Home > Cara Bertransaksi Reksa Dana, Matematika Investasi, Perencanaan Investasi, Strategi Investasi > Mana Yang Lebih Baik : Lump Sum atau Cost Averaging ?

Mana Yang Lebih Baik : Lump Sum atau Cost Averaging ?

Perbandingan Lump Sum dan Cost Averaging

 

Dalam suatu gathering nasabah di Bandung yang saya lakukan minggu lalu, ada satu diskusi dengan nasabah yang sangat menarik. Pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut “Mana yang lebih baik, investasi secara sekaligus di depan atau investasi secara berkala?”

Dalam dunia pasar modal, investasi secara sekaligus di depan dikenal dengan nama investasi Lump Sum (LS). Sementara investasi secara berkala, dikenal juga dengan nama (Dollar atau Rupiah) Cost Averaging (CA) atau autodebet. Ketentuan di masing-masing perusahaan bisa berbeda, namun kalau di Panin Asset Management periodenya bulanan dengan minimal 1 tahun.

Secara matematika, dengan asumsi reksa dana saham mampu memberikan tingkat return 20% per tahun, maka sudah pasti metode LS lebih baik daripada CA. Sebab dengan metode LS, semua dana yang dimasukkan sejak pertama kali langsung mendapat keuntungan 20%. Jika dengan metode CA, hanya setoran pertama yang mendapat return 20%, sisanya karena dimasukkan belakangan mendapat tingkat keuntungan yang lebih rendah.

Untuk lebih detailnya, misalkan anda memiliki Rp 12 juta. Jika diinvestasikan dengan metode LS, asumsi return 20%, dan periode 1 tahun, maka di akhir tahun pertama nilai uang akan berkembang menjadi Rp 14.400.000 (12 juta x 20% + 12 juta). Sementara dengan metode CA secara bulanan, dengan menggunakan kalkulator finansial Panin AM diperoleh hasil Rp 13.382.856.

Screen Shot 2015-03-23 at 1.30.45 AM

Namun investor tersebut tidak puas. Menurutnya, memang benar jawaban di atas jika dihitung secara matematika. Namun bukankah dalam dunia nyata return investasi tidak linear 20% ? Ada periode dimana IHSG mengalami kenaikan, ada pula periode IHSG mengalami penurunan. Dengan menggunakan metode CA, bukankah investor bisa mengambil keuntungan untuk membeli ketika harganya sedang turun.

Argumentasinya tidak salah. Memang benar bahwa pada kenyataannya return investasi tidak linear. Bukan saja naik dan turun, tapi ada kalanya juga tidak mencapai 20% seperti yang diharapkan investor. Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, saya artikel ini saya buat. Tujuan saya adalah untuk mencari tahu, apakah keunggulan CA seperti yang dikemukakan oleh investor tersebut benar-benar efektif dalam dunia nyata yang sangat dinamis ini.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai metode mana yang lebih baik, saya melakukan penelitian dan simulasi dengan langkah-langkah sebagai berikut

Cost Averaging Vs Lump Sum

 

Yang dimaksud dengan periode investasi bulanan dalam simulasi adalah :

  • Investasi dilakukan setiap tanggal 1 setiap bulannya
  • Besaran nilai investasi adalah Rp 100 juta dibagi 12
  • Jika tanggal yang bersangkutan libur, maka investasi dilakukan pada hari kerja berikutnya
  • Hasil unit yang terkumpul setiap bulan diasumsikan dijual pada akhir tahun

Hasil penelitian saya untuk periode 1 tahun adalah sebagai berikut :

Screen Shot 2015-03-23 at 2.17.07 AM

 

Cara membaca tabel :

  • Pada tahun 2000, return IHSG adalah sebesar -38.50%. Dengan demikian investasi yang dilakukan dengan metode LS akan menghasilkan return yang sama yaitu -38.50%
  • Dengan modal Rp 100 juta, maka pada akhir tahun saldo investasi dengan metode LS akan tersisa Rp 61.5 juta
  • Dengan metode CA, nilai uang pada akhir tahun adalah Rp 83.1 juta.
  • Dibandingkan dengan modal sebesar Rp 100 juta, berarti kerugian yang dialami adalah 16.8%
  • Perlu diperhatikan bahwa return dengan metode CA tidak dihitung berdasarkan rumus Money Weighted Return (yang merupakan cara yang benar), tapi hanya membandingkan nilai total investasi dengan saldo investasi pada akhir tahun. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran secara sederhana.
  • Kolom CA yang berwarna hijau artinya hasil investasi CA lebih baik daripada LS. Sebagai contoh pada tahun 2000, hasil investasi CA Rp 21 juta lebih tinggi daripada LS

Kesimpulan simulasi 1 tahun:

  • Dengan menggunakan periode 1 tahun, IHSG mengalami 5 kali return negatif selama 17 tahun terakhir.
  • Dari data 17 tahun, hasil investasi CA hanya 3 kali lebih baik daripada metode LS dan itu terjadi dalam periode ketika IHSG membukukan tingkat return yang negatif.
  • Pada 3 periode tersebut, kerugian berhasil dikurangi 40 – 50% dari total kerugian jika menggunakan metode LS
  • Meski demikian, ada juga periode dimana return IHSG positif seperti pada tahun 2002 yaitu 8.39% namun metode CA ternyata menghasilkan total return -4.23%
  • Jika diperhatikan pada tahun-tahun dimana IHSG membukukan return positif, return dengan metode CA lebih rendah dibandingkan metode LS.

Berdasarkan penelitian di atas, untuk periode 1 tahun, menurut saya metode CA secara umum hanya baik ketika pasar mengalami koreksi yang signifikan. Dalam kondisi pasar yang bergerak normal atau mendatar, metode ini cenderung memperkecil tingkat return yang diperoleh investor. Bahkan bukan tidak mungkin investor memperoleh return negatif ketika return IHSG hanya positif di bawah 10%.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Investor dengan strategi CA, meskipun bisa membeli pada saat IHSG sedang turun, sebenarnya juga membeli ketika harga sedang tinggi-tingginya. Jadi ketika IHSG turun dari titik tertinggi ke titik terendah, porsi investasi yang dia beli ketika harganya sedang tinggi mengalami kerugian lebih besar dibandingkan porsi investasi pada awal tahun. Jadi pada dasarnya keuntungan daripada CA sebenarnya juga menjadi kelemahan dari metode tersebut.

Untuk bisa mendapatkan gambaran mari kita lihat grafik sebagai berikut:

IHSG 2013

IHSG pada tahun 2013 adalah contoh nyata dimana return IHSG bisa tidak mencapai 20% per tahun. Selain itu, fluktuasinya juga teramat tinggi sehingga ada momen dimana penurunan IHSG bahkan lebih dalam daripada angka IHSG pada awal tahun. Memang benar, investor bisa membeli di harga yang rendah seperti pada bulan September –  Desember, namun sebenarnya investor juga membeli pada bulan Februari – Juni. Dengan demikian, rata-rata pembelian belum tentu menjadi lebih rendah.

Jadi dengan periode investasi 1 tahun, kecuali kita memprediksikan untuk 1 tahun mendatang akan terjadi koreksi yang signifikan pada pasar modal, maka metode LS adalah strategi yang lebih baik.

Tentu saja, investasi reksa dana saham tidak cocok jika hanya dilakukan selama 1 tahun saja. Ada yang menganjurkan di atas 5 tahun, ada juga yang bahkan lebih. Untuk itu, saya kembali melakukan penelitian yang sama, namun dengan menggunakan asumsi investasi yang lebih panjang yaitu 3, 5 dan 8 tahun. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Periode Investasi 3 Tahun

Screen Shot 2015-03-23 at 2.54.26 AM

Periode Investasi 5 Tahun

Screen Shot 2015-03-23 at 2.54.40 AM

Periode Investasi 8 Tahun

Screen Shot 2015-03-23 at 3.04.21 AM

Rekapitulasi
Screen Shot 2015-03-23 at 2.59.59 AM

Berdasarkan penelitian untuk periode yang lebih panjang yaitu 3, 5 dan 8 tahun, ternyata semakin terbukti bahwa berdasarkan data historis dibandingkan metode LS, metode CA lebih banyak mengurangi tingkat return investor dibandingkan menyelamatkannya dari koreksi pasar secara mendalam. Semakin panjang periode investasi, kerugian yang dialami oleh investor karena tidak dapat memanfaatkan kesempatan kenaikan harga juga semakin besar.

Jika memang demikian, mengapa metode Cost Averaging masih dipandang baik oleh investor secara umum? Menurut saya ada 2 alasan yaitu :

  • Bagi investor kebanyakan, umumnya sumber dana yang utama berasal dari gaji yang diterima setiap bulan. Dengan demikian metode Cost Averaging adalah kewajiban dan bukan pilihan
  • Bagi investor dengan dana besar, ide bahwa mereka bisa masuk ketika harga sedang turun memberikan rasa nyaman dibandingkan mempertaruhkan semuanya di awal. Hal ini tidak terlepas dari periode investasi mereka yang umumnya juga pendek (di bawah 1 tahun)

Jadi, ketika anda mendapat rezeki tidak terduga dan berencana menginvestasikan ke reksa dana saham, asalkan anda fokus pada tujuan jangka panjang, tidak perlu ragu untuk menginvestasikannya secara sekaligus di depan. Tidak perlu repot-repot membaginya dalam beberapa kali investasi jika memang tidak punya keahlian di bidang tersebut. Untuk sebagian dana yang disisihkan dari gaji setiap bulan tersebut, kita bisa gunakan metode Cost Averaging atau Autodebet.

Demikian sharing artikel ini, semoga bermanfaat untuk anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

Sumber data : Yahoo Finance

  1. Chandra
    March 25th, 2015 at 15:19 | #1

    Artikel yg sangat bagus pak Rudi

    Saya sangat setuju dengan kalimat ini,
    “Bagi investor kebanyakan, umumnya sumber dana yang utama berasal dari gaji yang diterima setiap bulan. Dengan demikian metode Cost Averaging adalah kewajiban dan bukan pilihan”

    Bagi karyawan yg sumber dananya hanya dari gaji, menyisihkan sebagian dari gaji untuk investasi saja sudah sulit apalagi harus menginvestasikannya secara sekaligus di depan (Lump Sum) jadi metode CA atau Autodebet memang menjadi pilihan favorit untuk investasi

  2. Dada
    March 25th, 2015 at 16:50 | #2

    @Chandra
    Bisa Pak Chandra,

    Itu mah masalah Strategi Alokasi Dana aja, bukan ttg besar-kecilnya dana kita..

  3. Niken
    March 26th, 2015 at 13:47 | #3

    Terima kasih Pak Rudi, artikel ini dan penjelasan Bapak sangat menjawab pertanyaan saya.

  4. Dada
    March 26th, 2015 at 17:42 | #4

    Di Amerika, DCA juga dikritik karena di sana juga terbukti tidak membuat keuntungan lebih baik, atau risiko lebih rendah bila dibanding Lump Sum.

    Di artikel ini http://on.mktw.net/1xBhR4w, penulisnya dengan lantang menyebut:

    THE FALLACY OF DOLLAR COST AVERAGING

    “Don’t believe the hype. Dollar-cost averaging is nothing more than a well-constructed sales pitch. It is a method for getting people to do what a sales person wants them to do, generally open an account, move an account or buy a product.

    …dollar-cost averaging virtually assures an investor of about 100% of the market risk. Why on earth would anybody want that unless they were trying to make more than the market they were investing in? Most investors don’t have the stomach to take 100% of market risk, yet that is what they get, despite the fact that they would generally be happy just beating inflation by a few points.”

  5. Hari Yogeswara
    March 27th, 2015 at 14:32 | #5

    @Dada

    Lalu menurut pak dada sendiri bagaimana strategi alokasi dana bagi karyawan yang ingin menggunakan metode lump sum ? terimakasih

  6. Hari Yogeswara
    March 28th, 2015 at 14:46 | #6

    Selamat sore pak rudi, saya ingin bertanya mengenai metode cost averaging. Setiap kita melakukan pembelian reksadana dengan metode cost averaging kita akan dikenakan biaya pembelian sebesar 2%. Jika dalam setahun diakumulasikan berarti kita telah mengeluarkan biaya sebesar 24%, sedangkan return reksadana saham rata” setiap tahunnya sebesar 20%. Berarti sebenarnya kita telah merugi sebesar 4% ya pak ? Mohon penjelasannya. Terimakasih

  7. janto
    March 30th, 2015 at 13:44 | #7

    artikel yang bagus pak rudi.
    saya jadi paham kelemahan CA ini dan memang bagi seorang karyawan dengan gaji per bulan jelas tidak ada pilihan selain CA..

  8. Rudiyanto
    March 30th, 2015 at 16:43 | #8

    @Hari Yogeswara
    Salam Pak Hari,

    Untuk menjawab pertanyaan anda, saya harap bantuan anda utk menjawab pertanyaan saya sbb :
    1. Kalau investasi dengan Rp 1.000.000 dan fee 2% atau Rp 20.000. Berarti total uang yang anda keluarkan adalah Rp 1.020.000 x 12 = Rp 12.240.000. Dimana ketentuannya Rp 12.000.000 investasi, dan Rp 240.000 biaya. Pertanyaan saya Rp 240.000 itu berapa persen dari Rp 12.000.000 ?

    2. Misalkan dari dana Rp 12.000.000 anda untung 20%, atau sebesar Rp 12 juta x 20% = Rp 2.4 juta. Sementara total biaya yang anda bayarkan Rp 240.000. Berapa keuntungan bersih anda ? Dalam Rupiah dan persentase terhadap modal

    Jawaban anda atas kedua pertanyaan saya di atas akan membantu penjelasan saya, jadi mohon dibantu dulu, terima kasih.

  9. Dada
    March 31st, 2015 at 12:18 | #9

    @Hari Yogeswara

    Coba cari di google kata kunci ini Pak Hari: “Reksa Dana” “F3MDCA” (dengan dua tanda petiknya). Saya dikasih tau temen broker. Solusi yg bagus menurut saya utk para karyawan biasa seperti kebanyakan kita.

  10. Aisyah
    April 1st, 2015 at 15:57 | #10

    Salam Pak Rudi,

    Setelah membaca artikel di atas saya jadi terpikir untuk DCA di RDPU saja kemudian setiap di awal tahun diredeem untuk lumpsum di RDS. Kira2 bagaimana pendapat Pak Rudi? Apakah secara data historis cara seperti itu akan berpeluang untung lebih besar?

    Terima kasih

  11. Hari Yogeswara
    April 2nd, 2015 at 23:44 | #11

    Trimakasih pak rudy sudah mau menjawab pertanyaan saya. 240rb itu 2% dari 12juta pak. Lalu keuntungan bersih saya sekitar 2.160.000 pak dan persentase terhadap modal sekitar 18% pak. Trimakasih pencerahannya pak

  12. Rudiyanto
    April 4th, 2015 at 18:01 | #12

    @Aisyah
    Salam Ibu Aisyah,

    Perlu diingat bahwa riset saya di atas dengan mengasumsikan investor “saat ini” sudah punya uang. Dia bingung mau diinvestasikan sekaligus atau dilakukan secara berkala.

    Kalau kondisi kamu, berarti “saat ini” anda belum punya dana. Jadi dikumpulkan dulu selama 1 tahun baru diinvestasikan. Secara waktu, tentunya anda sudah terlambat 1 tahun. Kemudian jika cara investasi tersebut perlu dibuktikan dulu secara historis.

    Riset yang ada dalam artikel ini tidak menjawab pertanyaan anda.

    Semoga bermanfaat.

  13. Rudiyanto
    April 4th, 2015 at 18:13 | #13

    @Hari Yogeswara
    Sama-sama Pak Hari.

    Semoga informasinya bermanfaat.

  14. June 2nd, 2015 at 18:46 | #14

    menarik banget pak tulisannya.

    Saya sudah 2thn ini beli Reksa Saham dgn model DCA di bbrp reksa. Maksud hati Diversifikasi Reksa. Tapi nampaknya hasil kurang maksimal karena terlalu bermacam2 reksa yg saya beli. Kalo saya mau fokus pada hanya 1 atau 2 reksa saja dgn menjual unit saya di reksa yg lain. Ada saran ga pak sebaiknya bagaimana? Apakah saya harus switching di saat IHSG sedang turun atau malah pas naik? Untung ruginya bagaimana? Mohon pencerahan pak. Nuwun.

  15. Rudiyanto
    June 4th, 2015 at 10:26 | #15

    @pacarkecilku
    Kalau mengenai jumlah reksa dana yang sebaiknya dimiliki bisa membaca
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/05/20/berapa-jumlah-kepemilikan-reksa-dana-saham-yang-ideal/

    Mengenai kapan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi bisa baca
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/04/21/perencanaan-investasi-dengan-reksa-dana-do-it-yourself/

    Semoga bermanfaat

  16. June 5th, 2015 at 21:21 | #16

    Ok pak, nuwun ilmunya

  17. kurniawan
    October 19th, 2015 at 21:27 | #17

    Saya dulu pernah coba lumpsum … niat nya setahun cuma top up 3 kali dengan jumlah cukup besar … tapi karna kesibukan sehari2 bekerja malah jadi tidak teratur dan sering terlupa … jadi nya pernah terlewat 1 tahun tidak top up … dan kadang malah pernah ragu ketika harga nav dianggap sudah ketinggian …

    Sekarang ini saya lebih cocok dengan CA autodebet per bulan … jadi nya lebih teratur …

  18. Rudiyanto
    October 19th, 2015 at 22:47 | #18

    @kurniawan
    Semoga berhasil dengan investasinya pak Kurniawan

 


%d bloggers like this: