Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Reksa Dana Trillion Club 2015

Reksa Dana Trillion Club 2015

Trillion Club 2015

Tahun 2014 yang baru saja berlalu merupakan tahun yang cukup baik bagi para investor reksa dana jika dilihat dari besaran tingkat return yang dihasilkannya. Bagi pelaku bisnis, tahun 2014 juga merupakan tahun yang cukup baik karena secara industri dana kelolaan menunjukkan pertumbuhan. Situasi agak berbeda dibandingkan tahun 2013 yang pada dasarnya tingkat return stagnan begitu pula dengan dana kelolaan industri.

Situasi yang kondusif ini memunculkan reksa dana Trillion Club (T-Club) yang baru. Buat anda yang belum tahu, reksa dana Trillion Club ini adalah reksa dana yang dana kelolaannya mencapai Rp 1 Triliun. Bagi Manajer Investasi, angka Rp 1 Triliun merupakan semacam milestone. Sebab untuk mencapai angka tersebut tidak mudah, apalagi bagi Manajer Investasi lokal. Tidak cukup hanya dengan kinerja yang bagus dan konsisten saja, tapi juga harus diimbangi dengan usaha pemasaran yang tidak mengenal lelah. Belum lagi dengan kompetisi yang semakin sengit karena Manajer Investasi baru bermodal besar terus bermunculan dari waktu ke waktu.

Untuk reksa dana saham yang mencapai T-Club, akan muncul tantangan baru lagi. Sedikit banyak investor akan memiliki anggapan bahwa kinerjanya yang baik pada saat dana kelolaannya kecil belum tentu mampu terulang lagi ketika dana kelolaannya besar. Tekanan Manajer Investasi untuk mengulang kinerja yang baik menjadi semakin besar, dan kalaupun gagal belum tentu dana kelolaan menjadi penyebab. Sebab baik buruknya hasil terkadang lebih banyak dipengaruhi strategi investasi. Ketika strategi yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi pasar, mau dana kelolaan besar atau kecil tetap saja bisa underperform. Untuk perbandingan kinerja reksa dana saham yang masuk T-Club dan tidak, bisa anda baca di referensi artikelnya di Trillion Club vs Billion Club.

Nah, di awal tahun 2015 ini, reksa dana mana saja yang masuk dalam kategori Trillion Club? Pada pembahasan kali ini, saya tidak hanya menampilkan reksa dana saham saja, tetapi juga reksa dana pasar uang, pendapatan tetap dan campuran.

Daftar Reksa Dana Trillion Club Berdasarkan Dana Kelolaan Akhir Desember 2014

Trillion ClubberSumber : Infovesta.com, diolah

Per tanggal 30 Desember 2014, terdapat 44 reksa dana T-Club yang terdiri dari 6 reksa dana pasar uang, 8 reksa dana pendapatan tetap, 3 reksa dana campuran dan 27 reksa dana saham. Hal ini juga sejalan dengan perubahan fokus investor dimana dari tahun 1996 – 2005 adalah di reksa dana pendapatan tetap. Pada waktu itu, investor masih belum begitu paham tentang reksa dana sehingga profil risiko amat konservatif. Pilihannya adalah reksa dana yang bisa memberikan hasil lebih baik daripada deposito dengan tingkat risiko yang tidak terlalu berbeda jauh. Pilihan akhirnya jatuh pada jenis reksa dana pendapatan tetap, sebab pemerintah juga memberikan fasilitas bebas pajak sehingga membeli obligasi melalui reksa dana lebih menguntungkan. Pada masa itu, jumlah reksa dana pendapatan tetap yang masuk ke T-Club lebih banyak dari sekarang.

Kemudian pada tahun 2005, terjadi krisis pada reksa dana pendapatan tetap yang menyebabkan investor beralih dari reksa dana pendapatan tetap ke reksa dana terproteksi. Fasilitas bebas pajak yang hingga sekarang menjadi diskon pajak juga turut mendukung perkembangan reksa dana terproteksi. Bagi investor perorangan, reksa dana terproteksi menawarkan fitur seperti deposito dan memberikan tingkat return yang lebih besar. Bagi investor institusi, menitipkan obligasi yang dimiliki pada reksa dana terproteksi lebih menguntungkan daripada berinvestasi langsung pada obligasi karena fasilitas pajak tersebut. Untuk reksa dana terproteksi, memang ada 3 produk yang masuk dalam T-Club. Namun sengaja tidak saya tampilkan karena reksa dana ini umumnya hanya bisa dibeli pada awal penawaran dan memiliki “Waktu Jatuh Tempo”. Sehingga tidak bisa diukur apakah dia bisa mempertahankan status T-Club di masa yang akan datang.

Seiring dengan perjalanan waktu, reksa dana saham semakin mendapat perhatian. Di tahun 2006 dan 2007, reksa dana saham mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan kenaikan IHSG yang mencapai puluhan persen. Meski mengalami koreksi besar pada tahun 2008, reksa dana saham pulih dengan cepat pada tahun 2009. Beberapa reksa dana saham bahkan mencatat keuntungan ratusan persen di tahun tersebut. Tingkat return yang tinggi ini kemudian bertahan di tahun 2010. Meski 2011 – 2013, return saham tidak terlalu bagus, investor yang sempat menikmati return tinggi pada tahun-tahun sebelumnya sudah mulai memahami risiko dan cara kerja reksa dana saham. Pada tahun 2014, reksa dana saham kembali mencatat rata-rata return di atas 20%, hal ini membuat masyarakat semakin memahami cara kerja reksa dana saham.

Dari sisi profitabilitas bagi perusahaan pengelola, reksa dana saham menawarkan tingkat profitabilitas paling tinggi. Oleh karena itu, berbagai Manajer Investasi dan Agen Penjual berlomba-lomba membuat dan menawarkan jenis produk tersebut. Tren ini kemungkinan akan bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga jenis reksa dana saham untuk 5 tahun ke depan saya perkirakan akan tetap menjadi penyumbang T-Club terbanyak.

Untuk jenis reksa dana pasar uang, terus terang cukup di luar dugaan saya karena T-Clubnya cukup banyak. Memang ada satu-dua reksa dana tersebut yang sepengetahuan saya, dananya merupakan berasal dari internal perusahaan. Namun beberapa reksa dana lain benar-benar merupakan kumpulan dana dari masyarakat luas. Memasarkan reksa dana pasar uang itu cukup sulit, karena selain returnnya yang tidak terlalu tinggi dan profitabilitas yang amat tipis, produk ini juga bersaing dengan deposito. Agen Penjual yang berasal dari bank kemungkinan akan sedikit ragu memasarkan produk tersebut karena menjadi kanibal dengan produk perbankan sendiri. Keberhasilan dari beberapa Manajer Investasi yang mencetak T-Club dari jenis reksa dana pasar uang ini merupakan prestasi yang patut dibanggakan.

Ada lagi 1 jenis reksa dana yang memiliki T-Club tapi tidak saya masukkan yaitu jenis reksa dana ETF. ETF atau Exchange Traded Fund adalah reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa. Saat ini terdapat 2 jenis ETF yaitu ETF saham dan ETF obligasi. ETF saham berdasarkan data belum ada yang masuk dalam T-Club. Satu-satunya yang masuk adalah ETF Obligasi, namun berhubung reksa dana ini hanya dikhususkan untuk suatu investor institusi tertentu saja maka tidak saya masukkan.

Bagi Manajer Investasi, Agen Penjual dan Investor yang produknya kebetulan belum masuk dalam T-Club ini tidak perlu berkecil hati. Untuk bisa masuk dalam kategori ini, memang dibutuhkan kerja keras, konsistensi, upaya pemasaran yang tidak mengenal lelah dan yang paling penting adalah “Waktu”. Dengan terus mempertahankan kinerja dan pelayanan yang baik, masuk ke T-Club adalah masalah cepat dan lambat saja. Meminjam istilah Warren Buffet :

 

Demikian sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua. Semoga semakin banyak reksa dana di Indonesia yang bergabung ke T-Club tahun ini.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Istockphoto dan Warren Buffet Quotes

Sumber Data : www.infovesta.com

  1. January 13th, 2015 at 08:03 | #1

    Pak Rudi,

    Kenapa dana kelolaan yang jadi patokan hanya satu triliun?
    Kenapa tidak sejuta triliun?
    Terimakasih

  2. William
    January 13th, 2015 at 09:10 | #2

    Dear Pak Rudi,

    Boleh bertanya khusus untuk RD Trilion Club ini.
    1. Dengan AUM yang sudah sedemikian besarnya, apakah RD trilion ini kinerjanya menjadi terbatas ibaratnya kegemukan, sehingga fleksibilitas dalam merubah racikan menjadi kurang gesit dibandingkan dengan RD yang AUM nya masih di bawah kategori ini.
    2. Masih terkait dengan AUM yang sedemikian besarnya, bagaimana strategi manajer investasi dalam meracik RD nya (misal Panin Dana Maksima) setiap bulan / setiap semester / setiap kuartal dengan tujuan ROI RD tersebut dapat maksimal dan memberikan manfaat bagi nasabah ? Hal ini saya tanyakan karena RD Trilion Club ini sepertinya tidak tumbuh semaksimal RD dengan dana kelolaan di bawah kategori ini. Di luar status konsistensi, hal itu saya percaya sudah tercermin dari dana kelolaan RD Trilion itu sendiri.

    Terima kasih Pak Rudi.

  3. Rudiyanto
    January 13th, 2015 at 09:38 | #3

    @ling ling
    Pagi Ibu Ling Ling,

    Kamu tahu jumlah nol dari sejuta triliun itu ada berapa?

  4. Rudiyanto
    January 13th, 2015 at 09:45 | #4

    @William
    Pagi Pak William,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Silakan baca link artikel yang saya taroh di awal http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/29/reksa-dana-saham-trillion-club-vs-billion-club/
    2. Kalau mengenai strategi anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/06/09/panin-dana-maksima-prima-syariah-saham-atau-ultima-pilih-mana-2/
    Mengenai reksa dana yang performanya menurut anda “sepertinya” tidak maksimal tersebut menurut saya juga tidak sepenuhnya benar karena artikel pada link paragraf awal tersebut sudah terdapat studi yang membantah hal tersebut. Perihal reksa dana kinerjanya maksimal atau tidak adalah lebih ke strategi investasinya sesuai dengan kondisi pasar atau tidak.

    Silakan dibaca dulu, terima kasih.

  5. Ririn
    January 14th, 2015 at 08:18 | #5

    Semangat pagi Pak Rudy. Mengenai dana kelolaan ini , awalnya saya mengira semakin besar dana yang dikelola otomatis semakin tinggi harga NAB nya. Tapi saya lihat tidak begitu. Contoh Panin Dana Maksima, dana kelolaan 6T, NAB sekitar 73ribu sekian sedangkan Schroder Dana Prestasi Plus, dana kelolaan 9T, NAB nya 27rb sekian, bahkan BNP Paribas Infrastruktur Plus dana kelolaan sudah mencapai 7T tapi NAB cuma 3rb sekian.
    Pertanyaan saya, mengapa bisa begitu? Faktor apa yang menyebabkan?
    Terima kasih.
    Salam investasi!

  6. Rudiyanto
    January 14th, 2015 at 12:49 | #6

    @Ririn
    Semangat Pagi Juga Ririn,

    Pertanyaan yang sangat bagus. Ketika kita berbicara Jumlah Dana Kelolaan atau Nilai Aktiva Bersih (NAB), besar kecilnya lebih ditentukan oleh kemampuan penjualan. Tentu, produk yang dijual juga mesti punya track record dan kinerja juga, tapi kalau yang jualan jago, meskipun produk baru tetap bisa dipasarkan.

    Ketika kita berbicara harga reksa dana atau Nilai Aktiva Bersih per Unit (NAB/Up), besar kecilnya ditentukan oleh kondisi pasar (IHSG), keberhasilan strategi investasi (pilihan sahamnya naik tinggi) dan waktu. Semakin tinggi kenaikan IHSG, semakin jitu pilihan saham reksa dana dan tentunya supaya strategi berhasil dibutuhkan waktu bertahun-tahun, semakin tinggi harga reksa dananya.

    Apakah sudah menjawab pertanyaan anda?

  7. Ririn
    January 14th, 2015 at 13:13 | #7

    Pak Rudy, menanggapi jawaban Bapak, artinya apakah jika jumlah dana kelolaan sudah cukup besar, namun NAB nya pergerakannya lambat, bisa dikatakan RD tersebut kinerjanya kurang bagus?. Namun yang masih membuat saya bertanya, kalau saya lihat di infovesta, RD dengan AUM besar tapi NAB kecil seperti itu, return 1 tahun nya di atas 20% (contoh Schroder Dana Prestasi Plus). Bukankah itu kinerja yang bagus?
    Jadi AUM besar, NAB kecil tapi returnnya bagus. Mungkinkah?

    Terima kasih.
    Salam investasi!

  8. Rudiyanto
    January 14th, 2015 at 13:32 | #8

    @Ririn
    Dear Ririn,

    Harus jelas bahwa Jumlah Dana Kelolaan = NAB. Harga = NAB/Up.

    Jika maksud kamu NAB/Up itu pergerakannya lambat, definisi lambat itu apa? Dan NAB/Up kecil, itu definisi kecil apa? Definisi kinerja yang bagus itu berapa % ?

    Dan apakah kamu sudah memperhitungkan unsur waktu? Return reksa dana yang bagus, tapi kalau baru terbit 1-2 tahun sebagus apapun tentu tidak akan mencapai harga puluhan ribu juga.

  9. Ririn
    January 14th, 2015 at 15:49 | #9

    Dear Pak Rudy,

    Maaf saya menulis kurang jelas di komen sebelumnya.
    Maksud saya begini, saat terbit pertama kali sebuah RD harganya Rp. 1.000/unit. Jika RD sudah lebih dari 10tahun, misal 15th, kemudian dana kelolaan sudah sampai 7T, mungkinkan harganya (NAB/up) nya masih berkisar 3ribu?
    Dengan memperhitungkan waktu, pemikiran awam saya, pergerakan NAB/up tersebut sangat lambat. Namun kalau dilihat kinerjanya dalam 1 tahun bisa mencapai diatas 20%, dalam 5th mencapai 74%, menurut saya untuk RD saham sudah bagus (saya membaca prospektus). Defisi bagus menurut saya, return di atas rata2 IHSG.
    Nah, pertanyaannya, mengapa bisa terjadi sebuah RD yang sudah berusia 15th, dengan AUM (dana kelolaan) cukup besar (7T), namun nilai NAB/up nya masih di bawah 10ribu tapi bisa memberi return diatas rata2 IHSG.

    Terima kasih.
    Salam Investasi!

  10. January 15th, 2015 at 07:46 | #10

    @Rudiyanto
    Cem mana tanya gitu..
    Saya biasa pegang uang setengah juta triliun, saya taruh di reksanada di Amrik, namanya mutual fun and happy.

  11. jonball
    January 15th, 2015 at 08:24 | #11

    @ling ling
    setengah juta triliunnya $ Zimbabwe kaleeeeee,,,,setngah juta triliun berarti klo rupiah Rp 500.000.000.000.000.000,00 >>>>>> berapa kali PDB indonesia yg biasa sis ling ling pegang tuh wkwkwk

  12. Rudiyanto
    January 15th, 2015 at 09:09 | #12

    @Ririn
    Dear Ririn,

    Apakah ada contoh reksa dana secara spesifik? Kemudian menurut kamu kalau sudah 15 tahun dan 7 T, itu harganya seharusnya berapa?

  13. Rudiyanto
    January 15th, 2015 at 09:30 | #13

    @ling ling
    Untuk Ling-Ling yang komentar tanpa menggunakan akal sehat,

    Kekayaan Warren Buffet per awal 2015 sekitar 72,5 Milliar USD dengan kurs 13.000 sekitar Rp 942 triliun. Berarti kamu 530 kali lebih kaya dari dia dan saya yakin kamu pasti berbohong.

    Terima kasih.

  14. Ririn
    January 16th, 2015 at 10:32 | #14

    Dear Pak Rudy,

    Saya menyebut contoh spesifik product tidak apa2 ya. Contoh yang saya maksud RD Schroder Dana Prestasi Plus (usia 14th, AUM 7M, NAB/unit = 3rb sekian). Saya hanya membandingkan dengan Panin Dana Maksima yang berusia hampir 18th, AUM 6T tapi harga NAB/unit sudah mencapai 73rb sekian. Selisih NAB/Unitnya sangat jauh jika dibanding usia nya yang terpaut 4th.
    Saya hanya ingin tahu, faktor apa yang bisa menyebabkan seperti itu? Apakah usia dan AUM tidak berbanding lurus dengan harga NAB/unit?

    Terima kasih.
    Salam Investasi!

  15. Rudiyanto
    January 16th, 2015 at 10:39 | #15

    @Ririn
    Salam Ririn,

    Kalau itu saya yakin kamu salah baca. Coba lihat yang benar harga Schroder Dana Prestasi Plus itu berapa di http://www.infovesta.com
    Dan kamu masih belum menjawab pertanyaan saya, yang wajar itu seharusnya berapa.

  16. Ririn
    January 16th, 2015 at 13:08 | #16

    Dear Pak Rudy,

    Ups… mohon maaf saya salah baca, kebalik2 karena namanya sama2 ada Plus nya. Maksud saya BNP Paribas Infrastruktur Plus, Usia 8th, AUM 7M, NAB/up 3rb sekian. Dilihat AUM nya tidak jauh dari AUM nya Panin Dana Maksima, sedang usianya bisa dikatakan jauh karena separo lebih, tapi NAB/up nya sangaattt jauh (menurut logika awam saya), 3rb dibanding 73rb kan sangat jauh.

    Kalau bicara NAB/up yang wajar, saya tidak tahu harusnya berapa. Tapi lagi2 dari kacamata awam saya, jika dibandingkan dengan RD yang AUM hampir sama, misal dengan Panin Dana Maksima atau Schroder Dana Prestasi Plus, walaupun usianya paling muda, NAB/up BNP Paribas Infrastruktur Plus setidaknya sudah di atas 10rb (antara 10rb-20rb).

    Justru saya ingin tahu, mengapa usia RD yang bisa dikatakan lumayan matang, AUM besar tapi NAB/up nya kecil. Faktor apa yang mempengaruhi?

    Terima kasih.
    Salam Investasi!

  17. Cristian Sinaga
    January 16th, 2015 at 23:52 | #17

    Salam kenal pak rudiyanto, saya seorang pegawai dengan penghasilan bulanan bersih 3 juta/bulan. Saya juga memiliki fasilitas bonus sebesar 1 x gaji sebesar 4,5 juta yg dibayarkan sebanyak 6 x dalam setahun. Dan juga bonus tahunan rata rata 5-6 x gaji yg dibayarkan 1 x dalam setahun. Saya tertarik untuk berinvestasi di reksadana, dan setelah saya lihat dana reksa Panin tergolong yg berprestasi terbaik. Mohon petunjuk, kira kira produk investasi yg cocok untuk saya di Panin tersebut. Terimakasih

  18. Dada
    January 17th, 2015 at 06:00 | #18

    Dear Pak Rudy,

    Menurut saya, informasi ttg T-Club ini mmg perlu diketahui oleh otoritas dan pengelola di industri reksa dana. Tapi untuk Investor retail, apa yah actionable takeout-nya?

    Kita, Investor Retail, hanya perlu tahu: (1) Per jenis, 10 RD mana yg kinerjanya terbaik? (2) 10 MI mana yg punya reputasi terbaik? Soal detail dan parameter untuk menentukan mana yg ‘terbaik’ tentu menjadi subjek yang berbeda lagi.

    AUM memang bisa menjadi indikasi untuk menjawab pertanyaan (2) karena makin besar AUM asumsinya makin banyak investor percaya, makin baik reputasinya. Tapi angka AUM itu pun bisa misleading krn AUM satuannya Rupiah bukan Jumlah Orang. Bisa jadi Jumlah AUM besar karena banyak Investor Institusi di situ atau uangnya MI sendiri yang diputar di situ. Yang fair, yah dihitung rata-rata per investor punya nilai reksa dana berapa di RD bersangkutan.

    Jadi pemahaman saya, T-Club ini hanya informasi ‘NICE TO KNOW’ aja bagi kita Investor Retail. Saya tidak melihat informasi ini bisa membantu secara langsung untuk kita membuat keputusan investasi (i.e. beli RD yg mana?).

    Mohon pencerahannya Pak Rudi. Mohon maaf kalau saya keliru dalam hal ini.

    Terima kasih!

  19. Rudiyanto
    January 19th, 2015 at 18:47 | #19

    @Ririn
    Salam Ririn,

    Dalam membandingkan kinerja reksa dana, prinsip yang harus digunakan adalah menggunakan periode waktu yang sama. Hanya karena NAB/Up Panin Dana Maksima yang berusia 17 tahun lebih tinggi daripada reksa dana lain yang usianya 8 tahun, tidak serta merta reksa dana tersebut lebih baik atau sebaliknya.

    Yang benar adalah membandingkan kinerja kedua reksa dana dalam periode waktu yang sama. Misalkan dari 1 Januari 2010 – 1 Januari 2015.

    Apakah anda bisa membandingkan harga reksa dana berusia 5 tahun yang terbitnya pada 1 Januari 2010 dengan reksa dana sama yang berusia 5 tahun tapi periodenya 1 Januari 2005 – 1 Januari 2010? Tidak bisa. 5 tahun dari periode 2005 – 2010 tentu berbeda dengan 5 tahun periode 2010 – 2015.

    Ambil contoh yang gampang saja, anda melihat harga wajar reksa dana yang usianya 1 tahun. Kalau reksa dana tersebut terbit tahun 2014 awal, maka harga wajarnya adalah di kisaran 1200 karena return IHSG pada tahun yang sama adalah sekitar 20an persen. Akan tetap jika kamu melakukan riset yang sama dengan menggunakan data tahun 2008, maka harga yang wajar adalah sekitar 500, karena IHSG turun 50% pada tahun tersebut.

    Reksa dana saham berusia 1 tahun pada akhir 2008 yang harganya 750 dan mengalami kerugian 25% dalam 1 tahun menurut saya lebih baik daripada reksa dana saham yang sama-sama berusia 1 tahun pada akhir 2014 dan harganya 1100 atau untung 10%.

    Jadi sekali lagi, kamu tidak bisa membandingkan kinerja reksa dana berdasarkan usia dalam periode yang berbeda.

    Kembali ke pertanyaan anda, kalau menurut saya kamu perlu mengukur kinerja reksa dana BNP Paribas Infrastruktur Plus dan IHSG dalam kurun waktu yang sama, jika memang hasilnya lebih baik maka besaran harganya menurut saya tidak terlalu masalah.

    Faktor yang mempengaruhi harga reksa dana, pada dasarnya adalah apakah strategi yang dijalankan berhasil atau tidak, kinerja IHSG selama masa reksa dana tersebut dan tentunya waktu.

    Semoga bermanfaat.

  20. Rudiyanto
    January 19th, 2015 at 19:11 | #20

    @Cristian Sinaga
    Salam Pak Christian,

    Terima kasih atas sharing informasinya. Kalau saya analisa, meskipun gaji anda baru Rp 3 juta per bulan, tapi penghasilannya cukup banyak juga ya
    Gaji 12 x Rp 3 Juta = Rp 36 juta
    Bonus 6 x Rp 4.5 = Rp 27 juta
    Bonus Tahunan (asumsi) 6 x Rp 3 juta = Rp 18 juta
    THR = Rp 3 Juta
    Total Rp 84 juta kalau dibagi 12 berarti sekitar Rp 7 juta per bulan.

    Apabila anda tertarik untuk berinvestasi saran saya :
    1. Cek Kesehatan Investasi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/ Kalau sudah sehat, baru investasi dengan cara membuat perencanaan keuangan
    2. Buat rencana keuangan caranya bisa http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/
    3. Pilihan reksa dana dengan contoh reksa dana Panin Asset Management sebagai berikut:
    Tujuan Keuangan 5 tahun = Reksa Dana Saham (Panin Dana Maksima, Panin Dana Prima, Panin Dana Ultima dan Panin Dana Syariah Saham)
    Tujuan Keuangan 3 – 5 Tahun = Reksa Dana Campuran (Panin Dana Prioritas, Panin Dana USD, Panin Dana Syariah Berimbang, Panin Dana Unggulan, dan Panin Dana Bersama Plus)
    Tujuan Keuangan 1 – 3 Tahun = Reksa Dana Pendapatan Tetap (Panin Dana Utama Plus 2)
    Tujuan Keuangan < 1 Tahun = Reksa Dana Pasar Uang (Panin Dana Likuid)

    Semoga bermanfaat.

  21. Rudiyanto
    January 19th, 2015 at 20:44 | #21

    @Dada
    Salam Pak Dada,

    Kalau menurut saya memang kamu itu keliru karena:
    1. Yang namanya Otoritas Jasa Keuangan dan Pengelola Reksa Dana sudah tahu dan memiliki data tersebut karena data yang sama bisa diakses dari website OJK ataupun website infovesta, dimana sebagian besar pelaku industri menggunakan website tersebut.

    2. Kita atau Investor Retail menurut bahasa anda, hanya menggunakan 2 kriteria, itu menurut saya adalah pernyataan yang sangat subjektif. Pertama apa definisi kinerja terbaik? apakah berdasarkan risk, return atau satuan lainnya. Kemudian berapa lama periodenya. Jika suatu reksa dana ranking 11 untuk kinerja 10 tahun, tapi rangking 1 untuk kinerja 1 tahun apakah masuk kriteria terbaik atau tidak?

    Dan kalau benar “Kita” atau “Investor Retail” adalah cukup melihat 10 reksa dana terbaik menurut kategori tertentu saja, maka apakah itu berarti semua reksa dana di luar 10 terbaik tersebut harus dijual semua? Saya sangat yakin sekali sebagian besar dari reksa dana T-Club di atas tidak termasuk dalam kategori 10 reksa dana terbaik katakanlah berdasarkan return 1 tahun menurut masing-masing kategori. Apalagi di reksa dana saham, sebab jumlahnya saja sudah lebih dari 10. Namun mengapa reksa dana tersebut tetap dibeli oleh masyarakat? Artinya ada sebagian besar investor yang punya pertimbangan yang berbeda dengan kriteria “investor retail” versi anda.

    Pada prakteknya, mengapa orang membeli reksa dana itu dipengaruhi banyak hal. Ada yang melihat reputasi, ada yang percaya pada iklannya, ada yang melihat dana kelolaan yang besar, ada yang melihat kinera seperti anda, ada yang melihat siapa yang jualan apakah itu kenalannya, ada juga yang cuma iseng2 ikutan tanpa ngerti apapun. Ada pula orang kombinasi atau gabungan dari semua faktor di atas.

    Jadi buat kamu, jika informasi T-Club adalah sesuatu yang Nice to Know, buat orang lain bisa saja All He or She have to Know, Know Little Little, atau Don’t Know / Care at all. Demikian juga kinerja 10 terbaik dan reputasinya. Sebab bisa saja dia beli karena yang jualan adalah saudaranya.

    Pemilihan reksa dana adalah sesuatu yang subjektif. Informasi yang tidak penting menurut kamu, mungkin sangat penting bagi orang lain tergantung bagaimana dia mengambil keputusan.

    3. Soal AUM juga saya punya pendapat lain. Memang benar, bisa saja AUM yang besar itu karena dana pribadi milik perusahaan yang diputar disitu. Tapi tahukah bahwa Rp 1 Triliun itu uang yang sangat banyak. Kalau suatu perusahaan sampai punya uang kas Rp 1 Triliun untuk diinvestasikan di reksa dana kelolaannya sendiri saya yakin itu pasti perusahaan yang sangat bonafit.

    Mengukur kepercayaan berdasarkan rata-rata dana kelolaan per investor juga merupakan indikator yang kurang tepat. Apakah jika perusahaan A memiliki rata-rata dana kelolaan per nasabah Rp 100 juta dengan 1000 nasabah reputasinya kalah dibandingkan dengan perusahaan B yang rata-rata dana kelolaan per nasabah Rp 10 juta tapi nasabahnya 10.000 orang? Belum tentu, bisa perusahaan A menyasar segmen atas yang populasinya lebih sedikit dibandingkan perusahaan B yang menyasar segmen nasabah kelas menengah yang populasinya lebih banyak. Jadi rata-rata per investor adalah hasil dari strategi bisnis. Dan tahukah anda, kalau sebagian Manajer Investasi tidak menjual produknya langsung ke perorangan tapi melalui Bank Agen Penjual, sehingga secara pelaporan jumlah nasabah dia adalah sejumlah agen penjualnya.

    Kalau segmennya sama, katakanlah sama-sama kelas atas, barulah fair jika mengatakan yang satu lebih dipercaya karena jumlah nasabahnya lebih besar.

    Pada dasarnya karena pemilihan reksa dana itu sifatnya subjektif, maka tidak masalah jika anda sendiri mengganggap bahwa indikator reksa dana T-Club tidak penting. Namun jika mengganggap bahwa seluruh investor perorangan tidak memerlukannya maka itu adalah pandangan yang keliru menurut saya.

    Demikian semoga bermanfaat.

  22. Dada
    January 19th, 2015 at 21:12 | #22

    @Rudiyanto
    Terima kasih Pak Rudi untuk Analisis Semantiknya terhadap Pandangan saya ttg AUM.

    Tapi kalau boleh tolong dijawab PERTANYAAN saya diatas: “…untuk Investor Retail, apa yah actionable takeout [dari ISI ARTIKEL Anda di atas yg ttg AUM tsb]?” Informasi dan Insight apa yg bisa kita pakai (bila ada) untuk membantu dalam menyaring & memilih RD?

    Jadi anggaplah saya ini ingin belajar bagaimana AUM bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan memilih RD. Saya minta pendapat Pak Rudi sebagai Penulis Artikel di atas dan tentu sebagai Analis RD.

    Terima kasih banyak.

  23. Rudiyanto
    January 19th, 2015 at 21:23 | #23

    @Dada
    Salam Pak Dada,

    Kalau untuk artikel di atas, sifatnya memang hanya informasi. Seperti Judulnya Reksa Dana Trillion Club 2015, artikel ini memberikan informasi kepada pembaca reksa dana apa saja yang sudah masuk kategori T-Club tahun 2015 berdasarkan dana kelolaan akhir 2014.

    Kalau kamu butuh yang actionablenya bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/29/reksa-dana-saham-trillion-club-vs-billion-club/

    Semoga bermanfaat.

  24. Andreas
    January 29th, 2015 at 15:22 | #24

    @Ririn
    Salam Pak Rudy, kalau boleh saya menambahkan komentar tentang pertanyaan Bu Ririn.

    sekilas saya melihat ‘nama’ produk reksa dana yang di sebut oleh Bu Ririn, Panin Dana Maksima) PDM, (schroder Dana Prestasi Plus) SDPP dan BNPP Infra Plus. Jika saya ingin membandingkan ketiganya tentu BNPP Infra Plus akan saya keluarkan dari analisa saya, karena produk ini merupakan produk tematik (terliat dari namanya, fokus kepada saham – saham terkait infrastruktur) sudah pasti tolok ukurnya akan berbeda (silahkan Bu ririn cek ke fund factsheet dari masing – masing produk tersebut)

    Mengenai NAB dan tanggal peluncuran, belum tentu produk yang sudah lama luncur, NAB-nya menjadi mahal (misal diatas Rp. 20rb). Sepengetahuan saya, bisa saja MI membuat kebijakan untuk me-reset harga NAB suatu reksadana menjadi Rp.1.000…sehingga saran pak Rudy untuk membandingkan produk dalam kurun waktu yang sama adalah yang paling tepat..tapi saya tambahkan, sebaiknya produk tersebut juga sebaiknya ‘setipe’…

  25. Rudiyanto
    January 30th, 2015 at 13:44 | #25

    @Andreas
    Selamat siang Pak Andreas,

    Terima kasih atas masukan dari anda.

    Mengenai komentar anda bahwa perlu adanya produk yang dikeluarkan karena salah satunya merupakan produk tematik, saya tidak begitu sependapat. Sebab menurut saya suatu reksa dana baru bisa dikatakan tematik apabila dalam prospektus dan Kontrak Investasi Kolektifnya disebutkan hanya bisa berinvestasi dalam saham sektor tertentu secara spesifik. Misalkan saham yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia, maka reksa dana tersebut bisa disebut reksa dana saham syariah. Dengan demikian tidak bisa dibandingkan dengan reksa dana saham konvensional.

    Nah, jika misalkan investasinya seperti yang anda sebut adalah saham-saham yang terkait infrastruktur, apakah bisa diterima apabila terdapat saham perbankan yang merupakan sektor finansial dikategorikan sebagai reksa dana dengan tema infrastruktur?

    Terlepas dari itu, semua produk yang disebutkan di atas menurut saya merupakan produk baik yang bisa menjadi pertimbangan investor karena sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan baik reksa dana maupun Manajer Investasi Pengelolanya. Selain itu, ketiga perusahaan telah memiliki sejarah panjang untuk mengelola reksa dana di Indonesia.

    Kemudian sehubungan dengan MI yang mereset harga menjadi Rp 1000, sepanjang sejarah saya bekerja di Industri di Pasar Modal, saya hanya pernah melihatnya 1 kali. Namun dalam pandangan saya, tindakan mereset NAB/Up merupakan keputusan pemasaran yang teramat buruk karena :
    1. Reksa dana yang sudah memiliki track record tentu akan semakin dihargai masyarakat karena industri reksa dana merupakan industri berbasis kepercayaan. Seberapa lama kamu sudah ada di industri ini, salah satunya bisa dilihat dari harga reksa dana merupakan faktor yang dapat menambah kepercayaan.
    2. Tindakan mereset harga menimbulkan kesan, seolah2 kinerja lama tidak baik sehingga perlu direset dan dirahasiakan dari investor.
    3. Ketidakmampuan menjelaskan ke investor dan calon investor bahwa kinerja reksa dana tidak dipengaruhi oleh harga tetapi keberhasilan strategi investasinya.

    Nah, kalaupun harus melakukannya menurut saya alasannya haruslah sangat fundamental. Seperti reksa dana tersebut dulunya membagikan dividen dan sekarang tidak. Pembagian dividen mempengaruhi kinerja reksa dana karena akan membuat seolah-olah harga reksa dana turun. Padahal penurunan itu karena pembagian dividen. Dengan mereset harga ke 1000, karena kebijakannya berubah, menurut saya masih bisa diterima.

    Bisa juga, ada Manajer Investasi baru yang gengsinya sangat tinggi sehingga tidak mau kinerja dari Manajer Investasi sebelumnya dikaitkan. Sementara perusahaan kesulitan untuk membuat reksa dana baru. Tapi itu menurut saya, hal itu juga bukan alasan yang terlalu fundamental.

    Demikian masukan saya, terima kasih

  26. Hari Yogeswara
    February 13th, 2015 at 16:54 | #26

    Selamat Sore pak rudiyanto, saya mau sharing pengalaman dan sedikit bertanya. Pada tgl 3 februari 2015 kemarin saya memutuskan untuk membeli reksadana melalui bank agen penjual yaitu bank commonwealth. Disana saya membeli beberapa produk reksadana diantaranya :
    1. Pasar Uang : Mandiri Investa Pasar Uang
    2. Pendapatan Tetap : Schroder Dana Mantap Plus II
    3 Campuran : Schroder Dana terpadu II
    4. Saham : 1. BNP Paribas Infrastruktur Plus
    2. Schroder Dana Istimewa
    pertanyaan saya menurut bapak apakah pilihan saya ini sdh tepat ? dan bagaimana prospek reksadana yg saya pilih ini 3-5tahun kedepan ?

    Kedua: saya sebenarnya ingin membeli reksadana besutan Panin Aset Management, tetapi saya bingung harus datang kemana untuk membeli reksadana tersebut ? apakah bank panin menjual produk reksadana besutan Panin Aset Management ? Lokasi saya di denpasar bali pak

    • Rudiyanto
      February 13th, 2015 at 17:20 | #27

      Selamat Sore Pak Hari,

      Pertama, saya ingin mengucapkan selamat karena telah berhasil menjadi investor reksa dana. Mengenai pilihan reksa dana anda, Mandiri Manajemen Investasi, Schroder Investment Management Indonesia, BNP Paribas Investment Partners adalah perusahaan yang sudah terdaftar di OJK, demikian pula dengan nama produk yang anda sebutkan di atas. Jadi dari sisi legalitas sudah tidak perlu lagi anda khawatirkan.

      Mengenai apakah tepat atau tidak, pada prinsipnya untuk tujuan keuangan 3 – 5 tahun, jenis reksa dana yang cocok adalah reksa dana campuran dan reksa dana saham. Kalau Pasar uang untuk < 1 tahun, dan Pendapatan Tetap 1 – 3 tahun. Mengenai prospek, saran saya anda bisa bertanya dengan agen penjual yang bersangkutan karena mereka pasti bisa memberikan penjelasan yang lebih baik.

      Apabila anda ingin membeli reksa dana Panin Asset Management di Denpasar Bali, anda bisa menghubungi agen penjual yaitu Panin Sekuritas Cabang Bali di
      Gedung Panin Bank , Lantai 3
      Jl.Patih Jelantik , komplek pertokoan Kuta Galeria Blok 1 valet 7
      Phone : 0361 7152 999
      E-mail: denpasar@pans.co.id

      Sebagai informasi, pada tanggal 14 Maret nanti saya juga akan menyelenggarakan seminar di Bali. Untuk informasi lebih lengkap akan saya update menjelang akhir bulan ini. Anda juga bisa bertanya ke cabang Panin Sekuritas Bali mengenai hal ini.

      Terima kasih

  27. Hari Yogeswara
    February 13th, 2015 at 20:21 | #28

    Ya pak, semoga saya dapat hadir dalam seminar yg bapak selenggarakan di bali. Bapak dalam sebuah artikel yg bapak tulis, bapak pernah menyebutkan bahwasanya reksadana saham yg ideal dimiliki untuk satu tujuan keuangan adalah 3-5 reksadana saham, sedangkan saya baru memiliki dua reksadana saham, jika bapak berkenan memberi saran kepada saya, produk reksadana saham apakah yg sebaiknya saya ambil untuk melengkapi koleksi reksadana saham saya ?

    Terimakasih

  28. Rudiyanto
    February 15th, 2015 at 14:53 | #29

    @Hari Yogeswara
    Selamat Sore Pak Hari,

    Coba dibaca sampai dengan detail di bagian kesimpulan. Rekomendasi saya adalah 1 reksa dana 1 tujuan keuangan.

    Semoga bermanfaat.

  29. Hari Yogeswara
    February 21st, 2015 at 15:30 | #30

    Ya pak, terimakasih telah menjelaskan detail kepada saya, saya ingin bertanya pak mengenai supermarket reksadana ? dan supermarket apa yang bapak rekomendasi ? Mohon penjelasannya pak

    terimakasih, sukses terus buat bapak

  30. Rudiyanto
    February 24th, 2015 at 00:55 | #31

    @Hari Yogeswara
    Salam Pak Hari,

    Pada dasarnya Supermarket Reksa Dana adalah bahasa pemasaran. Bahasa yang resmi adalah Agen Penjual Reksa Dana (APERD). Dimana ada institusi yang mendapat izin dari OJK untuk memasarkan reksa dana. Karena ada berbagai produk yang dipasarkan, institusi tersebut mengklaim dirinya sebagai supermarket reksa dana. Hal ini tentu bagus karena supermarket reksa dana lebih mudah dipahami daripada agen penjual reksa dana.

    Mengacu pada istilah di atas, pada dasarnya semua Bank yang mendapat izin sebagai Agen Penjual Reksa Dana dari OJK, beserta sekuritas dan institusi lainnya adalah supermarket reksa dana. Mengenai mana yang baik, pada prinsipnya sama seperti kita memilih belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket. Ada yang mencari supermarket dengan produk yang lengkap atau ada produk yang dijualnya, ada juga yang mencari supermarket dengan pelayanan yang prima.

    Mengenai mana yang lebih baik, tentu masing2 orang punya pendapat sendiri. Saran saya anda bisa mencoba satu persatu untuk mendapatkan mana yang paling baik.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih

  31. paul’s
    March 6th, 2015 at 11:16 | #32

    Selamat siang pak Rudi,

    Saya setuju dengan pendapat Bpk, bahwa RD merupakan suatu wadah dari dana yang dikumpulkan baik dari perorangan ataupun bukan seperti definisinya. Mengenai RD T-Club, menurut pendapat saya itu merupakan “pencapaian” dari MI dalam memasarkan produk RD nya dan secara logika sederhana MI yang telah memiliki produk RD dengan dana kelolaan hingga Triliun-an rupiah, tentu saja akan mengelolanya dengan lebih berhati-hati. Ibaratnya, seperti nakhoda yang membawa kapal tanker crude oil dengan DWT yang ratusan ribu Ton, dibandingkan dengan nakhoda yang membawa kapal barang hanya puluhan ribu Ton.

    Agar penilaian bisa lebih mendekati obyektif, seperti tanggapan saya di artikel “Panduan mencari harga RD”, saya membuat perbandingan beberapa RD unggulan dengan jumlah kelolaan yang telah mencapai Triliunan rupiah dengan data2 sbb:
    - Informasi umum : Nama MI, Alamat/no telp, izin usaha, kepemilikan, modal, Manajemen,
    dana kelolaan total, produk unggulan, bank kustodian, Agen penjual, prospektus/FSS
    (termasuk didalamnya kinerja historis dari RD tsb) .
    - Aktifitas selama beberapa tahun terakhir dari RD unggulan tsb.

    Demikian komentar dari saya, teriring salam.

  32. Nico
    March 6th, 2015 at 16:26 | #33

    Selamat sore Pak Rudiyanto,
    1) Saya ingin bertanya, jika saya ingin membeli produk reksadana saham, nah saham itu kan berisiko. Bagaimana kira-kira caranya menentukan produk reksadana yang paling baik, tetapi tidak hanya berdasarkan besar pengembaliannya saja yang ada di fund fact?

    2) Memilih produk-produk yang berada di T-Club itu kelebihannya apa saja ya pak dibandingkan B-Club ? Apakah memiliki kinerja bagus? Apakah promosi produknya gencar? Apakah nama produknya populer di masyarakat? atau gabungannya?

    3) Satu lagi, T-Club itu yang menciptakan siapa sih pak? dan sejak kapan istilah ini muncul?

    Salam sukses, Terima kasih. :)

  33. Rudiyanto
    March 8th, 2015 at 22:58 | #34

    @paul’s
    Selamat Malam Paul,

    Terima kasih atas tanggapan yang diberikan. Sebagaimana komentar saya, data yang anda butuhkan semuanya tersedia di website OJK. Anda hanya perlu lebih teliti mencarinya.

    Semoga bermanfaat.

  34. Rudiyanto
    March 8th, 2015 at 23:11 | #35

    @Nico
    Selamat Malam Pak Nico,

    Berkaitan dengan pertanyaan anda,

    1. Investasi merupakan seni bukan ilmu pasti. Memang ada berbagai metode, media atau lembaga yang mencoba memberikan informasi apakah suatu reksa dana masuk dalam kategori terbaik atau bukan. Namun investor harus menyadari bahwa yang namanya terbaik itu sangat tergantung pada metode yang digunakan, pembobotan pada berbagai indikator jika ada beberapa metode dan periode pengukuran.

    Sebagai contoh, suatu reksa dana jika dinilai menggunakan periode 5 tahun masuk kategori yang terbaik, sementara jika menggunakan 3 tahun tidak. Dan dari pengalaman saya bertahun-tahun, tidak ada satupun reksa dana yang bisa menang di semua periode. Hal ini karena tidak ada reksa dana saham yang mampu mengalahkan IHSG setiap tahunnya secara konsisten. Pasti ada periode dimana kinerjanya lebih baik dan sebaliknya.

    Jadi, dalam memilih reksa dana terbaik anda bisa mengikuti hasil publikasi yang diberikan perusahaan tersebut. Tapi bisa juga berdasarkan user experience / pengalaman anda saat berhubungan dengan suatu produk, manajer investasi atau agen penjual tertentu. Apakah prosesnya aman, nyaman, anda diberikan update secara konsisten, tenaga pemasar mengingat hari ulang tahun anda, dan lain sebagainya.

    Mengapa hal di atas penting? Sebab reksa dana adalah bisnis kepercayaan. Untuk membangun kepercayaan, kinerja produk memang penting, namun layanan prima juga tidak kalah pentingnya. Untuk bisa menemukan mana yang layanannya paling bagus, cara yang paling mudah adalah mencobanya satu per satu.

    2. Untuk perbandingan antara T-Club dan B-Club anda bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/29/reksa-dana-saham-trillion-club-vs-billion-club/

    3. Kalau orang lain saya tidak tahu, tapi artikel saya pada bulan Agustus 2014 yang lalu istilah ini saya munculkan. Lagipula ini hanya sebutan, tidak begitu penting siapa yang menciptakan. Hal ini dilakukan biar sebutannya mudah saja.

    Semoga bermanfaat.

  35. Tri
    April 8th, 2015 at 11:45 | #36

    Selamat siang pak Rudiyanto. Saya mahasiswa berencana berinvestasi pada reksa dana.
    1. Yang ingin saya tanyakan apakah dengan AUM diatas 1 Triliun kita (investor awam) lebih memmilih reksa dana tersebut ? sebab saya belum mengetahui return yang diberikan oleh reksa dana tersebut.
    2. Apakah dengan AUM diatas 1T juga reksa dana tersebut melakukan window dressing pada akhir tahun ?
    3. Apakah window dressing bagian dari earning management pak ?

    Salam sukses pak, terima kasih :D

  36. Rudiyanto
    April 13th, 2015 at 00:19 | #37

    @Tri
    Salam Tri,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Di cari saja di website perusahaan atau infovesta.com mengenai kinerja daripada reksa dana tersebut
    2. Yang melakukan window dressing itu biasanya adalah emiten / perusahaan, biasanya dengan menggenjot penjualan pada akhir tahun. Manajer Investasi juga mungkin melakukannya, caranya adalah membeli saham tertentu dalam jumlah besar sehingga harganya diharapkan naik. Namun hal ini hanya mungkin dilakukan jika dana yang dikelola besar. Karena untuk menggerakkan harga suatu saham, apalagi yang likuid dibutuhkan jumlah uang yang tidak sedikit. Kemudian, aksi ini sebetulnya juga masuk dalam aksi manipulasi pasar. Jadi Manajer Investasi yang memiliki etika baik tidak akan melakukan hal tersebut. Berbeda dengan emiten, tindakan mengenjot penjualan pada akhir tahun bukanlah manipulasi. Yang disebut manipulasi itu, kalau penjualan 100 diklaim 150
    3. Saya kurang paham tentang earning management.

    Semoga bermanfaat.

 


%d bloggers like this: