Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Riset Reksa Dana, Saham > Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Masuk Ketika Harga Saham Sedang Naik ? – Pendekatan Teknikal

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Masuk Ketika Harga Saham Sedang Naik ? – Pendekatan Teknikal

Riding Mr Market Wave

Artikel ini merupakan antitesis dari artikel sebelumnya dengan judul Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Masuk Ketika Harga Saham Sedang Turun? yang pernah saya tulis sebelumnya. Jika berinvestasi pada saat harga saham sedang turun suka digambarkan sebagai Catching The Falling Knife , maka berinvestasi pada saat harga saham sedang naik disebut sebagai Riding The Market Wave. Bagaimanapun juga, berinvestasi ketika harga sedang naik selalu lebih menyenangkan jika dibandingkan ketika harga sedang turun – paling tidak buat anda yang berorientasi jangka pendek.

Bayangkan saja, baru beli hari ini besoknya ketika harga saham terus naik langsung kita lihat keuntungan di portofolio investasi kita. Kalau beli ketika harga turun, baru menyenangkan jika “kebetulan” kita beli pada titik terendahnya. Akan tetapi pada dasarnya adalah hampir tidak mungkin untuk menebak berapa dan kapan harga terendah akan tercapai serta tidak ada jaminan harga yang sudah turun dalam tidak akan turun lagi maka investor akan lebih sering melihat penurunan nilai portofolio investasi dibandingkan kenaikan. Memang Catching The Falling Knife hanya buat investor profesional dan punya mental investasi jangka panjang.

Meski lebih menyenangkan, strategi Riding Market The Wave bukannya tanpa risiko. Jika kenaikan harga sudah terlalu tinggi dan tren berbalik, maka bisa saja kerugian yang dialami menjadi besar. Sebab investor tersebut beli di harga yang sedang tinggi-tingginya. Nah, oleh karena itu dalam kesempatan kali ini saya ingin mencari tahu, apakah saat ini memang sudah terlalu tinggi? Dan apakah masih ada peluang jika kita ingin berinvestasi sekarang ?

Apakah level IHSG sekarang sudah tinggi?

Per akhir Februari 2015 IHSG bertengger di 5450. Pada tanggal 6 Maret 2015 IHSG kembali mencapai rekor tertinggi dalam sejarah dengan ditutup pada level 5514. Apabila tinggi adalah dibandingkan dengan harga sebelumnya dalam sejarah, memang bisa dikatakan tinggi. Akan tetapi bagi seorang investor saham yang harus mendasarkan segala keputusannya pada suatu hasil analisa, tinggi rendahnya IHSG tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat angka berdasarkan data historis semata.

Sebagai contoh, pada tahun 2008, IHSG di harga 2800 dikatakan merupakan tertinggi dalam sejarah. Siapapun yang berinvestasi pada harga tersebut dipastikan akan menyesal tidak berapa lama kemudian karena pada tahun 2008, IHSG sempat anjlok 50% ke level 1400an. Jadi 2800 = mahal. Akan tetapi jika anda adalah investor jangka panjang, memang benar setelah anda melakukan pembelian IHSG sempat turun dalam, namun pada Maret 2015 ini, IHSG sudah di 5500. Dan sekarang apakah IHSG 2800 itu masih mahal? Tergantung, kalau kamu tanya sekarang, itu sudah murah sekali.

Nah, jadi bagaimana untuk menentukan mahal murahnya IHSG? Bisa dengan 2 cara, secara teknikal dan secara fundamental.

Valuasi Level IHSG secara Teknikal

Untuk metode teknikal juga ada berbagai cara, ada yang klasik dengan cara menarik garis dan trend, ada pula yang modern dengan menggunakan indikator-indikator yang dihitung berdasarkan rumus tertentu. Saya sendiri suka menggunakan metode probabilitas (kemungkinan). Sebab riset sebelumnya juga dibuat berdasarkan cara tersebut.

Langkah-langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

1. Melihat kenaikan IHSG selama 1 bulan (31 Januari – 28 Februari 2015) dan 2 Bulan (Dari 31 Desember 2014 – 28 Februari 2015).

Kinerja IHSG Februari 2015
2. Membandingkan dengan data-data historis, apakah kenaikan selama 2 bulan tersebut termasuk yang tertinggi atau tidak

Melihat IHSG yang naik 3.04% dalam 1 bulan atau 4.27% dalam 2 bulan memang berita yang baik. Tapi apakah ini suatu pencapaian yang luar biasa atau biasa-biasa saja? Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut saya meneliti data historis dari tahun  Juli 1997 – Feb 2015 sesuai data yang tersedia di Yahoo Finance. Periode yang saya gunakan adalah bulanan.

Oh ya, perlu diperhatikan bahwa kinerja 2 bulan itu bukan berarti Januari untuk 3.04% dan Februari untung 4.27%. Akan tetapi jika anda memegang dari periode 31 Desember 2014 – 28 Februari 2015, itulah besaran keuntungan yang diperoleh investor di IHSG.

Dari hasil penelitian tersebut, ternyata return IHSG dalam periode 1 dan 2 bulan sangat bervariasi. Selisihnya bahkan bisa mencapai 90%++. Sebagai gambaran :

Histori 1 dan 2 Bulan IHSG

Untuk periode 1 bulan, return tertinggi yang pernah terjadi adalah kenaikan 28% dalam 1 bulan dan untuk terburuk sebesar -32% dalam 1 bulan. Untuk periode 2 bulan, kenaikan tertinggi adalah 49% dan penurunan terburuk adalah -43%. Apa arti dari angka di atas. Pertama bisa untuk menjelaskan risiko investasi, artinya dalam 1 dan 2 bulan, jika berinvestasi di saham investor bisa mengalami penurunan 32% dan 43%. Kalau tidak siap rugi segitu besar ya jangan investasi di saham atau reksa dana saham.

Kedua, hal ini juga menjelaskan bawah kenaikan 3.04% dan 4.27% yang terjadi 2 bulan terakhir ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Hanya karena di berbagai koran diberitakan IHSG menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah tidak berarti kenaikannya juga demikian. Yang harus menjadi perhatian investor adalah persentase perubahan dan bukan harganya. Ini berlaku juga ketika kita mengevaluasi kinerja reksa dana.

Jika kita sudah mengetahui bahwa kenaikannya secara teknikal bukanlah sesuatu yang tertinggi artinya kita tidak perlu menanggapinya secara berlebihan. Namun yang jadi pertanyaan, apakah yang biasanya terjadi setelah itu? apakah IHSG masih bisa terus naik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya masuk ke langkah 3.

3. Melihat kinerja IHSG setelah mengalami kenaikan jangka pendek

Pada riset sebelumnya, saya meneliti apa yang terjadi dalam 100 hari dan 200 hari kerja ke depan setelah IHSG mengalami penurunan minimal -5%, minimal -10% dan minimal 15% dalam 1 bulan. Dalam riset ini saya akan membuat riset serupa, hanya saja yang saya teliti adalah kenaikan, bukan penurunan. Selain itu saya tambahkan kategori minimal 3% untuk merefleksikan kondisi sekarang. Periodenya pun saya ubah, bukan 100 hari dan 200 hari ke depan. Tapi menjadi 6 dan 10 bulan ke depan karena saya mau melihat berapa kisaran IHSG yang mungkin tercapai pada akhir tahun berdasarkan analisis ini. (10 bulan setelah Februari 2015 adalah Desember 2015)

Hasil penelitian saya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan Kinerja 1 Bulan dan Strategi Investasi Buy and Hold Selama 6 bulan Ke Depan

Screen Shot 2015-03-07 at 10.32.14 AM

Cara membaca tabel di atas adalah sebagai berikut. Misalkan anda melihat kenaikan IHSG dalam 1 bulan ini (Februari 2015) adalah 3.04%. Maka jika anda melakukan strategi investasi dengan buy and hold selama 6 bulan ke depan, maka kemungkinan kamu akan mendapatkan keuntungan adalah 75%. Kemungkinan ruginya 25%. Berapa potensi keuntungan yang bisa didapat? Secara historis, paling tingginya adalah keuntungan 72% sementara potensi kerugian terburuk adalah -49%. Secara rata-rata potensi keuntungan yang bisa diperoleh adalah 11.55%. Nah, berdasarkan strategi di atas, apakah anda akan mengambil keputusan?

Berdasarkan Kinerja 1 Bulan dan Strategy Investasi Buy and Hold Selama 10 Bulan Ke Depan

Screen Shot 2015-03-07 at 10.34.08 AM

Sama dengan tabel di atas, hanya saja periode buy and holdnya lebih panjang yaitu 10 bulan atau hingga akhir tahun. Sama dengan periode investasi 6 bulan, semakin tinggi kenaikan IHSG, sebagai contoh untuk kenaikan IHSG minimal 15% dalam 1 bulan. Jika kamu melakukan buy and hold setelah IHSG mengalami kenaikan di atas 15% dalam satu bulan, kemungkinan kamu akan mengalami kerugian untuk 10 bulan ke depan menjadi 57%. Istilahnya kalau mau taruhan, 10 kali tebak, 6 kali salah.

Dengan asumsi hasil Februari selama 1 bulan adalah 3.04%, IHSG akhir Februari 5450, dan menggunakan rata-rata kisaran hasil investasi 10 bulan 18.88%, maka prediksi IHSG pada akhir tahun 2015 secara teknikal adalah 5450 x (1 + 18.88%) = 6478.

Cara yang sama kemudian saya ulang lagi, namun kali ini saya mengambilnya berdasarkan kinerja IHSG 2 bulan. Hasilnya sebagai berikut

Berdasarkan Kinerja 2 Bulan dan Strategy Investasi Buy and Hold Selama 6 Bulan Ke Depan

Screen Shot 2015-03-07 at 10.52.01 AM

Berdasarkan Kinerja 2 Bulan dan Strategy Buy and Hold Selama 10 Bulan Ke Depan

Screen Shot 2015-03-07 at 10.53.29 AM

Berdasarkan tabel di atas, dengan cara baca yang sama kelihatannya ada anomali pada kenaikan minimal 10%. Dimana, jika kita berinvestasi ketika IHSG mengalami kenaikan dengan persentase tersebut, peluang untuk mendapatkan keuntungan malah turun dengan signifikan. Peluang itu kembali naik ketika kenaikan IHSG mencapai minimal 15%. Hal yang sama terjadi baik untuk periode investasi 6 bulan ataupun 10 bulan. Saya tidak tahu mengapa bisa terjadi demikian, namun kemungkinan periode data yang kurang panjang menjadi penyebabnya.

Dengan asumsi hasil Februari selama 2 bulan adalah 4.27%, IHSG akhir Februari 5450, dan menggunakan rata-rata kisaran hasil investasi 10 bulan 17.44%, maka prediksi IHSG pada akhir tahun 2015 secara teknikal adalah 5450 x (1 + 17.44%) = 6400.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian saya di atas saya mendapatkan 2 kesimpulan sebagai berikut :

  • Ternyata baik dengan menggunakan periode 1 bulan maupun 2 bulan, ternyata jika investor mau melakukan strategy Riding The Market Wave atau beli ketika IHSG sedang naik, sepanjang kenaikannya dalam 1 atau 2 bulan masih dalam kisaran 3 – 5% atau 5 – 10%, peluang (probabilitas) untuk memperoleh keuntungan dalam waktu 6 bulan atau 10 bulan adalah di atas 70%
  • Peluang kenaikannya akan semakin kecil apabila kenaikannya sudah di atas 10% atau 15%. Pengecualian berlaku untuk periode pengukuran kinerja IHSG selama 2 bulanan dan jangka waktu buy and hold 6 dan 10 bulan
  • Berdasarkan analisa secara teknikal menggunakan metode probabilitas, peluang bagi IHSG untuk lebih tinggi dibandingkan posisi pada Februari 2015 ini adalah 76% – 77%. Berapa nilainya? dengan menggunakan kenaikan sesuai rata-rata adalah berkisar di antara 6400 – 6478

Apakah metode di atas cukup masuk akal bagi anda? Silakan menilai sendiri. Perlu diperhatikan bahwa hasil analisa di atas adalah berdasarkan murni analisa teknikal yang tidak melihat valuasi dan kinerja perusahaan. Dan sebagaimana disclaimer dalam investasi, kinerja masa lalu tidak selalu menjadi acuan untuk terulang di masa mendatang. Untuk analisa yang berdasarkan fundamental akan saya bahas dalam kesempatan yang lain karena masih menunggu publikasi laporan keuangan 2014.

Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto

Sumber data : Yahoo Finance dan Infovesta

  1. laksana
    March 15th, 2015 at 21:57 | #1

    Pak, kenapa perhitungan kenaikan/penurunan NAB di http://www.infovesta.com/ dan http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx kok beda ya? Saya harus mengacu kemana ya? Saya nasabah panin AM, biasanya buy jika NAB 1 bulan minus 5%, 10% dan 15% (jarang terjadi). Misal data tgl 13 Maret 2015, Panin Dana Maksima = 1 bulan = -1.14% (versi Panin) dan -0.82 (versi Infovesta) Mohon informasinya kenapa bisa beda jauh ya?

  2. danielasihombing
    March 16th, 2015 at 14:47 | #2

    selamat siang bapak,, mau tanya reksadana konevnsioanl dan reksadana syariah yang ideal itu seperti apa ya pak ? terimakasih sebelumnya

  3. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 15:17 | #3

    @laksana
    Salam Laksana,

    Kemungkinan pas kamu lihat, datanya belum diupdate. Per hari ini, datanya sudah benar dan sama dengan infovesta.

    Terima kasih atas perhatiannya, kami akan lebih teliti mengenai hal ini.

  4. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 23:22 | #4

    @danielasihombing
    Salam Daniel,

    Boleh lebih spesifik “ideal” itu maksudnya apa?

  5. danielasihombing
    March 17th, 2015 at 06:28 | #5

    salam pak rudiyanto,
    maksud ideal disini adalah reksadana syariah yang bagusnya seperti apa misal dari segi return bagusnya reksa dana syariah retunnya berapa ? ,, dan reksa dana konvensioanl dari segi return bagusnyaa berapa ? ,,

  6. Rudiyanto
    March 17th, 2015 at 16:34 | #6
  7. Ririn
    March 18th, 2015 at 14:42 | #7

    Dear Pak Rudi,

    Mungkin pertanyaan saya agak menyimpang dari tulisan Bapak di atas.
    Menurut analisa Bapak, mengapa nilai tukar rupiah thd US dollar makin melemah (saat ini kisaran 1USD-Rp. 13.000), namun nilai IHSG cenderung naik?
    Terima kasih kalau Pak Rudi berkenan menjawab. Atau lebih ok lagi kalau analisanya bisa dijadikan sebuah tulisan :-)

    Salam Investasi!

  8. Rudiyanto
    March 19th, 2015 at 22:59 | #8

    @Ririn
    Salam Ririn,

    Kalau mengenai mengapa USD bisa ke 13.000 anda bisa baca kultwit saya di https://twitter.com/egerfas/status/575418807201628160

    Kalau twitter saya ada di @rudiyanto_zh

    Mengenai mengapa IHSG cenderung naik, ya memang IHSG itu kalau tidak naik ya turun. Mengenai mengapa IHSG bisa naik, memang sejak awal outlook saya tahun ini bagus karena ada percepatan pertumbuhan ekonomi. Detailnya anda bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/12/26/persiapan-menjadi-investor-reksa-dana-2015/

    Semoga bermanfaat.

  9. Ririn
    March 20th, 2015 at 13:02 | #9

    Dear Pak Rudi,

    Thanks atas jawabannya Pak. Cukup mencerahkan setelah baca kultwit bapak.
    Semoga outlook tahun ini dan tahun-tahun mendatang benar-benar bagus. Amin.

 


%d bloggers like this: