Home > Perpajakan Reksa Dana > Pelaporan Reksa Dana Pada SPT Tahunan

Pelaporan Reksa Dana Pada SPT Tahunan

Tax planning

Membayar pajak adalah kewajiban bagi seluruh warga negara. Bagaimana untuk reksa dana yang sesuai peraturan perpajakan dianggap sebagai penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak? Sebagai pendapatan yang dikecualikan dari Objek Pajak, investor memang tidak perlu membayar pajak atas keuntungan dari hasil investasinya jika ada. Meski demikian, reksa dana tetap perlu dilaporkan dalam SPT tahunan kita. Pertanyaannya, bagaimana cara pelaporan reksa dana pada SPT Tahunan?

Sebagai informasi, dalam menulis artikel ini saya banyak dibantu oleh rekan saya di divisi Business Developement Panin Asset Management yaitu bapak Febryano Armand. Semoga artikel yang disusun bersama ini dapat bermanfaat.

Ada 2 jenis pelaporan reksa dana dalam SPT Tahunan yaitu sebagai Harta jika reksa dana masih dimiliki dan sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak jika sudah dijual. Tata cara pelaporannya adalah sebagai berikut.

Sebelum melaporkan pajak, terlebih dahulu investor harus menentukan jenis formulir SPT yang akan digunakan. Secara umum ada 3 formulir SPT untuk perorangan yaitu :

Tipe 1770 SS

Formulir ini diisi oleh wajib pajak yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak lebih dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) setahun dan tidak mempunyai penghasilan lain.

Tipe 1770 S

Formulir digunakan oleh wajib pajak orang pribadi yang penghasilan dari pekerjaannya lebih dari satu pemberi kerja, atau penghasilannya lebih dari 60.000.000 setahun atau WP tersebut memiliki penghasilan lain (misalkan bunga bank, dividen saham, dan penghasilan lainnya).

Tipe 1770

Formulir ini ditujukan untuk wajib pajak yang mendapatkan penghasilan dari usaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan atau Norma Penghitungan Penghasilan Neto, mempunyai satu atau lebih pemberi kerja, yang dikenakan Pajak Penghasilan Final dan atau bersifat Final dan/atau penghasilan lain

Pelaporan Reksa Dana bagi sebagai Harta ataupun sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak adalah sama pada ketiga tipe formulir tersebut. Perbedaannya hanya di letak saja.

Untuk Formulir 1770 SS, letaknya di halaman pertama point 10 dan 11.

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 SS

Untuk formulir 1770 S, dengan letak sebagai berikut :

Reksa Dana sebagai harta (Lampiran II Bagian B):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 S Harta

Reksa Dana sebagai pendapatan bukan objek pajak (Lampiran I Bagian B Point 5):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 S Bukan Objek Pajak

Untuk Formulir 1770, adalah sebagai berikut

Reksa Dana sebagai harta (Lampiran IV Bagian A):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 Harta

Reksa Dana sebagai pendapatan bukan objek pajak (Lampiran III Bagian B Point 6):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 Bukan Objek Pajak

Setelah mengetaui jenis formulir yang digunakan dan letaknya, langkah berikutnya adalah melaporkan nilainya. Sesuai pembahasan, ada 2 yaitu reksa dana dilaporkan sebagai Harta dan reksa dana dilaporkan sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak.

Pelaporan Reksa Dana Sebagai Harta

Cara pelaporan reksa dana sebagai harta yang benar adalah melaporkan berdasarkan nilai perolehan. Karena ketidaktahuan masyarakat, masih ada yang melaporkan nilai pasar pada akhir tahun. Namun setelah setelah dilakukan pengecekan pada peraturan pajak, untuk harta yang dimiliki adalah dilaporkan menggunakan Harga Pembelian atau disebut juga Harta Perolehan.

Posisi harga perolehan yang dilaporkan adalah per akhir tahun. Untuk reksa dana Panin AM, anda dapat melihat pada bagian cek saldo di www.panin-am.co.id, pilih tanggal 30 dec 2015 bagian modal investasi. Harga Perolehan adalah jumlah dana yang dikeluarkan oleh investor untuk memperoleh suatu aset, dalam konteks reksa dana adalah Modal Investasi. Cara untuk memunculkan adalah pilih tanggal 30 Desember 2015 kemudian klik Tampilkan.

Laporan Pajak Reksa Dana - Harta

Pada contoh diatas harga perolehan adalah Rp 244.137.705. Selama ini karena belum terlalu memahami, terkadang masyarakat melaporkan Nilai Pasar atau Rp 247.821.806 sebagai nilai harta. Hal ini kurang tepat, karena sesuai dengan peraturan adalah Modal Investasi atau Harga Perolehan.

Contoh pengisian formulir 1770 S kolom harta ada di Lampiran II Bagian B

Pelaporan Pajak Reksa Dana Sebagai Harta

Kode harta untuk reksa dana adalah 036. Pelaporan reksa dana pada bagian harta cukup 1 saja yaitu keseluruhan jumlah dari semua reksa dana yang dimiliki. Tidak perlu melaporkannya satu per satu. Apabila investor memiliki reksa dana di lebih dari 1 agen penjual, maka semuanya perlu dijumlahkan.

Tahun perolehan adalah tahun ketika anda memperoleh harta tersebut. Jika pembeliannya dilakukan sejak 10 tahun yang lalu atau 2005, cukup diisi tahun 2005 (Pernyataan ini saya koreksi, yang benar adalah sesuai tahun perolehannya). Pada prakteknya banyak masyarakat melakukan pembelian lebih dari 1 kali dan pembelian secara berkala. Untuk saat ini, sistem Informasi di perpajakan masih belum memungkinkan untuk menginput lebih dari 1 angka tahun, untuk itu cukup diisi tahun terakhir anda melakukan pembelian. Yang penting, data historis pembelian tetap anda simpan seandainya ada pemeriksaan pajak. Data historis pembelian juga bisa diakses di www.panin-am.co.id di opsi Historis Transaksi.

Update : Untuk pencatatan Tahun Perolehan Pajak bukan lagi menggunakan tahun pertama kali atau terakhir, tapi dicatat sesuai tahun transaksinya. Lebih lengkap mengenai hal tersebut bisa dibaca pada Fitur Laporan Pajak Panin Asset Management – Penyempurnaan

Pelaporan Reksa Dana Sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak

Yang dimaksud dengan pendapatan adalah bagian keuntungan yang diperoleh apabila investor melakukan penjualan reksa dana. Keuntungan pada reksa dana, dihitung dengan menggunakan selisih Antara harga beli dengan harga jual dikalikan dengan unit yang dijual dan dikurangi dengan biaya penjualan jika ada. Apabila pembelian dilakukan lebih dari 1 kali, maka harga beli yang digunakan adalah harga rata-rata pembelian.

Informasi mengenai harga rata-rata pembelian bisa dilihat pada surat konfirmasi penjualan yang diterima, bisa juga dilihat pada www.panin-am.co.id bagian historis transaksi. Sebagai contoh, dengan menggunakan historis transaksi yang terdapat di website Panin-AM, perhitungan keuntungan adalah sebagai berikut :

Historis Transaksi Reksa Dana

 

Setelah diklik, akan muncul laporan sebagai berikut :

Laporan Redemption

Perhitungan besar keuntungan dengan menggunakan contoh di atas adalah :

Unit yang dijual x (Harga Penjualan – Harga Rata-rata Pembelian) – Biaya Transaksi*

= 476.190,4761 x (1.050 – 1.000) – Rp 2.500.000

= Rp 23.809.523 – Rp 2.500.000

= Rp 21.309.523

*Untuk biaya transaksi memang tidak ada ketentuan apakah boleh dikurangi atau tidak. Apabila merasa ragu, bisa bertanya dengan konsultan pajak.

Untuk contoh di atas, meskipun dilakukan penjualan senilai Rp 500.000.000, namun yang dilaporkan adalah bagian keuntungannya yaitu sebesar Rp 21.309.523. Dengan menggunakan

Laporan Pendapatan Bukan Objek Pajak

 

Bagaimana jika melakukan penjualan berkali-kali ?

Keuntungan dari beberapa transaksi harus dijumlahkan semua baru kemudian dilaporkan totalnya.

Bagaimana jika mengalami kerugian ?

Jika mengalami kerugian, tidak usah dilaporkan dalam SPT dalam bagian Pendapatan bukan Objek Pajak. Namun perlu diingat bahwa jika ada penjualan, maka nilai harta reksa dana juga akan berkurang

Bagaimana jika melakukan transaksi switching / pengalihan ?

Transaksi switching sama dengan menjual reksa dana yang lama dan membeli reksa dana yang baru. Pada saat penjualan reksa dana lama dilakukan, ketentuannya sama seperti redemption. Untuk tampilan di website Panin AM, gunakan klik tombol SWO.

Demikian artikel tentang cara pelaporan reksa dana dalam laporan pajak tahunan. Apabila dirasa memerlukan, investor juga bisa menggunakan jasa konsultan pajak profesional untuk membantu pelaporan pajak tahunan. Semoga artikel ini bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto dan Panin AM

Categories: Perpajakan Reksa Dana Tags:
  1. Chandra
    March 15th, 2016 at 20:40 | #1

    Terima kasih infonya pak. Saya juga salah mengisi, saya kira tujuannya buat mengetrack harta kita jadi yang dimasukkan adalah nilai pasar. Kalau begini berarti tidak ketahuan ya kalu misal modal 10juta sudah berkembang menjadi 100juta dalam 10 tahun.
    Kalau pelaporan saham apakah juga sama?
    Terima kasih.

  2. Steven
    March 16th, 2016 at 10:25 | #2

    Selamat pagi dan salam kenal Pak Rudiyanto.
    Perihal industri dunia asset management di Indonesia, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada bapak mengingat bapak bekerja di bidang ini.

    Perihal Perkembangan Industri Pasar Modal Syariah

    Selama ini perkembangan pasar untuk segmen ini masih dianggap rendah, hal ini jelas merupakan peluang besar karena besarnya populasi umat Muslim di sini dan dorongan serta insentif untuk terus memajukan industri syariah dari regulator.
    Pertanyaan :

    1. Bagaimana pandangan Bapak terhadap prospek industri ini sendiri ke depan karena dari segi produk dan jumlah dana kelolaan masih sedikit?
    2. Perihal peraturan terakhir dari pihak OJK yang memungkinkan reksadana syariah untuk berinvestasi di efek luar negeri hingga 100% apakah perusahaan tempat Bapak bekerja akan menerbitkan efek sejenis ini dalam waktu dekat?

    Perihal Tim Riset

    Sebagaimana kita ketahui bahwa riset adalah bagian penting dan tidak terpisahkan dari pasar modal, banyak investor mengandalkan hasil riset sebagai acuan dalam berinvestasi.
    Pertanyaan :

    1. Apakah PT. Panin Asset Management memiliki tim riset sendiri yang bekerja sama dengan manajer investasi dalam pengambilan keputusan atau menggunakan data riset eksternal yang disediakan pihak ketiga?
    2. Jika ada tim riset dari pihak internal, apakah ada peluang bahwa orang yang berkarir di posisi riset ini diangkat menjadi pengelola dana di kemudian hari?
    3. Apakah PT. Panin Asset Management juga menggunakan riset dari PT. Panin Sekuritas yang merupakan induk perusahaan sebagai acuan bagi manajer investasi dalam melakukan kegiatan investasi.

    Perihal Tim Pengelola Dana

    Pengelolaan reksadana seutuhnya dilakukan oleh manajer investasi dan sesuai dengan peraturan yang berlaku baik dari regulator maupun dari perusahaan masing-masing.
    Pertanyaan :

    1. Pada perusahaan dengan berbagai jenis produk reksadana, apakah seorang manajer mengelola hanya satu atau dapat lebih bahkan hingga seluruh reksadana di perusahaan tersebut?
    Sebagai contoh apakah Bapak Winston Sual yang mengelola reksadana saham juga sebagai tim pengelola dana pada reksadana campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang?
    2. Apakah ada perbedaan untuk posisi manajer investasi berdasarkan spesialisasi atau keahlian yang dimiliki terhadap produk pasar modal, seperti manajer investasi saham atau manajer investasi pendapatan tetap.

    Terima kasih.

  3. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 16:52 | #3

    @Chandra
    Salam Pak Chandra,

    Pelaporan harta pada pajak, fokus utama yang ingin diketahui oleh pajak adalah apakah harta yang anda miliki sesuai dengan profil penghasilan anda atau tidak.

    Misalkan anda punya aset Rp 2 M, tapi penghasilan cuman Rp 100 juta per tahun. Tentu tidak sesuai. Nah, angka Rp 2 M yang digunakan adalah modal karena itu pasti jumlah uang yang anda keluarkan. Tapi kalau menggunakan harga pasar, berarti nilai harta anda yang dilaporkan belum tentu sama dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Misalkan anda lapor punya Rp 2 M, tapi sebetulnya itu Rp 1 M yang anda investasikan 10 tahun yang lalu.

    Untuk saham dan juga properti, sifatnya sama pak. Yang dilaporkan adalah nilai perolehan.

    Semoga bermanfaat

  4. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 17:07 | #4

    @Steven
    Selamat Sore Pak Steven,

    Pertanyaannya seperti wartawan yang mau membuat edisi khusus reksa dana.
    Tapi tidak apa2, saya akan bantu jawab :

    Tentang industri reksa dana syariah:
    1. Reksa dana syariah sampai dengan tahun lalu terus terang tidak ada yang spesial. Hanya reksa dana konvensional tapi ditambah “syariah” di belakang dengan hanya mengelola saham dan obligasi yang masuk kategori syariah. Tapi tahun ini berbeda, ada reksa dana efek syariah luar negeri yang bisa berinvestasi hingga 100% ke luar negeri. Jenis ini masih belum ada di reksa dana konvensional dan sudah ada beberapa MI yang menerbitkan reksa dana ini.

    Seharusnya reksa dana ini bisa memberikan “sesuatu” yang berbeda dan jika kinerjanya bagus, bukan tidak mungkin bisa meningkatkan dana kelolaan reksa dana syariah. Dalam jangka panjang, bisa berkembang atau tidaknya reksa dana syariah tergantung pada 2 hal, kinerja dan pemasaran.

    Investor Indonesia itu sangat praktis, kalau kinerjanya bagus, mau jenisnya syariah ataupun konvensional tetap akan menjadi perhatian. Kemudian investor Indonesia itu malas. Kalau pemasarannya tidak aktif dan memberikan servis dengan baik, akan sangat sedikit investor yang baru. Jadi akan maju atau tidak, tergantung kedua hal tersebut.

    2. Untuk Global Syariah Fund, statement resmi dari Panin AM hingga komentar ini dibuat adalah masih akan dipelajari. Sekarang telah diterbitkan 2 reksa dana baru dan fokusnya adalah bagaimana kedua reksa dana ini bisa berkembang.

    Mengenai tim riset
    1. Salah satu kekuatan Panin AM adalah tim riset yang besar, kompeten dan yang paling penting bisa bekerja sama. Jadi meskipun tetap mendapatkan masukan dari pihak luar, keputusan dari tim riset internal tetap yang utama. Untuk tim riset, dikoordinasikan oleh Pak Winston Sual selaku Presiden Direktur langsung.

    2. Memang semua MI disini mulainya dari posisi riset.

    3. Tidak hanya riset, tapi kita juga bertransaksi melalui Panin Sekuritas. Namun pertimbangannya bukan karena group sendiri, tapi juga karena pelayanan yang bagus dan broker yang mengerti pola transaksi para Manajer Investasi. Selain Panin Sekuritas, Panin AM juga bertransaksi melalui broker lain karena kualitas pelayanan dan riset yang dimilikinya.

    Mengenai Tim Pengelola Dana
    1. Cara kerja dari pengelolaan reksa dana di Panin AM adalah pengelolaan bersifat team. Artinya semua analis dan manajer investasi selalu berkumpul bersama merumuskan outlook dan strategi investasi. Dengan demikian, jika anda membaca semua prospektus Panin AM, nama pak Winston ada di semua reksa dana yang dikelola.

    Namun dalam pengelolaannya, ada PIC untuk masing-masing reksa dana. Seperti Pak Winston yang fokus pada Maksima. Untuk reksa dana lain, biasanya ada PICnya sendiri dan bisa anda baca di prospektus. Bisa 1 orang, bisa juga 2 orang. Dengan demikian tanggung jawabnya menjadi jelas.

    Dengan PIC yang berbeda, kinerja reksa dana juga bisa berbeda sesuai dengan style dan kondisi masing-masing reksa dana.

    2. Kalau untuk reksa dana berbasis pendapatan tetap, Manajer Investasi dan analisnya tersendiri. Namanya Pak Benjamin dan Ibu Asti. Tidak hanya reksa dana pendapatan tetap, terkadang porsi obligasi di reksa dana campuran juga mereka kelola.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  5. Steven
    March 16th, 2016 at 19:31 | #5

    Terima kasih Pak Rudianto atas jawaban dan tanggapan Bapak. Mengenai jawaban Bapak tentang tim riset saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan

    1. Pandangan Bapak jika seseorang yang ingin menjadi fund manager dan memulai karir menjadi analis, apakah lebih baik memulai di perusahaan asset management yang memberikan analisis internal atau di perusahaan sekuritas yang memberikan analisis kepada seluruh nasabah?
    2. Apakah yang menjadi kriteria seorang analis bisa menjadi pengelola dana di kemudian hari? apakah harus memiliki sertifikasi tertentu, pengalaman selama beberapa tahun, dll.
    3. Dalam pelaksanaan tugas apakah manajer investasi dan analis juga ikut memasarkan reksadana terutama ke investor institusi untuk menambah dana kelolaan dan unit penyertaan?

    Terima kasih.

  6. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 21:21 | #6

    @Steven
    Salam Pak Steven,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Untuk yang ini saya tidak tahu. Saya sendiri sampai sekarang juga belum pernah menjadi fund manager.

    2. Bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/08/19/mengenal-profesi-pasar-modal/

    3. Sebagai perusahaan, bertambahnya dana kelolaan sama dengan bertambahnya omset. Tidak hanya manajer investasi dan analis, tapi semua karyawan di perusahaan Manajer Investasi kalau bisa berkontribusi, tentunya dalam proses tersebut tidak mengganggu pekerjaan yang utamanya.

    Semoga bermanfaat

  7. Iwan Purnawan
    March 29th, 2016 at 16:40 | #7

    Selamat sore pak Rudiyanto,

    Saya beberapa pertanyaan mengenai pelaporan Reksadana & saham dalam pelaporan SPT:
    1. Apakah bukti keuntungan reksadana & saham harus disertakan dalam pelaporan SPT?

    2. Bagaimana pelaporan Bukti Potong Dividen Saham diisi dalam Form yang mana serta Foto Copy bukti potong pajak setiap emiten juga harus disertakan?

    Mohon pencerahannya pak Rudiyanto. Terima Kasih banyak.

  8. Rudiyanto
    April 4th, 2016 at 17:04 | #8

    @Iwan Purnawan
    Selamat Sore Pak Iwan,

    Terkait dengan pertanyaan anda :
    1. Tidak perlu, tapi ada baiknya anda simpan dan sewaktu2 jika ada pemeriksaan pajak bisa anda lampirkan sebagai bukti bahwa dasar pengisian telah sesuai dengan transaksi yang ada.

    2. Sama seperti point 1, tidak perlu disertakan tapi disimpan sebagai referensi. Mengenai detail cara pelaporan kalau tidak salah ada kolom dividen saham. Tapi jika harta anda cukup banyak, saran saya bisa berkonsultasi dengan konsultan pajak agar pelaporannya sesuai dengan aturan.

    Semoga bermanfaat

  9. david
    April 25th, 2016 at 09:12 | #9

    untuk formulir 1770 S, apakah betul ditulis pada “Lampiran I Bagian B Point 5″ ? Apakah mungkin maksudnya “Point 6″ ?

  10. Rudiyanto
    April 27th, 2016 at 15:21 | #10

    @david
    Benar sekali pak David. Terima kasih atas infonya dan sudah saya koreksi.

  11. Demi
    July 22nd, 2016 at 06:47 | #11

    Hi Pak Rudi,
    Bagaimana utk pencantuman unitlink baik yg regular maupun single premi ? Apakah yg ditulis nilai investasi awalnya atau uang pertanggungan ? Jika nilai awal untuk single premi mungkin bisa tapi untuk yg regular premi bagaimana ya ?

  12. Rudiyanto
    July 25th, 2016 at 20:46 | #12

    @Demi
    Salam Ibu Demi,

    Kalau dalam rangka pelaporan dalam SPT, yang digunakan adalah nilai perolehan untuk nilai tunai tersebut. Misalkan anda setor Rp 1 juta per bulan dimana 70% menjadi investasi, maka nilai perolehan adalah Rp 700rb per bulan dikalikan jumlah pembayaran anda.

    Semoga bermanfaat

  13. Budiono wijaya
    August 1st, 2016 at 21:25 | #13

    Bagaimana jika mengalami kerugian ?

    Jika mengalami kerugian, tidak usah dilaporkan dalam SPT dalam bagian Pendapatan bukan Objek Pajak. Namun perlu diingat bahwa jika ada penjualan, maka nilai harta reksa dana juga akan berkurang

    Bole diperjelas pak? Maksudnya apakah tidak perlu dilaporkan dalam spt?
    Begitu juga bila saya ada main saham di sekuritas dan mengalami kerugian, apakah perlu dilaporkan?

  14. Budiono wijaya
    August 1st, 2016 at 21:27 | #14

    Dan apabila saya mempunyai ligam mulia dari hasil pemberian atau hadiah pernikahan apakah harus di laporkan juga?

  15. Rudiyanto
    August 2nd, 2016 at 20:44 | #15

    @Budiono wijaya
    Salam Pak Budiono,

    Dengan menggunakan contoh, penjelasan untuk pertanyaan anda sebagai berikut

    November 2014 beli reksa dana saham senilai Rp 100 juta. Akhir Desember 2015, karena harga pasar sedang turun, maka nilainya menjadi Rp 80 juta. Investasi ini tidak dijual, maka pelaporannya di SPT tahun 2014 adalah harta reksa dana Rp 100 juta dan SPT tahun 2015 harta reksa dana Rp 100 juta.

    Misalkan pada bulan Desember 2015 sudah anda jual di nilai Rp 80 juta, maka otomatis pada Rp 80 juta akan berubah menjadi tabungan. Maka yang dilaporkan di SPT 2014 adalah harta reksa dana Rp 100 juta dan SPT 2015 adalah harta tabungan senilai Rp 80 juta.

    Misalkan pada bulan Desember 2015 nilai pasar naik anda jual di harga Rp 120 juta (untung Rp 20 juta), maka dilaporkan pada SPT 2014 – harta reksa dana Rp 100 juta dan SPT 2015 – harta tabungan Rp 120 juta serta pendapatan bukan objek pajak Rp 20 juta.

    Kurang lebih demikian pak, semoga bermanfaat.

  16. Rudiyanto
    August 2nd, 2016 at 20:52 | #16

    @Budiono wijaya
    Dalam konteks Amnesti Pajak, kalau memang mau ikut, ya sebaiknya tidak tanggung-tanggung dengan melaporkan semua. Namun secara kepraktisan, apabila nilai logam mulia tersebut tidak material menurut saya tergantung pada kepatuhan anda terhadap peraturan.

    Pada prinsipnya begini, misalkan nilai dari perhiasan dan logam mulia adalah Rp 20 juta. Nilai uang tersebut kalaupun suatu hari anda gadaikan / jual, bisa habis untuk biaya hidup sehingga tidak material.

    Namun kalau nilai dari perhiasan dan logam mulai tersebut adalah Rp 500 juta nilainya cukup material menurut saya. Misalkan tidak anda laporkan, trus suatu hari anda jual dan uangnya digunakan untuk membeli rumah seharga Rp 500 juta. Sementara penghasilan per tahun anda pada saat membeli rumah tersebut adalah Rp 200 juta, maka orang pajak akan mempertanyakan darimana anda punya Rp 500 juta untuk membeli rumah sementara pendapatan anda baru Rp 200 juta per tahun. Dengan asumsi, tidak ada biaya hidup saja, berarti ada Rp 300 juta penghasilan yang tidak dilaporkan. Atas penghasilan yang diasumsikan tidak dilaporkan tersebut akan dikenakan pajak progresif + denda.

    Jika perhiasan dan logam mulia tersebut sudah anda laporkan, maka anda bisa jelaskan uang tersebut berasal dari penjualan perhiasan dan logam mulia. Dan karena asal usulnya jelas, anda tidak usah khawatir diperiksa atau dikenakan denda pajak.

    Satu lagi, misalkan nilai emas anda dilaporkan Rp 400 juta, kemudian dijual Rp 500 juta karena harga naik, maka atas penjualan emas tersebut merupakan objek pajak progresif.

    Semoga bermanfaat

  17. Budiono wijaya
    August 4th, 2016 at 11:50 | #17

    @Rudiyanto

    Sangat jelas sekali pemaparannya.

    Apabila memiliki unit link tapi belum dilaporkan tahun 2015, apakah saya perlu ikut tax amnesty? Atau saya tidak perlu ikut tax amnesty tapi saat pelaporan tahun 2016 saya masukan ke laporan pajaknya?

    Dan satu lagi pak, pelaporan tax amnesty harus hadir sendiri ke kantor pajak atau bisa di wakilkan karena posisi saya diluar kota. Terima kasih.

  18. Rudiyanto
    August 4th, 2016 at 15:03 | #18

    @Budiono wijaya
    Salam Pak Budiono,

    Unit link perlu dilaporkan sebesar nilai tunainya pada akhir desember 2015.
    Pada prinsipnya yang perlu dilaporkan adalah semua harta yang diperoleh sebelum 31 Desember 2015.

    Setahu saya untuk Amnesti Pajak, pertemuan pertama harus sendiri dan pada saat itu sudah menunjuk konsultan pajak. Baru setelah itu bisa diwakilkan. Mau tidak mau memang agak repot.

    Terima kasih

  19. Boy
    August 16th, 2016 at 22:54 | #19

    @Rudiyanto
    Menyambung ya Pak, untuk Unit link yang diperoleh Tahun 2010 jika ikut Tax Amnesty yang dilaporkan itu Premi yang dikeluarkan dari 2010 atau total unit link yang diperoleh dikalikan dengan harga per 31 Des 15 ya? Terima Kasih

  20. Anna
    August 17th, 2016 at 17:02 | #20

    Reksadana terproteksi tiap 3 bulan memberikan bunga yang disebut “cash dividend” yang tidak dipotong pajak.
    Apakah cash dividend tsb harus dilaporkan sebagai pendapatan bukan objek pajak atau merupakan pendapatan kena pajak?
    Terima kasih.

Comment pages
1 2 3 5 6001


%d bloggers like this: