Home > Belajar Reksa Dana, Literasi Keuangan, Riset Reksa Dana > Evaluasi Reksa Dana Syariah Semester 1 – 2015

Evaluasi Reksa Dana Syariah Semester 1 – 2015

Sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dianggap sebagai pasar yang potensial untuk perkembangan produk syariah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Pasar Modal Syariah. Dalam beberapa tahun belakangan, semakin banyak Manajer Investasi yang menawarkan produk reksa dana syariah. Bagaimana perkembangan reksa dana ini dan seperti apa perbandingan kinerjanya dengan reksa dana konvensional?

Pada dasarnya reksa dana syariah adalah reksa dana yang dikelola mengikuti prinsip syariah. Jadi secara produk, variasinya sama dengan reksa dana konvensional. Anda bisa menemukan reksa dana pasar uang syariah, pendapatan tetap syariah, campuran syariah, saham syariah, terproteksi syariah dan bahkan reksa dana indeks syariah. Bagi anda yang ingin mengetahui secara jelas prinsip pengelolaan yang sesuai syariah dapat membaca artikel Apa Itu Reksa Dana Syariah

Fokus pada artikel ini adalah perbandingan dana kelolaan dan kinerja reksa dana syariah dengan reksa dana konvensional..

Periode pengukuran untuk reksa dana saya lakukan mulai dari Desember 2012. Hal ini karena Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) baru diterbitkan pada tahun 2011 sehingga data full year untuk tahun tersebut tidak ada. Semua data diolah dari website www.infovesta.com.

 Pertumbuhan Dana Kelolaan Reksa Dana Syariah (Dalam Milliar)

Mengacu pada tabel di atas,  sejak tahun 2012 industri reksa dana syariah terus bertumbuh dengan porsi terbesar pada reksa dana saham. Sama seperti industri reksa dana konvensional. Hanya saja jika dibandingkan akhir tahun 2014 agak menurun karena selama periode tersebut saham mengalami gejolak. Terlihat dana kelolaan reksa dana saham turun lebih dari 500 milliar padahal dalam waktu yang sama semua jenis reksa dana syariah yang lain mengalami kenaikan.

Reksa dana ETF syariah baru pada sejak tahun 2013 dan mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan dana kelolaan di atas Rp 500 milliar pada akhir Juni. Sama seperti reksa dana konvensional, dalam beberapa tahun ke depan fokus dana kelolaan akan bergantung pada jenis reksa dana saham syariah.

Hal ini karena secara bisnis, lebih menguntungkan bagi perusahaan untuk menerbitkan reksa dana saham dibandingkan reksa dana yang lain. Secara penjualan dan secara psikologis investor, meski banyak masyarakat yang belum mengerti tentang reksa dana tapi ketika dijelaskan, mereka lebih siap dengan mengambil reksa dana saham yang lebih berisiko. Hal ini karena dalam kegiatan penjualan tenaga penjual menekankan pada tujuan investasi jangka panjang.

 

Perbandingan Kinerja IHSG dan ISSI Periode 2012 – Juni 2015

 

Jika dibandingkan secara tahun per tahun, tingkat return Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mengalahkan IHSG pada tahun 2012 dan 2013. Untuk tahun 2014 dan 2015 sejauh ini masih kalah sehingga skornya 2 : 2. Skor ini bisa saja berubah pada akhir tahun apabila kinerja ISSI kembali meningkat dan mengalahkan IHSG. Jika hal ini terjadi dan ISSI mampu mengalahkan IHSG dengan selisih return yang jauh, maka hal ini bisa menjadi indikator positif untuk pemasaran reksa dana saham syariah.

Tenaga pemasar bisa menggunakan argumentasi bahwa kumpulan saham yang memenuhi kaidah syariah ternyata secara historis membukukan kenaikan lebih tinggi dibandingkan kumpulan saham secara keseluruhan. Namun jika selisih returnnya tidak seberapa, hal ini agak sulit. Selain itu tergantung juga kinerja reksa dana yang dikelola. Bisa saja ISSI mengalahkan IHSG namun ternyata strategi manajer investasi kurang tepat sehingga kinerja reksa dana syariah tetap kalah.

Secara teknis pengelolaan dana, hal yang membedakan antara ISSI dan IHSG adalah pada sektor saham keuangan. Dimana sektor keuangan, terutama perbankan merupakan salah satu sektor yang mendominasi IHSG baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun likuiditas sahamnya. Di ISSI, saham sektor keuangan tidak diperbolehkan karena mengandung unsur riba kecuali sektor keuangan syariah.

Selain itu, sektor perkebunan dan pertambangan yang ada dalam sektor syariah cenderung memiliki fluktuasi tinggi karena harga komoditas yang juga sangat fluktuatif. Dengan adanya keterbatasan tersebut, biasanya Manajer Investasi akan memberikan alokasi yang lebih besar pada sektor infrastruktur dan manufaktur.

Hal ini secara tidak langsung membuat reksa dana saham syariah akan memiliki fokus yang berbeda dengan reksa dana saham konvensional. Hal ini bisa menjadi pertimbangan bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi. Sebab dengan memiliki reksa dana saham syariah dan konvensional, kemungkinan besar anda akan memiliki dua reksa dana dengan strategi investasi yang benar-benar berbeda.

 

LQ 45 vs JII Periode 2012 – Juni 2015

Jika dalam IHSG terdapat LQ-45 atau kumpulan 45 saham dengan transaksi yang paling likuid dan dievaluasi 6 bulan sekali, maka di ISSI juga demikian. Kumpulan 30 saham yang paling likuid dari saham-saham yang sesuai prinsip syariah disebut dengan Jakarta Islamic Index (JII). Secara kinerja, JII hanya kalah dibandingkan LQ-45 pada tahun 2014 namun selisihnya cukup jauh. Hal ini menunjukkan sebenarnya meski tanpa sektor perbankan sekalipun saham-saham sesuai prinsip syariah yang likuid sebenarnya juga bisa dipertimbangkan.

 

Indeks Obligasi Pemerintah, Korporasi dan Syariah Infovesta Periode 2012 – Juni 2015

Secara kinerja Infovesta Syariah Bond Index mengalahkan kinerja obligasi pemerintah pada tahun 2013 dan semester 1-2015. Namun terus terang angka yang dihasilkan oleh indeks ini mungkin tidak terlalu mencerminkan nilai yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena transaksi obligasi syariah yang relatif jarang sehingga sulit diperoleh harga pasar mark to market yang digunakan untuk menghitung indeks tersebut.

Selain itu, reksa dana pendapatan tetap syariah cenderung sulit ditemui di pasaran. Hal ini bukan lantaran  tidak mau jualan, tapi terkadang ketersediaan obligasi syariah juga amat sedikit sehingga kalau banyak dana yang masuk kesulitan untuk melakukan penempatan dananya.

 

Perbandingan Kinerja Reksa Dana Saham, Campuran dan Pendapatan Tetap Syariah Vs Konvensional Periode 2012 – Juni 2015

Pada tabel di atas kita telah melihat perbandingan antara indeks acuan syariah dengan konvensional. Rata-rata antara kinerja syariah dengan konvensional tidak terlalu berbeda jauh. Bagaimana dengan prakteknya? Apakah kinerja dari reksa dana syariah bisa mengalahkan reksa dana konvensional?


Jika anda perhatikan pada 3 grafik di atas, kinerja reksa dana syariah dan konvensional tidak berbeda terlalu jauh. Ada tahun-tahun dimana reksa dana syariah mengalahkan reksa dana konvensional dan ada juga tahun dimana berlaku sebaliknya. Selisih return antara kedua reksa dana tersebut terus terang juga tidak terlalu jauh.

Kesimpulannya, secara kinerja tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antara kinerja reksa dana syariah dengan konvensional. Yang saya maksud dengan signifikan adalah ketika suatu reksa dana mengalami kerugian, jenis reksa dana yang lain tidak rugi atau bahkan untung. Yang ada paling untung atau ruginya lebih sedikit. Namun kesimpulan ini masih bisa berubah karena data yang digunakan relatif pendek yaitu 3,5 tahun.

Demikian artikel ini semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

  1. tita
    November 23rd, 2016 at 17:31 | #1

    terimakasih pak rudi atas jawabannya, mohon maaf saya ingin bertanya lagi, apakah ada teori yang mendasari kenapa bisa terjadi perbedaan antara kinerja reksa dana syariah saham dengan metode sharpe treynor jensen dengan kinerja pasar?? sampai sekarang saya belum menemukan, teori ini ingin saya gunakan untuk memperkuat hipotesis penelitian yang saya lakukan pak, terimakasih sebelumnya

  2. Rudiyanto
    November 24th, 2016 at 14:02 | #2

    @tita
    Salam Ibu Tita,

    Kalau teori, terus terang saya kurang tahu. Namun kalau dalam konteks skripsi, berarti yang kamu lakukan adalah memperkuat argumentasi dengan data dan fakta yang ada berdasarkan penelitian.

    Semoga bermanfaat

  3. darfindo
    February 13th, 2017 at 14:47 | #3

    salam pak rudiyanto

    mohon maaf sebelumnya pak.saya mahasiswa semester akhir yang sedang melakukan penelitian tentang reksadana pak. data yang mana yang diambil untuk melihat kinerja reksadana pak. terimakasih sebelumnya pak

  4. Rudiyanto
    February 16th, 2017 at 02:44 | #4

    @darfindo
    Salam pak Darfindo,

    Bisa membaca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/02/03/panduan-mencari-data-harga-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 5373


%d bloggers like this: