Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Evaluasi Reksa Dana Berdasarkan Umur dan Harga NAB/Up

Evaluasi Reksa Dana Berdasarkan Umur dan Harga NAB/Up

Analisa Reksa Dana

Pada suatu event yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya. Pertanyaannya, kurang lebih sebagai berikut :

“Pak, saya sudah memantau reksa dana Panin selama bertahun-tahun. Menurut saya, Panin Dana Teladan lebih baik daripada Panin Dana Ultima. Buktinya, Ultima sudah terbit dari tahun 2014 harganya kurang dari 1000 tidak jauh beda dengan Teladan yang baru terbit tahun ini”

Sebenarnya jika anda memperhatikan reksa dana saham di Panin Asset Management, fenomena yang sama juga terjadi pada Panin Dana Syariah Saham dan Panin Dana Ultima. Usia Panin Danin Dana Syariah Saham lebih panjang karena terbit dari tahun 2012, tapi harganya tidak berbeda jauh dengan Panin Dana Ultima. Jika di teliti lebih jauh di www.infovesta.com, sebenarnya contoh-contoh seperti ini juga bisa ditemui dengan mudah. Ada reksa dana saham yang usianya sudah sekian tahun tapi harganya tidak berbeda dengan reksa dana yang baru terbit 1-2 tahun saja.

Sebagai contoh, berikut ini adalah screen capture kinerja reksa dana Panin Dana Ultima dan Panin Dana Syariah Saham dari www.panin-am.co.id per tanggal 13 November 2015

Syariah Saham

Panin Dana Ultima

Pertanyaannya, apakah baik buruknya kinerja reksa dana bisa ditentukan berdasarkan usia dan harga NAB/Upnya ?

Usia reksa dana memang penting, meski demikian bukan berarti reksa dana yang sudah berusia akan lebih baik dibandingkan yang masih baru atau sebaliknya. Usia reksa dana penting karena adanya kinerja historis akan memudahkan bagi reksa dana tersebut untuk dievaluasi. Ibarat anda sedang melakukan interview calon karyawan baru, pengalaman dan pencapaian sebelumnya sedikit banyak bisa dijadikan sebagai referensi. Meski demikian, prinsip kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang di masa depan berlaku baik untuk pemilihan calon karyawan dan reksa dana.

Kemudian NAB/Up atau lebih dikenal sebagai harga reksa dana juga penting, karena kalau tidak ada harga kita tidak bisa mengetahui performa dari suatu reksa dana. Kalau diibaratkan dalam interview calon karyawan, harga ini mungkin mirip dengan gaji terakhirnya. Makin tinggi gaji terakhirnya, tentu sedikit banyak bisa menjadi referensi bagaimana kinerja calon karyawan tersebut di masa lalunya.

Lama pengalaman kerja dan besaran gaji terakhir mungkin bisa menjadi pembanding yang baik apabila anda mewawancara 2 calon karyawan yang usianya sama persis. Namun ketika usianya berbeda, calon dengan pengalaman kerja lebih pendek tidak selalu lebih tidak baik dibandingkan calon dengan pengalaman kerja yang panjang. Bagaimana mau punya pengalaman kerja atau gaji besar kalau baru bekerja 1-2 tahun??

Di reksa dana prinsip yang demikian juga berlaku, harga reksa dana dapat dijadikan sebagai indikator reksa dana mana yang lebih baik, jika dan hanya jika kedua reksa dana tersebut diterbitkan pada waktu yang bersamaan. Jika waktunya sudah berbeda, maka sebenarnya untuk mengatakan suatu reksa dana lebih baik atau lebih tidak baik menjadi tidak relevan.

Apakah mungkin ada reksa dana yang usianya lebih pendek memiliki harga yang lebih tinggi daripada reksa dana yang usianya lebih panjang? Sangat mungkin. Malah kasus seperti ini sangat banyak dijumpai di reksa dana saham, salah satunya contoh yang ditunjukkan di atas. Apakah hal ini berarti reksa dana yang harganya lebih tinggi dan usianya lebih pendek lebih bagus dibandingkan reksa dana yang harganya lebih rendah dan usianya jangka panjang ? Jawabannya tidak.

Harga reksa dana juga sangat ditentukan kinerja saham dan obligasi pada saat dia terbit. Bisa saja reksa dana A yang berusia 1 tahun terbit pada tahun awal 2014, dimana pada tahun tersebut kinerja IHSG membukukan keuntungan sekitar 20%++ sehingga harganya pada akhir tahun pertama adalah 1200. Sementara reksa dana B yang sama-sama berusia 1 tahun, tapi terbitnya awal tahun 2015. Sebagaimana diketahui kinerja saham hingga periode November ini minus sekitar 15%, sehingga di akhir tahun jika kinerja ini terus bertahan harganya akan berkisar di 850.

Membandingkan Kinerja Reksa Dana : Waktu Yang Sama

Dalam membandingkan kinerja 2 reksa dana yang usianya berbeda, boleh menggunakan harga tapi harus dilihat berdasarkan harga pada periode yang sama. Misalkan ada 2 reksa dana A usianya 3 tahun terbit 10 Januari 2012 dan B usianya 1 tahun terbit 10 Januari 2014. Maka untuk membandingkan kedua reksa dana tersebut, adalah fair jika menggunakan harga yang sama yaitu mulai dari 10 Januari 2014. Oleh karena itu, pada berbagai tools evaluasi kinerja reksa dana yang tersedia secara online, biasanya selalu menggunakan periode yang sama seperti 6 bulan terakhir, 1 tahun terakhir, 3 tahun terakhir dan sebagainya. Yang dibandingkan juga bukan besaran harga, tapi persentase perubahan harga tersebut.

Jadi inti daripada membandingkan kinerja kedua reksa dana adalah harus mulai dari waktu yang sama dan yang dibandingkan adalah persentase harganya. Berikut ini adalah contoh perbandingan kinerja reksa dana yang tersedia pada website www.panin-am.co.id

Perbandingan Kinerja Ultima dan Syariah SahamPerlu diingat, membandingkan persentase kinerja reksa dana dalam waktu yang sama hanya dari sisi keuntungan atau return saja. Dalam investasi, ada juga unsur risiko atau risk. Risiko bisa diukur dengan indikator yang kuantitatif seperti beta dan standar deviasi. Bisa juga dilihat pergerakan reksa dana dari waktu ke waktu terutama pada saat pasar mengalami koreksi yang signifikan. Ketika kita membandingkan reksa dana dari kedua sisi yaitu Risiko dan Return, baru bisa disebut kita melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana.

Evaluasi Kinerja Reksa Dana : Risiko, Return dan Benchmark

Selain risk and return, buat anda yang berkecimpung di dunia investasi benchmark atau pembanding juga merupakan indikator yang penting. Sebagai contoh, reksa dana berbasis pendapatan tetap yang berbasis obligasi tentu kinerjanya tidak dapat dibandingkan dengan reksa dana saham yang berbasis saham. Untuk reksa dana saham sekalipun adalah reksa dana saham konvensional yang bisa berinvestasi pada seluruh jenis saham dan reksa dana saham syariah yang hanya bisa berinvestasi pada saham yang memenuhi prinsip syariah saja. Oleh karena itu, meskipun sejenis, terkadang Manajer Investasi lebih menyukai jika dibandingkan reksa dana yang sejenis juga. Misalkan reksa dana saham syariah dengan reksa dana saham syariah.

Untuk indikator pembanding (Benchmark) yang digunakan sebaiknya juga relevan, misalkan untuk reksa dana saham bisa menggunakan IHSG atau LQ-45. Sementara untuk reksa dana saham syariah bisa menggunakan ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) dan JII (Jakarta Islamic Index). Ada juga yang menggunakan rata-rata reksa dana sejenis sebagai acuan. Indeks rata-rata reksa dana sejenis umumnya diterbitkan oleh perusahaan riset, salah satunya oleh www.infovesta.com. Berikut ini adalah contoh perbandingan kinerja dengan benchmark yang bisa ditemui pada website www.panin-am.co.id

Kinerja Investasi 13 Nov 2015

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto dan www.panin-am.co.id

  1. D.Ayu
    November 19th, 2015 at 09:29 | #1

    Salam Pak Rudiyanto,
    dari hasil penelitian saya, di dapatkan bahwa BI rate tidak berpengaruh terhadap NAB/up reksadana saham sayriah di indonesia. kalau baca dari literature nya kebanyakan berpengaruh negatif terhadap minat investasi masyarakat. menurut bapak bagaimana ya teorinya kalo BI rate tidak berpengaruh terhadap nab/up reksadana saham?
    Terimakasih

  2. rizal
    November 20th, 2015 at 13:04 | #2

    sebenarnya evaluasinya Performance adalah evaluasi hasil (diujung cerita). Ceritanya ada di 3P lain (Philosophy, Process, People). Krn performance baik bisa saja kebetulan. sebagaimana proses yg baik, bisa juga sial memberikan hasil yg buruk. dan dalam jangka pendek (satu siklus investasi, spt bullish 2003-2010) performance adalah random.

    tapi mengapa orang hanya tertarik pada performance dan tidak 3P lain??? Umumnya orang awam dan tidak mau tahu yg repot2, apalagi harus mikir konsep/teori.

  3. rizal
    November 20th, 2015 at 13:09 | #3

    Kalau teori pasar efisien, gak ada guna analisa makro untuk investasi finansial. silahkan lihat makalah Eugene Fama & Kenneth French di Dimensional Fund Advisor. demikian juga behavioral finance, akan menolak analisa makro untuk investasi finansial. cuma yg namanya orang jualan yg perlu buat cerita. dan kebetulan cerita paling mudah untuk menutupi kinerja yg buruk adalah: analisa ngalor-ngidul ekonomi makro @D.Ayu

  4. wira
    November 24th, 2015 at 09:58 | #4

    Ada yang saya ingin tanyakan, apakah mungkin untuk nilai NAB reksadana dapat melonjak hingga 90 – 100 % ++ hanya dalam satu hari, sedangkan indeks bergerak bullish / flat ?

    Karena saya ada melihat RD dari suatu MI yaitu RD campuran dimana tanggal 19 Agst 2015 nilai NAB-nya melonjak hingga 157,8 % hanya dalam satu hari dan jg ada RD saham tgl 19 Nov NAB-nya melonjak 119,9 %.

    Hal ini tidak dapat saya mengerti mengapa bisa terjadi demikian, bisa tolong bantu dijelaskan ?

    Terima Kasih

  5. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 10:31 | #5

    @D.Ayu
    Salam Ibu D.Ayu,

    Sebagaimana sudah saya jawab dalam komentar anda di artikel yang lain, intinnya adalah jika data dan perhitungan anda benar, berarti bisa saja literatur yang selama ini dijadikan acuan salah. Jika anda ragu, maka saran saya anda mengecek apa dasar yang dijadikan literatur tersebut sehingga menghasilkan kesimpulan demikian.

    Satu lagi adalah bagaimana anda mengukur minat investasi masyarakat ?

    Demikian semoga bermanfaat.

  6. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 10:43 | #6

    @wira
    Salam Pak Wira,

    Topik tersebut sudah pernah saya balas dalam artikel
    Untuk kasus reksa dana pendapatan tetap dan mungkin sebagian campuran sudah pernah saya bahas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/20/reksa-dana-dengan-kinerja-ekstrem/

    Untuk di reksa dana saham biasanya suka terjadi pada reksa dana baru. Tapi terus terang saya juga belum terlalu mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi. Saya akan coba meneliti terlebih dahulu.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: