Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Refleksi 6 Bulan Industri Reksa Dana 2015

Refleksi 6 Bulan Industri Reksa Dana 2015

Tidak terasa, 6 bulan pertama dari 2015 sudah kita lewati. Jika ada evaluasi terhadap kinerja pemerintahan dan perusahaan terkait pencapaian dan realisasinya, tentu kita juga bisa melakukan evaluasi terhadap industri reksa dana juga.

Memang harus diakui bahwa kinerja reksa dana, terutama reksa dana saham dan campuran yang berbasis saham tidak begitu menggembirakan. Bukan hanya tidak mencapai target return, kedua reksa dana tersebut bahkan merugi. Apabila anda menjadi investor pada periode tersebut tentu merasakannya.

Nah, Bagaimana gambaran perkembangan industri reksa dana secara komprehensif selama semester I 2015 ini ?

Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Kinerja Reksa Dana

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja reksa dana dibandingkan benchmark, mari kita lihat grafik perbandingan di bawah sebagai berikut :

Kinerja RD Semester I 2015

Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dan Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)

Jika dihitung dari awal tahun, sebagaimana pada tabel di atas kita bisa melihat bahwa jenis RDPU dan RDPT merupakan jenis reksa dana yang membukukan keuntungan. Bahkan keuntungan paling tinggi dibukukan oleh RDPU dengan 3.15%, lebih tinggi dibandingkan RDPT yang 1.86%. Mengapa RDPU bisa memberikan keuntungan lebih tinggi, bukankah ada komponen obligasi dalam kedua reksa dana ini ?

Kebijakan investasi di RDPU adalah 100% pada instrumen pasar uang, sementara di RDPT minimum 80% di instrumen obligasi. Pasar Uang hampir mirip dengan obligasi tapi bukan. Definisi instrumen pasar uang adalah surat berharga yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun. Dengan demikian deposito, giro dan obligasi yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun masuk dalam kategori ini. Sementara obligasi sendiri didefinisikan sebagai surat hutang yang jatuh temponya di atas 1 tahun.

Jadi dalam bahasa sederhana, pasar uang itu ibarat deposito yang bunganya lebih tinggi karena yg memberikan bunga bukan bank yg dijamin LPS tapi perusahaan yang membutuhkan dana sehingga risikonya lebih tinggi.

Karena jatuh temponya di bawah 1 tahun, maka umumnya sudah hampir tidak ada fluktuasi harga yang berarti dan harganya juga sudah atau mendekati harga nominalnya. Untuk itu, RDPU selalu bergerak naik sejalan dengan pendapatan bunga deposito dan kupon obligasi yang diterimanya.

Dengan asumsi return 3.15% selama 6 bulan bisa bertahan hingga akhir tahun, berarti kinerja reksa dana pasar uang dalam 1 tahun cukup dikalikan 2 yaitu 6.3%. Hasil tersebut sudah net atau dipotong pajak 20%. Jika diasumsikan sama dengan deposito, berarti sama dengan bunga 7.87% Deposito sebelum pajak. Cukup lumayan mengingat RDPU bisa dicairkan kapan saja tanpa penalti dan biaya.

Kondisi berbeda dihadapi oleh RDPT yang berinvestasikan pada obligasi. Selama tahun 2015, inflasi agak sulit diprediksi karena sejak akhir tahun lalu menganut kebijakan harga BBM bisa naik dan turun. Meski sempat turun, harga BBM kembali naik karena pelemahan USD. Ditambah dengan kenaikan harga komoditas, inflasi agak tinggi pada semester I 2015 walaupun masih agak terkendali. Di sisi lain ada kemungkinan kenaikan suku bunga AS, oleh karena itu harga obligasi agak menurun 1-2 bulan terakhir walaupun secara akumulasi dari awal tahun masih naik sebagai bentuk antisipasi atas risiko tsb.

Reksa Dana Campuran (RDC) dan Reksa Dana Saham (RDS)

Meksi namanya Campuran, pada kenyataannya banyak RDC di Indonesia isinya lebih banyak di saham. Akibatnya pergerakan RDC juga ikut fluktuatif bahkan terkadang sama atau bahkan lebih fluktuatif dibandingkan RDS. Tidak jarang juga terkadang ada RDC yang dalam jangka panjang ternyata returnnya lebih tinggi dari RDS.

Sebaliknya ada juga beberapa reksa dana campuran yang komposisi obligasinya sangat dominan. Bahkan sudah sama atau bahkan memiliki risiko yang lebih konservatif dibandingkan RDPT. Akan tetapi untuk yang jenis ini jumlahnya tidak banyak, dana kelolaannya juga tidak terlalu besar.

Komposisi yang besar pada saham merupakan penyebab utama mengapa rata-rata RDC merugi hingga semester I tahun 2015 ini meskipun dalam periode yang sama harga obligasi naik. Kinerja saham pada semester II akan lebih menentukan kinerja RDS dan RDC pada semester II 2015 ini.

Perkembangan Dana Kelolaan

Meski kinerja RDS dan RDC kurang begitu baik selama semester I 2015, dana kelolaan tetap tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak investor yang memahami pentingnya investasi jangka panjang dan juga ada investor yang memanfaatkan penurunan dana sebagai kesempatan untuk melakukan penambahan. Perkembangan dana kelolaan sejak Desember 2013 adalah sebagai berikut :

Perkembangan Industri Reksa Dana Juni 2015
Dalam Milliar Rupiah

Perkembangan Dana Kelolaan RD Juni 2015
Sumber : www.infovesta.com, diolah. Tidak termasuk RD Dollar, RD Penyertaan Terbatas dan KPD

Dibandingkan posisi pada akhir 2014, dana kelolaan naik sekitar 9.95%. Hal ini masih sejalan dengan target 20% per tahun yang dicanangkan oleh asosiasi pengelola reksa dana.

Jika dibagi lagi sesuai jenisnya yaitu Reksa Dana Konvensional (RDS, RDC, RDPT dan RDPU), Reksa Dana Terstruktur (RD Indeks dan RD Terproteksi) dan jenis lainnya (ETF), perkembangannya sebagai berikut :

Perkembangan Industri Reksa Dana Per Segmen
Dalam Milliar Rupiah

Perkembangan RD Per Segmen

Sumber: www.infovesta.com, diolah

Sebagaimana kita lihat pada tabel di atas, jenis reksa dana saham merupakan jenis yang mendominasi dengan dana kelolaan di atas 105 Triliun. Selanjutnya disusul reksa dana terproteksi 54 T, reksa dana pendapatan tetap 39 T, reksa dana pasar uang 27 T, reksa dana campuran 19 T, ETF 3,6 T dan reksa dana indeks kurang dari 1 T.

Hal ini sedikit banyak menunjukkan profil investor reksa dana Indonesia yang condong ke risiko secara ekstrem. Maksudnya mau risiko sekalian di reksa dana saham, kalau mau aman sekalian di terproteksi atau pendapatan tetap. Untuk jenis campuran dari tahun 2013 praktis hanya stagnan saja. Bahkan dalam 6 bulan, RDPU menunjukkan kenaikan dana kelolaan yang signifikan meskipun secara total masih lebih kecil dibandingkan jenis reksa dana lainnya.

ETF juga merupakan salah satu jenis reksa dana yang perkembangannya cukup pesat. Sejak akhir 2013, sudah naik lebih dari 75%. Hal ini menunjukkan pemahaman investor semakin berkembang dengan baik.

Outlook Obligasi dan Saham Semester II

Menjadi pertanyaan bagaimana outlook obligasi dan saham pada semester yang akan datang ? Akankah pola yang sama dengan semester I akan terulang? Ataukah jenis saham bisa membalikkan situasi dan mengalahkan obligasi. Analisa saya secara sederhana adalah sebagai berikut.

Untuk obligasi, secara teori harga obligasi mengikuti tren inflasi dan suku bunga. Jika inflasi dan suku bunga atau ekspektasi akan inflasi dan suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya. Jadi, jika ingin mengetahui tren harga obligasi maka kita harus menebak terlebih dahulu tren inflasi dan suku bunga, apakah mau naik atau turun.

Target pemerintah untuk inflasi 2015 adalah 4% +-1%, atau 3 – 5%. Saat ini inflasi YoY Juni 2015 ada di kisaran 7% atau lebih tinggi dari target pemerintah. Namun hal ini tidak menjadi kekhawatiran karena inflasi yang tinggi ini lebih banyak dikontribusikan dari kenaikan BBM di bulan November dan Desember 2014. Jadi jika hanya menghitung inflasi di tahun 2015 saja, sebenarnya masih rendah dan sesuai target pemerintah.

Dari informasi yang saya baca, seharusnya tingkat inflasi pada akhir tahun diperkirakan akan ada di kisaran 4.2%. Secara matematis, berarti lebih rendah dibandingkan inflasi pada tahun 2014 yang sebesar 8.36%. Bahkan kalaupun prediksinya gagal dan mencapai 5%, tetap saja turun signifikan dibandingkan tahun lalu. Jadi secara teori, inflasi turun maka suku bunga juga akan turun.

Nah permasalahannya, tingkat suku bunga tidak hanya ditentukan inflasi semata tapi juga kurs mata uang. Dalam kondisi defisit neraca perdagangan dan potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, maka menurunkan suku bunga dalam kondisi ini dikhawatirkan akan melemahkan mata uang.

Jadi secara teori sudah bisa turun, namun secara psikologis ada aspek lain yang harus diantisipasi. Saya memperkirakan bahwa kemungkinan kalaupun tidak turun tahun ini, ada kemungkinan besar suku bunga bisa turun tahun depan. Hanya saja persentase penurunanannya tidak bisa besar mengingat ada risiko perubahan suku bunga AS yang harus diantisipasi. Tapi ekspektasinya turun.

Dengan asumsi tersebut, kemungkinan harga obligasi kembali naik pada semester II ini cukup besar tapi tidak dengan persentase perubahannya.

Untuk saham, saat ini bisa dibilang penyebab turunnya harga saham adalah kinerja para emiten yang dibawah ekspektasi, baik mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih, bahkan rugi dan kekecewaan terhadap kinerja pemerintahan atas keterlambatan pembangunan infrastruktur serta kisruh politik yang tidak berkesudahan.

Untuk kinerja emiten, memang saat ini dalam siklus penurunan, namun hal ini tidak terhindarkan sebab perlambatan ekonomi bukan hanya masalah Indonesia saja tapi juga global. Salah satu hal yang bisa menggairahkan perekonomian adalah realisasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.

Jika bisa dilakukan percepatan pada semester II, maka kemungkinan dana akan mengalir ke dalam perekonomian dan meningkatkan pendapatan perusahaan. Hanya saja prosesnya mungkin tidak bisa instan sehingga baru bisa dirasakan di kuartal IV tahun ini atau bahkan mungkin tahun depan.

Jika proses tersebut berjalan dengan lancar, kemungkinan harga saham pada semester II ini bisa bergairah kembali, namun jika kembali terhambat karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengeksekusi program, sepertinya belum ada angin segar ke bursa saham.

Jadi untuk saham, kinerja pemerintah menjadi salah satu faktor penentu utama. Dari sisi probabilitas, berarti kemungkinan harga obligasi naik lebih tinggi dibandingkan kemungkinan harga saham karena faktor yang menentukan kenaikan harga obligasi sudah bisa diperkirakan dari sekarang sementara harga saham masih tidak.

Perlu diingat, kadang2 yang namanya pasar itu cukup aneh. Ketika semua orang merasa yakin dan positif bursa akan baik seperti harapan kebanyakan orang di awal tahun, kenyataannya bursa malah tidak sesuai harapan. Bisa saja, ketika semua orang mulai ragu2 dengan kinerja pada bursa, siapa tahu bursa bisa memberikan kejutan. Sebab valuasi saham sudah tidak terlalu mahal sehingga membuka kesempatan bagi investor value untuk masuk ketika harga sedang relatif murah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

  1. July 6th, 2015 at 09:59 | #1

    beli reksadana malah rugi gini ya, emang paling enak nyimpen di koperasi simpan pinjam, bisa dapet 17.87% perbulan. di reksanada malah rugi, terus kalo rugi apa manajer reksanada tidak digaji?
    saya bingung katanya taruh uang di danareksa biar naik 20% perbulan. malah rugi gini. ini 2 tahun lagi mau pensiun apa bisa?

  2. thomyum
    July 7th, 2015 at 15:38 | #2

    @helen, reksadana apa yg naik 20% per bulan? jadi per tahun 240% donk.

  3. Budi
    July 9th, 2015 at 07:00 | #3

    Salam pak Rudi,

    Apa saran bapak terhadap kebanyakan investor saham saat ini yang menganut buy-and-hold? apakah ada baiknya untuk menjual sebagian besar atau seluruh unit untuk mengantisipasi penurunan yang lebih dalam pada semester II?

    Terima kasih sebelumnya.

  4. bijeh
    July 9th, 2015 at 13:49 | #4

    @helen june
    lucuk sekali orang ini…wkwkwk

  5. paul’s
    July 9th, 2015 at 14:04 | #5

    Trm kasih atas tulisannya pak Rudi.
    Bila dilihat historis grafik ihsg maupun RD Saham (misalnya 5 tahun terakhir) selalu sama dan polanya selalu berulang, dimana setiap bln Mei – Juni harga IHSG maupun RD Saham pada umumnya mengalami koreksi (bearish).
    Bila dilihat dari data bulanan yang ada di OJK terlihat NAV/UP dan Dana Kelolaan utk RD Saham T-Club seperti BNP Paribas Infrastruktur Plus, Schroder Dana Prestasi Plus maupun Panin Dana Maksima menurun. Untuk UP nya yang terlihat naik pada Schroder Dana Prestasi Plus, sedangkan pada BNP Paribas dan Panin Dana Maksima sedikit menurun.
    Begitu pula dengan Panin Dana Ultima utk bln Mei-Juni terlihat NAV/UP dan Dana Kelolaannya mengalami penurunan. Sedangkan UP nya mengalami kenaikan.
    Pertanyaannya:
    1. Bukankah berarti pada RD Schroder Dana Prestasi Plus maupun Panin Dana ultima dari bulan Mei – Juni tsb banyak yang membeli RD tsb. Sedangkan pada RD Saham yang lain banyak yang menjual.
    2. Mengapa selalu pada bulan Mei-Juni IHSG selalu mengalami penurunan (koreksi) yang berarti RD Saham juga mengalami siklus (pola) yang sama?
    3. Saya mengamati pergerakan harga PD Ultima harian (saya sbg salah seorang nasabahnya), dari data yang saya ambil melalui Bloomberg terlihat selama bulan Juni 2015, NAV/UP nya dibawah NAV saat saya subscription. Berhubung perencanaan saya untuk buy n hold hingga 4-5 thn maka saya tidak terlalu panik.
    Mohon tanggapan dari Pak Rudi, terima kasih,-

  6. Rudiyanto
    July 9th, 2015 at 16:12 | #6

    @Budi
    Salam Pak Budi,

    Kalau investor memiliki strategi investasi buy and hold, maka saya yakin investasinya tersebut diperuntukkan untuk tujuan jangka panjang. Kalau baru investasi sebentar dan sudah keder dengan risiko, hal ini menunjukkan kita tidak komit dengan tujuan investasi sejak awal.

    Meski demikian, saya mengerti bahwa tidak ada orang yang senang melihat hasil investasinya turun. Tapi jika melakukan pengalihan ketika penurunan sudah terjadi, bukankah hal tersebut sudah terlambat?

    Kalau argumennya adalah semester II akan turun, berarti memang kita harus yakin bahwa semester II nanti pasti akan turun. Memang saat ini semuanya kelihatan begitu buruk sehingga semester II kelihatan akan turun lagi, tapi apakah anda masih ingat dengan semester I yang lalu dimana semuanya kelihatan begitu positif?

    Saya termasuk orang yang salah memprediksi kondisi pasar di awal tahun karena meyakini kinerja pemerintahan baru. Tapi terjadi sampai semester I, prediksi saya salah dan kinerja IHSG juga memburuk seiring dengan data ekonomi yang tidak sesuai dengan harapan.

    Dan terus terang, bukan kali ini saja saya salah. Kalau dilihat dari beberapa periode ke belakang, melakukan market timing ini memang riskan. Kadang kita benar, kadang kita salah. Jadi, jika tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap prediksi pasar ke depan, saya tidak menyarankan orang untuk melakukan pengalihan dan lebih fokus pada tujuan investasi jangka panjang.

    Melakukan pengalihan, mau sebagian atau semuanya adalah hak dari masing-masing investor. Sepanjang dia merasa nyaman, silakan2 saja. Benar atau tidak hanya bisa tahu setelah kejadian, apakah benar turun atau tidak.

    Jika mau melakukan diversifikasi, bisa membaca artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/21/strategi-investasi-reksa-dana-asset-allocation/
    Tapi strategi tersebut tidak untuk semua orang.

    Demikian, semoga bermanfaat.

  7. Rudiyanto
    July 9th, 2015 at 16:50 | #7

    @paul’s
    Selamat Sore Pak Paul,

    Mengenai IHSG dan Reksa Dana Saham pada bulan Mei Juni yang selalu jelek, itu tergantung berapa tahun anda melihat ke belakang. Tahun 2011 returnnya positif, yang negatif itu 2012 – 2015. Dan kalau lihat 15 tahun ke belakang hingga 2001, yang positif 8 kali dan negatif 7 kali. Jadi return di bulan Mei tidak selalu jelek, maybe yes maybe no.

    Kemudian, apa definisi bearish ? Kalau hanya turun dianggap bearish, maka terjadinya tidak hanya di bulan Mei Juni saja tapi juga tahun-tahun lainnya. Jadi definisi bearish juga harus didefinisikan dengan jelas.

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Memang benar kalau Unit Penyertaan naik berarti investor yang beli lebih banyak daripada yang jual dan sebaliknya. Akan tetapi, definisi “banyak” itu relatif karena untuk pastinya harus melihat data nominal Subscription dan Redemption. Tapi data ini memang sudah tidak dipublikasikan oleh OJK lagi.

    2. Sudah saya bahas di atas.

    3. Baik sekali pak, idealnya memang investasi reksa dana saham untuk periode di atas 5 tahun. Mengalami kerugian dalam periode beberapa tahun setelah anda berinvestasi memang adalah risiko daripada reksa dana saham. Untuk mengetahui lebih detail mengenai besaran risiko yang ditanggung, bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/

    Semoga bermanfaat.

  8. paul’s
    July 10th, 2015 at 10:47 | #8

    Saya pernah membaca tulisan tentang strategi “sell in may or go away” dalam blog ini.

    1. Apakah tepat dilakukan pengalihan investasi dari RD Saham ke RD jenis lainnya seperti Pendapatan Tetap, disaat NAV/UP RD Saham yang jatuh/turun seperti pada bulan Juni di bawah NAV/UP saat subscription nya.
    2. Berapa lamakah sebagai nasabah/investor dapat untuk melakukan proses pengalihan investasi dari RD satu ke RD yang lain seperti RD yang ada pada Panin Ass. Management?
    2. Berhubung grafik RD Saham polanya selalu mengikuti grafik IHSG. Pada saat kapan sebagai investor sebaiknya melakukan top-up ? Apakah saat nilai IHSG turun di bawah poin 5000 rupiah seperti di bulan Juni yang lalu?

    Terima kasih sebelumnya, atas tanggapan yang diberikan.

  9. helen june
    July 10th, 2015 at 14:00 | #9

    @thomyum
    banyak baca biar anda banyak tau.
    saran saya banyak baca2 buku, jangan taruh semua telur dalam keranjang.

  10. helen june
    July 10th, 2015 at 14:01 | #10

    @bijeh
    thanks bro

  11. paul’s
    July 10th, 2015 at 16:06 | #11

    paul’s :
    Saya pernah membaca tulisan tentang strategi “sell in may or go away” dalam blog ini.
    1. Apakah tepat dilakukan pengalihan investasi dari RD Saham ke RD jenis lainnya seperti Pendapatan Tetap, disaat NAV/UP RD Saham yang jatuh/turun seperti pada bulan Juni di bawah NAV/UP saat subscription nya.
    2. Berapa lamakah sebagai nasabah/investor dapat untuk melakukan proses pengalihan investasi dari RD satu ke RD yang lain seperti RD yang ada pada Panin Ass. Management?
    3. Berhubung grafik RD Saham polanya selalu mengikuti grafik IHSG. Pada saat kapan sebagai investor sebaiknya melakukan top-up ? Apakah saat nilai IHSG turun di bawah poin 5000 rupiah seperti di bulan Juni yang lalu?
    4. Untuk lebih jelasnya dari pernyataan ‘banyak” pada pertanyaan saya sebelumnya di atas bisa diambil contoh misalnya :
    NAV/UP PD Ultima pada tgl 2 Juni 2015 = 1074.39 dan 29 Juni 2015 = 995.68 rupiah. Bukankah ini bisa berarti pada tgl 2 Juni tsb banyak yang melakukan redemption dikarenakan kekuatiran NAV/UP yang terus turun. Sedangkan pada 29 Juni 2015 masuk investor lain yang melakukan subcription dengan UP yang lebih banyak dibandingkan redemption pada tgl 2 Juni, sehingga UP RD tsb diakhir bulan Juni 2015 mengalami peningkatan tetapi dengan Dana kelolaan yang lebih sedikit.
    Bearish yang saya maksudkan adalah trend harga IHSG/ RD yang menurun walaupun jangka waktunya tidak lama (rally).

    Terima kasih sebelumnya, atas tanggapan yang diberikan.

  12. Rudiyanto
    July 12th, 2015 at 01:19 | #12

    @paul’s
    Selamat Malam Paul,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda,
    1. Sebaiknya anda membaca ulang lagi artikel tersebut karena kelihatannya ada yang salah paham. Selain judulnya salah, juga tidak dibahas kalau dialihkan di bulan Juni. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/04/23/sell-in-may-and-go-away/ Pembahasan dengan data yang lebih update juga bisa diperoleh di buku http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/pesanbuku/

    2. Tergantung di reksa dana ada ketentuan bisa switching atau tidak. Di Panin Asset Management, hampir semua reksa dana bisa dilakukan switching dengan ketentuan H+0. Tapi sekali lagi, sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ada tujuan keuangan.

    3. Tidak tahu, yang saya tahu adalah berapa lama waktu yang tepat. Yaitu ketika anda punya tujuan keuangan yang mau dicapai > 5 tahun, kapanpun adalah waktu yang tepat.

    4. NAB/Up atau harga adalah refleksi dari kinerja. Turunnya harga bukan berarti ada banyak investor yang menjual reksa dana dan sebaliknya harga yang naik juga bukan berarti investor banyak membeli.

    Naik turunnya harga adalah murni karena strategi pemilihan oleh Manajer Investasi. Sementara kalau orang melakukan redemption atau subscription maka yang dilihat adalah Unit Penyertaannya bukan Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan. Jadi pemahaman anda akan NAB/Up itu tidak tepat.

    Sebab kalau NAB/Up akan naik karena banyak orang yang beli, maka reksa dana dengan harga tertinggi di Indonesia adalah reksa dana Schroder Dana Prestasi Plus karena dana kelolaannya yang paling besar.

    Data di OJK ada Nilai Aktiva Bersih dan Unit Penyertaan. Dari pergerakan unit penyertaan baru bisa diketahui lebih banyak redemption dan subscription. Saran saya juga hati-hati dengan kata “banyak” sebab Unit Penyertaan bisa saja turun, tapi cuma katakan 100 dari 10 juta unit. Memang turun, tapi bukan berarti “banyak” turunnya.

    Kemudian untuk definisi bearish, itu berapa persen dalam periode berapa lama? Kalau pasar turun 10% dalam 1 bulan dan 10% dalam 2 tahun apakah bisa dikatakan periode bearish?

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  13. paul’s
    July 13th, 2015 at 11:24 | #13

    Mengenai kata “banyak”dapat dilihat spt data di bawah Pak Rudi,

    data konkret dari Bloomberg yang saya peroleh (untuk RD PD Ultima) sbb:
    1 Juni 2015 = 1094,38 dan 3 Juni 2015 = 1063,52.
    Berhubung 2 Juni 2015 (libur nasional), datanya saya buatkan dgn cara intrapolasi (persamaan linier), menjadi 1074,39.

    data monthly RD PD Ultima (dari OJK) sbb:
    Mei 2015: NAV = 1,519,049,346,303.08; UP = 1,388,051,000.60; NAV/UP = 1094.38
    Jun 2015: NAV = 1,449,503,878,559.79; UP = 1,445,201,962.54; NAV/UP = 1002.98

    Dari data OJK tsb di atas bukankah dapat diartikan UP pada akhir Juni naik dibandingkan akhir Mei 2015, dikarenakan lebih banyak membeli/sucription dibandingkan redemption nya?
    Kenapa banyak membeli? Bukankah karena harga (NAV/UP) RD nya yang turun?

    Mengenai judul memang ada salah ketik, yang seharusnya “and”. Trm kasih pak, akan saya baca lebih detail lagi mengenai artikel tsb.

  14. Rudiyanto
    July 13th, 2015 at 11:39 | #14

    @paul’s
    Selamat Siang Pak Paul,

    Pertama, menurut saya anda tidak dapat melakukan interpolasi karena akan membuat harga “fiktif” dan untuk apa juga dipaksakan ada harga pada hari libur karena memang tidak ada harga pada hari tersebut.

    Kedua, kalau anda membandingkan UP di bulan Mei dan Juni, maka seharusnya harga yang digunakan adalah sepanjang bulan tersebut, bukan hanya 2-3 hari saja.

    Kemudian sehubungan dengan UP, memang benar kalau jumlah UP naik berarti investor yang melakukan pembelian lebih banyak daripada yang melakukan penjualan.

    Yang kurang tepat menurut saya adalah alasannya, karena anda menggeneralisir bahwa semua investor membeli karena harganya rendah. Alasan orang membeli bermacam-macam, bisa saja ada orang yang membeli dengan cara autodebet sehingga pada bulan Juni mau harga naik atau turun orang tetap membeli.

    Bisa juga ada orang yang baru selesai membuat rencana keuangan investasi saham dengan periode investasi > 5 tahun dan memulainya pada bulan tersebut. Bisa juga ada nasabah yang sudah diprospek marketing berbulan-bulan dan baru sempat membeli karena pada bulan tersebut menerima THR, Insentif atau bonus dari perusahaan.

    Bisa juga ada investor yang melakukan pengalihan dari reksa dana saham yang dia miliki ke Panin Dana Ultima karena pertimbangan kinerja, kenyamanan, dan hal lainnya. Bisa juga ada investor institusi yang divisi pengelolaan investasinya ditempati orang baru pada bulan tersebut dan yang bersangkutan melakukan kegiatan investasi, kebetulan ke Panin Dana Ultima.

    Dan tentu saja bisa jadi alasannya adalah seperti yang anda kemukakan yaitu orang melihat harganya rendah, tapi point saya adalah itu bukan alasan satu-satunya, karena tidak semua investor reksa dana Panin Dana Ultima menggunakan metode market timing berdasarkan tinggi rendahnya harga.

    Jangan lupa, faktor dana kelolaan juga tergantung upaya pemasaran dari tenaga penjual. Kalau metode penjualannya kreatif dan memberikan solusi bagi investor, dalam segala kondisi UPnya dapat naik.

    UP Panin Dana Ultima sudah naik sejak dari bulan Januari meskipun waktu itu IHSG menembus rekor baru dan harganya tinggi, apakah perubahan UP pada bulan-bulan tersebut sudah anda analisa juga?

    Semoga bermanfaat.

  15. paul’s
    July 13th, 2015 at 15:47 | #15

    Menurut saya pembuatan interpolasi tdk ada masalah. interpolasi dilakukan agar grafik yang dibuat tdk terputus2. apalagi untuk membuat pengamatan harian.
    bila kita lihat pada grafik yang ada spt di Bloomberg (grafik interaktif nya) atau mungkin grafik2 yang lainnya, juga tdk ada grafik garis yang terputus. dan itu biasa dilakukan seperti yang terdapat pada software yang ada di microsoft.

    Mengenai UP, berhubung data yang ditampilkan bulanan, maka data tersebut adalah data pada akhir bulan, seperti yang saya peroleh dari OJK. Saya tdk menggunakan data 2 atau 3 hari, karena data itu adalah data untuk pengamatan harian saya dengan cara membuat grafik hariannya.

    Seperti yang bapak jelaskan sebelumnya 100 dari 10 juta, nilai aktual yang saya sampaikan sudah saya tuliskan, yang ternyata memang “banyak”.

    Demikian penjelasan tambahan saya.

  16. Rudiyanto
    July 13th, 2015 at 16:02 | #16

    @paul’s
    Kalau dari pengalaman saya sebagai seorang analis, pembuatan harga interpolasi akan membuat harga fiktif dan menghasilkan analisa yang salah. Karena anda menciptakan harga sendiri / harga fiktif.

    Kalau tujuannya supaya garis tidak terputus, sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus membuat harga interpolasi, karena grafik adalah garis menghubungkan titik ke titik. Di bloomberg, infovesta, reuters, yahoo finance dan situs keuangan yang saya tahu menggunakan metode tersebut tanpa membuat harga interpolasi / harga sendiri. Data pointnya pasti harian dan kalau libur tidak ada.

    Mengenai kalau 100 dari 10 juta itu banyak, ya silakan. Setiap orang bisa punya pendapat sendiri.

    Terima kasih

  17. Dion
    July 14th, 2015 at 11:01 | #17

    Pak Rudi, bagaimana dengan reksa dana syariah? Apakah refleksi artikel di atas dapat dijadikan review juga terhadap kinerja reksa dana syariah?

  18. Rudiyanto
    July 14th, 2015 at 15:43 | #18

    @Dion
    Selamat Sore Pak Dion,

    Untuk reksa dana syariah nanti saya akan bahas dalam artikel tersendiri pak, ditunggu saja.
    Untuk dana kelolaan di atas, sudah termasuk reksa dana syariah juga.

    Semoga bermanfaat.

  19. paul’s
    July 21st, 2015 at 09:30 | #19

    Pak Rudi data yang benar bukan 100 dari10 juta. Menurut saya, Bapak memberikan asumsi yang keliru. Data yang saya peroleh dari OJK bukan seperti itu. Mahon dicek datanya seperti :

    PD Ultima (data Monthly OJK):
    Mei 2015: NAV = 1,519,049,346,303.08; UP = 1,388,051,000.60; NAV/UP = 1094.38
    Jun 2015: NAV = 1,449,503,878,559.79; UP = 1,445,201,962.54; NAV/UP = 1002.98

    Terima kasih ….

  20. Rudiyanto
    July 21st, 2015 at 16:38 | #20

    @paul’s
    Baik, terima kasih untuk masukannya.

  21. July 27th, 2015 at 02:59 | #21

    bagaimana dengan reksa dana syariah pak?

  22. Rudiyanto
  23. Budi
    July 28th, 2015 at 19:20 | #23

    @Rudiyanto

    Terima kasih tanggapannya pak Rudi,

    Kalau terkait penurunan indeks saham China, bagaimana pak Rudi melihat dampaknya ke IHSG, apakah memang seharusnya ikut terkoreksi turun? pada awal tahun saat indeks saham China menguat, apakah juga terjadi kenaikan pada IHSG atau malah sebaliknya?

    Lalu menurut pak Rudi bagaimana prospek IHSG pada semester II ini?

    Terima kasih sebelumnya.

  24. Rudiyanto
    July 29th, 2015 at 17:22 | #24

    @Budi
    Salam Pak Budi,

    Kalau menurut saya, IHSG adalah kombinasi dari Fundamental dan Persepsi.

    Secara fundamental, memang pada kenyataannya laporan keuangan dan data ekonomi makro Indonesia tidak bagus dan lebih jelek daripada ekspektasi orang. Jadi penurunan harga sekarang mencerminkan hal tersebut.

    Secara persepsi, China hanya salah satunya. Sebab persepsi bisa datang tiba-tiba, berubah dengan cepat, dan tiba-tiba seperti tidak ada dampak sama sekali. Dan yang jelek dari orang pasar modal adalah ketika terjadi suatu kondisi, entah itu naik atau turun, suka dihubung2kan dengan apa saja yang sedang terjadi meskipun belum tentu ada hubungannya.

    Jadi saya masih melihat penurunan ini lebih karena faktor fundamental. Faktor persepsi seperti China ini terus terang saya tidak tahu, menurut saya malah pengaruhnya sangat kecil. Sebab kalau mau dipelajari lebih lanjut, pasar modal China tidak semudah yang kita bayangkan. Indeksnya saja ada 2, Shanghai, Shenzhen dan Shenzhen. Udah gitu ada yang saham kelas A dan kelas B dimana yang bisa dimiliki asing hanya salah satunya.

    Jadi menurut saya, pasar “mencoba” menghubung2kan penurunan di IHSG dengan hal tersebut, padahal murni fundamental.

    Mengenai outlook sudah ada pada artikel di atas bukan?

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih

  25. Budi
    July 30th, 2015 at 20:38 | #25

    @Rudiyanto

    Terima kasih pak Rudi.

    Kalau boleh menanggapi twitter pak Rudi mengenai penerapan rasio kapitalisasi pasar per PDB di Indonesia (Buffet indicator), menurut saya indikator tersebut kurang pas jika digunakan untuk membandingkan “aman-tidaknya” pasar saham Indonesia dibanding US atau China karena mengasumsikan kalau peranan/kontribusi perusahaan2 Tbk di Indonesia pada produksi nasional setara dengan yang di US atau China. Kalau di Indonesia sepertinya perusahaan2 Tbk meskipun merupakan bagian terbesar dari ekonomi nasional, tapi persentasenya bisa jadi masih kalah dibanding US atau China (yang total produksi perusahaan2 Tbk nya bisa lebih mendekati 100% produksi nasional).

    Kalau benar demikian, maka PDB Indonesia sebagai denominator pada indikator tsb harus dikoreksi lebih kecil sehingga lebih mencerminkan PDB “khusus” perusahaan2 Tbk. Hasilnya Buffer indicator untuk Indonesia yang sudah dikoreksi bisa lebih besar dari kisaran 40-50%.

  26. Rudiyanto
    July 31st, 2015 at 08:53 | #26

    @Budi
    Selamat Pagi Pak Budi,

    Terima kasih untuk tanggapannya di Twitter.

    Semua orang bisa memberikan pendapat akan efektif atau tidaknya suatu rasio, tapi begitu rumusan rasio tersebut diubah, maka saya pikir namanya juga perlu diubah. Misalkan bukan Buffett Indicator, tapi Budi Indicator. He he.

    Semoga bermanfaat.

  27. Budi
    August 9th, 2015 at 21:19 | #27

    Selamat malam, pak Rudi,

    Pak Rudi, sejak tahun lalu ada berita the Fed berencana akan menaikkan suku bunga namun selalu diundur / belum juga terlaksana. Jika suku bunga the Fed akhirnya dinaikan dalam waktu dekat ini, menurut pak Rudi apa dampaknya terhadap aliran dana asing? apakah keluarnya semakin meningkat atau berkurang atau malah berbaik masuk?

    Terima kasih sebelumnya.

  28. Rudiyanto
    August 10th, 2015 at 13:45 | #28

    @Budi
    Selamat Siang Pak Budi,

    Dampak dari rencana kenaikan suku bunga the Fed meskipun terus diundur sebenarnya lebih terlihat pada kurs. Sebagaimana sejak tahun lalu, mata uang AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama di dunia.

    Kalau aliran dana asing untuk saham ya tergantung ke Sentimen dan Fundamental IHSG sendiri. Kalau soal Sentimen, itu bisa berubah dengan cepat, buktinya tahun lalu sudah digulirkan IHSG naik, tahun ini tetap ga jelas2 IHSG turun.

    Kalau secara fundemental, kurs AS yang kuat akan berdampak terhadap laba bersih perusahaan karena beberapa perusahaan yg tidak hedging mengalami rugi kurs dan peningkatan biaya produksi akibat banyaknya komponen impor.

    Kalau fundamental bagus, maka sentimennya juga akan bagus. Kalau fundamentalnya tidak bagus, sentimen bisa bagus bisa tidak tergantung pada valuasi dan fundamental pilihan lain apakah lebih jelek dibandingkan negara kita atau tidak. Sebab terkadang kalau dianggap sudah terlalu murah, aliran dana asing akan tetap masuk kembali, atau bisa juga tidak ada pilihan lain sehingga tetap di negara yang secara relatif lebih baik.

    Aliran dana asing mungkin bukan merupakan alat prediksi yang baik untuk IHSG. Detailnya bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/03/18/mitos-dan-fakta-seputar-aliran-dana-asing/

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  29. Budi
    August 12th, 2015 at 19:15 | #29

    @Rudiyanto

    Selamat malam, pak Rudi,

    Kalau boleh saya bertanya lagi, apa pendapat pak Rudi tentang kebijakan devaluasi Yuan yang menyebabkan IHSG sampai turun 5,5% lebih hanya dalam 2 hari? apakah benar bahwa sebelum devaluasi pun Rupiah sudah undervalued dan kini makin undervalued? Apakah hingga akhir tahun kecenderungan Rupiah dan IHSG masih terus menurun?

    Lalu mengenai perlambatan ekonomi global, apakah pak Rudi mengetahui/punya data kira-kira kebanyakan negara lain apakah banyak yang mulai menunjukkan pemulihan atau belum? Lalu saya pernah baca bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih termasuk 5 tertinggi. Jika banyak negara yang perlambatannya lebih parah dari Indonesia, apakah negara-negara tersebut secara umum indeks sahamnya terkoreksi turun lebih dalam daripada IHSG?

    Terima kasih sebelumnya, pak Rudi.

  30. Rudiyanto
    August 13th, 2015 at 16:43 | #30

    @Budi
    Selamat Siang Pak Budi,

    Mengenai kebijakan Yuan bisa dilihat di artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/08/13/apakah-valuasi-ihsg-sudah-murah/

    Mengenai pemulihan, terus terang saya ada datanya tapi butuh waktu untuk dikumpulkan dan dianalisa. Anda bisa mengecek sendiri ke website tradingeconomics untuk melihat seperti apa perkembangannya.

    Mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi dan IHSG, secara historis memang teruji pada Indonesia, tapi belum diteliti jika di negara lain. Jadi perlu dicek terlebih dahulu. Pada referensi website di atas anda juga bisa mengecek pertumbuhan sahamnya.

    Semoga bermanfaat.

  31. sharif
    August 16th, 2015 at 15:41 | #31

    @helen june

    Pemahaman anda terhadap investasi masih jauh dari kata “paham”..hati2, tidak ada yg namanya investasi itu menyebut “PASTI” untuk profit sekian persen per bulan..PASTI, PASTI = TIPU

  32. September 20th, 2015 at 03:01 | #32

    @helen june

    Just share aja.Pada dasarnya investasi di reksadana bukan seperti lari 100 meter pak,gesit diawal habis itu selesai, investasi reksadana lebih mirip lari marathon, dibutuhkan daya tahan untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

  33. bima
    February 24th, 2016 at 01:55 | #33

    @helen june

    lo itu mimpi, reksdana tertinggi aja 30% setahun, koperasi simpan pinjam 17.87% perbulan itu maksud lo skema ponzi ya? hati-hati karena risknya 100%

 


%d bloggers like this: