Home > Riset Reksa Dana > Sharpe Ratio dan Kelemahannya Pada Saat Kinerja Negatif

Sharpe Ratio dan Kelemahannya Pada Saat Kinerja Negatif

businessman looking at formulaSelama ini metode Sharpe Ratio merupakan metode utama yang digunakan sebagai analisa kinerja reksa dana. Dari rating Infovesta untuk reksa dana di Indonesia, Penghargaan Reksa Dana Terbaik Tahunan yang versi Majalah Investor – Infovesta, Indonesia Mutual Fund Award versi Bloomberg, Reksa Dana Jagoan versi Kontan – Infovesta, hingga rating Morningstar untuk reksa dana di seluruh dunia. Ada yang hanya menggunakan metode Sharpe Ratio saja, ada juga yang mengkombinasikan dengan beberapa indikator lainnya.

Metode dan interprestasi Sharpe Ratio ini juga cukup sederhana, Sharpe Ratio = (Return Reksa Dana – Risk Free) / Standar Deviasi Reksa Dana. Jika nilai Sharpe Ratio adalah 1.5, hal ini berarti untuk setiap 1% risiko yang ditanggung, maka reksa dana tersebut memberikan excess return sebesar 1.5%. Penggunaan Sharpe Ratio biasanya adalah pada perbandingan antar kinerja reksa dana. Misalkan Reksa Dana A memiliki Sharpe Ratio 1.5 dan Reksa Dana B 2, maka Reksa Dana B dikatakan lebih baik daripada reksa dana A karena memberikan excess return yang lebih tinggi untuk tingkat risiko yang sama.

Jika berdiri sendiri, Sharpe Ratio umumnya tidak begitu berguna karena tidak memberikan informasi apa-apa. Sebab tidak ada standar Sharpe Ratio yang bagus itu harus berapa. Sharpe ratio baru bisa dikatakan bagus atau tidak jika bisa dibandingkan dengan reksa dana lain atau benchmark yang sesuai.

Sharpe Ratio memang merupakan suatu indikator yang baik dalam mengukur dan membandingkan kinerja reksa dana. Namun ketika pasar menunjukkan kinerja negatif seperti halnya pada tahun 2015 yang lalu, penggunaan metode ini berpotensi memunculkan kesalahan interprestasi. Sebagai contoh ada 2 skenario perbandingan 2 reksa dana sebagai berikut :

No Return Reksa Dana (Rrd) Risk Free (Rf) Risk (StDev) Rrd – Rf Sharpe Ratio* Interprestasi
A -10% 5% 10% -15% -1.5 Return kedua reksa dana sama, logikanya yang lebih baik adalah reksa dana dengan risiko yang lebih kecil yaitu reksa dana A. Tapi angka Sharpe Ratio menunjukkan reksa dana B lebih baik daripada reksa dana A
B -10% 5% 20% -15% -0.75
C -10% 5% 10% -15% -1.5 Reksa dana C memiliki return yang lebih baik dan risiko yang lebih kecil, namun secara Sharpe Ratio kedua reksa dana tersebut sama sehingga peringkatnya sama.
D -25% 5% 20% -30% -1.5

*Dalam kasus Sharpe Ratio negatif, maka yang lebih baik adalah yang negatifnya paling kecil

Untuk itu diperlukan penyesuaian terhadap metode Sharpe Ratio. Seperti apa penyesuaian yang diperlukan ?

Sharpe Ratio yang dimodifikasi atau Modified Sharpe Ratio ternyata sudah menjadi perhatian banyak akademisi. Ketikkan kata tersebut di Google anda akan mendapatkan berbagai referensi mengenai perhitungan Sharpe Ratio Modifikasi tersebut. Dalam pemeringkatan reksa dana yang sudah-sudah dan yang diselenggarakan tahun inipun saya yakin pihak penyelenggara akan melakukan hal tersebut. Jika tidak, dikhawatirkan hasil dari pemeringkatan reksa dana menjadi tidak valid karena kinerja kebanyakan reksa dana yang negatif.

Setelah mempelajari beberapa referensi yang ada, ternyata modifikasi terhadap Sharpe Ratio tidak hanya karena kinerja yang negatif, tapi juga karena asumsi fat tail pada standar deviasi. Secara sederhana, standar deviasi adalah penyimpangan dari rata-rata return. Misalkan suatu reksa dana memiliki rata-rata return 10% dan standar deviasi 15%, maka kinerja reksa dana akan berkisar antara 10% – (1 x 15%) hingga 10% + (1 x 15%) atau -5% hingga 25%.

Angka pengali bisa 1, 2 atau 3 tergantung tingkat kepercayaan yang digunakan. Biasanya jika 68% = 1, 95% = 2 dan 99% = 3. Semakin tinggi tingkat kepercayaan yang digunakan, semakin akurat pula perkiraan kisaran return tersebut. Angka terendah tersebut disebut dengan risiko dan jika dikalikan dengan nominal investasi disebut juga Value At Risk. Misalkan seorang investor berminat menanamkan investasi senilai Rp 100 juta, dan angka terendah sesuai perhitungan di atas adalah -5%, maka Value At Risknya adalah Rp 100 juta x -5% = -Rp 5 juta.

Yang dimaksud dengan fat tail adalah perhitungan standar deviasi yang berasumsi return akan berada pada kisaran +/- dari rata-ratanya terkadang dianggap tidak akurat. Sebab antara reksa dana yang naik 10% tiap tahun dan turun 10% tiap tahun secara matematika memiliki standar deviasi yang sama. Tentu tidak adil jika standar deviasi yang dihitung dari kenaikan dianggap sama dengan standar deviasi yang dihitung dari penurunan. Dalam bahasa ilmiah, fat tail juga disebut dengan istilah data return yang tidak terdistribusi dengan normal.

Dengan adanya perbedaan latar belakang tersebut perlunya Sharpe Ratio Modifikasi, metode perhitungannya bisa bervariasi. Ada yang cukup sederhana dengan mengganti rumusnya seperti yang dilakukan oleh Bloomberg untuk pemeringkatan reksa dana terbaik :

Sharpe Ratio (SR) = (Rrd – Rf) / Std Rd menjadi Modified Sharpe Ratio = (Rrd – Rf) x Std Rd

Ada pula yang agak ribet karena memperhitungkan ketidaknormalan distrusi data dengan memasukkan statistik seperti Skewness, Kurtosis, dll. Untuk itu rumusnya menjadi

Modified Sharpe Ratio = (Rrd – Rf) / MVar

MVar adalah Modified Value At Risk yang memperhitungkan distribusi data. Detailnya bisa anda baca di sini Modified Sharpe Ratio.

Menurut saya, Modified Sharpe Ratio yang digunakan oleh Bloomberg agak kurang tepat karena mengganti rumus dari bagi menjadi kali. Meski demikian, bukan berarti perhitungan tersebut salah. Hanya saja, jika mengganti rumus menurut saya sudah kurang tepat. Sementara untuk metode yang memperhitungkan distribusi data, menurut saya terlalu sulit untuk dipahami oleh orang awam. Penemu metode tersebut menurut saya perlu memberikan pengujian bahwa perhitungan menggunakan MVAR sebagai pengganti Standar Deviasi menghasilkan peringkat yang berbeda dan hasil menggunakan MVAR lebih masuk akal. Sayangnya, saya belum menemukan pengujian tersebut.

Upaya memodifikasi Sharpe Ratio sebelumnya memang sudah pernah dilakukan. Seperti yang dilakukan Sortino dengan mengganti Standar Deviasi dengan Downside Deviation – Standar Deviasi yang hanya menghitung pada saat return negatif saja dan yang dilakukan oleh Roy dengan mengganti Risk Free menjadi Minimum Acceptable Return (MAR). Maksudnya Risk Free dianggap terlalu kecil sehingga digunakan target return investor pada reksa dana saham. Sesuai dengan nama pemodifikasinya, dikenalnya Sortino Ratio dan Roy Safety First Ratio. Anda bisa mencari lebih banyak tentang kedua ratio tersebut di Google.

Sortino Ratio = (Rrd – Rf) / Downside Deviation Rd

Roy Safety First Ratio (SF Ratio) = (Rrd – Minimum Acceptable Return) / Standar Deviasi

Pada saat bekerja di Infovesta dulu, saya sempat meneliti kedua cara tersebut. Dari perbandingan antara Sharpe Ratio dan Sortino Ratio, ternyata peringkat reksa dana yang dihasilkan tidak berbeda secara signifikan untuk jenis reksa dana saham. Dengan demikian, mau menggunakan standar deviasi atau Downside Deviation sebetulnya sama saja. Secara prinsip kelihatan lebih benar, tapi hasilnya sama. Saya tidak tahu kalau sekarang apakah hasilnya masih sama, tapi jika anda peneliti menurut saya bisa meneliti topik tersebut.

Untuk Roy Safety First Ratio pada dasarnya pasti akan sama dengan Sharpe Ratio karena mengganti Rf dengan MAR. Namun ketika diterapkan pada pasar negatif terjadi cukup efektif untuk mengatasi kelemahan Sharpe Ratio. Caranya adalah dengan menetapkan MAR pada angka return negatif sehingga pengurangan dari Rrd – MAR akan menghasilkan angka positif. Logikanya misalkan pada tahun 2015 kinerja IHSG minus sekitar -12%, maka MAR bisa ditetapkan sebesar -20%. Angka -20% tersebut relatif, yang penting lebih kecil daripada pengurangan antara Rrd – MAR menghasilkan angka positif.

Penggunaan Roy Safety First Ratio dengan menggunakan MAR -30% pada contoh kasus yang disebutkan di awal adalah sbb :

No Rrd Rf Std Dev Rrd – Rf SR MAR Rrd – MAR SF Keterangan
A -10% 5% 10% -15% -1.5 -30% +20% 2 Jika berdasarkan Sharpe Ratio, maka peringkat B lebih baik, namun menggunakan Safety First Ratio, peringkat A lebih baik dan ini sesuai dengan logika karena untuk kerugian yang sama, risiko A lebih kecil.
B -10% 5% 20% -15% -0.75 -30% +20% 1
C -10% 5% 10% -15% -1.5 -305 +20% 2 Jika berdasarkan Sharpe Ratio, peringkat kedua reksa dana sama. Dengan menggunakan Safety First Ratio, peringkat C lebih baik dan sesuai dengan logika karena baik return dan risikonya jelas-jelas lebih kecil.
D -25% 5% 20% -30% -1.5 -30% +5% 0.25

Penggunaan Safety First Ratio memang bisa menghasilkan peringkat reksa dana yang sesuai dengan logika berpikir. Meski demikian, untuk kasus reksa dana A dan B sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Alasan reksa dana A diberikan peringkat yang lebih baik dibandingkan reksa dana B adalah karena kedua reksa dana tersebut memiliki kerugian yang sama, hanya saja risiko reksa dana A lebih kecil sehingga perlu di apresiasi.

Namun dari sudut pandang yang lain, logikanya reksa dana B yang risikonya lebih besar tentu kalau rugi “seharusnya” lebih besar daripada reksa dana A. Tapi kenyataannya, tingkat kerugian reksa dana B sama dengan reksa dana A, sehingga sebetulnya patut diapresiasi. Dalam kasus ini, fat tail atau data yang tidak terdistribusi dengan normal terjadi. Risiko reksa dana B memang lebih besar dari reksa dana A, tapi karena bisa saja risiko tersebut lebih banyak dihitung dari fluktuasi return positif dibandingkan return negatif sehingga tingkat returnnya sama dengan retun reksa dana A yang risiko lebih kecil.

Dalam dunia nyata, sebetulnya pengandaian seperti kasus A, B, C dan D di atas agak sulit untuk ditemukan. Meski tidak semua data terdistribusi dengan baik, tapi kecendrungan fat tail amat jarang dan pola dari pergerakan reksa dana saham pada dasarnya sama. Sehingga penggunaan standar deviasi sebagai risiko sudah cukup. Tinggal kalau pasar negatif, disesuaikan saja pengurangnya dari Risk Free menjadi Minimum Acceptable Return.

Demikian, semoga artikel ini

NB : Untuk Tahun 2016 saya mencoba membesarkan ukuran Font dan menggunakan format Tahoma karena saya merasa font asli agak kekecilan. Jika anda lebih nyaman dengan font lama silakan komentar di bawah.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. January 18th, 2016 at 17:24 | #1

    Pak Rudi yang terhormat..
    Saya sudah 6 bulan ini bermain di RD Saham dan Campuran Panin, keduanya dengan sistem autodebet. Kebetulan saya ada dana lebih yang mau saya lump sumkan di RD saham dalam waktu dekat ini, namun melihat fee di Panin yang sekarang 2%(yang mana itu terlalu besar dibandingkan Fee Vanguard yang berkisar dibawah 1%) saya agak mengurungkan niat saya, sehingga disini saya ingin meminta saran dari bapak adakah reksa dana di Indonesia yang feenya masih dibawah 1% juga pak? Atau jikalau memang tidak ada apakah Reksa dana yang menurut bapak mempunyai fee terendah dan layak untuk menjadi pilihan saya ke depannya?
    Terima kasih..

  2. Rudiyanto
    January 18th, 2016 at 17:35 | #2

    @ahmad raihan
    Salam Pak Ahmad,

    Terima kasih atas kepercayaannya kepada Panin Asset Management. Masukan saya, produk reksa dana yang anda beli adalah produk investasi, bukan mainan. Jadi jika memang mau bermain-main, bisa membeli mainan yang sebenarnya.

    Mengenai fee, sebelum saya menjawab pertanyaan anda, apakah boleh saya tahu dimana anda membeli reksa dana Vanguard yang katanya fee di bawah 1% tersebut?

    Terima kasih

  3. Budi
    January 18th, 2016 at 19:14 | #3

    Salam pak Rudi,

    Ingin menanggapi artikel di atas, sepertinya yang menjadi “permasalahan” lebih kepada cara pandang mana yang lebih tepat dalam membandingkan reksadana daripada metodenya.

    Misalnya pada perbandingan reksadana A dan B, jika A dipandang lebih baik dari B karena resikonya lebih rendah, maka memang Sharpe Ratio perlu dimodifikasi pada saat kinerja negatif.

    Namun dengan cara pandang alternatif kedua, yang menilai B lebih baik dari A karena dengan resiko yang lebih besar, bisa memberi return yang sama (atau D setara dengan C karena return yang lebih rendah dijustifikasi dengan resiko yang lebih besar) maka Sharpe Ratio tetap berfungsi baik dan tidak memerlukan modifikasi.

    Jadi tampaknya, pertama-tama yang perlu diperdebatkan atau diteliti adalah, cara pandang manakah yang lebih tepat atau lebih logis untuk menilai reksadana pada kinerja negatif. Barulah dapat dipilih, metode mana yang paling sesuai digunakan.

  4. January 18th, 2016 at 23:50 | #4

    @Rudiyanto
    Dear pak Rudiyanto
    Maafkan saya jika kata2 mainan itu menyinggung bapak..
    Saya baru saja selesai membaca buku 4 pillar of investing(tahun 2002) pak, dan beberapa kali william j bernstein menyebutkan bahwa fee di vanguard berkisar di 0,3-0,6%, walau saya kurang tau sekarang berapa fee dari RD Vanguard sendiri pak..
    Dan isi buku itu menekankan bahwa pentingnya memperhatikan fee dari mutual fund karena perbedaan 1% saja dalam jangka 10 tahun itu akan sangat terasa dampaknya..
    Walau saya tahu fee itu hanya ujung dr gleiser biaya yg ada di RD..
    Mohon diluruskan jika ada kesalahan kata pak,saya juga termasuk pemain baru di bidang keuangan ini(saya baru mulai terjun juni 2015)

  5. Rudiyanto
    January 19th, 2016 at 00:08 | #5

    @Budi
    Salam Pak Budi,

    Masukan dari saya, untuk cara pandang alternatif kedua, dalam sudut pandang akademis terjadi distribusi data yang tidak normal sehingga standar deviasi dianggap tidak mencerminkan risiko yang sebenarnya. Untuk itu, penyesuaian perlu dilakukan dengan mengganti standar deviasi menjadi Modified Value At Risk yang sangat repot perhitungannya menurut saya.

    Semoga bermanfaat.

  6. Rudiyanto
    January 19th, 2016 at 00:41 | #6

    @Ire
    Salam Pak Ire,

    Mau meluruskan bahwa saya tidak tersinggung pak. Hanya saja saya ingin menanamkan mindset yang benar ke masyarakat bahwa reksa dana adalah produk investasi dan bukan mainan. Jika sejak awal menggangap investasi itu “bermain” khawatirnya kita tidak serius. Dan jika memang demikian, bisa jadi kita latah menghadapi risiko dan tidak punya tujuan investasi yang jelas.

    Fee dari Vanguard yang anda baca tersebut bukan fee pembelian tapi biaya operasional reksa dana atau expense ratio. Keterangan dari mengenai expense ratio bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/09/mengenal-laporan-keuangan-reksa-dana/

    Vanguard yang dimaksud adalah reksa dana indeks. Argumentasi dari buku-buku luar negeri adalah bahwa dalam jangka panjang reksa dana saham yang dikelola secara agresif kalah dengan indeks. Jadi lebih baik beli reksa dana indeks yang dikelola secara pasif. Definisi pasif, adalah biaya pengelolaan yang relatif murah.

    Jika mengacu pada riset yang dilakukan memang benar bahwa “kebanyakan” dari reksa dana saham di AS kalah dengan S&P atau Dow Jonesnya. Yang dimaksud dengan kebanyakan itu bisa mencapai lebih dari 95%. Sehingga mencari reksa dana saham yang mampu mengalahkan pasar secara konsisten, itu dikatakan seperti mencari kuda bertanduk (unicorn).

    Tapi di Indonesia menurut saya tidak demikian. Riset saya yang per hingga 2011, menunjukkan bahwa masih kurang lebih ada setengah dari reksa dana saham yang mampu mengalahkan IHSG. Referensi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/01/05/mengenal-reksa-dana-indeks-etf-3-apakah-layak-untuk-dimiliki/ Data tersebut memang perlu di update lagi.

    Untuk itu jika expense ratio untuk reksa dana saham lebih tinggi daripada reksa dana indeks, sepanjang dalam jangka panjang mampu mengalahkan indeks acuan sebetulnya bisa menjadi justifikasi.

    Mengenai biaya 1% dan 2% yang kamu sebutkan, itu adalah biaya pembelian. Dalam buku investasi luar negeri dikenal juga sebagai front load fee. Untuk saat ini ketentuan di Panin Asset Management memang demikian. Tentu perusahaan berusaha memberikan pelayanan yang sepadan dengan biaya tersebut dalam bentuk fasilitas, update informasi, kegiatan edukasi dan lainnya.

    Apabila anda keberatan dengan biaya tersebut, saran saya anda bisa meningkatkan nominal autodebet anda untuk tetap mendapatkan fee 1%.

    Semoga bermanfaat.

  7. January 19th, 2016 at 06:01 | #7

    @Rudiyanto
    Pak rudiyanto yang terhormat

    Sebelumnya saya mau berterima kasih dulu sudah meluangkan waktunya untuk membalas komentar saya, jujur saja saya merasa sangat terhormat bisa bicara 1 v 1 dengan pakar reksa dana di Indonesia :).
    Kembali ke topik saya mengerti alasan kekhawatiran bapak tersebut, walau saya menggunakan kata bermain tapi saya sendiri tetap menerapkan prinsip SMART yang ada di bab 4 buku Sukses finansial dengan reksa dana kok pak,sehingga saya insyaallah sudah siap dengan risiko yang akan datang ke depannya.
    Untuk masalah reksa dana indeks itu benar sekali pak, mungkin saya salah tangkap ya,soalnya saya belum menemukan jenis RD indeks di indonesia,sehingga saya asumsikan itu sama dengan RD saham di kita..
    Dengan ini saya menjadi maklum kalau RD yg aktif dimainkan mempunyai “biaya” yang lebih besar dari RD yg pasif seperti RD terproteksi berarti ya pak..
    Okedeh,mungkin 2% juga tidak terlalu tinggi dibandingkan biaya RD di tempat lain yang mencapai 3,8-4%. Kalau begitu saya putuskan untuk menaruh uang saya di RD saham saja pak,selagi pasar lagi dalam bear market seperti ini(yg berarti dalam jangka panjang return yg diterima akan lebih besar dibanding masuk ketika pasar sedang bull market).
    Terima kasih sekali lagi pak atas waktunya..
    Best regard

  8. Rudiyanto
    January 20th, 2016 at 21:27 | #8

    @Ire
    Salam Pak Ire,

    Terima kasih atas pengertiannya. Mengenai yang 2% dan 3.8%-4% itu, sepertinya kamu masih belum bisa membedakan antara biaya pembelian dan biaya pengelolaan expense ratio. Jadi saran saya anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/01/seluk-beluk-biaya-reksa-dana/

    Sebab yang 1% untuk autodebet dan 2% untuk transaksi biasa yang kamu bayar tersebut itu biaya pembelian, sementara yang satunya lagi adalah biaya operasional dan dibayarkan oleh reksa dana.

    Mengenai keputusan investasi anda itu hak setiap orang, saran saya tetap berfokus pada tujuan keuangan yang sudah ditetapkan sejak awal.

    Semoga bermanfaat

  9. bintang pratama
    January 24th, 2016 at 19:11 | #9

    selamat malam pak rudy, mohon maaf mengganggu waktu bapak, saya bintang salah satu mahasiswa perguruan tinggi di sby. kebetulan saya sedang meneliti perbandingan kinerja reksadana syariah saham, reksadana syariah prndapatan tetap dan reksadana syariah campuran menggunakan metode sharpe periode 2012 sampai 2014. hasilnya tidak terdapat perbedaan kinerja antara ketiga teksadana syariah tersebut. di tahun 2013 memang kebanyakan hasil kinerja sharpenya negatif. kira-kira ada ada alasan mengapa tidak terjadi perbedaan kinerja itu kah pak? toh saya rasa seharusnya hasil penelitin saya itu terdapat perbedaan kinerja, tetapi fakta di lapangan berkata lain. terima kasih pak, mohon jawabannya.

  10. Rudiyanto
    January 27th, 2016 at 13:52 | #10

    @bintang pratama
    Selamat Siang Pak Pratama,

    Terkait dengan hasil penelitian anda, sepanjang anda yakin tidak ada yang salah hitung begitu pula dengan metodenya ya silakan saja. Konteks dari tulisan di atas adalah seandainya terjadi kinerja negatif, jika dari periode 2012 – 2014 terjadi kinerja positif maka kondisinya sudah berbeda.

    Kemudian tulisan saya di atas juga membandingkan reksa dana sejenis, bukan reksa dana yang berbeda jenis.

    Semoga informasi ini bermanfaat, terima kasih

  11. aditya irawan
    March 16th, 2016 at 13:15 | #11

    Selamat siang pak Rudi.

    Saya mau menanyakan pak, mengapa hasil pada perhitungan Sharpe dan treynor memiliki nilai yang seluruhnya negatif? Padahal nilai rate of returnnya positif, Standar deviasi & beta juga positif dan memiliki pertumbuhan AUM yang besar (positif).
    Jika secara logika, yang memiliki return positif dan pertumbuhan AUM yang tinggi memiliki kinerja yang lebih bagus. Tapi mengapa bernilai negatif?
    Sedangkan pada perhitungan Jensen terdapat nilai yang positif (tidak semua negatif).
    Jika dilihat dari rumus, perhitungan yang negatif dikarenakan nilai RF lebih besar dari pada rate of return dari reksadana. Lalu bagaimana menanggapinya pak?
    Mohon bantuannya. Terimakasih.

  12. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 17:11 | #12

    @aditya irawan
    Selamat Sore Pak Aditya,

    Terkait pertanyaan anda, tanggapan saya :
    1. Apa hubungan antara pertumbuhan AUM dengan Sharpe dan Treynor?
    2. Untuk angka negatif, bukankah sudah anda jawab sendiri bahwa karena RFnya lebih besar. dan apa masalahnya?
    3. Interprestasi dari Sharpe dan Treynor dengan Jensen kan tidak sama persis, dan memangnya kenapa kalau negatif ?

    Semoga bermanfaat

  13. Ghea Natasha
    July 13th, 2016 at 08:43 | #13

    Pagi Pak Rudi

    saya sedang dalam proses menyelesaikan skripsi saya untuk S1 dengan menganalisis kinerja reksa dana syariah dengan konvensional menggunakan metode sharpe, treynor, jensen, dan information ratio. saya meneliti reksa dana saham dan campuran. lalu saya mendapatkan hasil bahwa hanya reksa dana campuran syariah dan konvensional yang mendapati perbedaan signifikan yang dihitung dengan metode Jensen dan Information Ratio.

    pertanyaan saya, kira-kira apa pembahasan analisis yang tepat untuk menjelaskan kenapa hanya 2 metode itu yang berbeda? ada apa dengan metode lainnya ?
    terima kasih pak :)

  14. Rudiyanto
    July 14th, 2016 at 18:48 | #14

    @Ghea Natasha
    Salam Ibu Ghea,

    Kalau memang yakin data dan cara hitungnya sudah benar, maka silakan ditanyakan sama dosen pembimbing anda.

    Lagipula apakah memang ada ketentuan bahwa hasilnya harus sama atau berbeda? Dan kalaupun beda, yang harus dibaca adalah teori rumus tersebut.

    Semoga bermanfaat

  15. Maria
    July 31st, 2016 at 08:59 | #15

    Selamat pagi pak,
    Saya ingin bertanya terkait dengn artikel yang sangat amat bermanfaat ini dikarenakan penelitian yg sedang saya kaji.
    Saya menggunakan kinerja reksadana saham sebagai veriabel bebas saya dan periode penelitian saya hanya 2015. Dan ternyata memang betul hampir semua kinerja negatif.
    Boleh saya sathu apakah alasan / latar belakang mengapa bisa terjadi kinerja yg begitu buruk di tahun 2015?

  16. Rudiyanto
    July 31st, 2016 at 14:15 | #16

    @Maria
    Selamat siang ibu Maria,

    Bukankah sebagai peneliti adalah tugas anda untuk mencari tahu mengapa terjadi kinerja yang negatif ?

    Semoga bermanfaat

  17. Maria
    September 24th, 2016 at 09:16 | #17

    Yth Pak Rudy, saya ingin menanyakan. Bagaimana rumus sharpe ratio dimana risiko dlm rumusnyaa menjadi pembagi sedangkan dalam rumus modifikasi menjadi kali? Apakah ada buku refrensi untuk rumus tersebut?

  18. Rudiyanto
    September 27th, 2016 at 21:32 | #18

    @Maria
    Salam Ibu Maria,

    Untuk rumus bukankah sudah disebutkan di atas?
    Kalau referensi buku saya tidak ada, tapi kalau link sudah saya berikan di atas.

    Semoga bermanfaat

  19. Maria
    October 2nd, 2016 at 16:41 | #19

    Selamat sore Pak,
    Terima kasih untuk balasan nya
    Boleh saya tahu ya dari mana kita bisa tahu bahwa Bloomberg menggunakan modified sharpe ratio dengan rumus menjadi standar deviasi dikalikan bukan dibagi?
    Terima kasih atas bantuannya Pak

  20. Maria
    October 2nd, 2016 at 16:42 | #20

    Selamat sore Pak,
    Terima kasih untuk balasan nya
    Boleh saya tahu ya dari mana kita bisa tahu bahwa Bloomberg menggunakan modified sharpe ratio dengan rumus menjadi standar deviasi dikalikan bukan dibagi?
    Terima kasih atas bantuannya Pak :)

  21. Rudiyanto
    October 3rd, 2016 at 18:24 | #21

    @Maria
    Salam Ibu Maria,

    Anda bisa mencari artikel dari bloomberg Indonesia pada saat pemeringkatan ini dilakukan. Saya tidak tahu apakah masih ada atau tidak.

    Semoga beruntung

  22. Fajri
    January 25th, 2017 at 00:03 | #22

    Salam,
    Yth Prof Rudiynato
    Saya Fajri Prof, mahaisswa semester5. Saya juga NAsabah di Panin Asset Manaj. Semarang.
    Prof, saat inisaya sedang melakukan penelitian mengenai kinerja saham. saya ingin bertnya beberapa hal:
    1. Bagaimana cara menghitung sharpe, teynor n jensen apabila saya membandingkan berdasarkan indeksnya (JII dan LQ45), sample saham yg dipakai 30 saham dr masing2 indeks, data yg saya pakai adalah 5 tahun terakhir.
    2. Apakah Panin Aset Manajemen menyediakan data statistik mengenai saham keseluruhan selama lima tahun terakhir?
    Mungkin itu Prof, jika Prof punya waktu luang, tolong untuk dijawab Prof.
    Terimakasih

  23. Rudiyanto
    January 25th, 2017 at 00:56 | #23

    @Fajri
    Salam Pak Fajri,

    Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena telah menjadi nasabah Panin Asset Management. Perlu diklarifikasi bahwa saya bukan seorang profesor, kebetulan senang dengan data dan berbagi di blog saja.

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Cara menghitung Sharpe, Treynor dan Jensen bisa dibaca pada buku keuangan dan investasi anda. Setahu saya, perhitungan dan contohnya selalu ada. Kalau anda membutuhkan contohnya, kebetulan ada di salah satu file excel yang ditawarkan bersamaan dengan buku saya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/pesan-buku-rudiyanto/pesanbuku/

    2. Mohon maaf, untuk saat ini belum ada, tapi saya bisa berikan cara mengambil datanya di OJK. Bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/02/03/panduan-mencari-data-harga-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat

  24. Adam
    January 30th, 2017 at 14:18 | #24

    Siang Pak Rudiyanto,

    Saya punya beberapa pertanyaan,

    1) Apakah ada kriteria khusus untuk menentukan nilai MAR pada Safety First Ratio? Atau memang MAR hanya digunakan untuk mengkonfersi semua data mejadi positif?

    2) Perlukah saya menambah risk free rate di depan, supaya hasil perhitungan lebih akurat?

    dengan kata lain saya merubah rumus dari:

    (SF Ratio) = (Rrd – Minimum Acceptable Return) / Standar Deviasi

    menjadi:

    (SF Ratio) = ((Rrd – Rf) – Minimum Acceptable Return) / Standar Deviasi

    3) Kalau Sharpe Ratio memang hanya bisa digunakan jika ada pembanding, kenapa kita harus masukkan Rf dalam rumus pak? toh bukannya return semua reksa dana yang akan dibandingkan, nantinya dikurangi Rf juga, yang notabene nilainya sama?

  25. Rudiyanto
    January 31st, 2017 at 12:48 | #25

    @Adam
    Salam Pak Adam,

    Pertanyaan yang sangat kritis, biasanya datang dari orang yang memahami persoalan atau sudah done the home work. Berkaitan dengan pertanyaan anda :

    1. Tidak ada kriteria khusus. Sebab MAR itu singkatannya Minimum Acceptable Return. Namanya Acceptable bisa berbeda tiap investor. Dalam konteks artikel ini, memang perlu dikonversi agar positif semua. Tapi bisa saja lain.

    2. Kalau itu takutnya jadi Adam Ratio, bukan Sharpe atau Roy’s Safety First lagi. Dalam konteks anda mengambil S-3 yang membuat teori baru rasanya tidak salah, tapi kalau S1 atau S2, dimana anda meneliti atau mempertanyakan suatu teori, rasanya tidak tepat.

    Lain ceritanya kalau anda mendefinisikan MAR adalah return setelah dikurangi RF. Jadi tergantung argumentasi dengan pembimbing.

    3. Kalau mengenai kenapa harus dikurangi RF, mesti tanya sama pak William Sharpe-nya langsung. Mungkin anda bisa masukkan di bagian kesimpulan atau pengembangan lebih lanjut. Tapi saya yakin di paper pasti dijelaskan mengapa ditambahkan RF. Logika umum adalah sebaiknya kinerja reksa dana bisa lebih tinggi dibandingkan RF.

    Semoga bermanfaat

  26. Hanif Hidayat
    February 7th, 2017 at 10:39 | #26

    Pagi pak, mau tanya dong cara mencari standar deviasi reksa dana saham gimana yaa pak? Apakah di file Excel yg bapak kirimkan ada contoh perhitungannya? Terima kasih

  27. Rudiyanto
    February 9th, 2017 at 23:44 | #27

    @Hanif Hidayat
    Salam pak Hanif,

    Untuk perhitungan standar deviasi atau total risk sudah ada di file excel yang dikirimkan.
    Ada data NAB, perhitungan return dan rumus excel untuk mencari besaran standar deviasi.

    Silakan mengecek file excel yang sudah dikirimkan secara lengkap.

    Terima kasih

  28. Indah
    October 31st, 2017 at 11:09 | #28

    Selamat pagi pak.,

    saya mau tanya untunk rumus sharpe rasio ini harus menggunakan rata-rata returnya atau bisakah saya menggunakan returnnya saja. Misal saya ingin menghitung sharpe ratio dibulan Feb 2017 dengan return diakhir bulan sebesar 5,2% bisakah saya menghitungnya menggunkan angka tersebut saja? atau saya harus menghitung return rata2 di bulan feb 2017 terlebih dahulu?

  29. Rudiyanto
    October 31st, 2017 at 15:55 | #29

    @Indah
    Selamat sore Ibu Indah,

    Metode pengukuran kinerja reksa dana, salah satunya Sharpe Ratio, mengukur kinerja reksa dana utk periode tertentu misalkan dari bulan – tahun hingga bulan – tahun.

    Jadi bukan soal rata-rata return atau return, tapi periode yang mau diukur dari kapan dan datanya apakah sesuai.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: