Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Strategi Investasi > Apa Dampak Kebijakan Bank Sentral AS Terhadap Investasi Pasar Modal Indonesia?

Apa Dampak Kebijakan Bank Sentral AS Terhadap Investasi Pasar Modal Indonesia?

FED desicions

Beberapa waktu yang lalu, dalam pidato Ibu Janet Yellen, Gubernur Bank Sentral AS disebutkan terdapat potensi dinaikkannya tingkat suku bunga the Fed pada tahun 2016. Praktis, kenaikan suku bunga bank sentral AS dipandang sebagai sentimen negatif bagi pasar modal dan menimbulkan penurunan harga saham meskipun hanya 1 hari saja. Bagaimana sebenarnya dampak kebijakan ini terhadap pasar modal Indonesia ?

Kalau anda membaca media dari luar negeri tentang kebijakan suku bunga bank sentral AS, mereka suka menggunakan istilah Dovish (merpati) dan Hawkish (elang). Dovish adalah analogi untuk kebijakan bank sentral yang “bersahabat” dengan pasar seperti penurunan suku bunga dan kebijakan pembelian aset atau dikenal dengan Quantitative Easing. Sebaliknya Hawkish digunakan untuk menganalogikan kebijakan yang kurang bersahabt dengan pasar seperti kenaikan suku bunga dan penghentian pembelian aset.

Rencana kenaikan suku bunga ini tentu bisa disebut kebijakan yang Hawkish. Spekulasi tentang periode kenaikannya juga bermunculan, ada yang mengatakan September, ada pula yang mengatakan setelahnya. Namun terdapat berita nasional mengutip kemungkinan dinaikkan pada bulan September 2016 ini

Berikut ini adalah Pandangan Panin Asset Management terhadap pidato Bank Sentral AS tentang potensi kenaikan suku bunga The Fed di bulan September :

1. 2 indikator perekonomian utama yang digunakan Bank Sentral AS sebagai pertimbangan dalam perubahan suku bunga adalah tingkat pengangguran dibawah level 5% dan inflasi pada level 2%

2. Berdasarkan data bulan Juli 2016, tingkat pengangguran dan inflasi adalah masing-masing 4.9% dan 0.8%

3. Meski tingkat pengangguran telah mencapai target, tingkat inflasi masih dibawah target 2%

4. Tingkat inflasi di AS bisa meningkat karena harga minyak yang sudah rebound sejak awal tahun namun masih sulit untuk menembus USD 50 per barrel karena lemahnya permintaan dan banyaknya supply

5. Selain itu, pada 8 November 2016 akan dilakukan pemilihan Presiden AS sehingga posisi yang mungkin adalah wait and see

6. Untuk itu, prediksi Panin Asset Management untuk kenaikan suku bunga the Fed adalah pada sekitar bulan November atau Desember bukan bulan September seperti yang diperkirakan

Mengapa suku bunga the Fed perlu dinaikkan?

Panin Asset Management melihat tindakan Bank Sentral AS meningkatkan suku bunga adalah untuk meminimalkan efek samping kenaikan instrumen keuangan karena tingkat suku bunga yang sangat rendah.

Selama ini suku bunga merupakan instrumen untuk mempercepat atau mengerem pertumbuhan ekonomi. Jika terlalu lambat, suku bunga bisa diturunkan agar ekonomi tumbuh lebih cepat, sebaliknya jika terlalu cepat, suku bunga bisa dinaikkan agar ekonomi tumbuh lebih lambat.

Yang terjadi sejak tahun 2008 setelah suku bunga ditetapkan sangat rendah namun ternyata perekonomian tidak tumbuh seperti yang diharapkan. Malahan nilai aset keuangan membengkak karena suku bunga rendah memicu pinjaman berbunga rendah untuk melakukan investasi pada instrumen keuangan.

Untuk mengembalikan fungsi suku bunga sebagai instrumen kendali moneter, suku bunga perlu dinaikkan ke level normal dulu baru kemudian dinaikkan atau diturunkan sesuai kondisi ekonomi. Sebagai contoh, kalau suku bunga sudah 0.25% atau bahkan 0% maka ketika butuh penurunan suku bunga agar ekonomi kembali menggeliat sudah tidak bisa karena sudah mentok ke bawah. Apabila berada pada level katakanlah 1%, maka ketika dibutuhkan bank sentral masih bisa punya peluru untuk menurunkannya.

Hal itulah yang menurut Panin Asset Management yang akan dilakukan oleh The Fed saat ini. Jadi meskipun data perekonomian belum mencapai tingkat yang ditargetkan, kenaikan suku bunga bisa tetap terjadi karena usaha the Fed untuk mengembalikan fungsi suku bunga sebagai kendali pertumbuhan perekonomian.

Panin Asset Management juga melihat bahwa sembari hal tersebut dilakukan, kendali terhadap perekonomian akan dilakukan oleh bank sentral AS melalui instrumen moneter yaitu pembelian instrumen keuangan atau yang dikenal dengan Quantitative Easing (QE). Jadi apabila diperlukan upaya agar penyaluran kredit meningkat, alih-alih daripada menurunkan suku bunga yang sudah terlalu rendah, bisa dilakukan pembelian instrumen keuangan.

Secara historis, apabila dilakukan QE, juga bisa berdampak positif pada harga saham dan obligasi.

Apa dampak kebijakan suku bunga the Fed terhadap Indonesia?

Suku bunga the Fed yang akan naik atau bahkan rencana mau naik saja biasanya akan membuat gejolak pada bursa saham dan obligasi. Namun dalam pandangan kami, fokus investor terhadap Indonesia adalah lebih ke data domestik seperti pertumbuhan laba perusahaan, pertumbuhan domestik bruto dan keberhasilan program amnesti pajak.

Dampak dari rencana kenaikan suku bunga ini bersifat sangat sementara baik pada saat pengumuman rencana maupun pada saat benar-benar dinaikkan. Apabila terdapat sentimen positif / negatif dari dalam negeri, harga saham akan bergerak berdasarkan sentimen domestik tersebut.

Bagaimana dengan investasi reksa dana berbasis obligasi?

Untuk obligasi pada tahun 2016, potensi kenaikan harga sudah agak terbatas karena kenaikan yang cukup tinggi selama bulan Januari – Agustus 2016. Meski demikian karena tingkat inflasi Indonesia yang rendah dan suku bunga yang berpotensi turun, dampak suku bunga the Fed terhadap reksa dana pendapatan tetap harusnya tidak besar.

Untuk tahun ini, potensi return 2 – 3 % masih dimungkinkan dari pendapatan kupon obligasi.

Untuk tahun mendatang, masih ada kemungkinan harga obligasi bisa meningkat seiring penurunan tingkat suku bunga. Target return untuk tahun 2017 untuk reksa dana berbasis pendapatan tetap adalah 7 – 10%.

Yang agak perlu diwaspadai adalah obligasi berbasis dollar (Panin Dana USD). Berbeda dengan obligasi Rp yang terkena dampak minimal, efek kenaikan bunga bisa berdampak langsung terhadap obligasi USD. Untuk itu, manajer investasi telah melakukan langkah antisipasi dengan pengelolaan yang lebih aktif.

Untuk tahun ini, apabila terjadi koreksi 2 – 3% pada reksa dana berbasis USD bisa digunakan sebagai momentum untuk menambah reksa dana USD. Untuk tahun 2017, target return daripada Panin Dana USD adalah antara 3 – 5%.

Bagaimana dengan investasi reksa dana berbasis saham?

Untuk saham, potensi penurunan harga akibat berita ini seharusnya dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan penambahan pada harga yang lebih rendah.

Sebagai acuan, perhitungan harga wajar IHSG 2016 secara fundamental untuk IHSG adalah 5300 – 5500 dan jika memperhitungkan sentimen adalah 5800 – 6000. Dengan demikian ketika IHSG turun di bawah 5300 sudah bisa dijadikan momentum untuk melakukan pembelian. Outlook Panin AM untuk saham masih sama yaitu Strong Buy untuk holding period 3 tahun mendatang.

Semoga bermanfaat

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

  1. Budi
    September 13th, 2016 at 21:09 | #1

    Salam pak Rudi,

    Mohon komentar/pandangan pak Rudi dalam menanggapi perkembangan isu Fed fund rate yang terbaru, mengenai pidato anggota dewan gubernur the Fed Lael Brainard (Senin, 12 Sept) yang menyatakan pentingnya prudence dalam kenaikan Fed fund rate – yang dimaknai cenderung dovish – sehingga probabilitas kenaikannya pada bulan Sept turun dari 21% minggu lalu menjadi 15% (menurut para trader)? Mengapa hal ini sepertinya tidak tercermin di IHSG hari ini (Selasa, 13 Sept) yang kembali melemah cukup dalam?

    Apakah faktor realisasi tax amnesty yang lebih berpengaruh, Pak?

    Terima kasih sebelumnya.

  2. Rudiyanto
    September 17th, 2016 at 14:02 | #2

    @Budi
    Salam Pak Budi,

    Perlu dipahami bahwa suku bunga The Fed bukan satu-satunya indikator yang menentukan naik turunnya IHSG. Selain itu, dampaknya juga tidak langsung harian. Penyebab naik turunnya IHSG bisa dari berbagai hal lainnya dan dalam jangka panjang akan tergantung pada aspek fundamental.

    Sebagai referensi anda juga bisa baca http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/09/16/080000226/apa.dampak.kebijakan.suku.bunga.terhadap.kinerja.reksa.dana.

    Realisasi Tax Amnesti juga sifatnya sentimen yang hanya sementara. Yang pengaruhnya lebih permanen adalah perluasan basis pajak sehingga pendapatan dalam APBN akan berkesinambungan dalam jangka panjang.

    Semoga bermanfaat

  3. ibrahim
    September 30th, 2016 at 14:00 | #3

    Pak rudy, mau tanya

    Krisis yg d alami bank Deutsche berpengaruh terhadap reksadana. Terutama reksadana yg bank kustodiannya di bank tersebut. Trima kasih

  4. Rudiyanto
    October 3rd, 2016 at 18:09 | #4

    @ibrahim
    Salam Pak Ibrahim,

    Mengenai hal tersebut, saya bahas secara detail di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/10/03/apa-yang-terjadi-jika-bank-kustodian-bangkrut/

    Silakan dibaca, semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: