Home > Matematika Investasi > Mengenal Time Weighted Return dan Money Weighted Return

Mengenal Time Weighted Return dan Money Weighted Return

Time and Money

Apa kabar para pembaca yang terhormat? Semoga selalu berada dalam keadaan yang sehat dan bahagia selalu. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Dalam artikel kali ini, saya ingin membahas 2  studi kasus.

Studi Kasus 1.

Ada seorang investor reksa dana, namanya Rudi. Karena masih awam dia memilih untuk melakukan cost averaging setiap bulan di reksa dana Panin Dana Maksima. Rudi berinvestasi secara autodebet selama 5 tahun dari 1 Juli 2013 – 1 Juni 2018 sebesar Rp 1.000.000 per bulan termasuk fee (koreksi sebelumnya tertulis Rp 1.010.000) . Biaya autodebet adalah 1%. Pada tanggal 1 Juli 2014, Rudi melakukan pengecekan saldo secara online dan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Simulasi Autodebet

Histori transaksinya adalah sebagai berikut

Tanggal NAB/Up
Panin Dana Maksima
Investasi (Penarikan) Fee
1-Jul-13 71,631.73 1,000,000 2%
1-Aug-13 66,039.66 1,000,000 1%
2-Sep-13 55,660.89 1,000,000 1%
1-Oct-13 62,147.15 1,000,000 1%
1-Nov-13 63,199.93 1,000,000 1%
2-Dec-13 60,093.01 1,000,000 1%
2-Jan-14 58,998.25 1,000,000 1%
3-Feb-14 61,100.48 1,000,000 1%
3-Mar-14 65,375.15 1,000,000 1%
1-Apr-14 69,949.64 1,000,000 1%
2-May-14 68,023.94 1,000,000 1%
2-Jun-14 67,494.23 1,000,000 1%

Ketika dia melakukan pengecekan di website Panin AM dan di www.infovesta.com untuk memastikan, dia mendapatkan hasil sebagai berikut

NAB/Up Panin Dana Maksima tanggal 1 Juli 2013 = Rp 71,631.73 / unit dan tanggal 1 Juli 2014 = Rp 66,205.88 / unit. Sehingga return 1 tahunnya - 7.57%

Pertanyaannya :

  1. Mengapa secara NAB/Up menunjukkan tingkat return negatif sementara di cek saldo website menunjukkan tingkat return yang positif ?
  2. Berapa performance tahunan Rudi ? apakah lebih baik dibandingkan beli sekaligus di depan?

 Studi kasus 2

Yanto adalah seorang mahasiswa yang menjadi investor reksa dana. Berbekal ilmu yang dia baca dari buku, forum, blog dan lain-lain, dia mencoba peruntungannya dengan melakukan market timing. Harapannya tingkat keuntungan yang diperoleh dapat lebih besar dengan cara tersebut. Atas setiap transaksi, dia dikenakan biaya beli 2% dan biaya keluar 1%. Supaya sebanding, tanggal transaksi dan nominal investasinya saya samakan. Yaitu total 12 juta termasuk fee dan dari 1 Juli 2013 – 1 Juli 2014. Historis transaksi selama 1 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Tanggal NAB/Up
Panin Dana Maksima
Investasi (Penarikan) Fee
1-Jul-13 71,631.73 10,000,000 2%
1-Aug-13 66,039.66 1,000,000 2%
2-Sep-13 55,660.89 1,000,000 2%
1-Nov-13 63,199.93 (1,000,000) 1%
2-Jan-14 58,998.25 1,000,000 2%
1-Apr-14 69,949.64 (5,000,000) 1%
2-Jun-14 67,494.23 5,000,000 2%

Pada 1 Juli 2013, dia mengecek nilai saldo uang dia di reksa dana adalah senilai Rp 11.396.692. Pertanyaannya:

  1. Berapa besar % keuntungan Yanto untuk transaksi selama 1 tahun terakhir?
  2. Apakah strategi market timing yang dia lakukan lebih baik dibandingkan strategi buy and hold?

Untuk bisa menjawab kedua studi kasus di atas, kita perlu memahami tentang konsep Time Weighted Return dan Money Weighted Return.

Konsep tentang Time Weighted Return dan Money Weighted Return telah dibahas dalam GIPS (Global Investment Performance Standards). GIPS adalah suatu standar yang dibuat oleh para profesional di bidang keuangan dalam hal melakukan presentasi kinerja keuangan ke investor. Selama ini para pemasar menggunakan NAB/Up dalam menunjukkan kinerja reksa dana, namun permasalahannya tidak semua kegiatan investasi dilakukan hanya satu kali buy dan hold saja. Akan tetapi ada juga transaksi penambahan dan penarikan dana yang dilakukan dalam suatu periode. Akibatnya hanya menggunakan selisih dari NAB/Up saja memang mencerminkan kinerja daripada reksa dana, tapi tidak mencerminkan kinerja daripada investor itu sendiri.

Metode perhitungan return yang hanya melihat kinerja berdasarkan selisih harga saja disebut Time Weighted Return (TWR), dan umumnya digunakan untuk merepresentasikan kinerja Manajer Investasi. Sementara perhitungan return yang memasukkan unsur keluar masuknya arus kas disebut Money Weighted Return (MWR) dan metode ini digunakan untuk mengukur kinerja investor berdasarkan arus kas keluar masuk.

Konsep Dasar TWR dan MWR

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat contoh sbb :

  • Harga reksa dana adalah Rp 1000 pada awal tahun, Rp 1250 pada pertengahan tahun dan Rp 1500 pada akhir tahun.
  • Seorang investor berinvestasi sebesar Rp 1.000.000 pada awal tahun (1 Januari 2014), Rp 5.000.000 pada pertengahan tahun (1 Juni 2014). Pada akhir tahun (31 Desember 2014), nilai pasar dari reksa dananya adalah Rp 7.500.000

Pertanyaannya berapa “Performance” reksa dana dan investor?

Untuk “Performance” reksa dana adalah sebesar 50%. Angka ini diperoleh dengan cara : Harga akhir tahun dikurangi harga awal tahun kemudian hasilnya dibagi harga awal tahun x 100%. Detail perhitungannya (Rp 1500 – Rp 1000) / Rp 1000 x 100% = 50%.

Untuk kinerja investor, tentu menjadi pertanyaan. Kalau dilihat dari jumlah uang yang dikeluarkan dan jumlah uang yang masuk adalah Rp 6.000.000 berbanding Rp 7.500.000. Nilai ini berarti keuntungan sebesar Rp 1.500.000 atau 25% (nilai yang ada di cek saldo).

Kalau dilihat secara proporsional, sebesar Rp 1 juta untung 50%, dan sebesar Rp 5 juta untung 20%. Akan tetapi perlu diingat bahwa keuntungan 20% tersebut diperoleh hanya selama 6 bulan, sementara yang 50% sudah selama 1 tahun. Tentu bobot “lama waktu” juga perlu dipertimbangkan. Dengan latar belakang inilah metode Money Weighted Return digunakan, sebab selain mempertimbangkan arus kas keluar masuk, timing dari arus kas tersebut juga diperhitungkan.

Perhitungan MWR menggunakan konsep Internal Rate of Return (IRR) seperti halnya pada analisis kelayakan proyek. Contoh perhitungan MWR menggunakan Microsoft Excel adalah sbb

Internal Rate of Return MS Excel

Cara perhitungan MWR selalu mengasumsikan ada uang yang masuk dan uang yang keluar. Uang yang masuk menggunakan angka positif dan uang yang keluar menggunakan angka negatif (bisa juga sebaliknya yang penting konsisten). Untuk kepentingan perhitungan, sisa saldo nasabah pada akhir periode akan ditulis negatif karena diasumsikan dijual. Dengan menggunakan metode MWR, angka 40.47% menunjukkan bahwa kinerja atau Performance dari investor berdasarkan arus kas dan timingnya adalah 40.47% per tahun.

Angka 20% yang lebih masuk akal untuk investor secara umum memang tidak salah, angka tersebut merepresentasikan persentase keuntungan secara aktual. Akan tetapi jika kita ingin mengetahui kinerja investor sehingga bisa dibandingkan dengan kinerja reksa dana, obligasi atau risk free, MWR adalah metode yang lebih tepat.

Bahkan, secara teoritis MWR jika dibandingkan dengan TWR juga bisa menunjukkan apakah investor sukses menerapkan strategi market timing atau tidak. Apabila MWR > TWR, hal ini berarti investor sukses menerapkan strategi market timing dengan baik sehingga mendapatkan hasil lebih dibandingkan buy and hold. Sebaliknya jika MWR < TWR, maka hal ini berarti strategi investor dalam melakukan market timing gagal, jadi lebih baik dia buy and hold saja.

Dengan menggunakan konsep TWR dan MWR saya akan menyelesaikan 2 studi kasus di atas.

Studi Kasus 1

Pertanyaan 1. Mengapa secara NAB/Up menunjukkan tingkat return negatif sementara di cek saldo website menunjukkan tingkat return yang positif ?

Perhitungan return secara NAB/Up mengasumsikan beli 1 kali di depan dan menjualnya pada periode akhir. Angka -7.57% adalah kinerja reksa dana yang diukur dengan menggunakan Time Weighted Return. Pada kenyataannya pembelian dilakukan secara berkala pada berbagai tingkatan harga, dengan demikian secara rata-rata pada akhir tahun dia masih memperoleh keuntungan.

Pertanyaan 2. Berapa performance tahunan Rudi ? apakah lebih baik dibandingkan beli sekaligus di depan?

Performance Tahunan Rudi yang diukur dengan Metode MWR. MWR Rudi adalah sebesar 9.19%. Sementara TWR Rudi adlaah -7.57%, hal ini menunjukkan ternyata strategi membeli secara berkala lebih baik dibandingkan beli sekaligus di depan pada periode 1 Juli 2013 – 1 Juli 2014.

XIRR Studi Kasus 1

 Mengapa faktor fee tidak berpengaruh dalam perhitungan XIRR ?

Perhitungan fee tidak mengurangi arus kas dalam rumus XIRR karena prinsip arus kas dalam metode ini adalah jumlah uang yang dikeluarkan dan jumlah uang yang diterima. Dimana, nilai Rp 12.449.910 adalah asumsi uang yang diterima pada akhir periode sehingga dianggap positif. Besaran fee berpengaruh pada unit yang dimiliki. Artinya jika investasi Rp 1 juta dan fee 1%, maka jumlah uang yang digunakan untuk membeli unit adalah Rp 1 juta dikurangi fee. Pengaruh dari perhitungan ini adalah pada nilai saldo pada akhir periode, karena semakin besar fee yang dikenakan, tentu semakin kecil nilai saldo pada akhir periodenya.

Studi Kasus 2

Pertanyaan 1. Berapa besar % Yanto keuntungan untuk transaksi selama 1 tahun terakhir?

Menggunakan konsep MWR, sbb:

 XIRR Studi Kasus 2

Mengapa dalam perhitungan ini ada nominal yang dikenakan fee dan ada yang tidak?

Kembali ke prinsip arus kas, ketika ada biaya pembelian, hal tersebut mengurangi jumlah unit yang diperoleh sehingga berpengaruh pada nilai saldo. Sementara ketika ada biaya keluar, maka secara riil mengurangi nilai uang yang diterima. Oleh sebab itu, pada rumus excel di atas, untuk dana penarikan dikurangkan terlebih dahulu dengan biaya keluar.

Pertanyaan 2. Apakah strategi market timing yang dia lakukan lebih baik dibandingkan strategi buy and hold?

Dibandingkan TWR yang -7.57%, maka MWR sebesar -6.18% bisa dikatakan bahwa strategi market timing yang dia jalankan berhasil memberikan tingkat return yang lebih baik dibandingkan buy and hold. Namun jika dibandingkan MWR pada studi kasus pertama yang menggunakan cost averaging, metode cost averaging lebih baik karena memberikan MWR yang lebih tinggi.

Multi Year Return Dengan Money Weighted Return

Pada kedua studi kasus di atas, telah dibahas penggunaan XIRR pada kegiatan investasi baik yang dilakukan secara berkala ataupun dengan cara market timing. Namun kedua studi kasus tersebut mengasumsikan periode investasi yang sama yaitu 1 tahun dan investasi dilakukan pada awal tahun. Apakah metode ini juga dapat diterapkan pada tanggal investasi yang tidak beraturan seperti pada awal, tengah, akhir dan kombinasinya dan digunakan untuk mengukur kinerja lebih dari 1 tahun? Jawabannya bisa.

Untuk lebih mudahnya saya menggunakan contoh sebagai berikut:

XIRR Multiperiod

Dengan arus kas di atas dan diasumsikan seluruh reksa dana dijual pada tanggal 23 Juli 2014 serta biaya subscription dan redemption = 0, maka dengan menggunakan XIRR akan mendapatkan angka 21.03%. Jika kita mengukur kinerja Manajer Investasi dengan menggunakan TWR, angka yang diperoleh adalah (70.609,61 – 20.607,23) / 20.607,23 = 242.64%.

Mengapa perbedaannya bisa demikian jauh, apakah karena market timing dilakukan dalam timing yang benar2 buruk sehingga hasilnya menjadi kecil? Tidak. Sebagaimana perlu diketahui XIRR merupakan penerapan konsep IRR yang digunakan dalam evaluasi proyek. Besaran angka XIRR selalu dinyatakan dalam persentase per tahun.

Jika ada periode lebih dari 1 tahun, maka angka tersebut akan tetap disetahunkan (annualized return). Jadi angka 21.03% merupakan angka annualized return, sementara TWR sebesar 242.64% merupakan return 5 tahunan. Untuk membandingkan MWR dengan TWR, satuan waktunya harus disamakan. Antara return MWR jadi 5 tahun dengan rumus return geometrik (1 + 21.03%) ^ 5 – 1 = 159.74% atau return TWR disetahunkan dengan rumus (1 + 242.64%) ^ (1/5) – 1 = 27.93%.

Jadi berdasarkan annualized return MWR :  TWR = 21.03% : 27.93% atau return 5 tahun MWR : TWR = 159.74% : 242.64% bisa disimpulkan bahwa strategi market timing yang dilakukan tidak menghasilkan return yang lebih baik. Jadi investor disarankan menggunakan buy and hold saja.

Demikian sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Sumber Gambar : istockphoto

Sumber Data : www.infovesta.com

Categories: Matematika Investasi Tags:
  1. Arif
    July 25th, 2014 at 08:14 | #1

    Terima kasih atas sharingnya Pak Rudi.
    Sangat membantu dalam memahami return investor yang sebenarnya..

    Ingin klarifikasi pada MWR studi kasus 1 tidak sesuai antara tulisan dan gambar.
    Saya juga sudah mencoba dan yang bener di gambar (sekalian latihan :D)

  2. Rudiyanto
    July 25th, 2014 at 08:21 | #2

    @Arif
    Yth Arif,

    Sepertinya saya sudah menemukan ketidaksesuaian yang anda maksud dan juga mengoreksinya. Terima kasih untuk masukan yang anda berikan.

  3. August 7th, 2014 at 12:28 | #3

    Salam pendidikan, Pak..

    Saya agak kesulitan memahami bahasa tingkat tinggi di bidang ini karena saya tidak terlalu menguasai bidang ini. Begini saja saya mau bertanya, saya mau investasi di reksadana saham dengan menyisihkan 1 juta/bulan selama 5 tahun dan saya mau mendapatkan hasil return yang besar pada akhir tahun ke-5. Tingkat resiko saya netral. Nah, reksadana saham mana yang paling cocok? Panin dana maksima, panin dana prima, atau panin dana ultima? Atau apakah saya harus invest di beberapa reksadana saham dari ketiga reksadana itu? Mohon pencerahannya Pak. Saya baru memulai ini. Terima kasih.

  4. Rudiyanto
  5. August 8th, 2014 at 07:42 | #5

    @Rudiyanto

    Thank u Pak Rudyanto, semalam saya juga baru saja beli buku bapak di Gramedia.. Keren Pak sharing nya..

  6. diana sandjaja
    June 16th, 2017 at 01:40 | #6

    Halo Pak Rudy,

    Tulisan yang sangat bermanfaat!

    Sekedar menanyakan, kenapa rata-rata fact sheet hanya menyajikan Total return saja ya Pak, untuk yang annualized dari Total Return tidak disajikan, sehingga gambaran kinerjanya bisa menjadi lebih komplit.

    Terima kasih atas jawabannya.

  7. Rudiyanto
    June 24th, 2017 at 11:58 | #7

    @diana sandjaja
    Salam Ibu Diana,

    Konsep annualized return masih belum begitu dipahami di Indonesia. Dan secara komersial, annualized return itu lebih kecil daripada total return dibagi jumlah tahun sehingga “kurang menjual”.

    Ke depan kalau pemahaman akan hal ini sudah semakin baik, mungkin akan semakin banyak penyajian yang memasukkan annualized return.

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: