Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Apakah Harga (Wajar) IHSG Bisa Mencapai 15.000 di Era Jokowi – JK ?? – Update 18 Nov 2014

Apakah Harga (Wajar) IHSG Bisa Mencapai 15.000 di Era Jokowi – JK ?? – Update 18 Nov 2014

Terus terang, itulah pikiran pertama yang muncul di benak saya ketika ada permintaan dari sebuah media televisi untuk wawancara prospek investasi reksa dana paska terpilihnya Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

IHSG dan Presiden

Kenapa angka 15.000 bukan 10.000 ? Sebab untuk bisa menjadi 10.000, maka IHSG harus naik sekitar 100% dalam 5 tahun. Berkaca pada pemerintahan sebelumnya, kenaikan tersebut sudah pernah terjadi dan bahkan lebih. Jika, ada harapan bahwa pemerintahan yang sekarang akan lebih baik, tentu kenaikannya juga akan lebih tinggi bukan? Dan jika lebih tinggi, apakah bisa mencapai 200% seperti pada masa pemerintahan SBY 2004-2009 sehingga IHSG mencapai 15.000?

Harap diperhatikan pula bahwa karena harga pasar IHSG tidak mungkin diprediksikan secara tepat, maka yang saya prediksi adalah harga wajar daripada IHSG. Dengan harapan harga pasar IHSG akan mencerminkan harga wajarnya.

Hal itulah yang ingin saya teliti dalam tulisan kali ini. Tertarik? Silakan baca lebih terus…

Kinerja IHSG ≠ Kinerja Pemerintahan

Sebelum membaca lebih lanjut, kita harus sepakat dulu bahwa pergerakan IHSG itu ditentukan oleh banyak hal. Mulai dari hal yang sifatnya fundamental seperti pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto), suku bunga dan inflasi, laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan sampai pada hal yang bersifat sentimen dan persepsi seperti stabilitas politik, kebijakan fiskal dan moneter di luar negeri, hingga keluar masuknya dana asing yang bisa terjadi kapan saja.

Dengan demikian, bisa saja pemerintahannya sudah bagus, perekonomian tumbuh dan perusahaan menghasilkan keuntungan, tapi ternyata faktor sentimennya ternyata jelek seperti ada krisis di luar negeri dan sebagainya sehingga harga saham tetap turun. Jadi naik turunnya harga saham, tidak sepenuhnya mencerminkan baik buruknya  kinerja suatu pemerintahan.

Dengan demikian, kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa pemerintahan pak SBY lebih baik dibandingkan pendahulunya hanya berdasarkan kenaikan saham saja. Karena sekali lagi, harga saham adalah gabungan dari Fundamental dan Sentimen.

Hubungan Antara Pertumbuhan PDB dan IHSG

Hal di atas sebenarnya menjadi permasalahan dalam menentukan metode penelitian. Sebab bagi pelaku investasi seperti saya ini, “Revolusi Mental” dan “Indonesia Hebat” harus diterjemahkan dalam bentuk yang lebih riil dan yang riil adalah pertumbuhan ekonomi atau lebih tepatnya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di atas 7%.

Pertumbuhan PDB sendiri hanya mencakup faktor fundamental saja sehingga sulit jika digunakan untuk memprediksi kenaikan IHSG. Sebagai contoh, pada tahun 2007, pertumbuhan PDB adalah 6.23%. IHSG pada tahun yang sama naik 52%. Pada tahun 2012 pertumbuhan PDB adalah 6.25%, tidak berbeda jauh dengan tahun 2007. Akan tetapi pertumbuhan IHSG pada tahun 2012 hanya sebesar 12%. Ada lagi contoh dimana tahun 2008, pertumbuhan PDB 5.2% dan IHSG minus -50%, sementara pada tahun 2009, pertumbuhan PDB sebesar 5.4% tetapi IHSGnya malah naik 86%. Perbandingan antara pertumbuhan PDB dan IHSG selama 10 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Tahun PDB Growth IHSG Growth
2004 6.7 44.56%
2005 4.9 16.24%
2006 6.1 55.30%
2007 6.25 52.08%
2008 5.2 -50.64%
2009 5.4 86.98%
2010 6.9 46.13%
2011 6.5 3.20%
2012 6.23 12.94%
2013 5.78 -0.98%

Jika pertumbuhan PDB sendiri tidak memiliki pengaruh yang konsisten terhadap pertumbuhan IHSG, bukankah ini berarti target pertumbuhan ekonomi di atas 7% tersebut nantinya kalaupun tercapai juga belum tentu bisa diterjemahkan dalam bentuk pertumbuhan IHSG yang positif?

Sebenarnya kalau anda jeli, memang agak susah menarik benang merah antara “angka” pertumbuhan PDB dengan pertumbuhan IHSG. Namun jika anda memperhatikan percepatan (angka pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya) dan perlambatan (angka pertumbuhan ekonomi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya), akan terlihat ada hubungan.

Setiap kali pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan, maka IHSG akan positif. Sebaliknya ketika mengalami perlambatan maka IHSG akan rendah atau negatif. Pengecualian terjadi di tahun 2005, dimana ada perlambatan ekonomi namun IHSG tetap tumbuh dua digit.

Pada tahun tersebut sempat terjadi kenaikan harga BBM yang cukup signifikan sebanyak 2 kali. Selanjutnya pada tahun 2013 juga sempat naik, namun secara persentase tidak sebesar kenaikan pada tahun 2005. Anggaran yang lebih longgar berujung pada percepatan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun selanjutnya. Artinya pasar saham mengapresiasi kenaikan harga BBM karena akan membuat subsidi lebih tepat sasaran.

Historis Kenaikan BBM

sumber : Wikipedia

Jadi jika kita membandingkan pertumbuhan ekonomi dari yang posisi sekarang sekitar 5.12% pada semester II 2014 dibandingkan tahun 2013 memang terjadi perlambatan. Namun jika kenaikan BBM terjadi, berarti memang hal ini sudah diprediksi oleh pasar dan mengulang sejarah di tahun 2005. Sebaliknya jika kenaikan BBM tidak terjadi, bisa saja terjadi koreksi.

PDB sendiri merupakan gabungan yang dihasilkan dari kegiatan Konsumsi Domestik (dapat gaji dipakai buat belanja kebutuhan hidup, makan di mal, cicil HP, cicil rumah, cicil kendaraan), Investasi (perusahaan bangun pabrik, bangun toko dan mall), Pengeluaran Pemerintah (bayar gaji PNS, bangun jalan raya, penyediaan busway, tol laut) dan Expor – Impor (Aktivitas ekonomi dari ekspor dan impor barang dan jasa). Total dari PDB dibagi jumlah penduduk itulah diperoleh angka sekitar USD 3500 atau sekitar Rp 42 juta dengan kurs 12.000. Angka ini sering disebut Pendapatan Per Kapita per Tahun yang artinya setara Rp 3.5 juta per bulan. Sebagai informasi, pendapatan per kapita di Singapore untuk 2013 adalah USD 55.183.

Menghitung Fundamental IHSG

Jika hanya melihat percepatan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi saja, mungkin bisa menebak apakah IHSG akan naik atau turun di tahun tersebut. Tapi tidak bisa menjawab pertanyaan apakah IHSG atau lebih tepatnya harga wajar IHSG akan mencapai 15.000 atau tidak. Untuk itu, kita tetap perlu menghitung fundamental IHSG.

Berbicara fundamental IHSG, berarti kita membahas pada laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang terdaftar pada Indonesia Stock Exchange (IDX) dan apakah laba bersih itu tumbuh setiap tahunnya. Jika anda baca di berita, disebutkan fundamental perusahaan bagus, itu artinya perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan dan tumbuh dari tahun ke tahun.

Jadi semakin cepat ekonomi tumbuh, berarti laba bersih juga akan tumbuh semakin tinggi. Laba bersih perusahaan sendiri komponen yang sangat penting dalam menghitung harga wajar saham.

Atas dasar itu, saya mencoba untuk mencari hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.

Pertama saya mengumpulkan laporan keuangan dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Indonesia per Desember 2013 dan mengurutkannya berdasarkan total aset dari yang paling tinggi ke paling rendah. Selanjutnya saya saring dengan menggunakan 2 kriteria yaitu:

  1. Data laporan keuangan tersedia hingga 10 tahun terakhir
  2. Total Aset minimal 20 Triliun per Akhir Desember 2013

Berdasarkan 2 kriteria tersebut, dari 495 laporan keuangan tersaring 35 perusahaan dengan keterangan sebagai berikut :

Kode Nama Perusahaan Total Asset Des 2013
BMRI Bank Mandiri ( Persero ) Tbk 733,099,762,000,000
BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 626,182,926,000,000
BBCA Bank Central Asia Tbk 496,304,573,000,000
BBNI Bank Negara Indonesia Tbk 386,654,815,000,000
BNGA Bank CIMB Niaga Tbk 218,866,409,000,000
ASII Astra International Tbk 213,994,000,000,000
BDMN Bank Danamon Indonesia Tbk 184,237,348,000,000
BNLI Bank Permata Tbk 165,833,922,000,000
PNBN Bank Pan Indonesia Tbk 164,055,578,000,000
BNII Bank Internasional Indonesia Tbk 140,546,751,000,000
TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk 127,951,000,000,000
NISP BANK NISP Tbk 97,524,537,000,000
BUMI Bumi Resources Tbk 85,370,636,013,735
INKP Indah Kiat Pulp and Paper Tbk 82,607,217,666,000
INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 78,092,789,000,000
MEGA Bank Mega Tbk 66,475,698,000,000
UNTR United Tractors Tbk 57,362,244,000,000
ISAT Indosat Tbk 54,520,891,000,000
PGAS Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk 53,182,740,014,055
GGRM Gudang Garam Tbk 50,770,251,000,000
SMMA Sinar Mas Multiartha Tbk 47,780,692,000,000
TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk 31,751,808,684,000
BHIT Bhakti Investama Tbk 31,748,619,000,000
LPKR Lippo Karawaci Tbk 31,300,362,430,266
MEDC Medco Energi Internasional Tbk 30,858,641,059,830
SMGR Semen Indonesia Tbk 30,792,884,092,000
BRPT Barito Pacific Tbk 28,291,522,230,000
INCO Vale Indonesia Tbk 27,804,559,491,000
HMSP H. M. Sampoerna Tbk 27,404,594,000,000
INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 26,607,241,000,000
IMAS Indomobil Sukses Intl Tbk 22,315,022,507,630
ANTM Aneka Tambang Tbk 21,865,117,391,000
BMTR Global Mediacom Tbk 21,069,471,000,000
MLPL Multipolar Tbk 20,255,269,000,000
CTRA Ciputra Development Tbk 20,114,871,381,857

Sumber: Laporan Keuangan Akhir 2013, diolah

Total aset dari 35 perusahaan ini mencapai sekitar 4.503 Triliun dibandingkan total 6.950 Triliun dari 495 emiten yang ada atau sekitar 64%. Menurut saya angka tersebut sudah cukup mewakili meskipun mungkin tidak semua sektor emiten tercermin dalam Bursa Efek Indonesia.

Langkah berikutnya saya menjumlahkan laba bersih dari semua perusahaan ini setiap tahun dan menghitung pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Angka pertumbuhan tersebut selanjutnya saya bandingkan dengan angka pertumbuhan PDB. Hasilnya sebagai berikut :

Tahun Laba Bersih 35 Emiten Earning Growth Pertumbuhan PDB %
2003 31,532,003,170,943
2004 51,792,976,257,342 64.26% 6.7
2005 44,165,354,856,357 -14.73% 4.9
2006 48,092,676,498,291 8.89% 6.1
2007 81,235,330,948,914 68.91% 6.25
2008 74,547,883,187,821 -8.23% 5.2
2009 83,886,772,607,718 12.53% 5.4
2010 115,048,171,944,455 37.15% 6.9
2011 133,696,209,817,771 16.21% 6.5
2012 148,589,776,727,509 11.14% 6.23
2013 154,535,115,995,641 4.00% 5.78

Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan, diolah

Sama seperti IHSG, ternyata percepatan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi juga berpengaruh terhadap percepatan dan perlambatan pertumbuhan laba bersih perusahaan.

Jika dirata-ratakan, rata-rata pertumbuhan laba bersih perusahaan per tahun di Indonesia adalah sekitar 20%. Sementara rata-rata pertumbuhan ekonomi di sekitar 6% per tahun. Bedanya pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih stabil namun laba bersih perusahaan cenderung sangat fluktuatif.

Hal ini sangat normal, karena laba bersih perusahaan juga ditentukan oleh kemampuan manajerial. Bisa saja jajaran direksi mengambil atau mengeksekusi strategi secara buruk atau mendapat kompetitor yang tangguh sehingga meski ekonomi tumbuh, penjualan dan laba bersih malah anjlok dan sebaliknya ketika ekonomi sedang lesu, perusahaan mampu tetap tumbuh secara organik.

Dengan membandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi yang sebesar 6% dan rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 20%, secara sederhana saya mengasumsikan kontribusi 1% sama dengan 3,33% (diperoleh dari 20 / 6). Jika target pertumbuhan ekonomi 7% Jokowi tercapai, maka laba bersih kemungkinan akan tumbuh 23.3% (3.33% x 7). Sebaliknya jika program ekonominya gagal, kemungkinan pertumbuhan ekonomi hanya 5% maka laba bersih bisa saja hanya tumbuh 16.6% (3.33% x 5). Cara ini mungkin akan ditertawakan oleh para ekonom atau ahli ekonometri yang membacanya. Tapi ya begitulah cara yang saya pergunakan.

Proyeksi Laba Bersih IHSG dan Price Earning Ratio

Angka pertumbuhan ekonomi ini selanjutnya akan digunakan untuk proyeksi laba bersih IHSG selama 5 tahun mendatang. Berdasarkan laporan statistik dari IDX, diperoleh Price Earning Ratio IHSG adalah sebagai berikut

IHSG 24 Okt 2014

Price Earning Ratio merupakan pembagian antara harga (Indeks IHSG) dengan Pendapatan (Laba Bersih IHSG). Dengan demikian Laba Bersih Perusahaan = Harga (Indeks IHSG) dibagi rasio PER. Pembagian antara 5.073 dengan 17.2 menghasilkan Laba Bersih IHSG sebesar 294.9 atau saya bulatkan menjadi 295. Angka 295 ini saya anggap menjadi laba bersih tahun 2013 karena laba bersih tahun 2014 baru diumumkan pada tahun berikutnya.

Selanjutnya angka tersebut digunakan untuk memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sampai 5 tahun ke depan berdasarkan 3 skenario angka pertumbuhan ekonomi yaitu 5%, 6% dan 7%. Untuk tahun 2014, tetap digunakan asumsi 5% karena hingga semester II angka pertumbuhan ekonomi adalah 5.12% dan ada risiko perlambatan karena potensi kenaikan BBM.

Tahun Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Proyeksi Laba Bersih IHSG
2013 Skenario Konservatif 295
2014 5% 16.7% 344
2015 5% 16.7% 402
2016 5% 16.7% 468
2017 5% 16.7% 547
2018 5% 16.7% 638
Tahun Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Proyeksi Laba Bersih IHSG
2013 Skenario Moderat 295
2014 5% 16.7% 344
2015 6% 20.0% 413
2016 6% 20.0% 496
2017 6% 20.0% 595
2018 6% 20.0% 714
Tahun Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Proyeksi Laba Bersih IHSG
2013 Skenario Agresif 295
2014 5% 16.7% 344
2015 7% 23.3% 424
2016 7% 23.3% 524
2017 7% 23.3% 646
2018 7% 23.3% 796

Faktor Sentimen Dalam Harga Wajar IHSG

Sebagaimana dikemukan di awal artikel, bahwa IHSG adalah perkalian antara fundamental dengan sentimen. Faktor fundamental telah didapatkan di atas. Selanjutnya adalah faktor sentimen.

Sentimen adalah sesuatu yang subjektif dan sangat mudah berubah. Hal tersebut sudah banyak kita temui dalam beberapa tahun terakhir. Misalkan ketika ketidakpastian politik melanda, IHSG cenderung stagnan. Ketika ada krisis di Eropa dan Tapering di Amerika, IHSG langsung terkena dampaknya padahal secara bisnis pengaruhnya mungkin tidak besar.

Demikian juga perubahan sentimen ini terjadi begitu cepat. Padahal kondisi perekonomian di Eropa dan Tapering masih terus terjadi, toh IHSG sudah pulih saja. Jadi memang untuk memperkirakan sentimen ini adalah sesuatu yang sulit.

Secara angka, sentimen diwakili oleh rasio PER. Semakin bagus suatu sentimen, maka meskipun rasio PER sudah tinggi masih bisa diterima investor. Sebaliknya ketika sentimen berubah menjadi negatif, maka angka PER harus kecil sekali baru bisa diterima investor.

Buat anda yang masih bingung apa itu PER atau Price Earning Ratio, adalah lama waktu yang dibutuhkan supaya investor balik modal jika perusahaan memberikan semua laba bersih kepada pemegang sahamnya. Misalkan jika PER = 17.2 kali pada contoh di atas, artinya jika anda membeli suatu perusahaan, maka uang anda kembali dalam 17.2 tahun jika seluruh laba bersih perusahaan dibayarkan kembali ke kamu. Pada prakteknya, karena laba bersih tidak dibagikan seluruhnya, maka yang akan naik adalah harga sahamnya.

Dengan menggunakan data historis yang saya peroleh dari infovesta.com, rasio PER LQ-45 dari tahun 2005 adalah sebagai berikut.

Historikal PE Ratio

Sumber : www.infovesta.com, diolah

Posisi terakhir ada di sekitar 17 kali sementara rata-rata ada di angka 15.94 atau 16 kali. Sebenarnya angka rata-rata ini pun berubah-ubah. Jika anda mengambil periode yang berbeda, angka rata-rata bisa turun menjadi 15 atau 14 kali. Sehingga saya mengasumsikan bahwa 14 – 16 kali merupakan asumsi PER yang wajar untuk Indonesia.

14 untuk kondisi pasarnya agak pesimis, 15 untuk kondisi pasar yang moderat dan 16 untuk pasar yang optimis. Jika angka aktual di atas angka tersebut, bisa dikatakan valuasi sudah terlalu mahal dan sebaliknya.

Dengan mengkalikan antara rasio PER yang wajar dengan proyeksi laba bersih perusahaan, maka saya bisa memperoleh proyeksi harga wajar IHSG untuk 5 tahun masa pemerintahan Jokowi – JK. Hasil proyeksinya adalah sebagai berikut

Proyeksi Laba Bersih IHSG PDB +5% Tahun IHSG Sentimen Pesimis 14x Sentimen Moderat 15x Sentimen Agresif 16x
295 2014 4,130 4,425 4,720
344 2015 4,818 5,163 5,507
402 2016 5,621 6,023 6,424
468 2017 6,558 7,027 7,495
547 2018 7,651 8,198 8,744
638 2019 8,927 9,564 10,202
Proyeksi Laba Bersih IHSG PDB +6% Tahun IHSG Sentimen Pesimis 14x Sentimen Moderat 15x Sentimen Agresif 16x
295 2014 4,130 4,425 4,720
344 2015 4,818 5,163 5,507
413 2016 5,782 6,195 6,608
496 2017 6,938 7,434 7,930
595 2018 8,326 8,921 9,516
714 2019 9,991 10,705 11,419
Proyeksi Laba Bersih IHSG PDB +7% Tahun IHSG Sentimen Pesimis 14x Sentimen Moderat 15x Sentimen Agresif 16x
295 2014 4,130 4,425 4,720
344 2015 4,818 5,163 5,507
424 2016 5,943 6,367 6,792
524 2017 7,329 7,853 8,376
646 2018 9,039 9,685 10,331
796 2019 11,149 11,945 12,741

Menurut saya pribadi, dengan harapan yang begitu tinggi dari para pelaku pasar dan dari rekam jejak historis mengelola Jakarta, skenario yang mungkin terjadi adalah pertumbuhan ekonomi di atas 7% dan rasio PER 16x atau bahkan lebih tinggi. Jadi perkiraan saya ada di skenario dengan bold merah.

Dengan menggunakan angka yang paling optimis yaitu PDB tumbuh 7% dan rasio PER 16 kali, ternyata harga wajar IHSG yang paling tinggi adalah 12.741. Menjawab pertanyaan awal saya apakah bisa mencapai 15.000?? jawabannya TIDAK BISA. Untuk bisa mencapainya dibutuhkan pertumbuhan ekonomi di atas 7% dan hanya waktu yang bisa membuktikannya.

Jika ternyata pertumbuhan ekonomi di bawah 7%, namun ternyata IHSG melaju lebih tinggi dari angka tersebut maka itu bisa disebabkan karena 2 hal. Pertama, jajaran direksi perusahaan di Indonesia mampu melakukan efisiensi sedemikian rupa sehingga tetap tumbuh ketika ekonomi hanya tumbuh moderat sehingga laba bersih tetap tumbuh tinggi. Atau kedua, hanya karena faktor sentimen semata saja yang bisa naiknya cepat, turunnya cepat pula.

Mari kita berharap semoga kabinet yang dipilih oleh bapak Joko Widodo sore ini adalah kabinet yang pro pasar sehingga secara sentimen investor bersedia membeli di PER yang lebih tinggi serta mampu bekerja secara cepat, efektif dan bebas dari korupsi sehingga pertumbuhan ekonomi di atas 7%. Dengan demikian, semua investor saham dan reksa dana akan senang.

Riset ini merupakan pengembangan dari tulisan saya sebelumnya tentang Kapan IHSG Menuju 10.000 yang memasukkan faktor pertumbuhan ekonomi dan sample perusahaan yang lebih banyak.

Semoga bermanfaat.

Catatan : Saat ini laporan keuangan Kuartal III 2014 sudah mulai dipublikasikan. Perhitungan ini akan kembali diupdate pada pertengahan November dengan data yang lebih baru

Sesuai janji, sehubungan dengan adanya pengkinian data laporan keuangan, maka perhitungan ini akan saya update. Berdasarkan data IDX per 18 November 2014 atau tepat setelah kenaikan BBM diumumkan, data PER IHSG adalah sbb

Data PER 18 Nov 2014

Berdasarkan data terakhir, maka EPS IHSG menjadi 5102 / 16.4 = 311. Naik dari sebelumnya yang 295. Dengan demikian nilai proyeksi menjadi

Tahun Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Proyeksi Laba Bersih IHSG
2013 Skenario Konservatif 311
2014 5% 16.70% 363
2015 5% 16.70% 424
2016 5% 16.70% 494
2017 5% 16.70% 577
2018 5% 16.70% 673
Tahun Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Proyeksi Laba Bersih IHSG
2013 Skenario Moderat 311
2014 5% 16.70% 363
2015 6% 20.00% 436
2016 6% 20.00% 523
2017 6% 20.00% 627
2018 6% 20.00% 753
Tahun Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Proyeksi Laba Bersih IHSG
2013 Skenario Agresif 311
2014 5% 16.70% 363
2015 7% 23.30% 448
2016 7% 23.30% 552
2017 7% 23.30% 680
2018 7% 23.30% 839

Perhitungan harga wajar IHSG menjadi sbb

Proyeksi Laba Bersih IHSG PDB +5% Tahun IHSG Sentimen Pesimis 14x Sentimen Moderat 15x Sentimen Agresif 16x
311 2014 4,354 4,665 4,976
363 2015 5,081 5,444 5,807
424 2016 5,930 6,353 6,777
494 2017 6,920 7,414 7,908
577 2018 8,076 8,652 9,229
673 2019 9,424 10,097 10,770
Proyeksi Laba Bersih IHSG PDB +6% Tahun IHSG Sentimen Pesimis 14x Sentimen Moderat 15x Sentimen Agresif 16x
311 2014 4,354 4,665 4,976
363 2015 5,081 5,444 5,807
436 2016 6,097 6,533 6,968
523 2017 7,317 7,839 8,362
627 2018 8,780 9,407 10,034
753 2019 10,536 11,289 12,041
Proyeksi Laba Bersih IHSG PDB +7% Tahun IHSG Sentimen Pesimis 14x Sentimen Moderat 15x Sentimen Agresif 16x
311 2014 4,354 4,665 4,976
363 2015 5,081 5,444 5,807
448 2016 6,265 6,713 7,160
552 2017 7,725 8,277 8,828
680 2018 9,525 10,205 10,885
839 2019 11,744 12,583 13,422

Dengan menggunakan skenario paling positif yaitu PDB +7% dan Sentimen 16x (di bold merah) sekalipun, tampaknya walaupun ada kenaikan dibandingkan skenario sebelumnya, IHSG tetap tidak bisa mencapai 15.000 pada akhir masa pemerintahan. Kita hanya berharap, mudah-mudahan CEO perusahaan di Indonesia hebat2 sehingga bisa menghasilkan kenaikan laba bersih (tanpa mengeksploitasi alam dan karyawan secara berlebihan tentunya) di atas ekspektasi dan pemerintahan Jokowi mampu memberikan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 7%, bahkan kalau bisa 8 – 10% seperti halnya China di era keemasannya. Dengan demikian, harapan untuk menembus 15.000 masih ada.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : Wikipedia

Sumber Data : www.infovesta.com, www.idx.co.id

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
  1. Rudiyanto
    January 27th, 2015 at 14:58 | #1

    @Muslim
    Sore Pak Muslim,

    Syarat untuk berinvestasi reksa dana adalah KTP pak. Untuk tatap muka, karena peraturan yang sekarang sudah dimungkinkan untuk dilakukan secara elektronik, anda bisa menghubungi cs@panin-am.co.id untuk proses pembukaannya rekeningnya.

    Mengenai investasi apa yang cocok, silakan disesuaikan dengan dibuat perencanaan investasi terlebih dahulu. Anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Semoga bermanfaat.

  2. malasari
    December 6th, 2015 at 12:12 | #2

    pak mau tanya, persentase minimal maksimal suatu risiko investasi saham berapa ya? berapa persen batas minimal bila dikatakan risiko itu rendah, dan berapa persen batas maksimal bila dikatakan risiko itu tinggi, saya sudah coba cari ke beberapa sumber tapi tidak juga ketemu, bila ada referensi buku tolong beritahu, mohon bantuannya pak, saya sedang menyusun skripsi, terimakasih

  3. Rudiyanto
    December 10th, 2015 at 23:08 | #3

    @malasari
    Salam Ibu Malasari,

    Persentase hasil maksimal minimal bisa dilihat pada artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/
    Perihal tinggi atau rendah tergantung definis dari penggunanya.

    Pembahasan dengan data yang lebih update dan perbandingan dengan jenis investasi lain juga bisa dilihat pada buku http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/pesan-buku-fit-focus-finish/

    Semoga bermanfaat

  4. Tanaya
    March 10th, 2016 at 11:32 | #4

    Salam pak rudi, pak saya mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi yang sedang melakukan skripsi tentang Price Earning Ratio, saya sedang mencari batasan nilia PER yang aman itu berapa ? apakah ada peraturannya. terimakasi pak sebelumnya.

  5. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 16:42 | #5

    @Tanaya
    Salam Ibu Tanaya,

    Nilai PER yang aman atau wajar itu sebenarnya tidak ada ketentuannya. Tapi yang umumnya digunakan adalah seperti rata-rata dari 3 tahun, 5 tahun atau 10 tahun. Bisa juga rata-rata dari sejak pertama kali saham tersebut ada.

    Rata-rata juga bukan berarti aman, karena biasanya dibuat PE Band yang menggunakan rata-rata dikurangi beberapa kali standar deviasi tergantung tingkat kepercayaannya.

    Semoga bermanfaat.

  6. Erwin
    May 13th, 2016 at 17:57 | #6

    @ari
    Greedometer mr.ari gimana kabarnya? Uda 1,5 tahun nih…
    :-P

  7. September 1st, 2016 at 23:52 | #7

    Udah jadi speedometer Taxi !!

Comment pages
1 2 4664

 


%d bloggers like this: