Home > Asuransi, Literasi Keuangan, Perencanaan Investasi > My Experience With Unit Link 2

My Experience With Unit Link 2

Memahami Lebih Dalam Tentang Unit Link

Sebelum membaca lebih lanjut tentang artikel ini, saya mau mempertegas disclaimer yang biasanya dipasang pada bagian akhir artikel. Tulisan ini bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau tidak membeli produk tertentu. Jadi ketika saya menggunakan contoh produk nyata sebagai materi pembahasan, bukan berarti saya merekomendasikan untuk membeli produk tersebut ataupun untuk tidak membelinya. Semua contoh yang saya lampirkan adalah fakta untuk mendukung tulisan.

Untuk memulai artikel ini saya ingin memulainya dengan contoh nyata dengan sebuah unit link yang keluarga saya miliki. Tulisan ini juga merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul My Experience With Unit Link.

Ilustrasi Asuransi

Pada bulan Maret 2013 saya mengambil unit link untuk istri saya dengan keterangan sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 6 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 148 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 400 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 35 juta
    • Pru Waiver Rp 6 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran saya agak lupa, tapi mungkin sekitar tanggal 15 an. IHSG waktu itu di 4819

Kemudian karena suatu hal, saya mengubah uang pertanggungan. Alasan lengkapnya bisa dibaca di buku kedua saya dengan data yang lebih update daripada blog di Fit Focus Finish.

Setelah perubahan, asuransi saya menjadi sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 4.2 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 102 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 280 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 36 juta
    • Pru Waiver Rp 4.2 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran sudah berjalan 2 kali yaitu 21 Maret 2014 dan 11 Maret 2015. IHSG pada waktu itu masing-masing 4700 dan 5419
  • Total pembayaran yang sudah saya lakukan selama 3 tahun adalah Rp 14.4 juta ( 6 juta + 4,2 juta +4,2 juta)

*Yang dimaksud dengan Pru Waiver adalah jika terdeteksi mengalami penyakit kritis, maka pembayaran premi dibebaskan hingga usia 65 tahun. Asuransi ini mirip seperti KPR. Misalkan anda mengambil KPR dengan pembayaran cicilan hingga usia 65 tahun, jika meninggal di tengah jalan, maka cicilannya dianggap lunas. Jadi manfaat asuransinya semakin menurun sesuai dengan jangka waktu.

Orang yang meninggal di usia 42 akan mendapat uang pertanggungan yang lebih besar dibandingkan uang pertanggungan orang yang meninggal di usia 62 tahun. Meskipun demikian, manfaat itu tidak diterima uang tunainya karena hanya berupa cicilan rumah yang tidak perlu dibayar lagi alias lunas jika yang berutang meninggal dunia.

Konsep Pru Waiver ini juga sama, anda “seharusnya” membayar asuransi hingga usia tertentu jika ingin terus menikmati manfaat asuransinya. Namun jika terdeteksi, maka nilai Rp 4.2 juta atau Rp 6 juta sesuai premi akan dibayarkan ke Unit Link anda sampai usia 65.

Manfaat waiver juga tidak berupa uang tunai yang dinikmati langsung, akan tetapi dibayarkan ke dalam asuransi anda. Ketika sudah masuk ke asuransi, berarti ketika ditarik tentu akan dipotong biaya dan kewajiban (jika ada)

Nah, yang menarik disini. Pada tanggal 15 Mei 2015 (IHSG di angka 5227) saya bertanya kepada petugas customer service berapa Nilai Tunai yang saya miliki. Pertanyaan ini saya lakukan via phone, tapi karena kurang jelas saya meminta informasi tersebut dikirimkan secara tertulis.

Yang dimaksud dengan nilai tunai adalah porsi uang kita yang diinvestasikan. Atau buat anda yang awam, pada saat ditawarkan produk asuransi pastinya ditunjukkan bahwa di usia sekian nanti uang anda akan ada sekian ratus juta, milliar atau puluhan milliar. Uang tersebut, oleh tenaga pemasar biasanya dijelaskan bahwa bisa digunakan untuk pensiun dan lain-lain. Uang inilah yang dimaksud dengan nilai tunai.

Silakan tebak, berapa kira-kira nilai tunai pada polis asuransi tersebut? Mohon diingat bahwa total premi yang saya bayarkan adalah Rp 14,4 juta selama 3 tahun dan tidak ada klaim apapun. Untuk mempermudah, saya berikan pilihan sebagai berikut :

  1. Rp 3 juta – Rp 5 juta
  2. Rp 5 juta – Rp 6 juta
  3. Rp 6 juta – Rp 14,4 juta
  4. > Rp 14,4 juta
  5. < Rp 3 juta

Sebagai data pendukung, berikut saya lampirkan juga data sebagai berikut :

Informasi Biaya Akuisisi dan Porsi Investasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.07.31 PM

Informasi Biaya Administrasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.12.04 PM

Sudah menebak?? Kalau mau melihat jawabannya silakan membaca lebih lanjut.

Ternyata, untuk mengetahui nilai tunai dari unit link caranya tidak mudah. Berikut ini adalah laporan yang diberikan ke saya per 15 Mei 2015

Screen Shot 2015-05-30 at 2.24.16 PM

Kalau dari laporan di atas, berapa sebenarnya nilai tunai saya? Apakah Rp 2.626.989 ? Jawabannya tidak. Nilai tunai yang saya miliki adalah Rp 2.626.989 – Rp 1.337.520 = Rp 1.289.469. Itulah nilai tunai per 15 Mei 2015 dari total Rp 14.4 juta yang saya bayarkan selama 3 tahun dari kurun waktu 2013 – 2015. Apakah tebakan anda sudah benar?

Biaya Akuisisi, Biaya Asuransi dan Administrasi dan Nilai Tunai Investasi

Selama ini saya hanya mengetahui bahwa dalam asuransi hanya ada biaya akuisisi dan nilai tunai. Namun dari penelusuran lebih lanjut, ternyata ada lagi yang disebut biaya Asuransi dan Administrasi. Untuk lebih detailnya mari kita lihat tabel sebagai berikut :

Screen Shot 2015-05-30 at 2.35.17 PM

Bagi anda yang tidak mengerti cara membaca tabel di atas, saya mencoba menerjemahkan dalam bahasa versi saya sebagai berikut :

Tahun Pertama

Nasabah dapat membeli unit link dengan dua cara yaitu pembelian secara berkala satu paket dengan biaya asuransi sekaligus dan dengan cara top up. Top up juga dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu berkala dan sekaligus (premi tunggal). Porsi unit link yang bisa dipotong biaya asuransi dan administrasi adalah porsi yang berasal dari pembelian secara berkala saja.

Karena semua premi berkala yang kita bayarkan pada tahun pertama menjadi komisi marketing (biaya akuisisi), maka biaya asuransi dan administrasi yang timbul dianggap hutang dulu. Dalam kasus saya, pembelian unit link hanya saya lakukan yang sistemnya satu paket dengan biaya asuransi. Di luar itu saya tidak melakukan top up baik secara berkala ataupun dengan cara sekaligus. Atau kalau dalam bahasa yang lebih sederhana lagi Rp 6 juta yang saya bayar, abis buat komisi marketing dan saya masih berhutang biaya Asuransi dan Administrasi.

Tahun Kedua

Pada tahun kedua sudah ada nilai tunai karena 40% dari nilai yang disetorkan menjadi Unit Link dan sisanya 60% menjadi komisi marketing. Biaya asuransi dan administrasi tetap jalan dan akan diakumulasikan dengan biaya asuransi dan administrasi yang terutang sejak tahun pertama.

Kalau nilai tunai mencukupi maka selanjutnya akan dipotong biaya asuransi dan administrasi yang saya utang tersebut (pembatalan unit). Kalau ada top up, maka unit yang terbentuk dari top up dan pembayaran secara reguler dipisahkan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Rp 4.2 juta yang saya bayarkan sebanyak 40% atau Rp 1.680.000 dibelikan unit link. Akan tetapi, saldo ini akan dipakai buat bayar saldo hutang biaya asuransi dan administrasi kalau cukup.

Tahun Ketiga

Pada tahun ketiga, unit yang terbentuk dari pembayaran secara reguler dan top up digabung menjadi satu. Dimana karena saya tidak melakukan top up, maka tidak ada penggabungan. Nilai tunai pada tahun ketiga mencapai 85% dari Rp 4.2 juta yaitu Rp 3.570.000.

Karena nilai tunainya sudah lumayan, saatnya bayar hutang. Perusahaan asuransi akan memotong nilai tunai unit link saya dengan biaya asuransi dan administrasi yang terutang pada tahun pertama dan kedua serta yang timbul pada tahun ketiga. Untuk biaya asuransi dan administrasi pada tahun ketiga, pemotongannya akan dilakukan setiap bulan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Rp 1.6 juta pada tahun kedua dan Rp 4.2 juta pada tahun ketiga berikut hasil pengembangannya akan dipakai buat bayar hutang biaya asuransi dan administrasi.

Tahun Keempat dan Hingga Usia Tertanggung 99

Mulai tahun ketiga, Nilai tunai menjadi 85% hingga tahun kelima dan 100% untuk tahun selanjutnya. Tapi selama asuransi masih tetap berjalan, kita tetap akan membayar biaya asuransi dan administrasi hingga usia 99.

Banyak orang persepsinya setelah membayar 10-20 tahun, maka tidak perlu membayar lagi dan akan ditanggung hingga usia 99 atau 65 tergantung jenis asuransinya. Pemahaman ini salah, sebenarnya biaya asuransi dan administrasi jalan terus, namun pembayarannya diambil dari nilai tunai investasi yang terkumpul. Ketika nilai tunai tersebut habis, maka supaya perlindungan asuransi tetap berjalan, anda diminta melakukan top up. Jika tidak mau, ya asuransinya lapse atau gagal.

Untuk lebih jelasnya mengenai pembentukan nilai tunai pada tahun kedua dan ketiga mari kita lihat tabel di bawah ini

Pembentukan UnitPada tabel di atas terlihat bahwa cara kerja unit link sama dengan reksa dana. Dimana dari uang yang disetorkan dibelikan unit link sesuai dengan harga pasarnya.

Kemudian mengenai pemotongan biaya Asuransi dan Administrasi, dalam bahasa asuransi disebut Pembatalan. Total yang dibatalkan sekitar Rp 2.53 juta. Dalam reksa dana, proses ini sama seperti redemption. Bedanya dalam redemption, hasil penjualan diterima oleh investor. Sementara di asuransi, redemption digunakan untuk membayar biaya asuransi.

Biaya Asuransi dan Administrasi Yang Ditagihkan

Angka di atas bukanlah keseluruhan karena jika kita melihat tabel biaya asuransi setiap tahun, biayanya adalah sebagai berikut :

Biaya Asuransi dan Administrasi Tahun Pertama Biaya Asuransi dan Administrasi Tahun Kedua Biaya Asuransi dan Administrasi Tahun Ketiga

Tahun Pertama Rp 1.89 juta, Tahun Kedua Rp 1.57 juta (karena UPnya turun) dan Tahun Ketiga hingga bulan Mei Rp 408.843. Total biaya asuransi dan administrasi yang telah terjadi adalah Rp 3.872.203. Yang baru dipotong dari Unit Link saya baru sekitar Rp 2.53 juta sehingga masih utang sekitar Rp 1,3 juta.

Jika kita melihat tabel biaya asuransi di atas, bisa terlihat bahwa berapa sebenarnya biaya asuransi yang sebenarnya kita bayarkan. Untuk contoh, saya mengambil yang tahun pertama.

  • Asuransi Jiwa Rp 148 juta = Rp 26.876 per bulan atau Rp 322.512 per tahun atau sekitar 0.22% dari Uang Pertanggungan
  • Asuransi Penyakit Kritis Rp 400 juta = Rp 81.643 per bulan dan kemudian naik menjadi Rp 99.627 karena bertambahnya umur. Dengan menggunakan Rp 99.627 kali 12 = Rp 1.195.524 atau sekitar 0.29% dari Uang Pertanggungan
  • Asuransi Kecelakaan Rp 35 juta = Rp 3.994 per bulan atau Rp 47.928 per tahun atau sekitar 0.13% dari Uang Pertanggungan
  • Pru Waiver Rp 6 juta hingga usia 65*= Rp 11.246 per bulan dan naik menjadi Rp 12.095 karena bertambahnya umur. Rp 12.095 x 12 = Rp 145.140 per tahun.
  • Setiap bulannya, terlepas dari besaran pembayaran premi (baik 6 juta ataupun 4.2 juta), tetap dikenakan biaya administrasi Rp 27.500 per bulan atau Rp 330.000 per tahun

Untuk asuransi penyakit kritis dan Waiver, jika diperhatikan akan meningkat setiap tahun seiring dengan bertambahnya umur. Namun untuk Waiver lebih merugikan karena meski preminya bertambah manfaatnya malah turun. Sebagai contoh, jika meninggal di usia 30 ataupun 35 maka tetap mendapat pembayaran hingga usia 65. Padahal premi yang dibayar di usia 35 lebih tinggi dibandingkan usia 30. Hal ini berbeda dengan penyakit kritis yang nilai berlakunya bulanannya dan preminya meningkat seiring dengan risiko bertambahnya umur.

Perbandingan Hasil Investasi Vs Reksa Dana Saham

Jika jumlah uang yang sama diinvestasikan ke reksa dana saham, berapa uang tersebut sekarang? Diasumsikan harga reksa dana saham = IHSG dan per transaksi dikenakan biaya 2%.

Periode Nilai Investasi Fee 2% Investasi Bersih
Maret 2013 6,000,000 117.647 5.882.353
Maret 2014 4,200,000 82.353 4.117.647
Maret 2015 4,200,000 82.353 4.117.647
 14.400.000 14.117.647

Perolehan unit sebagai berikut

Periode Harga RD Saham Investasi Unit diperoleh Akumulasi Unit
Maret 2013 4,819 5.882.353 1.221 1.221
Maret 2014 4,700 4.117.647 876 2.079
Maret 2015 5,419 4.117.647 760 2.857

Nilai investasi pada tanggal 15 Mei 2015 dengan asumsi sesuai dengan IHSG yaitu 5.227 x 2.879 = Rp 14.931.486

Bandingkan dengan nilai tunai asuransi pada periode yang sama yaitu Rp 1.289.469

Perbedaan nilai tunainya hampir 12 kali lipat. Itulah sebabnya mengapa orang mengatakan jika berinvestasi lewat asuransi, hasilnya tidak maksimal.

Apakah saya akan menutup unit link tersebut?

Jawabannya, untuk saat ini tidak. Ada tiga alasan mengapa saya terus melanjutkannya

Pertama, sejak awal saya sudah punya mindset bahwa semua uang yang dibelikan unit link ini hangus. Jadi kalau ada sisa ya bagus, tidak ya sudah. Yang agak di luar dugaan sebenarnya adalah biaya asuransi dan administrasi terutangnya. Selama ini saya berpikir bahwa semua biaya asuransi sudah masuk dalam biaya akuisisi. Ternyata tidak, biaya akuisisi dan administrasi lain lagi.

Kedua, yang saya utamakan dari asuransi ini adalah Asuransi Penyakit Kritis. Memang saya dan istri sudah memiliki asuransi kesehatan dari kantor yang bahkan jumlahnya cukup besar. Namun asuransi kesehatan hanya menanggung biaya kesehatan saja. Padahal, dari pengalaman pribadi pengeluaran di luar biaya kesehatan dan dampak dari hilangnya produktivitas juga cukup besar.

Sebagai contoh, meski biaya operasi, rawat inap dan obat-obatan ditanggung, ketika mengurus anggota keluarga yang sakit kita perlu tranportasi. Untuk itu, kita mungkin perlu menyewa sopir dan mobil serta suster untuk merawat orang yang sakit. Dalam hal jika kita harus bolak balik keluar negeri, berarti ada biaya tiket pesawat dan hotel tidak hanya untuk pasien saja tapi juga pendampingnya.

Dari sisi produktivitas, mungkin saja kita cukup sering tidak masuk sehingga jatah cuti habis. Jika pada satu waktu karena perawatan harus dilakukan secara intensif, terpaksa harus mengambil unpaid leave atau cuti tidak dibayar. Kalaupun ada perusahaan yang berbaik hati dengan tetap membayarkan gaji selama kita cuti panjang, bagaimana dengan orang-orang yang pendapatannya lebih tergantung pada komisi dan tunjangan? Bagi yang berprofesi sebagai marketing atau pegawai negeri tentu tahu bahwa yang namanya komisi dan tunjangan bisa berlipat-lipat dari gaji.

Uang pertanggungan dari penyakit kritis inilah saya gunakan untuk antisipasi biaya lain-lain dan hilangnya produktivitas tersebut. Hitungannya sederhana, katakanlah selama 20 tahun saya bayar Rp 4.2 juta sehingga totalnya Rp 84 juta. Selama 20 tahun saya dapat “peace of mind” seandainya terjadi penyakit kritis berarti ada uang Rp 280 juta yang bisa digunakan.

Ketiga, asuransi ini saya beli dari teman yang sudah saya kenal selama bertahun-tahun. Tentu ada pertimbangan subjektivitas dan rasa “tidak enaknya”. Selain itu, memang saya juga butuh karena alasan pertama dan kedua tadi.

Demikian pengalaman saya dengan unit link, semoga bisa membantu anda memahami plus minus reksa dana atau unit link. Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

  1. June 4th, 2015 at 07:00 | #1

    Pak Rudy, bole tau bagaimana proses dan kondisi yg ditentukan untuk melakukan klaim penyakit kritis pada produk yg bapak beli?

    Apakah bisa turun secara lumpsum begitu terdeteksi pada tahap dini, atau secara parsial tergantung pada tahapan kondisi penyakit, atau dana baru bisa diklaim pada penyakit kritis tahap lanjut saja?

    Saya juga sedang mempertimbangkan utk membeli proteksi penyakit kritis namun belum menemukan yg cocok. Mohon masukannya. Thx

  2. Rudiyanto
    June 4th, 2015 at 10:34 | #2

    @Joe kusumanegara
    Selamat Pagi Pak Joe,

    Kalau dari pengalaman saya:
    Orang tua saya punya asuransi penyakit kritis dari Allianz. Yang ini saya pernah melakukan klaim. Proses klaimnya memang ada SOP dan relatif butuh waktu cukup lama untuk memenuhi semua dokumen tersebut. Tapi pada akhirnya dana itu keluar.

    Saya punya asuransi penyakit kritis dari Manulife dan istri saya Prudential. Yang ini memang belum pernah klaim dan semoga jangan pernah. Tapi saya rasa prosesnya juga tidak berbeda jauh. Anda bisa konsultasi dengan agen penjualnya langsung.

    Semoga bermanfaat.

  3. nidibi
    June 4th, 2015 at 13:43 | #3

    Pak Rudi, kenapa tidak memutuskan untuk beralih ke asuransi murni? Karena sepengetahuan saya, cover (nilai manfaat) yang diberikan lebih besar atas biaya yang ditimbulkan apabila kita sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Tapi saya tidak tahu, apakah penyakit kritis dimasukkan dalam benefit asuransi murni tersebut ya..

    Lalu untuk investasinya dengan reksadana untuk kebutuhan bayar kebutuhan kita di masa yang akan datang bila masa produktif sudah usai..

  4. Rudiyanto
    June 4th, 2015 at 14:37 | #4

    @nidibi
    Salam Nidibi,

    Mudah2an itu nama asli anda. Boleh tahu asuransi murni yang kamu maksud itu yang mana? Karena asuransi juga ada bermacam2.

    Referensi artikel
    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/28/060200626/Lebih.Prioritas.Mana.Asuransi.atau.Investasi.Reksa.Dana.

  5. June 5th, 2015 at 09:46 | #5

    Betul pak..Unit Link parah untuk urusan investasi.
    Di hitung bagaimana pun ga mungkin bisa kalahin RD murni..

    Maka dari itu saya pun membeli Unit Link beserta RD murni (Panin Ultima).

  6. June 5th, 2015 at 10:07 | #6

    @Rudiyanto

    Salam pak Rudy,

    Apakah semua proteksi penyakit kritis yang bapak dan keluarga punya, merupakan rider dari produk unit link? Saya belum menemukan proteksi penyakit kritis pada produk tradisional.

    Saya sebelumnya mencari dan bertanya-tanya, untuk proteksi penyakit kritis yang memberi santunan pada tahap dini biayanya lumayan mahal dan hanya dapat mencairkan sebagian UP, sisanya diberikan pada tahap lanjut.

    Saya sempat terpikir apakah tepat membeli proteksi penyakit kritis berupa santunan atau lebih baik mempunyai proteksi kesehatan yang memberikan manfaat yang besar? Salah satunya yang saya temukan, produk kesehatan tradisional terbaru dari manulife yg membayar sesuai tagihan dengan limit tahunan yang cukup besar, mulai dari 1M untuk plan terendah dan diberikan double limit tahunan untuk bbrp jenis penyakit kritis seperti serangan jantung dan kanker.

    Dengan pertimbangan bila saya suatu hari nanti terdiagnosa salah satu penyakit kritis, saya berharap bisa segera mendapatkan pengobatan yang intensif sejak tahap dini, bukan menunggu santunan dengan prosedur yang panjang dengan survival period dan tahapan penyakit tertentu.

    Sedangkan untuk kebutuhan pendukung diluar pengobatan, seperti biaya perawat dan transport seperti yang pak rudy sebutkan, bisa mulai dikumpulkan sejak dini dengan kombinasi instrumen reksadana pasar uang, pendapatan tetap dan saham.

    Namun saya belum terlalu yakin dengan pemikiran saya ini dan juga belum mengambil keputusan hingga saat ini, usia saya sekarang 31 tahun dan baru mempunyai seorang anak berusia 9 bulan. Sebagai figur yang cukup senior di bidang keuangan bagaimana menurut pendapat pak rudy mengenai metode diatas? Mohon masukannya..

    Terima kasih

  7. nidibi
    June 5th, 2015 at 15:48 | #7

    Salam Pak Rudi, Nidibi adalah inisial nama depan dari anak-anak saya.. :). Asuransi murni yang saya maskud disini adalah asuransi jiwa dan atau asuransi kesehatan yang tidak mempunyai nilai investasinya. Jadi setelah setahun uang yang kita bayarkan akan hangus kalau tidak terjadi klaim. Ibaratnya dia adalah satpam untuk menjaga rumah kita, apabila ada maling dia akan melawannya, jika tidak ada maling dia memberi rasa aman atas upah yang kita bayarkan kepada satpam tersebut untuk menjaga rumah kita. Terima kasih
    @Rudiyanto

  8. Rudiyanto
    June 8th, 2015 at 10:07 | #8

    @Joe kusumanegara
    Selamat Pagi Pak Joe,

    Mengenai rider dari unit link atau asuransi tradisional, silakan anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/09/12/my-experience-with-unit-link/ atau buku kedua saya yang berjudul Fit Focus Finish yang datanya lebih lengkap.

    Antara asuransi kesehatan dengan UP yang besar atau asuransi penyakit kritis itu adalah pilihan. Anda bisa memilih mana yang paling sesuai. Sebagai karyawan, biasanya sudah ada fasilitas asuransi kesehatan dari kantor. Dan sebagai warga negara, kita juga sudah punya asuransi kesehatan dari BPJS kesehatan.

    Jika anda merasa itu tidak cukup atau tidak pada kelas yang kamu harapkan, itu adalah persoalan gaya hidup. Jika anda menginginkan kelas di atasnya, ya silakan bayar sendiri.

    Kebutuhan dari asuransi penyakit kritis dan kesehatan menurut saya berbeda sebagaimana saya tulis dalam artikel di atas. Jika seseorang sudah memiliki dana untuk menutupi salah satu kebutuhan tersebut ya silakan saja.

    Kalau menurut saya, metode yang paling baik dan paling hemat adalah menjaga kesehatan. Caranya juga tidak susah. Jaga mulut jangan rakus, olahraga rutin, berpikir positif, sering senyum dan tertawa, serta perbanyak amal dan ibadah.

    Semoga bermanfaat.

  9. Rudiyanto
    June 8th, 2015 at 10:08 | #9

    @nidibi
    Salam Bu,

    Mengenai hal itu anda bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/09/12/my-experience-with-unit-link/ atau buku kedua saya yang berjudul Fit Focus Finish yang datanya lebih lengkap.

    Semoga bermanfaat.

  10. June 18th, 2015 at 16:22 | #10

    Salam Pa Rudi,

    Boleh dishare asuransi murni yang menjual penyakit kritis? saya coba cari 1 tahun lalu, tidak ada yang jual untuk penyakit kritis yang murni tanpa unit link :)

    terima kasih

  11. June 19th, 2015 at 11:19 | #11

    Dear Pak Rudiyanto,

    Saya kagum dengan Bapak melalui buku yg bapak tulis mengenai investasi reksadana Panin Asset Mnagament.

    Tapi melalui tulisn di blog ini, saya juga takjub melihat fokus bapak di nilai tunai. Apa alasan pertama kenapa membeli unit link?? Apakah investasi atau proteksi? Atau penggabungan?

    Pasti kita sudah sering dengar, beli asuransi ya asuransi, beli investasi ya investasi..
    Pertanyaannya :
    Kenapa beli unit link? Kenapa gak asuransi murni saja? Endowment? Term lime? Whole life? Dll

    Prinsip saya adalah :
    1. Asuransi hanya untuk proteksi. Bukan tujuan investasi yg dikaitkan dengan pendidikan, dll.. Saya lebih setuju jika Anda memiliki tujuan menciptakan dana untuk pendidikan dll di REKSADANA atau investasi lain. Kalo tujuannya untuk melindungi nilai biaya pendidikan saat orang tua tidak ada, maka lebih baik ke asuransi karena ada up jiwa yg keluar dikemudian hari saat tutup usia.

    2. Asuransi unit link memiliki konsep lama. Konsep yg sering salah kaprah. Bapak sudah pernah dengar smart link?? smart Link adalah konsep baru dri produk asuransi.
    Dimana, fokus utama ke proteksi yg maksimal dan nilai tunai dianggap seperti bonus saja. Bapak bisa membeli dengan premi 500.000 sebulan dan mendapatkan manfaat pertanggungan 3-5x lipat.
    Smart link punya produk yg lebih variatif dibanding asuransi term, whole life, endowment, dan lebih fleksibel jangka pembayarannya.
    Sekarang ini di pasar asuransi, semua mengarah ke sistem unit link.. smart link menjadi terobosan baru perbaikan dari unit link yg bapak punya.

    Minimal pertanggungan yg bapak miliki adalah 10x income tahunan, fungsinya sesuai dengan tujuan hidup Bapak pastinya.

    Maaf kata jika ada salah, saya hanya menyampaikan pendapat saya.

    Terima kasih!

  12. June 19th, 2015 at 11:27 | #12

    teminto :
    Dear Pak Rudiyanto,
    Saya kagum dengan Bapak melalui buku yg bapak tulis mengenai investasi reksadana Panin Asset Mnagament.
    Tapi melalui tulisn di blog ini, saya juga takjub melihat fokus bapak di nilai tunai. Apa alasan pertama kenapa membeli unit link?? Apakah investasi atau proteksi? Atau penggabungan?
    Pasti kita sudah sering dengar, beli asuransi ya asuransi, beli investasi ya investasi..
    Pertanyaannya :
    Kenapa beli unit link? Kenapa gak asuransi murni saja? Endowment? Term lime? Whole life? Dll
    Prinsip saya adalah :
    1. Asuransi hanya untuk proteksi. Bukan tujuan investasi yg dikaitkan dengan pendidikan, dll.. Saya lebih setuju jika Anda memiliki tujuan menciptakan dana untuk pendidikan dll di REKSADANA atau investasi lain. Kalo tujuannya untuk melindungi nilai biaya pendidikan saat orang tua tidak ada, maka lebih baik ke asuransi karena ada up jiwa yg keluar dikemudian hari saat tutup usia.
    2. Asuransi unit link memiliki konsep lama. Konsep yg sering salah kaprah. Bapak sudah pernah dengar smart link?? smart Link adalah konsep baru dri produk asuransi.
    Dimana, fokus utama ke proteksi yg maksimal dan nilai tunai dianggap seperti bonus saja. Bapak bisa membeli dengan premi 500.000 sebulan dan mendapatkan manfaat pertanggungan 3-5x lipat.
    3.Smart link punya produk yg lebih variatif dibanding asuransi term, whole life, endowment, dan lebih fleksibel jangka pembayarannya.
    4. Smart link atau sistem dahulunya unit link, memiliki kemudahan dimana nasabah membayar flat premi, tanpa kenaikan premi yg disetorkan, hanya cost of insurance saja yg naik berdasarkan jumlah up dan umur. Kalo yg traditional, itu naik berdasarkan usia. Investasi sekali lagi tujuan dasarnya hanya dipakai sbg nilai untuk polis tetap bertahan tidak lapsed saat nasabah tdk bayar lagi atau menekan cost of insurance yg dibayarkan saat depan karna saat ini sudah dicicil dan umpama bonus saja.
    5. Premi traditional dan smart link saat ini beda tipis pak. Boleh dicheck. Kita check beradasarkan cost of insurance ya pak. Kadang cenderung lebih murah loh.
    Saya sudah check pakai tabel pak.. Perhitungan jangka pendek dan jangka panjang beli smart link dengan traditional. Hasilnya buat jangka pendek total cost nya lebih murah dari pada traditional. Tetapi jangka panjang >8tahun lebih murah total cost nya smart link.
    Asuransi jangka panjang atau jangka pendek? Dipakai seumur hidup gak? Kalo bgtu ambil mikirnya yg jangka panjang

    Sekarang ini di pasar asuransi, semua mengarah ke sistem unit link.. smart link menjadi terobosan baru perbaikan dari unit link yg bapak punya.
    Minimal pertanggungan yg bapak miliki adalah 10x income tahunan, fungsinya sesuai dengan tujuan hidup Bapak pastinya.
    Maaf kata jika ada salah, saya hanya menyampaikan pendapat saya.
    Terima kasih!

  13. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:42 | #13
  14. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:51 | #14

    @teminto
    Selamat Malam Pak Teminto,

    Mengenai mengapa saya membeli unit link, kalau anda baca artikel di atas dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/09/12/my-experience-with-unit-link/ rasanya sudah sangat jelas.

    Perbandingan nilai tunai ini bertujuan untuk menunjukkan cara kerja asuransi, sebab sekalipun kami membeli asuransi unit link untuk tujuan asuransi tetap saja akan mendapatkan nilai tunai. Artikel ini bermaksud menjelaskan cara perhitungannya.

    Kemudian terkait dengan smart link yang anda sebut, dengan premi 500rb per bulan uang pertanggungan hanya 3 – 5 kali lipat bukankah itu sangat kecil? Sebab dari unit link yang saya punya dengan premi 6 juta per tahun atau 500rb per bulan manfaat UP kematian adalah Rp 142 juta atau hampir 24 kali lipat. Itupun belum termasuk manfaat yang lain.

    Demikian pendapat saya. Semoga bermanfaat, terima kasih.

  15. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:56 | #15

    @teminto
    Oh ya tambahan lagi,

    Mengenai minimal uang pertanggungan yang 10x income tahunan, terus terang saya tidak begitu percaya. Sebab yang namanya asuransi, uang pertanggungan ya disesuaikan dengan premi yang dibayar. Jadi misalkan sama-sama ada 2 orang yang ikut asuransi tersebut dengan premi 500rb per bulan. Orang pertama punya income tahunan Rp 100 juta dan orang kedua punya income tahunan Rp 500 juta, kan tidak mungkin uang pertanggungannya lain kalau preminya sama.

    Demikian tambahan pendapat dari saya, semoga bermanfaat.

  16. Hendra Yap
    June 23rd, 2015 at 18:22 | #16

    @Joe kusumanegara
    Pak Joe,
    saya Hendra dari Sequislife
    untuk asuransi penyakit kritis kami dari asuransi Sequislife mempunyai produk bundling antara UP jiwa digabung dengan asuransi penyakit kritis dengan kontrak masa pembayaran premi tetap dengan masa perlindungan max sd 65 tahun.

  17. Rudiyanto
    June 25th, 2015 at 12:13 | #17

    @Hendra Yap
    Selamat Siang Pak Hendra,

    Bisa di share disini, jika kita beli dengan premi 1 juta per tahun usia 31, sehat tidak merokok, kira-kira manfaat UP yang didapat berapa?

    Thanks

  18. Hendra Yap
    August 20th, 2015 at 17:24 | #18

    @Rudiyanto

    Selamat sore pak Joe,

    mohon maaf apabila saya membalasnya terlalu lama.

    sehubungan dengan pertanyaan Bapak Joe mengenai kebutuhan asuransi penyakit kritis untuk premi 1jt per bulan, umur 31 tahun maka diperoleh manfaat meninggal UP Rp 200,000,000 dicover sampai dengan usia 100thn + manfaat penyakit kritis Rp 200,000,000 dicover sampai dengan usia 65thn.

    masa pembayaran 10 tahun
    Tarif premi FIXED selama 10 tahun.

    untuk informasi selengkapnya anda bisa SMS atau menhubungi di no 085218839159 atau 08158838080.

    mudah2an informasi ini bisa bermanfaat.

  19. difa antono
    August 21st, 2015 at 08:46 | #19

    @Hendra Yap

    Selamat pagi pak Hendra,

    Mohon maaf ikut nimbrung, penasaran dengan yang bapak sampaikan di awal.

    Koreksi untuk pertanyaan dari pak Rudiyanto, bahwa yang di tanyakan adalah premi 1 juta/tahun, bukan 1 juta/bulan pak.

    Mohon informasi nya ?

    terima kasih

  20. Rudiyanto
    August 21st, 2015 at 08:48 | #20

    @Hendra Yap
    Selamat Pagi Pak Hendra,

    Terima kasih atas tanggapannya Pak Hendra,

    Menurut saya premi anda lebih mahal. Karena dengan Rp 350rb per bulan yang saya peroleh sbb
    Asuransi Jiwa Rp 102 juta
    Asuransi Penyakit Kritis Rp 280 juta
    Asuransi Kecelakaan Rp 36 juta
    Pru Waiver Rp 4.2 juta hingga usia 65*

    Logikanya dengan membayar Rp 700rb, berarti saya sudah dapat Asuransi Jiwa Rp 200 juta dan Penyakit Kritis Rp 560 juta.

    Terima kasih

Comment pages
1 2 3 5175

 


%d bloggers like this: