Home > Amnesti Pajak, Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Strategi Investasi > (Potensi) Rating Upgrade, Apakah Positif untuk Investasi Reksa Dana?

(Potensi) Rating Upgrade, Apakah Positif untuk Investasi Reksa Dana?

Potensi Rating Upgrade IndonesiaSumber : Kontan Harian

Beberapa waktu yang lalu, Ibu Sri Mulyani Indrawati melobi perusahaan pemeringkat S&P untuk mengevaluasi kembali rating Indonesia. Sebagaimana diketahui, hanya S&P saja yang belum memberikan rating Investment Grade kepada Indonesia.

Berdasarkan data historis, biasanya pemeringkatan dilakukan setiap tahun pada sekitar bulan April – Juni. Namun dalam kondisi khusus, bisa saja perusahaan pemeringkat melalukan perubahan yang diperlukan. Sebagai contoh, pada tahun 2001 dan 2003 terdapat 2 kali perubahan rating. Sebelum tahun 2000 pada saat krisis menimpa negara-negara asia, bahkan perubahannya lebih sering.

Historis Rating Indonesia Oleh S&P

Penjelasan Bintang Pada RatingSumber : Bank Indonesia

Berita tentang peringkat ini sempat mendapat porsi sebagai headline ada pemberitaan Kontan beberapa waktu yang lalu sebagaimana saya kutip di atas dan sangat disambut positif oleh pasar modal. Bagi orang awam, pertanyaannya adalah seandainya revisi rating ini terjadi, bagaimana dampaknya terhadap kinerja reksa dana?

Rating sebagai acuan bagi investor institusi

Sebelum di Panin Asset Management, saya bekerja di perusahaan penyedia informasi dan riset investasi yaitu di PT. Infovesta Utama. Di Infovesta, saya berpengalaman dalam membantu investor institusi seperti yayasan, dana pensiun dan asuransi dalam menyusun rencana investasi.

Kesamaan dari investor institusi tersebut adalah hampir semuanya mengutamakan kehati-hatian dan ketaatan terhadap peraturan dalam menjalankan investasinya. Salah satu indikator yang dijadikan perhatian dalam berinvestasi di obligasi adalah ratingnya.

Secara umum, rating obligasi yang dikeluarkan oleh berbagai perusahaan pemeringkat bisa dibagi menjadi Investment Grade (peringkat layak investasi) dan Non Investment Grade (peringkat kurang layak investasi). Investor institusi tersebut umumnya hanya memilih berinvestasi pada perusahaan yang mendapat predikat Investment Grade.

AAA
AAA-
AA+
AA
AA-
A+
A
A-
BBB+
BBB
BBB-
Investment Grade
BB+
BB
BB-
B+
B
B-
CCC+
CCC
CCC-
SD (Selective Default)
Non Investment Grade

Apakah terus perusahaan yang tidak mendapatkan peringkat non investment grade tidak ada investornya sama sekali? Tidak juga, ada tipe investor yang lebih spekulatif. Kalau non investment grade, tapi sepanjang yakin perusahaannya bagus dan imbal hasilnya tinggi, investasi tersebut tetap akan diminati.

Jika dibayangkan Indonesia adalah salah satu tujuan investasi, maka investor asing di seluruh dunia pada dasarnya juga memiliki cara kerja yang sama. Waktu non investment grade, dana asing yang masuk sifatnya spekulatif sehingga rentan berbalik. Sementara ketika sudah investment grade, investor yang tadinya mau berinvestasi tapi tidak bisa sekarang menjadi bisa berinvestasi.

Bukan tidak mungkin pula, ketika sudah investment grade, investor asing yang masuk tidak lagi hanya spekulatif akan tetapi ada juga yang lebih berorientasi jangka panjang. Dengan kata lain, walaupun hanya 1 tingkat, rating investment grade bisa menjadi game changer karena membuka pintu bagi investor asing lainnya yang selama ini tertutup.

Potensi masuknya dana asing berpeluang membuat harga obligasi dan saham meningkat sehingga secara tidak langsung juga memberikan dampak positif bagi investasi reksa dana.

Studi Data Historis

Apakah secara historis, sudah terbukti bahwa kenaikan rating akan membuat kenaikan pada harga obligasi dan reksa dana? Untuk mencari tahu hal tersebut, saya melakukan studi data historis kinerja saham dan obligasi setiap kali ada kenaikan rating.

Untuk saham menggunakan indikator IHSG sejak tahun 1997, sementara untuk obligasi, menggunakan Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap Infovesta karena ketersediaan data sejak tahun 2000. Cara penelitiannya juga cukup sederhana. Misalkan pada 2 Oktober 2000, rating Indonesia di upgrade dari CCC+ menjadi B-, maka diasumsikan pada tanggal tersebut investor membeli saham (IHSG) dan obligasi (Indeks RD Pendapatan Tetap) pada tanggal tersebut. Selanjutnya dilihat apakah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun setelah itu investor untung atau tidak.

Cara tersebut diulang dengan mengamati data perubahan rating, IHSG dan Indeks RD Pendapatan Tetap. Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut (klik untuk memperbesar) :

Efek Rating Upgrade Pada Saham

Efek Rating Upgrade Pada Saham

 

Berdasarkan data, ternyata dengan berinvestasi di saham ketika ada pengumuman rating upgrade dan menyimpannya selama 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun berikutnya tidak menjamin investor pasti untung. Probabilitas keuntungannya sekitar 67 – 89%, artinya minimal 7 – 9 dari 10 kali percobaan kemungkinan anda bisa untung. Hanya saja pernah juga investor mengalami kerugian.

Yang paling kecil kemungkinan ruginya adalah jika investor berinvestasi selama 1 tahun. Kerugian hanya pernah terjadi ketika rating upgrade pada 2 Oktober 2000. Sisanya menghasilkan keuntungan. Untuk rata-rata return, periode investasi 1 tahun adalah yang paling besar dengan rata-rata 34%.

Bagaimana dengan obligasi? Biasanya efek kenaikan rating pertama kali dirasakan oleh investor obligasi. Hasil penelitian dengan menggunakan Indeks RD Pendapatan Infovesta adalah sebagai berikut :

Efek Rating Upgrade Pada Obligasi

Efek Rating Upgrade Pada Obligasi

 

Untuk obligasi walaupun selalu naik, rata-rata kenaikannya tidak sebesar saham. Dan ternyata rating upgrade pada tahun 2004 tidak membuat return reksa dana pendapatan tetap positif untuk periode 1 tahun. Hal ini menyebabkan probabilitas keuntungan sebesar 100% untuk periode 1, 3 dan 6 bulan serta 86% untuk periode 1 tahun.

Rata-rata tingkat keuntungan untuk periode 1 tahun setelah rating upgrade adalah 9.55%. Tingkat return ini cukup wajar mengingat tingkat return obligasi memang di kisaran segitu. Untuk periode 1 bulan hingga 6 bulan, rata-rata return berkisar antara 1.18% hingga 5.72%. Tingkat return yang tidak fluktuatif ini menunjukkan risiko di reksa dana berbasis obligasi yang relatif lebih kecil.

Secara historis, data menunjukkan bahwa kenaikan rating memang berdampak positif pada saham dan obligasi. Hanya saja, secara statistik probabilitas keuntungan tidak sampai 100%. Kinerja investasi tetap dipengaruhi faktor seperti valuasi saham, tren harga obligasi dan kondisi lainnya.

Apakah rating Indonesia “benar-benar” bisa naik ?

Pertanyaan ini sebenarnya muncul dari pesimisme terhadap kinerja pemerintah. Sebab jika diingat-ingat, sebetulnya lobi terhadap S&P telah dilakukan pada awal tahun ini. Namun nyatanya rating Indonesia tetap tidak dinaikkan. Apakah kali ini dengan adanya lobi dari Ibu Sri Mulyani, bisa berhasil?

Sebenarnya yang lebih penting bukanlah siapa yang melobi tapi atas dasar apa lobinya dilakukan. Pada pemeringkatan terakhir, salah satu alasan utama yang menyebabkan Indonesia gagal dinaikkan peringkat adalah pendapat bahwa APBN Indonesia kurang “realistis”.

APBN pada dasarnya terdiri dari 2 bagian utama yaitu Pendapatan dan Pengeluaran. Pendapatan sendiri dibagi lagi menjadi 2 yaitu Pendapatan dari Pajak dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) seperti ekspor migas. Saat ini pendapatan pajak memberikan kontribusi lebih dari 80% terhadap total pendapatan negara.

Yang dimaksud dengan APBN kurang realistis pada waktu itu adalah dalam kacamata perusahaan pemeringkat, target pajak yang ditetapkan oleh pemerintah pada waktu itu terlalu tinggi (2015). Bisa dilihat dari pendapatan negara dari tahun 2014 ke 2015 yang naik lebih dari Rp 200 Triliun. Tahun 2015 merupakan tahun yang cukup berat bagi perekonomian karena tapering di USA, perlambatan ekonomi dunia dan harga minyak yang sangat rendah.

Kondisi perekonomian yang sulit ditambah dengan target pajak yang terlalu tinggi inilah yang dilihat perusahaan pemeringkat “tidak realistis”. Sebab target pajak dianggap akan sulit tercapai. Memang harus dipahami juga argumentasi pemerintah, dimana banyak orang masih belum patuh membayar pajak. Hanya saja, waktu itu belum ada amnesti pajak.

Dalam pendapat saya secara pribadi, hal-hal yang kurang realistis pada waktu itu telah berhasil dikoreksi pemerintah. Pertama, jika kita perhatikan angkanya target pajak di 2017 lebih rendah daripada tahun 2016. Hal ini menunjukkan pemerintah sadar bahwa ketika kondisi ekonomi sedang sulit, menggenjot pajak sifatnya kontraproduktif. Menetapkan target pajak yang wajar dan tidak terlalu memberatkan perekonomian akan membuat investasi swasta bisa berkembang.

APBN-P 2017 Indonesia

Kedua, keberhasilan amnesti pajak secara efektif menambah basis pajak. Dengan bertambahnya basis pajak, target pendapatan pemerintah bisa diperoleh dari wajib pajak yang selama ini sudah punya NPWP tapi tidak taat membayar pajak atau bahkan tidak punya NPWP sama sekali.

Untuk itu, pada penilaian S&P yang berikutnya, saya yakin Indonesia akan bisa mendapatkan status Investment Grade yang selama ini sangat dinantikan. Pada saat itu terjadi, bisa memberikan sentimen positif bagi saham dan obligasi sehingga meningkatkan kinerja reksa dana. Kapan? Perkiraan optimis adalah di bulan November atau Desember, sementara perkiraan normal adalah sekitar bulan April atau Mei. Mari kita lihat seperti apa perkembangannya.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Kontan

Sumber Data : Bank Indonesia dan Infovesta.

  1. Erwin
    October 29th, 2016 at 22:14 | #1

    Slmt malam pak Rudiyanto,
    Artikel nya sangat menarik. Namun saya jadi teringat pernah menonton film dokumenter Inside Job, yang menjelaskan mengenai kronologi krisis 2008 subprime mortgage terutama di US dengan bangkrutnya Lehmanns Brother yang terkenal.. salah satu part yang saya ingat berkaitan dengan lembaga pemeringkat adalah bahwa mereka tidak 100% bisa dipercaya. Di 2008 menurut film tersebut, lembaga pemeringkat seperti S&P dan Moody’s meberikan peringkat A (atau lebih) untuk produk derivative dr pinjaman perumahan dll berupa produk CDO (Collateralized Debt Obligation) . Padahal CDO tersebut disebutkan berasal darj predatory loan, pinjaman yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan tingkat leverage dari investment bank sudah melebihi batas kewajaran. Rating tinggi yang mereka keluarkan hanyalah “titipan” dari Investment Bank yang bertujuan supaya product mereka laris karena rating yang tinggi tersebut, bahkan berpotensi menipu konsumen akhir.
    Bagaimana pendapat pak Rudiyanto mengenai hal ini? Sejauh mana lembaga pemeringkat ini bisa diandalkan?
    Terimakasih sebelumnya.

  2. Rudiyanto
    November 2nd, 2016 at 16:06 | #2

    @Erwin
    Salam Pak Erwin,

    Lembaga pemeringkat merupakan perusahaan komersial sehingga ketika etika dan moralitas daripada pimpinan perusahaan tidak bagus, kasus yang anda sebutkan bisa terjadi.

    Namun dari sudut pandang investor institusi, rating merupakan salah satu KPI yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam berinvestasi. Urusan ratingnya tidak wajar, tapi karena sudah tercantum dalam SOP investasi di perusahaan, mau tidak mau harus dijalani. Kalau tidak, ya SOPnya mesti diganti.

    Dalam bahasa yang lebih sederhana, katakanlah sebuah institusi asing memiliki dana jumbo katakanlah Rp 10 triliun yang rencananya mau masuk ke Indonesia. Tapi karena SOPnya bilang rating Indonesia mesti investment grade dulu, meskipun sudah yakin dengan pak Jokowi, tetap saja tidak bisa masuk. Urusan apakah SOPnya mesti diganti atau tidak tentu perlu pertimbangan panjang karena harus RUPS dan sebagainya. Yang dilakukan biasanya adalah menambah pertimbangan, tidak hanya rating tapi juga yang lain.

    Dan tidak semua perusahaan pemeringkat jelek. Ada juga yang memberikan rating apa adanya. Dan kadang2 konsumen juga suka menyalahkan. Memang benar ada yang ditipu sama selling agent, tapi ada juga yang sudah tahu tapi masih tetap mencoba. Lihat saja investasi bodong di Indonesia, kalau ditanya satu per satu, sebagian dari mereka sadar itu bodong. Tapi karena berharap masuknya di gelombang awal, masih sempat mengambil keuntungan.

    Belajar dari pengalaman, tentu pemberian rating akan lebih berhati-hati lagi. Bisa diandalkan atau tidak, tergantung pada masing-masing orang. Kalau menurut saya bisa, tapi bukan lagi indikator utama atau satu-satunya.

    Semoga bermanfaat

  3. December 8th, 2016 at 14:42 | #3

    perlu dipahami menggunakan social media analytics seperti yang dianjurkan oleh konsultanstrategi.com untuk dapat memahami pergerakan social termsuk sentiment terhadap suatu isyu

 


%d bloggers like this: