Home > Aset Alokasi, Perencanaan Investasi, Strategi Investasi > Apakah Investasi US Dollar Menarik Dalam Jangka Panjang ?

Apakah Investasi US Dollar Menarik Dalam Jangka Panjang ?

Tahun 2015 ini merupakan tahun yang berat untuk investasi berbasis saham, baik untuk saham langsung maupun reksa dana saham. Tercatat, sejak awal tahun hingga 5 Agustus 2015, IHSG turun 7.2%. Reksa dana saham bahkan lebih dalam yaitu turun 10.74%. Pada waktu yang sama, berita penguatan mata uang USD terus menerus bermunculan di media. Bahkan disebut-sebut bahwa level Rupiah sudah mendekati level ketika krisis ekonomi tahun 1997 – 98 yang lalu.

Menurut saya, penguatan Dolar atau pelemahan Rupiah ini adalah fenomena global yang disebabkan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Penguatan USD terhadap mata uang tidak hanya terjadi pada Rupiah saja tapi juga berbagai mata uang dunia. Bahkan secara persentase yang melemah lebih dalam dari Indonesia juga ada. Salah satu contoh di antaranya adalah Brazil, Rusia dan Jepang. Sebagai analis, Rupiah yang ke level 13.500an merupakan fenomena normal. Bukan tanda-tanda mau menuju krisis atau bahkan kebangkrutan seperti yang saya baca pada berita-berita hoax yang disebarkan via social media, WA dan BBM.

Tapi sebagai investor, muncul pertanyaan. Jika mata uang USD terus menerus menguat, sebagaimana secara historis memang demikian. Apakah mata uang tersebut menarik untuk dijadikan investasi jangka panjang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya melakukan penelitian data historis terhadap IHSG dan US Dollar dari tahun 2002 – 2014. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Metode Pengukuran Return US Dollar

Untuk menghitung keuntungan mata uang US Dollar itu memang sulit. Sebab berbeda dengan saham dan reksa dana yang ada harga penutupan, di mata uang setiap hari ada harga beli dan harga jual. Sering juga dikenal dengan istilah Bid dan Offer. Kemudian harga bid dan offer ini bisa berbeda lagi di setiap money changer dan bank tergantung pada kapan kita kesana dan jumlah uang yang mau ditukarkan. Untuk mata uang US Dollar bahkan lebih ribet karena uang lama dan uang baru nilainya berbeda, demikian juga dengan pecahannya.

Bahkan yang menurut saya sangat aneh di Indonesia adalah kondisi uang harus dalam keadaan mulus. Jika kondisinya tidak mulus, bahkan nilai tukarnya bisa berkurang atau ditolak. Padahal di luar negeri mau uangnya lecek saja tetap bisa digunakan. Jadinya ketika ada USD yang kondisinya tidak bagus, biasanya di bawa ke luar negeri untuk dibelanjakan langsung.

Untuk bisa menghitung return US Dollar, saya menggunakan data Kurs Tengah Bank Indonesia. Informasi tersebut bisa diperoleh di website Bank Indonesia ini. Sebagai contoh

Tanggal 31 Desember 2014
Kurs Beli 12.378 Kurs Jual 12.502, Kurs Tengah adalah (12.502 + 12.378) / 2 = Rp 12.440 / 1 USD

Tanggal 6 Agustus 2015
Kurs Beli 13.461 Kurs Jual 13.597, Kurs Tengah adalah (13.461 + 13.597) / 2 = Rp 13.529 / 1 USD

Keuntungan dari investor dengan asumsi membeli USD pada 31 Desember 2014 dan menjualnya pada 6 Agustus 2015 adalah (13.529 – 12.440) / 12.440 x 100% = + 8.75%

Mengapa tidak digunakan kurs beli dan jual yang lebih riil ? Hal ini disebabkan karena data kurs beli dan jual tidak tersedia dalam jangka panjang. Dan praktek secara umum yang menunjukkan perubahan kurs biasanya menggunakan kurs tengah Bank Sentral negara yang bersangkutan.

Kemudian dengan menggunakan cara yang sama dan membandingkan kinerja IHSG dari tahun 2002 hingga 2014, diperoleh hasil sebagai berikut

Perbandingan USD dan IHSG 2002 – 2014

Dalam 13 tahun terakhir, tidak pernah dalam satu kalipun USD dan IHSG negatif bersamaan. Jika tidak salah satunya, maka kedua-duanya positif. Hal ini menunjukkan bahwa USD bisa menjadi diversifikasi yang baik untuk investasi reksa dana saham atau saham langsung. Sebab ketika saham rugi, investasi dolarnya pasti untung. Jika investasi dolar rugi, maka secara historis saham selalu untung, bahkan cukup besar.

Kemudian, jika anda memiliki uang Rp 1 juta dan berinvestasi sama-sama di dolar dan IHSG dari tahun 2002 sampai 2014, maka uang anda akan berkembang menjadi Rp 1.195.769 pada USD dan Rp 13.332.000 pada IHSG atau setara 19.57% dan 1.233 % dalam 13 tahun. Jika dihitung return compounding-nya, berarti USD hanya memberikan 1.38% per tahun dalam jangka panjang. Untuk saham sendiri, dalam periode yang sama mencapai 22.05% per tahun.

Dalam konteks investasi jangka panjang, rata-rata return 1.38% per tahun sangatlah kecil sehingga tidak cocok untuk menjadi portofolio yang utama. Jadi kalaupun anda ingin berinvestasi pada USD, sebaiknya dilakukan bukan pada mata uang USD melainkan pada instrumen investasi berbasis USD seperti reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana campuran USD.

Demikian, semoga artikel ini bermanfaat dalam memahami investasi di mata uang US dollar.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

Sumber Data : Infovesta dan Bank Indonesia

  1. August 8th, 2015 at 10:33 | #1

    Hi Pak Rudi,

    Dari ulasan artikel bapak ini, mengingatkan pada (rumor/ ramalan) yang beredar tentang market crush pada akhir 2015 nanti (oktober)? Bagaimana pendapat pak Rudi tentang hal itu?

    Terima kasih sebelumnya.
    Salam,
    Corozon.

  2. Rudiyanto
    August 9th, 2015 at 14:56 | #2

    @corozon
    Salam Pak Corozon,

    Bisa lebih spesifik rumor / ramalan apa? Sebab banyak sekali kalau di pasar modal, rumor itu ada banyak sekali mulai dari yang dari awal sudah ngawur sampai yang terdengar sangat benar meskipun tetap ngawur juga he he..

    Terkadang, ada juga berita yang didukung fakta yang solid, tapi ditambahkan ramalan atau prediksi yang terkesan dipaksakan atau ada kepentingan sehingga mengarah untuk menaikkan atau menurunkan pasar tertentu. Kalau dalam pasar modal, mungkin ini istilahnya manipulasi pasar.

    Permasalahan banyaknya rumor adalah banyak orang ingin cepat ngetop sehingga selalu membuat prediksi yang berani dan orang Indonesia itu pelupa. Salah 10 x dan benar 1 x, yang diingat itu pas benarnya. Setelah salah berkali-kali baru orang mulai meragukan.

    Jadi untuk membantu menjawab pertanyaan, mohon bisa diinfo seperti apa rumornya dan market apa yang crush. Dan boleh dispesifikkan juga Crush itu artinya itu turun berapa persen? Sebab kalau turun 2% di IHSG termasuk market crush, maka itu bisa crush puluhan kali dalam satu tahun.

    Terima kasih

  3. kurniawan
    September 5th, 2015 at 14:38 | #3

    Apakah kejadian krismon 1998 bisa terulang lagi skarang ini dari kurs 2ribu an per usd naik ke 12 ribu bahkan sampai 16 ribu?

    Jadi skarang ini pada banyak yg pegang usd terutama kalo anak2 kuliah di amrika …jadi borong usd untuk jangka panjang …

    Kalo saya sih … kalo hidup di indoneisa… sedikit banyak harus ada pegang usd untuk jangka panjang selain investasi laen reksadana …

  4. Andy
    September 6th, 2015 at 13:35 | #4

    Selamat siang Pak Rudiyanto,

    Saya investor baru pak. Mau bertanya, kalau misalnya dibandingkan 1 jt / bln selama Januari 2000 – Des 2014 beli dollar dibandingkan dengan periode yang sama membeli suatu reksa dana index ihsg (1 juta / bulan juga) gmn pak returnnya?

    Terima kasih banyak pak sebelumnya

    Andy

  5. Rudiyanto
    September 9th, 2015 at 12:11 | #5

    @Andy
    Selamat Siang Pak Andy,

    Untuk menjawab pertanyaan kamu sepertinya agak sulit karena saya butuh waktu cukup lama untuk mengumpulkan data. Tapi kalau mau cepat, dari data yang sudah ada saja dengan asumsi setiap tahun Rp 1 juta di USD dollar dan IHSG dari tahun 2001 akhir hingga 2014 akhir adalah sebagai berikut :

    Modal yang dikeluarkan
    Rp 1 juta pada akhir tahun mulai 2001 hingga 2013. Akumulasi unit kemudian dijual pada Akhir 2014 sehingga pada tahun tersebut tidak ada investasi. Modal yang dikeluarkan Rp 13 juta

    Hasil akhir
    USD = Rp 16.864.552
    IHSG = Rp 58.837.740

    Kalaupun dibuat per bulan saya yakin tidak akan berbeda jauh.

    Demikian semoga bermanfaat.

  6. Rudiyanto
    September 9th, 2015 at 12:13 | #6

    @kurniawan
    Selamat Siang Pak Kurniawan,

    Kalau menurut saya, kondisi pada tahun 2015 ini memang kurang baik. Tapi belum tepat untuk dikatakan sebagai krisis moneter. Karena definisi krisis tidak hanya dilihat dari indikator kurs semata tapi juga indikator lainnya.

    Sebagai gambaran anda bisa membaca artikel di bawah ini
    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/01/114700626/Ini.Perbandingan.Indikator.Ekonomi.Tahun.2015.dengan.Saat.Krisis.1998

    Semoga bermanfaat.

  7. Andy
    September 9th, 2015 at 17:52 | #7

    Selamat sore Pak Rudiyanto,

    Terimakasih atas repson Bapak. Jadi kira2 pengembaliannya mendekati 30% dalam 13 tahun ya pak.

    Terimakasih banyak atas informasi Bapak. Blog Bapak saya rasakan sangat bermanfaat dan bermutu.

  8. ubay
    October 23rd, 2015 at 16:53 | #8

    sore bang Rudy,

    tulisan ini bagus sekali.. tp sebagai orang pemula dlm hal invest saham/usd, saya bingung maksud tabel itu. Sebab sekilas peningkatan nilai USD thp rupiah sejak 13 tahun terakhir selalu naik, bukankah itu positif jika invest USD dlm jangka waktu lama smisal 13 tahun? apa kerugian yg kita dpt jika simpan USD dlm rentan wkt tsb?

    triakasih sebelumnya

  9. Rudiyanto
    October 26th, 2015 at 12:12 | #9

    @ubay
    Selamat Siang Pak Ubay,

    Boleh tahu darimana anda dapat informasi bahwa USD selalu naik ya? Bukankah 5 tahun dari data di atas return USD minus ?

    Kemudian berbicara soal kerugian, kalau dari sisi hasil investasi USD yaitu jika kamu punya Rp 1 juta menjadi Rp 1,2 juta dalam 13 tahun seperti pada artikel di atas atau cuma setara 1%an per tahun, apakah menurut kamu investasi tersebut tetap menarik?

  10. ubay
    October 27th, 2015 at 19:29 | #10

    Data saya berdasarkan pengalaman hidup di tanah air sejak krismon tahun 1997 sampai dengan tahun sekarang 2015, nilai dolar thp rupiah dari 2000 menjadi 13000.
    Maksud sy data tersebut apakah data tsb diluar maksud bang Rudy ?

    Jadi perhitungan saya jika invest ditahun 1998 senilai 100Usd, maka tahun 2015 akan menjadi 1,300,000 rupiah karena nilai rupiah/dolar nya selalu naik..beigtu maksud saya.

    salam

  11. Rudiyanto
    October 30th, 2015 at 16:50 | #11

    @ubay
    Selamat Siang Pak,

    Kalau data di atas di ambil dari tahun 2001 – 2014. Jadi tidak memasukkan data pada tahun 1997 – 2001.

    Kemudian yang kedua, nilai Dollar itu tidak selalu naik.
    Desember 2001 – sekitar Rp 10.250 / USD Desember 2002 – Rp 8.900
    Kemudian turun lagi di Desember 2003 menjadi sekitar Rp 8500

    Desember 2008 – Rp 11.300 / USD di Desember 2009 menjadi Rp 9500 dan kembali turun menjadi Rp 8900 di Desember 2010.

    Jadi dollar tidak selalu naik.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: