Home > Trivia > Trivia : Negara Mana Yang Investasi Sahamnya Paling Menguntungkan 15 Tahun Terakhir?

Trivia : Negara Mana Yang Investasi Sahamnya Paling Menguntungkan 15 Tahun Terakhir?

 

Screen Shot 2015-05-15 at 1.03.51 AM

 

Tanpa melihat data dan hanya berdasarkan insting anda saja, kira-kira dari negara-negara dibawah ini yang investasi sahamnya paling menguntungkan jika anda melakukan investasi jangka panjang selama 15 tahun terakhir dari periode 31 Desember 1999 - 31 Desember 2014 ?

Apakah Negara Adidaya :

  • Amerika Serikat yang diwakili oleh Indeks S&P 500 (Kode ^GSPC)

Apakah Negara Yang tergabung dalam BRIC :

  • Brazil yang diwakili oleh Ibovespa Brasil Sao Paulo Stock Exchange Index (kode ^BVSP)
  • Rusia yang diwakili oleh Rusian Trading Sistem Index (kode ^RTS.RS)
  • India yang diwakili oleh Bombay Stock Exchange (Kode ^BSESN)
  • China yang diwakili oleh Shanghai Stock Exchange Composite Indeks (Kode ^00001:ss)

Apakah Negara Maju di Asia dan Eropa :

  • Korea Selatan yang diwakili oleh Korea Composite Stock Price Index – KOSPI (kode ^KS11)
  • Jepang yang diwakili oleh Nikkei (kode ^N225)
  • Singapura yang diwakili oleh Straight Times Index (kode ^STI)
  • Inggris Raya yang diwakili oleh FTSE 100 (kode ^FTSE)
  • Jerman yang diwakili oleh DAX (kode ^GDAXI)

Ataukah negara tercinta kita Republik Indonesia yang diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (Kode ^JKSE) ?

Semua daftar di atas sudah lengkap. Mulai dari negara Adidaya, negara yang dulu digadang-gadang akan menjadi penggerak dunia yiatu BRIC berdasarkan pertumbuhan ekonominya yang tinggi, dan juga negara yang dikategorikan sebagai negara maju di Asia dan Eropa berdasarkan pendapatan perkapitanya yang tinggi.

Nah, apakah sudah menebak? Jika sudah silakan baca lebih lanjut

Dari grafik yang saya ambil dari Yahoo Finance adalah sebagai berikut (Klik gambar untuk melihat ukuran besar)

Screen Shot 2015-05-15 at 2.20.58 AM

Untuk mempermudah, JKSE saya beri warna merah.

Total keuntungan saham di berbagai negera berdasarkan data yahoo finance untuk 15 tahun terakhir dari 1999 – 2014 jika diurutkan paling tinggi ke paling rendah adalah sebagai berikut

  1. Indonesia 721.37%
  2. India 428.30%
  3. Rusia 358.89%
  4. Brazil 205.14%
  5. China 110.73%
  6. Korea Selatan 102.95%
  7. Singapore 50.88%
  8. Amerika Serikat 47.65%
  9. Jerman 43.35%
  10. Inggris 4.75%
  11. Jepang -10.69%

Apakah tebakan anda sudah benar? Apakah anda masih terus mengeluhkan bahwa Indonesia kalah terus dari negara lain? Apakah anda masih yakin bahwa dana asing akan benar-benar hengkang dari Indonesia hanya karena suku bunga, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan hal-hal yang anda baca di berita setiap harinya dan tidak kembali lagi? Apakah anda merasa perlu melakukan diversikasi ke saham luar negeri? Well melihat kenyataan di atas, sedikit banyak anda harus mengubah pandangan anda terhadap Indonesia dan bahkan merasa bangga dengan kinerja saham Indonesia.

 

Apa yang bisa kita pelajari dari hal di atas?

Pertama, bahwa uang selalu mengalir ke tempat yang mengalami pertumbuhan. Brazil, Rusia, China dan India atau dikenal dengan BRIC adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam 1 dekade terakhir ini. Pertumbuhan saham dari keempat negara tersebut juga mencerminkan hal itu. Indonesia sendiri dari tahun 1999 – 2014 juga terus mengalami pertumbuhan. Bahkan kenaikan sahamnya dalam 15 tahun juga merupakan yang tertinggi dibandingkan semua negara yang dibandingkan

Kedua, bahwa negara yang maju, sistem ekonomi baik, IT yang canggih, dan sistem pemerintahan demokratis belum tentu sama dengan hasil investasi saham yang tinggi. Ini juga merupakan fakta bagi anda yang selalu menyatakan bahwa Indonesia tertinggal dari negara tetangga dari berbagai sisi. Hal ini memang benar, akan tetapi semua hal tersebut tidak menjanjikan bahwa harga saham juga akan naik tinggi. Pada akhirnya kembali ke fundamental, harga saham akan naik jika keuntungan perusahaan juga meningkat.

Ketiga, jangka waktu 15 tahun tidak merupakan jaminan bahwa investasi saham akan pasti untung. Buktinya investasi saham periode 15 tahun di Jepang malah turun -10.69%.

Keempat, selama ini pembelajaran tentang investasi yang kita ketahui berasal dari textbook yang disusun berdasarkan kejadian dan kasus yang terjadi di negara asalnya yaitu Amerika Serikat. Perbedaan return yang tinggi tersebut menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sana belum tentu juga terjadi disini. Oleh karena itu, kita tidak bisa menelan mentah-mentah semua hal yang ada dalam textbook.

 

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Yahoo Finance

Categories: Trivia Tags:
  1. Anto
    May 16th, 2015 at 01:49 | #1

    Pak, apakah perhitungan diatas memperhitungkan nilai tukar mata uang? Biasanya kalau untuk perbandingan GDP, nilainya akan disetarakan ke USD.

    Kalau untuk indeks saham, apakah sama?

  2. Nik
    May 16th, 2015 at 15:59 | #2

    Menurut pak Rudy, sekalipun di dunia saham dikatakan tidak ada yg bisa memperkirakan arah pergerakan saham, namun apakah tidak mungkin ada yg ‘mempermainkan’? Bahkan harga komoditas yg seharusnya berdasarkan pasar juga semakin hari semakin sering kita dengar telah menjadi ‘komoditas’ pihak2 tertentu seperti yg terungkap pada bank2 besar Amerika, Morgan Stanley dsbnya. Apakah ini hanya merupakan upaya untuk menutupi kondisi saja ato bagaimana? Kita tahu asset management raksasa dgn dana besar tentu dengan mudah dan kapan saja bisa menggoyang satu atau beberapa saham, apakah hal itu mungkin terjadi pak Rudy?

  3. Rudiyanto
    May 17th, 2015 at 00:00 | #3

    @Anto
    Malam Pak Anto,

    Pertanyaan yang bagus. Dalam presentasi kinerja ke investor asing, memang umumnya disetarakan ke mata uang USD lagi karena diasumsikan itu adalah mata uang asal mereka.

    Sebagai ilustrasi, dari situs fxtop.com saya mendapatkan rata-rata kurs dari tahun 1999 – 2014. Untuk Indonesia sebagai contoh, rata-rata kurs 1 USD ke Rupiah selama bulan Desember 1999 adalah 9067. Sementara rata-rata di bulan Desember 2014 adalah 12448.

    Jadi katakan anda investasikan 10.000 USD di IHSG pada tahun 1999, maka investor harus menukarkan ke Rupiah terlebih dahulu. Dari pertukaran diperoleh Rp 90,670,000. Nilai tersebut dibelikan IHSG dan mendapatkan return 721.37% selama 15 tahun. Sehingga nilai uang akan berkembang menjadi Rp 744,736,179.

    Selanjutnya uang tersebut akan ditukarkan lagi ke USD karena mau dibawa pulang ke negara asalnya. Jadi dikonversikan dengan kurs 12.448. Nilai tersebut akan menjadi USD 59,828.

    Dari uang USD 10.000 menjadi USD 59.828 berarti ada keuntungan 498.28%.

    Dengan kata lain keuntungan 721.37% sebelum konversi kurs akan menjadi 498.28% setelah memperhitungkan perubahan kurs. Atau bagi bahasa investor, itulah return riil yang mereka bawa pulang.

    Dengan menyesuaikan asumsi kurs, return dari hasil investasi saham selama 15 tahun untuk 11 negara menjadi sebagai berikut:
    Return Return Adj USD
    Indonesia 721% - 498%
    India 428% - 266%
    Rusia 359% - 129%
    Brazil 205% - 115%
    China 111% - 182%
    Korea 103% - 109%
    Singapore 51% - 92%
    Amerika 48% - 48%
    Jerman 43% - 75%
    Inggris 5% - 2%
    Jepang -11% - -23%

    Dari 10 negara tersebut, hanya China, Korea dan Jerman yang returnnya lebih tinggi karena mata uang mereka Renmimbi, Won dan Euro yang menguat terhadap USD dalam 15 tahun terakhir. Sisanya melemah termasuk Indonesia.

    Demikian, semoga bermanfaat.

  4. Rudiyanto
    May 17th, 2015 at 00:34 | #4

    @Nik
    Salam Pak Nik,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :

    Pertama-tama soal mempermainkan harga, dalam istilah pasar modal disebut market manipulation. Hal ini merupakan tindakan pelanggaran dan pelakunya bisa dikenakan hukuman.
    Hal ini juga sering dibahas dalam kode etik sertifikasi profesi ketika calon pemegang izin seperti broker, manajer investasi, underwriter dan CFA mengambil ujian.

    Karena sudah dibahas berarti kejadiannya memang ada dan bisa terjadi yang namanya “market manipulation” tersebut.

    Dalam dunia investasi saham, ada keyakinan bahwa harga pasar saham adalah refleksi dari kinerja fundamental suatu perusahaan. Namun karena pelaku pasar sangat bervariasi, ada yang rasional ada juga yang tidak (seperti investor yang hanya ikut2an), ada yang investasinya jangka pendek, ada yang jangka panjang dan juga informasi pasar tidak efisien (ada yang memahami perusahaan luar dalam, ada yang tidak ngerti sama sekali cuma tahu kode saham saja) maka harga pasar suatu saham bisa tidak mencerminkan harga wajarnya.

    Perbedaan tersebut bisa lebih tinggi ataupun lebih rendah. Disinilah bagi investor yang mengerti fundamental bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.

    Market manipulation bisa dilakukan dalam bentuk penyebaran informasi yang tidak benar untuk suatu perusahaan yang disengaja, menciptakan kondisi permintaan dan penawaran palsu, atau membeli atau menjual suatu saham dalam jumlah besar yang dilakukan dengan tujuan mengangkat atau menurunkan harga.

    Akibat dari market manipulation adalah harga suatu saham tidak mencerminkan harga sebenarnya. Namun di zaman sekarang ini, tanpa perlu market manipulation sekalipun, yang namanya investor irasional juga bisa membuat harga saham menjadi tidak wajar. Hal ini bisa timbul dari harapan dan kepanikan yang berlebihan.

    Jadi kondisi harga yang tidak mencerminkan fundamental perusahaan bukanlah sesuatu yang tidak wajar. Justru dalam kondisi seperti inilah investor / manajer investasi yang jeli dapat memperoleh keuntungan.

    Dari sisi regulator, saya tidak tahu untuk broker. Tapi utk Manajer Investasi regulasinya sudah cukup baik. Sebagai contoh, dalam audit yang dilakukan OJK, Manajer Investasi diminta untuk menyerahkan analisis yang dia lakukan sebelum memutuskan untuk membeli / menjual saham tertentu. Dari analisis tersebut bisa dilihat apakah pengambilan keputusannya memang sudah didasarkan pada analisa yang cukup atau tendensi melakukan manipulasi pasar.

    Meski demikian, yang namanya pertimbangan itu relatif. Bisa saja kamu membaca analisa sekuritas A yang bilang saham itu Strong Buy, tapi di satu sisi analisa dari sekuritas B bilang Strong Sell.

    Yang kedua, saya tidak begitu mengerti pertanyaan anda. Maksudnya yang ditutupi itu apa ya?

    Semoga bermanfaat.

  5. Erwin S
    May 18th, 2015 at 16:15 | #5

    Dear pak Rudiyanto,
    Sepengetahuan saya RD di Indonesia dikenalkan pada tahun 1996, belum termasuk lama jika dibandingkan negara-negara lain
    Terus terang saya tertarik membeli RD pada tahun 2007 setelah membaca edisi Khusus Kontan mengenai RD, pada salah satu bahasannya mengenai RD saham juara adalah RD Makinta Mantap yang dalam setahun bisa menghasilkan Return lebih dari 100%, namun alangkah terkejutnya saya ketika belum lama ini mencari RD Makinta Mantap ternyata sudah tidak ada (belakangan saya baca sudah diakusisi pihak lain)
    Pertanyaan saya adalah bagaimana pandangan bapak mengenai kondisi RD dan MI di Indonesia, apakah bisa dianggap belum stabil dengan banyaknya muncul MI baru dan MI lama yang hilang.. apakah RD/MI di Indonesia masih bisa dianggap sebagai tahap “belajar”, apakah masih banyak MI yang cuma aji mumpung dengan booming nya RD dan lambat laun seleksi alam akan menyingkirkan mereka?
    Terimakasih atas jawabannya

  6. Rudiyanto
    May 23rd, 2015 at 12:46 | #6

    @Erwin S
    Selamat Siang Pak Erwin,

    Pertama-tama saya ingin mengklarifikasi bahwa produk yang namanya Makinta Mantap ini masih ada. Cuma namanya menjadi EMCO Mantap sesuai perusahaan yang mengakuisisinya. Setiap hari harganya juga masih terus di udpate di infovesta.com dan reksa dana ini masih tetap diperjual belikan. Cuman kalau saya tidak salah, Manajer Investasi pada waktu itu sudah keluar dan mendirikan perusahaan sendiri, tapi saya lupa namanya apa. In case saya salah dan ada yang tahu bisa dikoreksi.

    Kemudian mengenai kemunculan dan kehilangan Manajer Investasi di Indonesia, menurut saya adalah sesuatu yang wajar. Orang yang buka usaha Manajer Investasi itu sama juga dengan orang yang buka usaha restoran, toko bahan bangunan, jasa tranportasi dan lain-lain yaitu sama-sama entrepreneur.

    Namanya juga pengusaha, ada yang sukses dan kaya raya, tapi tentu ada juga yang bangkrut bahkan sebelum tahun ketiga berdiri. Dan saya yakin anda tahu kelompok mana yang lebih banyak.

    Ini semua sama, mau di Amerika Serikat yang sudah maju ataupun di Indonesia. Bahkan saya yakin perusahaan Manajer Investasi yang berdiri dan tutup di sana jauh lebih banyak daripada di sini. Apakah ini menurut anda berarti industri reksa dana di Amerika Serikat juga masih dalam tahap belajar?

    Sebagai analogi, nama-nama yang sempat besar seperti Friendster, My Space, Rovio (Angry Bird), dan perusahaan teknologi lainnya, ada yang sudah tutup, ada yang nyaris bangkrut. Apakah ini juga pertanda bahwa perusahaan teknologi tersebut aji mumpung dan industri teknologi di Amerika belum stabil?

    Dalam bisnis, siklus naik dan turun itu sangat wajar. Tidak ada jaminan perusahaan kecil tidak bisa jadi besar ketika situasi sedang baik sama seperti perusahaan besar, dan tidak ada kepastian pula bahwa perusahaan besar tidak akan tutup ketika menjadi siklus yang tidak baik.

    Pada akhirnya perusahaan yang terus belajar, trus membangun kompetensi dan berinovasi, tidak jumawa ketika di atas serta tidak putus asa ketika sedang di bawah itulah yang akan bertahan.

    Begitu pandangan saya tentang industri reksa dana di Indonesia.

  7. masna megawaty naibaho
    May 29th, 2015 at 20:41 | #7

    Pak Rudy,
    Mohon berikan masukannya jika saya ingin membeli reksadana jangka pendek yg tujuannya adalah menambah penghasilan saya reksadana jenis apa dan MI mana yg menjual reksadana tersebut.

    Terima kasih

  8. Rudiyanto
    June 4th, 2015 at 10:13 | #8

    @masna megawaty naibaho
    Selamat Pagi Ibu Masna,

    Untuk pertanyaan anda ada 2 artikel yang bisa saya rekomendasikan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/
    dan
    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2015/03/31/060700426/Memilih.Reksa.Dana.Sesuai.Tujuan.Investasi

    Untuk daftar reksa dananya anda bisa cek ke infovesta.com

    Semoga bermanfaat.

  9. Budi
    January 6th, 2016 at 18:18 | #9

    Salam pak Rudi,

    Mengenai hal di atas, tampak kalau hasil investasi saham beberapa negara tergolong sangat kecil. Misalnya Amerika Serikat 47.65% selama 15 th terakhir, kalau saya hitung itu berarti tidak sampai 3% per tahun compounded. Apakah benar sededemikian kecilnya? bukankah secara umum seharusnya hasil investasi saham jangka panjang lebih tinggi daripada obligasi atau pasar uang? Apakah hal ini (hasil investasi yang rendah) bisa saja dialami Indonesia ke depannya? Apakah mungkin hasil investasi saham rata-rata di Indonesia 15-18% per tahun hanya berlaku pada masa lalu dan ke depan nilai normalnya bisa menurun cukup besar?

    Lalu menurut pak Rudi kira-kira apa yang menyebabkan hasil investasi saham di Jepang bahkan minus untuk jangka 15 th terakhir? Bagaimana sekilas untuk investasi obligasi di negara tersebut, apakah malahan lebih baik dari saham?

    Terima kasih sebelumnya, Pak Rudi.

  10. Rudy T
    January 7th, 2016 at 09:12 | #10

    Salam kenal,

    Saya pegawai swasta yang kurang paham tentang hitung menghitung. Mau tanya tentang perkiraan perhitungan dana yang bisa dipakai dengan asumsi sebagai berikut: umur 40, pensiun 65, inflasi 8%/tahun, selama 25 thn (umur 40-65) menabung rutin 10jt/bln, tabungan saham 5jt/bln, tabungan reksadana 2.5jt/bln, rumah sdh lunas (nilai asset tidak bergerak sekitar 8M). Tanpa mengurangi angka kebutuhan anak & istri (karena ada pemasukan lain), apabila hanya memakai angka yang tadi, kira-kira berapa dana yang bisa dipakai per bulan untuk 2 orang selama 20 tahun kemudian *dari 65-85 (asumsi hidup sampai umur 85, kalau lebih bonus namanya, amin). Terima kasih.

  11. kresna rudy
    March 21st, 2016 at 11:20 | #11

    Wooow baru tahu saya jika return investasi reksadana di Indonesia lebih tinggi dari Negara maju…

    Nice info Pak Rudi … tambah semangat saya untuk “Top Up” reksadana …

    Yg saya heran jepang knapa return nya bias negative untuk jangka waktu 15 tahun …
    padahal jepang adalah ekonomi terbesar ke 3 setelah amerika dan china …

  12. Rudiyanto
    March 21st, 2016 at 13:27 | #12

    @kresna rudy
    Selamat Siang Pak Kresna,

    Mengenai Jepang, mungkin perlu kita bedakan antara terbesar dan tumbuh. Sebab jika besar tapi tidak tumbuh, maka pasar modalnya tentu juga akan sulit untuk maju.

    Semoga bermanfaat.

  13. Wendy
    October 3rd, 2016 at 12:32 | #13

    Berarti semakin maju negara maka return sahamnya makin kecil ya Pak ? Contoh Jepang, negara nya super maju, teknologi tinggi.. Soalnya pernah baca kalau negara berkembang mau jadi maju returnya cukup tinggi seperti kita, kalau sudah maju perlahan-lahan returnnya bisa turun hingga rata2 7-8% per tahun utk saham.

    Apakah hal tersebut benar Pak ? Tolong pencerahannya ? Terima kasih.

  14. Rudiyanto
    October 3rd, 2016 at 18:25 | #14

    @Wendy
    Salam Bu Wendy,

    Biasanya tingkat return mengikuti suku bunga. Makin rendah bunga, kemungkinan besar tingkat return juga akan semakin kecil.

    Semoga bermanfaat

  15. Wendy
    October 3rd, 2016 at 19:34 | #15

    @Rudiyanto
    Terima kasih atas jawabannya Pak, apakah di Jepang ada semacam mutual fund juga semacam reksadana ? Jika indeks minus dan suku bunga rendah apa ada hal menarik sehingga investor mau menanam di saham ?

    Terima kasih.

  16. Rudiyanto
    October 15th, 2016 at 18:58 | #16

    @Wendy
    Salam Ibu Wendy,

    Industri reksa dana di Jepang setahu saya jauh lebih besar dari Indonesia dari sisi dana kelolaan. Jadi harusnya ada reksa dana di Jepang dan sekaligus juga menjawab apakah ada orang mau investasi atau tidak.

    Mengenai suku bunga, justru pada saat suku bunga sangat kecil, orang mau tidak mau harus berinvestasi agar dananya berkembang. Kalau Indeks minus, memang dalam jangka sangat panjang. Tapi kalau 1, 3, 5 atau 7 tahun terakhir mungkin tidak.

    Semoga bermanfaat

  17. March 3rd, 2017 at 09:41 | #17

    Wow, saya nggak sangka Indonesia ada di peringkat pertama negara yang paling menguntungkan untuk invest saham.

    Sejak baca-baca artikel & bukunya Pak Rudiyanto, saya jadi tambah wawasan tentang invest reksadana. Awalnya takut-takut, lama-lama malah ketagihan.

    Invest di reksadana juga bikin saya lebih optimis dalam menyikapi berita-berita negatif tentang ekonomi di Indonesia. Misalnya aja, beberapa bulan lalu, ada isu rush money, dll, saya bisa menahan diri untuk tidak ikut-ikutan. Kalau saya tergiur untuk ikutan, wah, reksadana saya bisa mulai dari nol lagi.

    Saya yakin dan optimis, rezeki tidak akan salah alamat, karena sudah diatur sempurna oleh Allah subhanahu wata’ala. Semoga tahun-tahun ke depan, investasi apapun di Indonesia akan selalu menguntungkan penduduknya, amin.

  18. Rudiyanto
    March 3rd, 2017 at 14:22 | #18

    @Fairus
    Terima kasih atas komentarnya pak Fairus.

 


%d bloggers like this: