Home > Aset Alokasi, Perencanaan Investasi > Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Prinsip 10 - 20 - 30 - 40

Perencanaan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perencanaan investasi. Sebab darimana uang untuk investasi jika gaji sudah terlanjur dihabiskan semua. Oleh karena itu, sebelum melakukan investasi, yang pertama kali harus dilakukan seharusnya adalah bagaimana mengelola keuangan, tepatnya mengelola pendapatan kita dengan baik.

Untuk pengelolaan keuangan, saya banyak belajar dari Financial Planner baik yang independen ataupun dari rekan-rekan kantor saya yang sudah memiliki sertifikasi perencanaan keuangan. Khusus untuk topik yang saya sharing kali ini, saya belajar rekan saya di Panin Asset Management yaitu pak Ronald Marthin Hutagaol CFP®, QWP®, AEPP® yang juga bersama-sama saya mengadakan seminar Cerdas Mengelola Keuangan 2016 Bali pada bulan Januari yang lalu.

Pada prinsipnya, yang namanya pendapatan harus dihabiskan. Hanya saja cara untuk menghabiskannya harus tepat. Jika tidak, jangankan untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin kita harus terpaksa berutang untuk memenuhinya. Cara untuk menghabiskan pendapatan yang baik adalah menggunakan prinsip 10 – 20 – 30 -40. Seperti apa prinsip ini?

10 - Untuk Kebaikan10% – Kebaikan

Misalkan anda baru mulai bekerja dan mendapatkan gaji sebesar UMR Jakarta yaitu Rp 3.1 juta. Dari uang makan, uang transport dan komisi katakanlah anda bisa mengantongi Rp 5 juta per bulan. Maka angka 10 dari Prinsip 10 – 20 – 30 – 40 ini adalah anda wajib menghabiskan 10% dari pendapatan Rp 5 juta tersebut yaitu Rp 500.000 untuk hal yang sifatnya kebaikan.

Apa saja kategori yang bisa disebut Kebaikan ? Menurut saya bisa ada banyak. Mulai dari sumbangan yang diberikan setiap minggu ketika anda mengunjungi Mesjid, Wihara, Gereja, Pura, ataupun tempat Ibadah lainnya. Kemudian uang yang diberikan untuk Badan Amal yang legal, pengelola panti jompo, panti asuhan dan panti lainnya yang membantu orang yang membutuhkan.

Selain hal di atas, menurut saya asuransi sosial yaitu BPJS Kesehatan juga merupakan tempat untuk berbuat kebaikan. Sebab prinsip dari Asuransi adalah orang yang sehat menyantuni orang yang tidak sehat. Jadi premi asuransi yang anda bayarkan digunakan untuk memberikan fasilitas kesehatan kepada orang yang melakukan klaim. BPJS Kesehatan membantu penerimanya tanpa melihat historis kesehatan sangat berbeda dengan asuransi kesehatan lain yang komersial. Saking banyaknya masyarakat yang melakukan klaim, tahun lalu bahkan BPJS Kesehatan mengalami defisit.

Dengan membayar BPJS Kesehatan, berarti secara tidak langsung kita ikut menyantuni masyarakat yang tidak / kurang mampu untuk memperoleh fasilitas kesehatan dan menurut saya merupakan salah satu bentuk kebaikan juga. Buat anda yang sudah bekerja di perusahaan formal, kalau tidak salah harusnya sudah dipotong 1% dari gaji dan sisanya sebesar 4% ditanggung perusahaan. Bagi anda yang agak beruntung karena mendapat asuransi kesehatan komersial dari kantor, sebenarnya juga bisa membayar BPJS Kesehatan dengan memasukkan nama orang tua, pembantu, saudara, ipar dan lainnya. Keterangan mengenai besaran biaya bisa dibaca di situs BPJS Kesehatan.

Jangan dilupakan juga dengan Orang Tua. Sebagai pihak yang telah melahirkan dan membesarkan kita, orang tua adalah tempat untuk menanamkan kebaikan yang tiada taranya. Jadi dengan memberikan sebagian pendapatan kita kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk kebaikan. Jika orang tua sudah tiada, bisa ke adik, keponakan atau keluarga kita yang membutuhkan. Pemberian juga harus bijaksana juga tentunya.

Kombinasi dari seluruh hal di atas tentu tidak sedikit, tapi usahakanlah agar setidaknya 10% dari pendapatan kita bisa disisihkan untuk hal yang sifatnya kebaikan.

 

20 - Untuk Investasi20% – Asuransi, Investasi dan Dana Darurat

Untuk anda yang menjadi tulang punggung keluarga, maka sebaiknya adalah memiliki dana darurat sebesar 6 – 12 kali pengeluaran untuk yang sudah berkeluarga atau 3 – 6 kali yang masih lajang.Dana darurat bisa disimpan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10 – 15 tahun pengeluaran. Baru setelah itu melakukan asuransi. Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis sebaiknya punya namun jika kalau tidak ada bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Tapi jika anda ingin memiliki pelayanan asuransi dari rumah sakit swasta, maka asuransi komersial bisa menjadi pertimbangan. Cara yang lebih efisien untuk menjaga risiko tersebut adalah dengan hidup sehat, pikiran positif, selalu bahagia dan rajin berolah raga.

Baru setelah dana darurat dan asuransi dimiliki sisanya baru kita melakukan investasi. Investasi juga bisa dibagi menjadi 2 macam. Jika kita masih baru berkarir, maka investasinya difokuskan pada pengembangan diri. Jangan ragu untuk ikut seminar, kursus, pelatihan atau membaca buku yang bisa meningkatkan kemampuan kita. Sebab dengan demikian, kita bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari pemberi kerja ataupun memiliki usaha yang sukses.

Untuk anda yang sudah cukup berumur, baik yang fokus di pekerjaan ataupun berwirausaha baru kita fokus pada investasi membangun aset produktif seperti reksa dana. Kita juga bisa menyiapkan dana darurat, asuransi dan investasi sekaligus, namun patokannya adalah sekitar 20% dari pendapatan anda.

30 - Cicilan Produktif30% – Cicilan Produktif

Dengan harga tanah dan properti yang semakin meningkat, adalah hampir tidak mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia untuk bisa memiliki aset tanpa harus berutang. Jadi memiliki Kredit Kepemilikan Rumah atau Kredit Kepemilikan Apartemen adalah hal yang wajar. Kemudian sarana tranportasi umum di Indonesia juga tidak bagus2 amat. Jadi sampai kereta api cepat, MRT jadi, rasa-rasanya kendaraan masih akan menjadi kebutuhan. Demikian pula cicilan untuk memiliki kendaraan bermotor tersebut.

Sepanjang hutang yang kita miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30% dari penghasilan masih bisa dikatakan wajar.Menurut saya, sewa rumah juga bisa dimasukkan dalam kategori ini. Bedanya jika KPR kita mencicil sampai dengan waktu tertentu, sementara kalau sewa kita mencicil seumur hidup.

Bagaimana kalau lebih dari 30% dan masih tetap disetujui oleh bank? Sebenarnya tidak apa2 juga tapi anda harus sadar bahwa anda mengambil risiko.

Risiko yang paling besar adalah bagaimana jika tiba2 anda kehilangan pekerjaan karena kondisi perusahaan sedang kurang baik? Ingat karena krisis harga minyak, pekerjaan yang dulunya mapan di bidang perminyakan juga tidak selamat dari PHK. Bahkan untuk perusahaan besar yang tidak bergerak di bidang minyak juga bisa terpengaruh perkembangan teknologi. Ingat bagaimana teknologi CD dan DVD membuat perusahaan kaset tutup dan perkembangan internet membuat perusahaan penjual DVD tutup? Siklus seperti ini masih akan terus ada.

Cara yang aman adalah menjaga cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan dan memiliki dana darurat untuk menghindari risiko tersebut.

 

40 - Kebutuhan Hidup40% – Kebutuhan Hidup

Untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari biaya makan minum, air dan listrik, tranportasi, rekreasi, dan lain-lain usahakan sebesar 40% dari penghasilan. Jika UMR jakarta adalah Rp 3,1 juta dan anda tidak memiliki penghasilan tambahan sama sekali, maka kira-kira 40% x Rp 3,1 juta = Rp 1.24 juta dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Cukup atau tidak? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Kalau dibilang tidak cukup, buktinya masih terdapat penduduk Jakarta yang mendapat penghasilan sekian dan masih bertahan hidup.

Kalau dibilang kurang, ya untuk Jakarta penghasilan sebesar apapun bisa tidak cukup. Sebagai contoh, jika anda senang makan di Mal di kawasan Pacific Place Jakarta, sekali makan setidaknya Rp 200 – 300rb per orang dan itu minimal. Kecuali anda makan di kantin karyawan di basement parkir mobilnya, mungkin Rp 15-20 rb masih bisa dapat. Kalau setiap hari makan di mal tersebut, maka Rp 10 juta per bulanpun saya yakin masih kurang.

Ada banyak cara untuk mensiasati hal ini, mulai dari memasak dan makan ramai2 di kos2an, makan dengan menu vegetarian, naik kendaraan umum, atau jangan sering-sering jalan-jalan.

Bagaimana jika angka di atas tidak bisa diterapkan karena kurang?

Sekali lagi, yang namanya angka selalu relatif. Namun jika menurut anda angka tersebut kurang menurut saya yang bisa dilakukan antara lain

  1. Menurunkan gaya hidup – karena tuntutan untuk “bergaya” dalam hidup, terkadang sebagian orang menghabiskan uang lebih banyak dari kemampuannya. Dengan menurunkan gaya hidup seperti menggunakan HP yang lebih murah, tidak makan di restoran, tidak sering jalan-jalan ke mal dan lainnya biaya kebutuhan hidup bisa dikurangi.
  2. Membedakan Keinginan dengan Kebutuhan – karena tidak bisa membedakan antara Keinginan yang tidak ada juga tidak apa2 dengan Kebutuhan yang kalau tidak ada kita tidak bisa bekerja atau bahkan mati, banyak penghasilan yang dihabiskan untuk memenuhi keinginan. Yang namanya keinginan itu tidak terbatas, dengan belajar mengendalikan keinginan secara tidak langsung juga membantu kita menghemat pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
  3. Meningkatkan Penghasilan – kalau semuanya sudah dilakukan dan masih tidak cukup, berarti ini tanda bagi anda untuk meningkatkan penghasilan. Silakan bekerja lebih keras, lebih giat dan lebih smart untuk bisa mendapatkan kenaikan penghasilan.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:
  1. siti
    October 11th, 2019 at 10:56 | #1

    Selamat Pagi pak,
    Saya seorang istri yang dulu bekerja tapi sekarang tidak dikarenakan harus bedrest (hamil anak pertama). Kami sudah 4 tahun menikah belum memiliki rumah karna selama 3 tahun kami memfokuskan dana kami untuk program hamil full.

    Gaji suami saya di angka 13jt, dengan bonus dan THR x gaji tiap tahunnya. Tempat tingal kami di Bogor dan suami bekerja di daerah SCBD. Semua management keuangan suami serahkan ke saya. Tabungan yang sudah terkumpul kurang lebih 60jt. Tidak ada cicilan. Rumah saat ini menumpang di rumah ortu saya yg kosong.

    Selama ini pembagian dana yang saya pisahkan sbb:
    1. 10 – 15 % dana kebaikan
    2. ART 1juta / bulan
    3. Tabungan rumah 3 – 5 jt / bulan (kalau tiap bulan ada sisa lebih kita masukkan ke tabungna)
    4. Bulanan 5juta berdua (include pulsa, bensin, listrik, rokok suami)
    5. Tabungan bayi 1 jt / bulan
    6. Ongkos PP suami dengan kereta dan mrt kisaran 800ribu

    Yang saya ingin tanyakan, apakah cara saya selama ini sudah benar? lalu bagaimana cara
    1. memisahkan antara dana untuk kebutuhan anak kami nanti dengan tabungan rumah yang mungkin nanti akan kita beli dalam waktu dekat
    2. dana umroh
    3. pendidikan anak
    4. dana darurat

    Terimakasih atas bantuannya

  2. Rudiyanto
    October 11th, 2019 at 15:45 | #2

    @Denny
    Selamat sore Pak Denny,

    Komplit sekali informasi yang diberikan. Bisa menyusun laporan pemasukan (apalagi ada beberapa sumber) dan pengeluaran saja itu sudah luar biasa karena merupakan tahap awal dalam mengatur keuangan.

    Banyak orang saya percaya, bahkan tidak tahu secara detail besaran pengeluaran dia setiap bulan kecuali yang sifatnya cicilan seperti KPR, kendaraan atau pinjaman.

    Kalau saya jadi anda, kurang lebih saya akan melakukan sebagai berikut :
    1. Mengumpulkan dana darurat untuk usaha. Prinsipnya jika tiba2 penghasilan tidak ada, karyawan dan operasional masih bisa bertahan hingga 12 bulan. Jadi anggap pengeluaran dari usaha anda adalah Rp 5 juta per bulan, maka setidaknya perlu Rp 60 juta disimpan di tabungan dan reksa dana pasar uang.

    2. Mengumpulkan dana darurat untuk pribadi. Kalau sudah usaha apalagi nantinya berkeluarga, sebaiknya dipisahkan antara keuangan pribadi dan usaha walaupun dijalankan secara rumahan. Biaya hidup di luar karyawan berdasarkan info anda di atas adalah Rp 1.7 juta, menurut saya cuma soal waktu akan meningkat apabila sudah berkeluarga nantinya.

    Untuk itu, saya asumsikan biaya minimal Rp 5 juta per bulan dan anda perlu menyiapkan 3-6 bulan ketika lajang dan 6-12 ketika sudah berkeluarga. Jadi antara 15 hingga 60 juta. Yang sekali lagi dipisahkan dengan dana darurat untuk kegiatan usaha.

    3. Dengan surplus lebih dari Rp 15 juta sebulan, seharusnya anda cuma perlu waktu 1 tahun untuk mengumpulkan kedua dana darurat di atas. Baru setelah itu anda bisa lakukan investasi ke instrumen yang anda mau coba.

    Namanya juga coba, beli saja semua jenis reksa dana dalam nominal yang relatif kecil dulu dan rasakan risk and returnnya. Baru ketika nyaman baru anda tambahkan secara bertahap.

    Semoga bermanfaat

  3. Rudiyanto
    October 11th, 2019 at 16:21 | #3

    @siti
    Selamat sore Ibu Siti,

    Terkait cara mengelola uang, sebenarnya tidak ada salah dan benar epanjang kita tidak terjebak dalam hutang konsumtif, besar pasak daripada tiang, gaya hidup wajar dan kita merasa nyaman.

    Untuk ukuran Jakarta, menurut saya cukup normal. Dan sebenarnya biaya tempat tinggal menjadi lebih hemat karena tinggal di rumah orang tua.

    Perihal tempat tinggal, jika tempatnya sudah nyaman, transportasi PP ke tempat kerja juga menunjang (secara jarak, waktu dan biaya), dan menunjang untuk perkembangan anak (lingkungan, sekolah terdekat) ada baiknya tidak usah pindah.

    Kalau memang mau independen sebenarnya baik juga, tapi bisa dipertimbangkan daripada beli rumah di luar yang biayanya tidak murah kemudian ada biaya pindah kenapa tidak beli dari orang tua sendiri saja. Tetap milik kita, cuma cicilannya ke keluarga sendiri, bahkan bisa bayar cicilan plus bunga ke orang selayaknya KPR.

    Perihal memisahkan pos pengeluaran, cara yang paling gampang adalah memisahkan buku tabungannya. Untuk tabungan DP Rumah, kalau sudah nyaman di satu bank, bisa beli reksa dana pasar uang yang ada di bank tersebut. Jadi yang ada di tabungan untuk kebutuhan anak sementara yang di reksa dana pasar uang untuk DP Rumah.

    Kalau misalkan untuk kebutuhan anak juga sifatnya masih masa depan, maka bisa dibelikan reksa dana pasar uang yang lain agar terpisah. Penarikan reksa dana pasar uang cuma butuh 1 hari kerja sehingga jika tidak mendadak banget seharusnya bisa diprediksikan. Tapi jika tidak, di tabungan juga ok.

    Kalau pengeluaran bersifat harian, kalau di keluarga saya, dilakukan penarikan tunai kemudian dimasukkan dalam amplop sesuai peruntukkan.

    Untuk dana umroh, pendidikan anak dan dana darurat, terus terang membutuhkan informasi lagi yaitu nantinya jika beli rumah, kira-kira cicilannya berapa. Sebab bisa saja 3-5 juta per bulan yang anda dapatkan sekarang itu nanti semuanya dihabiskan untuk cicilan.

    THR yang didapat biasanya juga dihabiskan pada saat lebaran. Sementara untuk bonus, sebaiknya bisa dikumpulkan untuk menambah DP Rumah. Baru kalau ada kelebihan dilakukan investasi.

    Semoga bermanfaat

  4. Denny
    October 11th, 2019 at 17:48 | #4

    @Rudiyanto
    Selamat sore Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas respon bapak mengenai pertanyaan saya

    Untuk poin pertama dan kedua yang bapak sampaikan mengenai dana darurat pribadi dan dana darurat usaha sudah saya lakukan kurang lebih 3 tahun yang lalu

    Dana darurat untuk usaha dan Dana darurat untuk pribadi sudah tersiapkan dengan estimasi dana yang bapak sampaikan.

    Bagaimana dahulu bapak memulai pikiran untuk berinvestasi ? apakah bapak tipikal orang yang high risk dalam berinvestasi ?

    Salam dan Terima Kasih,
    Denny

  5. Rudiyanto
    October 11th, 2019 at 17:52 | #5

    @Denny
    Salam pak Denny,

    Kalau begitu sudah bagus pak. Kebetulan sejak pertama kali bekerja sampai sekarang, bidang saya pasar modal. Kalau dulu saya membuat riset tentang cara melakukan analisa instrumen investasi, sekarang pekerjaan saya adalah memasarkan produk investasi.

    Sebagai analis dan penjual, tentu juga harus percaya dengan produk yang dijual sendiri. Untuk itu, saya memang sudah berinvestasi di reksa dana sejak pertama kali bekerja.

    Perihal high risk, berdasarkan pengalaman saya, umumnya orang akan high risk di awal karena mengharapkan return tinggi di reksa dana saham. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya lebih berpikir untuk membangun portofolio yang terdiri dari beberapa jenis reksa dana mulai dari yang konservatif sampai agresif.

    Ada yang memang posnya berbeda, ada juga yang untuk menyeimbangkan risiko dalam kondisi pasar yang fluktuasi ini.

    Semoga bermanfaat

  6. Denny
    October 11th, 2019 at 20:03 | #6

    @Rudiyanto

    Selamat malam Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas balasan dari bapak

    buku bapak yang berjudul “fit focus finish” sangat menginspirasi

    Terima kasih

  7. Bagus Budi Cahya
    October 12th, 2019 at 21:51 | #7

    Selamat malam Pak Rudiyanto, perkenalkan saya Bagus Budi Cahya.
    Saya seorang karyawan swasta dan saya juga seorang mahasiswa semester akhir. Yang ingin saya tanyakan, untuk biaya kuliah baiknya saya harus mengambil dari dana Investasi apa dari dana Kebutuhan Hidup ya Pak?
    Terima kasih sebelumnya

    • Rudiyanto
      October 12th, 2019 at 22:36 | #8

      Selamat malam pak Bagus,

      Hebat sekali bisa kuliah dan kerja sekaligus. Dibutuhkan determinasi dan motivasi yang kuat untuk bisa melaksanakan keduanya dengan baik.

      Perihal uang kuliah, kalau saya, dimasukkan dalam kategori Cicilan Produktif yg 30%.

      Sebab tujuan dari kuliah adalah meningkatkan produktivitas baik itu ilmu, penghasilan dan atau karir yg lebih baik

      Semoga bermanfaat

  8. Indri
    October 20th, 2019 at 19:55 | #9

    Selamat malam bapak rudiyanto.
    Saya indri mahasiswa smt 7, saat ini selain kuliah saya juga bekerja freelance untuk mendapatkan uang guna menambah uang saku, krn kuliah saya sdh dpt beasiswa pak, jd tidak memikirkan biaya kuliah lagi.
    Pendapatan hasil freelance saya sekitar 500-1jt an tapi sifatnya proyekan jd tidak pasti.
    Namun saya ingin menginvestasilan uang hasil freelance saya ini pak buat masa depan. Karna org tua jg sdh mengantung harapan pd saya untuk membetulkan rumah. Kira” investasi apa yaa pak yg cocok untuk saya dg pendapatan yg tdk tetap tsb ?
    Mohon infonya pak, terimakasih seblumnya

  9. Rudiyanto
    October 23rd, 2019 at 11:18 | #10

    @Indri
    Salam bu Indri,

    Walaupun mendapat beasiswa, untuk kebutuhan sehari-hari tentunya ada biaya juga kan. Apakah dari pendapatan freelance cukup atau masih ada kiriman dari orang tua?

    Kalau masih mengandalkan kiriman orang tua, mungkin ada baiknya uang ini bisa digunakan juga untuk kebutuhan sehari hari atau uang saku menurut istilah anda sambil mengatakan kepada orang tua untuk mengurangi kiriman uang bulanannya.

    Kalau misalkan orang tua anda tetap mengirimkan uang, menurut saya hasil dari freelance anda disimpan di tabungan dan digunakan untuk investasi ke diri anda sendiri misalkan membeli baju kemeja yang bagus waktu wawancara kerja nanti atau membeli alat yang menunjang kegiatan freelance anda.

    Salah satu prinsip dasar dari investasi adalah menyisihkan kelebihan dana setelah semua kebutuhan tercukupi. Kalau kebutuhan masih belum tercukupi, maka fokus untuk mencari penghasilan dulu. Baru setelah punya dan berlebih, kamu pikirkan investasi.

    Semoga bermanfaat

  10. suprianto
    November 12th, 2019 at 19:02 | #11

    Selamat Malam Pak Rudiyanto.
    Saya Suprianto dari Riau usia 37 tahun ,,Mohon pencerahan tentang pengelolaan keuangan,,Saya Bekerja Gaji 10jt/bln (tunjangan) + Bonus / Tahun 10x bulan dari gaji pokok belum termasuk THR..
    Saya juga memiliki penghasilan tambahan rata2 : 20 jt/bulan (Fleksibel) dari hasil kebun Kelapa sawit..dan saat ini memiliki investasi di Saham yg belum pernah saya WD senilai Rp52jt rencana untuk jangka panjang.Untuk aset Tambahan saya memiliki 2 unit mobil..Tanah kebun seluas 12Ha..dan kas senilai hampir 80jt di Bank.Namun saya belum memiliki Rumah Pribadi,menempati Rumah Dinas yg diberikan perusahaan saya.dan saya belum memiliki Asuransi kesehatan komersil,,masih mengandalkan BPJS.
    untuk Hutang bulanan saya :
    cicilan mobil 1 unit yg kredit 4.5jt/bln sisa 6 bulan lg
    Cicilan hutang Koprasi kantr 2 jt/bln
    Cicilan Hutang Bank 1 jt/bln
    pemakaian kartu kredit rata2 3.5jt/bln.

    disini saya tidak merincikan biaya hidup karena saya tdk bisa memastikan pengeluaran /bulan

    bagaimana kah cara penerapan keuangan yg tepat dengan metode dari bapak.???
    agar terbebas dari masalah financial untuk masa depan usia pansiun?
    dan membeli rumah layak tanpa hutang ?

    trimakasih pak …salam sukses///

  11. Rudiyanto
    November 15th, 2019 at 11:32 | #12

    @suprianto
    Selamat siang pak Suprianto,

    Secara umum saya melihat kondisi keuangan anda baik sekali mengingat besarnya pendapatan yang anda peroleh baik langsung dari pemberi kerja ataupun dari tambahan seperti yang anda sebutkan.

    Katakanlah gaji dan kelapa sawit, berarti anda sudah dapat Rp 30 juta per bulan.

    Total cicilan anda adalah Rp 4.5 juta + 2 juta + 1 juta = 7.5 juta
    Kalau dari gaji saja berarti 75%, itu tidak sehat. Sementara dari total income 25% itu termasuk sehat. Hanya saja anda perlu benar2 memastikan income tambahan dari sawit tersebut.

    Sebenarnya dengan penghasilan 30 juta per bulan, sebetulnya anda tidak perlu berhutang ke bank / koperasi lagi bukan? Pakai saja uang yang ada. Penggunaan kartu kredit juga sebaiknya tidak untuk berutang, tapi sebagai sarana pembayaran saja. Artinya semua yang digesek, itu dibayar setiap jatuh tempo sehingga tidak ada bunga.

    Dari konsep 10-20-30-40 di atas, dimana 20% untuk masa depan. Kalau income 30 juta sebulan, berarti Rp 6 juta untuk masa depan. Bisa investasi saham, reksa dana, obligasi, emas dan sebagainya yang menurut anda sesuai. Jadi coba usahakan setiap bulan bisa menabung / berinvestasi minimal sebesar angka tersebut.

    Kas di Bank sebesar Rp 80 bisa digunakan sebagai dana darurat, kira2 saja, kalau misalkan hasil kebun lagi tidak bagus dan amit2 kalau kena PHK, bisa untuk survive 12 bulan ga. Kalau kurang yang ditambahkan dari Rp 6 juta setiap bulan tersebut, kalau dianggap sudah cukup ya diamankan.

    Untuk dana darurat, sebaiknya disimpan pada tabungan yang “agak” sulit penarikannya. Sebab kalau ada di ATM, godaan untuk dipakai sangat besar. Bisa juga melalui kartu kredit yang limitnya besar.

    Untuk asuransi kesehatan, bisa dipertimbangkan untuk asuransi komersial apabila anda merasa membutuhkan fasilitas perawatan kesehatan yang lebih baik. Jika sudah berkeluarga dan ada pemikiran tanah anda akan diwariskan suatu saat nanti, ada baiknya juga membeli asuransi komersial dengan Uang Pertanggungan asuransi jiwa. Supaya nanti yang diwariskan punya dana yang cukup untuk membayar biaya notaris dan balik nama kepemilikan tanah terseubt.

    Untuk pembelian rumah, menurut saya bisa anda evaluasi dengan mendalam. Sampai pada umur berapa anda akan menempati rumah tersebut? Jika masih lama, misalkan sampai usia pensiun 55 tahun, maka tidak ada urgensi untuk punya saat ini. Kalaupun sudah punya, anda juga harus memutar cara untuk membuat rumah pribadi tersebut menjadi aset produktif.

    Sebab rumah / apartemen yang anda beli setiap bulan butuh maintenance, air dan listrik. Kalau kita gunakan setiap hari memang tidak masalah, tapi kalau jarang pakai rasanya sayang juga. Disewakan juga perlu lihat-lihat siapa penyewanya karena risiko rusak, hilang, dan sebagainya.

    Bonus anda yang 10 kali gaji itu menurut saya cukup fantastis, bisa disimpan untuk DP rumah yang anda inginkan. Atau bisa juga kalau memang tidak harus punya sekarang, bisa dikumpulkan selama beberapa tahun agar bisa beli dengan hard cash sehingga harganya lebih murah.

    Mengingat tanah anda yang begitu luas, mengapa tidak mempertimbangkan untuk bangun rumah di tanah perkebunan yang anda miliki tersebut. Biaya bangun seharusnya bisa lebih murah daripada beli dari developer.

    Sebenarnya dengan kondisi:
    Penghasilan sudah cukup mapan, aset sudah punya dan malah menghasilkan (kebun) dan tidak ada hutang dalam jumlah signifikan, bisa dikatakan anda sudah setengah bebas finansial.

    Baru benar-benar bebas finansial kalau penghasilan dari tambahan anda sudah bisa tutup semua kebutuhan hidup walaupun anda tidak bekerja lagi.

    Jadi asalkan bisa mengontrol biaya hidup agar tidak terlalu mewah, seharusnya kondisi finansial anda akan baik-baik saja untuk masa mendatang.

    Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 3 4 5946


%d bloggers like this: