Home > Aset Alokasi, Perencanaan Investasi > Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Mengelola Keuangan Dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Prinsip 10 - 20 - 30 - 40

Perencanaan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perencanaan investasi. Sebab darimana uang untuk investasi jika gaji sudah terlanjur dihabiskan semua. Oleh karena itu, sebelum melakukan investasi, yang pertama kali harus dilakukan seharusnya adalah bagaimana mengelola keuangan, tepatnya mengelola pendapatan kita dengan baik.

Untuk pengelolaan keuangan, saya banyak belajar dari Financial Planner baik yang independen ataupun dari rekan-rekan kantor saya yang sudah memiliki sertifikasi perencanaan keuangan. Khusus untuk topik yang saya sharing kali ini, saya belajar rekan saya di Panin Asset Management yaitu pak Ronald Marthin Hutagaol CFP®, QWP®, AEPP® yang juga bersama-sama saya mengadakan seminar Cerdas Mengelola Keuangan 2016 Bali pada bulan Januari yang lalu.

Pada prinsipnya, yang namanya pendapatan harus dihabiskan. Hanya saja cara untuk menghabiskannya harus tepat. Jika tidak, jangankan untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin kita harus terpaksa berutang untuk memenuhinya. Cara untuk menghabiskan pendapatan yang baik adalah menggunakan prinsip 10 – 20 – 30 -40. Seperti apa prinsip ini?

10 - Untuk Kebaikan10% – Kebaikan

Misalkan anda baru mulai bekerja dan mendapatkan gaji sebesar UMR Jakarta yaitu Rp 3.1 juta. Dari uang makan, uang transport dan komisi katakanlah anda bisa mengantongi Rp 5 juta per bulan. Maka angka 10 dari Prinsip 10 – 20 – 30 – 40 ini adalah anda wajib menghabiskan 10% dari pendapatan Rp 5 juta tersebut yaitu Rp 500.000 untuk hal yang sifatnya kebaikan.

Apa saja kategori yang bisa disebut Kebaikan ? Menurut saya bisa ada banyak. Mulai dari sumbangan yang diberikan setiap minggu ketika anda mengunjungi Mesjid, Wihara, Gereja, Pura, ataupun tempat Ibadah lainnya. Kemudian uang yang diberikan untuk Badan Amal yang legal, pengelola panti jompo, panti asuhan dan panti lainnya yang membantu orang yang membutuhkan.

Selain hal di atas, menurut saya asuransi sosial yaitu BPJS Kesehatan juga merupakan tempat untuk berbuat kebaikan. Sebab prinsip dari Asuransi adalah orang yang sehat menyantuni orang yang tidak sehat. Jadi premi asuransi yang anda bayarkan digunakan untuk memberikan fasilitas kesehatan kepada orang yang melakukan klaim. BPJS Kesehatan membantu penerimanya tanpa melihat historis kesehatan sangat berbeda dengan asuransi kesehatan lain yang komersial. Saking banyaknya masyarakat yang melakukan klaim, tahun lalu bahkan BPJS Kesehatan mengalami defisit.

Dengan membayar BPJS Kesehatan, berarti secara tidak langsung kita ikut menyantuni masyarakat yang tidak / kurang mampu untuk memperoleh fasilitas kesehatan dan menurut saya merupakan salah satu bentuk kebaikan juga. Buat anda yang sudah bekerja di perusahaan formal, kalau tidak salah harusnya sudah dipotong 1% dari gaji dan sisanya sebesar 4% ditanggung perusahaan. Bagi anda yang agak beruntung karena mendapat asuransi kesehatan komersial dari kantor, sebenarnya juga bisa membayar BPJS Kesehatan dengan memasukkan nama orang tua, pembantu, saudara, ipar dan lainnya. Keterangan mengenai besaran biaya bisa dibaca di situs BPJS Kesehatan.

Jangan dilupakan juga dengan Orang Tua. Sebagai pihak yang telah melahirkan dan membesarkan kita, orang tua adalah tempat untuk menanamkan kebaikan yang tiada taranya. Jadi dengan memberikan sebagian pendapatan kita kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk kebaikan. Jika orang tua sudah tiada, bisa ke adik, keponakan atau keluarga kita yang membutuhkan. Pemberian juga harus bijaksana juga tentunya.

Kombinasi dari seluruh hal di atas tentu tidak sedikit, tapi usahakanlah agar setidaknya 10% dari pendapatan kita bisa disisihkan untuk hal yang sifatnya kebaikan.

 

20 - Untuk Investasi20% – Asuransi, Investasi dan Dana Darurat

Untuk anda yang menjadi tulang punggung keluarga, maka sebaiknya adalah memiliki dana darurat sebesar 6 – 12 kali pengeluaran untuk yang sudah berkeluarga atau 3 – 6 kali yang masih lajang.Dana darurat bisa disimpan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10 – 15 tahun pengeluaran. Baru setelah itu melakukan asuransi. Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis sebaiknya punya namun jika kalau tidak ada bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Tapi jika anda ingin memiliki pelayanan asuransi dari rumah sakit swasta, maka asuransi komersial bisa menjadi pertimbangan. Cara yang lebih efisien untuk menjaga risiko tersebut adalah dengan hidup sehat, pikiran positif, selalu bahagia dan rajin berolah raga.

Baru setelah dana darurat dan asuransi dimiliki sisanya baru kita melakukan investasi. Investasi juga bisa dibagi menjadi 2 macam. Jika kita masih baru berkarir, maka investasinya difokuskan pada pengembangan diri. Jangan ragu untuk ikut seminar, kursus, pelatihan atau membaca buku yang bisa meningkatkan kemampuan kita. Sebab dengan demikian, kita bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari pemberi kerja ataupun memiliki usaha yang sukses.

Untuk anda yang sudah cukup berumur, baik yang fokus di pekerjaan ataupun berwirausaha baru kita fokus pada investasi membangun aset produktif seperti reksa dana. Kita juga bisa menyiapkan dana darurat, asuransi dan investasi sekaligus, namun patokannya adalah sekitar 20% dari pendapatan anda.

30 - Cicilan Produktif30% – Cicilan Produktif

Dengan harga tanah dan properti yang semakin meningkat, adalah hampir tidak mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia untuk bisa memiliki aset tanpa harus berutang. Jadi memiliki Kredit Kepemilikan Rumah atau Kredit Kepemilikan Apartemen adalah hal yang wajar. Kemudian sarana tranportasi umum di Indonesia juga tidak bagus2 amat. Jadi sampai kereta api cepat, MRT jadi, rasa-rasanya kendaraan masih akan menjadi kebutuhan. Demikian pula cicilan untuk memiliki kendaraan bermotor tersebut.

Sepanjang hutang yang kita miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30% dari penghasilan masih bisa dikatakan wajar.Menurut saya, sewa rumah juga bisa dimasukkan dalam kategori ini. Bedanya jika KPR kita mencicil sampai dengan waktu tertentu, sementara kalau sewa kita mencicil seumur hidup.

Bagaimana kalau lebih dari 30% dan masih tetap disetujui oleh bank? Sebenarnya tidak apa2 juga tapi anda harus sadar bahwa anda mengambil risiko.

Risiko yang paling besar adalah bagaimana jika tiba2 anda kehilangan pekerjaan karena kondisi perusahaan sedang kurang baik? Ingat karena krisis harga minyak, pekerjaan yang dulunya mapan di bidang perminyakan juga tidak selamat dari PHK. Bahkan untuk perusahaan besar yang tidak bergerak di bidang minyak juga bisa terpengaruh perkembangan teknologi. Ingat bagaimana teknologi CD dan DVD membuat perusahaan kaset tutup dan perkembangan internet membuat perusahaan penjual DVD tutup? Siklus seperti ini masih akan terus ada.

Cara yang aman adalah menjaga cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan dan memiliki dana darurat untuk menghindari risiko tersebut.

 

40 - Kebutuhan Hidup40% – Kebutuhan Hidup

Untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari biaya makan minum, air dan listrik, tranportasi, rekreasi, dan lain-lain usahakan sebesar 40% dari penghasilan. Jika UMR jakarta adalah Rp 3,1 juta dan anda tidak memiliki penghasilan tambahan sama sekali, maka kira-kira 40% x Rp 3,1 juta = Rp 1.24 juta dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Cukup atau tidak? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Kalau dibilang tidak cukup, buktinya masih terdapat penduduk Jakarta yang mendapat penghasilan sekian dan masih bertahan hidup.

Kalau dibilang kurang, ya untuk Jakarta penghasilan sebesar apapun bisa tidak cukup. Sebagai contoh, jika anda senang makan di Mal di kawasan Pacific Place Jakarta, sekali makan setidaknya Rp 200 – 300rb per orang dan itu minimal. Kecuali anda makan di kantin karyawan di basement parkir mobilnya, mungkin Rp 15-20 rb masih bisa dapat. Kalau setiap hari makan di mal tersebut, maka Rp 10 juta per bulanpun saya yakin masih kurang.

Ada banyak cara untuk mensiasati hal ini, mulai dari memasak dan makan ramai2 di kos2an, makan dengan menu vegetarian, naik kendaraan umum, atau jangan sering-sering jalan-jalan.

Bagaimana jika angka di atas tidak bisa diterapkan karena kurang?

Sekali lagi, yang namanya angka selalu relatif. Namun jika menurut anda angka tersebut kurang menurut saya yang bisa dilakukan antara lain

  1. Menurunkan gaya hidup – karena tuntutan untuk “bergaya” dalam hidup, terkadang sebagian orang menghabiskan uang lebih banyak dari kemampuannya. Dengan menurunkan gaya hidup seperti menggunakan HP yang lebih murah, tidak makan di restoran, tidak sering jalan-jalan ke mal dan lainnya biaya kebutuhan hidup bisa dikurangi.
  2. Membedakan Keinginan dengan Kebutuhan – karena tidak bisa membedakan antara Keinginan yang tidak ada juga tidak apa2 dengan Kebutuhan yang kalau tidak ada kita tidak bisa bekerja atau bahkan mati, banyak penghasilan yang dihabiskan untuk memenuhi keinginan. Yang namanya keinginan itu tidak terbatas, dengan belajar mengendalikan keinginan secara tidak langsung juga membantu kita menghemat pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
  3. Meningkatkan Penghasilan – kalau semuanya sudah dilakukan dan masih tidak cukup, berarti ini tanda bagi anda untuk meningkatkan penghasilan. Silakan bekerja lebih keras, lebih giat dan lebih smart untuk bisa mendapatkan kenaikan penghasilan.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

New Blog : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Sumber Gambar : Istockphoto

Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:
  1. Budi
    February 16th, 2016 at 21:09 | #1

    Salam pak Rudi,

    Tulisan pak Rudi ini sangat bermanfaat, Pak, karena simpel sehingga praktis, dan relevan untuk semua kelompok pendapatan.

    Pak Rudi, mohon pendapatnya. Saya pernah membandingkan nilai UP asuransi unit link yang hampir seluruh preminya dialokasikan untuk biaya asuransi jiwa, dibanding reksadana (misal RD pendapatan tetap). Tampak jika seseorang berusia awal 30-an menyisihkan sebagian pendapatannya untuk as.jiwa dibanding reksadana, maka pada tahap yg sekitar 30-35th pertama, nilai UP lebih besar dari perkiraan nilai investasi. Namun pada tahun-tahun kemudian, nilai perkiraan investasi melebihi nilai UP.

    Hal yang lebih ekstrim terdaji jika pembandingnya adalah RD Saham. Dimana nilai UP hanya bisa mengungguli investasi RD pada 20-25th pertama.

    Padahal, usia harapan hidup rata2 lebih dari 65th. Jika demikian, bisakah dikatakan bahwa reksadana sebenarnya memiliki juga fungsi “proteksi” dari asuransi, yang bahkan lebih bernilai dari asuransi pada tahun2 usia lanjut?

    Maksud saya, selama ini buku2 keuangan selalu menekankan bahwa asuransi jiwa lebih penting, dan dana yang ada harus disisihkan pertama2 untuk asuransi jiwa, barulah investasi.

    Bagaimana pendapat pak Rudi bijakkah jika seseorang imgin mendapat manfaat “Proteksi” dari reksadana saja dan tidak membeli asuransi jiwa? Memang nilai reksadana pada tahun-tahun awal akan sangat kecil dibanding UP asuransi jiwa dengan asumsi dana yg disisihkan sama (apakah sebagai investasi berkala atau premi berkala), namun nilai investasi reksadana jauh-jauh mengungguli UP pada tahun2 yang lebih lanjut.
    Terima kasih sebelumnya, Pak Rudi.

  2. Budi
    February 16th, 2016 at 21:37 | #2

    Maaf ralat, maksud saya adalah bahwa UP asuransi jiwa mengungguli RD pendapatan tetap hanya HINGGA tahun ke 30-35,

    Dan pada kasus reksadana saham, UP asuransi jiwa mengungguli RD saham hanya HINGGA 20-25th.

    Asumsi return masing2 RD adalah 8% dan 15%

  3. Rudiyanto
    February 16th, 2016 at 23:30 | #3

    @Budi
    Selamat malam pak Budi,

    Terima kasih atas apresiasinya.

    Terkait pertanyaan anda, menurut saya fungsi dari asuransi adalah untuk memproteksi orang dari risiko ketidakpastian seperti masuk rumah sakit, perawatan penyakit kritis dan meninggal.

    Apa yang diproteksi? Kalau masuk rumah sakit atau perawatan penyakit kritis ya orang tersebut. Jangan sampai harus berutang untuk membayar seluruh biaya tersebut dan malah tambah sakit lagi karena pusing memikirkan tagihan rumah sakitnya. Kalau menurut saya, UP yang wajar untuk penyakit kritis adalah sekitar Rp 300 – 500 juta. Besar atau kecil memang relatif, tapi setidaknya untuk kasus penyakit kritis yang membutuhkan perawatan seumur hidup seperti gagal ginjal sehingga harus cuci darah, setiap bulan setidaknya dibutuhkan Rp 5 – 7 juta, UP di atas dapat cukup untuk beberapa tahun. Sambil jalan, penderita atau keluarga penderita dapat memikirkan jalan keluarnya dari pendapatan yang diterim setiap bulannya.

    Zaman sekarang ini, berkat BPJS Kesehatan yang dicanangkan oleh Presiden SBY dan dilanjutkan oleh Presiden Jokowi, jika anda tidak keberatan masuk rumah sakit umum dan ikut antri, tanpa asuransi pun bisa tetap dilindungi. Tapi ya, harus mengikuti aturannya seperti ke Puskesmas terlebih dahulu dan tidak bisa dapat kamar VIP.

    Kalau meninggal, yang diproteksi adalah keluarga dari orang yang ditinggalkan. Ibaratnya secara finansial keluarga tersebut masih sama dengan ketika sebelum tertanggung meninggal. Untuk berapa lama? Kalau menurut saya sekitar 10 – 15 tahun pengeluaran. Misalkan suatu keluarga memiliki pengeluaran Rp 10 juta per bulan atau Rp 120 juta per tahun, maka uang pertanggungan asuransi jiwa yang wajar adalah Rp 1,2 M sampai dengan Rp 1,8 M.

    Misalkan ada seseorang yang memiliki profil di atas dan kebetulan saat ini dia sudah punya deposito senilai Rp 2 – 2,5 M di bank, menurut saya bahkan dia tidak perlu punya asuransi jiwa, kesehatan dan penyakit kritis. Sebab jika terjadi risiko sakit atau kematian, bisa menggunakan uang tersebut dan keluarganya sudah terlindungi.

    Tapi jika yang bersangkutan tidak punya aset sama sekali atau punya tapi nilainya kecil, menurut saya asuransi itu sebaiknya dimiliki. Sebab jika tidak mati, masuk rumah sakit atau terdeteksi penyakit kritis selama 20 – 35 tahun ke depan memang lebih menguntungkan di reksa dana, tapi bagaimana jika di tengah-tengah terjadi “sesuatu yang tidak diharapkan” ?

    Demikian semoga bermanfaat

  4. Budi
    February 17th, 2016 at 07:03 | #4

    Terima kasih Pak Rudi, sudah dibantu dijelaskan.

  5. Tony
    February 29th, 2016 at 06:23 | #5

    Pak Rudi, apa bedanya dalam tulisan ini, antara cicilan produktif dg investasi, Pak?
    Jika saat ini sdg tidak ada cicilan, apakah bisa alokasinya diubah ke investasi? Atau sebaiknya kemana dari keempat pembagian di atas?

  6. Rudiyanto
    March 3rd, 2016 at 23:57 | #6

    @Tony
    Selamat Malam Pak Tony,

    Cicilan itu berarti kita berutang dan menyicil ke bank.
    Kalau menyicil ke reksa dana tiap bulan itu bukan cicilan produktif, tapi investasi.

    Kalau saat ini tidak ada cicilan, selamat pak. Kalau kondisi finansial anda bagus, dalam arti tempat tinggal sudah ada, biaya nikah sudah ok, pendidikan anak sudah tidak jadi soal, dan pensiun sudah mantap, maka menurut saya bisa anda tingkatkan kualitas hidup dengan alokasi yang lebih banyak ke biaya hidup. Tapi jika sudah cukup juga dan tidak tahu mau diapakan, saran saya anda bisa meniru perilaku para orang terkaya di dunia yaitu dengan mengamalkannya.

    Semoga bermanfaat

  7. June 28th, 2016 at 14:44 | #7

    Wah terima kasih tipsnya, bagus nih untuk dicoba terutama untuk yang baru saja memiliki penghasilan pribadi

  8. Tri
    September 20th, 2016 at 10:51 | #8

    Hallo Pak Rudi,

    Saya karyawati swasta, lajang 26 tahun, dengan THP per bulan 6 juta. Setelah dikurangi dengan biaya kos, kiriman ke ortu dan amal sedekah, biaya transportasi dan kehidupan sehari2, saya bisa berinvestasi 2 – 2,5juta/bulan, walaupun sering tidak rutin. Saya mempunyai investasi reksa dana berbasis saham dan saham skrg 33juta. Untuk asuransi kesehatan sudah dpt dri kantor plus JHT dan JP dari BPJS Ketenagakerjaan dan saya belum memiliki cicilan krn saya sangat berharap cicilan pertama saya nantinya adalah cicilan rumah pertama.
    Menurut Bapak, bagaimana saya bisa mempersiapkan kapasitas saya agar pada umur 30 tahun nanti saya bisa membeli rumah yang layak (bukan RSSS)?Apakah saya perlu pindah tempat kerja untuk mendapatkan income yang lebih? Atau saya harus mengganti gaya berinvestasi saya?

    Terima kasih sebelumnya.

  9. Rudiyanto
    September 21st, 2016 at 18:10 | #9

    @Tri
    Salam Ibu Tri,

    Terima kasih telah berbagi disini.

    Terlepas dari tujuan keuangan anda utk bisa beli rumah 4 tahun yang akan datang, bisa berinvestasi Rp 2 – 2.5 juta per bulan dengan gaji Rp 6 juta per bulan adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

    Dengan pendapatan Rp 15 juta sekalipun, orang yang tinggal di kota metropolitan di Jakarta belum tentu sanggup menabung sejumlah uang yang anda sisihkan setiap bulannya. Apalagi itu sudah termasuk porsi ke orang tua, amal dan sedekah.

    Terkait rencana anda beli rumah, boleh tahu sudah ada rumah / apartemen yang anda taksir dan dicek harganya berapa? Nanti saya bantu hitungkan.

    Kalau pindah tempat kerja untuk pendapatan yang lebih baik adalah pilihan. Yang perlu menjadi pertimbangan antara prospek kerja di tempat anda sekarang, dukungan atasan, lingkungan kerja, peluang untuk maju, biaya tranportasi dan lain2 di tempat kerja baru, dan sebagainya. Yang paling baik tentu saja tetap bekerja di tempat yang kita nyaman dengan penghasilan yang kita inginkan.

    Soal gaya investasi, anda itu sudah luar biasa. Kalau bisa, pada saat pendapatan meningkat nanti porsi investasi juga bisa bertambah sesuai proporsinya.

    Terima kasih

  10. Tri
    September 22nd, 2016 at 09:42 | #10

    Dear Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas tanggapannya.

    Sebagai karyawan yang bekerja di Jakarta, saya cukup merasakan tekanan hedonisme yang tinggi di ibukota ini. Saya berusaha siasati dengan misalnya nonton movie buy 1 get 1 dgn cc ataupun sesekali makan di tempat mewah dengan promo melalui voucher ataupun dgn cc.

    Mungkin Bapak tidak setuju dengan saya, tpi bagi saya hrga properti (rumah/apartemen) di Jakarta sudah sangat cukup mahal sekali. Saya tidak tahu apakah ini sudah bubble? Bagi kalangan seperti saya, mungkin apartemen/rumah yang bisa saya beli ada di kota penyangga.

    Saya sempat cek, kalau harga rumah tipe 45 di Depok harga pasarannya sekitar 500 – 600 Juta saat ini (berharap nantinya commuting ke tempat kerja di Jakarta akan smakin lancar dengan selesainya double track KRL Manggarai, ataupun nanti MRT&LRT kita akan selesai).
    Menurut Bapak, bagaimana saya mempersiapkan untuk pembelian rumah ini?
    Krn setahu saya pemerintah baru menyentuh kalangan MBR gaji maksimal 4 juta untuk rumah tapak atau maksimal 7 juta untuk rumah susun melalui KPR Sejahtera dengan DP ringan. Sedangkan saya berharapnya memiliki landed house agar bisa diwariskan ke keturunan saya nantinya, tapi gaji saya sudah diatas 4 juta.

    Apakah menurut Bapak kedepannya harga properti terutama rumah akan turun harganya, misalnya pemerintah ikut campur tangan aktif dalam kebijakan pengendalian harga atau bagaimana yah?

    Terima kasih sebelumnya.

  11. Rudiyanto
    September 23rd, 2016 at 15:21 | #11

    @Tri
    Salam Ibu Tri,

    Kalau dengan gaji Rp 6 juta dan bisa investasi 2 – 2.5 juta per bulan itu lebih luar biasa lagi. Kalau tidak tinggalnya dengan orang tua rasanya tidak akan dapat penghematan sebesar itu.

    Kalau mengenai harga rumah, tergantung juga. Kalau dibilang mahal, memang benar. Tapi rasanya kalau bubble sih tidak. Yang ada mungkin sulit untuk naik, tapi mau turun juga susah. Jadi sudah menjadi kenyataan yang harus kita hadapi bahwa kalau pendapatannya tidak bisa menembus Rp 20 – Rp 30 juta per bulan baik dari gaji maupun komisi, adalah sangat sulit untuk bisa punya rumah idaman di Jakarta.

    Dengan gaji segitu juga sebenarnya masih tetap susah. Sebab harganya memang sudah tidak masuk akal. Jadi bisa saja seperti di luar negeri, kontrak untuk jangka waktu yang lama atau tinggal di rumah mertua indah.

    Kembali ke tujuan keuangan anda, katakan anda ingin punya rumah seharga Rp 600 juta 4 tahun mendatang. Dengan asumsi anda berinvestasi di reksa dana campuran dengan asumsi return 14%, maka jumlah investasi bulanan yang diperlukan adalah sekitar Rp 9.5 juta per tahun. Dimana dengan kondisi anda sekarang, itu tidak cukup.

    Kalau misalkan anda mau beli rumah tersebut dengan cicilan, dengan asumsi setelah 4 tahun harga masih sama, dan syarat DP adalah 30% (termasuk biaya notaris dll), maka yang bisa harus disisihkan adalah 30% dari Rp 9.5 juta atau 2.85 juta.

    Jika anda mampu menyisihkan Rp 2.85 juta per bulan selama 4 tahun atau total Rp 136.8 juta ditambah dengan hasil pengembangan reksa dana campuran dengan asumsi 14%, hasilnya diperkirakan menjadi Rp 184 juta. Angka ini seharusnya sudah cukup bagi anda untuk bisa DP rumah senilai Rp 600 juta. Nilai ini belum memperhitungkan investasi reksa dana senilai Rp 30 jutaan yang sudah ada miliki.

    Kalau selama 4 tahun ini penghasilan anda meningkat, tentu nilai yang bisa disisihkan menjadi lebih besar. Hal ini akan membantu anda untuk lebih cepat memperoleh rumah idaman.

    Jadi daripada berfokus pada apakah harga rumah akan turun atau tidak, lebih baik berfokus pada bagaimana meningkatkan penghasilan dan nilai investasi untuk mengejar kenaikan harga kebutuhan tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  12. Chev
    September 23rd, 2016 at 17:10 | #12

    Pak Rudi,
    portofolio keuangan saya seperti ini:
    1. Biaya hidup = 26,44%
    2. Cicilan rumah = 37,40%
    3. Unit Link (Asuransi + Investasi) = 13,03%
    4. BPJS Kesehatan (Asuransi) = 2,06%
    5. Reksa Dana (Investasi) = 21,07%

    Dari portofolio keuangan diatas, memang rasio Cicilan/Utang (Rumah) masih diatas 30%. Dengan penghasilan gaji tetap sekarang, saya harus mendapatkan tambahan penghasilan tetap sebesar 1 juta rupiah supaya rasio Cicilan/Utang saya turun ke 30%.

    Yang masih dilema buat saya adalah tentang Unit Link yang sudah berjalan sejak MARET 2011. Nilai investasi posisi 21 Sept 2016 sekitar 18jt-an, jumlah setoran total sekitar 33jt. Disatu sisi memang ada PROTEKSI (Asuransi Jiwa), tapi sekarang saya sudah punya BPJS Kesehatan. Walaupun BPJS Kesehatan bukan asuransi jiwa, tapi setidaknya untuk proteksi kesehatan sudah bisa diandalkan untuk saya. Proteksi Unit Link untuk ASuransi Kesehatan juga hanya untuk Rawat Inap saja, sementara untuk Rawat Jalan tidak di-cover.

    Setelah sekitar 14 bulan rutin menabung (mencicil) Reksa Dana Saham (RDS), saya lihat return sangat bagus. Saya ikut dua RDS, yang satu kinerjanya bagus (18%) sementara yang satu lagi biasa saja (7%). RDS yang dua ini saya alokasikan untuk DANA DARURAT.

    Rencananya saya pengen sekali menutup Unit Link dan mengalihkan nilai investasi (18jt-an) ke RDS. Sehingga nilai investasinya bisa maksimal. Nilai investasi yang maksimal ini bisa saya gunakan untuk meng-cover biaya PENSIUN dan Pelunasan Biaya Haji (masa tunggu 15 tahun).

    Menurut Pak Rudi gimana sebaiknya, apakah tepat jika Unit Link saya tutup dan dialihkan ke RDS (jangka panjang). Saya ikut RDS dengan cara mencicil rutin setiap bulan.

    Terima Kasih

  13. Rudiyanto
    September 27th, 2016 at 21:25 | #13

    @Chev
    Selamat malam Pak Chev,

    Terima kasih atas sharing kondisi dan rasio keuangan anda disini.

    Untuk unit link, sebenarnya jika anda merasa bahwa proteksi kesehatan sudah bisa tercukupi dari BPJS Kesehatan maka unit link tidak dilanjutkan tidak apa2. Meski demikian, tidak dilanjutkan bukan berarti harus ditutup.

    Uang Rp 18 juta yang sekarang menjadi nilai tunai akan dipotong premi asuransi. Besarnya premi asuransi bukan senilai cicilan, tapi besarnya bisa 30% – 50% nilai cicilan. Dengan demikian, uang anda akan berkurang pelan2 sampai habis. Selama proses pemotongan tersebut, nilainya bisa naik turun lagi sesuai naik turunnya harga saham dan obligasi.

    Referensi pemotongan premi bisa anda baca contoh kasusnya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    Apa manfaatnya? Selama nilai tunai masih mencukupi, anda masih bisa mendapat manfaat proteksi asuransi jiwa dan rawat inap. Memang uangnya habis, tapi paling tidak, kita terlindungi manfaat asuransi selama beberapa tahun mendatang. Anggap saja uang ini uang hilang.

    Memang kelihatannya kalau uang tersebut dicairkan dan masuk ke reksa dana, hasil keuntungannya bisa maksimal. Tapi namanya orang, tetap perlu proteksi asuransi jiwa. Apalagi anda sudah atau akan berkeluarga dan menjadi tulang punggung keluarga. Ketika terjadi kemalangan, nilai pertanggungan tersebut sedikit banyak akan bermanfaat bagi keluarga.

    Dengan berhenti berinvestasi pada unit link, berarti autodebet bulanan anda bisa dialihkan dari asuransi ke reksa dana. Memang tidak sebesar kalau ada Rp 18 juta di awal, tapi tidak apa2, kalau kerjanya baik penghasilan bisa meningkat dan nilai investasi bisa ditingkatkan lagi.

    Semoga bermanfaat

  14. Chev
    September 28th, 2016 at 15:49 | #14

    Makasih atas tanggapannya, Pak Rudi.

    Saya sudah baca link-nya. Jalan tengah yang ada dipikiran saya adalah dengan mengurangi cicilan per bulan. Selama ini cicilan Rp. 505.650,-. Dan ditahun ke-6 ini terlihat nilai invest nya lebih meningkat karena saya sudah tidak bayar lagi Biaya Akuisisi (kemungkinan).

    Jika cicilan dikurangi menjadi sekitar 200-250, apa masih memungkinkan revisi spt itu? Pertimbangannya untuk menjaga nilai invest supaya “tidak hangus”, syukur-syukur masih bisa meningkat walaupun tidak semaksimal RDS. Jadi yang cicilan 200-250rb ini untuk menutup Biaya Asuransi + Biaya Administrasi bulanan.

    Terima Kasih

  15. Chev
    September 28th, 2016 at 15:52 | #15

    Saya anggap nilai invest yg ada di UL ini seperti RD Pasar Uang atau RD Pendapatan Tetap aja. Mungkin return-nya UL ada dikisaran itu.

  16. Rudiyanto
    October 3rd, 2016 at 17:59 | #16

    @Chev
    Salam Pak Chev,

    Yang anda lakukan itu terus terang mirip dengan yang saya lakukan. Kalau anda baca cerita saya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/, terus terang saya juga menurunkan nilai premi ke nilai paling minimal sebab saya masih butuh manfaat asuransinya.

    Mengenai itu mau dianggap reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap, saran saya sebaiknya jangan berharap terlalu banyak agar tidak kecewa nantinya.

    Semoga bermanfaat

  17. Tatang H
    March 23rd, 2017 at 23:24 | #17

    Dear pak Rudi, saya karyawan swasta menikah 1 anak (1,5 thn) dan istri IRT. Dg THP 18.5 jt/bulan. Saat ini saya barusaja membeli rumah dipropinsi tempat saya bekerja, dimana ini menghabiskan seluruh dana darurat dan tabungan. Saya berencana ingin memiliki rumah dipropinsi asal saya dg kisaran harga 500-700 dan saya juga berkeinginan membeli motor sport seharga 70an juta. Untuk saat ini asuransi, kendaraan dan bbm ditanggung kantor. Saat ini memiliki cicilan 4,5/perbulan dg sisa waktu 1thn. Mohon pencerahan pengaturan keuangan yg tepat nya pak. Terimakasih.

  18. Rudiyanto
    March 29th, 2017 at 00:09 | #18

    @Tatang H
    Selamat malam Pak Tatang,

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat karena berhasil memiliki rumah, punya penghasilan di atas rata-rata dan dikarunia momongan. Semoga sehat, bahagia dan sejahtera selalu.

    Kalau tentang pengaturan keuangan, bisa dibagi yaitu bagaimana mengalokasikan penghasilan bisa dibaca di atas. Dengan konsep 10-20-30-40 berarti dengan dana anda bisa dibagi sebagai berikut :

    10% Kebaikan = Rp 1,85 juta
    20% Masa Depan = Rp 3,7 juta
    30% Cicilan = Rp 5.55 juta
    40% Kebutuhan = Rp 7.4 juta

    Karena dana darurat anda habis, saran saya anda bisa mengumpulkan dana darurat kembali secara bertahap hingga 6 bulan pengeluaran mengingat anda sudah berkeluarga. Dengan asumsi kebutuhan bulanan keluarga anda Rp 7.4 juta per bulan, maka dikalikan 6 sama dengan Rp 44.4 juta. Paling tidak dana darurat sekitar Rp 35 – 40 juta mesti terkumpul dulu.

    Setelah itu baru anda mengumpulkan dana untuk rumah kedua dan atau hobi motor sport anda. Tapi perlu saya ingatkan juga bahwa anak anda sebentar lagi akan masuk sekolah dan biaya sekolah sekarang tidak murah.

    Dengan nilai gaji anda, seharusnya untuk menyicil rumah dengan nilai 500 – 700 juta selama 10 tahun bukan nilai yang besar setelah cicilan Rp 4.5 juta anda selesai. Yang agak membutuhkan nilai cukup besar adalah DP, tapi perkiraan saya nilai bonus tahunan anda akan cukup untuk membeli motor sport atau mencukupi sebagian besar untuk DP Rumah kedua. Tinggal prioritasnya yang mana saja.

    Perlu saya ingatkan juga bahwa yang namanya Rumah itu butuh perabotan, perlengkapan, perawatan dan yang paling penting semua itu butuh uang. Sama juga dengan motor anda, harganya tidak sekedar Rp 70 juta tapi juga perawatan, pajak dan asuransi tiap tahunnya.

    Paling ideal adalah anda berdiskusi dengan istri anda dan jika memungkinkan datang ke perencana keuangan untuk hal tersebut.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: