Home > Perpajakan Reksa Dana > Pelaporan Reksa Dana Pada SPT Tahunan

Pelaporan Reksa Dana Pada SPT Tahunan

Tax planning

Membayar pajak adalah kewajiban bagi seluruh warga negara. Bagaimana untuk reksa dana yang sesuai peraturan perpajakan dianggap sebagai penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak? Sebagai pendapatan yang dikecualikan dari Objek Pajak, investor memang tidak perlu membayar pajak atas keuntungan dari hasil investasinya jika ada. Meski demikian, reksa dana tetap perlu dilaporkan dalam SPT tahunan kita. Pertanyaannya, bagaimana cara pelaporan reksa dana pada SPT Tahunan?

Sebagai informasi, dalam menulis artikel ini saya banyak dibantu oleh rekan saya di divisi Business Developement Panin Asset Management yaitu bapak Febryano Armand. Semoga artikel yang disusun bersama ini dapat bermanfaat.

Ada 2 jenis pelaporan reksa dana dalam SPT Tahunan yaitu sebagai Harta jika reksa dana masih dimiliki dan sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak jika sudah dijual. Tata cara pelaporannya adalah sebagai berikut.

Sebelum melaporkan pajak, terlebih dahulu investor harus menentukan jenis formulir SPT yang akan digunakan. Secara umum ada 3 formulir SPT untuk perorangan yaitu :

Tipe 1770 SS

Formulir ini diisi oleh wajib pajak yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak lebih dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) setahun dan tidak mempunyai penghasilan lain.

Tipe 1770 S

Formulir digunakan oleh wajib pajak orang pribadi yang penghasilan dari pekerjaannya lebih dari satu pemberi kerja, atau penghasilannya lebih dari 60.000.000 setahun atau WP tersebut memiliki penghasilan lain (misalkan bunga bank, dividen saham, dan penghasilan lainnya).

Tipe 1770

Formulir ini ditujukan untuk wajib pajak yang mendapatkan penghasilan dari usaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan atau Norma Penghitungan Penghasilan Neto, mempunyai satu atau lebih pemberi kerja, yang dikenakan Pajak Penghasilan Final dan atau bersifat Final dan/atau penghasilan lain

Pelaporan Reksa Dana bagi sebagai Harta ataupun sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak adalah sama pada ketiga tipe formulir tersebut. Perbedaannya hanya di letak saja.

Untuk Formulir 1770 SS, letaknya di halaman pertama point 10 dan 11.

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 SS

Untuk formulir 1770 S, dengan letak sebagai berikut :

Reksa Dana sebagai harta (Lampiran II Bagian B):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 S Harta

Reksa Dana sebagai pendapatan bukan objek pajak (Lampiran I Bagian B Point 5):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 S Bukan Objek Pajak

Untuk Formulir 1770, adalah sebagai berikut

Reksa Dana sebagai harta (Lampiran IV Bagian A):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 Harta

Reksa Dana sebagai pendapatan bukan objek pajak (Lampiran III Bagian B Point 6):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 Bukan Objek Pajak

Setelah mengetaui jenis formulir yang digunakan dan letaknya, langkah berikutnya adalah melaporkan nilainya. Sesuai pembahasan, ada 2 yaitu reksa dana dilaporkan sebagai Harta dan reksa dana dilaporkan sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak.

Pelaporan Reksa Dana Sebagai Harta

Cara pelaporan reksa dana sebagai harta yang benar adalah melaporkan berdasarkan nilai perolehan. Karena ketidaktahuan masyarakat, masih ada yang melaporkan nilai pasar pada akhir tahun. Namun setelah setelah dilakukan pengecekan pada peraturan pajak, untuk harta yang dimiliki adalah dilaporkan menggunakan Harga Pembelian atau disebut juga Harta Perolehan.

Posisi harga perolehan yang dilaporkan adalah per akhir tahun. Untuk reksa dana Panin AM, anda dapat melihat pada bagian cek saldo di www.panin-am.co.id, pilih tanggal 30 dec 2015 bagian modal investasi. Harga Perolehan adalah jumlah dana yang dikeluarkan oleh investor untuk memperoleh suatu aset, dalam konteks reksa dana adalah Modal Investasi. Cara untuk memunculkan adalah pilih tanggal 30 Desember 2015 kemudian klik Tampilkan.

Laporan Pajak Reksa Dana - Harta

Pada contoh diatas harga perolehan adalah Rp 244.137.705. Selama ini karena belum terlalu memahami, terkadang masyarakat melaporkan Nilai Pasar atau Rp 247.821.806 sebagai nilai harta. Hal ini kurang tepat, karena sesuai dengan peraturan adalah Modal Investasi atau Harga Perolehan.

Contoh pengisian formulir 1770 S kolom harta ada di Lampiran II Bagian B

Pelaporan Pajak Reksa Dana Sebagai Harta

Kode harta untuk reksa dana adalah 036. Pelaporan reksa dana pada bagian harta cukup 1 saja yaitu keseluruhan jumlah dari semua reksa dana yang dimiliki. Tidak perlu melaporkannya satu per satu. Apabila investor memiliki reksa dana di lebih dari 1 agen penjual, maka semuanya perlu dijumlahkan.

Tahun perolehan adalah tahun ketika anda memperoleh harta tersebut. Jika pembeliannya dilakukan sejak 10 tahun yang lalu atau 2005, cukup diisi tahun 2005 (Pernyataan ini saya koreksi, yang benar adalah sesuai tahun perolehannya). Pada prakteknya banyak masyarakat melakukan pembelian lebih dari 1 kali dan pembelian secara berkala. Untuk saat ini, sistem Informasi di perpajakan masih belum memungkinkan untuk menginput lebih dari 1 angka tahun, untuk itu cukup diisi tahun terakhir anda melakukan pembelian. Yang penting, data historis pembelian tetap anda simpan seandainya ada pemeriksaan pajak. Data historis pembelian juga bisa diakses di www.panin-am.co.id di opsi Historis Transaksi.

Update : Untuk pencatatan Tahun Perolehan Pajak bukan lagi menggunakan tahun pertama kali atau terakhir, tapi dicatat sesuai tahun transaksinya. Lebih lengkap mengenai hal tersebut bisa dibaca pada Fitur Laporan Pajak Panin Asset Management – Penyempurnaan

Pelaporan Reksa Dana Sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak

Yang dimaksud dengan pendapatan adalah bagian keuntungan yang diperoleh apabila investor melakukan penjualan reksa dana. Keuntungan pada reksa dana, dihitung dengan menggunakan selisih Antara harga beli dengan harga jual dikalikan dengan unit yang dijual dan dikurangi dengan biaya penjualan jika ada. Apabila pembelian dilakukan lebih dari 1 kali, maka harga beli yang digunakan adalah harga rata-rata pembelian.

Informasi mengenai harga rata-rata pembelian bisa dilihat pada surat konfirmasi penjualan yang diterima, bisa juga dilihat pada www.panin-am.co.id bagian historis transaksi. Sebagai contoh, dengan menggunakan historis transaksi yang terdapat di website Panin-AM, perhitungan keuntungan adalah sebagai berikut :

Historis Transaksi Reksa Dana

 

Setelah diklik, akan muncul laporan sebagai berikut :

Laporan Redemption

Perhitungan besar keuntungan dengan menggunakan contoh di atas adalah :

Unit yang dijual x (Harga Penjualan – Harga Rata-rata Pembelian) – Biaya Transaksi*

= 476.190,4761 x (1.050 – 1.000) – Rp 2.500.000

= Rp 23.809.523 – Rp 2.500.000

= Rp 21.309.523

*Untuk biaya transaksi memang tidak ada ketentuan apakah boleh dikurangi atau tidak. Apabila merasa ragu, bisa bertanya dengan konsultan pajak.

Untuk contoh di atas, meskipun dilakukan penjualan senilai Rp 500.000.000, namun yang dilaporkan adalah bagian keuntungannya yaitu sebesar Rp 21.309.523. Dengan menggunakan

Laporan Pendapatan Bukan Objek Pajak

 

Bagaimana jika melakukan penjualan berkali-kali ?

Keuntungan dari beberapa transaksi harus dijumlahkan semua baru kemudian dilaporkan totalnya.

Bagaimana jika mengalami kerugian ?

Jika mengalami kerugian, tidak usah dilaporkan dalam SPT dalam bagian Pendapatan bukan Objek Pajak. Namun perlu diingat bahwa jika ada penjualan, maka nilai harta reksa dana juga akan berkurang

Bagaimana jika melakukan transaksi switching / pengalihan ?

Transaksi switching sama dengan menjual reksa dana yang lama dan membeli reksa dana yang baru. Pada saat penjualan reksa dana lama dilakukan, ketentuannya sama seperti redemption. Untuk tampilan di website Panin AM, gunakan klik tombol SWO.

Demikian artikel tentang cara pelaporan reksa dana dalam laporan pajak tahunan. Apabila dirasa memerlukan, investor juga bisa menggunakan jasa konsultan pajak profesional untuk membantu pelaporan pajak tahunan. Semoga artikel ini bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto dan Panin AM

Categories: Perpajakan Reksa Dana Tags:
  1. Artama
    February 16th, 2017 at 20:06 | #1

    Salam Pak Rudiyanto. Saya punya produk asuransi jiwa yg setiap bulannya memberikan hasil investasi. Apakah hasil investasi tsb bisa di masukkan di penghasilan lain yg tdk termasuk obyek pajak ?

  2. Rudiyanto
    February 20th, 2017 at 00:33 | #2

    @Artama
    Salam Pak Artama,

    Sesuai dengan Undang-Undang Pph No 36 Tahun 2008 Pasal 4 Ayat 3 Poin E
    “pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;”

    Dalam penjelasannya disebutkan
    “Penggantian atau santunan yang diterima oleh orang pribadi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan polis asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, bukan merupakan Objek Pajak. Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d, yaitu bahwa premi asuransi yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi untuk kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak.”

    Berdasarkan penafsiran saya, yang bukan objek pajak dari asuransi adalah “Penggantian atau Santunan” jika mengalami risiko atau dalam bahasa sederhana Uang Pertanggungan.

    Untuk asuransi yang mengandung investasi atau lebih dikenal dengan unit link, berdasarkan SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE – 56/PJ/2015, dimana sebelumnya jika pencairan sebelum 3 tahun untuk porsi investasi dan ada bagian keuntungan dikenakan pajak final 15%, maka berdasarkan edaran yang baru menjadi bukan objek pajak sama halnya seperti reksa dana.

    Untuk konteks asuransi jiwa yang anda tanyakan, menurut saya:
    1. Bukan uang santunan atau uang pertanggungan
    2. Bukan juga unit link, karena unit link sama seperti reksa dana yang memiliki mekanisme harga naik turun

    Maka berdasarkan pemahaman saya, seharusnya dilaporkan dalam penghasilan lain-lain yang kena pajak progresif.

    Namun ada baiknya anda menanyakan kepada pihak asuransi mengenai cara pelaporan atas hasil investasi tersebut, dan bisa jadi pemahaman saya juga kurang tepat.

    Demikian, semoga bermanfaat

  3. Artama
    February 20th, 2017 at 19:34 | #3

    Terima kasih atas penjelasannya Pak Rudyanto. Untuk saham yang diperjualbelikan di bursa efek, pelaporan di spt menggunakan harga perolehan atau harga pasar ??@Rudiyanto

  4. ina
    February 22nd, 2017 at 15:33 | #4

    Selamat sore Pak Rudiyanto,

    Mohon tanya :

    1.Apabila dalam TA Reksadana sudah dimasukkan dengan Nilai Pasar per tgl. 31 Des 2015, dan kemudian dijual di 2016, dalam SPT 2016, bgm menghitung keuntungannya ( yg dimasukkan dalam Pendapatan bukan objek Pajak) apakah Selisih dari Nilai saat dijual dengan Nilai TA ataukah Selisih dari dari Nilai Jual dengan saat Nilai Perolehan ?

    2.Dari Artikel Bapak, disebutkan bhw Dalam kolom Harta, ReksaDana ( apabila macam-macam produk ) , dilaporkan dengan satu nama saja Reksa Dana, dan Nilainya dijumlahkan.
    Apakah ini untuk satu Fund Manager saja ? Ataukah juga untuk beberapa Fund Manager dijumlahkan jadi satu ? Mis nya dari Panin, Schroeder , Ashmore

    3. Bagaimana Pelaporan di SPT 2016, apabila dalam TA untuk Reksa Dana ini sudah diperinci satu persatu berdasarkan Jenis Produknya, apakah dlm SPT menjadi disatukan ?

    Terima kasih Pak

  5. ina
    February 24th, 2017 at 10:51 | #5

    Selamat siang Pak Rudiyanto,

    Ada tambahan Pak :

    4. Dalam Pelaporan TA mis : Reksa Dana X ,Nilai yg dimasukkan adalah Nilai Pasar per 31 Des 2015, kalau di SPT 2016, u Reksa Dana X ini , Nilai yg dimasukkan apakah Nilai idem saat TA, ataukah Nilai Pasar per 31 Des 2016 ? ( kondisi : tidak ada jual atau beli )

    Terima kasih

  6. Putra
    March 1st, 2017 at 18:31 | #6

    Selamat malam Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas waktunya dalam menulis Pak, saya temukan banyak informasi dan ilmu baru yang Bapak bagikan kepada pembaca.

    Saya punya pertanyaan Pak – jika saya bekerja di luar negeri dan tinggal disana selama 2013 – 2015 (belum punya NPWP) dan pulang di akhir tahun 2015.
    Tahun 2016 mulai bekerja di Indonesia dan mulai menjadi wajib pajak. Saya pun akan untuk pertama kalinya mengisi SPT di tahun 2017 ini untuk tahun pajak 2016.

    Tabungan saya selama bekerja di luar begeri (2013 – 2015) sudah dibawa pulang dan di investasikan dalam bentuk reksadana – salah satunya PAM. Sesuai pemaparan bapak, reksadana perlu dilaporkan dalam bentuk harta (jika memang belum dijual). Masalahnya penghasilan saya di Indonesia selama tahun 2016 jauh lebih kecil dari jumlah harta berupa reksadana yang berasal dari penghasilan saya di luar negeri. Sesuai pemaparan Bapak juga – hal ini berpotensi menimbulkan kecurigaan darimana saya dapat harta yang jauh melebihi profil penghasilan saya.

    Apa ada suatu mekanisme untuk menunjukkan darimana asal harta tersebut?
    Atau sebaliknya Pak, karena itu merupakan penghasilan yang diperoleh diluar negeri, sudah taxable di negeri asal, dan selama 2013 – 2015 saya tidak tinggal di Indonesia – itu bearti saya tidak perlu melaporkannya di SPT?

    Terima kasih banyak Pak atas pendapatnya. Salam.

  7. Rudiyanto
    March 3rd, 2017 at 13:48 | #7

    @ina
    Selamat Siang Ibu Ina,

    Mohon maaf baru sempat balas sekarang.
    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Pelaporan Reksa Dana dalam amnesti pajak mengasumsikan harga pasar pada 31 Desember 2015 sebagai harga perolehan. Untuk itu, jika sudah dijual pada tahun 2016, maka keuntungan yang dilaporkan sebagai pendapatan bukan objek pajak menggunakan harga jual – harga perolehan (harga pasar 31 Des 2015).

    2. Kalau menurut saya memang yang mudah adalah berdasarkan tempat dimana anda membeli reksa dana. Misalkan anda beli di Bank atau Sekuritas untuk reksa dana dari beberapa MI sekaligus, maka dilaporkan misalkan Bank BCA – Reksa Dana. Kalau belinya langsung ke MI seperti ke Panin AM, baru anda laporkan Panin AM.

    Jadi bukan berdasarkan Manajer Investasi tapi tempat anda membeli reksa dana

    3. Saya belum mendapatkan petunjuk jelasnya, namun perkiraan saya dilaporkan secara terpisah. Jadi harta yang sudah tercantum dalam SPT dengan harta tambahan yang dilaporkan dalam amnesti dilaporkan terpisah. Namun waktu pelaporannya bisa bersamaan dengan pelaporan SPT.

    4. Kalau tidak ada jual atau beli, sebagaimana yang saya jelaskan, Harga Pasar per 31 Des 2015 dianggap sebagai harga perolehan. Sehingga yang dilaporkan adalah harga pasar 31 Des 2015. Tidak ada perubahan.

    Semoga bermanfaat

  8. Rudiyanto
    March 3rd, 2017 at 14:08 | #8

    @Putra
    Salam Pak Putra,

    Sebelumnya terima kasih atas kepercayaan kepada Panin AM.

    Untuk pertanyaan anda, menurut saya :
    1. Pendapatan di luar negeri, meskipun sudah dipotong pajak, tetap perlu dilaporkan di dalam negeri sebagai penghasilan bukan objek pajak (jika memenuhi ketentuan). Tapi permasalahannya memang kalau saya di luar negeri sekalipun, tentu akan sulit untuk mengurus hal ini.

    Kebetulan ada kenalan saya yang punya kondisi yang sama, pada saat dia pindah ke Indonesia, langsung dia laporkan semua hartanya ke pajak dengan menjelaskan bahwa itu berasal dari pendapatan dari luar negeri yang sudah dibayarkan pajaknya beserta bukti pemotongan.

    Terus terang saya tidak mengetahui detail, tapi sepertinya deklarasi tersebut bisa diterima tanpa harus membayar pajak karena memang bisa dibuktikan.

    Tapi yang jelas, mau pendapatannya diperoleh dari dalam ataupun luar, harta tetap harus dilaporkan. Anda bisa coba mendiskusikannya dengan petugas di kantor pajak.

    2. Kalau upaya di atas tidak berhasil, maka sebaiknya bisa diikutkan dalam amnesti pajak. Khawatir saya karena target amnesti pajak yang belum tercapai, petugas pajak cenderung akan menyarankan kepada masyarakat untuk sekalian ikut saja.

    Semoga bermanfaat

  9. Putra
    March 3rd, 2017 at 16:01 | #9

    Terima kasih banyak Pak. Sukses selalu.

  10. Maria
    March 3rd, 2017 at 19:45 | #10

    Halo Pak Rudi,

    1. Saya trading saham menggunakan 3 sekuritas,cara menulis dalam TA untuk saham yang diperjualbelikan bagaimana ya pak ? disebutkan nama sekuritas dan utk no dokumen tulis apa ya pak ?
    Kode :
    Nama :
    Nilai : xxx (menggunakan harga perolehan dalam kondisi normal, atau harga di 30 Desember 2015 untuk amnesti pajak)
    Dokumen : ?
    Nomor Dokumen : ?
    Keterangan : ?

    2. setelah ikut TA pelaporan trading sahamnya jadi gimana ya pak, kebetulan saya aktif. nilai portofolio akhir tahun 2015 misalkan 100jt, lalu akhir th. 2016 kalau naik gimana / kalau turun gimana ? dengan nama saham th 2015 dan 2016 berbeda dan nilainya beda pula ?

    3. setiap penjualan mesti dilaporkan ya pak ? pusing dong pak, boleh nga lapor saja nilai porto akhir tahun yang naik turun itu.

    Terima kasih banyak pak Rudi, sukses selalu.
    thanks

  11. Ali
    March 4th, 2017 at 15:08 | #11

    Siang Pak Rudi,

    1. Bagaimana cara melaporkan Devidend per 3 bulanan dari produk Reksadana Terproteksi (produk Obligasi) dalam SPT ? Sesuai kontrak awal, semuanya adalah netto, penjual tidak bisa memberikan bukti potong PPh nya

    2. Produk asuransi jiwa dengan umur polis terbatas 5 tahun :
    1) nilai tunai saat jatuh tempo merupakan keuntungan bagi pemegang polis. Apakah keuntungan ini juga termasuk penghasilan yang kecualikan dari pengenaan PPh sebagaimana yang diatur di SE-56/PJ-2016 ? pelaporannya dalam SPT 1770 S -1 Bagian B point 6 ?

    2) sewaktu TA, polis tersebut dilaporkan senilai pokok (100 jt) + estimasi tambahan nilai per 31-12-2015 (10 jt) sesuai advise dari petugas pajak. Polis ini jatuh tempo di 2017 dengan total nilai 130 juta. Bagaimana cara pelaporan nilainya di SPT 2016 ?

    Trims Pak.

  12. Andri
    March 4th, 2017 at 19:15 | #12

    Pak @Rudiyanto , kalau reksadana kode harta 036, bagaimana dengan unitlink? Trims

  13. Rudiyanto
    March 5th, 2017 at 21:40 | #13

    @Maria
    Salam Ibu Maria,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda, menurut saya :
    1. Untuk pelaporan saham
    Kode : 031
    Nama : Saham
    Nilai : Harga perolehan per akhir 2016. Bisa minta dengan perusahaan sekuritasnya. Kalau yang reksa dana bisa lihat contohnya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/03/05/fitur-laporan-pajak-untuk-reksa-dana-panin-am/
    Dokumen : Laporan Bulanan (yang di email tiap bulan)
    Nomor Dokumen : nomor surat tsb atau nomor kode anda di perusahaan sekuritas
    Keterangan : nama perusahaan sekuritasnya misalkan Panin Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dll

    2. Sama seperti reksa dana, saham yang dilaporkan dalam pajak adalah harta dan penghasilan. Untuk harta caranya sama persis tapi untuk penghasilan berbeda. Khusus untuk saham karena pada saat menjual anda sudah terkena pajak final 0.1% (yang termasuk dalam fee penjualan reksa dana), maka yang dilaporkan adalah total omset penjualannya.

    Misalkan anda modal Rp 100 juta, trading buy sell saham BUMI sampai 4 kali. Contoh :
    Buy Rp 100 juta Sell Rp 120 juta (profit)
    Buy Rp 120 juta Sell Rp 150 juta (profit)
    Buy Rp 150 juta Sell Rp 130 juta (loss)
    Buy Rp 130 juta Sell Rp 150 juta (profit)

    Maka yang anda laporkan adalah total transaksi sell saja yaitu Rp 120 juta + Rp 150 juta + Rp 130 juta + Rp 150 juta = Rp 550 juta.
    Nilai itu dilaporkan dalam bagian penghasilan yang sudah terkena pajak final. Kesannya memang akan besar sekali jika investor aktif bertransaksi, tapi memang demikian cara pelaporan pajak untuk transaksi saham yang benar menurut saya.

    Anda juga tidak perlu menghitung satu per satu karena biasanya sekuritas menyediakan laporan tersebut sudah dalam total. Anda tinggal memintanya saja.

    2. Tidak ada masalah. Kalau mengacu pada cara saya di atas, yang dilaporkan total per perusahaan sekuritas. Perihal isinya berubah-ubah tidak masalah sepanjang tidak keluar negeri. Untung dan rugi juga bisa ditelusuri dari transaksinya.

    Mengacu pada link yang saya berikan di atas, pokoknya untuk harta, menggunakan harga perolehan per akhir tahun. Untuk pendapatan, dari total transaksi jual selama 1 tahun.

    3. Laporannya hanya setahun sekali, dan saya pernah lihat yang dikirimkan Panin Sekuritas. Totalnya sudah ada, jadi tinggal diinput saja. Tidak perlu dihitung lagi.

    Semoga bermanfaat

  14. Rudiyanto
    March 5th, 2017 at 22:56 | #14

    @Ali
    Salam pak Ali,

    1. Dilaporkan sebagai Pendapatan Lainnya yang bukan objek pajak. Persis seperti contoh dividen Panin Dana Pendapatan Berkala yang ada di Panin AM http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/03/05/fitur-laporan-pajak-untuk-reksa-dana-panin-am/

    2. Untuk asuransi
    (1) Keuntungan dari penjualan nilai tunai asuransi memang menjadi objek pajak final 20% seperti halnya deposito, tapi pada tahun 2016 ketentuan ini diiubah menjadi bukan objek pajak sebagaimana pada peraturan yang anda cantumkan.

    Pelaporannya pada point B 6 adalah jika ada penjualan. Jika tidak ada maka dilaporkan sebagai harta.

    (2) Utk asuransi pendidikan yang menjanjikan nilai tertentu pada akhir periode, menurut saya, memang bisa dilaporkan jumlah uang yang disetorkan (polis). Namun untuk asuransi unit link, menurut saya, adalah lebih tepat jika yang dilaporkan porsi premi yang ada investasinya saja. Untuk porsi yang ada asuransinya tidak perlu dilaporkan.

    Jika berbentuk unit link, maka porsi investasinya dilaporkan dengan cara yang sama dengan reksa dana yaitu modal yang dikeluarkan (tapi tidak memperhitungkan porsi asuransi).

    Semoga bermanfaat

  15. Rudiyanto
    March 5th, 2017 at 23:02 | #15

    @Andri
    Salam Pak Andri,

    Anda bisa mengecek di google dengan mengetik Kode Harta untuk SPT Reksa Dana.
    Karena tidak ada klasifikasi untuk asuransi, maka unit link bisa dilaporkan sebagai Harta Investasi Lainnya

    Semoga bermanfaat.

  16. Chandra
    March 7th, 2017 at 21:03 | #16

    @Rudiyanto
    Malam Pak,

    Dari penjelasan artikel tentang reksadana sebagai penghasilan bukan object pajak hanya dilaporkan keuntungannya saja tetapi kalau saham dilaporkan total penjualannya. Kalau dipikir2 harusnya tidak berbeda. Manakah yang benar pak, adakah aturan rujukannya?

  17. Rudiyanto
    March 8th, 2017 at 01:24 | #17

    @Chandra
    Malam Pak Chandra,

    Reksa dana dan saham itu berbeda pak.
    Reksa dana itu bukan objek pajak
    Sementara untuk Saham itu kena pajak final 0.1% (Terima kasih untuk koreksinya @chandra, sebelumnya disebutkan 5%)

    Karena perbedaan itulah maka pelaporannya juga berbeda. Bisa membaca UU tentang PPh penghasilan dan saham itu masuk kategori yang kena pajak final.

    Semoga bermanfaat

  18. Ali
    March 8th, 2017 at 09:53 | #18

    @Rudiyanto
    Terima kasih atas penjelasannya Pak. Saya masih ada pertanyaan selanjutnya :

    1. Reksadana Terproteksi yang pokok + hasil investasinya ditransfer ke rekening kita saat jatuh tempo (jadi tidak dijual), apakah pelaporan SPT nya sebagai harta saja senilai jatuh tempo? atau harta dan penghasilan lainnya yang tidak termasuk objek pajak ?

    2. Polis asuransi jiwa yang manfaatnya dalam bentuk bea siswa yang diberikan setiap periode tertentu, apakah bisa tetap mengacu pada ketentuan SE 56/PJ/2015 ?

    Trims Pak.

  19. Rudiyanto
    March 13th, 2017 at 01:11 | #19

    @Ali
    Salam pak Ali

    1. Untuk pokok dilaporkan harta. Untuk hasil investasi sebagai penghasilan bukan objek pajak

    2. Kalau bentuknya beasiswa atau uang pertanggungan asuransi jiwa memang bukan objek pak. Bahkan di kolomnya juga sudah dicantumkan tersendiri. Bisa membaca pada bagian http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/03/05/fitur-laporan-pajak-untuk-reksa-dana-panin-am/

    Semoga bermanfaat

  20. Joanna
    March 15th, 2017 at 12:15 | #20

    Dear Pak Rudi,
    Mohon tanya, kalau reksa dana dilaporkan berdasarkan harga pembelian dan bukan nilai pasar akhir tahun, bagaimana menggambarkan redemption sebagian atau switching yg bersumber dari redemption sebagian reksa dana lain? Misalnya selama setahun setiap bulan saya top up 10 juta, lalu ada 1x saya redeem 50 juta. Jika saya melaporkan hanya nilai pembelian, maka saya menuliskan Rp120 juta. Namun jika saya redeem 50 juta, apakah saya tetap menulis Rp120 juta atau Rp70 juta? Saya bingung karena ketika menjual biasanya dengan harga pasar (investasi+keuntungan), sedangkan Rp120 juta itu adalah principal nya, sehingga saya merasa pengurangan tsb tidak akurat juga.

    Jika saya menggunakan Rp50juta tsb utk membeli reksa dana lain dan tidak mengurangi jumlah tsb dari reksa dana sebelumnya, maka di akhir tahun saya terlihat seperti berinvestasi Rp170 juta.

    Lalu mohon juga klarifikasi Pak Rudi mengenai tahun perolehan. Di artikel di atas Bapak menulis 2 kalimat yg agak bertentangan: “Tahun perolehan adalah tahun ketika anda memperoleh harta tersebut. Jika pembeliannya dilakukan sejak 10 tahun yang lalu atau 2005, cukup diisi tahun 2005. Pada prakteknya banyak masyarakat melakukan pembelian lebih dari 1 kali dan pembelian secara berkala. Untuk saat ini, sistem Informasi di perpajakan masih belum memungkinkan untuk menginput lebih dari 1 angka tahun, untuk itu cukup diisi tahun terakhir anda melakukan pembelian.”
    Jadi jika saya berinvestasi sejak 2005 dan melakukan top up setiap tahun di reksa dana yg sama hingga sekarang, apakah saya menuliskan 2005 atau tahun terakhir sy melakukan pembelian (2016)?

    Terima kasih, Pak Rudi, utk sharing artikelnya.

Comment pages


%d bloggers like this: