Home > Riset Reksa Dana > Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Masuk Ketika Harga Saham Sedang Turun?

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Masuk Ketika Harga Saham Sedang Turun?

Falling Knife

Membeli harga saham ketika harga sedang turun, atau ketika berada dalam dasar-dasarnya (bottom) dan kemudian menjualnya pada harga tinggi adalah impian setiap bagi setiap investor. Pertanyaan mengenai kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi di saham hampir selalu muncul dalam setiap kali kesempatan seminar. Ditanya ke pembicara atau ahli manapun, umumnya mereka akan menjawab tidak tahu dan akan menyarankan investor untuk investasi jangka panjang.

Saya juga demikian, biasanya saya menyarankan untuk periode investasi yang paling aman di saham adalah 7 tahun dengan memberikan data riset sebagai pendukung sebagaimana yang saya tulis dalam artikel Lama Investasi Yang Wajar Pada Saham, Tapi tetap saja, begitu ada kesempatan investor pasti akan mencoba melakukannya.

Sebagai contoh, waktu IHSG turun 1,3% tanggal 26 September lalu, saya melihat banyak jumlah investor yang melakukan transaksi pembelian lebih banyak daripada hari biasanya. Sebagian dari mereka mungkin kebetulan aplikasinya baru diproses pada tanggal tersebut, tapi saya yakin ada sebagian juga yang sudah menunggu-nunggu dari awal tahun tapi ragu2 terus begitu ada penurunan yang dianggap cukup dalam langsung ambil kesempatan. Ironis memang, di awal tahun khawatir soal Pemilu Legislatif, kemudian berlanjut khawatir soal Pemilihan Presiden, suku bunga the Fed dan khawatir hal-hal lainnya. Baru ketika IHSG sudah naik 20%, baru merasa sudah terlambat. Padahal IHSG baru turun 1.3%, tapi langsung buru-buru masuk karena takut ketinggalan lagi.

Terlepas dari faktor keragu-raguan yang membuat para investor menunda investasi, saya juga ingin menekankan bahwa ada istilah di pasar modal untuk investor yang membeli atau berspekulasi membeli ketika harga sedang turun yaitu “Catch The Falling Knife”.  Maksudnya membeli harga saham yang sedang jatuh itu harus siap apabila sesudah dibeli harganya malah turun lebih dalam. Apabila kita adalah investor spekulatif yang cuma ikut-ikutan, maka bisa jadi kita panik dan melakukan cutloss lagi di harga yang lebih rendah. Sebab tidak ada jaminan harga yang sudah turun tidak akan turun lebih dalam lagi.

Jadi, kalau ketika harga saham sedang turun, dalam kondisi apa kita baru bisa beli supaya tidak terluka oleh pisau yang jatuh? Silakan ikuti terus artikel ini.

Minimal ada 3 syarat yang harus dipenuhi. Pertama, anda adalah investor dan bukan spekulator. Bagi spekulator, yang dimaksud dengan investasi jangka pendek adalah beli hari ini dan jual nanti siang serta untuk jangka panjang adalah jual minggu depan. Anda tidak akan dapat keuntungan secara konsisten dalam jangka panjang kalau mentalnya seperti ini dan bisa saya pastikan tangan anda akan lebih sering tertusuk pisau daripada menangkapnya dengan tepat.

Kedua, anda yakin bahwa saham atau reksa dana saham yang anda pilih adalah barang yang berkualitas bagus. Sehingga apabila harganya turun ini sifatnya hanya sementara saja. Perlu ada sedikit riset dan pengetahuan terhadap produk yang anda beli. Jangan berinvestasi pada kucing dalam karung yang tidak kamu ketahui kualitasnya.

Ketiga, yaitu masuk pada waktu yang tepat dan memiliki ekspektasi lama waktu yang wajar. Point ketiga inilah yang butuh sedikit riset dan hitung-hitungan. Mendefinisikan waktu yang tepat itu sangat sulit. Jangankan itu, mendefinisikan bahwa sekarang adalah kondisi saham turun saja sudah beragam. Apakah yang dimaksud turun adalah IHSG mengalami kerugian 5%, 10%, 15% atau 20% bahkan lebih? Dan dalam periode berapa lama penurunan tersebut terjadi? Ketika investasi sudah dilakukan, berapa lama minimal mesti anda pegang?

Definisi bahwa pasar saham itu turun atau crash selama ini sebenarnya tergantung bahasa riset dan wartawan. Tidak ada definisi yang pasti. Bahasanya juga canggih2. Kadang-kadang mereka pakai kata “Turun”, “Koreksi”, “Crash”, “Konsolidasi” atau bahasa2 lainnya. Untuk tujuan riset ini, definisi harga turun adalah kerugian IHSG minimal 5%, 10% dan 15% dalam waktu 1 bulan.

Langkah-langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan data return 1 bulan setiap hari IHSG dari tahun Juli 2004 – Sept 2014 sesuai ketersediaan data dari www.infovesta.com

Apabila anda tidak memiliki akses ke www.infovesta.com, maka anda juga bisa menggunakan informasi yang ada di website Panin AM sbb http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx

Screen Shot 2014-10-02 at 1.57.40 AM

2. Mendefinisikan bahwa pasar turun adalah dengan 3 kategori yaitu minimal negatif 5%, 10% dan 15% dalam waktu 1 bulan.

Contoh: dengan menggunakan kategori minimal 10%, maka ketika kamu melihat return 1 bulan -10%, -12% dan seterusnya merupakan kesempatan untuk membeli. Apabila menggunakan kategori minimal 15%, maka pembelian baru dilakukan apabila return satu bulan minimal -15% atau lebih kecil (-17%, -20%, dstnya)

3. Melakukan simulasi, seandainya pada saat terjadi penurunan sebesar minimal 5% dalam 1 bulan investor melakukan pembelian berapa hasil investasinya 100 hari kerja dan 200 hari kerja yang akan datang. Penentuan 100 dan 200 hari kerja adalah untuk mencari ekspektasi berapa lama investasi yang wajar setelah melakukan pembelian.

Contoh : Misalkan 1 Januari 2005 terjadi -10% untuk return 1 bulan, maka setelah dilakukan pembelian dipegang selama 100 dan 200 hari kerja.

4. Melakukan rekapitulasi terhadap data yang dikumpulkan. Tujuan dari rekapitulasi data adalah untuk mengetahui berapa besar kemungkinan investor mengalami keuntungan / kerugian karena melakukan hal di atas dan berapa rentang keuntungan / kerugian yang dialaminya.

Hasil riset saya untuk simulasi investasi selama 100 hari kerja sebagai berikut

Keterangan Minimal 5% Minimal 10% Minimal 15%
Frekuensi Harga Turun 311 124 41

Diinvestasi Selama 100 Hari Kerja

Kemungkinan Rugi 36% 38% 37%
Kemungkinan Untung 64% 62% 63%

Persentase Untung / Rugi

Kerugian Terbesar -51% -33% -30%
Rata-rata 5% 7% 10%
Keuntungan Terbesar 57% 55% 38%

Berdasarkan tabel di atas, apabila “horison” atau lama waktu investasi anda adalah 100 hari setelah pasar mengalami penurunan, maka mau pasar turun minimal 5%, 10% atau 15%, potensi anda untuk mengalami kerugian adalah mendekati 40%. Dalam situasi terburuk, setelah 100 hari kerja, anda masih bisa mengalami kerugian dari 30 – 50% lagi. Berdasarkan angka-angka tersebut, menurut saya secara pribadi, periode investasi “selama” 100 hari kerja ke depan setelah pasar mengalami penurunan, masih bisa dikategorikan sebagai tindakan spekulasi.

Apabila investor bersedia memperpanjang periode investasi menjadi 200 hari kerja ke depan bagaimana? Berdasarkan hasil riset, sebagai berikut :

Keterangan Minimal 5% Minimal 10% Minimal 15%
Frekuensi Harga Turun 303 124 41

Diinvestasi Selama 200 Hari Kerja

Kemungkinan Rugi 21% 15% 7%
Kemungkinan Untung 79% 85% 93%

Persentase Untung / Rugi

Kerugian Terbesar -56% -48% -41%
Rata-rata 20% 29% 58%
Keuntungan Terbesar 115% 115% 115%

Dengan memperpanjang horison investasi menjadi 200 hari kerja, potensi kerugian ternyata masih ada namun mengecil. Semakin dalam penurunannya maka semakin kecil pula potensi mengalami kerugiannya setelah 200 hari. Jadi meski masih bisa disebut berspekulasi, paling tidak kemungkinan anda mengalami keuntungan 200 hari kerja setelah pasar turun minimal 5%, 10% atau 15% dalam 1 bulan adalah 8 banding 10.

Hanya saja, perlu diingat bahwa apabila yang terjadi adalah situasi terburuk, dimana anda masuk dalam kategori investor apes. Potensi kerugian yang mungkin dialami bisa mencapai -41% sampai -56%. Tinggal apakah rata-rata keuntungan 20 – 58% dan kalau sedang hoki bisa untung sampai 115% cukup membuat anda tergiur untuk ikut berspekulasi atau tidak..

Jadi, kalau lama waktu investasi anda pendek, membeli ketika harga sedang turun sekalipun tidak membebaskan anda sepenuhnya dari risiko penurunan harga. Tangan anda masih bisa berdarah karena menangkap pisau yang jatuh. Sepanjang anda siap dengan risiko tersebut, silakan melatih tangan anda. Jika tidak, ya balik ke cara konvensional saya yaitu investasi jangka panjang.

Kelemahan dari cara ini adalah dibutuhkan kesabaran dan nafas panjang untuk melakukan strategi ini. Sebagai contoh, penurunan IHSG di atas 15% dalam 1 bulan baru terjadi 41 hari dalam 10 tahun terakhir (asumsi 1 tahun 250 hari kerja = 2500 hari kerja) atau kurang dari 2%nya. Bisa jadi uang anda 98% waktu terparkir di deposito dan kehilangan momentum kenaikan harga apabila saham dalam keadaan bullish.

Demikian sharing kali ini semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : istockphoto

Sumber Data : www.infovesta.com

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. teguh
    October 5th, 2014 at 09:12 | #1

    Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas tulisan yg bapak berikan.
    Kebetulan saya mendapat pesangon phk yg jumlahnya lumayan
    Bila time horizon saya 8 tahun.
    Strategi apakah yg sebaiknya saya lakukan:
    1. Sekaligus dimasukan semuanya ke dalam RD maksima di awal periode time horizon
    2. Disiplin dicicil bulanan membeli RD dgn jumlah Rp tetap selama 1-2 tahun atau bahkan selama masa time horizon saya yaitu 8 tahun
    3. Disiplin setiap penurunan harian/mingguan +/-1% masuk sebesar 5% dari pesangon saya (total 20x pembelian).

    Mohon bantuannya pak.

  2. Rudiyanto
    October 6th, 2014 at 11:45 | #2

    @teguh
    Salam Pak Teguh,

    Boleh tahu tujuan keuangannya apa?
    Dalam artian, target Rp yang mau dicapai berapa?

  3. ofan
    October 7th, 2014 at 08:13 | #3

    Pak Rudiyanto

    ada beberapa pertanyaan boleh ya Pak tolong dibantu

    mulai minggu ini reksadana panin ku menurun dan hari ini puncaknya berwarna merah akan berlangsung berapa lamakah menurunnya nilai NAB ini ?

    boleh tolong dijelaskan fenomena apa ya yang bikin nilai NAB dalam minggu ini turun ?

    apakah setelah pelantikan Presiden akan membaik ?

    saya pernah baca di FB reksadana panin transaksi top up akan bisa dilakukan secara virtual untuk semua produk , apakah ini sudah bisa dilakukan ? saya sempat email ke marketing Panin hanya belum ada respon

  4. Rudiyanto
    October 7th, 2014 at 09:11 | #4

    @ofan
    Salam Ofan,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda
    mulai minggu ini reksadana panin ku menurun dan hari ini puncaknya berwarna merah akan berlangsung berapa lamakah menurunnya nilai NAB ini ?
    Hanya Tuhan yang tahu

    boleh tolong dijelaskan fenomena apa ya yang bikin nilai NAB dalam minggu ini turun ?
    Penyebabnya bisa macam2, ada yang bilang karena faktor politik, ada yang bilang karena wabah Ebola yang merebak, ada yang bilang karena khawatir suku bunga Amerika naik, ada juga yang bilang karena dana global sedang melakukan realokasi dana pada pasar emerging market.

    Saya tidak tahu mana yang paling benar, mungkin saja salah semua mungkin saja kombinasi dari semuanya. Kalau menurut saya, naik dan turun itu ya dinamika pasar dan bagian dari proses investasi. Tidak mungkin harga naik terus dan sebaliknya. Tidak mungkin juga mengetahui secara pasti kapan akan naik atau turun sebelumnya.

    apakah setelah pelantikan Presiden akan membaik ?
    Hanya Tuhan yang tahu.

    Mengenai virtual account, mohon maaf atas keterlambatan responnya. Saat ini fasilitas Virtual Account sudah tersedia untuk semua reksa dana. Apabila anda belum mendapatkan bisa request dengan kirim email ke cs@panin-am.co.id

    Terima kasih.

  5. ofan
    October 7th, 2014 at 10:04 | #5

    Pak Rudiyanto

    ok terima kasih atas jawabanya

  6. ofan
    October 7th, 2014 at 10:08 | #6

    Pak Rudiyanto

    amin ternyata barusan kembali hijau – tuhan memang baik ;)

    hanya ada satu instrument Panin Dana Bersama Plus yang tetap merah , ini kenapa ya ?

    yang lain Panin Dana Prima , Panin Dana Ultima , Panin Dana Likuid baru saja hijau

    • Rudiyanto
      October 7th, 2014 at 10:17 | #7

      Salam Ofan,

      Tanpa bermaksud tidak sopan, Tuhan memang Maha Tahu, tapi sepertinya bukan Dia yang membuat saham naik atau turun.
      Untuk yang percaya pada teori ekonomi bahwa harga saham mencerminkan kinerja perusahaan, maka ketika harganya naik adalah karena kinerja dan fundamental perusahaan baik.
      Dalam konteks reksa dana, berarti Manajer Investasi memilih saham yang baik dan pengelolaannya juga baik.

      Boleh tahu kamu lihat dimana Panin Dana Bersama Plus merah ya? Untuk kinerja, selain bisa dilihat di website Infovesta.com dan koran, bisa juga dilihat di website Panin AM http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx

      Terima kasih

  7. ofan
    October 7th, 2014 at 10:32 | #8

    Hi Pak Rudiyanto

    Panin Dana Bersama Plus saya liat di cek saldo saya dari account info website Panin Aset Management

    yang lain hijau dan naik hanya Panin Dana Bersama Plus yang merah dan turun , ini reksadana campuran hanya satu yang merah Pak , boleh tolong dijelaskan mengapa hanya reksadana campuran yang merah ?

  8. Rudiyanto
    October 7th, 2014 at 14:29 | #9

    @ofan
    Pak Ofan,

    Boleh tahu apakah anda membeli semua reksa dana tersebut sekaligus pada hari yang sama atau berbeda-beda tanggal pembeliannya?

  9. October 7th, 2014 at 14:48 | #10

    Pak Rudiyanto

    dari histori transaksi saya beli

    21 April – saya beli Panin Dana Bersama Plus Panin Dana Likuid

    28 April – saya beli Panin Dana Prima

    13 Juni – saya beli Panin Dana Ultima

    boleh tolong dibantu penjelasan ya pak

  10. teguh
    October 7th, 2014 at 15:02 | #11

    Rudiyanto :
    @teguh
    Salam Pak Teguh,
    Boleh tahu tujuan keuangannya apa?
    Dalam artian, target Rp yang mau dicapai berapa?

    Pak Rudyanto

    Jujur saya belum tahu tujuan investasi saya ini. karena utk kehidupan sehari2 saya telah mendapatkan kerja walaupun cuman sistem kontrak.
    Yang pasti dana tersebut belum akan saya gunakan untuk jangka waktu 8-10 tahun kedepan.
    Sehingga terpikir untuk memparkirkan dana nganggur saya ini di RD. terpikir juga oleh saya untuk meminimalkan resiko fluktuasi pasar dengan memasukannya bertahap ke RD.
    Mungkin bertahap selama 1 atau 2 tahun.
    Mengenai return, inginnya sih setinggi mungkin kalau bisa jauh lebih besar dari bunga deposito,
    Kebetulan saat ini dana tersebut saya parkir di deposito dahulu

    Apakah sebaiknya sekaligus saya masukan atau di cicil bertahap disiplin atas waktu atau di cicil bertahap disiplin atas kondisi pasar tertentu (masuk setiap indek naik/turun x% perminggu)?

  11. Rudiyanto
    October 15th, 2014 at 00:59 | #12

    @ofan
    Salam Pak Ofan,

    Mohon maaf, saya baru sempat balas sekarang.

    Untuk pembelian yang dilakukan pada tanggal masuk yang berbeda tentu tidak bisa dibandingkan. Yang bisa dibandingkan adalah jika anda membeli semua reksa dana tersebut pada hari yang sama.

    Untuk Panin Dana Bersama Plus, harga saat ini lebih rendah dibandingkan harga pembelian anda karena adanya risiko fluktuasi harga saham. Meskipun jenisnya reksa dana campuran, porsi saham pada jenis reksa dana ini cukup besar sehingga ketika harga saham bergejolak, maka harga reksa dana ini juga ikut bergejolak.

    Risiko fluktuasi harga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam investasi reksa dana. Penyebabnya bisa macam2, mulai dari kondisi ekonomi dan politik, fundamental perusahaan yang memburuk, atau sekedar aksi profit taking yang dilakukan oleh investor saham. Dalam jangka panjang, apabila fundamental bagus, maka harga saham dan otomatis harga reksa dana juga akan ikut naik.

    Untuk lebih detailnya mengenai perkembangan ekonomi terbaru, anda bisa berkonsultasi dengan agen penjual anda.

    Terima kasih

  12. Rudiyanto
    October 15th, 2014 at 01:07 | #13

    @teguh
    Salam Pak Teguh,

    Apabila anda tidak memiliki tujuan dan bertanya apakah strategi investasi anda bagus atau tidak, maka saran saya sebaiknya jangan lakukan investasi. Karena kita tidak akan pernah tahu apakah cara tersebut baik atau buruk. Strategi investasi yang baik adalah ketika tujuan keuangan kita bisa tercapai dengan kegiatan investasi tersebut.

    Kalau tidak punya tujuan, gampang saja, kalau anda merasa nyaman ya bagus. Kalau tidak ya berarti tidak bagus.

    Saran saya, anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Semoga bermanfaat.

  13. October 16th, 2014 at 06:49 | #14

    terima kasih Pak Rudiyanto

  14. ari
    October 18th, 2014 at 23:38 | #15

    @Teguh

    Saya pilih masuk pada saat krisis, koreksi disekitaran 50%, bertahan selama mungkin hingga greedometer hampir berada pada puncaknya. Lalu Jual dan beralih ke instrumen lainnya yang terkoreksi disekitaran 50%.

    Beli murah Jual mahal
    riak riak kecil koreksi 1-15% tidak usah diperdulikan.

  15. Stephani
    October 21st, 2014 at 14:22 | #16

    Selamat siang Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas ulasannya mengenai saham. Bagaimana dengan obligasi SUN, apakah indikator yang dapat kita gunakan untuk masuk pasar SUN ketika pasar sedang turun dengan tujuan capital gain? Terima kasih :)

  16. Rudiyanto
    October 24th, 2014 at 12:58 | #17

    @Stephani
    Salam Stephani,

    Kalau SUN relatif lebih sederhana karena cuma melihat tren suku bunga dan inflasi.
    Ketika suku bunga dan inflasi naik maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya.

    Yang susah itu adalah ketika tren suku bunga dan inflasinya stagnan. Diperlukan kemampuan untuk membaca kondisi pasar dan situasi makro ekonomi.

    Semoga bermanfaat

  17. Bobby sanjaya
    December 5th, 2014 at 18:31 | #18

    Selamat malam pak rudiyanto
    Saya mau bertanya pak
    Mengapa pihak asing tertarik akan surat utang di indonesia? Mengingat imbal balik yang diberikan masih sangat tinggi.

    Terimakasih

  18. Rudiyanto
    December 6th, 2014 at 01:14 | #19

    @Bobby sanjaya
    Selamat Pagi Pak Bobby,

    Kalau misalkan kamu punya uang dan ada 2 orang yang berminat untuk meminjam uang dengan anda, yang satu menawarkan bunga 3% dan satu lagi menawarkan bunga 8%, kira-kira siapa yang kamu pinjamkan?

    Terima kasih

  19. January 7th, 2015 at 08:46 | #20

    Dear Pak Rudyanto

    Bolehkah bapak memberi referensi mengenai reksadana?

    Bagaimana cara teknisnya melakukan compounding?

    Mohon pencerahan Pak Rudy

    Terima kasih sebelumnya.

  20. Rudiyanto
    January 8th, 2015 at 13:53 | #21

    @Nodali
    Salam Pak Nodali,

    Anda bisa melihat daftar reksa dana yang dijual di Indonesia di website http://www.infovesta.com

    Untuk compounding anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/01/01/mengenal-lebih-dalam-return-dan-risiko-investasi-2/

    Semoga bermanfaat.

  21. erwin
    June 11th, 2015 at 22:51 | #22

    Pak Rudiyanto yth
    ada beberapa pertanyaan dari saya
    1.apakah analisa teknikal di saham applicable untuk reksadana seperti moving average, macd dll
    2.apakah teknik cutloss akan bermanfaat juga di reksadana
    Terimakasih sebelumnya

  22. Rudiyanto
    June 12th, 2015 at 17:31 | #23

    @erwin
    Salam Pak Erwin,

    1. Silakan baca
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/04/23/lump-sum-vs-market-timing-studi-kasus-relative-strength-index/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/03/04/buy-and-hold-vs-market-timing-studi-kasus-simple-moving-average/

    2. Kalau mentalitasnya adalah investasi saham, maka sebaiknya tetap di saham saja. Jangan berinvestasi di reksa dana saham yang digunakan untuk jangka panjang.

    Terima kasih

  23. indrayana
    June 13th, 2015 at 05:31 | #24

    Pak Rudi, melihat kondisi makro ekonomi…kira2 kemungkinan terdekat apa mirip semester 2/2013 atau bahkan th 2008 ….saat awal 2015 begitu banyak pengamat yg meramal IHSG akan ke 6000…namun sekarang mereka semua pesimis akan ke angka itu….kondisi ini bagi investor baru reksadana merasa was2 sepanjang waktu…memang fund manajer selalu menghibur long term dong ….tapi sebagai manusia normal siapa sih yg tahan melihat investasinya merosot dari hari ke hari ? Mungkin itu sebabnya jumlah investor reksadana atau saham peningkatannya amat lamban .

  24. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:17 | #25

    @indrayana
    Selamat malam Pak Indrayana,

    Kalau investor berinvestasi di reksa dana saham dengan acuan apakah di tahun 2015 IHSG akan mencapai 6000 atau tidak, rasanya sudah pasti hidupnya akan was-was sepanjang waktu. Sejak awal, reksa dana saham memang didesain untuk berinvestasi dengan periode di atas 5 tahun. Bukan apakah IHSG akan mencapai target angka yang diramalkan oleh para pengamat atau tidak.

    Jika memang merasa tidak nyaman dengan fluktuasi tersebut, kemungkinan ada 2 penyebab.

    Pertama, investor masih belum paham dengan prinsip dan risiko investasi saham. Atau kedua, sudah paham tapi tetap tidak sanggup menerima risiko tersebut. Hal ini sangat wajar, sebab memang profil risiko seseorang baru terlihat ketika kondisi pasar sedang turun. Ketika sedang naik, siapapun merasa investasi saham adalah pilihan yang paling tepat.

    Untuk mengatasi hal tersebut, menurut saya bisa dilakukan dengan cara memiliki tujuan yang jelas, disiplin pada pelaksanaannya dan sesekali melakukan profit taking berdasarkan rencana yang dibuat. Apakah mungkin melakukan profit taking? Jika anda baru berinvestasi 1 – 2 bulan ini mungkin merasa tidak, tapi bagi yang sudah berinvestasi beberapa tahun bahwa gerakan IHSG satu arah saja, terkadang naik terkadang turun. Untuk detailnya anda bisa baca

    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/04/21/perencanaan-investasi-dengan-reksa-dana-do-it-yourself/

    Mengenai peningkatan jumlah investor reksa dana atau saham yang lamban, menurut saya itu relatif. Sebab berapa definisi cepat? Saya tidak tahu di Manajer Investasi yang lain, tapi di Panin Asset Management tempat saya bekerja saat ini jumlah investor baru sejak tahun 2013 sampai komentar ini dibuat stabil di sekitar 1000 orang investor baru per bulan.

    Hasil investasi yang kurang baik memang mempengaruhi jumlah investor, tapi saya percaya faktor yang lebih dominan adalah ke pemahaman. Sebab masih banyak orang yang belum percaya dengan investasi saham dan reksa dana karena kegiatan literasi keuangan yang belum menyeluruh ke semua kalangan masyarakat dan banyaknya kasus investasi bodong.

    Demikian, semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

 


%d bloggers like this: