Home > Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Reksa Dana Saham : Trillion Club VS Billion Club

Reksa Dana Saham : Trillion Club VS Billion Club

Besar Vs Kecil

Pada artikel 3 tahun sebelumnya saya pernah membahas tentang reksa dana Trillion Club atau T-Club. T-Club adalah kategori untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya telah menembus angka Rp 1 Triliun. Di kalangan investor, reksa dana T-Club ini menjadi perdebatan. Sebab ada semacam mitos, bahwa reksa dana saham yang dana kelolaannya sudah tinggi atau masuk dalam kategori T-Club, dianggap sudah terlalu gemuk sehingga kinerjanya melambat dan kalah “gesit” dibandingkan reksa dana saham yang dana kelolaannya lebih kecil.

Di satu sisi, “mitos” tersebut juga saya pertanyakan. Sebab jika faktor kinerja merupakan salah satu pertimbangan utama dalam berinvestasi di reksa dana, maka otomatis reksa dana yang “gemuk” akan ditinggalkan dan semua investor akan beralih ke reksa dana yang lebih “gesit”. Nantinya reksa dana yang “gesit” tersebut akan menjadi gemuk dan akhirnya ditinggalkan. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Kebanyakan reksa dana yang besar tetap besar, dan yang menjadi besar umumnya bisa bertahan. Sementara reksa dana yang kecil, meskipun kinerjanya bagus terkadang juga tidak mendapat perhatian dari investor sehingga tetap kecil.

Untuk itu, saya percaya bahwa faktor kinerja bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keputusan investasi dari para investor. Meski demikian, saya tetap penasaran. Apakah mitos bahwa reksa dana saham yang dana kelolaannya sudah besar itu pasti akan kalah dengan yang kecil itu memang benar? Hal inilah akan saya bahas secara tuntas dalam artikel ini. Untuk memudahkan pembahasan, reksa dana saham dengan dana kelolaan di bawah 1 triliun saya sebut dengan Billion Club atau B-Club. Artikel ini akan berfokus pada pembahasan kinerja reksa dana saham T-Club Vs B-Club.

Industri Reksa Dana Berkembang
3 tahun sudah berlalu, industri reksa dana saham juga sudah jauh berkembang. Jika pada tahun 2011 yang lalu, hanya terdapat sekitar 13 reksa dana dengan dana kelolaan di atas Rp 1 Triliun, maka pada bulan Desember tahun 2013, sudah ada sekitar 23 reksa dana saham.  Perkembangan terakhirnya adalah sebagai berikut

Jumlah Reksa Dana Saham B-Club dan T-Club Periode 2004 – 2013

B-Club dan T-ClubDengan logika dana kelolaan baru bisa besar jika kinerjanya “bagus” tentu anggapan bahwa reksa dana gendut kinerjanya kurang maksimal kurang tepat. Sebab bagaimana mungkin para investor mau mempercayakan dananya jika sejak awal sudah memiliki “anggapan”  bahwa kinerja reksa dana akan kurang bagus karena terlalu “gendut” ?

Apakah pada kenyataannya justru reksa dana saham yang “gendut” tersebut malahan yang kinerjanya bagus? Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut saya melakukan riset terhadap kinerja dan dana kelolaan reksa dana saham. Riset yang saya lakukan, langkahnya adalah sebagai berikut:

  1.  Mencari dana kelolaan reksa dana saham setiap akhir tahun dari 2004 –2013 dan membagi sampel reksa dana saham menjadi B-Club dan T-Club
  2. Menghitung Return Tahunan dari IHSG dan rata-rata reksa dana saham secara keseluruhan yang diwakili oleh Infovesta Equity Fund Index
  3. Merata-ratakan Return dari Reksa Dana yang masuk kategori B-Club dan T-Club
  4. Membandingkan hasil return untuk point 2 dan 3.

Hasil dari perbandingannya adalah sebagai berikut:

B-Club Vs T-Club

Perbandingan secara spesifik antara rata-rata return reksa dana T-Club dengan B-Club adalah sebagai berikut:

B-Club Vs T-Club

Dari kedua tabel di atas, saya mendapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata reksa dana saham T-Club menang 8 kali dibandingkan IHSG. Sementara rata-rata reksa dana saham hanya 3 kali dan reksa dana B-Club hanya 2 kali saja. Artinya anggapan bahwa dana kelolaan besar akan kalah dengan dana kelolaan kecil itu tidak terbukti.
  • Jika membandingkan antara reksa dana saham T-Club dan B-Club saja, reksa dana T-Club mengalahkan B-Club 9 kali dalam 10 tahun terakhir. Satu-satunya tahun dimana B-Club mengalahkan T-Club adalah pada tahun 2005 dengan selisih kurang dari 1%. Artinya secara rata-rata kinerja reksa dana saham yang dana kelolaannya besar justru lebih baik
  • 4 tahun terakhir (2010 – 2013) merupakan masa yang sulit karena hampir semua reksa dana saham kalah dibandingkan IHSG. Secara rata-rata kinerja reksa dana T-Club yang lebih baik.
  • Jika dilihat selisih persentase antara rata-rata Return T-Club dan B-Club dengan IHSG, ketika T-Club kalah, selisihnya masih kurang dari 3%. Sementara untuk reksa dana B-Club, ketika kalah bisa selisih sampai 12% seperti pada tahun 2010.

Dengan melihat analisa di atas, mitos reksa dana yang T-Club akan kalah dengan B-Club DIPATAHKAN. Jika hanya melihat satu atau dua reksa dana secara individu, memang terkadang reksa dana yang returnnya tinggi adalah reksa dana yang dana kelolannya masuk dalam kategori B-Club. Namun investor lupa, reksa dana yang returnnya paling rendah biasanya juga reksa dana yang masuk dalam kategori B-Club. Sehingga kalau dirata-ratakan, bahkan lebih rendah daripada rata-rata reksa dana T-Club.

Dengan demikian, baik reksa dana saham yang dana kelolaan besar dan dana kelolaan kecil memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya besar, keunggulannya adalah lebih stabil. Dengan berinvestasi pada reksa dana tersebut, investor diperkirakan akan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada IHSG meski selisihnya tidak terlalu besar. Kelemahannya adalah jika investor mengharapkan bahwa reksa dana tersebut memberikan return yang paling tinggi, mungkin sulit.

Sebaliknya untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya kecil, keunggulannya adalah dengan berinvestasi pada reksa dana tersebut, investor berpotensi mendapatkan reksa dana saham dengan tingkat return paling tinggi. Kelemahannya, jika pilihan reksa dana sahamnya salah atau strategi yang dijalankan reksa dana saham kurang berhasil, bisa jadi pilihannya menjadi reksa dana saham dengan return paling rendah.

Demikian sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : istockphoto

Sumber Data : www.infovesta.com

  1. August 30th, 2014 at 08:53 | #1

    Salam pak Rudy,

    Seperti biasa saya selalu menikmati tulisan bapak. Tulisan ini menarik karena saya termasuk salah satu yang percaya RD “kecil” akan lebih lincah drpd RD “raksasa”. Argumennya:
    – RD besar tentunya hanya bisa beli saham yg kapitalisasinya besar
    – Perusahaan (saham) yang sedang berkembang pesat biasanya kapitalisasinya lebih kecil
    – Akan susah untuk rebalancing portofolio RD yang sudah kelewat besar

    Membaca artikel bapak, saya rasa ada kelemahan dalam metoda perbandingan yang dipakai. Seingat saya, RD saham mempunyai batas minimal dana kelolaan sebesar 25M. Sehingga, otomatis semua RD akan masuk dalam B-club (kecuali yg masuk T-club tentunya). Termasuk RD-RD yang kinerjanya buruk juga masuk B-club ini.

    Padahal, kebanyakan investor nggak akan memilih RD yg buruk ini. Atau paling tidak kalau kita asumsikan investornya terpelajar, seperti kebanyakan pembaca blog ini toh? :)

    Oleh karena itu, saya usul, bagaimana kalau untuk yang B-club dipilih yg kinerja tahunannya di Top-10 (atau Top-20) saja. Baru ditandingkan dgn RD T-club (atau dipilih Top-5 dari RD T-club). Saya kira perbandingannya lebih menarik. Dan saya berani bertaruh deh, Top-10 B-club bakal menang. ;-)

    Metoda perbandingan yang saya usulkan juga mempunyai kelebihan, yaitu untuk mengakomodir investor yang setiap tahun mengevaluasi dan rebalancing kinerja portfolio RD nya. Saya kira investor yang baik harus begitu toh? :)

    Salam.

  2. Ririn
    September 1st, 2014 at 11:58 | #2

    Saya penikmat tulisan Pak Rudi karena sarat dengan riset by data. Meski harus konsentrasi penuh bacanya karena banyak angka bertaburan, tapi seru aja bagi saya.

    Pada awal mula mau invest saya juga sempat bingung memilih RDS T-Club dan B-Club. Akhirnya uUntuk membuktikannya saya ikut dua-duanya, PDM yang dana kelolaan sudah 7T lebih dan PDU yang dana kelolaannya pun belum bisa disebut karena umurnya baru mau menginjak 3 bulan. Penasaran juga bagaimana nanti hasilnya. Harapan saya sih PDM meski sudah “gemuk” tetap gesit, sedangkan PDU yang masih “langsing” lebih gesit lagi :-)

  3. September 2nd, 2014 at 08:40 | #3

    Seperti biasa, Bos Rudi pandai mengolah data

  4. Rudiyanto
    September 2nd, 2014 at 15:09 | #4

    @Benny Prijono
    Salam Pak Benny,

    Terima kasih atas apresiasinya. Sebelum menerima taruhan anda, ada beberapa komentar dan pertanyaan mengenai masukan anda untuk menggunakan metode top 10 atau top 20.

    1. Konteks artikel di atas adalah membandingkan reksa dana yang B-Club dengan T-Club, kalau membandingkan top 10 atau 20 B-Club dengan Top 5 T-Club, kalau ibarat di sidang skripsi, kata dosennya harus mengganti judul skripsi dulu. Karena yang dibandingkan bukan reksa dana secara umum tapi top performer B-Club dan T-Club. Jadi kalaupun hasilnya sesuai dengan taruhan anda, tetap tidak bisa mengatakan bahwa B-Club mengalahkan T-Club karena kita tidak membandingkan semua reksa dana tapi hanya sebagian saja.

    2. Sehubungan dengan angka dana kelolaan di bawah Rp 25 M, ada ketentuan dari OJK, dimana kalau saya tidak salah untuk reksa dana yang dana kelolaannya dibawah Rp 25 Milliar selama 90 hari kerja berturut-turut selanjutnya akan dibubarkan. Data penelitian saya mengambil reksa dana saham yang aktif dan memiliki return 1 tahun. Memang terdapat beberapa reksa dana saham yang dana kelolaan pada akhir tahun dibawah Rp 25 M, mungkin pada saat tersebut masih belum melewati batas 90 hari kerja sehingga belum dibubarkan. Namun demikian, bukan berarti kinerjanya jelek.

    Sebagai contoh, pada tahun 2009, reksa dana saham yang menduduki peringkat return tertinggi ke 5 untuk kategori B-Club adalah Grow-2-Prosper dengan return 132% dan peringkat ke 6 adalah Reliance Equity Fund dengan return 127%. Tapi dana kelolaan dari kedua reksa dana ini pada akhir 2009 adalah masing-masing Rp 10 M dan Rp 8 M. Apabila kedua reksa dana ini dikeluarkan, malahan akan menurunkan rata-rata return reksa dana B-Club top 10 yang anda kemukakan. Apakah tetap harus dikeluarkan ?

    3. Kemudian anda juga berasumsi bahwa investor tidak akan memilih reksa dana berkinerja buruk. Saya juga punya pertanyaan. Pada dasarnya karena tidak ada reksa dana saham yang mampu secara konsisten mengalahkan IHSG setiap tahun dalam jangka panjang. Bagaimana definisi reksa dana berkinerja buruk itu sendiri?

    Sebagai contoh, pada tahun 2013, reksa dana saham dengan return tertinggi adalah reksa dana B-Club yaitu Millenium Equity dengan return 71% dan AUM 249 M pada akhir 2013. Tapi pada tahun 2012, reksa dana yang sama returnnya adalah 4.7% atau kalah dengan IHSG yang pada tahun itu yang sebesar 12.9%. Dana kelolaan pada akhir 2012 adalah Rp 114 Milliar.

    Pertanyaan saya, apakah jika reksa dana ini kalah dengan IHSG pada tahun 2012, maka dianggap sebagai reksa dana berkinerja buruk maka tidak dibeli pada tahun 2013? Dan jika demikian bukankah return fantastis pada tahun 2013 yang 71% dibandingkan IHSG yang malahan negatif -0.98% itu tidak dimasukkan? Tentunya jika dikeluarkan akan sangat-sangat menurunkan rata-rata return B-Club. Bukankah tidak adil juga jika reksa dana ini dihitung pada tahun 2013 tapi tidak pada tahun 2012 ?

    Tentu, riset untuk membandingkan top 10 atau 20 B-Club dengan T-Club masih belum saya lakukan. Hasilnya bisa saja seperti prediksi anda atau bisa juga tidak. Akan tetapi jika kita ingin melakukan perubahan pada suatu metode, maka kita juga perlu mempertimbangkan plus minusnya.

    Pendapat bahwa dana kelolaan besar akan menghambat kinerja itu sering dikemukakan oleh investor atau bahkan oleh Manajer Investasi yang mengelola suatu reksa dana. Namun jika anda melihat dari sudut pandang sebagai manajemen perusahaan, dana kelolaan yang besar berarti perusahaan memiliki pendapatan yang lumayan cukup untuk mengakses data pasar, bertransaksi dengan broker asing atau besar yang informasinya lebih dalam, merekrut analis dan manajer investasi yang kompetensinya lebih tinggi, dan memberikan pelatihan terbaik untuk personelnya.

    Memang semua hal di atas tidak menjamin bahwa hasil pengelolaannya lebih baik. Tapi dari sisi bisnis, menurut saya bisa. Untuk itu pengelolaan yang baik dengan kinerja yang konsisten baru dimungkinkan jika dana kelolaan Manajer Investasi telah mencapai skala ekonomis tertentu. Jika tidak, akan sangat fluktuatif. Sekali lagi, ini dari sudut pandang bisnis, bukan pengelola investasi.

    Demikian pak, semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  5. Rudiyanto
    September 2nd, 2014 at 15:14 | #5

    @Ririn
    Terima kasih Ririn.

    Masukan saja untuk Panin Dana Ultima, sebaiknya disingkat PDUL agar tidak dikira Panin Dana Unggulan.

  6. Ririn
    September 2nd, 2014 at 16:58 | #6

    @Pak Rudi

    Baik Pak Rudi, next saya singkat PDUL untuk Panin Dana Ultima. Membaca tanggapan Bapak ke Pak Benny, ttg dana kelolaan 25M semenjak dilaunch?

    Terima masih

  7. Ririn
    September 2nd, 2014 at 17:01 | #7

    @Pak Rudi

    Baik Pak Rudi, next saya singkat PDUL untuk Panin Dana Ultima. Membaca tanggapan Bapak ke Pak Benny, ttg dana kelolaan dibawah 25M, apakah untuk RD baru ada batasan waktu harus mencapai angka lebih dari 25M semenjak dilaunch?

    Terima masih

  8. Rudiyanto
    September 2nd, 2014 at 17:18 | #8

    @Ririn
    Dear Ririn,

    Ada ketentuan dari OJK yaitu peraturan IV.B.1.
    Untuk reksa dana biasa adalah 30 hari kerja sejak terbit, atau 90 hari kerja berturut-turut setelah terbit. Ketentuan untuk reksa dana terproteksi dll itu berbeda lagi.

    Semoga bermanfaat.

  9. eli
    September 4th, 2014 at 20:55 | #9

    Ijinkan saya bertanya pak Rudi, mungkin agak kurang sambung dengan topik, apa yang membuat saya bisa menjatuhkan pilihan ke reksadana yang kenyataannya memberikan return ternyata lebih rendah dari bunga deposito dalam 1 tahun?

  10. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:19 | #10

    Dear Eli,

    Menurut saya, yang harus dipahami oleh semua calon investor sebelum melakukan investasi di reksa dana bahwa yang namanya investasi itu mengandung risiko.

    Risiko yang dimaksud, tidak hanya keuntungan yang dibawah deposito untuk periode tertentu, tapi juga nilai pasar yang dalam situasi yang kurang baik, lebih kecil daripada nilai pokok investasi yang dimasukkan sejak awal.

    Jika bisa merugi, kenapa harus investasi? Sebab di sisi lain, jika dalam situasi pasar yang baik atau dilakukan dalam jangka panjang, hasil investasi bisa lebih tinggi dibandingkan deposito. Ketika “berinvestasi” pada deposito, hasilnya sudah dipastikan sejak awal. bisa 5%, 6%, 7% atau lebih tinggi tergantung bunga yang berani diberikan oleh bank.

    Ketika berinvestasi di reksa dana, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberikan jaminan kamu untung berapa persen. Bahkan kamu bisa rugi. Sebagai contoh, jika mengacu pada artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/ untuk masa investasi 1 tahun di investasi berbasis saham yang diwakili oleh IHSG, investor “pernah” rugi hingga -54%.

    Jadi rugi hingga 54% adalah risiko yang harus siap ditanggung oleh investor. Jika dia siap, maka dia juga berpotensi untuk untung hingga 98% dalam 1 tahun. Secara rata-rata dalam periode penelitian disebutkan rata-rata dari 1997 – 2013, keuntungan saham dalam 1 tahun adalah 21%.

    Menjawab pertanyaan anda, yang membuat orang melakukan investasi adalah dia tahu bahwa dengan melakukan hal tersebut, dia berpotensi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan deposito. Namun di sisi lain, dia juga sudah siap seandainya mengalami kerugian.

    Semoga bermanfaat.

  11. ari
    October 9th, 2014 at 00:57 | #11

    dear Mr. Rudi

    Saya percaya wealth cycle. artinya dalam setiap jenis investasi ada boom dan bust, naik turun, dan gangguan-gangguan kecil tapi trendnya tetap naik atau tetap turun.

    Syukur Alhamdulillah, beberapa bulan sebelum krisis 2008 saya memutuskan untuk keluar total dari investasi derivatif dan all in di 40% emas/dinar dan 60% perak/dirham, sedikit tanah, stock makanan.

    Melihat dari grafik diatas, semakin menguatkan saya trend menurun setelah 2008, reksadana terus menurun padahal IHSG membaik, kalaupun menang, menang tipis.

    Titik baliknya saya pikir di 2020 ketika ada sistem keuangan dunia yang baru, tentu saya akan menjual emas perak tadi dan akan menghubungi anda untuk menikmati trend kenaikan reksadana kembali.

    Semoga anda tetap bertahan dan sukses until then.

  12. Rudiyanto
    October 15th, 2014 at 01:13 | #12

    @ari
    Dear Pak Ari,

    Terima kasih untuk sharingnya.

  13. November 14th, 2014 at 11:41 | #13

    Tulisan Pa Rudi memberikan pencerahan buat saya, ijin untuk menyimak lebih lanjut…

    Thank you

 


%d bloggers like this: