Home > Perencanaan Investasi, Riset Reksa Dana > Reksa Dana Baru : Panin Dana Pendapatan Berkala

Reksa Dana Baru : Panin Dana Pendapatan Berkala

Panin Dana Pendapatan Berkala

Panin Asset Management akan melakukan launching produk reksa dana pendapatan tetap yaitu Panin Dana Pendapatan Berkala pada tanggal 19 Februari 2016. Agak berbeda dengan reksa dana pendapatan tetap pada umumnya, Panin Dana Pendapatan Berkala menargetkan akan ada pembayaran dividen secara berkala setiap bulannya.

Press Conference Peluncuran Produk di Bursa Efek Indonesia

Press Conference Panin Dana Pendapatan Berkala

Seperti apa latar belakang penerbitan reksa dana ini dan seperti apa fitur2nya? Bagaimana dengan outlook untuk pasar obligasi di tahun 2016 ini? Bagaimana pula pengelolaan reksa dana ini ? Berikut penjelasannya

Informasi Tentang Panin Dana Pendapatan Berkala

Latar Belakang

Latar Belakang

Pada saat saya menyampaikan rencana penerbitan produk reksa dana pendapatan tetap, sempat ada investor yang bertanya seperti ini “Mengapa Panin Asset Management mengeluarkan produk pendapatan tetap? Apakah outlook Panin AM untuk pasar saham di 2016 ini kurang baik sehingga memutuskan untuk menerbitkan produk non saham?”

Sebenarnya alasan utama penerbitan Panin Dana Pendapatan Berkala adalah bahwa Panin AM ingin menjadi perusahaan investasi reksa dana yang memberikan one stop solution kepada nasabahnya. Dalam rangka untuk mencapai hal tersebut kami melakukan evaluasi terhadap produk-produk yang dimiliki saat ini.

Per akhir 2015, Panin AM telah memiliki reksa dana saham yaitu Panin Dana Maksima, Panin Dana Prima, Panin Dana Syariah Saham, Panin Dana Ultima dan Panin Dana Teladan. Untuk reksa dana campuran, sebenarnya variasi produk yang dikeluarkan juga sudah banyak yaitu Panin Dana Prioritas (porsi saham sekitar 10-20%), Panin Dana Syariah Berimbang (porsi saham 40-50%), Panin Dana Unggulan (porsi saham 60 – 70%) dan Panin Dana Bersama Plus (porsi saham 70 – 79%).

Ada juga Panin Dana USD yang merupakan reksa dana campuran berbasis USD. Untuk reksa dana pendapatan tetap, terdapat Panin Dana Utama Plus 2 dan Panin Gebyar Indonesia II. Untuk pasar uang terdapat Panin Dana Likuid.

Dari seluruh produk tersebut, kami menyadari bahwa ternyata kami belum memiliki produk yang menawarkan dividen. Saat ini produk reksa dana yang menawarkan dividen adalah reksa dana terproteksi. Namun kelemahan dari reksa dana terproteksi adalah masa penawarannya yang terbatas. Akibatnya investor hanya bisa membeli pada saat masa penawaran dan harus memegangnya hingga jatuh tempo.

Produk reksa dana yang memberikan dividen dan dapat diperjual belikan setiap saat masih belum banyak di pasaran. Di satu sisi, ada juga sebagian investor dan calon investor yang kami temui memiliki profil yang konservatif khususnya pensiunan. Biasanya mereka menanyakan apakah ada produk yang bisa memenuhi kebutuhan pensiunan yang membutuhkan pendapatan bulanan.

Atas dasar pertimbangan tersebutlah, akhirnya Panin Asset Management menerbitkan Panin Dana Pendapatan Berkala yang memiliki kebijakan untuk membagikan dividen ini. Meski demikian, secara peraturan hanya reksa dana terproteksi yang diperbolehkan untuk memberikan informasi mengenai indikasi return dan menjanjikan pembagian dividen. Oleh karena itulah, dalam Panin Dana Pendapatan Berkala disebut pembagian dividen jika ada.

 

Opsi Dividen Panin Dana Pendapatan Berkala

Kebijakan Dividen Panin Dana Pendapatan Berkala

Kebijakan Dividen

Pada saat menerima dividen, ada 3 opsi yang dapat dipilih oleh investor.

  1. Menerima dividen dalam bentuk tunai dengan menunjuk rekening tabungan bank yang menjadi penampung pembayaran dividen
  2. Reinvestasi kembali untuk Panin Dana Pendapatan Berkala
  3. Top up reksa dana lain

Sebagai informasi, sesuai dengan UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Pasal 4 Ayat 3 (i) hasil dari investasi reksa dana baik berupa dividen ataupun keuntungan harga bukan merupakan objek pajak. Dengan demikian besaran dividen yang diterima investor tidak lagi dipotong pajak.

Besaran nilai dividen yang ditargetkan (bukan dijanjikan) adalah Rp 5 per bulan yang dibayarkan setiap tanggal 5. Apabila tanggal 5 libur, maka dipindahkan ke hari bursa berikutnya. Dengan adanya pembayaran dividen ini, selanjutnya akan menyebabkan harga atau NAB/Up reksa dana berkurang. Sebagai ilustrasi perubahan harga reksa dana akibat pembagian dividen dalam tabel dan grafik adalah sebagai berikut :

Simulasi NAB/Up Panin Dana Pendapatan Berkala

Simulasi Panin Dana Pendapatan Berkala Tabel

Simulasi Grafik Panin Dana Pendapatan Berkala

Simulasi Panin Dana Pendapatan Berkala Grafik

Berdasarkan simulasi di atas, bisa dilihat apabila terjadi pembagian dividen maka harga reksa dana akan mengalami penurunan. Sebab pembagian dividen di Panin Dana Pendapatan Berkala ini tidak mengurangi jumlah unit penyertaan milik investor akan tetapi mengurangi harga reksa dananya. Jika diperhatikan secara seksama, sebenarnya selisih harga antara sebelum dan sesudah pembagian dividen tidak pasti sama dengan 5.

Sebab NAB/Up pada tanggal 5 adalah harga tanggal 4 ditambah kenaikan atau penurunan harga obligasi kemudian dikurangi pembagian dividen. Jadi jika harga tanggal 5 naik, bisa jadi selisihnya lebih kecil dari 5. Sebaliknya jika pada tanggal 5 harganya turun maka selisihnya bisa lebih dari 5.

Apakah setelah pembagian dividen harga reksa dana bisa turun di bawah harga Rp 1000 ? Bisa, sama seperti reksa dana pendapatan tetap lainnya, perubahan harga Panin Dana Pendapatan Berkala mengikuti mekanisme pasar. Dengan demikian ada kemungkinan harga reksa dana turun di bawah Rp 1000.

Jika harga reksa dana di bawah Rp 1000, apakah dividen akan tetap dibayarkan? Dan apakah masih akan tetap sama ? Sesuai dengan peraturan, Manajer Investasi tidak boleh menjanjikan dividen pada reksa dana pendapatan tetap. Namun secara internal, Manajer Investasi pengelola reksa dana ini telah berkomitmen untuk menjaga agar pembagian dividen bisa sebesar Rp 5 untuk jangka waktu yang panjang serta akan tetap membagikan meskipun harga obligasi sedang turun.

Transaksi Panin Dana Pendapatan Berkala

Transaksi Panin Dana Pendapatan Berkala

Pembelian, Penjualan dan Pengalihan

Terdapat 3 transaksi untuk Panin Dana Pendapatan Berkala yaitu Pembelian, Penjualan dan Pengalihan. Untuk pembelian minimum pembelian adalah Rp 100 juta dengan fee maks 0.5%. Ketentuan ini berlaku untuk pembelian pertama dan pembelian selanjutnya. Khusus untuk reksa dana ini, Panin Asset Management tidak menyediakan fasilitas Virtual Account dan Autodebet sebagaimana reksa dana lainnya. Pengecualian untuk minimum transaksi adalah apabila pembelian dilakukan menggunakan deviden yang direinvestasikan.

Besarnya nilai minimum investasi ini disebabkan karena untuk berinvestasi pada obligasi dibutuhkan nominal yang relatif besar dibandingkan saham. Untuk itulah minimum investasinya ditetapkan agak besar.

Untuk penjualan adalah minimum Rp 100.000 dengan catatan saldo setelah penjualan harus lebih besar dari Rp 100.000.000. Apabila kurang dari angka tersebut, Manajer Investasi akan meminta investor untuk merevisi formulir pembeliannya. Antara membatalkannya atau menggantinya menjadi redemption all unit.

Untuk pengalihan, investor bisa melakukan pengalihan reksa dana dari dan ke Panin Dana Pendapatan Berkala dengan catatan minimum nominal pengalihan adalah lebih dari Rp 100 juta. Proses pengalihan ini bisa terjadi dalam hari yang sama atau H+0.

Risiko

Dalam investasi sudah pasti ada risiko, termasuk juga investasi di Panin Dana Pendapatan Berkala ini. Seperti apa risiko yang dihadapi oleh investor?

  1. Risiko gagal bayar : dimana jika terjadi gagal bayar atau wanprestasi dari obligasi yang menjadi portofolio bisa menyebabkan penurunan harga reksa dana
  2. Risiko likuiditas : dimana jika manajer investasi tidak dapat membayarkan dana perintah pencairan investor karena obligasi yang dimilikinya tidak / sangat jarang diperdagangkan di pasar
  3. Risiko pasar : dimana terjadi penurunan harga yang disebabkan karena perubahan permintaan dan penawaran pasar sehingga harga obligasi turun
  4. Risiko peraturan : dimana terjadi perubahan kebijakan dari pemerintah yang menyebabkan kinerja reksa dana turun seperti perubahan kebijakan pajak

Pada dasarnya risiko adalah kemungkinan terjadinya penurunan harga pada reksa dana. Untuk itu, kita perlu memahami tentang outlook pasar obligasi dan reksa dana pendapatan tetap.

Outlook Pasar Obligasi dan Pendapatan Tetap

Sebelum berbicara outlook, berikut ini adalah kinerja historis obligasi dan reksa dana pendapatan tetap yang dikelola oleh Panin Asset Management.

Kinerja Historis Reksa Dana Pendapatan Tetap

Sebagaimana pada tabel di atas, bisa dilihat bahwa kinerja pasar obligasi baik pada tahun 2011, 2012 dan 2014 namun kurang baik pada tahun 2013 dan 2015. Kinerja tersebut sejalan dengan Panin Dana Utama Plus 2, namun jika dibandingkan dengan kinerja Indeks Obligasi (Infovesta Government Bond Index) atau rata-rata reksa dana pendapatan tetap (Infovesta Fixed Income Fund Index). Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dengan 2016? Dan bagaimana juga dengan karakteristik Panin Dana Pendapatan Berkala, apakah akan sama dengan Panin Dana Utama Plus 2 ?

Untuk outlook pasar obligasi, sebenarnya lebih sederhana karena acuan untuk pergerakan obligasi hanya ke Inflasi dan Suku Bunga. Sesuai dengan teori, jika inflasi dan suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya jika inflasi dan suku bunga turun maka harga obligasi akan naik. Akankah prakteknya sama seperti teori? Mari kita lihat grafik sebagai berikut :

Inflasi, Suku Bunga dan Kinerja Obligasi

  • 2011 : Inflasi dan Suku bunga Turun – Indeks Obligasi +14.32%
  • 2012 : Inflasi dan Suku Bunga Stabil – Indeks Obligasi +9.04%
  • 2013 : Inflasi dan Suku Bunga Naik – Indeks Obligasi -5.15%
  • 2014 : Inflasi Turun dan Suku Bunga Stabil – Indeks Obligasi +6.53%
  • 2015 : Inflasi Turun dan BI Rate Stabil – Indeks Obligasi +3.77%

Ternyata prakteknya memang tidak selalu sama karena yang namanya inflasi dan suku bunga tidak hanya naik atau turun tapi juga bisa stabil. Dalam kondisi tertentu, bisa juga inflasi turun BI Rate tidak turun. Pernah juga inflasi lebih tinggi daripada BI Rate. Namun jika kita lihat, suku bunga dan inflasi yang bagus untuk pasar obligasi adalah seperti di 2011 dan 2012 yaitu Inflasi dan Suku Bunga Turun Bersamaan atau Inflasi dan Suku Bunga Stabil di Level yang Rendah. Untuk 2014, meskipun Inflasi turun, tapi karena suku bunga stabil dan bahkan naik di akhir tahun performa obligasi bisa dibilang hanya standar saja.

Pertanyaannya, apakah kondisi Inflasi dan Suku Bunga akan baik untuk Obligasi di 2016?

Faktor Penentu Kinerja Obligasi 2016

Harga komoditas diperkirakan masih akan rendah di 2016. Hal ini selanjutnya akan berimbas ke harga komoditas lainnya sehingga tingkat inflasi karena harga komoditas masih akan tetap rendah. Dari sisi nilai tukar, perkiraan kurs yang wajar untuk Rupiah adalah di 13.905 – 14.420 untuk tahun 2016. Kondisi ekonomi AS yang saat ini sedang menuju resesi diperkirakan akan membuat US Dollar semakin sulit untuk menguat. Kondisi ini juga akan menguntungkan karena tingkat inflasi masih akan terus stabil. Keputusan pemerintah untuk menurunkan BI Rate dan Harga BBM di awal tahun juga akan berdampak bagus terhadap harga obligasi.

Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah kepemilikan asing untuk obligasi pemerintah di Indonesia lebih banyak dibandingkan negara lainnya. Hal ini akan membuat sedikit banyak obligasi Indonesia agak rentan terhadap gejolak yang terjadi di luar negeri. Untuk itu dari sisi pengelolaan Manajer Investasi akan memperhatikan risiko ini dengan membuat strategi pengelolaan yang lebih konservatif.

Pengelolaan Panin Dana Pendapatan Berkala

Pengelolaan Panin Dana Pendapatan Berkala

Berdasarkan situasi yang disebutkan di atas strategi pengelolaan Panin Dana Pendapatan Berkala sebagai berikut :

Pengelolaan akan dilakukan dengan membagi portofolio ke dalam 4 bagian sebagai berikut :

Strategi Pengelolaan Panin Dana Pendapatan Berkala

  • Portofolio Inti sebesar 30% – 50% yang ditempatkan pada Obligasi Pemerintah Jangka Pendek Menengah. Penempatan ini bertujuan untuk meminimalkan Liquidity Risk karena obligasi pemerintah relatif lebih mudah diperdagangkan. Penempatan pada jangka pendek menengah juga bertujuan untuk meminimalkan Duration Risk agar jika terjadi gejolak harga, dampak terhadap portofolio tidak besar.
  • Portofolio Capital Gain sebesar 5 – 30% yang ditempatkan pada Obligasi Pemerintah Jangka Menengah Panjang. Selain bertujuan Likuiditas karena ditempatkan pada obligasi pemerintah, portofolio ini juga bertujuan mendapatkan Capital Gain apabila terdapat situasi yang memungkinkan bagi Manajer Investasi untuk berspekulasi seperti turunnya suku bunga di tahun ini
  • Portofolio Income sebesar 20 – 40% yang ditempatkan pada Obligasi Korporasi. Penempatan ini bertujuan untuk menjaga kestabilan pembayaran dividen dan untuk mengatasi risiko gagal bayar (Default Risk), pemilihan obligasi akan dilakukan pada obligasi korporasi dengan rating minimum AA dan jatuh tempo di bawah 5 tahun
  • Portofolio Cash Reserve sebesar 5% yang ditempatkan pada Instrumen Pasar Uang. Penempatan ini sebagai antisipasi pembayaran dividen dan transaksi penjualan oleh nasabah.

Melalui kombinasi di atas, Panin Dana Pendapatan Berkala ditargetkan dapat memberikan return 7 – 10% per tahun (termasuk dividen) dengan Durasi Portofolio sekitar 2 – 3 kali. Durasi mirip dengan Beta di Saham. Semakin tinggi Durasi, berarti semakin tinggi profil risk and return reksa dana pendapatan tetap dan sebaliknya. Untuk reksa dana pendapatan tetap dengan durasi <3 kali bisa dikategorikan sebagai low risk, 3 – 5 medium risk dan > 5 sebagai high risk.

Dengan demikian, reksa dana Panin Dana Pendapatan Berkala ini akan lebih konservatif dibandingkan Panin Dana Utama Plus 2. Berdasarkan informasi dari Manajer Investasi, untuk 2016, pengelolaan Panin Dana Utama Plus 2 juga akan dibuat konservatif sehingga meminimalkan dampak gejolak harga obligasi terhadap kinerja reksa dana di masa mendatang.

Sebagai tambahan informasi, simulasinya sebagai berikut :

  • Jika target 7% tercapai, maka yang terjadi adalah nasabah beli di harga Rp 1000, menyimpannya selama 1 tahun dan menerima dividen Rp 60 (5 x 12). NAB/Up Panin Dana Pendapatan Berkala pada akhir tahun Rp 1010, sehingga total nasabah mendapat Rp 60 dari dividen dan Rp 10 dari kenaikan harga atau setara 7% jika harga belinya di Rp 1000.
  • Jika target 10% tercapai, maka yang terjadi adalah nasabah beli di harga Rp 1000, menyimpannya selama 1 tahun dan menerima dividen Rp 60 (5 x 12). NAB/Up Panin Dana Pendapatan Berkala pada akhir tahun Rp 1040, sehingga total nasabah mendapat Rp 60 dari dividen dan Rp 40 dari kenaikan harga atau setara 10% jika harga belinya di Rp 1000.
  • Jika kondisi pasar kurang baik dan yang terjadi adalah turun 5%, maka yang terjadi adalah nasabah beli di harga Rp 1000, menyimpannya selam 1 tahun dan menerima dividen Rp 60 (5 x 12). NAB/Up Panin Dana Pendapatan Berkala pada akhir tahun adalah Rp 890, sehingga total nasabah mendapat Rp 60 dari dividen dan – Rp 110 dari penurunan harga atau setara -5% jika harga belinya di Rp 1000

Demikian penjelasan untuk produk baru Panin Dana Pendapatan Berkala. Bagi teman2 yang berminat bisa menghubungi cabang Panin Asset Management dan Panin Sekuritas terdekat. Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

  1. January 27th, 2016 at 05:04 | #1

    Seperti biasa, artikel yang bagus dan sangat mendetail pak rudi..
    RD ini bisa menjadi alternatif buat orang pensiunan atau bagi mereka yang membutuhkan dana likuid setiap bulannya, baik untuk menutupi biaya operasional bisnis mereka ataupun hal sejenisnya..

  2. anisa
    February 1st, 2016 at 12:00 | #2

    selamat atas peluncuran produk barunya pak rudi, semoga sukses

    saya mengikuti rencana peluncuran produk pendapatan pertama sejak 2015, saat ini saya tau dari pemberitaan di kompas.com, namun saat itu saya kira produknya akan berbasis saham. karena asumsi saya saat itu Panin AM akan membagikan kembali deviden yang diperoleh dari saham-saham emiten, jadi kenaikan harga saham akan menaikan harga NAV dan deviden yang diperoleh akan dibagikan ke nasabah reksadana. namun jika melihat penjelasan diatas dimana target permbagian deviden adalah setiap bulan, maka benar obligasi lebih cocok sebagai instrumen investasi

    menurut pak rudi,, apakah dimasa depan akan ada kemungkinan Panin AM akan mengeluarkan produk pendapatan berkala dengan instrumen investasi saham?
    jika produk ini ada, mungkin bisa menjadi obat “sakit hati” nasabah yang ingin investasi di RD pendapatan berkala namun dengan nomina investasi yang lebih terjangkau.

    terimakasih pak rudi

  3. Rudiyanto
    February 1st, 2016 at 13:12 | #3

    @anisa
    Selamat Siang Ibu Anisa,

    Terima kasih atas dukungannya kepada produk Panin AM. Mohon maaf juga untuk Panin Dana Pendapatan Berkala ini masih belum dapat memenuhi harapan anda. Kalau boleh tahu, definisi terjangkau itu nominalnya di berapa ya?

  4. anisa
    February 2nd, 2016 at 12:15 | #4

    siang Pak Rudi,

    menurut saya definisi terjangkau untuk investasi di RD pendapatan berkala adalah 1x UMR Jakarta, dengan pertimbangan
    1. jika kurang dari itu, maka nilai yang akan dibagikan akan sangat kecil dan hampir tidak terasa
    2. bagi seorang karyawan dengan dengan level jabatan pengawas atau manejer menengah, asumsi saya akan mendapatkan gaji 3-5x UMK, sehingga masih mampu mengalokasikan dana untuk investasi sebesar 1x UMK

    meskipun demikian, jika pasar yang dituju adalah pensiunan seperti penjelasan Pak Rudi diatas, maka nilai 100jt merupakan angka yang wajar

    terimakasih Pak Rudi

  5. Rudiyanto
    February 2nd, 2016 at 13:32 | #5

    @anisa
    Selamat Siang Ibu Anisa,

    Terima kasih atas masukan yang diberikan.

  6. Redi
    October 15th, 2016 at 20:17 | #6

    Dear Pak Rudiyanto,

    Terimakasih untuk artikelnya yang mencerahkan. Stelah membaca artikel bapak diatas, saya jadi tertarik untuk berinvestasi di panin dana pendapatan berkala. Akan tetapi investasi saya kali ini mau saya peruntukkan bagi kedua orang tua saya yang akan pensiun di tahun 2018. Hemat saya, Panin pendapatan berkala cocok untuk pensiunan. Bisa mendapatkan pendapatan berkala (jika ada) dari pembagian dividen. Saya berharap dengan berinvestasi di Panin pendapatan berkala, kedua orang tua saya bisa mendapatkan tambahan tunjangan pensiunan di hari tua meraka dari pembagian dividen panin dana pendapatan berkala.
    Lebih lanjut, melihat penjelasan di atas, harga NAB/unit turun setiap kali ada pembagian dividen. Apakah saat ‘pembagain dividen’ ini merupakan moment yang tepat untuk membeli reksa dana panin pendapatan berkala secara lump sum?mengingat harga NAB/unit turun?
    Apakah memungkinkan untuk membuka rekening reksa dana panin dana pendapatan berkala untuk orang tua?

  7. Rudiyanto
    October 15th, 2016 at 23:24 | #7

    @Redi
    Salam Pak Redi,

    Terima kasih atas kepercayaannya kepada Panin Asset Management.

    Produk Panin Dana Pendapatan Berkala memang didesain untuk investor yang konservatif dan pensiunan karena ada pendapatan berkala setiap bulannya ditambah dengan fluktuasi harga yang dikelola dengan risiko seminimal mungkin.

    Terkait momen pembelian, sebenarnya tidak tergantung pada saat pembagian dividen atau tidak. Misalkan harga reksa dana Rp 1040 sebelum bagi dividen dan besoknya bagi. Asumsi harga tidak berubah, maka harganya akan turun menjadi Rp 1035.

    Jika anda membeli di harga Rp 1040 sebesar Rp 100 juta (setelah fee) di tanggal 4 Oktober, maka anda akan mendapat
    Rp 100 juta / 1040 = 96.153,84 unit
    Keesokan harinya anda akan mendapatkan dividen sebesar pada bulan Oktober sebesar
    5 x 96.153,84 unit = Rp 480.769
    Kemudian pada tanggal 5 bulan berikutnya akan kembali mendapatkan dividen dalam jumlah yang sama dan seterusnya. Harga reksa dana sendiri bisa naik turun.

    Sementara jika anda membeli pada tanggal dividen yang dibagikan sehingga tidak mendapatkan dividen (karena harus dimiliki paling lambat 1 hari kerja sebelumnya), maka pada bulan berikutnya :
    Rp 100 juta / 1035 = 96.618,35 unit
    Dividen 5 x 96.618,35 unit = Rp 483.091
    Meskipun dividennya lebih besar, tapi pada bulan Oktober anda tidak mendapatkan dividen. Dividen pertama baru dibayarkan pada bulan November.

    Untuk pembukaan rekening reksa dana, syaratnya adalah KTP Elektronik dan punya rekening di bank (apa saja) atas nama sendiri. Jika orang tua anda memenuhi syarat tersebut, pembukaan rekening bisa dilakukan.

    Untuk lebih lengkapnya anda bisa bertanya ke cs@panin-am.co.id atau Whatapps Panin AM di 081806990633. Bisa juga ke cabang agen penjual di http://www.panin-am.co.id/ContactUs.aspx

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: