Home > Aset Alokasi, Perencanaan Investasi > Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Prinsip 10 - 20 - 30 - 40

Perencanaan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perencanaan investasi. Sebab darimana uang untuk investasi jika gaji sudah terlanjur dihabiskan semua. Oleh karena itu, sebelum melakukan investasi, yang pertama kali harus dilakukan seharusnya adalah bagaimana mengelola keuangan, tepatnya mengelola pendapatan kita dengan baik.

Untuk pengelolaan keuangan, saya banyak belajar dari Financial Planner baik yang independen ataupun dari rekan-rekan kantor saya yang sudah memiliki sertifikasi perencanaan keuangan. Khusus untuk topik yang saya sharing kali ini, saya belajar rekan saya di Panin Asset Management yaitu pak Ronald Marthin Hutagaol CFP®, QWP®, AEPP® yang juga bersama-sama saya mengadakan seminar Cerdas Mengelola Keuangan 2016 Bali pada bulan Januari yang lalu.

Pada prinsipnya, yang namanya pendapatan harus dihabiskan. Hanya saja cara untuk menghabiskannya harus tepat. Jika tidak, jangankan untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin kita harus terpaksa berutang untuk memenuhinya. Cara untuk menghabiskan pendapatan yang baik adalah menggunakan prinsip 10 – 20 – 30 -40. Seperti apa prinsip ini?

10 - Untuk Kebaikan10% – Kebaikan

Misalkan anda baru mulai bekerja dan mendapatkan gaji sebesar UMR Jakarta yaitu Rp 3.1 juta. Dari uang makan, uang transport dan komisi katakanlah anda bisa mengantongi Rp 5 juta per bulan. Maka angka 10 dari Prinsip 10 – 20 – 30 – 40 ini adalah anda wajib menghabiskan 10% dari pendapatan Rp 5 juta tersebut yaitu Rp 500.000 untuk hal yang sifatnya kebaikan.

Apa saja kategori yang bisa disebut Kebaikan ? Menurut saya bisa ada banyak. Mulai dari sumbangan yang diberikan setiap minggu ketika anda mengunjungi Mesjid, Wihara, Gereja, Pura, ataupun tempat Ibadah lainnya. Kemudian uang yang diberikan untuk Badan Amal yang legal, pengelola panti jompo, panti asuhan dan panti lainnya yang membantu orang yang membutuhkan.

Selain hal di atas, menurut saya asuransi sosial yaitu BPJS Kesehatan juga merupakan tempat untuk berbuat kebaikan. Sebab prinsip dari Asuransi adalah orang yang sehat menyantuni orang yang tidak sehat. Jadi premi asuransi yang anda bayarkan digunakan untuk memberikan fasilitas kesehatan kepada orang yang melakukan klaim. BPJS Kesehatan membantu penerimanya tanpa melihat historis kesehatan sangat berbeda dengan asuransi kesehatan lain yang komersial. Saking banyaknya masyarakat yang melakukan klaim, tahun lalu bahkan BPJS Kesehatan mengalami defisit.

Dengan membayar BPJS Kesehatan, berarti secara tidak langsung kita ikut menyantuni masyarakat yang tidak / kurang mampu untuk memperoleh fasilitas kesehatan dan menurut saya merupakan salah satu bentuk kebaikan juga. Buat anda yang sudah bekerja di perusahaan formal, kalau tidak salah harusnya sudah dipotong 1% dari gaji dan sisanya sebesar 4% ditanggung perusahaan. Bagi anda yang agak beruntung karena mendapat asuransi kesehatan komersial dari kantor, sebenarnya juga bisa membayar BPJS Kesehatan dengan memasukkan nama orang tua, pembantu, saudara, ipar dan lainnya. Keterangan mengenai besaran biaya bisa dibaca di situs BPJS Kesehatan.

Jangan dilupakan juga dengan Orang Tua. Sebagai pihak yang telah melahirkan dan membesarkan kita, orang tua adalah tempat untuk menanamkan kebaikan yang tiada taranya. Jadi dengan memberikan sebagian pendapatan kita kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk kebaikan. Jika orang tua sudah tiada, bisa ke adik, keponakan atau keluarga kita yang membutuhkan. Pemberian juga harus bijaksana juga tentunya.

Kombinasi dari seluruh hal di atas tentu tidak sedikit, tapi usahakanlah agar setidaknya 10% dari pendapatan kita bisa disisihkan untuk hal yang sifatnya kebaikan.

 

20 - Untuk Investasi20% – Asuransi, Investasi dan Dana Darurat

Untuk anda yang menjadi tulang punggung keluarga, maka sebaiknya adalah memiliki dana darurat sebesar 6 – 12 kali pengeluaran untuk yang sudah berkeluarga atau 3 – 6 kali yang masih lajang.Dana darurat bisa disimpan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10 – 15 tahun pengeluaran. Baru setelah itu melakukan asuransi. Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis sebaiknya punya namun jika kalau tidak ada bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Tapi jika anda ingin memiliki pelayanan asuransi dari rumah sakit swasta, maka asuransi komersial bisa menjadi pertimbangan. Cara yang lebih efisien untuk menjaga risiko tersebut adalah dengan hidup sehat, pikiran positif, selalu bahagia dan rajin berolah raga.

Baru setelah dana darurat dan asuransi dimiliki sisanya baru kita melakukan investasi. Investasi juga bisa dibagi menjadi 2 macam. Jika kita masih baru berkarir, maka investasinya difokuskan pada pengembangan diri. Jangan ragu untuk ikut seminar, kursus, pelatihan atau membaca buku yang bisa meningkatkan kemampuan kita. Sebab dengan demikian, kita bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari pemberi kerja ataupun memiliki usaha yang sukses.

Untuk anda yang sudah cukup berumur, baik yang fokus di pekerjaan ataupun berwirausaha baru kita fokus pada investasi membangun aset produktif seperti reksa dana. Kita juga bisa menyiapkan dana darurat, asuransi dan investasi sekaligus, namun patokannya adalah sekitar 20% dari pendapatan anda.

30 - Cicilan Produktif30% – Cicilan Produktif

Dengan harga tanah dan properti yang semakin meningkat, adalah hampir tidak mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia untuk bisa memiliki aset tanpa harus berutang. Jadi memiliki Kredit Kepemilikan Rumah atau Kredit Kepemilikan Apartemen adalah hal yang wajar. Kemudian sarana tranportasi umum di Indonesia juga tidak bagus2 amat. Jadi sampai kereta api cepat, MRT jadi, rasa-rasanya kendaraan masih akan menjadi kebutuhan. Demikian pula cicilan untuk memiliki kendaraan bermotor tersebut.

Sepanjang hutang yang kita miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30% dari penghasilan masih bisa dikatakan wajar.Menurut saya, sewa rumah juga bisa dimasukkan dalam kategori ini. Bedanya jika KPR kita mencicil sampai dengan waktu tertentu, sementara kalau sewa kita mencicil seumur hidup.

Bagaimana kalau lebih dari 30% dan masih tetap disetujui oleh bank? Sebenarnya tidak apa2 juga tapi anda harus sadar bahwa anda mengambil risiko.

Risiko yang paling besar adalah bagaimana jika tiba2 anda kehilangan pekerjaan karena kondisi perusahaan sedang kurang baik? Ingat karena krisis harga minyak, pekerjaan yang dulunya mapan di bidang perminyakan juga tidak selamat dari PHK. Bahkan untuk perusahaan besar yang tidak bergerak di bidang minyak juga bisa terpengaruh perkembangan teknologi. Ingat bagaimana teknologi CD dan DVD membuat perusahaan kaset tutup dan perkembangan internet membuat perusahaan penjual DVD tutup? Siklus seperti ini masih akan terus ada.

Cara yang aman adalah menjaga cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan dan memiliki dana darurat untuk menghindari risiko tersebut.

 

40 - Kebutuhan Hidup40% – Kebutuhan Hidup

Untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari biaya makan minum, air dan listrik, tranportasi, rekreasi, dan lain-lain usahakan sebesar 40% dari penghasilan. Jika UMR jakarta adalah Rp 3,1 juta dan anda tidak memiliki penghasilan tambahan sama sekali, maka kira-kira 40% x Rp 3,1 juta = Rp 1.24 juta dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Cukup atau tidak? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Kalau dibilang tidak cukup, buktinya masih terdapat penduduk Jakarta yang mendapat penghasilan sekian dan masih bertahan hidup.

Kalau dibilang kurang, ya untuk Jakarta penghasilan sebesar apapun bisa tidak cukup. Sebagai contoh, jika anda senang makan di Mal di kawasan Pacific Place Jakarta, sekali makan setidaknya Rp 200 – 300rb per orang dan itu minimal. Kecuali anda makan di kantin karyawan di basement parkir mobilnya, mungkin Rp 15-20 rb masih bisa dapat. Kalau setiap hari makan di mal tersebut, maka Rp 10 juta per bulanpun saya yakin masih kurang.

Ada banyak cara untuk mensiasati hal ini, mulai dari memasak dan makan ramai2 di kos2an, makan dengan menu vegetarian, naik kendaraan umum, atau jangan sering-sering jalan-jalan.

Bagaimana jika angka di atas tidak bisa diterapkan karena kurang?

Sekali lagi, yang namanya angka selalu relatif. Namun jika menurut anda angka tersebut kurang menurut saya yang bisa dilakukan antara lain

  1. Menurunkan gaya hidup – karena tuntutan untuk “bergaya” dalam hidup, terkadang sebagian orang menghabiskan uang lebih banyak dari kemampuannya. Dengan menurunkan gaya hidup seperti menggunakan HP yang lebih murah, tidak makan di restoran, tidak sering jalan-jalan ke mal dan lainnya biaya kebutuhan hidup bisa dikurangi.
  2. Membedakan Keinginan dengan Kebutuhan – karena tidak bisa membedakan antara Keinginan yang tidak ada juga tidak apa2 dengan Kebutuhan yang kalau tidak ada kita tidak bisa bekerja atau bahkan mati, banyak penghasilan yang dihabiskan untuk memenuhi keinginan. Yang namanya keinginan itu tidak terbatas, dengan belajar mengendalikan keinginan secara tidak langsung juga membantu kita menghemat pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
  3. Meningkatkan Penghasilan – kalau semuanya sudah dilakukan dan masih tidak cukup, berarti ini tanda bagi anda untuk meningkatkan penghasilan. Silakan bekerja lebih keras, lebih giat dan lebih smart untuk bisa mendapatkan kenaikan penghasilan.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:
  1. Hani
    July 4th, 2020 at 16:57 | #1

    Selamat sore, kami baru menikah dgn gaji 6jt perbulan. Cicilan 3jt, asuransi 500 dan dana untuk kebaikan 500. Bagaimana menurut anda pak?

    • Rudiyanto
      July 4th, 2020 at 18:50 | #2

      Sore bu Hani,

      Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya.

      Mengenai kondisi keuangan keluarga anda, menurut saya dijalani saja. Suami dan istri jika sama2 bekerja bisa lebih giat lagi sehingga ada kenaikan di masa yang akan datang.

      Komentar saya untuk asuransi, dengan kondisi yang ada sekarang lebih baik dialokasikan untuk bpjs kesehatan daripada asuransi perusahaan swasta.

      Jika dari pekerjaan anda sudah ada pendaftaran ke bpjs langsung, maka untuk asuransi swastanya tidak apa2 jika dirasa kuat untuk dilanjutkan meskipun saya pribadi lebih menyarankan untuk ditabung di dana darurat.

      Jika pendapatan gabungan sudah di atas 10 juta baru mulai pertimbangkan lagi yg namanya asuransi swasta

      Semoga bermanfaat

  2. Lasmaida Gultom
    July 16th, 2020 at 15:46 | #3

    Selamat sore pak Rudianto,

    Saya Ida seorang IRT dan saat ini masih bekerja, penghasialan saya dan suami sebulan kurang lebih 11.000.000.

    pengeluaran:
    Arisan : 2.000.0000 (setelah cair di depositokan) masih ada 7 x pembayaran lagi ) (saya anggap ini tabungan tanpa bunga
    KPR rumah : 900.000/bln (tapi belum ditempati karna jarak saya bekerja terlalu jauh jadi saat ini nyewa
    Kontrakan : 500.000
    ART : 1.000.000
    cicilan CC : 1.500.000 sisa 5 bulan
    Tabungan berjangka : 500.000
    biaya hidup : 4.000.000
    BPJS kesehatan dibayarkan dari kantor suami,
    tabungan deposito : 53.000.000 ( apakah ini termasuk biaya darurat? karna kadang bingung biaya darurat dan tabungan biasa) apakah perlu dibagi 2 ?
    untuk kebaikan, kadang2 dilakukan jadi tidak rutin

    oh ya minggu lalu saya baru tutup asuransi saya sebelum jatuh tempo, masih sisa 2 tahun lagi, saya niatnya tadinya mau tanbungan berjangka tetapi saya baru sadar setelah 5 tahun itu sama bank dimasukkan ke asuransi jiwa yg ada nilai investasinya, saya dari awal tidak niat untuk masuk asuransi jiwa karna hanya ingin fokus tabungan buat masa depan anak makanya dengan terpaksa saya tutup itu polis. apakah pilihan saya untuk tutup polis tersebut salah?

    dari semua itu apakah pembagian pengeluaran saya sudah benar?

  3. Lasmaida Gultom
    July 16th, 2020 at 16:27 | #4

    Selamat sore pak Rudianto,

    Saya Ida seorang IRT dan saat ini masih bekerja, penghasialan saya dan suami sebulan kurang lebih 11.000.000.

    pengeluaran:
    Arisan : 2.000.0000 (setelah cair di depositokan) masih ada 7 x pembayaran lagi ) (saya anggap ini tabungan tanpa bunga
    KPR rumah : 900.000/bln (tapi belum ditempati karna jarak saya bekerja terlalu jauh jadi saat ini nyewa
    Kontrakan : 500.000
    ART : 1.000.000
    cicilan CC : 1.500.000 sisa 5 bulan
    Tabungan berjangka : 500.000
    biaya hidup : 4.000.000
    BPJS kesehatan dibayarkan dari kantor suami,
    tabungan deposito : 53.000.000 ( apakah ini termasuk biaya darurat? karna kadang bingung biaya darurat dan tabungan biasa) apakah perlu dibagi 2 ?
    untuk kebaikan, kadang2 dilakukan jadi tidak rutin

    oh ya minggu lalu saya baru tutup asuransi saya sebelum jatuh tempo, masih sisa 2 tahun lagi, saya niatnya tadinya mau tanbungan berjangka tetapi saya baru sadar setelah 5 tahun itu sama bank dimasukkan ke asuransi jiwa yg ada nilai investasinya, saya dari awal tidak niat untuk masuk asuransi jiwa karna hanya ingin fokus tabungan buat masa depan anak makanya dengan terpaksa saya tutup itu polis. apakah pilihan saya untuk tutup polis tersebut salah?

    dari semua itu apakah pembagian pengeluaran saya sudah benar?

    @Lasmaida Gultom

    Lasmaida Gultom :
    Selamat sore pak Rudianto,
    Saya Ida seorang IRT dan saat ini masih bekerja, penghasialan saya dan suami sebulan kurang lebih 11.000.000.
    pengeluaran:
    Arisan : 2.000.0000 (setelah cair di depositokan) masih ada 7 x pembayaran lagi ) (saya anggap ini tabungan tanpa bunga
    KPR rumah : 900.000/bln (tapi belum ditempati karna jarak saya bekerja terlalu jauh jadi saat ini nyewa
    Kontrakan : 500.000
    ART : 1.000.000
    cicilan CC : 1.500.000 sisa 5 bulan
    Tabungan berjangka : 500.000
    biaya hidup : 4.000.000
    BPJS kesehatan dibayarkan dari kantor suami,
    tabungan deposito : 53.000.000 ( apakah ini termasuk biaya darurat? karna kadang bingung biaya darurat dan tabungan biasa) apakah perlu dibagi 2 ?
    untuk kebaikan, kadang2 dilakukan jadi tidak rutin
    oh ya minggu lalu saya baru tutup asuransi saya sebelum jatuh tempo, masih sisa 2 tahun lagi, saya niatnya tadinya mau tanbungan berjangka tetapi saya baru sadar setelah 5 tahun itu sama bank dimasukkan ke asuransi jiwa yg ada nilai investasinya, saya dari awal tidak niat untuk masuk asuransi jiwa karna hanya ingin fokus tabungan buat masa depan anak makanya dengan terpaksa saya tutup itu polis. apakah pilihan saya untuk tutup polis tersebut salah?
    dari semua itu apakah pembagian pengeluaran saya sudah benar?

  4. Rudiyanto
    July 17th, 2020 at 11:38 | #5

    @Lasmaida Gultom
    Selamat siang ibu Lasmaida,

    Terima kasih atas informasi yang diberikan. Terkait pertanyaan anda :
    1. Tabungan deposito Rp 53 juta apakah termasuk dana darurat?
    Menurut saya iya. Sepanjang biaya hidup anda bisa ditutupi dari penghasilan bulanan tanpa harus bongkar deposito atau tabungan, menurut saya tidak perlu dipecah jadi 2. Total pengeluaran tetap anda adalah kurang lebih Arisan + KPR + Kontrakan + ART + Biaya Hidup = Rp 8.9 juta. Dikalikan 6 Rp 53.4 juta, kalau kali 12 = Rp 106.8 juta.

    Idealnya dana darurat anda berkisar di antara Rp 53 – 106 juta tersebut dan sudah tercapai. Kalaupun anda mau menargetkan Rp 106 juta, maka bisa mempertimbangkan deposito atau reksa dana pasar uang. Bisa 50% di Deposito dan 50% di Pasar Uang karena relatif lebih mudah dicairkan.

    2.Apakah menutup polis asuransi itu benar atau salah ?
    Untuk keputusan keuangan, menurut saya tidak ada benar atau salah. Selalu disesuaikan dengan tingkat kenyamanan masing-masing. Sebagai analogi, misalkan deposito di Bank BCA lebih kecil daripada katakanlah Bank BPR di kota anda, tapi karena fasilitas dan rasa aman, maka orang menerima bunga yang ditawarkan tersebut.

    Produk bancassurance yang anda beli di bank tersebut, coba anda pelajari. Jika nilainya lebih kecil daripada nilai setoran anda selama beberapa tahun, kemungkinan itu adalah produk unit link.

    Cara kerja unit link memang demikian, ada potongan asuransi dan perlindungan beberapa manfaat asuransi sehingga nilai tunai yang diterima seringkali lebih kecil daripada nilai setoran.

    Tapi ada juga produk perbankan seperti asuransi pendidikan. Jadi nilainya adalah dari setoran awal ditambah bunga sedikit dan selama proses menabung, ada perlindungan asuransi jiwa.

    Bisa dipastikan dulu seperti apa produk asuransi dari bank yang anda maksud, dan coba cek nilai tunai katakan anda cairkan hari ini dan jika dilanjutkan sampai 2 tahun lagi. Kalau misalkan masuk ke kategori kedua, dimana semacam tabungan pendidikan yang nilai pokoknya minimal sama, menurut saya masih bisa diperpanjang.

    3. Apakah pembagian pengeluaran sudah benar?
    Menurut saya jika mampu memiliki tabungan deposito, berarti sudah bagus. Sebab orang zaman sekarang mau penghasilan besar atau kecil, suka tidak ada investasi / tabungan karena kebiasaan hidup yang konsumtif.

    Saran saya, untuk arisan yang sudah cair nanti, bisa dipertimbangkan untuk melunasi kartu kredit sekaligus, dengan catatan pelunasan tersebut bisa menghemat biaya bunga. Jika tidak ada biaya bunga, karena merupakan transaksi angsuran, maka tetap bayar saja.

    Untuk angsuran, jika memang ada pertimbangan sosial dan percaya sama yang pegang uang, maka silakan lanjut tidak apa2. Jika tidak, menurut saya bisa dicicil di Reksa Dana Pasar Uang.

    Semoga bermanfaat

  5. Lasmaida Gultom
    July 17th, 2020 at 13:16 | #6

    @Rudiyanto

    terima kasih pak Rudiyanto untuk jawaban dan sarannya,

    Untuk asuransi sudah saya tutup dengan pertimbangan kalau saya tunggu sampai tahun ke 7 nilai uang yang saya cairkan akan tetap dibawah nilai setoran saya makanya saya langsung tutup saya ganti ke tabungan berjangka yang disediakan bank meskipun bunga nya tidak seberapa tetapi nilai uang saya tetap.

    Untuk kartu kredit tidak ada bunga pak karna cicilan 0%.

    untuk reksa dana saya masih kurang paham, apakah saya bisa dibantu?

  6. Rudiyanto
    July 17th, 2020 at 13:22 | #7

    @Lasmaida Gultom
    Baik bu jika memang anda sudah menimbang2 seluruh aspek risk dan returnnya.

    Untuk dana darurat, menurut saya bisa mempertimbangkan reksa dana pasar uang.

    Perihal pendaftaran dan cara kerjanya, kalau misalkan berminat dengan tempat saya bekerja yaitu Panin Asset Management, bisa menghubungi Whatapps Center Panin AM di +62 818 0699 0622 / +62 818 0699 0633

    Silakan pertimbangkan dengan baik. Saran saya, untuk tujuan pendidikan anak atau dana darurat, sebaiknya tetap di reksa dana yang konservatif seperti Pasar Uang. Baru ketika ada tujuan lain dan sudah siap dengan risiko, baru mulai di reksa dana lain seperti pendapatan tetap, campuran dan saham.

    Reksa dana pasar uang juga bisa menjadi pembanding untuk tabungan berjangka anda.

    Semoga bermanfaat

  7. Julius Xavier
    July 24th, 2020 at 20:17 | #8

    Selamat malam pak,

    Perkenalkan saya Julius, usia saya 23 tahun. Saat ini penghasilan tetap saya sebesar 4,4 juta/bulan.
    Pengeluaran saya perbulan ialah sbb :
    Kosan : 800 rb
    Untuk orangtua : 650 rb
    Makanan & Laundry : 800 rb
    Internet : 200 rb
    Transportasi : 100 rb
    Biaya darurat : 500 rb
    Tabungan rencana : 200 rb (okt 2019 – okt 2020)
    Tabungan Emas dan Reksadana : 1 jt (bisa kurang atau lebih tergantung adanya lemburan)

    Yang ingin saya tanyakan adalah :
    1. Bagaimana pendapat bapak mengenai pembagian keuangan tersebut?
    2. Awalnya tabungan rencana tersebut akan saya gunakan untuk liburan, namun karena pandemi ini kemungkinan akan batal. Menurut bapak, apakah sebaiknya tabungan tersebut setelah cair saya gunakan untuk investasi saja atau tetap pada tujuan awal dalam artian untuk “dana hiburan”?
    3. Saya orang yang sangat suka kuliner, jadi terkadang Biaya Darurat saya terpakai untuk itu. Tapi saya menjadikan itu sebagai Utang untuk saya bayar dibulan kemudian. Apakah ini tepat?
    4. Untuk tabungan emas dan reksadana, menurut bapa mana yang lebih cocok untuk investasi jangka panjang? Dan mana yang harus lebih banyak untuk diinvestasikan antara keduanya? Selama hampir setahun ini saya melakukannya, jujur tabungan emas lebih menguntungkan, namun saya belum tahu bagaimana untuk jangka panjangnya.

    Terimakasih

    • Rudiyanto
      July 24th, 2020 at 21:52 | #9

      Selamat malam pak Julius,

      Terima kasih atas sharing informasinya.

      1. Terus terang saya kagum sekali dengan anda. Kalau anda sudah kost berarti tinggal mandiri terpisah dengan keluarga.

      Banyak orang di usia dan level gaji anda bukannya menabung, bahkan tidak sedikit yang berhutang. Boro2 bisa ngasih ke orang tua. Saya sendiri pun di usia segitu teras terang masih belum independen.

      Terkadang kalau ketemu beberapa bulan sekali saya masih diberi uang saku.

      Jadi menurut saya sangat hebat sekali. Besar kecilnya gaji itu relatif, kalau mau usaha dan kerja keras, sudah pasti akan meningkat di masa mendatang.

      Apabila kebiasaan anda melakukan pembagian pos2 keuangan ini dapat dipertahankan ketika pendapatan anda meningkat, maka saran saya anda sudah mulai harus pasang target kenaikan penghasilan yang realistis.

      Misalkan di usia sekian sudah mesti jabatan xx dengan take home pay yy, kemudian sekian tahun lagi jabatan atau gaji zz.

      Tujuan tersebut harus realistis tapi juga didukung dengan upaya2 terukur dan kerja keras yang tidak mengenal lelah dan semangat pantang menyerah.

      2. Sebenarnya terserah saja. Melihat pengeluaran anda, sepertinya anda orang yang sederhana dan berhemat. Kadang2 di usia muda anda perlu melihat-lihat ke tempat lain utk memperkaya pengalaman hidup dan pergaulan. Semua ini tidak gratis tentunya dan boleh saja sepanjang diambil dari pos yang rencananya sudah untuk dihabiskan.

      Asal jangan lepas kontrol atau keenakan sehingga tanpa sadar menghabiskan lebih banyak yang dianggarkan krn alasan YOLO

      3. Sama seperti no 2, anda butuh pengalaman hidup yang lebih banyak. Silakan saja sepanjang bisa dikendalikan.

      4. Tetap dilanjutkan saja pak apa yang sudah anda jalankan sekarang. Bobotnya disesuaikan dengan apa yang anda yakini mana yg lebih baik.

      Hanya saja tetap lakukan diversifikasi. Ada tahun2 dimana reksa dana kalah dengan emas seperti tahun ini, tapi bisa saja situasi berbalik di tahun yang lain. Pertimbangkan juga reksa dana jenis selain saham seperti pendapatan tetap atau campuran.

      Terus terang saya juga tidak tahu mana yang akan menang dalam jangka panjang. Mengapa tidak membagi dalam beberapa jenis aset untuk jaga2??

      Demikian pak, terima kasih untuk sharingnya. Semoga bermanfaat

  8. Julius Xavier
    July 24th, 2020 at 23:22 | #10

    @Rudiyanto
    Terimakasih banyak pak untuk tanggapan dan sarannya.

    Kebetulan memang tempat saya kerja berbeda kota dengan rumah saya, jadi mau ga mau ya harus hidup mandiri hehe

    Untuk target seperti yang bapak sebutkan diatas, saat ini mungkin bisa dibilang masih agak sulit untuk saya menentukan target tersebut karena status saya masih pegawai kontrak dan tidak ada kejelasan untuk kedepannya. Tapi jika dikemudian hari terdapat pengangkatan atau mungkin saya bisa mendapat pekerjaan lain yang lebih pasti, saya akan coba menerapkan saran yang bapak berikan kepada saya.

    Ya benar pak, itu yang selalu saya pikirkan. Saya ingin mencoba mengeksplor berbagai hal sepanjang saya bisa melakukannya, karena yang sering saya dengar dari orang-orang (at least yang ada dilingkungan saya) katanya akan sulit melakukan hal yang kita inginkan ketika kita sudah memiliki tanggungan. Namun tentunya, saya juga tidak ingin masa muda saya hanya dihabiskan untuk kesenangan disaat itu. Intinya saya ingin mencoba menyeimbangkan antara masa depan dan masa saat ini. Yah, walaupun terkadang memang sedikiiit lepas kontrol.

    Baik pak, akan tetap saya lanjutkan keduanya. Sebetulnya saya sudah mendiversifikasi reksadana saya ke pasar uang, pendapatan tetap, dan saham. Tapi mungkin karena situasi saat ini, jadi hasilnya masih belum terlihat terlalu bagus.

    Nah terkait dengan reksadana, saya pernah membaca bahwa masing2 jenis reksadana memiliki target jangka waktunya tersendiri. Bagaimana pendapat bapak mengenai investasi tanpa tujuan?
    Sejujurnya sampai saat ini saya masih belum menentukan tujuan dari investasi saya tersebut, saya hanya melakukannya seperti mengalir saja.

    Terimakasih, salam

    • Rudiyanto
      July 24th, 2020 at 23:30 | #11

      Perihal karir atau usaha memang tidak ada yg bisa memastikan. Satu hal yang pasti, proses tidak akan mengkhianati hasil.

      Sekalipun anda belum mencapai hasil yang diharapkan, asalkan prosesnya benar dan dilakukan dengan effort berlipat ganda, kesempatan tidak selalu datang dari tempat kerja saja, tapi bisa juga dari client atau kompetitor yang melihat kinerja anda.

      Utk jangka waktu, sebetulnya itu semacam perkiraan saja. Pasar uang untuk kurang dari 1 tahun, pendapatan tetap 1-3 tahun, campuran 3-5 dan saham di atas 5 tahun

      Namun dgn kondisi sekarang ini, ada baiknya dilakukan diversifikasi berapa lamapun tujuan investasi anda. Yang penting tidak masuk ke tempat bodong atau tempat yg benar tapi penawarannya tidak sesuai aturan

      Mengalir juga tidak apa2. Sebagaimana saran saya di atas, coba fokus pada peningkatan karir / penghasilan. Targetkan dalam xx tahun bisa bawa pulang setidaknya Rp 15 juta sebulan entah itu dari gaji, komisi, passive income investasi atau kombinasinya

      Tidak mudah memang, tapi jalan akan selalu ada

      Semoga berhasil dan sehat selalu

  9. Julius Xavier
    July 24th, 2020 at 23:48 | #12

    @Rudiyanto
    Siap pak, sekali lagi terimakasih banyak atas sharing ilmunya, sangat bermanfaat untuk saya.

    Semoga bapak dan keluarga juga senantiasa diberikan kesehatan. Salam.

Comment pages
1 3 4 5 5946


%d bloggers like this: