Outlook Investasi Semester II 2016

Chart

Secara umum, kinerja saham dan obligasi serta reksa dana selama semester I 2016 bisa dikatakan cukup baik. Rata-rata kenaikan harganya mencapai 7% – 9%, beberapa reksa dana bahkan tercatat mampu membukukan tingkat return di atas 10% selama 6 bulan pertama di 2016 ini. Bagaimana dengan kinerja semester II 2016 ? Apa yang kira-kira akan menjadi pendorong dan apa saja faktor risiko yang harus diperhatikan ?

Berikut ini adalah kinerja saham, obligasi dan rata-rata reksa dana selama semester I 2016

Kinerja Investasi Semester I 2016

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Sebelum membahas mengenai review ke depan, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu investor perhatikan :

Faktor Positif

  • Dampak Brexit ternyata lebih banyak positif daripada negatifnya karena meski menciptakan volatilitas pasar jangka pendek, pada saat yang sama membuat The Fed menunda kenaikan suku bunga. Bahkan sudah mulai ada pendapat yang mengatakan bahwa dalam kondisi pasar global yang masih fluktuatif dan perekonomian AS yang masih belum sepenuhnya pulih, suku bunga the Fed sebaiknya diturunkan.
  • Perkiraan suku bunga AS yang akan berhenti naik atau bahkan berpotensi turun ini menjadi salah satu penyebab menguatnya mata uang Rupiah
  • Tingkat inflasi pada bulan Juni 2016, meskipun lebih tinggi, masih dalam perkiraan dan dianggap terkendali. Hal ini menjadi faktor yang mendukung Bank Indonesia (BI) menurunkan BI Rate pada bulan Juni 2016 lalu.
  • Penurunan BI Rate sebenarnya merupakan hal yang diluar perkiraan karena saya sendiri berpikir karena ada transisi BI Rate menjadi Reverse Repo Rate 7 hari hingga bulan Agustus nanti, selama periode transisi tersebut suku bunga BI tidak berubah. Namun ternyata BI tetap menurunkan suku bunga dan paska penurunan ternyata Rupiah malah menguat.
  • Bunga deposito yang terus menurun akan “memaksa” pemilik dana untuk mencari alternatif lain, salah satunya investasi di pasar modal.
  • Undang Undang Pengampunan Pajak (UU Tax Amnesty) yang akhirnya disahkan menjelang akhir Juni 2016 lalu menjadi sentimen yang sangat positif baik bagi bursa maupun perekonomian nasional
  • Memang tidak ada jaminan bahwa target pendapatan pajak pemerintah bisa tercapai, namun UU ini bisa menjadi momentum perbaikan basis data pajak, meningkatkan pendapatan negara tahun ini dan tahun-tahun mendatang serta yang paling penting mendorong permintaan akan aset investasi seperti properti dan pasar modal.
  • Eksekusi UU Pengampunan Pajak yang sesuai dengan target berpotensi membuat rating Indonesia dinaikkan lebih cepat oleh S&P dan mudah-mudahan bisa terjadi sebelum akhir tahun
  • Obligasi negara kemungkinan akan menjadi salah satu tujuan investasi pilihan untuk repatriasi pajak karena imbal hasil yang relatif tinggi dengan risiko yang minim, selain itu dengan adanya kewajiban minimum penempatan bagi institusi seperti asuransi dan dana pensiun, untuk itu meski sudah naik cukup tinggi, potensi kenaikan harga masih bisa terus berlanjut karena tingginya permintaan

Faktor Risiko

Perkiraan saya, faktor risiko dari dalam negeri akan lebih mendominasi dibandingkan dari luar. Sebab pada dasarnya kondisi perekonomian di Eropa, Amerika Serikat dan China akan selalu dipengaruhi masalah perlambatan perekonomian global, masalah pengungsi dan sebagainya. Namun meski kondisi mereka tidak akan membaik dalam waktu cepat, juga tidak kelihatan akan terus memburuk. Kalaupun ada perkembangan yang sifatnya negatif, biasanya hanya berdampak sebentar saja. Satu-satunya risiko paling besar dari luar dan berpengaruh dalam waktu lama terhadap Indonesia adalah risiko kenaikan suku bunga The Fed dan pada dasarnya sudah tidak terlalu menjadi risiko yang perlu dikhawatirkan tahun ini.

Untuk itu, potensi risiko yang bisa berasal dari dalam negeri antara lain :

  • Meski secara “sentimen”, kondisi pasar modal di Indonesia dapat dikatakan bagus, namun secara Fundamental khususnya untuk saham sebenarnya tidak terlalu bagus
  • Indikator fundamental Indonesia yang kurang begitu bagus ditunjukkan dari valuasi berdasarkan PE Ratio LQ-45 per Akhir Juni 2016 yang mencapai 21 kali (di atas rata-rata yang berkisar antara 14 – 16 kali dalam jangka panjang dan 18 kali dalam 2 tahun terakhir)
  • PE Ratio bisa turun ke level yang wajar jika laporan keuangan menunjukkan pertumbuhan laba yang signifikan (di atas 15 – 20%), namun kenyataannya kinerja perusahaan pada kuartal I 2016 cenderung stagnan dan diperkirakan masih akan tetap demikian pada kuartal II 2016. Kemungkinan kinerja perusahaan akan membaik pada kuartal III atau IV 2016, namun publikasi laporan keuangan periode tersebut biasanya baru dilakukan pada akhir tahun dan awal tahun berikutnya.
  • Valuasi yang terlalu tinggi bisa berakibat pada penguatan harga yang terbatas, kalaupun kenaikannya tinggi dan mencapai rekor baru, tanpa didukung fundamental yang kuat akan berpotensi seperti roller coaster.

Berdasarkan kondisi di atas, evaluasi Kinerja Reksa Dana Semester I dan perkiraan untuk Semester II 2016 adalah sebagai berikut

Investasi 2016

Reksa Dana Pasar Uang

Rata-rata reksa dana pasar uang membukukan 2.57% per 6 bulan. Dengan tingkat bunga deposito yang terus menurun, tingkat kesulitan pengelolaan reksa dana pasar uang akan bertambah. Manajer Investasi perlu mencari keseimbangan antara deposito yang bunganya semakin menurun namun likuid dengan obligasi jangka pendek yang imbal hasilnya relatif lebih baik namun kurang likuid.

Dari tren yang ada, rata-rata reksa dana pasar uang tampaknya akan mengalami penurunan tingkat imbal hasil seiring dengan menurunnya BI rate dan suku bunga perbankan. Namun hal ini dapat diantisipasi apabila manajer investasi mengkombinasikan dengan obligasi jangka pendek, maka imbal hasil 6% net setahun harusnya masih bisa dicapai. Imbal hasil 5.5 – 6% net setara dengan deposito gross 6.8 – 7.5%. Ditambah dengan fitur pasar uang yang cairnya relatif lebih cepat, reksa dana pasar uang bisa menjadi alternatif penempatan dana jangka pendek bagi investor perorangan maupun investor institusi.

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Dibandingkan harga saham yang cenderung fluktuatif, harga obligasi tahun ini mengalami pertumbuhan harga yang lumayan tinggi dan relatif stabil. Hanya saja jika dibandingkan dengan benchmark yaitu Infovesta Government Bond Index yang naik sebesar 8.32%, rata-rata reksa dana pendapatan tetap kenaikannya lebih rendah yaitu sekitar 7.78%. Meski demikian, biasanya asumsi return jangka panjang untuk RD pendapatan tetap adalah 7-10% per tahun, target kenaikan ini sudah berhasil dicapai dalam 6 bulan. Hal ini merupakan berita baik karena kenaikan rata-rata RD pendapatan tetap pada sepanjang tahun lalu hanya 3%.

Apabila terdapat penurunan BI Rate 0.25 – 0.5% lagi hingga akhir tahun, perkiraan saya seharusnya reksa dana pendapatan tetap masih bisa naik 4 – 5% lagi hingga akhir tahun. Kalaupun tidak ada penurunan BI Rate, seharusnya kinerja reksa dana pendapatan tetap masih bisa naik 2 – 3% tergantung besaran kupon obligasi yang dimilikinya. Permintaan yang tinggi terhadap obligasi pemerintah akan membuat potensi penurunan harganya terbatas.

Reksa Dana Saham

Hingga Juni 2016, kinerja IHSG naik sebesar 9.22% diikuti dengan rata-rata reksa dana saham yang sebesar 9.60%. Meski terus berada di kisaran 4700 – 4900 selama berbulan-bulan, akhirnya IHSG berhasil menembus batas psikologis 5000 setelah UU Tax Amnesty disahkan. Meski peraturan pelaksana dari Kementerian Keuangan masih belum dipublikasikan, kelihatannya akan berdampak positif bagi pasar modal karena ada kemungkinan saham dan reksa dana juga turut menjadi tujuan investasi repatriasi pajak.

Namun selama-lamanya berita bagus tentang Tax Amnesty dan peraturan pelaksananya, dampak terhadap IHSG tidak akan terlalu lama karena pasar akan kembali ke fundamental yaitu kenaikan yang ditopang oleh pertumbuhan laba bersih perusahaan. Untuk kuartal II 2016, sepertinya kinerja perusahaan belum akan menunjukkan pertumbuhan yang terlalu berarti. Peningkatan mungkin baru akan terlihat di kuartal III dan itu berarti di sekitar November nanti baru bisa dirasakan.

Sebagaimana yang pernah saya bahas dalam Bagaimana Kinerja Perusahaan di Kuartal I 2016, rata-rata laba bersih perusahaan naik 14.67%. Angka ini sebenarnya tidak jelek, yang menjadi masalah, LQ-45 yang menjadi penggerak bursa hanya naik 1.39%. Untuk itulah baru ketika ada sentimen positif seperti Tax Amnesty, harga saham baru bisa “menembus” batas psikologisnya.

Dengan asumsi kinerja ini bertahan hingga akhir 2016, berarti secara fundamental kenaikan IHSG adalah 14.67% dari akhir tahun lalu yang berarti IHSG di 5266 atau naik kurang lebih sekitar 5% dari posisi saat ini. Sampai dengan adanya perbaikan fundamental terutama di saham LQ-45, IHSG akan lebih banyak ditopang oleh faktor “sentimen”. Yang menjadi permasalahan adalah meski bisa naik dan menembus rekor baru, sentimen bisa berubah dengan cepat sehingga pergerakan harga saham bisa cukup fluktuatif.

Reksa Dana Campuran

Kenaikan rata-rata reksa dana campuran sebesar 9.08% sangat mendekati kenaikan IHSG dan rata-rata reksa dana saham. Secara historis, memang reksa dana campuran di Indonesia cenderung memiliki pengelolaan portofolio yang agresif sehingga menyerupai reksa dana saham dengan risiko yang sedikit lebih kecil. Untuk kinerja selama semester II 2016 seharusnya juga akan 80% dari reksa dana saham. Tidak banyak reksa dana campuran yang pengelolaannya berimbang antara saham dan obligasi sehingga investor yang memilih reksa dana ini sebaiknya siap dengan risikonya.

Demikian semoga bermanfaat. Bagi anda yang sedang mudik, semoga bisa selamat sampai di tujuan dan berkumpul bersama keluarga. Bagi anda yang sedang liburan baik yang tinggal di rumah ataupun keluar kota, semoga liburannya menyenangkan. Bagi umat Muslim, saya dan keluarga ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.comwww.ReDaNesia.com

Sekolah Investor Reksa Dana : www.InvestoReady-aprdi.org

Sumber Gambar dan Data : Istockphoto dan Infovesta

  1. July 5th, 2016 at 04:59 | #1

    Thanks Pak buat outlooknya,, kebetulan malah belum menganalisis reksadana..
    Setuju juga untuk analisis sahamnya, saya yakin kedepannya masih oke meski terbatas ya kenaikannya. Barusan iseng ngulik indikator LQ 45 & IHSG, menurut saya masi bagus buat jangka pendek – menengah.

    Salam

  2. Iman Simon
    July 7th, 2016 at 18:51 | #2

    Salam Pak Rudi, semoga sehat selalu

    Menurut Pak Rudi, bagaimana dengan outlook government expenditure 2016 secara umum dan secara spesifik di sektor infrastruktur yang sudah dicanangkan sejak lama?
    Saya pikir ini merupakan “sentimen” yang cukup penting di tahun ini mengingat korelasinya dengan GDP Indonesia 2016 dimana 1Q masih dibawah konsensus / target. Referensi ini juga akan “menyentil” IHSG secara kesleuruhan.

    Thanks Pak Rudi atas insightnya.

  3. Budi
    July 9th, 2016 at 11:21 | #3

    Terima kasih untuk artikel ini, Pak Rudi, yang sangat bermanfaat.

  4. July 9th, 2016 at 22:33 | #4

    Terimakasih Pak Rudy buat outlooknya. Ijin share analisanya ya Pak. :)
    Saya sendiri memang bukan pemain jangka pendek dan analisa Pak Rudy semakin memantapkan pandangan saya pribadi. :)

  5. Rudiyanto
    July 14th, 2016 at 17:58 | #5

    @dani
    Silakan Pak Dhani,

    Ada tombol share via sosial media juga di atas.

    Terima kasih

  6. Rudiyanto
    July 14th, 2016 at 18:13 | #6

    @Iman Simon
    Salam Pak Iman,

    Government Expenditure atau pengeluaran pemerintah memang bagus pak, terlepas dari adanya pemotongan anggaran krn target pajak yang tidak berhasil. Tapi secara matematika, perbandingan antara investasi swasta atau Investment dengan Goverment Expenditure adalah sekitar 3 atau 4 banding 1.

    Jadi yang bisa membuat secara nasional ekonomi tumbuh adalah swasta ikut apa tidak. Kalau cuma mengandalkan pemerintah, kayaknya masih kurang.

    Semoga bermanfaat

  7. July 20th, 2016 at 12:24 | #7

    Terima Kasih Pak Rudy atas artikel outlooknya. Saya sangat terbantu dari artikel-artikel Pak Rudy lainnya di blog ini, analisa-analisanya luar biasa bagus. :)

    Sedikit diluar topik, saya sedang membandingkan instrumen2 investasi di indonesia. Mulai dari emas, saham, reksadana, deposito, dan derifatifnya. Namun saya agak kesulitan mendapatkan data historis inflasi, emas, dan bi-rate, apakah Pak Rudy tahu dimana saya bisa mendapatkan data tersebut? Terutama data historis yg cukup lama. Karena yang saya temukan misal bi rate, data nya sampai 2005 saja, inflasi hanya sampai 2002, dan harga emas-idr hanya sampai 1992.

    Jika pak Rudy berkenan memberi info dimana saya bisa dapat informasi yg lebih lengkap?

    Terima Kasih Pak Rudy.

  8. Rudiyanto
    July 23rd, 2016 at 23:37 | #8

    @Faisal Ahmad Sulhan
    Selamat Malam Pak Faisal,

    Untuk data yang anda sebutkan, menurut saya sudah cukup panjang. Sebab UU Pasar Modal sendiri baru terbit tahun 1995 dan pasar modal baru mulai ramai sekitar 2000an ke atas. Reksa dana saham malah baru populer setelah 2005.

    Tapi kalau untuk kepentingan penelitian anda bisa berlangganan Bloomberg untuk data tersebut, seharusnya bisa sampai cukup lama. Untuk harganya tentu tidak murah, tapi jika bekerja di perusahaan yang punya fasiltias tersebut bisa anda manfaatkan.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: