Home > Aset Alokasi, Belajar Reksa Dana, Matematika Investasi, Strategi Investasi > Bagaimana Cara Manajer Investasi Melakukan Asset Allocation ?

Bagaimana Cara Manajer Investasi Melakukan Asset Allocation ?

Aset Alokasi Saham

Lebih dari 20 tahun yang lalu, 3 orang akademisi yaitu Gary P. Brinson, L. Randolph Hood dan Gilbert L. Beebower (BHB) menerbitkan suatu publikasi manajemen portofolio yang dijadikan sebagai rujukan dalam berbagai buku keuangan hingga sekarang. Judul publikasi tersebut yaitu “Determinant of Portfolio Performance”.

Dalam publikasi itu disebutkan bahwa secara umum para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan dana menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menentukan jenis kelas aset (asset class) yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dalam portofolio
  2. Menentukan apakah akan normal, over atau underweight pada masing-masing kelas dalam portofolio*, proses ini disebut dengan Policy atau Asset Allocation
  3. Secara strategis melakukan penyesuaian dalam pengelolaan portofolio dibandingkan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencoba mendapatkan excess return dari fluktuasi harga jangka pendek atau dikenal dengan sebutan Market Timing
  4. Memilih secara selektif saham atau obligasi dalam masing-masing kelas aset untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang superior, proses ini disebut dengan Security Selection.

*Yang dimaksud dengan normal, over dan underweight adalah komposisi saham / obligasi dari portofolio investasi terhadap pasar. Misalkan dalam IHSG, komposisi dari saham Astra adalah 10%, maka suatu reksa dana dikatakan normal weighted apabila komposisi Astra dalam portofolionya adalah 10%, jika di atas 10% disebut overweight dan jika dibawah 10% disebut underweight.

Penelitian tersebut bermaksud untuk mencari tahu, dalam konteks melakukan pengelolaan dana, langkah manakah yang paling berpengaruh terhadap kinerja manajer investasi? Apakah Asset Allocation, Market Timing atau Security Selection ? Berdasarkan yang dilakukan oleh BHB, disebutkan bahwa 93.6% kinerja pengelolaan ditentukan oleh Asset Allocation, sisanya yaitu 6.4% ditentukan oleh Market Timing, Security Selection dan Lainnya (Faktor lainnya atau other, biasanya selalu terdapat dalam perhitungan statistik).

Dalam perjalanannya, riset ini mendapat banyak tanggapan baik yang bersifat pro dan kontra. Ada juga penelitian serupa yang dilakukan terhadap reksa dana saham dan mendapatkan hasil dimana ternyata pengaruhnya tidak sampai sebesar 93%, tapi berkisar antara 30 – 70an%. Terlepas dari benar atau salahnya penelitian tersebut, Asset Allocation memang menjadi faktor penting bagi Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana.

Tulisan kali ini tidak bermaksud mereproduksi penelitian di atas di Indonesia. Sebab ketika saya membaca jurnal aslinya, ada beberapa tahapan yang terus terang tidak begitu dimengerti. Selain itu, fokus dalam tulisan ini adalah memberikan gambaran kepada anda bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh para Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan reksa dana. Dengan demikian, investor bisa lebih memahami proses yang terjadi dalam pengelolaan reksa dana.

Dalam berbagai kesempatan, ada investor yang suka bertanya tentang saham mana yang bagus. Atau saham mana yang akan dibeli oleh reksa dana. Mungkin saja investor mau ikut-ikutan, atau bisa juga investor berpikir manajer investasi mengetahui saham mana yang akan naik. Dengan pola berpikir seperti demikian, bisa disimpulkan bahwa investor berpikir keberhasilan manajer investasi dalam mengelola reksa dana ditentukan oleh kemampuan Security Selection.

Padahal berdasarkan beberapa referensi yang ada, kemampuan dari Asset Allocation-lah yang seharusnya lebih dominan. Dan terus terang, saya yakin para manajer investasi juga akan kesulitan menjawab pertanyaan tersebut karena fokus dalam mengelola bukanlah menebak saham mana yang akan naik atau turun, tapi bagaimana membangun portofolio investasi yang bisa mengalahkan kinerja pasar. Dalam konteks mengelola reksa dana saham, maka targetnya mengalahkan IHSG.

Caranya bukan dengan memilih saham tertentu secara spesifik, karena penempatan dana pada 1 perusahaan adalah maksimal 10%, sehingga setidaknya minimal harus ada sekitar 15-20 saham. Sebab jika hanya 10 saham, ketika ada yang harganya naik, dengan mudah reksa dana akan melanggar batasan aturan 10%. Melakukan market timing memang bisa memaksimalkan return, tapi cenderung sulit dilakukan oleh reksa dana dengan dana kelolaan besar.

Jika dana kelolaan sudah mencapai triliunan, membeli atau melepas saham tidak bisa dilakukan dalam 1 – 2 kali transaksi. Terkadang pembeliannya bisa sampai beberapa hari agar tidak membuat harga suatu saham menjadi naik terlalu tinggi atau sebaliknya turun terlalu dalam ketika manajer investasi melakukan penjualan.

Berikut ini adalah gambaran sederhana proses aset alokasi yang terjadi dalam pengelolaan reksa dana. Tentu, ada kemungkinan praktek aslinya bisa agak berbeda antar satu manajer investasi yang satu dengan yang lain. Proses aset alokasi yang dideskripsikan berikut menggunakan contoh reksa dana saham.

1. Menentukan indeks acuan / Benchmark.

Biasanya yang menjadi benchmark dalam pengelolaan reksa dana saham adalah IHSG, ada juga yang menggunakan LQ-45 atau Kompas 100. Namun karena jumlah saham untuk ketiga indeks tersebut cukup banyak, dimana untuk IHSG bisa lebih dari 500 saham, maka untuk lebih sederhananya saya menggunakan indeks yang anggotanya lebih sedikit yaitu IDX 30

IDX30 merupakan indeks yang terdiri dari 30 saham yang konstituennya dipilih dari konstituen indeks LQ45. Indeks ini diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI berharap, indeks ini dapat digunakan sebagai produk investasi yang berbasis saham dan dapat menjadi acuan bagi investor untuk berinvestasi saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi besar.

30 saham yang tergabung dalam IDX-30 per 31 Desember 2015 adalah sebagai berikut :

IDX 30 - Desember 20152. Menganalisa bobot masing-masing saham dalam IDX 30.

Bobot saham dalam suatu indeks ditentukan oleh Kapitalisasi Sahamnya. Secara matematis, kapitalisasi saham adalah perkalian antara harga pasar saham dengan jumlah saham. Secara teori, jika seorang investor mau mengakusisi suatu perusahaan secara penuh, maka kapitalisasi pasar adalah harga pasar dari suatu perusahaan. Angka ini biasanya lebih besar daripada total nilai aset perusahaan karena nilai pasar ditentukan bukan oleh asetnya, tapi kemampuan aset tersebut dalam menghasilkan pendapatan di masa mendatang.

Dalam kasus perusahaan yang mau bangkrut, biasanya baru menggunakan nilai aset. Tapi praktek yang umumnya digunakan adalah kapitalisasi pasar. Selanjutnya nilai kapitalisasi pasar dari masing-masing saham dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar dalam suatu indeks untuk mendapatkan bobot masing-masing saham.

Informasi mengenai harga dan jumlah lembar saham dapat diperoleh di situs Bursa Efek Indonesia. Untuk harga saham juga dapat diperoleh di website yang menyediakan informasi gratis seperti Yahoo Finance. Dalam membuat tulisan ini, supaya lebih cepat, saya menggunakan sumber berbayar seperti www.infovesta.com. Bagi yang memiliki akses berlangganan pada Bloomberg juga dapat melakukannya.

Menggunakan IDX 30 per 31 Desember 2015, informasi mengenai besaran kapitalisasi pasar adalah sebagai berikut :

Market Caps IDX 30Atau secara sektoral adalah sebagai berikut :

IDX 30 Sektoral3. Menentukan strategi pengelolaan dana, apakah Normal, Overweight atau Underweight

Penentuan bobot bisa berlaku untuk saham secara individual, sektoral, ataupun lebih luas lagi yaitu kelas aset seperti saham, obligasi dan pasar uang. Dalam konteks pengelolaan reksa dana saham, biasanya penentuan bobot berlaku untuk saham secara sektoral. Sementara pada reksa dana yang menggunakan strategi value investing, bobot bisa berlaku secara individual, namun jika mengacu pada teori BHB, penentuan saham secara individual disebut sebagai Security Selection.

Untuk itu, contoh yang saya berikan adalah aset alokasi secara sektoral. Gambaran aset alokasi pada reksa dana saham yang dikelola secara pasif (reksa dana indeks dan ETF) dengan IDX-30 adalah sebagai berikut :

Aset Alokasi Reksa Dana PasifBerdasarkan peraturan pengelolaan reksa dana indeks yang ada di Indonesia, aset alokasi pada reksa dana indeks diperbolehkan antara 80 – 120% dibandingkan indeks acuannya. Dengan demikian walaupun reksa dana tersebut mengacu ke suatu indeks, bobot alokasi di reksa dana indeks dan ETF tidak harus sama (ETF merupakan reksa dana indeks yang ditransaksikan di bursa). Yang paling penting adalah dengan deviasi tersebut, kinerja reksa dana indeks tidak berbeda dengan indeks acuannya.

Selisih antara reksa dana indeks dan ETF dengan indeks acuan disebut dengan tracking error. Besaran tracking error adalah idealnya sama dengan 0. Kinerja reksa dana indeks yang lebih bagus daripada indeks acuan, walaupun bagus dari sudut pandang investor, tapi dianggap tidak bagus dari sudut pandang pengelolaan dana.

Gambaran aset alokasi untuk reksa dana saham yang dikelola secara aktif adalah sebagai berikut :

Reksa Dana Aktif Aset AlokasiPerlu saya beritahukan bahwa alasan normal, over dan underweight yang disebutkan di atas adalah hanya contoh saja. Alasan di atas juga bukan merupakan pandangan dari manajer investasi Panin Asset Management tempat saya bekerja saat ini. Tujuan dari pemberian alasan di atas adalah agar pembaca tahu bahwa mengapa manajer investasi melakukan pembobotan pada sektor tertentu.

Di luar alasan yang dikemukan di atas, terdapat juga alasan lain seperti faktor likuiditas saham, jumlah saham beredar yang tersedia untuk publik (tidak termasuk jumlah saham pemegang saham pengendali), karakteristif saham tersebut apakah defensif atau siklikal, dan faktor-faktor lainnya.

Karena harus menganalisa berbagai situasi tersebut, maka reksa dana saham disebut reksa dana dengan pengelolaan aktif. Besaran alokasi juga ditentukan oleh peraturan dimana untuk Indonesia, batasan maksimum penempatan pada 1 perusahaan adalah 10% untuk reksa dana konvensional dan 20% untuk reksa dana syariah. Sementara untuk ETF dan reksa dana indeks, pengelolaan bersifat pasif karena hanya tinggal mengikuti bobot yang terdapat dalam indeks.

Dengan melakukan pengelolaan secara pasif, adalah sangat besar kemungkinan bahwa reksa dana yang dihasilkan memiliki kinerja berbeda dengan indeks acuan. Kinerja manajer investasi disebut bagus apabila hasilnya lebih tinggi daripada indeks acuan (outperform) dan dikatakan jelek apabila hasilnya di bawah (underperform).

Secara berkala manajer investasi akan melakukan evaluasi terhadap strategi aset alokasinya. Dalam periode tersebut, apabila ada saham yang turun terlalu dalam atau naik terlalu tinggi maka manajer investasi akan melakukan penyesuaian seperti membeli saham tersebut di harga rendah atau menjual saham yang sudah ada di harga tinggi, proses ini disebut Market Timing. Apabila manajer investasi menemukan saham dengan fundamental bagus dan valuasinya sangat murah, maka bisa jadi bobot saham secara spesifik dibeli hingga batasan yang diperbolehkan. Harapannya ketika harga saham tersebut naik, potensi keuntungan yang didapatkan bisa bagus, proses ini disebut security selection.

Demikian artikel ini, semoga dapat membantu anda dalam memahami reksa dana dan pengelolaannya.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com, www.ReDaNesia.wordpress.com

Sekolah Investor Reksa Dana : www.InvestoReady-aprdi.org

Sumber Data dan Gambar : Istockphoto, Infovesta dan IDX

Referensi : Determinant of Portfolio Performance – CFA Publication

  1. Chandra
    May 5th, 2016 at 19:31 | #1

    Untuk reksadana saham yang menganut value investing seperti Panin Dana Maksima, apakah berarti Market Timing dan Security Selection lebih diutamakan daripada Asset Allocation?
    Karena prinsip value investing adalah memilih saham yang bagus dan prospeknya bagus ketika harganya murah.

  2. Rudiyanto
    May 6th, 2016 at 10:53 | #2

    @Chandra
    Selamat siang pak Chandra,

    Mau strateginya apapun, porsi asset allocation pasti akan ada. Bedanya cuma besar atau kecil saja. Dan ketika kondisi pasar modal tidak memungkinkan atau tidak kondusif untuk melakukan selection dan market timing, komposisi dana kelolaan yang digunakan untuk Asset Allocation juga berpotensi meningkat.

    Semoga bermanfaat

  3. Panji
    October 30th, 2016 at 00:17 | #3

    Permisi, maaf di luar konteks, biasanya kalau analis dan manajer investasi itu latar belakang pendidikannya apa? Apa cukup di S-1 Ilmu Ekonomi doang? Atau mungkin harus ngambil MBA dan sertifikasi juga? (CFA maybe~)
    Kalau Akuntansi bagaimana? Mau ngambil Ilmu Ekonomi (Mikro) tapi di Indonesia kebanyakan adanya yang studi pembangunan, kebetulan tertarik juga sama accounting firm sih, mungkin aja bisa nyambung.
    Dan maaf, kalau Bapak sendiri latar belakangnya gimana? Saya baca di profil belum ketemu (opsional, tidak usah jawab kalau tidak berkenan).

    Terima kasih.

  4. Rudiyanto
    November 2nd, 2016 at 16:08 | #4

    @Panji
    Selamat sore pak Panji,

    Untuk latar belakang bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/05/31/mengenal-8-profesi-di-perusahaan-manajer-investasi-pengelola-reksa-dana/

    Kalau saya lulusan jurusan Manajemen Keuangan dari Universitas Tarumanagara di Jakarta. Kebanyakan ilmu yang saya pakai adalah mata kuliah yang diajarkan di kampus yang saya cari penerapannya pada dunia nyata + otodidak dari buku-buku dan sumber di website.

    Terima kasih

  5. Indra
    December 17th, 2016 at 21:44 | #5

    Selamat Malam pak Rudi,

    “Caranya bukan dengan memilih saham tertentu secara spesifik, karena penempatan dana pada 1 perusahaan adalah maksimal 10%, sehingga setidaknya minimal harus ada sekitar 15-20 saham. Sebab jika hanya 10 saham, ketika ada yang harganya naik, dengan mudah reksa dana akan melanggar batasan aturan 10%. Melakukan market timing memang bisa memaksimalkan return, tapi cenderung sulit dilakukan oleh reksa dana dengan dana kelolaan besar.”

    Penempatan dana maksimal 10% itu peraturan dari OJK ya pak? Apa sanksinya apabila dilanggar oleh MI?

  6. Rudiyanto
    December 25th, 2016 at 21:20 | #6

    @Indra
    Salam Pak Indra,

    Dalam peraturan tentang Kontrak Investasi Kolektif yang dirangkum dalam prospektus, memang ada pasal maksimal 10% pada satu instrumen. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut bisa berdampak mulai dari teguran, larangan melakukan transaksi sampai komposisinya sesuai aturan, pencabutan izin reksa dana hingga pencabutan izin manajer investasi.

    Sebagai informasi, khusus untuk reksa dana syariah diperbolehkan hingga 20%.

    Yang mengawasi dan memberitahukan kepada OJK terkait dengan pelanggaran batasan investasi adalah bank kustodian.

    Semoga bermanfaat

  7. setiyo
    March 9th, 2017 at 20:48 | #7

    selamat malam

    Kebetulan saya berprofesi broker selama 10 thn lebih di sekuritas kota sby, saya pingin alih profesi untuk posisi wakil manajer investasi, klo blh tau di usia saya yg menginjak 40 th apakah ada peluang kerja di aset manajemen sbg Wakil manajer investasi?

    Mohon infonya , atas perhatiannya terimakasih

    WA 088803213227

  8. Rudiyanto
    March 13th, 2017 at 01:17 | #8

    @setiyo
    Selamat malam pak Setiyo,

    Untuk peluang kerja silakan mencoba melamar, sebab kalau tidak dicoba tidak ada yang tahu.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: