 – 6250.

Prediksi untuk kinerja reksa dana untuk tahun 2017 adalah

  • 5 – 6% untuk reksa dana pasar uang
  • 7 – 9% untuk reksa dana pendapatan tetap
  • 10 – 12% untuk reksa dana campuran
  • 13 – 17% untuk reksa dana saham

Prediksi return untuk unit link seharusnya juga sama dengan reksa dana di atas karena sama-sama berinvestasi di pasar modal.

Investasi Emas dan Properti

Terus terang saya tidak begitu ahli soal investasi emas dan properti. Emas merupakan instrumen pilihan ketika kondisi sedang diliputi ketidakpastian. Pada tahun 2016, situasi ketidakpastian terjadi karena adanya Pilpres AS dengan selisih yang snagat tipis antara kedua kandidat. Namun begitu Presidennya sudah terpilih, ketidakpastian pilpres AS hilang dan emas kehilangan daya tariknya. Untuk tahun 2017, sepertinya belum ada berita yang menimbulkan ketidakpastian secara global yang cukup berarti. Kalaupun ada, mungkin proses Brexit yang secara resmi dimulai Maret 2017 nanti sedikit banyak akan menjadi perhatian. Untuk itu, saya tidak memiliki prediksi untuk return emas.

Untuk kinerja properti, menurut saya tingkat permintaan akan membaik pada tahun 2017 meskipun fokusnya mungkin lebih kepada perumahan tipe menengah dan kecil. Yang menjadi masalah, persentase tingkat kenaikan harga yang dikeluarkan oleh BI bisa sangat berbeda dengan yang ada di pasaran. Di pasaran, kenaikan harga properti bisa lebih tinggi namun developer banyak memberikan cashback dan hadiah di belakang yang menyebabkan harga suatu properti secara riil sulit untuk diketahui.

Properti di pasar sekunder juga demikian, meski harga naik, terkadang tidak ada yang beli. Dan biasanya harga transaksi tidak diinformasikan ke publik sehingga harga penawaran dengan harga sebenarnya sulit untuk diketahui. Untuk itu, sama seperti emas, saya juga tidak memiliki prediksi untuk return dari properti.

Demikian, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istock Photo

Sumber Data : Panin Asset Management, Kontan, BI, dan Infovesta

  1. Ahmad Raihan
    January 3rd, 2017 at 13:41 | #1

    Artikel yg mantap sekali pakk, jarang2 saya jumpai ada orang indonesia yg ngomong berdasarkan data seperti bapak.. Sukses terus buat pak Rudi.. Peter Lynchnya Indonesia bapak di mata saya dah hehe..

  2. Dwikky
    January 5th, 2017 at 08:58 | #2

    Selamat pagi pak Rudiyanto,

    Senang sekali saya menemukan blog anda serta sedikit terkejut sekaligus senang melihat anda sangat aktif membalas dan berdiskusi di sesi komentar dengan para pembaca anda.

    Saya mulai tertarik untuk memulai reksa dana sebagai investasi jangka panjang saya, namun ada yang ingin saya tanyakan sebelum saya memulai. Terkait pelantikan donald trump pada akhir bulan ini, dan menurut anda efek pelantikan donald trump hanya bersifat sementara dan jangka pendek, menurut bapak, apakah lebih baik saya memulai subscribe RD sebelum pelantikan atau menunggu after effect dari pelantikan dan pelaksanaan kebijakan trump itu sendiri?

    Lalu terkait january effect terhadap harga saham, apakah benar pak?

  3. Rudiyanto
    January 6th, 2017 at 17:38 | #3

    @Ahmad Raihan
    Terima kasih

  4. Rudiyanto
    January 6th, 2017 at 18:10 | #4

    @Dwikky
    Salam Ibu Dwikky,

    Efek dari Donald Trump mulai dari pencalonan hingga pelantikan menurut saya hanya bersifat sementara saja. Detailnya pernah saya bahas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/11/02/apa-dampak-pilpres-as-dan-kenaikan-suku-bunga-the-fed-terhadap-ihsg/

    Hanya saja sekarang memang banyak riset baik lokal atau asing yang baru bisa mengambil posisi setelah melihat pidato dia nanti. Tapi menurut saya, mau bagus atau jelek, tetap saja pada akhirnya saham Indonesia akan naik kalau fundamentalnya bagus dan turun kalau fundamentalnya jelek.

    Jika memang minatnya adalah investasi saham, maka sebetulnya yang lebih penting bahwa ini untuk investasi jangka panjang. Untuk itu, kapan saja memulainya tidak masalah.

    Perihal January Effect, sebetulnya hanya Window Dressing pada bulan Desember yang terbukti secara statistik. Bulan lainnya tidak, bisa cek di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/files/2016/11/Statistik-Return-Bulanan-IHSG.jpg

    Semoga bermanfaat

  5. Yosef
    January 17th, 2017 at 10:37 | #5

    Selamat Pagi Pak, kalau fed fund rate naik dan menyebabkan bi rate naik juga apakah akan menyebabkan tekanan pada nilai nab reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap ya?

  6. Rudiyanto
    January 17th, 2017 at 14:16 | #6

    @Yosef
    Salam Pak Yosef,

    Untuk reksa dana pasar uang, menurut saya dampaknya bisa sangat kecil atau hampir tidak ada karena manajer investasi menggunakan kombinasi antara deposito dan obligasi berjangka pendek.

    Untuk reksa dana pendapatan tetap, kenaikan the fed bisa menyebabkan BI Rate tetap atau worst case naik 1 kali tahun ini. Jika kenaikan suku bunga BI 1x itu yang terjadi, kemungkinan memang bisa menyebaban penurunan.

    Di sisi lain, jika suku bunga BI tetap walaupun ada kenaikan suku bunga the fed, hal ini juga dimungkinkan mengingat selisih antara BI Rate dan The Fed masih cukup jauh.

    Skenario yang saya lihat, adalah suku bunga BI tetap sepanjang tahun 2017. Sama seperti tahun 2011-2012, dimana setelah BI Rate turun pada 2011, selanjutnya stabil pada 2012. Pada kondisi seperti ini, reksa dana pendapatan tetap sepanjang tahun tetap membukukan keuntungan yang positif meskipun tidak setinggi tahun sebelumnya.

    Selain risiko dari kenaikan suku bunga the fed, sebenarnya terdapat juga peluang kenaikan harga obligasi apabila S&P bisa merealisasikan kenaikan rating Indonesia pada tahun 2017 ini. Untuk kenaikan rating, memang ada yang berpandangan pesimis karena sudah di PHPin sejak tahun lalu. Tapi apabila skenario kenaikan rating terjadi, maka efek positif dari hal ini akan lebih besar daripada efek negatif dari kenaikan suku bunga the fed.

    Untuk itu, dengan asumsi tidak ada kenaikan rating dari S&P, perkiraan return reksa dana pendapatan tetap adalah sekitar 7 – 9%, jika ada, bisa di atas angka tersebut. Untuk meminimalkan risiko, investor juga bisa memilih untuk berinvestasi pada reksa dana pendapatan tetap ketika Yield 10 tahun obligasi pemerintah ada di atas 7.5%. Jika sudah di bawah angka tersebut (dan tidak ada kenaikan rating), harga obligasi bisa dibilang agak overvalued.

    Semoga bermanfaat

  7. January 17th, 2017 at 14:45 | #7

    saya sependapat dengan artikel Pak Rudy ini. nampak pentingnya data menjadi landasan fundamental pergerakan ekonomi tidak saja nasional tapi juga ekonomi global. cuitan twitter atau perbincangan social media yang terpantau dalam monitoring data menjadi bahan bagi tim konsultan strategi dalam memberikan rekomendasi strategis klien. pembahasannya lebih detil ada di http://www.konsultanstrategi.com/2016/12/08/social-media-analysis-untuk-branding-087886000787/ .

  8. iskandar
    January 20th, 2017 at 07:57 | #8

    saya nyimak apa yang diuraikan Pak Rudy, terimakasih Pak.. uraiannya mantaps sekali terutama dalam hal “secara umum laba bersih dari 472 perusahaan yang naik 35% pada kuartal III 2016 adalah berita yang bagus. Namun disisi lain, penggerak IHSG yang 80 – 90% didominasi oleh saham LQ-45 hanya naik 6.93%” saya jadi optimis utk tetap menginvestasikan dana saya di perusahaan- perusahaan go publik Indonesia…krn ternyata masih bisa tumbuh antara 6,93 s.d 35% yach Pak perusahaan perusahaan tsb…

  9. Rudiyanto
    January 21st, 2017 at 19:42 | #9

    @iskandar
    Selamat malam pak Iskandar,

    Terima kasih atas tanggapannya. Semoga pertumbuhan ini dapat terus dipertahankan karena secara siklus bisnis, yang terburuk seperti tahun 2015 sudah berhasil dilewati.

  10. riswan
    March 2nd, 2017 at 21:51 | #10

    Malam pak rudy,sebelumnya ingin saya sampaikan bahwa saya masih awam soal reksadana bahkan cenderung blm mengerti tapi setelah membaca artikel2 bapak, trnyata sangat membantu dan membuat saya sedikit mengerti soal reksadana.
    Saya punya sedikit pertanyaan pak, berhubung saya blm berinvestasi dan ingin mulai berinvestasi di usia saya yg 29 thn agar mendptkn return yg lbh baik dibandingkan bunga deposito dan bersaing dgn tingkat inflasi.
    Melihat statistik 2016 yg pak rudy post di atas, saya melihat bahwa return utk reksa dana saham itu 7.70%. Sementara artikel2 yg telah saya baca, return utk reksa dana saham biasanya di kisaran 20%.
    Apakah ini bisa diartikan bahwa kinerja manajer investasi 2016 kurang baik ? (Tidak dapat dikatakan gagal)
    Maaf jika pertanyaan saya tidak tepat atau ada yang salah, tolong kiranya pak rudy jelaskan dan koreksi
    Trima kasih

  11. riswan
    March 2nd, 2017 at 22:00 | #11

    Selamat malam pak rudy, artikelnya baik sekali bagi org awam seperti saya ini, jadi bisa sedikit lebih paham ttg reksadana. Berdasarkan data yg pak rudy post di atas bahwa return reksa dana saham 2016 sebesar 7.70% dimana menurut artikel yang saya baca return utk reksa dana saham ada dikisaran 20%.
    Apakah ini dapat dikatakan bahwa kinerja manajer investasi kurang baik/tdk memuaskan ?
    Di usia saya yang 29 thn ini saya ingin mulai berinvestasi dengan mempertimbangkan investasi yang return nya bisa lbh baik dari deposito dan bisa bersaing dengan tingkat inflasi.
    Mohon maaf jika pertanyaan atau pernyataan saya ada yg salah. Tolong kiranya pak rudy berkenan untuk koreksi. Trima kasih

  12. Rudiyanto
    March 3rd, 2017 at 14:21 | #12

    @riswan
    Salam Pak Riswan,

    Untuk asumsi return yang wajar di reksa dana saham adalah 17 – 20%. Untuk yang ini memang ada penelitian historisnya pada tahun 2014 yang lalu. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/

    Meski secara historis bisa tercapai, tapi ada juga periode dimana tingkat return tersebut gagal. Pada penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa selain tidak mencapai 17-20%, pernah juga mengalami kerugian.

    Kalau dalam konteksi apakah kinerja Manajer Investasi kurang baik / tidak memuaskan, sebenarnya kurang tepat jika melihat angka return 7.70% dibandingkan 17-20%. Sebab hasil investasi reksa dana tergantung pada kinerja pasar.

    Namun jika anda melihat IHSG naik 15% sementara reksa dana saham hanya 7.70%, maka adalah benar bahwa pada tahun 2016 kinerja manajer investasi kurang baik dan tidak memuaskan. Mau dibilang gagal juga boleh karena mereka memang ditargetkan untuk mengalahkan IHSG.

    Investasi reksa dana, secara teoritis dalam jangka panjang akan di atas inflasi dan deposito. Untuk pemilihannya bisa berdasarkan periode tujuan keuangan. Untuk detalinya bisa baca https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/17/memilih-reksa-dana-sesuai-tujuan-investasi/

    Namun demikian, tetap ada risiko yang bisa terjadi dimana hasil investasi bisa saja lebih rendah, lebih tinggi dari target yang diharapkan.

    Semoga bermanfaat.

  13. riswan
    March 25th, 2017 at 15:04 | #13

    ooo begitu yah pak, oke pak trima kasih atas informasi dan masukannya, sangat berguna…

 


%d bloggers like this: