Home > Asuransi, Literasi Keuangan, Perencanaan Investasi > My Experience With Unit Link 2

My Experience With Unit Link 2

Memahami Lebih Dalam Tentang Unit Link

Sebelum membaca lebih lanjut tentang artikel ini, saya mau mempertegas disclaimer yang biasanya dipasang pada bagian akhir artikel. Tulisan ini bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau tidak membeli produk tertentu. Jadi ketika saya menggunakan contoh produk nyata sebagai materi pembahasan, bukan berarti saya merekomendasikan untuk membeli produk tersebut ataupun untuk tidak membelinya. Semua contoh yang saya lampirkan adalah fakta untuk mendukung tulisan.

Untuk memulai artikel ini saya ingin memulainya dengan contoh nyata dengan sebuah unit link yang keluarga saya miliki. Tulisan ini juga merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul My Experience With Unit Link.

Ilustrasi Asuransi

Pada bulan Maret 2013 saya mengambil unit link untuk istri saya dengan keterangan sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 6 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 148 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 400 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 35 juta
    • Pru Waiver Rp 6 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran saya agak lupa, tapi mungkin sekitar tanggal 15 an. IHSG waktu itu di 4819

Kemudian karena suatu hal, saya mengubah uang pertanggungan. Alasan lengkapnya bisa dibaca di buku kedua saya dengan data yang lebih update daripada blog di Fit Focus Finish.

Setelah perubahan, asuransi saya menjadi sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 4.2 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 102 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 280 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 36 juta
    • Pru Waiver Rp 4.2 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran sudah berjalan 2 kali yaitu 21 Maret 2014 dan 11 Maret 2015. IHSG pada waktu itu masing-masing 4700 dan 5419
  • Total pembayaran yang sudah saya lakukan selama 3 tahun adalah Rp 14.4 juta ( 6 juta + 4,2 juta +4,2 juta)

*Yang dimaksud dengan Pru Waiver adalah jika terdeteksi mengalami penyakit kritis, maka pembayaran premi dibebaskan hingga usia 65 tahun. Asuransi ini mirip seperti KPR. Misalkan anda mengambil KPR dengan pembayaran cicilan hingga usia 65 tahun, jika meninggal di tengah jalan, maka cicilannya dianggap lunas. Jadi manfaat asuransinya semakin menurun sesuai dengan jangka waktu.

Orang yang meninggal di usia 42 akan mendapat uang pertanggungan yang lebih besar dibandingkan uang pertanggungan orang yang meninggal di usia 62 tahun. Meskipun demikian, manfaat itu tidak diterima uang tunainya karena hanya berupa cicilan rumah yang tidak perlu dibayar lagi alias lunas jika yang berutang meninggal dunia.

Konsep Pru Waiver ini juga sama, anda “seharusnya” membayar asuransi hingga usia tertentu jika ingin terus menikmati manfaat asuransinya. Namun jika terdeteksi, maka nilai Rp 4.2 juta atau Rp 6 juta sesuai premi akan dibayarkan ke Unit Link anda sampai usia 65.

Manfaat waiver juga tidak berupa uang tunai yang dinikmati langsung, akan tetapi dibayarkan ke dalam asuransi anda. Ketika sudah masuk ke asuransi, berarti ketika ditarik tentu akan dipotong biaya dan kewajiban (jika ada)

Nah, yang menarik disini. Pada tanggal 15 Mei 2015 (IHSG di angka 5227) saya bertanya kepada petugas customer service berapa Nilai Tunai yang saya miliki. Pertanyaan ini saya lakukan via phone, tapi karena kurang jelas saya meminta informasi tersebut dikirimkan secara tertulis.

Yang dimaksud dengan nilai tunai adalah porsi uang kita yang diinvestasikan. Atau buat anda yang awam, pada saat ditawarkan produk asuransi pastinya ditunjukkan bahwa di usia sekian nanti uang anda akan ada sekian ratus juta, milliar atau puluhan milliar. Uang tersebut, oleh tenaga pemasar biasanya dijelaskan bahwa bisa digunakan untuk pensiun dan lain-lain. Uang inilah yang dimaksud dengan nilai tunai.

Silakan tebak, berapa kira-kira nilai tunai pada polis asuransi tersebut? Mohon diingat bahwa total premi yang saya bayarkan adalah Rp 14,4 juta selama 3 tahun dan tidak ada klaim apapun. Untuk mempermudah, saya berikan pilihan sebagai berikut :

  1. Rp 3 juta – Rp 5 juta
  2. Rp 5 juta – Rp 6 juta
  3. Rp 6 juta – Rp 14,4 juta
  4. > Rp 14,4 juta
  5. < Rp 3 juta

Sebagai data pendukung, berikut saya lampirkan juga data sebagai berikut :

Informasi Biaya Akuisisi dan Porsi Investasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.07.31 PM

Informasi Biaya Administrasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.12.04 PM

Sudah menebak?? Kalau mau melihat jawabannya silakan membaca lebih lanjut.

Ternyata, untuk mengetahui nilai tunai dari unit link caranya tidak mudah. Berikut ini adalah laporan yang diberikan ke saya per 15 Mei 2015

Screen Shot 2015-05-30 at 2.24.16 PM

Kalau dari laporan di atas, berapa sebenarnya nilai tunai saya? Apakah Rp 2.626.989 ? Jawabannya tidak. Nilai tunai yang saya miliki adalah Rp 2.626.989 – Rp 1.337.520 = Rp 1.289.469. Itulah nilai tunai per 15 Mei 2015 dari total Rp 14.4 juta yang saya bayarkan selama 3 tahun dari kurun waktu 2013 – 2015. Apakah tebakan anda sudah benar?

Biaya Akuisisi, Biaya Asuransi dan Administrasi dan Nilai Tunai Investasi

Selama ini saya hanya mengetahui bahwa dalam asuransi hanya ada biaya akuisisi dan nilai tunai. Namun dari penelusuran lebih lanjut, ternyata ada lagi yang disebut biaya Asuransi dan Administrasi. Untuk lebih detailnya mari kita lihat tabel sebagai berikut :

Screen Shot 2015-05-30 at 2.35.17 PM

Bagi anda yang tidak mengerti cara membaca tabel di atas, saya mencoba menerjemahkan dalam bahasa versi saya sebagai berikut :

Tahun Pertama

Nasabah dapat membeli unit link dengan dua cara yaitu pembelian secara berkala satu paket dengan biaya asuransi sekaligus dan dengan cara top up. Top up juga dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu berkala dan sekaligus (premi tunggal). Porsi unit link yang bisa dipotong biaya asuransi dan administrasi adalah porsi yang berasal dari pembelian secara berkala saja.

Karena semua premi berkala yang kita bayarkan pada tahun pertama menjadi komisi marketing (biaya akuisisi), maka biaya asuransi dan administrasi yang timbul dianggap hutang dulu. Dalam kasus saya, pembelian unit link hanya saya lakukan yang sistemnya satu paket dengan biaya asuransi. Di luar itu saya tidak melakukan top up baik secara berkala ataupun dengan cara sekaligus. Atau kalau dalam bahasa yang lebih sederhana lagi Rp 6 juta yang saya bayar, abis buat komisi marketing dan saya masih berhutang biaya Asuransi dan Administrasi.

Tahun Kedua

Pada tahun kedua sudah ada nilai tunai karena 40% dari nilai yang disetorkan menjadi Unit Link dan sisanya 60% menjadi komisi marketing. Biaya asuransi dan administrasi tetap jalan dan akan diakumulasikan dengan biaya asuransi dan administrasi yang terutang sejak tahun pertama.

Kalau nilai tunai mencukupi maka selanjutnya akan dipotong biaya asuransi dan administrasi yang saya utang tersebut (pembatalan unit). Kalau ada top up, maka unit yang terbentuk dari top up dan pembayaran secara reguler dipisahkan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Rp 4.2 juta yang saya bayarkan sebanyak 40% atau Rp 1.680.000 dibelikan unit link. Akan tetapi, saldo ini akan dipakai buat bayar saldo hutang biaya asuransi dan administrasi kalau cukup.

Tahun Ketiga

Pada tahun ketiga, unit yang terbentuk dari pembayaran secara reguler dan top up digabung menjadi satu. Dimana karena saya tidak melakukan top up, maka tidak ada penggabungan. Nilai tunai pada tahun ketiga mencapai 85% dari Rp 4.2 juta yaitu Rp 3.570.000.

Karena nilai tunainya sudah lumayan, saatnya bayar hutang. Perusahaan asuransi akan memotong nilai tunai unit link saya dengan biaya asuransi dan administrasi yang terutang pada tahun pertama dan kedua serta yang timbul pada tahun ketiga. Untuk biaya asuransi dan administrasi pada tahun ketiga, pemotongannya akan dilakukan setiap bulan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Rp 1.6 juta pada tahun kedua dan Rp 4.2 juta pada tahun ketiga berikut hasil pengembangannya akan dipakai buat bayar hutang biaya asuransi dan administrasi.

Tahun Keempat dan Hingga Usia Tertanggung 99

Mulai tahun ketiga, Nilai tunai menjadi 85% hingga tahun kelima dan 100% untuk tahun selanjutnya. Tapi selama asuransi masih tetap berjalan, kita tetap akan membayar biaya asuransi dan administrasi hingga usia 99.

Banyak orang persepsinya setelah membayar 10-20 tahun, maka tidak perlu membayar lagi dan akan ditanggung hingga usia 99 atau 65 tergantung jenis asuransinya. Pemahaman ini salah, sebenarnya biaya asuransi dan administrasi jalan terus, namun pembayarannya diambil dari nilai tunai investasi yang terkumpul. Ketika nilai tunai tersebut habis, maka supaya perlindungan asuransi tetap berjalan, anda diminta melakukan top up. Jika tidak mau, ya asuransinya lapse atau gagal.

Untuk lebih jelasnya mengenai pembentukan nilai tunai pada tahun kedua dan ketiga mari kita lihat tabel di bawah ini

Pembentukan UnitPada tabel di atas terlihat bahwa cara kerja unit link sama dengan reksa dana. Dimana dari uang yang disetorkan dibelikan unit link sesuai dengan harga pasarnya.

Kemudian mengenai pemotongan biaya Asuransi dan Administrasi, dalam bahasa asuransi disebut Pembatalan. Total yang dibatalkan sekitar Rp 2.53 juta. Dalam reksa dana, proses ini sama seperti redemption. Bedanya dalam redemption, hasil penjualan diterima oleh investor. Sementara di asuransi, redemption digunakan untuk membayar biaya asuransi.

Biaya Asuransi dan Administrasi Yang Ditagihkan

Angka di atas bukanlah keseluruhan karena jika kita melihat tabel biaya asuransi setiap tahun, biayanya adalah sebagai berikut :

Biaya Asuransi dan Administrasi Tahun Pertama Biaya Asuransi dan Administrasi Tahun Kedua Biaya Asuransi dan Administrasi Tahun Ketiga

Tahun Pertama Rp 1.89 juta, Tahun Kedua Rp 1.57 juta (karena UPnya turun) dan Tahun Ketiga hingga bulan Mei Rp 408.843. Total biaya asuransi dan administrasi yang telah terjadi adalah Rp 3.872.203. Yang baru dipotong dari Unit Link saya baru sekitar Rp 2.53 juta sehingga masih utang sekitar Rp 1,3 juta.

Jika kita melihat tabel biaya asuransi di atas, bisa terlihat bahwa berapa sebenarnya biaya asuransi yang sebenarnya kita bayarkan. Untuk contoh, saya mengambil yang tahun pertama.

  • Asuransi Jiwa Rp 148 juta = Rp 26.876 per bulan atau Rp 322.512 per tahun atau sekitar 0.22% dari Uang Pertanggungan
  • Asuransi Penyakit Kritis Rp 400 juta = Rp 81.643 per bulan dan kemudian naik menjadi Rp 99.627 karena bertambahnya umur. Dengan menggunakan Rp 99.627 kali 12 = Rp 1.195.524 atau sekitar 0.29% dari Uang Pertanggungan
  • Asuransi Kecelakaan Rp 35 juta = Rp 3.994 per bulan atau Rp 47.928 per tahun atau sekitar 0.13% dari Uang Pertanggungan
  • Pru Waiver Rp 6 juta hingga usia 65*= Rp 11.246 per bulan dan naik menjadi Rp 12.095 karena bertambahnya umur. Rp 12.095 x 12 = Rp 145.140 per tahun.
  • Setiap bulannya, terlepas dari besaran pembayaran premi (baik 6 juta ataupun 4.2 juta), tetap dikenakan biaya administrasi Rp 27.500 per bulan atau Rp 330.000 per tahun

Untuk asuransi penyakit kritis dan Waiver, jika diperhatikan akan meningkat setiap tahun seiring dengan bertambahnya umur. Namun untuk Waiver lebih merugikan karena meski preminya bertambah manfaatnya malah turun. Sebagai contoh, jika meninggal di usia 30 ataupun 35 maka tetap mendapat pembayaran hingga usia 65. Padahal premi yang dibayar di usia 35 lebih tinggi dibandingkan usia 30. Hal ini berbeda dengan penyakit kritis yang nilai berlakunya bulanannya dan preminya meningkat seiring dengan risiko bertambahnya umur.

Perbandingan Hasil Investasi Vs Reksa Dana Saham

Jika jumlah uang yang sama diinvestasikan ke reksa dana saham, berapa uang tersebut sekarang? Diasumsikan harga reksa dana saham = IHSG dan per transaksi dikenakan biaya 2%.

Periode Nilai Investasi Fee 2% Investasi Bersih
Maret 2013 6,000,000 117.647 5.882.353
Maret 2014 4,200,000 82.353 4.117.647
Maret 2015 4,200,000 82.353 4.117.647
 14.400.000 14.117.647

Perolehan unit sebagai berikut

Periode Harga RD Saham Investasi Unit diperoleh Akumulasi Unit
Maret 2013 4,819 5.882.353 1.221 1.221
Maret 2014 4,700 4.117.647 876 2.079
Maret 2015 5,419 4.117.647 760 2.857

Nilai investasi pada tanggal 15 Mei 2015 dengan asumsi sesuai dengan IHSG yaitu 5.227 x 2.879 = Rp 14.931.486

Bandingkan dengan nilai tunai asuransi pada periode yang sama yaitu Rp 1.289.469

Perbedaan nilai tunainya hampir 12 kali lipat. Itulah sebabnya mengapa orang mengatakan jika berinvestasi lewat asuransi, hasilnya tidak maksimal.

Apakah saya akan menutup unit link tersebut?

Jawabannya, untuk saat ini tidak. Ada tiga alasan mengapa saya terus melanjutkannya

Pertama, sejak awal saya sudah punya mindset bahwa semua uang yang dibelikan unit link ini hangus. Jadi kalau ada sisa ya bagus, tidak ya sudah. Yang agak di luar dugaan sebenarnya adalah biaya asuransi dan administrasi terutangnya. Selama ini saya berpikir bahwa semua biaya asuransi sudah masuk dalam biaya akuisisi. Ternyata tidak, biaya akuisisi dan administrasi lain lagi.

Kedua, yang saya utamakan dari asuransi ini adalah Asuransi Penyakit Kritis. Memang saya dan istri sudah memiliki asuransi kesehatan dari kantor yang bahkan jumlahnya cukup besar. Namun asuransi kesehatan hanya menanggung biaya kesehatan saja. Padahal, dari pengalaman pribadi pengeluaran di luar biaya kesehatan dan dampak dari hilangnya produktivitas juga cukup besar.

Sebagai contoh, meski biaya operasi, rawat inap dan obat-obatan ditanggung, ketika mengurus anggota keluarga yang sakit kita perlu tranportasi. Untuk itu, kita mungkin perlu menyewa sopir dan mobil serta suster untuk merawat orang yang sakit. Dalam hal jika kita harus bolak balik keluar negeri, berarti ada biaya tiket pesawat dan hotel tidak hanya untuk pasien saja tapi juga pendampingnya.

Dari sisi produktivitas, mungkin saja kita cukup sering tidak masuk sehingga jatah cuti habis. Jika pada satu waktu karena perawatan harus dilakukan secara intensif, terpaksa harus mengambil unpaid leave atau cuti tidak dibayar. Kalaupun ada perusahaan yang berbaik hati dengan tetap membayarkan gaji selama kita cuti panjang, bagaimana dengan orang-orang yang pendapatannya lebih tergantung pada komisi dan tunjangan? Bagi yang berprofesi sebagai marketing atau pegawai negeri tentu tahu bahwa yang namanya komisi dan tunjangan bisa berlipat-lipat dari gaji.

Uang pertanggungan dari penyakit kritis inilah saya gunakan untuk antisipasi biaya lain-lain dan hilangnya produktivitas tersebut. Hitungannya sederhana, katakanlah selama 20 tahun saya bayar Rp 4.2 juta sehingga totalnya Rp 84 juta. Selama 20 tahun saya dapat “peace of mind” seandainya terjadi penyakit kritis berarti ada uang Rp 280 juta yang bisa digunakan.

Ketiga, asuransi ini saya beli dari teman yang sudah saya kenal selama bertahun-tahun. Tentu ada pertimbangan subjektivitas dan rasa “tidak enaknya”. Selain itu, memang saya juga butuh karena alasan pertama dan kedua tadi.

Demikian pengalaman saya dengan unit link, semoga bisa membantu anda memahami plus minus reksa dana atau unit link. Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

  1. Rudiyanto
    January 18th, 2016 at 17:31 | #1

    @Yoseph Francis
    Salam Pak Yoseph,

    Kalau menurut saya, penjelasan akan produk keuangan yang tidak disertai dengan contoh angka yang riil malahan akan menjadi kurang bermanfaat. Sebab dari pengalaman saya berdiskusi dengan pembaca blog, salah satu alasan mereka mau membaca tulisan disini adalah ada contoh angka yang nyata dan bisa dipahami.

    Dan jika alasannya adalah kompetitor, jika memang bagus kenapa harus takut untuk dibandingkan? Tapi tidak apa2, semua orang punya pendapat sendiri dan saya menghormati hal tersebut.

    Semoga jualannya lancar. Terima kasih

  2. priska
    January 22nd, 2016 at 12:09 | #2

    @Rudiyanto

    @Yoseph Francis

    Saya mohon maaf karena baru memberikan tanggapan skrg.

    saya berterimakasih untuk Pak Rudiyanto untuk pendapat dan saran yang disampaikan.

    Saya juga berterima kasih untuk Pak Yoseph yg dgn sabar memberikan saya penjelasan.
    Memang selama ini, pihak asuransi yg datang pada saya baik melalui telepon dan teman saya. mereka hanya menjelaskan unit link dan sgala macam keuntungan/janji surga yg palsu. itu mengapa saya kurang mengerti ttg asuransi tradisional.

    Dari informasi yg di paparkan oleh pak rudi dan pak yoseph, memang untuk asuransi kesehatan, saya harus membayar asuransi tersebut selama saya masih hidup(20tahun term+ambil term 20tahun lg+ambil term 10tahun lagi), jika tidak sakit, yah hangus.

    mungkin, kalau di samakan seperti program BPJS. yaitu, terus membayar sampai ada surat keterangan kematian. perbedaannya, asuransi kesehatan lbh mahal bayarnya daripada BPJS.

    Untuk program asuransi jiwa whole therm life,saya rasa sudah memenuhi sedikit dari apa yg saya harapkan.

    untuk produk lbh detail, saya akan menghubungi Pak Yoseph asap.

    Terimakasih banyak untuk Pak Rudi dan Pak Yoseph.

  3. darda
    August 4th, 2016 at 16:33 | #3

    saya sangat tercerahkan dengan artikel pak rudy tg asuransi link ini. saat ini saya punya asuransi link syariah. sdh berjalan 6 tahun sejak 2010. jujur saat mendaftar saya tdk begitu paham, inilah kesalahan saya. premi tiap thn yg sy bayarkan sebesar 7 jt/thn, sehingga total dana yg sdh saya setor sebesar 42 juta. laporan terakhir per bln februari 2016 total saldo akhir dr tabungan asuransi sy tsb 36 jt an. rencana sy mau ditutup sj asuransi link tsb, dengan alasan yg pertama td awalnya sy memang tdk begitu paham, shg banyak hal yg akhirnya saya ragu, spt periode akad yg terlalu lama hingga 42 thn sejak 2010, manfaat asuransi yg diterima hanya 52 jt saja (ini semua tjd krn ketidakpahaman sy, shg menyetujui apa yg disodorkan oleh agen yg itu teman sy sendiri). apakah benar keputusan sy menutup link sy tsb pak rudy? terima kasih

  4. Rudiyanto
    August 8th, 2016 at 18:49 | #4

    @darda
    Salam Pak Darda,

    Perlu dipahami bahwa ketika membeli asuransi kita telah memperoleh perlindungan atas risiko kematian, penyakit kritis, biaya rumah sakit dan cacat. Itu dengan asumsi kita membeli unit link yang memberikan perlindungan tersebut.

    Apakah menutup unit link karena kecewa boleh? Sebenarnya ini hak setiap orang, tapi pertanyaannya ketika unit link tersebut ditutup, apakah anda sudah memiliki perlindungan asuransi yang sepadan? Apakah anda sudah memiliki BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang melindungan anda dari risiko sakit dan kecelakaan kerja? Apakah anda telah memiliki sejumlah aset yang cukup dimana ketika anda dipanggil yang Maha Kuasa, keluarga anda secara finansial dapat bertahan?

    Ingat memiliki asuransi itu bagian dari kesehatan finansial. Memang tidak menguntungkan tapi kalau perlu. Tinggal mau pakai asuransi murni, asuransi dengan link atau BPJS. Referensi bisa di https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/10/sehat-keuangan-dahulu-investasi-reksa-dana-kemudian/

    Semoga bermanfaat.

  5. Toni
    August 22nd, 2016 at 08:13 | #5

    Bagaimana dengan asuransi kesehatan yang dibundle ama unit link ? Karena ada asuransi tertentu yang asuransi kesehatannya tidak bisa dibeli terpisah, musti harus ama unit link .
    Sedangkan kalo kita ambil asuransi kesehatan tokh , itu renewal nya tiap tahun, jadi tiap tahun ada peninjauan kembali, bisa aja tiba2 kita sakit, terus klaim. Dan tahun berikutnya gak diijinkan diperpanjang oleh perusahaan asuransi.
    Sedangkan asuransi kesehatan yang dibundle ama unit link, masa pertanggungan bisa sampai umur 85 tahun tanpa bisa diputus secara sepihak oleh asuransi.
    Jadi nya mau gak mau terpaksa ambil yang paket unit link.
    Memang ada asuransi kesehatan perusahaan tertentu , yang bisa dibeli tanpa unit link, tapi preminya bisa 2 x lipat, dan benefitnya juga sangat gede sekali. Padahal kita butuh asuransi kesehatan yang lebih murah, tapi resikonya gak ada jaminan diperpanjang tiap tahun, kecuali belinya dengan bundle unit link.

  6. Toni
    August 22nd, 2016 at 08:34 | #6

    Pak Rudi, Bagaimana dengan asuransi kesehatan yang dibundle ama unit link ? Karena ada asuransi tertentu yang asuransi kesehatannya tidak bisa dibeli terpisah, musti harus ama unit link .
    Sedangkan kalo kita ambil asuransi kesehatan tokh , itu renewal nya tiap tahun, jadi tiap tahun ada peninjauan kembali, bisa aja tiba2 kita sakit, terus klaim. Dan tahun berikutnya gak diijinkan diperpanjang oleh perusahaan asuransi.
    Sedangkan asuransi kesehatan yang dibundle ama unit link, masa pertanggungan bisa sampai umur 85 tahun tanpa bisa diputus secara sepihak oleh asuransi.
    Jadi nya mau gak mau terpaksa ambil yang paket unit link.
    Memang ada asuransi kesehatan perusahaan tertentu , yang bisa dibeli tanpa unit link, tapi preminya bisa 2 x lipat, dan benefitnya juga sangat gede sekali. Padahal kita butuh asuransi kesehatan yang lebih murah, tapi resikonya gak ada jaminan diperpanjang tiap tahun, kecuali belinya dengan bundle unit link.

  7. Rudiyanto
    August 23rd, 2016 at 00:31 | #7

    @Toni
    Malam Pak Toni,

    Untuk asuransi kesehatan murni sekarang mulai ada perusahaan asuransi yang menawarkan meskipun belum sebanyak unit link. Asal mau mencari pasti bisa ketemu.

    Terkait renewal di asuransi kesehatan murni, di Unit Link sebenarnya juga sama yaitu setiap tahun premi untuk asuransi kesehatan akan naik seiring dengan naiknya usia dan risiko. Saya tidak begitu yakin bahwa asuransi kesehatan dalam unit link tidak bisa diputus sampai usia 85 tahun, sebab jika klaim terlalu besar, bisa saja premi renewalnya akan semakin mahal dan anda diminta menambah setoran atau worst case seperti yang anda sebutkan, bagian asuransi kesehatannya tidak bisa.

    Perlu diperjelas juga bahwa asuransi kesehatan dalam unit link ada 2 macam yaitu Asuransi Penyakit Kritis dan Asuransi Kesehatan (biaya rumah sakit). Biaya rumah sakit yang dicover juga jika pasien rawat inap dan melakukan tindakan operasi. Pada banyak kasus, lebih banyak orang rawat jalan dan untuk ini tidak banyak ditanggung baik oleh asuransi kesehatan murni atau asuransi kesehatan dari unit link. Yang menanggung ini adalah asuransi kesehatan kumpulan yang biasanya ditawarkan secara kolektif ke perusahaan.

    Kalau karena paket yang bisa lebih murah dan jaminan diperpanjang anda ambil unit link, maka ini adalah hak anda. Tapi menurut saya, yang lebih pasti dan lebih murah adalah anda beli BPJS Kesehatan. Premi murah, pasti diterima, tidak ada riwayat yang dilihat, rawat inap dan rawat jalan dan ga ada risikona kecuali antri agak lama. Tapi saya sendiri sudah banyak melihat orang-orang di sekeliliing yang dibantu oleh BPJS Kesehatan.

    Ada lagi yang lebih bagus dari BPJS Kesehatan yaitu dengan rajin berolahraga, hidup sehat, jaga mulut jangan rakus, banyak beramal dan berpikir positif.

    Semoga bermanfaat

  8. Chev
    September 28th, 2016 at 15:56 | #8

    Salam Pak Rudi,

    Kutipan: “Singkatnya, hanya anda yang telah memiliki keluarga dan memiliki tanggungan lah yang membutuhkan asuransi jiwa. Bila anda single, apalagi jomblo maka anda tidak butuh asuransi jiwa………”

    http://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3308356/mungkin-anda-tidak-butuh-asuransi-jiwa

    Menurut hemat pak rudi, apakah yang single itu mmg “tidak/belum” perlu Asuransi Jiwa?.

    Mks

  9. Chev
    September 28th, 2016 at 15:59 | #9
  10. Rudiyanto
    October 3rd, 2016 at 18:02 | #10

    @Chev
    Salam Pak Chev,

    Tergantung pak, single kan bukan berarti tidak punya tanggungan. Ada orang tua, adik dan kakak.

    Untuk modal mau melamar orangpun, punya asuransi bisa jadi nilai plus. Bayangkan, waktu mau melamar, kita bilang ama calon istri atau suami, kalau misalkan mati dia bakal dapat uang pertanggungan sekian ratus juta atau M.

    Ibaratnya waktu hidup penghasilannya buat dia, waktu meninggalpun masa depannya tidak dipikirkan.

    Tapi tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Kalau masih sedang dalam tahap berusaha sehingga pendapatannya belum banyak, ya sementara belum dulu.

    Semoga bermanfaat

  11. Eva
    October 1st, 2017 at 14:16 | #11

    @Joe Kusumanegara

    Setau saya, asuransi sakit kritis tradisional, ada di Sunlife, dan ada pengembalian premi juga bila tidak terjadi klaim. Mungkin bisa browsing ke webnya Sunlife..

    Terima kasih..

  12. Eva
    October 1st, 2017 at 14:43 | #12

    @Priska

    Kalau asuransi jiwa murni dan kesehatan murni, AXA Financial ada beberapa pilihan. Kebetulan saya agen dari AXA Financial.

    Contohnya, saya ambil produk Whole Life ya, dengan masa bayar 10 tahun, dengan asumsi usia mbak saat ini 24 tahun:

    Premi bulanan Rp 510.220, flat selama 10 tahun.
    UP 500 juta
    Tambahan UP bila kecelakaan 250 Juta
    Manfaat hidup di usia 65 thn: Turun 20% UP (Rp 100 jt)
    Bila masih hidup hingga usia 100 tahun, cair lagi 400 juta.
    Namun bila meninggalnya akibat kecelakaan: 400 jt+250jt = 650 jt.

    Perlindungan ini berlaku sampai 100 tahun, termasuk akibat kecelakaan juga hingga 100 tahun (Baik kecelakaan seperti jatuh di rumah, maupun kecelakaan lalu lintas).

    Kalau dihitung, total pembayaran mbak adalah Rp 61.2 juta, namun dana pensiun di usia 65 adalah Rp 100 juta (Anggaplah pengembalian premi), sementara perlindungan terus berjalan.
    Bagusnya lagi, bila misal saat anak2 sudah dewasa dan merasa tidak perlu proteksi ini lagi, mbak bisa tutup polis, dan nilai tunai yang sudah terbentuk, bisa ditarik. Bisa dipakai untuk biaya menikahkan anak, atau untuk travelling, dll.

    Sedangkan untuk produk asuransi kesehatan murni, pembayarannya adalah terus menerus sampai 99 tahun, dan sifatnya hangus. Produk stand alone, seperti kata Pak Joseph, betul, manfaatnya jauh lebih besar dibanding bundling dengan unit link pada umumnya.

    Contohnya untuk usia mbak Priska premi bulanannya Rp 408rb (dan untuk saya, usia 44 tahun, 680rb). Dengan premi tersebut, limitnya adalah 3.5 miliar per tahun (pembayaran sesuai tagihan), dengan jaminan perpanjangan meskipun banyak klaim. Keuntungannya, perlindungan sampai 99 tahun, sedangkan bundling unitlink pada umumnya sampai 70-75 thn saja.

    Sementara kalalu bicara soal kenaikan premi dan hangus, unitlink pun sama-sama naik setiap tahun, dan sama-sama hangus dalam bentuk Cost of Rider.

    Contoh untuk rider unit link, untuk usia mbak saat ini preminya 385rb untuk mendapatkan santunan per malam Rp 2 juta, namun pada usia 44 tahun preminya adalah 620rb. Jadi produk unit link, preminya memang tetap selama kurun waktu tertentu, namun cost of insurance dan cost of ridernya terus naik, dan diambil dari nilai tunai yang sudah terbentuk. Bila komposisi investasinya kecil, maka ada kemungkinan pada suatu waktu, nilai tunainya tidak cukup lagi menutup cost of insurance, rider, dan administrasi.

    Oleh karena itu, sebaiknya kalau nanti mbak memutuskan ambil unit link, dimanapun itu, jangan lupa memperbesar komposisi investasinya, misalnya 50:50 supaya gak rawan lapse.

    Untuk konsultasi lebih lanjut, boleh mbak email saya ke s.ovadya@gmail.com yaa… atau WA di 0811892422.

    Terima kasih.

Comment pages
1 2 3 5175

 


%d bloggers like this: