Home > Perpajakan Reksa Dana > Pelaporan Reksa Dana Pada SPT Tahunan

Pelaporan Reksa Dana Pada SPT Tahunan

Tax planning

Membayar pajak adalah kewajiban bagi seluruh warga negara. Bagaimana untuk reksa dana yang sesuai peraturan perpajakan dianggap sebagai penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak? Sebagai pendapatan yang dikecualikan dari Objek Pajak, investor memang tidak perlu membayar pajak atas keuntungan dari hasil investasinya jika ada. Meski demikian, reksa dana tetap perlu dilaporkan dalam SPT tahunan kita. Pertanyaannya, bagaimana cara pelaporan reksa dana pada SPT Tahunan?

Sebagai informasi, dalam menulis artikel ini saya banyak dibantu oleh rekan saya di divisi Business Developement Panin Asset Management yaitu bapak Febryano Armand. Semoga artikel yang disusun bersama ini dapat bermanfaat.

Ada 2 jenis pelaporan reksa dana dalam SPT Tahunan yaitu sebagai Harta jika reksa dana masih dimiliki dan sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak jika sudah dijual. Tata cara pelaporannya adalah sebagai berikut.

Sebelum melaporkan pajak, terlebih dahulu investor harus menentukan jenis formulir SPT yang akan digunakan. Secara umum ada 3 formulir SPT untuk perorangan yaitu :

Tipe 1770 SS

Formulir ini diisi oleh wajib pajak yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak lebih dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) setahun dan tidak mempunyai penghasilan lain.

Tipe 1770 S

Formulir digunakan oleh wajib pajak orang pribadi yang penghasilan dari pekerjaannya lebih dari satu pemberi kerja, atau penghasilannya lebih dari 60.000.000 setahun atau WP tersebut memiliki penghasilan lain (misalkan bunga bank, dividen saham, dan penghasilan lainnya).

Tipe 1770

Formulir ini ditujukan untuk wajib pajak yang mendapatkan penghasilan dari usaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan atau Norma Penghitungan Penghasilan Neto, mempunyai satu atau lebih pemberi kerja, yang dikenakan Pajak Penghasilan Final dan atau bersifat Final dan/atau penghasilan lain

Pelaporan Reksa Dana bagi sebagai Harta ataupun sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak adalah sama pada ketiga tipe formulir tersebut. Perbedaannya hanya di letak saja.

Untuk Formulir 1770 SS, letaknya di halaman pertama point 10 dan 11.

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 SS

Untuk formulir 1770 S, dengan letak sebagai berikut :

Reksa Dana sebagai harta (Lampiran II Bagian B):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 S Harta

Reksa Dana sebagai pendapatan bukan objek pajak (Lampiran I Bagian B Point 5):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 S Bukan Objek Pajak

Untuk Formulir 1770, adalah sebagai berikut

Reksa Dana sebagai harta (Lampiran IV Bagian A):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 Harta

Reksa Dana sebagai pendapatan bukan objek pajak (Lampiran III Bagian B Point 6):

Laporan Pajak Reksa Dana 1770 Bukan Objek Pajak

Setelah mengetaui jenis formulir yang digunakan dan letaknya, langkah berikutnya adalah melaporkan nilainya. Sesuai pembahasan, ada 2 yaitu reksa dana dilaporkan sebagai Harta dan reksa dana dilaporkan sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak.

Pelaporan Reksa Dana Sebagai Harta

Cara pelaporan reksa dana sebagai harta yang benar adalah melaporkan berdasarkan nilai perolehan. Karena ketidaktahuan masyarakat, masih ada yang melaporkan nilai pasar pada akhir tahun. Namun setelah setelah dilakukan pengecekan pada peraturan pajak, untuk harta yang dimiliki adalah dilaporkan menggunakan Harga Pembelian atau disebut juga Harta Perolehan.

Posisi harga perolehan yang dilaporkan adalah per akhir tahun. Untuk reksa dana Panin AM, anda dapat melihat pada bagian cek saldo di www.panin-am.co.id, pilih tanggal 30 dec 2015 bagian modal investasi. Harga Perolehan adalah jumlah dana yang dikeluarkan oleh investor untuk memperoleh suatu aset, dalam konteks reksa dana adalah Modal Investasi. Cara untuk memunculkan adalah pilih tanggal 30 Desember 2015 kemudian klik Tampilkan.

Laporan Pajak Reksa Dana - Harta

Pada contoh diatas harga perolehan adalah Rp 244.137.705. Selama ini karena belum terlalu memahami, terkadang masyarakat melaporkan Nilai Pasar atau Rp 247.821.806 sebagai nilai harta. Hal ini kurang tepat, karena sesuai dengan peraturan adalah Modal Investasi atau Harga Perolehan.

Contoh pengisian formulir 1770 S kolom harta ada di Lampiran II Bagian B

Pelaporan Pajak Reksa Dana Sebagai Harta

Kode harta untuk reksa dana adalah 036. Pelaporan reksa dana pada bagian harta cukup 1 saja yaitu keseluruhan jumlah dari semua reksa dana yang dimiliki. Tidak perlu melaporkannya satu per satu. Apabila investor memiliki reksa dana di lebih dari 1 agen penjual, maka semuanya perlu dijumlahkan.

Tahun perolehan adalah tahun ketika anda memperoleh harta tersebut. Jika pembeliannya dilakukan sejak 10 tahun yang lalu atau 2005, cukup diisi tahun 2005 (Pernyataan ini saya koreksi, yang benar adalah sesuai tahun perolehannya). Pada prakteknya banyak masyarakat melakukan pembelian lebih dari 1 kali dan pembelian secara berkala. Untuk saat ini, sistem Informasi di perpajakan masih belum memungkinkan untuk menginput lebih dari 1 angka tahun, untuk itu cukup diisi tahun terakhir anda melakukan pembelian. Yang penting, data historis pembelian tetap anda simpan seandainya ada pemeriksaan pajak. Data historis pembelian juga bisa diakses di www.panin-am.co.id di opsi Historis Transaksi.

Update : Untuk pencatatan Tahun Perolehan Pajak bukan lagi menggunakan tahun pertama kali atau terakhir, tapi dicatat sesuai tahun transaksinya. Lebih lengkap mengenai hal tersebut bisa dibaca pada Fitur Laporan Pajak Panin Asset Management – Penyempurnaan

Pelaporan Reksa Dana Sebagai Pendapatan Bukan Objek Pajak

Yang dimaksud dengan pendapatan adalah bagian keuntungan yang diperoleh apabila investor melakukan penjualan reksa dana. Keuntungan pada reksa dana, dihitung dengan menggunakan selisih Antara harga beli dengan harga jual dikalikan dengan unit yang dijual dan dikurangi dengan biaya penjualan jika ada. Apabila pembelian dilakukan lebih dari 1 kali, maka harga beli yang digunakan adalah harga rata-rata pembelian.

Informasi mengenai harga rata-rata pembelian bisa dilihat pada surat konfirmasi penjualan yang diterima, bisa juga dilihat pada www.panin-am.co.id bagian historis transaksi. Sebagai contoh, dengan menggunakan historis transaksi yang terdapat di website Panin-AM, perhitungan keuntungan adalah sebagai berikut :

Historis Transaksi Reksa Dana

 

Setelah diklik, akan muncul laporan sebagai berikut :

Laporan Redemption

Perhitungan besar keuntungan dengan menggunakan contoh di atas adalah :

Unit yang dijual x (Harga Penjualan – Harga Rata-rata Pembelian) – Biaya Transaksi*

= 476.190,4761 x (1.050 – 1.000) – Rp 2.500.000

= Rp 23.809.523 – Rp 2.500.000

= Rp 21.309.523

*Untuk biaya transaksi memang tidak ada ketentuan apakah boleh dikurangi atau tidak. Apabila merasa ragu, bisa bertanya dengan konsultan pajak.

Untuk contoh di atas, meskipun dilakukan penjualan senilai Rp 500.000.000, namun yang dilaporkan adalah bagian keuntungannya yaitu sebesar Rp 21.309.523. Dengan menggunakan

Laporan Pendapatan Bukan Objek Pajak

 

Bagaimana jika melakukan penjualan berkali-kali ?

Keuntungan dari beberapa transaksi harus dijumlahkan semua baru kemudian dilaporkan totalnya.

Bagaimana jika mengalami kerugian ?

Jika mengalami kerugian, tidak usah dilaporkan dalam SPT dalam bagian Pendapatan bukan Objek Pajak. Namun perlu diingat bahwa jika ada penjualan, maka nilai harta reksa dana juga akan berkurang

Bagaimana jika melakukan transaksi switching / pengalihan ?

Transaksi switching sama dengan menjual reksa dana yang lama dan membeli reksa dana yang baru. Pada saat penjualan reksa dana lama dilakukan, ketentuannya sama seperti redemption. Untuk tampilan di website Panin AM, gunakan klik tombol SWO.

Demikian artikel tentang cara pelaporan reksa dana dalam laporan pajak tahunan. Apabila dirasa memerlukan, investor juga bisa menggunakan jasa konsultan pajak profesional untuk membantu pelaporan pajak tahunan. Semoga artikel ini bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto dan Panin AM

Categories: Perpajakan Reksa Dana Tags:
  1. Chandra
    March 15th, 2017 at 12:38 | #1

    @Rudiyanto
    Terima kasih atas penjelasannya Pak.
    Koreksi, untuk penjualan saham hanya dikenakan pajak 0.1%, untuk dividen saham pajaknya 10%.

  2. Rudiyanto
    March 20th, 2017 at 02:49 | #2

    @Joanna
    Selamat Malam Ibu Joana,

    Terima kasih atas pertanyaannya yang kritis. Pernyataan bahwa pencatatan menggunakan tahun pertama kali saya koreksi. Yang benar adalah berdasarkan tahun pembeliannya.

    Untuk pencatatan jika ada transaksi jual beli juga sudah dibuatkan fiturnya pada website Panin AM. Pada dasarnya yang digunakan adalah harga rata-rata. Dengan demikian, transaksi jual beli bisa diketahui berapa keuntungannya dan harga rata-rata pada akhir tahun untuk kepentingan pelaporan.

    Silakan membaca detailnya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/03/19/fitur-laporan-pajak-untuk-reksa-dana-panin-am/

    Semoga pertanyaan anda terjawab. Terima kasih

  3. Rudiyanto
    March 20th, 2017 at 02:50 | #3

    @Chandra
    Terima kasih untuk koreksinya. Sudah saya perbaiki

  4. Robert
    March 21st, 2017 at 08:21 | #4

    Dear Pak Rudi,

    1. Menyambung mengenai input data nilai unit (Rp/Rupiah) investasi dari asuransi unit link di kolom harta pada akhir tahun (SPT Tahunan) bila sebelumnya sudah dimasukkan dalam Tax amnesty, apakah kemudian pada SPT 2016, yang dicantumkan adalah total nilai unit (Rp) akhir desember 2016 atau selisih nilai unit (Rp) dengan tahun sebelumnya seperti yang dilakukan pada fitur laporan pajak reksa dana PAM ? (Rp maksudnya dalam rupiah)
    2. Apakah benar yang dicantumkan nilai unit (Rp) ? mengingat nilai unit selain berubah berdasarkan alokasi tambahan premi tiap tahunnya juga mengikuti nilai pasar ? mohon pencerahannya

    Terima kasih

  5. Rudiyanto
    March 23rd, 2017 at 22:22 | #5

    @Robert
    Malam Pak Robert,

    1. Untuk unit link yang sudah dilaporkan dalam Amnesti pajak dan unit link yang dibeli sesudah amnesti pajak, ada baiknya dipisah pak. Sebab yang amnesti menggunakan harga pasar dan wajib dilaporkan secara berkala. Sementara yang bukan amnesti cukup dilaporkan secara tahunan saja.

    2. Sama seperti reksa dana, menurut saya porsi unit link yang dilaporkan cukup bagian investasinya saja menggunakan harga perolehan. Bukan harga pasar. Namun jika nilainya tidak seberapa dan kita lebih mementingkan perlindungan asuransi, menurut saya tidak lapor juga tidak apa2. Sebagai contoh, saya ikut asuransi dengan premi 350rb per bulan atau 4.2 juta per tahun karena menginginkan manfaat penyakit kritis saja. Dengan jumlah tersebut, tidak saya laporkan dalam pajak karena memang sangat kecil

    Semoga bermanfaat

  6. oline
    March 24th, 2017 at 16:26 | #6

    Pak Rudi,

    1. saya punya reksadana yang disudah dilaporkan tahun 2015 dan dalam tahun 2016 reksadana tsb saya cairkan ke tabungan, yang mau saya tanyakan waktu lapor SPT 2016 reksadana tsb apakah perlu dilaporkan sebagai tabungan saja?
    2. dan dari pertanyaan2 & jawaban di atas, reksadana dalam kondisi bagaimana lapor SPT 2016 jika pokoknya sebagai harta dan keuntungan sebagai penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.

    terima kasih pak.

  7. budianto
    March 26th, 2017 at 14:28 | #7

    @Rudiyanto

    pak..misal saya ada ikut TA (tax amnesty) dengan aset saham 100 juta (per 31 des 2015)..msl saham abc total 100 juta…sekarang nilai saham itu menjadi 200 juta…tetapi kan posisi belum dijual…berarti yg di laporkan tetap aset saham 100 juta y ?

  8. Rudiyanto
    March 29th, 2017 at 00:11 | #8

    @oline
    Malam Bu Oline,

    1. Benar bu, sebagai tabungan. Karena sudah berubah bentuk dari reksa dana menjadi tabungan

    2. Karena sudah berubah bentuk, maka hartanya sudah tidak ada dan tidak perlu dilaporkan. Keuntungan pada saat penjualan reksa dana tersebut baru dilaporkan sebagan Penghasilan Yang tidak Termasuk Objek Pajak. Apabila kebetulan anda berinvestasi di Panin AM, tinggal klik fitur laporan pajaknya http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/03/19/fitur-laporan-pajak-untuk-reksa-dana-panin-am/

    Semoga bermanfaat

  9. Rudiyanto
    March 29th, 2017 at 00:20 | #9

    @budianto
    Malam Pak Budianto,

    Benar seperti itu pak. Namun jika nilai harta dalam amnesti pajak anda signifikan, sebaiknya berkonsultasi juga dengan petugas pajak karena sepengetahuan saya porsi harta dalam amnesti pajak dilaporkan secara terpisah karena ada kewajiban tidak boleh keluar negeri dalam 3 tahun. Definisi signifikan, itu artinya tidak mungkin kalau harta itu habis dikonsumsi.

    Semoga bermanfaat

  10. Sofian
    March 31st, 2017 at 18:59 | #10

    Salam sejahtera Pak Rudyanto,

    Mohon bantuan nasehat Bapak dalam hal pelaporan Harta berikut di SPT Tahunan dgn benar.

    1. Asuransi Unit Linked, dilaporkan:
    Akumulasi unit dikalikan dgn nilai tunai /nilai pasar akhir tahun 2016?
    ATAU
    akumulasi premi tahun2 sebelumnya hingga 2016 dgn menghitung porsi investasinya saja (sedangkan porsi biaya asuransi diabaikan saja krn dianggap hangus)?

    2. Reksadana
    Misalkan saya membeli Reksadana Panin AM sebesar Rp. 10 juta di Mei 2013 dan Rp. 5 juta di April 2014. Di SPT 2016, bolehkah Harga Perolehan ditulis Rp. 15 juta? Tahun Perolehannya ditulis 2013 atau 2016, sesuai tahun SPT?

    Terima kasih banyak buat perhatian dan bantuan Bapak.

  11. Rudiyanto
    April 2nd, 2017 at 21:09 | #11

    @Sofian
    Selamat malam Pak Sofian,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :

    1. Kalau menurut saya, cara yang benar adalah porsi investasi dari unit link yang menggunakan angka akumulasi bukan nilai tunai / nilai pasar. Penggunaan nilai pasar / nilai tunai apabila anda mengikuti amnesti pajak dan mau melaporkan posisi per akhir 2015

    2. Kalau anda nasabah Panin AM tinggal log in saja pak dan klik fitur pajak. Semuanya akan tampil sendiri sehingga cukup dilaporkan seperti yang ada saja http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/03/19/fitur-laporan-pajak-untuk-reksa-dana-panin-am/

    Semoga bermanfaat

  12. Sofian
    April 8th, 2017 at 17:13 | #12

    @Rudiyanto

    Salam sejahtera Pak Rudiyanto,

    Baik Pak, terima kasih banyak buat tanggapan Bapak.

  13. Dwi
    November 7th, 2017 at 10:08 | #13

    Pagi Pak rudi,

    ada yang ingin saya tanyakan, namun tidak berkaitan dengan reksa dana.
    Apabila saya berpartisipasi dalam fintech peer to peer lending, apabila pendanaan saya masih aktif pada akhir tahun, pada laporan SPT, dana tersebut masuk ke kategori apa ya pak?

  14. Rudiyanto
    November 9th, 2017 at 09:34 | #14

    @Dwi
    Selamat pagi ibu Dwi,

    Kalau kamu menjadi pemegang saham di suatu perusahaan, baik itu fintech ataupun perusahaan biasa, dicatatnya sebagai Penyertaan Saham.

    Sementara dalam fintech kamu memberikan pinjaman dan mendapatkan penghasilan bunga, seharusnya dicatat sebagai Piutang dalam harta.

    Namun perlu diperhatikan bahwa ada kemungkinan besar penghasilan bunga dari piutang tersebut, akan dikenakan pajak progresif sesuai tarif pajak anda. Sebab berbeda dengan bunga deposito atau kupon obligasi yang memang sudah di atur dan dikenakan pajak final, pendapatan bunga dari pendanaan itu masih belum di atur dan biasanya jika demikian kena pajak progresif.

    Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 3 4 6001

 


%d bloggers like this: