Home > Akuntansi Investasi, Obligasi, Obligasi Intermedit, Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Strategi Investasi > Apakah Investasi Obligasi Menarik Untuk Jangka Panjang ?

Apakah Investasi Obligasi Menarik Untuk Jangka Panjang ?

Uptrend stacks coins, dices cube with the word GO and calculator

Beberapa waktu yang lalu saya datang bersama tenaga pemasar bertemu dengan pengurus yayasan sebuah lembaga pendidikan yang berminat untuk investasi reksa dana. Karena berbentuk yayasan serta dana yang ada akan digunakan untuk membiayai usaha di bawah naugannya, kebijakan investasi dari yayasan tersebut sangat konservatif. Plus ada masukan dari komite investasi agar tidak boleh rugi.

Terus terang, jika ada kebijakan tidak boleh rugi, sebetulnya investasi reksa dana sudah tidak cocok lagi karena bahkan reksa dana pasar uang yang paling aman sekalipun masih bisa mengalami penurunan harga. Bersama team pemasar dan klien tersebut, kami berdiskusi tentang berbagai produk investasi hingga akhirnya sampai pada obligasi. Sebab dengan target bisa mendapatkan hasil di atas deposito dan tidak boleh rugi, maka pilihan hanya tinggal obligasi pemerintah saja.

Secara teori, investor pada umumnya percaya bahwa investasi obligasi dalam jangka panjang akan kalah dengan hasil investasi saham. Demikian juga reksa dana yang berinvestasi pada obligasi juga diyakini akan kalah dengan reksa dana saham dalam jangka panjang. Namun jika kita berbicara pengelolaan dana perusahaan seperti yayasan, dana pensiun, asuransi dan lembaga pengelola dana besar lainnya, penempatan dana paling besar justru selalu pada obligasi terutama obligasi pemerintah.

Apa yang membuat institusi tersebut menempatkan sebagian besar dananya di obligasi pemerintah? Apakah investasi obligasi menarik untuk jangka panjang ? Apakah dalam kondisi pasar seperti sekarang, berinvestasi di obligasi menjadi salah satu pilihan ?

Alasan Memilih Obligasi Pemerintah

Bagi institusi pengelola dana, alasan untuk memilih obligasi pemerintah pada dasarnya adalah aman karena tidak akan bangkrut, mudah dalam membuat pertanggung jawaban karena penempatan pada obligasi pemerintah tidak akan terlalu dipertanyakan, dan pasti dalam jangka panjang karena memberikan kepastian hasil dalam jangka panjang. Kepastian hasil ini juga didukung karena lebih dari 90% obligasi pemerintah merupakan jenis yang membagikan kupon atau bagi hasil yang tetap (untuk jenis syariah).

Dalam berinvestasi di obligasi pemerintah, pencatatan secara akuntansi bisa dibagi dalam 2 kategori yaitu available for sale (AFS) yaitu mencatat obligasi pada harga pasar dan hold to maturity (HTM) yaitu mencatat obligasi pada harga amortisasi. Pencatatan dengan menggunakan metode AFS, artinya investor berniat untuk mengelola secara aktif sehingga obligasi bisa dijual sewaktu-waktu. Untuk itulah obligasi harus dicatat pada harga pasar.

Pencatatan dengan metode HTM, berarti investor berminat untuk memegang obligasi hingga jatuh tempo. Perubahan harga pasar tidak lagi menjadi perhatian. Obligasi tersebut dianggap sama seperti deposito yang jatuh temponya lebih panjang.

Dalam prakteknya, apabila terjadi perubahan kebijakan atau kondisi tertentu seperti harga obligasi mengalami penurunan signifikan, pencatatan dengan metode AFS dapat diubah menjadi HTM dan sebaliknya.

Pada reksa dana, pencatatan secara AFS berlaku untuk reksa dana pendapatan tetap dan pencatatan secara HTM berlaku untuk reksa dana terproteksi. Itulah mengapa reksa dana pendapatan tetap bisa diperjualbelikan sewaktu-waktu tapi hasilnya bisa untung atau rugi sementara reksa dana terproteksi hanya bisa dibeli pada masa tertentu saja tapi bisa memberikan indikasi bagi hasil. Yang membedakan, reksa dana tidak dapat mengubah cara pencatatan akuntansinya.

Hasil investasi di Obligasi Pemerintah

Berbeda dengan saham yang tidak bisa diketahui dengan pasti hasil investasinya, obligasi bisa.  Hal ini disebabkan karena obligasi memiliki kupon dan jatuh tempo. Misalkan suatu obligasi memiliki kupon 7% dan jatuh tempo 20 tahun, maka dengan memegang hingga jatuh tempo maka hasil investasi kita adalah 7% selama 20 tahun.

Di dalam obligasi juga ada komponen harga. Artinya investor bisa membeli obligasi senilai 100 juta pada harga yang sama (At Par), lebih rendah (At Discount), atau lebih tinggi (At Premium) dari nilai nominal tersebut. Harga obligasi umumnya dinyatakan dalam persentase, misalkan 95. Jika ada obligasi dengan harga tersebut artinya investor cukup mengeluarkan uang senilai Rp 95 juta untuk obligasi yang pada saat jatuh tempo akan mengembalikan uang Rp 100 juta. Keuntungan atau Kerugian ini tentu harus dimasukkan dalam menghitung hasil investasi obligasi.

Yield to Maturity (YTM) adalah hasil keuntungan obligasi yang telah memperhitungkan keuntungan dari kupon ditambah keuntungan / kerugian dari selisih harga, dengan asumsi obligasi tersebut dipegang hingga jatuh tempo. Perhitungan YTM bisa dilakukan dengan menggunakan fungsi Yield yang terdapat di Microsoft Excel.

Sebagai contoh, informasi YTM obligasi atau seringnya disingkat menjadi Yield bisa anda lihat pada koran ekonomi dengan contoh sebagai berikut :

Data Transaksi Obligasi 4 September

Pelaporan obligasi dibuat dalam 2 bagian, yang pertama berisi transaksi dan yang satunya lagi berisi rekapitulasi harga transaksi dalam 1 hari. Kebetulan dari 2 contoh tersebut, hanya ada 1 transaksi saja sehingga harga Tertinggi, Terendah dan Penutupan sama. Data yang tertera cara bacanya sebagai berikut :

  • Obligasi Negara Th 2006 Seri FR0037 (artinya obligasi ini pertama kali terbit tahun 2006)
  • Jatuh tempo 15 September 2026
  • Kupon 12%
  • Pada tanggal 4 september 2015 terjadi transaksi dengan harga 120.50
  • Tanggal settlement (penyerahan dan pembayaran) adalah 7 September 2015
  • Yield to Maturity adalah 9.02%

Keseluruhan dari data di atas, jika dibaca adalah sebagai berikut : Jika investor berinvestasi pada FR0037 maka dia akan memperoleh keuntungan pasti sebesar 12% per tahun hingga 15 September 2026 atau sekitar 11 tahun dari sekarang. Namun keuntungan dari obligasi tersebut perlu dihitung ulang karena pembelian terjadi pada harga premium yaitu 120.5, sementara pada saat jatuh tempo investor hanya akan menerima uang 100. Keuntungan dari kupon obligasi sebesar 12% dikurangi dengan kerugian dari selisih harga 20.5 yang diamortisasi dalam 11 tahun itu setara dengan keuntungan 9.02% per tahun.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan amortisasi adalah selisih harga sebesar 20.5 tersebut akan dibagi 11 tahun (sisa waktu hingga jatuh tempo) akan berkurang secara proporsional setiap tahun hingga mencapai 0 pada akhir tahun ke 11. Jadi kerugian 20.5 tersebut tidak dibukukan sekaligus tapi bertahap setiap tahunnya.

Hasil keuntungan ini sudah pasti. Jika perusahaan pengelola dana menargetkan keuntungan 8% per tahun dari dana yang dikelolanya, maka dengan menempatkan semua dana tersebut di obligasi ini maka untuk 11 tahun ke depan target perusahaan sudah pasti tercapai. Namun jika targetnya di atas 8%, misalkan 10% atau 12%, maka strategi yang dilakukan adalah menempatkan sebagian besar dana pada obligasi pemerintah. Kekurangan dari target return selanjutnya dicari melalui investasi yang lebih berisiko seperti saham dan reksa dana.

Pertanyaannya bagaimana jika dibandingkan dengan antara obligasi pemerintah dengan deposito ? Bukankah dengan dana yang besar, masih ada bank yang berani memberikan bunga hingga 9% atau bahkan lebih? Memang benar, untuk dana kelolaan yang besar mendapatkan deposito dengan suku bunga di atas penjaminan bukanlah hal yang terlalu sulit. Tapi perlu diingat jatuh tempo deposito paling lama 1 tahun. Jika tahun depan suku bunga turun atau bank sedang tidak kesulitan target sehingga tidak memberikan bunga yang tinggi, pada tahun berikutnya bunga deposito bisa turun. Artinya pengelola akan menghadapi ketidakpastian. Hal ini berbeda dengan obligasi yang tetap sampai dengan jatuh tempo.

Dari sisi pajak, besaran pajak final untuk deposito adalah 20% untuk bunga sementara untuk obligasi adalah 15% dari kupon dan capital gain atau diskonto obligasi. Yang dimaksud dengan Capital Gain adalah apabila investor membeli obligasi kemudian menjualnya dengan keuntungan, sementara yang dimaksud dengan diskonto adalah apabila investor membeli obligasi di bawah harga par dan memegangnya hingga jatuh tempo. Pengecualian pajak ini berlaku untuk Dana Pensiun dimana institusi ini tidak perlu membayar pajak dan reksa dana dimana pajak yang berlaku adalah 5% hingga 2020 dan 10% untuk 2021 dan selanjutnya.

Apakah Harga Obligasi Sudah Murah ?

Secara prinsip, semakin tinggi yield suatu obligasi maka semakin murah obligasi tersebut dan sebaliknya jika semakin rendah yield obligasi maka semakin mahal obligasi tersebut. Dalam kondisi normal, obligasi dengan jatuh tempo yang lebih panjang akan memiliki Yield yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi yang jatuh temponya lebih pendek. Untuk mengetahui besaran Yield obligasi, investor dapat membaca pada IGSYC (Indonesia Government Securities Yield Curve) atau dalam bahasa keuangan disebut Yield Curve di bawah ini. Informasi ini dipublikasikan setiap harinya pada berbagai koran nasional dan ekonomi.

Sebagai contoh data Yield Curve yang saya ambil dari situs www.ibpa.co.id pada tanggal 7 September adalah sebagai berikut :

IGSYC 7 September 2015

Pada kolom kiri bawah biasanya ditampilkan obligasi benchmark atau obligasi acuan yang digunakan untuk menyusun yield curve obligasi. Cara bacanya sebagai berikut

  • TTM = Time to Maturity atau jumlah tahun obligasi tersebut akan jatuh tempo
  • Series = Seri obligasi yang ditunjuk sebagai acuan
  • Yield dan Price = Besaran Yield berdasarkan harga acuan pada tanggal tersebut
  • Coupon = besaran kupon obligasi

Pada kolom kanan atas, terdapat tabel acuan besaran yield berdasarkan jatuh tempo obligasi. Cara bacanya sebagai berikut :

  • Tenor = Lama jatuh tempo obligasi dalam tahun
  • Today dan Yesterday = Yield obligasi pada hari ini dan hari sebelumnya
  • Misalkan pada tabel 10.0 tahun tertera Yield 9.0462
  • Artinya untuk obligasi pemerintah dengan jatuh tempo 10 tahun, dengan harga pasaran saat pada tanggal 7 September 2015 memberikan Yield sekitar 9.0462

Pada saat artikel ini ditulis, dengan menggunakan data yang lebih baru yaitu per tanggal 8 September 2015, Yield 10 tahun telah naik menjadi 9.18%.

IGSYC 8 September 2015

Pertanyaannya, apakah level ini sudah cukup murah ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan

1. Pendekatan berbasis target return perusahaan

Jika target perusahaan adalah 8 – 9% per tahun, maka dengan kondisi Yield sekarang harga obligasi sudah murah atau lebih tepatnya sesuai dengan harapan karena dengan menempatkan 100% dana pada obligasi pemerintah target perusahaan untuk 30 tahun ke depan sudah pasti terpenuhi. Namun jangan lupa, imbal hasil obligasi masih kena pajak, kecuali anda dana pensiun yang tidak perlu membayar pajak obligasi.

2. Pendekatan berbasis selisih antara Yield Obligasi 10 tahun dengan BI Rate

Saat ini BI Rate adalah 7.5% dan Yield Obligasi sebesar 9.18%. Artinya obligasi pemerintah yang 10 tahun memberikan return 1.68% lebih tinggi dibandingkan rata-rata Deposito. Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata selisih antara BI Rate dengan Yield 10 tahun adalah sekitar .44%, sementara untuk 10 tahun terakhir adalah 1.49%.

Pada saat krisis Subprime Mortgage AS 2008, rata-rata selisih Yield adalah sekitar 4%. Pada saat krisis mencapai puncaknya, selisih ini bahkan sempat mencapai 11% dimana obligasi pemerintah pada saat ini bisa memberikan yield lebih dari 20%.

Pada saat kebijakan Tapering AS pada tahun 2013, dimana juga terdapat kenaikan BI rate, rata-rata selisih pada tahun 2013 adalah sekitar 0.46% dan pada titik tertingginya sempat mencapai 2.37%

Sebagai gambaran, silakan lihat grafik di bawah ini (jika kurang jelas, gambar bisa diklik untuk diperbesar)

Yield 10 Tahun dan BI Rate

Menurut saya, kondisi saat ini lebih menyerupai kondisi 2013 pada saat Amerika Serikat melakukan tapering dibandingkan tahun 2008. Alasannya Amerika mau menaikkan suku bunga karena perekonomiannya secara perlahan sudah pulih dari krisis 2008 berdasarkan data pengangguran yang terus berkurang, tingkat pertumbuhan ekonomi yang mencapai target, dan inflasi yang terkendali. Jadi mengacu pada rata-rata tahun 2013 yang sebesar 0.46% selisih saat ini yang sebesar 1.49% menurut saya sudah cukup murah. Memang, pada titik tertingginya selisih pada tahun 2013 sempat mencapai 2.37% namun angka ini tidak bertahan lama dan kembali turun ketika situasi sudah mulai stabil. Dengan asumsi, titik terendahnya adalah angka tersebut  berarti kemungkinan Yield 10 tahun tertinggi pada tahun ini adalah 7.50% + 2.37% = 9.87%. Angka ini bisa berubah jika ternyata di sisa waktu 2015 ini, ada perubahan BI Rate.

Perlu diingat, bahwa pembahasan artikel ini adalah dari perspektif investor institusi yang memiliki keunggulan dari sisi akses terhadap instrumen obligasi, fasilitas perpajakan dan jumlah dana investasi relatif besar. Investasi di obligasi bagi institusi berbeda dengan investasi di reksa dana pendapatan tetap karena tidak ada opsi pencatatan obligasi secara Hold to Maturity. Bagi yang tertarik untuk berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap bisa membaca artikel ini : Berapa Asumsi Return Yang Wajar Pada Investasi Obligasi ?

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat untuk anda.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar dan Data : Istockphoto, IBPA, Kontan dan Infovesta.

  1. teja
    September 11th, 2015 at 21:12 | #1

    Pak rudi,
    misalnya bunga obligasi 8%, diberikan bulanan. apabila bunga yang dibayarkan tidak diinvestasikan lagi pada produk investasi yang memberikan return 8% (misalnya ditempatkan di tabungan berbunga 4%), maka hasil investasi untuk jangka panjang akan lebih rendah dari 8%.
    sehingga apabila obligasi berbunga 8%, maka secara keseluruhan hingga jatuh tempo belum tentu kita memiliki hasil 8%.
    yang mana yang benar ?

    teja

  2. Rudiyanto
    September 11th, 2015 at 22:11 | #2

    @teja
    Selamat Malam Ibu Teja,

    Hal yang kurang lebih sama, meskipun dengan kasus berbeda pernah dimana waktu itu terkait dividen saham, pernah menjadi diskusi sengit antara saya dengan team Manajer Investasi di kantor. Intinya, ada ketidaksetujuan pada perhitungan return saham dalam jangka panjang.

    Angka return yang saya hitung disebut tidak realistis karena teori perhitungan yang saya gunakan menggunakan dividen direinvestasi pada rate sesuai hasil return, sementara secara real tidak mungkin hasil investasi tersebut didapatkan. Sama seperti pertanyaan kamu bagaimana jika dividen yang dibagikan ditaroh pada tabungan dengan bunga yang lebih rendah.

    Namun menurut saya, teori investasi yang saya gunakan yaitu Money Weighted Return merupakan prinsip pengukuran risiko yang menghitung hasil investasi berdasarkan jumlah uang yang diterima dan jumlah uang dikeluarkan. Jadi konteksnya bukan reinvestasi, tapi berdasarkan arus kas. Sampai pada akhir masih belum tercapai kesepakatan, namun ya sudah. Namanya juga diskusi.

    Untuk pertanyaan kamu, silakan dihitung menggunakan teori Money Weighted Return. Referensi bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/07/24/mengenal-time-weighted-return-dan-money-weighted-return/

    Semoga bermanfaat.

  3. September 19th, 2015 at 15:47 | #3

    Yth Pak Rudiyanto,

    Saya sangat tercerahkan oleh tulisan-tulisan bapak di blog ini, khususnya terkait Obligasi. Saya sedang membuat tugas akhir dengan topik korelasi Government Bonds Yield dan IHSG, dimana seperti yang bapak sebutkan di seri tulisan bapak, bahwa IHSG ini lagging.

    Kalau boleh mohon infonya pak, dimana bisa mendapatkan data historis Government bonds Yield yah pak ?

    Terima kasih sebelumnya pak,
    Salam,
    Kristanto

  4. Rudiyanto
    September 21st, 2015 at 17:23 | #4

    @Kristanto
    Selamat Sore Pak Kristanto,

    Anda bisa melihat pada bagian sumber data yang saya lampirkan pada bagian akhir tulisan.

    Semoga bermanfaat.

  5. September 30th, 2015 at 16:24 | #5

    sebenarnya saya tidak terlalu mengerti obligasi. tetapi saya masih mencari2 investasi apa yang cocok untuk kondisi perekonomian sekarang

  6. aaaa
    October 20th, 2015 at 14:49 | #6

    selamat siang pak, saya mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi tentang term structure of interest rate. saya memakai proxy = month end yield on 10 years govt. bond (dikurang) month yield on 6 month govt. bond matched to firm’s fiscal year end
    dimana saya dapat mendapatkan data historical tentang rumus tersebut ya pak, mohon bantuannya, terimakasih

  7. Rudiyanto
    October 23rd, 2015 at 12:02 | #7

    @aaaa
    Selamat Siang,

    Sudah coba ke IBPA ?

 


%d bloggers like this: