Home > Aset Alokasi, Perencanaan Investasi > Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Prinsip 10 - 20 - 30 - 40

Perencanaan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perencanaan investasi. Sebab darimana uang untuk investasi jika gaji sudah terlanjur dihabiskan semua. Oleh karena itu, sebelum melakukan investasi, yang pertama kali harus dilakukan seharusnya adalah bagaimana mengelola keuangan, tepatnya mengelola pendapatan kita dengan baik.

Untuk pengelolaan keuangan, saya banyak belajar dari Financial Planner baik yang independen ataupun dari rekan-rekan kantor saya yang sudah memiliki sertifikasi perencanaan keuangan. Khusus untuk topik yang saya sharing kali ini, saya belajar rekan saya di Panin Asset Management yaitu pak Ronald Marthin Hutagaol CFP®, QWP®, AEPP® yang juga bersama-sama saya mengadakan seminar Cerdas Mengelola Keuangan 2016 Bali pada bulan Januari yang lalu.

Pada prinsipnya, yang namanya pendapatan harus dihabiskan. Hanya saja cara untuk menghabiskannya harus tepat. Jika tidak, jangankan untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin kita harus terpaksa berutang untuk memenuhinya. Cara untuk menghabiskan pendapatan yang baik adalah menggunakan prinsip 10 – 20 – 30 -40. Seperti apa prinsip ini?

10 - Untuk Kebaikan10% – Kebaikan

Misalkan anda baru mulai bekerja dan mendapatkan gaji sebesar UMR Jakarta yaitu Rp 3.1 juta. Dari uang makan, uang transport dan komisi katakanlah anda bisa mengantongi Rp 5 juta per bulan. Maka angka 10 dari Prinsip 10 – 20 – 30 – 40 ini adalah anda wajib menghabiskan 10% dari pendapatan Rp 5 juta tersebut yaitu Rp 500.000 untuk hal yang sifatnya kebaikan.

Apa saja kategori yang bisa disebut Kebaikan ? Menurut saya bisa ada banyak. Mulai dari sumbangan yang diberikan setiap minggu ketika anda mengunjungi Mesjid, Wihara, Gereja, Pura, ataupun tempat Ibadah lainnya. Kemudian uang yang diberikan untuk Badan Amal yang legal, pengelola panti jompo, panti asuhan dan panti lainnya yang membantu orang yang membutuhkan.

Selain hal di atas, menurut saya asuransi sosial yaitu BPJS Kesehatan juga merupakan tempat untuk berbuat kebaikan. Sebab prinsip dari Asuransi adalah orang yang sehat menyantuni orang yang tidak sehat. Jadi premi asuransi yang anda bayarkan digunakan untuk memberikan fasilitas kesehatan kepada orang yang melakukan klaim. BPJS Kesehatan membantu penerimanya tanpa melihat historis kesehatan sangat berbeda dengan asuransi kesehatan lain yang komersial. Saking banyaknya masyarakat yang melakukan klaim, tahun lalu bahkan BPJS Kesehatan mengalami defisit.

Dengan membayar BPJS Kesehatan, berarti secara tidak langsung kita ikut menyantuni masyarakat yang tidak / kurang mampu untuk memperoleh fasilitas kesehatan dan menurut saya merupakan salah satu bentuk kebaikan juga. Buat anda yang sudah bekerja di perusahaan formal, kalau tidak salah harusnya sudah dipotong 1% dari gaji dan sisanya sebesar 4% ditanggung perusahaan. Bagi anda yang agak beruntung karena mendapat asuransi kesehatan komersial dari kantor, sebenarnya juga bisa membayar BPJS Kesehatan dengan memasukkan nama orang tua, pembantu, saudara, ipar dan lainnya. Keterangan mengenai besaran biaya bisa dibaca di situs BPJS Kesehatan.

Jangan dilupakan juga dengan Orang Tua. Sebagai pihak yang telah melahirkan dan membesarkan kita, orang tua adalah tempat untuk menanamkan kebaikan yang tiada taranya. Jadi dengan memberikan sebagian pendapatan kita kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk kebaikan. Jika orang tua sudah tiada, bisa ke adik, keponakan atau keluarga kita yang membutuhkan. Pemberian juga harus bijaksana juga tentunya.

Kombinasi dari seluruh hal di atas tentu tidak sedikit, tapi usahakanlah agar setidaknya 10% dari pendapatan kita bisa disisihkan untuk hal yang sifatnya kebaikan.

 

20 - Untuk Investasi20% – Asuransi, Investasi dan Dana Darurat

Untuk anda yang menjadi tulang punggung keluarga, maka sebaiknya adalah memiliki dana darurat sebesar 6 – 12 kali pengeluaran untuk yang sudah berkeluarga atau 3 – 6 kali yang masih lajang.Dana darurat bisa disimpan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10 – 15 tahun pengeluaran. Baru setelah itu melakukan asuransi. Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis sebaiknya punya namun jika kalau tidak ada bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Tapi jika anda ingin memiliki pelayanan asuransi dari rumah sakit swasta, maka asuransi komersial bisa menjadi pertimbangan. Cara yang lebih efisien untuk menjaga risiko tersebut adalah dengan hidup sehat, pikiran positif, selalu bahagia dan rajin berolah raga.

Baru setelah dana darurat dan asuransi dimiliki sisanya baru kita melakukan investasi. Investasi juga bisa dibagi menjadi 2 macam. Jika kita masih baru berkarir, maka investasinya difokuskan pada pengembangan diri. Jangan ragu untuk ikut seminar, kursus, pelatihan atau membaca buku yang bisa meningkatkan kemampuan kita. Sebab dengan demikian, kita bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari pemberi kerja ataupun memiliki usaha yang sukses.

Untuk anda yang sudah cukup berumur, baik yang fokus di pekerjaan ataupun berwirausaha baru kita fokus pada investasi membangun aset produktif seperti reksa dana. Kita juga bisa menyiapkan dana darurat, asuransi dan investasi sekaligus, namun patokannya adalah sekitar 20% dari pendapatan anda.

30 - Cicilan Produktif30% – Cicilan Produktif

Dengan harga tanah dan properti yang semakin meningkat, adalah hampir tidak mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia untuk bisa memiliki aset tanpa harus berutang. Jadi memiliki Kredit Kepemilikan Rumah atau Kredit Kepemilikan Apartemen adalah hal yang wajar. Kemudian sarana tranportasi umum di Indonesia juga tidak bagus2 amat. Jadi sampai kereta api cepat, MRT jadi, rasa-rasanya kendaraan masih akan menjadi kebutuhan. Demikian pula cicilan untuk memiliki kendaraan bermotor tersebut.

Sepanjang hutang yang kita miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30% dari penghasilan masih bisa dikatakan wajar.Menurut saya, sewa rumah juga bisa dimasukkan dalam kategori ini. Bedanya jika KPR kita mencicil sampai dengan waktu tertentu, sementara kalau sewa kita mencicil seumur hidup.

Bagaimana kalau lebih dari 30% dan masih tetap disetujui oleh bank? Sebenarnya tidak apa2 juga tapi anda harus sadar bahwa anda mengambil risiko.

Risiko yang paling besar adalah bagaimana jika tiba2 anda kehilangan pekerjaan karena kondisi perusahaan sedang kurang baik? Ingat karena krisis harga minyak, pekerjaan yang dulunya mapan di bidang perminyakan juga tidak selamat dari PHK. Bahkan untuk perusahaan besar yang tidak bergerak di bidang minyak juga bisa terpengaruh perkembangan teknologi. Ingat bagaimana teknologi CD dan DVD membuat perusahaan kaset tutup dan perkembangan internet membuat perusahaan penjual DVD tutup? Siklus seperti ini masih akan terus ada.

Cara yang aman adalah menjaga cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan dan memiliki dana darurat untuk menghindari risiko tersebut.

 

40 - Kebutuhan Hidup40% – Kebutuhan Hidup

Untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari biaya makan minum, air dan listrik, tranportasi, rekreasi, dan lain-lain usahakan sebesar 40% dari penghasilan. Jika UMR jakarta adalah Rp 3,1 juta dan anda tidak memiliki penghasilan tambahan sama sekali, maka kira-kira 40% x Rp 3,1 juta = Rp 1.24 juta dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Cukup atau tidak? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Kalau dibilang tidak cukup, buktinya masih terdapat penduduk Jakarta yang mendapat penghasilan sekian dan masih bertahan hidup.

Kalau dibilang kurang, ya untuk Jakarta penghasilan sebesar apapun bisa tidak cukup. Sebagai contoh, jika anda senang makan di Mal di kawasan Pacific Place Jakarta, sekali makan setidaknya Rp 200 – 300rb per orang dan itu minimal. Kecuali anda makan di kantin karyawan di basement parkir mobilnya, mungkin Rp 15-20 rb masih bisa dapat. Kalau setiap hari makan di mal tersebut, maka Rp 10 juta per bulanpun saya yakin masih kurang.

Ada banyak cara untuk mensiasati hal ini, mulai dari memasak dan makan ramai2 di kos2an, makan dengan menu vegetarian, naik kendaraan umum, atau jangan sering-sering jalan-jalan.

Bagaimana jika angka di atas tidak bisa diterapkan karena kurang?

Sekali lagi, yang namanya angka selalu relatif. Namun jika menurut anda angka tersebut kurang menurut saya yang bisa dilakukan antara lain

  1. Menurunkan gaya hidup – karena tuntutan untuk “bergaya” dalam hidup, terkadang sebagian orang menghabiskan uang lebih banyak dari kemampuannya. Dengan menurunkan gaya hidup seperti menggunakan HP yang lebih murah, tidak makan di restoran, tidak sering jalan-jalan ke mal dan lainnya biaya kebutuhan hidup bisa dikurangi.
  2. Membedakan Keinginan dengan Kebutuhan – karena tidak bisa membedakan antara Keinginan yang tidak ada juga tidak apa2 dengan Kebutuhan yang kalau tidak ada kita tidak bisa bekerja atau bahkan mati, banyak penghasilan yang dihabiskan untuk memenuhi keinginan. Yang namanya keinginan itu tidak terbatas, dengan belajar mengendalikan keinginan secara tidak langsung juga membantu kita menghemat pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
  3. Meningkatkan Penghasilan – kalau semuanya sudah dilakukan dan masih tidak cukup, berarti ini tanda bagi anda untuk meningkatkan penghasilan. Silakan bekerja lebih keras, lebih giat dan lebih smart untuk bisa mendapatkan kenaikan penghasilan.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:
  1. Rudiyanto
    March 28th, 2019 at 22:50 | #1

    @Tanu Fatahillah
    Selamat malam Pak Tanu,

    Mohon maaf baru sempat membalas sekarang karena beberapa hari ini saya ada kegiatan di luar kota.

    Berdasarkan konsep di atas, maka penghasilan bersih Rp 6 juta sebulan idealnya (bukan seharusnya) bisa dihabiskan sebagai berikut :
    10% = Rp 600.000 Kebaikan
    20% = Rp 1.200.000 Masa Depan
    30% = Rp 1.800.000 Cicilan
    40% = Rp 2.400.000 Kebutuhan

    Berdasarkan informasi yang anda berikan di atas, biaya kebutuhan bulanan keluarga anda adalah Rp 4.5 juta atau 75% dari penghasilan anda. Saya yakin itu bukan hanya kebutuhan, tapi juga termasuk dalam Cicilan dan Kebaikan.

    Total dari Kebaikan, Cicilan dan Kebutuhan adalah 80%, jadi sebenarnya cukup ideal juga.

    Dengan sisa gaji Rp 1.5 juta untuk Masa Depan, perinciannya digunakan utk Cicilan Renovasi Rp 500.000, Asuransi (sudah sesuai) Rp 400.000, dan masih tersisa Rp 600.000.

    Apakah sewa tahunan Rp 15 juta per tahun ini dibayar dari uang bonus tahunan anda? Atau sudah masuk dalam Rp 4.5 juta biaya bulanan? Ataukah dari sisa Rp 600rb ditabung setahun dapat Rp 7.2 juta dan sisanya dibayarkan dari bonus?

    Karena belum ada informasi yang lengkap, saya asumsikan anda bayar dari Bonus sebesar Rp 60 juta sehingga tersisa Rp 45 juta.

    Dengan demikian, kelebihan dana anda adalah
    - Rp 600rb per bulan atau Rp 7.2 juta dalam setahun
    - Rp 45 juta sisa uang bonus

    Namun karena akan ada kehadiran anggota keluarga baru dalam waktu dekat (Selamat ya !!), maka kemungkinan Rp 600rb akan terpakai untuk kebutuhan tambahan (dan bisa saja masih kurang sehingga anda mesti cermat dalam berbelanja).

    Jadi yang benar-benar tersisa adalah Rp 45 juta per tahun.

    Bagaimana mengalokasikan dana Rp 45 juta tersebut? Berdasarkan artikel yang pernah saya tulis sbb :
    https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/10/sehat-keuangan-dahulu-investasi-reksa-dana-kemudian/

    Sehat secara keuangan itu definisi:
    1. Pendapatan > Pengeluaran. Anda sudah berhasil dan ini harus dipertahankan. Tentu akan semakin menantang dengan hadirnya anggota keluarga baru dan bertambahnya usia anak, tapi hal ini memang menjadi bagian yang harus dilewati semua orang. Usahakan belanja sesuai kebutuhan dan jangan tergoda untuk meminjam.

    2. Rasio Cicilan Produktif maks 30% dari penghasilan. Cicilan anda setahu saya adalah Rp 500rb dana renovasi dan jika memungkinkan sewa rumah anda juga bisa dicicil supaya tidak memberatkan atau menggunakan dana bonus saat dipakai. Kenaikan gaji untuk tahun depan (misalkan 10% atau setara Rp 600.000) anggap saja hilang, dan semuanya digunakan untuk persiapan bayar sewa tahun berikutnya. Kekurangannya baru ditutupi dari bonus.

    Apakah hutang renovasi tersebut harus dibayarkan sekaligus? Menurut saya sepanjang pembayaran sekaligus bisa menghemat bunga secara signifikan (misalkan di atas Rp 1 juta) silakan. Tapi jika tidak, maka teruskan mencicil saja.

    3. Rasio Dana Darurat = 6-12 bulan pengeluaran. Saya belum memiliki informasi ini, asumsi belum dipersiapkan, maka anda perlu 6-12 dikalikan Rp 5 juta (biaya hidup) atau setara Rp 30 – 60 juta. Sisa bonus anda di tahun ini bisa semuanya disimpan sebagai dana darurat.

    Penyimpanan dana darurat bisa Tabungan, Reksa Dana Pasar Uang, Deposito atau Emas. Saran saya buat yang cairnya susah. Karena makin gampang cair, maka gampang terpakai pula untuk tujuan yang kadang “tidak darurat sama sekali”.

    Begitu terkumpul Rp 60 juta, baru anda mulai sisihkan uang untuk kebutuhan lain seperti rekreasi, umroh, pendidikan anak, modal usaha dan sebagainya. Untuk rekreasi setahun sekali pada saat lebaran anda bisa menggunakan THR.

    Pilihan investasi bisa di reksa dana pendapatan tetap (tujuan 1-3 tahun), reksa dana campuran (3-5 tahun) dan reksa dana saham (>5 tahun). Proses mengumpulkan dana darurat dan investasi ini terus terang akan membuat orang “menderita” karena harus menunda kesenangan saat ini. Namun semuanya memang baru terbayarkan nanti.

    4. Rasio Pertanggunan Asuransi Jiwa : Kurang lebih 10 tahun biaya hidup + Biaya Pendidikan Anak. Dengan asumsi biaya hidup Rp 60 juta per tahun maka 10 tahun setara Rp 600 juta. Biaya pendidikan anak hingga kuliah, misalkan Rp 250 juta, maka totalnya yang dibutuhkan adalah Rp 850 juta.

    Apabila asuransi jiwa yang anda miliki saat ini belum cukup, tidak perlu buru-buru menambah. Apalagi sisa gaji bulanan anda sudah cukup terpakai untuk kebutuhan yang lain. Sebab jika anda bekerja di perusahaan, maka seharusnya anda juga didaftarkan di BPJS Tenaga Kerja dan BPJS Kesehatan

    Khusus untuk BPJS Tenaga Kerja, apabila terjadi kondisi meninggal atau cacat tetap total ketika berangkat, bekerja dan pulang kerja, maka akan ada uang pertanggungan sebesar 48 – 56 kali upah bulanan. Angka ini ditambah dengan uang pertanggungan asuransi yang anda beli, seharusnya sudah cukup mendekati.

    Dengan kondisi di atas, pada dasarnya anda baru bisa menabung / berinvestasi pada saat menerima bonus. Jadi ketika bonus diterima, usahakan untuk :
    Tahun Pertama = Semua untuk Dana darurat
    Tahun Kedua dan seterusnya = Pendidikan Anak, Modal Usaha, dan sebagainya

    Demikian dari saya, semoga bermanfaat

  2. Nadia
    March 30th, 2019 at 11:50 | #2

    Hallo Pak,
    Saya Nadia, saat ini saya bekerja dengan penghasilan 3.5 Juta/Bulan. Saya juga kuliah dan mengeluarkan biaya 1.5 Juta/Bulan. Saya ada rencana menabung untuk membeli rumah dalam waktu 3 atau 4 tahun ke depan.Bisakah bantu saya untuk pengaturan keuangannya dengan metode 10 20 30 40 nya pak?
    Terima Kasih

  3. Rudiyanto
    April 1st, 2019 at 19:10 | #3

    @Nadia
    Selamat sore Ibu Nadia,

    Boleh tahu untuk rumah yang anda inginkan itu sudah di survey :
    1. Luas tanah dan bangunan ?
    2. Jarak dan biaya transportasi dari Rumah ke Tempat kerja ?
    3. Harga rumah ?

  4. mala
    April 4th, 2019 at 20:35 | #4

    halo pak saya mau bertanya
    bagaimana caranya manabung untuk nikah target juli tahun depan dan gaji hanya 5jt sebulan dengan keperluan 500rb kasih ortu dan 1500uang bulanan

  5. Rudiyanto
    April 5th, 2019 at 18:04 | #5

    @mala
    Halo Mala,

    Untuk menikah di bulan Juli tahun depan nanti sudah ada hitung2an untuk Biaya administrasi pernikahan dan Biaya Pestanya ?

    Kemudian sesudah menikah nanti, apakah sudah ada diskusi mau tinggal dimana dengan biaya berapa setiap bulan?

    Kalau belum ada, maka sisa uang setiap bulan ditabung dan nanti pada saat menikah cari yang budgetnya sesuai dengan tabungan yang terkumpul tersebut.

    Supaya tabungan untuk modal nikah tersebut aman dari diskon dan promo di Shopee, Lazada, Bukalapak, Tokopedia, Go-Food, Traveloka dan sebagainya, sebaiknya dibuka tabungan yang tidak ada ATM, atau kalaupun ada ATM itu nanti di simpan dari tempat yang jauh dari jangkauan tapi tetap aman.

    Semoga berhasil

  6. May 7th, 2019 at 21:24 | #6

    Sangat bermanfaat, terima kasih telah berbagi ilmu yang sangat penting, menarik dan tentunya bermanfaat. Terima kasih…

  7. May 17th, 2019 at 13:35 | #7

    Cara menabung konvensional memang dirasa sudah ketinggalan zaman untuk sekarang ini.. Saya aja akhirnya beralih ke sektor pengembangan uang laternatif seperti p2p lending (danain, misalnya). Bagi yang mau buka wawasan silahkan cek ini.
    keuntungan nabung di p2p lending

  8. Herdi
    June 22nd, 2019 at 12:49 | #8

    Pak, mhn dibantu. Saya PNS usia 31 thn, penghasilan rata2 per bulan 13,5 jt (gaji + tunjangan). Istri kerja sbg karyawan kontrak penghasilan rata2 per bulan 4-5 jt. Saat ini kami punya 1 org anak usia 5 thn. Kami berencana utk ambil KPR dgn masa 15 thn. Jika dgn skema bulanan syariah/flat, amannya berapa ya maksimal anggaran per bulan utk alokasi KPR saya?

  9. Rudiyanto
    June 25th, 2019 at 12:10 | #9

    @Herdi
    Salam Pak Herdi,

    Dengan prinsip 10-20-30-40, maka anggaran untuk cicilan rumah adalah sebaiknya di 30% dari penghasilan.

    Dengan asumsi penghasilan gabungan anda adalah minimal 17.5 juta (13.5 + 4), maka 30% setara dengan Rp 5.25 juta.

    Terhadap KPR yang diambil, apabila pemilihan skema tidak harus dengan skema syariah, bisa dipertimbangkan juga KPR di Bank Konvensional. Memang benar, bunga bisa naik turun, tapi saat ini dan untuk tren 1-2 tahun ke depan, ada kemungkinan terjadinya penurunan pada suku bunga.

    Jadi ada kemungkinan nilai cicilan bisa menurun sesuai dengan penurunan tersebut.

    Tapi ada baiknya juga anda sendiri yang window shopping ke beberapa bank untuk membandingkan syarat dan ketentuan terkait KPR.

    Semoga bermanfaat

  10. Abdan Syakura
    July 8th, 2019 at 11:06 | #10

    Selamat pagi, Pak Rudi
    Sungguh artikel yang sangat menginspiratif.
    Saya ingin memastikan, dengan penghasilan tetap 6jt dan penghasilan tidak tetap 3-4jt / bulan, pengeluaran living cost sekitar 3jt bisa 3,5jt disaat tertentu. kemanakah investasi saya seharusnya selain ke usaha penunjang (penghasilan tidak tetap)?

  11. Abdan Syakura
    July 8th, 2019 at 11:11 | #11

    Selamat pagi, Pak Rudi
    Sungguh artikel yang sangat menginspiratif.
    Saya ingin memastikan, dengan penghasilan tetap 6jt dan penghasilan tidak tetap 3-4jt / bulan, pengeluaran living cost sekitar 3jt bisa 3,5jt disaat tertentu. kemanakah investasi saya seharusnya selain ke usaha penunjang (penghasilan tidak tetap)?
    Saat ini tidak memiliki cicilan maupun hutang karena saya menghindari hal tersebut

  12. Abdan Syakura
    July 8th, 2019 at 11:18 | #12

    Selamat pagi, Pak Rudi
    Sungguh artikel yang sangat menginspiratif.
    Saya ingin memastikan, dengan penghasilan tetap bersih 6jt dan penghasilan tidak tetap 3-4jt / bulan(dari usaha), pengeluaran living cost sekitar 3jt bisa 3,5jt disaat tertentu. kemanakah investasi saya seharusnya selain ke usaha penunjang?

    Saya masih 24 tahun, baru 8 bulan bekerja dan hidup sendiri dengan biaya kost (750rb). Saat ini tidak memiliki cicilan (kendaraan, hunian maupun asuransi tambahan) maupun hutang karena saya menghindari hal tersebut.

  13. Rudiyanto
    July 10th, 2019 at 13:54 | #13

    @Abdan Syakura
    Selamat siang Pak Abdam

    Terkait sisa dana, menurut saya yang pertama bisa disiapkan adalah dana darurat yang besarannya 3-6 bulan pengeluaran. Jadi kalau living cost sekitar 3.5 juta maksimal, maka bisa antara 10.5 juta hingga 21 juta di instrumen yang likuid seperti tabungan, deposito atau reksa dana pasar uang.

    Setelah itu, jika kegiatan usaha anda bisa bertambah besar seiring dengan semakin besar modal yang disisikan, maka bisa digunakan semua sisa kelebihan dana untuk modal usaha. Tapi jika usaha tersebut tidak membutuhkan modal atau menambah modal juga tidak menambah omset, maka bisa dialokasikan untuk hal lain seperti :
    1. Perlindungan asuransi
    2. Investasi reksa dana, dan atau
    3. Menyiapkan DP untuk rumah / apartemen tempat tinggal pertama

    Jangan lupa juga mengirim uang ke orang tua, walaupun sedikit tapi tidak apa2.

    Semoga bermanfaat

  14. Yedi
    July 18th, 2019 at 07:29 | #14

    Pagi pak.
    Saya yedi
    Saya mash sulit untuk mengatur keungan perbulan untuk hidup sendiri
    Terkadang habis tidak tahu.
    Umr saya 4.7jt itu sudah kepotong angsuran koprasi sama rumah kisaran 2.8jt
    Terkadang susah untuk mengatur nya
    Mohon pencerahan nya

  15. Rudiyanto
    July 18th, 2019 at 11:45 | #15

    @Yedi
    Salam Pak Yedi,

    Saran saya anda bisa coba komitmen 1 bulan dan mencatat semua pengeluaran anda di MS Excel.
    Berikan keterangan seperti Rp 25.000 rokok, Rp 100.000 Pulsa.

    Begitu sudah sebulan, di kolom ketiga ditambahkan Kebutuhan Pokok / Keinginan, sesuai definisi anda. Intinya keinginan itu yang kalau ga juga gpp.

    Baru setelah itu anda evaluasi lagi. Kalau semuanya habis untuk Kebutuhan, maka saran saya segera tingkatkan kemampuan untuk mendapatkan penghasilan / karier yang lebih baik.

    Semoga bermanfaat

  16. Dikares
    July 22nd, 2019 at 14:02 | #16

    Ohh gitu toh cara ngaturnya. Tapi ada juga nih tulisan yang saya temuin dan bisa jadi referensi bagi temen-temen semua. cara cerdas atur keuangan untuk pekerja lepas

Comment pages
1 2 3 5946


%d bloggers like this: